Rabu, 24 Desember 2025

Menerjemahkan Affirmations for the Inner Child (Rokelle Lerner, Health Communications, Inc.: 1990)

Gambar dari Amazon.
Baru pada buku ini saya menemukan bahwa ada jenis buku yang isinya kumpulan entri sejumlah hari dalam setahun. Sejak buku ini, saya pun penasaran mencari lebih banyak buku sejenis untuk dibaca satu entri per hari. Malah timbul ide untuk menerjemahkan buku ini satu entri per hari--jadi latihan terjemah harian. Seperti yang sudah diuraikan pada catatan pembacaan buku ini (20 November 2019), sebagian isinya ada yang relatable buat saya. Ada kalimat-kalimat yang bagus dan mengena. Maka posting terjemahan buku ini pun dijadwalkan untuk mengisi sepanjang 2022. 

Saya tidak ingat kapan persisnya saya mulai menerjemahkan buku ini, bisa saja tidak lama setelah tamat membacanya, awal 2020 barangkali, setiap hari satu entri mulai 1 Januari 2020. Atau 2021? 2022? 

Pendeknya, penerjemahan buku ini terputus-putus, berlarut-larut, sampai baru pada akhir 2025 ini akhirnya selesai juga .... Bertahun-tahun saya bertahan dengan buku ini (dan masih ada beberapa "proyek" lain yang juga sudah mengiringi saya bertahun-tahun lamanya entah kapan selesainya wkwkwk).

Total entri dalam buku ini mestinya ada 365 (tidak mencakup 29 Februari), tapi total yang sudah saya terjemahkan ternyata hanya sampai 358, yang berarti ada 7 entri yang saya lewatkan. Memang itu disengaja karena saya merasa tidak sreg dengan isi entri tersebut, terutama bila menyinggung seksualitas dan keyakinan. 

Betapapun bagusnya kalimat-kalimat afirmasi, ternyata tidak sebaiknya kita mempraktikkan itu mentah-mentah. Khususnya bila kita mengaku sebagai orang yang beriman kepada Tuhan. Penguatan-penguatan itu tidak cukup hanya mengandalkan diri sendiri, tapi mesti melibatkan Tuhan sebagai bukti keimanan kepada-Nya. Buku ini pun kadang-kadang menyertakan "The Higher Power", seakan-akan insaf bahwa kekuatan diri sendiri saja tidak cukup. 

Jumat, 19 Desember 2025

Politik Ekologi: Pengelolaan Taman Nasional Era Otda

Gambar dari
Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Penulis : Herman Hidayat, John Haba, Robert Siburian
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia bekerja sama dengan LIPI Press, 2011
ISBN : 978-979-461-792-2

Buku ini kumpulan hasil penelitian lapangan tentang dinamika beberapa Taman Nasional di Indonesia oleh tim LIPI selama 2005-2009. Fokusnya menganalisis kebijakan pemerintah, serta persepsi pemerintah pusat (Kementerian Kehutanan) dan daerah (Provinsi dan Kabupaten) atas Taman Nasional, juga program kemitraan antara berbagai stakeholders.

"Bab I. Politik Ekologi: Taman Nasional dalam Era Otda" menyampaikan gambaran yang tampaknya umum terjadi di Taman-taman Nasional di Indonesia sejak era Otonomi Daerah. Selama Orde Baru, Pemerintah Pusat mengatur secara sepihak tanpa melibatkan masyarakat setempat. Akibatnya, setelah Otonomi Daerah, Pemerintah Daerah mengalami kendala untuk membangun daerahnya sendiri-sendiri, sebab ada daerah-daerah yang lahannya banyak diduduki oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kehutanan, dengan menetapkannya sebagai Taman Nasional. Dengan potensi kawasan pelestarian alamnya itu, Indonesia mempunyai peran penting di dunia internasional untuk mengatasi masalah pemanasan global. Konflik ini tidak hanya antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, tetapi juga melibatkan pengusaha, masyarakat adat yang sudah turun-temurun menghuni kawasan, masyarakat pendatang, sampai LSM domestik dan internasional. 

Yang paling memprihatinkan bagi saya adalah masyarakat asli, yang dirampas haknya sekalipun hanya untuk hidup subsistence (sekadar untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari). Saya membayangkannya bagaimana jika kita sekeluarga sudah turun-temurun hidup di suatu tempat, mencari makan, membangun rumah, dan sebagainya, dengan mengambil dari hutan dan sekitarnya secara cuma-cuma, lalu datang sekelompok orang yang menyuruh pergi, membatasi akses ke hutan, yang kemudian dikuasai oleh pendatang, diporak-porandakan untuk jadi perkebunan, pertambangan, dan sebagainya, sementara kita jadi harus melakukan berbagai usaha lain untuk mendapatkan uang untuk menebus kebutuhan sehari-hari yang semula dapat diambil secara cuma-cuma secukupnya itu. Bahkan kita tidak lagi memiliki rasa cukup; kebutuhan yang semula sekadar untuk makan-minum, menutup aurat, memiliki naungan, dan selebihnya bersosialisasi serta menyembah entitas gaib Penguasa Alam Semesta, kini bertambah-tambah jadi harus mengirimkan anak ke sekolah dengan membayar segala kelengkapannya, memiliki rumah bata dan kendaraan bermotor, memasang listrik, mengantongi handphone, ... mengejar standar hidup ala masyarakat nun jauh di sana. Perubahan ini mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat asli, akibat dari melihat pendatang mengeksploitasi alam seluas-luasnya, mereka jadi ikut-ikutan. Mau bagaimana lagi, kalau tidak begitu, rugi dong! Mereka pun tidak lagi ramah, murah hati, menghormati alam sedemikian sehingga untuk menebang satu pohon saja harus mengadakan upacara, sebagai gantinya tumbuh jiwa komersial yang melihat pohon hanya sebagai sumber uang. Pepatah luar mengatakan bahwa uang tidak tumbuh dari pohon, tapi di negeri kita, nyatanya uang mengalir ke kantong-kantong dengan menebangi pohon-pohon.


Masyarakat asli tidak lagi boleh memanfaatkan tempat tinggal mereka turun-temurun sekadar untuk kebutuhan sederhana, sebab kawasan hanya boleh dikuasai oleh pihak-pihak bermodal, untuk memproduksi barang-barang untuk dijual, yang keuntungannya lebih banyak kembali kepada pihak-pihak bermodal itu. Kita-kita juga yang membantu memodali pihak-pihak tersebut dengan menaruh uang kita di bank. Kita-kita juga yang turut mengonsumsi produk dari mengubrak-abrik alam itu, menikmati hasil dari menghilangkan penghidupan masyarakat lain.

Misi konservasi tidak murni untuk mengonservasi, tetapi disisipi kepentingan pihak yang hendak menguasai kawasan, dengan menyisakan sebagiannya untuk diproteksi dengan menyingkirkan masyarakat yang semula hidup subsistence di dalamnya, mem-"beradab"-kan mereka agar turut menjadi konsumen dari produk-produk hasil eksploitasi itu. Ekowisata jadi satu kompensasi yang ditawarkan, tetapi yang dapat menikmatinya pun hanya sekalangan orang beruang yang mampu membayarnya, dan penduduk setempat mesti jadi pelayan bagi mereka.


Atau, barangkali ini hanya ide liar belaka untuk karangan fiksi spekulatif 🙃

Bab 2 sampai Bab 9 melaporkan keadaan di sejumlah Taman Nasional di Indonesia yaitu: Bukit Tigapuluh, Kerinci Seblat, Baluran, Bali Barat, Tanjung Puting, Kutai, Rawa Aopa Watumohai, Bogani Nani Wartabone; ada yang di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi--cukup mewakili nusantara dari sebelah barat, tengah, sampai wilayah timur. Satu bab menyoroti satu Taman Nasional. 

Selain permasalahan yang tampak umum terjadi di setiap Taman Nasional era Otda itu, di buku ini akan kita temukan pula praktik adat yang khas di kawasan-kawasan tertentu di Indonesia dalam berinteraksi dengan alam. Sebagai contoh, di Bali, sebenarnya adat agama Hindu di sana mengatur tata lingkungan. Terdapat Kawasan Radius Kesucian Pura (KRKP), artinya alam di sekitar pura merupakan kawasan yang mesti dilindungi untuk mendukung kesucian tempat ibadah. Akan tetapi, agaknya aturan itu tidak ditaati sepenuhnya, termasuk yang berada di kawasan Taman Nasional Bali Barat (halaman 132).

Minggu, 14 Desember 2025

Menulis Secara Populer

Penulis : Ismail Marahimin
Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta
Edisi Revisi, Cetakan ketiga, 2001
ISBN : 979-419-126-4
"... orang yang belajar menulis itu memang harus rela dipermalukan. Tidak ada jalan lain." (halaman 6)
Dipermalukan, atau mempermalukan diri dengan membiarkan dibaca orang.

Katanya, dalam menuntut ilmu, yang mula-mula harus dipelajari adalah adab. Demikian halnya dengan menulis. Buku panduan menulis ini diawali dengan semacam "pelajaran adab sebagai penulis", antara lain harus rela dipermalukan, sabar, rendah hati, dan rajin berlatih.

Ini asumsi pribadi saja yang mungkin berubah: tampaknya tradisi/tren/seni tulis-menulis itu mencapai puncaknya pada era blog. Setelah itu, sejak internet makin mudah diakses dan bermunculan platform-platform audio-visual seperti Instagram, YouTube dan lain-lain, banyak yang beralih media. Konten atau vlog di IG/YT yang berwarna-warni, bergerak cepat, diiringi musik yang asyik, lebih memanjakan indra daripada dinding-teks. Tentu masih ada saja yang suka menulis dan suka membaca. Masih banyak media yang mempublikasikan tulisan. Saya pun masih berusaha untuk mempertahankan kegiatan ini, walau lebih untuk pribadi, dan sudah tidak mengikuti perkembangan dunia tersebut.

Karena itu, buku ini saya pandang lebih sebagai bunga rampai ragam bentuk tulisan yang dilengkapi dengan penjelasan. Bentuk-bentuk tulisan yang disertakan dalam buku ini adalah: deskripsi, narasi, eksposisi, dan artikel. Tiap-tiap bentuk itu ada lagi jenis-jenisnya. Deskripsi bisa dikembangkan menurut tempat, waktu, dan kesan. Narasi bisa berupa dongeng, cerpen, dan novel. Eksposisi bisa menjadi dasar untuk menulis pidato dan karya ilmiah, atau sekadar latihan berpikir logis dan sistematis. Artikel ada banyak lagi ragamnya. Kendati ada nama untuk berbagai bentuk tulisan, dalam penerapannya tidak mesti baku. Contohnya, narasi tidak hanya berupa karya fiksi, tetapi dapat ditemukan juga dalam artikel nonfiksi. 

Beberapa tulisan mengandung ide yang sama, tapi dikembangkan secara berbeda-beda oleh tiap-tiap penulis. Sebagian penulis adalah peserta mata kuliah Penulisan Populer yang diampu oleh penulis buku ini (Ismail Marahimin). Ada pula karya yang sudah diterbitkan dalam buku berjudul Jejak Langkah Anak Kuliah (Gramedia, 1989). Itu mengingatkan pada masa kuliah saya sendiri, ketika lagi ranjing-ranjingnya menulis, dan saya bersyukur telah mempergunakan masa itu untuk berkreasi, ketika baik otak maupun fisik masih lincah dan banyak energi. Seandainya saya membaca buku ini semasa kuliah, sepertinya semangat saya akan bertambah-tambah lagi. Buku ini mengingatkan saya bahwa menulis pernah begitu mengasyikkan, terutama dalam bentuk cerpen dan satire.

Ada beberapa model tulisan dalam buku ini yang memancing komentar agak panjang. (Memang jauh lebih gampang sekadar mengomentari tulisan daripada mengerjakan latihan-latihan menulis itu sendiri heuheuheu.)

MODEL 6: DESKRIPSI BANYAK PERISTIWA DALAM WAKTU YANG LAMA (I) "GEMPA BUMI" (Jack London)

Deskripsi ini mengenai gempa dan kebakaran yang melanda San Fransisco, 18-20 April 1906. Pada waktu saya membaca tulisan ini, sedang ramai berita kebakaran di perumahan selebritas Hollywood. Banyak yang menganggap itu sebagai azab atas dukungan Amerika Serikat terhadap Israel. Terlepas dari soal azab yang sejatinya sekehendak Tuhan mau menimpakannya ke manusia mana, kapan dan di mana, rupanya kawasan barat Amerika Serikat situ memang rawan bencana dari masa ke masa. Pada saat terjadinya bencana di San Fransisco, 1906 ini, perumahan orang kaya juga terkena, meskipun ada juga yang buruh.

MODEL 15: DIA TERAMAT MALANG II "IBU" (Tina Savitri)

Mengenai tulisan ini, Pak IM mengkritisi adanya kejanggalan dalam usia para tokoh yang berkaitan dengan latar masa pendudukan Belanda persis sebelum Jepang masuk (halaman 151). Menurut saya, tidak ada yang salah. Selisih usia antara kakak dan adik bisa sampai hampir 20 tahun (contohnya antara bapak saya dan kakak pertamanya), dan perempuan masih bisa melahirkan pada usia 40-an tahun. Jadi seandainya tokoh utama berusia 20-an tahun pada 1980-an, maka dia lahir pada 1960-an, sehingga ibunya mungkin lahir pada 1920-an, sedangkan Jepang masuk pada 1940-an. Jadi mungkin saja ibunya masih sempat bersekolah di MULO persis sebelum Jepang masuk.

MODEL 26: EKSPOSISI IV "ADOPSI ANAK INDONESIA OLEH ORANG ASING, MENGAPA TIDAK?" (Suryanti Winata)

Sepertinya gara-gara model ini saya akhirnya terpantik untuk mengeklik satu dokumenter Al-Jazeera English yang terkait (sudah beberapa lama muncul terus thumbnail-nya di beranda), ”Adopted from Indonesia to the Netherlands: A Dutch family's reckoning”, tentang satu anak Jawa yang diadopsi orang tua Belanda tapi malah problematik. Sebagai model eksposisi, tulisan ini berargumen membela praktik adopsi, membuat saya berpikir, benar juga, itu mengurangi beban negara mengurus rakyat yang sudah terlalu banyak. Namun dokumenter Al-Jazeera tersebut justru membukakan mata bahwa anak adopsi yang dibesarkan di negara yang tampak lebih sejahtera itu ternyata belum tentu bahagia, malah menyimpan luka mendalam. 

Ada hal-hal yang kalau dipikir secara rasional saja, kenapa tidak? Satu contoh lain adalah soal poligami. Kenapa itu tidak dilihat sebagai keuntungan bagi perempuan? Berkurang beban kewajiban terhadap suami; kalau lagi malas melayani, suruh saja dia pergi ke istri lainnya. Lebih banyak me-time. Beban pertanggungjawaban suami justru makin banyak, baik di dunia maupun di akhirat. Kalau dipikir secara rasional, poligami justru meringankan perempuan dan memberatkan laki-laki dong. Tapi, kenyataannya, kalau dilihat dari kacamata syahwat, poligami itu malah pencapaian bagi laki-laki. Kalau pakai perasaan, ikut perih dan sesak  mendengar suara hati istri-istri yang suaminya berpaling ke pelukan wanita lain, risih juga bila ustad-ustad menjadikan poligami sebagai bahan candaan di majelis pengajian.

Maka soal adopsi juga, bila dipikir saja, tanpa dirasakan sendiri, sekilas tampak sebagai solusi bagi masalah demografi. Padahal dari sudut pandang anak adopsi sendiri, alih-alih senang dengan segala fasilitas negara "maju", malah terus bergulat dengan kebingungan, keterasingan, yang tidak enak juga. Pada waktu membaca/menonton soal adopsi internasional ini, saya juga lagi membaca novel Robert Anak Surapati, tentang keturunan pribumi nusantara yang diadopsi pasangan Belanda. Walau orang tua Belanda itu amat memanjakannya, pada akhirnya, Robert tak terhindarkan juga dari masalah kebingungan/keterasingan antara beralih ke pihak ayahnya yang pribumi atau tetap bersama Belanda sekalipun sudah jahat kepadanya.

