Minggu, 20 September 2020

Mendidik Jiwa Lewat Berkebun

Sebagai orang kota, dalam pertumbuhannya saya tidak begitu akrab dengan alam. Alam sekadar pohon-pohon perindang di tepi jalan, taman, halaman rumah, dan semacamnya, sekadar latar bagi kehidupan yang cenderung berorientasi pada bangunan buatan manusia: rumah, sekolah, mal ....

Berkebun yang baru saya coba tahun-tahun ini, pada usia yang dikatakan sudah dewasa, saya rasakan sebagai suatu pendidikan karakter. Terus terang, berkebun saya rasakan lebih sebagai suatu kewajiban ketimbang passion. Ibarat anak kecil yang mesti terus-menerus didorong untuk bangun pagi, makan teratur, bobo siang, sikat gigi sebelum tidur, dan sebagainya, berkebun memaksa saya untuk belajar membentuk kebiasaan-kebiasaan baru. 

1. Bersyukur

Tuhan melimpahkan nikmat kepada manusia, dan manusia mesti mensyukurinya. Bagaimanakah caranya? Di antaranya dengan memanfaatkan nikmat tersebut untuk kepentingan hidupnya.

Hasil panen kompos pertama,
belum terurai dengan baik.
Saya punya waktu luang. Saya tinggal di rumah dengan balkon-balkon dan halaman yang cukup luas. Saya punya sedikit uang untuk membeli media tanam dan biji tanaman. Malah, biji bisa diperoleh secara cuma-cuma dari bahan masakan sehari-hari (misalnya cabai, kacang, dan sebagainya). Air untuk siram-siram pun ada. Sampah terus menerus dihasilkan; yang organik bisa dijadikan pupuk, sedangkan sebagian yang plastik untuk wadah tanaman  Inspirasi untuk berkebun berdatangan dari mana-mana. Sayang kalau semua itu tidak dimanfaatkan ....

2. Disiplin dan bertanggung jawab

Rutin menyiram tanaman setiap hari adalah pencapaian tersendiri. Betapa tidak. Adakalanya kemalasan menyerang. Kalau tidak berhasil mengalahkannya, bisa-bisa tanaman pada mati kekeringan. 

Tiap kali kemalasan melanda, saya mengingatkan diri bahwa tanaman itu sudah dikasih nyawa. Kamu sudah menumbuhkannya, dengan menanamnya dan menyiraminya pada waktu kamu lagi semangat-semangatnya berkebun. Sekarang kamu malas, dan ingin membiarkannya begitu saja? Rasa-rasanya seperti kamu memutuskan untuk punya anak sehingga hamil dan lalu melahirkan. Tapi sudah begitu bayi itu kamu diamkan saja, tidak disusui atau apa. Kan tega amat, tidak bertanggung jawab. Menyirami tanaman tiap hari merupakan tindak lanjut paling minimal. Paling, karena sebetulnya mesti diberi pupuk dan diawasi dari hama juga.

3. Menghargai

Hasil panen minggu ini.
Mungkin ini kedengaran aneh. Orang berkebun biasanya senang ketika akhirnya bisa panen dan menikmati hasil menanam sendiri. Saya justru malas, baik dalam memanen maupun memakan atau mengolah hasilnya. Padahal proses sampai bisa panen itu telah memakan pengorbanan tersendiri, mulai dari menyiapkan media dan wadah tanam, menyeret diri agar rutin menyiram, dan seterusnya. Akibat kemalasan itu, sebagian tanaman pun keburu dilalap hama. Yah, bisa saja menganggapnya sebagai sedekah, sengaja menanam untuk memberi makan makhluk-makhluk lain sesama ciptaan Tuhan. Tapi, please deh! Setidaknya sisihkan sebagian besarnya sebagai reward atas usahamu selama ini. Toh katanya sebaik-baik rezeki adalah hasil jerih payah sendiri, bukan?

Tentunya ini bagian dari mensyukuri nikmat Tuhan, yang telah menjadikan tanaman itu tumbuh sampai layak panen. Bahkan, sesungguhnya nikmat tersebut bukan hanya berupa tanaman yang sengaja ditanam melainkan juga tumbuhan liar yang ternyata dapat dimakan. Contohnya, di sekitar rumah saya, tumbuh sirih cina dan mengkudu tanpa ada yang sengaja menanamnya.

4. Proporsional

Saya tidak begitu yakin akan mana istilah yang tepat untuk yang satu ini. Intinya sih menyangkut pengendalian hama. Saya pernah mendengar bahwa hama itu dikendalikan, bukan dibasmi. Hama pun berhak atas yang kita tanam, asal tidak kebanyakan. Ibarat kita bekerja atau berbisnis, lalu uang yang kita hasilkan dari situ mesti disisihkan untuk zakat dan pajak. Lebih dari itu boleh saja, dianggap sebagai sedekah. 

Hasil panen ecoenzyme.
Karena aromanya kurang sedap,
sepertinya akan dijadikan
pupuk dan pestisida saja. 

Namun agama juga mengajarkan supaya tidak terlalu mengulurkan tangan atau kita akan merugi. Begitupun dalam berkebun. Bersedekah untuk hewan-hewan kecil itu boleh saja, tapi rugi dong kalau semuanya habis sama mereka? Perhatikanlah dirimu sendiri, yang sebetulnya poin 3.

Nah, untuk menjaga supaya bagian kita tidak dijarah oleh yang kurang berhak, kita mesti rajin-rajin memantau dan tentunya mengambil tindakan dengan menyemprotkan pestisida. Pestisida yang digunakan tentu saja yang ramah lingkungan. Ibarat ada peminta-minta dan kita tidak hendak memberi dia uang, maka sebaiknya kita tidak menghardik tapi menolak dengan halus dan tidak menyakitkan(?)

.

Begitu dulu yang terpikirkan oleh saya. Berkebun lebih dari sekadar untuk ketahanan pangan, yang sepertinya sebatas pada fisik. Berkebun bukan sekadar memupuk tanah untuk menyuburkan tanaman, melainkan juga memupuk jiwa untuk menyehatkan pribadi. Walau katanya tidak ada kata terlambat untuk belajar, saya merasa sayang baru menyadari hal tersebut sekarang ini. Seandainya saja sedari kecil saya sudah dididik untuk menghayati sikap-sikap tersebut dengan cara berkebun ....

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain