O, A,
hidupmu terlalu berat untuk kusangga.
Terima kasih karena telah memaksaku membuka mata.
Tapi...
hasratmu kok sekarang tak lagi kerasa?
Apa maksudmu mengangguku ujian, hah?
Bi Empat (Wahyu Wibisana, 1956) (2/2)
-
Pa Camat mengangguk-angguk sambil mengusap-usap kumisnya. Pa Lurah,
memelototi Bah Emuh, berkata: “Betul! Abah sudah memenangkan urusan ini,
tapi Abah bi...
1 hari yang lalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar