LAINNYA

Senin, 24 Juni 2013

Jadi Inilah Sarangku


Most writers require some kind of solitude,” kata penulis dan aka­de­misi Richard Marius dalam esainya, “Writing and Its Reward”. Pe­nu­lis besar Prancis, Marcel Proust, bahkan melapisi ruangannya de­ngan gabus supaya ia bisa menyelesaikan karya-karyanya dalam su­a­sa­na yang sangat sunyi. Aku bukan penulis, tapi kebanyakan wak­tu­ku kuhabiskan dengan menulis. Foto di atas menampilkan sudut di mana aku biasa menulis apa-apa yang mungkin baru dibaca orang la­in setelah aku meninggal. Sudut ini merupakan bagian dari ruangan 3 m x 4 m, yang terletak di salah satu pojok di lantai dua ru­mah orangtuaku. Ruanganku sebelumnya di lantai bawah dijajah adikku yang berantakan. Dalam situasi tertentu aku suka (bahkan merasa perlu untuk) menata barang-barang, walau foto di atas me­nun­juk­kan sebaliknya. Jadi ketimbang menggunakan ruangan ber­sa­ma adik­ku itu, aku putuskan berhijrah demi privasi. Walaupun demikian pada suatu waktu gagang pintu ruangan ini di­jebol supaya tidak bisa dikunci. Sekarang aku menggunakan kardus un­tuk menahan pintu su­paya tidak terbuka lebar.

Ada masa-masa di mana aku tidak punya meja dan kursi untuk me­nulis. Aku tetap bisa menulis. Tapi aku merasa lebih suka dengan kondisi ada meja dan kursi, apalagi jika mejanya lebar serta kursinya empuk dan dapat berputar. Selain itu tentu saja wajib ada alat untuk menulis (entah sekadar kertas dan pulpen maupun laptop), referensi kalau diperlukan, dan alat untuk menyetel musik keras-keras.

Ada masa-masa di mana aku hanya bisa mendengarkan musik de­ngan earphone. Aku tetap bisa menulis. Tapi aku merasa lebih suka kalau di sampingku ada alat yang bisa menyetel musik keras-keras. Saat SD hingga SMA, aku punya alat yang bisa menyetel radio, kaset, dan CD. Era kaset telah berlalu. Alat yang ada di ruanganku kini bisa me­nye­tel mp3 (baik dalam flashdisk maupun CD) dan radio, di­tam­bah lap­top dengan speaker tambahan. Tapi kualitas audio dari speaker mini compo ternyata masih lebih jeger ketimbang dari se­bu­ah tabung ke­cil.

Aku tidak harus selalu mendengarkan musik saat menulis. Ka­dang aku nyalakan pelan saja, atau malah sunyi sama sekali. Se­ma­kin ke­mari agaknya aku mulai tidak bisa menikmati musik sembari me­ngerjakan hal lain sekaligus. Masing-masing perlu konsentrasi. Apa­lagi kalau aku benar-benar ingin mendengarkan lagu tertentu, aku perlu membunyikannya keras-keras dan malah ikutan ber­nya­nyi. Se­macam katarsis kukira.

Dulu sinyal wi fi sampai ke ruangan ini, sekarang tidak lagi. Sum­ber­nya berjarak tiga ruangan ke sebelah kiri. Maka untuk mencari re­fe­rensi menulis di internet aku harus menggunakan modem sendiri, atau membawa laptop ke ruangan lain, atau sekalian menggunakan komputer di ruangan sumber.

Aku sengaja membiarkan dinding di atas meja polos saja. Sebagian orang mungkin suka menempelkan pernak-pernik, kertas warna-warni, atau berbagai hiasan lain. Tapi sekarang aku tidak mau meng­habiskan waktu untuk membuat semacam itu, yang bagiku se­per­ti­nya bakal menambah pikiran saja dan pada akhirnya cuman jadi sam­pah.

Di ruangan ini juga terdapat tempat tidur (yang cukup lebar untuk satu orang), lemari (yang tidak menyimpan baju-baju yang biasa ku­pakai), dan dua rak berukuran sedang di mana aku menaruh se­tum­puk koran, majalah, dan buku (yang walau sudah kusortir untuk pe­nunjang apa yang lagi ingin kupelajari tapi tidak benar-benar ku­baca), juga corat-coretanku dan peninggalan skripsi.

Di seberang meja terdapat jendela yang cukup besar, terdiri dari dua panel kaca dengan engsel di atas. Sering kali keduanya aku buka se­lebar mungkin demi sirkulasi udara yang baik (aku pikir begitu), wa­lau akibatnya bukan hanya debu yang mondar-mandir tapi juga ku­cing. Dinding di bawah jendela pun dihiasi tapak-tapak kaki kucing. Setahuku ada tiga ekor kucing yang memanfaatkan jendela ini untuk akses keluar-masuk: dua jantan (dan saling bermusuhan) serta satu betina. Ukuran jendela juga memberikan pencahayaan yang baik, terlalu baik malah. Biasanya saat pergantian dari siang ke sore se­dang cerah-cerahnya, matahari leluasa menyorotkan sinar dan pa­nas ke dalam ruangan.

Ketika ruangan ini terasa begitu panas dan berdebu, aku maklum ka­rena lokasinya di Kota Bandung yang sudah tidak begitu sejuk, te­pat­nya tidak jauh dari Kiaracondong: area hiruk-pikuk di mana stasiun, pasar, pertokoan, pemukiman, jalan layang, hingga jalan besar (by­pass) bercampur aduk—bayangkan arus kendaraan di kawasan itu dan sekitarnya. Kadang ketika aku membersihkan muka dengan fa­cial lotion dan kapas saat malam, permukaan kapas itu menjadi hi­tam. Padahal bisa jadi seharian aku berkubang di rumah saja.

Suara-suara dari luar terdengar jelas di ruangan ini. Aku bisa meng­enali penjaja apa saja yang hilir mudik di jalan samping rumah, juga sesekali menangkap bincang-bincang tetangga yang sama sekali tidak kukenal (maupun mengenalku).

Satu lagi penunjang tempat menulis yang ideal adalah lampu. Ter­u­tama bagi yang penglihatannya terbatas sepertiku. Matahari tidak bersinar dua puluh empat jam, dan saat bersinar pun kadang ca­ha­yanya tidak cukup kuat. Menulis dalam penerangan yang kurang me­madai lama-lama bikin sakit mata, atau malah penglihatan ka­bur se­jak awal.  

Aku tidak terbayang “sudut” yang lebih "ideal" bagiku ketimbang su­dut di mana aku mengetik sekarang. Segala fasilitas yang tersedia untukku menulis lebih dari cukup malahan, al­ham­du­lillah, sampai-sam­pai aku khawatir tidak bisa mengoptimalkannya. Ru­ang­an yang nya­man dan lingkungan yang individualis seperti ini ba­rang­kali sa­ngat men­du­kung kerja kepenulisan, tapi juga tidak baik untuk ke­pri­badian. Ka­dang kamu jadi sama sekali tidak ingin keluar dari ka­mar­mu dan me­ngerjakan hal lain, betapapun harus.[]



written as suggested in A Reader for Developing Writer: Fifth Editon (Santi V. Buscemi, 2002, McGraw-Hill) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar