LAINNYA

Senin, 05 September 2011

penggalan WARBUNG 2010: Zahra


Siang menjelang sore ini, ketika sedang menyapu (/mengepel ya?) carport belakang saya teringat mereka. Hari ini sekiranya hari pertama masuk sekolah setelah libur lebaran. Saya ingat saat hari pertama mereka masuk sekolah setelah liburan juga—namun rupanya itu libur pergantian semester. Apapun deh. Silahkan menikmati penggalan novel yang diketik pada Juni 2010 ini. :)


12

Sungguh ia ingin tahu. Seolah hanya Mas Imin tumpuan harapannya. Rasa-rasanya segala perlakuan Mas Imin padanya kemarin memang untuk mengesankan bahwa sang kakak siap mendengar bermacam keluh kesah adiknya. Maka didekatinya Mas Imin yang tengah menggaruk-garuk kepala di atas barisan kolom berhiaskan lambang integral di mana-mana. Padahal Mas Imin katanya baru pulang bimbel, tapi setelah sampai rumah dan bersih-bersih, sudah siap tempur lagi. Sudah ia nanti-nanti keberadaan Mas Imin sejak tadi, hanya untuk bertanya, “Emang cara ngedapetin temen yang banyak gimana, Mas?”

Ternyata tampang Mas Imin biasa saja, seakan yang Zahra tanyakan adalah apa saja bumbu untuk memasak nasi goreng. Padahal Zahra semula mengira terlebih dahulu Mas Imin akan meresponnya dengan kernyitan aneh. Bukankah ini suatu pertanyaan bodoh? Malu sebenarnya Zahra menanyakan itu. Tapi apa boleh buat, sudah terlanjur.

Mas Imin termenung sebentar mendengar pertanyaan Zahra tersebut. Lalu katanya, “Waktu MOS kan diajarin cara berinteraksi dengan orang lain, yang sekian S itu.” Zahra mengernyit. Mas Imin menghitung dengan jarinya. “Senyum. Salam. Sapa. Sekian.”

“Sopan. Santun,” Zahra melanjutkan.

“Ah, ya, itu dia deh.”

Zahra pikir, intinya tidak jauh berbeda dengan buku etiket yang curi-curi dibacanya di Gramedia BSM[1] beberapa waktu silam. Setidaknya ia tidak harus mengeluarkan uang seratus ribuan lebih untuk itu. Mengaplikasikan tiga yang pertama mungkin sudah cukup untuk pembelajaran awal. Pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan sosialnya. Ia sadari memang ia hanya tersenyum kalau kelepasan. Hanya memberi salam kalau terpaksa. Hanya menyapa kalau disapa duluan. O, kini ia yang harus mengasah inisiatifnya sendiri.

“Emang kenapa gitu, Zahra?”

“Ng… Ada deh!”

Maka, seiring dengan berjalannya tahun yang baru, Zahra memasuki pula semester baru KBM-nya, dan ia menahbiskan diri untuk menjadi seorang Zahra yang baru. Zahra yang hangat dan bersahabat. Unan juga punya banyak teman, mengapa ia tidak?

Maka, keesokan paginya Zahra menginjak ubin lorong menuju kelasnya—tidak ada yang baru dari sekolah di semester baru ini—dengan langkah lebih ringan. Dengan mengulas senyum. Terus menerus mengingatkan dirinya untuk mempertahankan senyum itu selama mungkin. Ia melihat orang-orang tersenyum juga, bahkan tertawa, kendati bukan kepada dirinya. Belum. Ah, andai ia juga bisa selepas mereka dalam mengekspresikan kesenangan batin, atau lihai dalam menyembunyikan kesengsaraan.

Aaah, tadi ia berpapasan dengan Arderaz, dan cowok jangkung itu balas tersenyum simpul padanya! Kya…

Zahra merasa mendapatkan energi tambahan untuk terus tersenyum. Meskipun setelah itu ia tidak menangkap ada senyum lain yang secara khusus ditujukan padanya. Tapi tidak apa-apa. Hari masih pagi…

“Hai, Cinta, met semester baru, ya!”

Zahra menoleh ke kanan kiri dengan bingung. Memang tidak hanya mereka berdua yang ada di kelas itu. Tapi hanya ada mereka berdua pada salah satu sisi kelas. Dan mata Dean memang mengarah padanya. Zahra merinding. Meskipun ingat bahwa gaya bahasa Dean memang suka pakai “cinta-cintaan” pada teman-temannya—terutama yang cewek, Zahra tetap merinding.

Dalam hati ia mengeluh. Apakah kalau ia bertemu Arderaz di satu waktu, ia akan bertemu dengan Dean di waktu berikutnya? Karena setelah diingat-ingat, itulah yang terjadi sejak MOS. Dan tidak pernah yang terjadi adalah kebalikannya, padahal frekuensi Zahra bertemu Dean di sekolah hampir setiap hari.

“Perasaan kita belum ada PR lagi deh.” Zahra merasa tidak perlu memberi senyum pada bocah yang satu ini.

“Ahahaha… Iya ya. Ini kan semester baru!” balas Dean dengan tawa riangnya sembari mengusap-usap bagian belakang kepala. Tak lama kemudian wajahnya juga menyirat bingung. Mungkin selain dalam urusan pelajaran, mereka berdua memang tidak nyambung. Seolah tidak terjadi apa-apa, Dean berlalu begitu saja. Dengan riangnya, sembari menghampiri kawanannya di sisi kelas yang lain, ia berkata, “Kebiasaan nangkring di bangku Zahra sih kalau pagi-pagi…”

Tawa meledek teman-temannya meledak. “Ih, Dean, pagi-pagi udah oneng aja...!” Yak, betul. Zahra membenarkan dalam hati. Lalu ia duduk di bangkunya. Memasang kembali senyumnya. Akankah ia tersenyum terus pada papan tulis?

Zahra memandang ke sekeliling kelas. Orang-orang sudah bercampur dengan kawanannya masing-masing. Ada beberapa memang yang terlihat duduk sendiri-sendiri, tapi Zahra tak mengenal mereka. Tercetus inisiatif untuk memulai suatu perkenalan. Iya. Tidak. Iya. Tidak.

“Assalamualaikum, Zahra…” sapa Syifa. Ia masih menggendong ransel kulitnya. Zahra jadi ingat kalau tadi malam sudah janjian dengan Unan untuk duduk sebangku. Tapi terlebih dahulu ia harus membalas salam Syifa. Ah, iya, salam!

“Maaf, Syifa, hari ini aku janjian duduk sama Unan,” ucap Zahra. Merasa keterampilan sosialnya membaik karena telah mengucap “maaf”.

“Oh, nggak apa-apa, Zahra,” senyum Syifa, seolah hal tersebut takkan membuat hubungan di antara mereka retak.

“Terima kasih,” Zahra mengucapnya, dan merasa keterampilan sosialnya menjadi lebih baik lagi.

Kemajuan yang menyenangkan di awal tahun! Zahra bersorak dalam hati. Sekarang ia hendak minta “tolong” pada siapa ya? Zahra pernah membaca, salah satu kunci dalam hubungan sosial yang baik adalah fasih mengucap “maaf”, “terima kasih”, dan “tolong”.

Pada mereka yang selanjutnya mengambil duduk di sekitar bangkunya, Zahra berusaha melempar senyum. Namun tidak semuanya ngeh. Mereka yang balas tersenyum adalah yang sadar kalau sedari tadi Zahra melihat pada mereka. Zahra sendiri menyadari hal tersebut. Ia jadi merasa dirinya menyeramkan. Bertanya-tanya ia dalam hati, bagaimana caranya agar setiap yang dituju dapat menangkap senyumnya dan tergugah untuk membalas.

Nah, itu Unan datang. Kali ini Zahra ingat untuk menyertakan salam juga dalam senyumnya. Tapi ia bingung. Salam seperti apa yang hendak ia utarakan. “Assalamualaikum” rasanya hanya terdengar lumrah di kalangan anak DKM. Syifa anak DKM. Unan bukan. Ucapan “selamat pagi” kedengarannya seperti hendak membuka pidato. Kalau “how are you?”, memangnya ibu mereka berbahasa Inggris? Dan apakah itu berupa salam? Bisa-bisa Unan malah menertawakannya.

Untung masih ada jurus selanjutnya! Sapa!

“Hai!” sapa Zahra, yang dibalas senyum heran Unan. Biasanya Unan duluan yang menyapa.

“Hai juga,” jawab Unan dengan gestur cueknya. Sambil duduk ia melepaskan ranselnya. “Udah bikin resolusi? Gimana jadinya?”

“Mm… Belum euy. Masih berubah-ubah…” bohong Zahra. Ia malu mengaku kalau isi resolusinya hanya: 1. Memperbaiki keterampilan sosial, dan; 2. Lancar ngomong di depan kelas.

“Oh.” Unan mengeluarkan selembar rajutan yang belum jadi dari ransel di pangkuannya. “Ini salah satu isi resolusiku taun ini loh. Bikin syal rajutan buat diriku sendiri.”

Zahra manggut-manggut. Masih berusaha mempertahankan senyum. Mendadak ia ingat bahwa kata “tolong” belum diucapkannya pada siapa pun. Diliriknya Unan. Pelan ucapnya, “Eh, Unan, tolong…”

“Tolong apa?”

“Nggak papa. Lagi pingin ngomong itu aja.”

Unan mendengus, lalu tertawa. Akhirnya tetap juga ia ditertawakan Unan. Tapi tidak apa-apa. Dipikir-pikir, Zahra senang melihat Unan tertawa.

:)


[1] Bandung Super Mall

Tidak ada komentar:

Posting Komentar