Ibarat kata, pikiran bilang kenapa tidak, sedangkan perasaan lain lagi. Perasaan tidak suka/tidak enak itu pun dapat bertumpuk-tumpuk hingga lama-kelamaan tak terbendung lagi, menggelapkan pikiran dan mendorong pada perbuatan reaktif, atau menjadi penyakit.

Begitulah hidup. Orang bisa saja dibesarkan orang tua kandung di negeri sendiri, tidak pula dipoligami, dan tetap tertimpa oleh berbagai masalah jenis lainnya :v

MODEL 27: EKSPOSISI V "TINJU PROFESIONAL: PERWUJUDAN NALURI PRIMORDIAL MANUSIA" (Tina Savitri)

Sebagaimana disinggung dalam paragraf pembuka analisis mengenai tulisan ini, dari waktu ke waktu, ada saja yang anti pertandingan tinju dan menyampaikannya lewat tulisan, baik itu surat pembaca, artikel, maupun puisi seperti yang pernah dibuat oleh Taufiq Ismail dan terdapat dalam bukunya Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Yang anti-tinju memandang pertandingan itu tidak ubahnya menyabung ayam, seperti gladiator versi modern, di mana orang senang melihat orang lain menyakiti sesamanya. 

MODEL 30: ARTIKEL III "PERAN GANDA ATAU BEBAN GANDA?" (Avianti) & MODEL 31: ARTIKEL IV "INI CITA-CITA KARTINI?" (Najah Farhati)

Keduanya sama-sama ditulis oleh pengikut mata kuliah Penulisan Populer, 1989/90, menunjukkan bahwa masalah wanita karier yang tetap harus menjalani peran ibu rumah tangga sepenuhnya, suami yang tidak mau membantu, perempuan yang enggan menikah karena tahu betapa beratnya beban ganda itu dan lebih penting mencari uang untuk diri sendiri, laki-laki yang ingin agar perempuan dapat mengerjakan segala-gala tapi tetap tunduk kepadanya, sudah dipersoalkan sejak era generasi milenial baru lahir. Tentunya perlu diingat bahwa bukan berarti sama sekali tidak ada laki-laki yang mengerjakan segala-gala dan lebih banyak berkorban daripada istrinya, ataupun pasangan-pasangan yang mampu saling pengertian. 

MODEL 46: FEATURE/FICER II "DUNIA DALAM TAHUN 1986" (Aldous Huxley)

Ramalan Huxley dari tahun 1961 yang memproyeksikan tahun 1986 ini kalau menurut Pak IM banyak yang tidak menjadi kenyataan. Saya yang membacanya pada 2025 justru merasa relevan. Barangkali ramalan itu belum relevan 25 tahun setelah ditulis, tapi baru pada 60-an tahun kemudian, persisnya mengenai pengembangan obat-obat kejiwaan, banyaknya waktu luang, gerakan DIY, dan automasi. 

Pengembangan obat kejiwaan telah mewujud dengan membesarnya industri kesehatan mental, barangkali perlu ditunjang oleh industri media sosial/digital yang pada 1986 belum sampai pada taraf sedemikian rupa. Orang-orang perlu terlebih dahulu dibuat kacau kejiwaannya dengan media sosial/digital, agar membutuhkan produk dan jasa yang disediakan industri kesehatan mental. 

Memang ada sejumlah pekerjaan yang tidak dapat digantikan oleh robot, tapi sebagian lagi sudah dengan banyaknya PHK di mana-mana. Akibatnya banyak orang memiliki banyak waktu luang, sehingga pelariannya entahkah ke obat kejiwaan/industri kesehatan mental (karena stres menganggur), atau ke candu digital (scrolling media sosial untuk melupakan beban), atau ke kegiatan produktif (DIY, mendayagunakan apa pun yang tersedia di sekitar).

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain