LAINNYA

Rabu, 02 Juni 2010

Pemuda Berpikiran Terbuka dan Kritis untuk Masyarakat Indonesia Madani

Dua puluh Mei merupakan tanggal lahir Boedi Oetomo. Boedi Oetomo dianggap sebagai organisasi pemuda pertama di nusantara yang tidak bersifat kedaerahan. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Setelah itu, organisasi-organisasi pemuda lainnya pun bermunculan. Dari sekian banyak organisasi yang ada, ada satu tujuan besar mereka: kemerdekaan bangsa. Kesamaan tujuan inilah yang kemudian menyadarkan mereka bahwa tujuan tersebut hanya bisa diraih jika mereka tidak terus berjalan sendiri-sendiri. Mereka membuktikannya. Meski membutuhkan waktu sekitar tujuh belas tahun, sejak kongres pertama yang menjadi titik tolak persatuan mereka, kemerdekaan Indonesia akhirnya berhasil dikumandangkan.

Dalam lagunya, “Pemuda”, Chaseiro (grup band Indonesia akhir tahun 70-an) mengenang kejayaan tersebut dan menyayangkan keadaan pemuda pada jamannya. Fenomena tersebut ternyata masih berlangsung sampai kini, bahkan mungkin bertambah parah. Tapi masa lalu telah kabur. Yang ada hanyalah masa kini sehingga hal tersebut tidak perlu lagi dipersoalkan melainkan diambil saja sebagai pelajaran. Cermatilah lirik menggugah yang pernah terkenal karena dinyanyikan ulang oleh para bintang AFI ini:

“Pemuda, ke mana langkahmu menuju? Apa yang membuat engkau ragu? Tujuan sejati menunggumu sudah. Tetaplah pada pendirian semula. Di mana artinya berjuang, tanpa sesuatu pengorbanan? Ke mana arti rasa satu itu?

“Bersatulah semua, seperti dahulu. Lihatlah ke muka. Keinginan luhur kan terjangkau semua.

“Pemuda, kenapa tersirat dengan pena yang bertinta belang? Cerminan tindakan akan perpecahan. Bersihkanlah noda itu semua. Masa depan yang akan tiba menuntut bukanya nuansa. Yang slalu menabirimu pemuda.”

Alih-alih tujuan bersama, tujuan sendiri pun (misalnya dalam memilih jurusan di universitas) pemuda kita masih kerap ragu. Alih-alih mencapai tujuan, mereka masih dengan mudahnya tergoda untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga bangsa.

Gencarnya arus globalisasi bisa dibilang sebagai faktor penyebab terpecahnya persatuan di antara pemuda. Kemajuan teknologi, serta beragam pemikiran dan budaya yang dapat diresap lewat berbagai media, telah membentuk para pemuda Indonesia sedemikian rupa. Bagi mereka yang arif tentunya itu mereka manfaatkan untuk suatu kebaikan. Sementara mereka yang tak mau berpikir, bisa jadi malah terlenakan dan berapatis ria.

Tidak sedikit “dosa besar” pemuda yang disiarkan media akibat kegandrungan mereka pada hal-hal tak berfaedah. Mulai dari narkoba, geng motor, seks bebas, sampai pada demonstrasi anarkis—hampir semua kasus tersebut dilakoni pemuda sebagai tokoh utamanya.

Pemuda yang berpikiran terbuka dan kritis, tentu akan memiliki banyak pertimbangan sebelum melakukan hal-hal yang sebetulnya tak ada gunanya atau malah merugikan. Lain dengan pemuda yang berpikiran sempit dan tumpul, mereka tidak akan sempat pikir panjang ketika tawaran atau kesempatan untuk melakukan hal-hal tersebut datang.

Banyaknya “dosa besar” yang dilakukan oleh pemuda ditengarai merupakan hasil dari pola pikir sempit dan tumpul yang mendekam dalam kepala mereka. Apa lagi yang bertanggung jawab membentuk pola pikir kalau bukan pendidikan? Maka kita tanyakan kepada para orangtua dan guru, apakah mereka sudah menerapkan pendidikan yang membebaskan “generasi penerus bangsa” ini dari kungkungan pikiran yang sempit dan tumpul?

Dengan pikiran yang terbuka dan kritis, pemuda diharapkan dapat membaca dan mengkaji fenomena-fenomena yang terjadi pada dirinya masyarakat secara objektif. Kepekaan ini lantas mendorongnya untuk merumuskan cara yang benar dalam meraih satu tujuan besar: membentuk masyarakat Indonesia madani.