LAINNYA

Minggu, 25 Desember 2011

ketika kucing tidak lagi dalam karung


JANGAN BELI KUCING DI ATAS KARUNG!
kucing satu ini, biar ekornya kayak kemoceng, tapi buang air besarnya suka sembarangan. 

Sabtu, 24 Desember 2011

Kenalkan: ITC Kebon Kalapa dan SD Istiqamah Bandung

Ingin ke Bandung tapi belum kesampaian? Mari, saya kenalkan kamu dengan dua lokasi terkenal di Bandung. Kenalan sedikit saja. Kalau mau kenalan lebih jauh, silahkan datang sendiri he he. :)


1
ITC Kebon Kalapa

Kebon Kalapa di Bandung bukanlah kebon kalapa dalam arti sebenarnya. Seperti kata Wilson Nadeak dalam puisinya, "Kebun Kelapa: Terminal Kita", kebun kelapa/ di tengah kota/ telah tiada kebunnya/ telah tiada kelapanya

Waktu saya SMP, sekitar awal tahun 2000-an, sebuah pusat perbelanjaan dibangun di daerah ini. ITC namanya. Benda pertama yang saya beli di sini adalah jaket parasut kuning yang ada mata mendelik di bagian dadanya.

ITC Kebon Kalapa tampak samping
Sebenarnya bukan tidak ada tumbuhan kelapa sama sekali di daerah ini. 
Nih, ada. Tapi ini tidak bisa disebut kebun bukan?
Bagian dalam ITC

Sudah puas lihat-lihat? He he. ITC jadi alternatif bagi mereka yang ingin mendapatkan sandang dengan harga murah. Karena tidak semua orang konsumtif, termasuk saya, maka saya akan langsung mengajak kamu ke elemen tervital dari sebuah pusat perbelanjaan, yaitu, TOILET!

Lebih spesifik lagi, terutama bagi kamu yang kritis, akan langsung saya tunjukkan ketidakberesan dari toilet yang ada di ITC.

Air tidak bisa berhenti mengucur. Perhatikan arah keran.

Idem

Sudah kerannya tidak bisa ditutup, pintu bilik yang saya masuki ini rupanya tidak bisa dikancing pula. Akhirnya saya gunakan pulpen sebagai pengait. Ketika saya mau keluar, ternyata tidak mudah untuk menarik pulpen saya kembali. Ia pun harus dikorbankan. :'(


Bokong pulpen yang tertinggal...



Di bilik lain, kendati kerannya menutup namun tetap ada pancuran air ke arah atas. Dari foto di bawah ini sih tidak kelihatan, tapi coba deh berdiri di pinggir jamban. Baru kerasa ada yang bikin basah.



Padahal, ada himbauan tertulis seperti ini. 


Ketika pengelola minta kita untuk bayar, dan kita pun membayar. Memang sedikit yang kita bayar. Tapi yang bayar kan bukan kita saja, melainkan banyak pengunjung lainnya. Lalu yang sedikit tapi dari banyak itu dialokasikan untuk menambah anggaran pemeliharaan. Tapi apa yang kita temukan? Kondisi sarana dan prasarana yang terbengkalai. Apa harusnya kita membayar lebih? Apa hanya sedikit yang sadar bayar? Apa yang dibayar tidak sadar? Apa... apaan?

Kondisi serupa saya temukan di Taman Tegallega. Jadi mau toilet apa taman kota, biaya masuknya tetap seribu rupiah. Kalau di taman kota, mungkin kita perlu seribu rupiah lagi untuk masuk toilet di dalamnya.

Mungkin harusnya yang kita bayarkan itu bukan seribu rupiah, melainkan kita datangkan langsung cleaning service dan tukang untuk memperbaiki keadaan.


2
Kompleks Yayasan Istiqamah

Kompleks ini terdiri dari masjid, SD, TK, klinik, kantin, hingga KBIH. Berlokasi di Jalan Citarum, kompleks berukuran luas ini dikeliling pohon-pohon besar yang tampak megah. Anak-anak yang bersekolah di sini umumnya berasal dari kalangan menengah ke atas, tapi banyak juga yang dari kalangan menengah biasa. Selama enam tahun, kompleks ini menjadi wilayah jelajah saya. Mari ikuti saya menapak-tilasi masa SD saya. 

Aula. Di sini kami biasa solat zuhur. Waktu kelas 6, saya dan teman-teman suka main jetkoster-jetkosteran di sini. Bahaya sih. Alhamdulillah tidak ada yang pernah kena kecelakaan serius.

Bayi kucing disiram fanta. Dulu ini tidak ada tanamannya. Hanya tanah. Waktu masih di tingkat bawah, saya dan teman-teman menemukan seekor bayi kucing. Bulunya saja belum tumbuh. Badannya basah merah-merah. Katanya itu karena ada yang menyiramnya dengan fanta.
Dapur di belakang kantor kepala sekolah. Dulu ada seorang wanita bekerja di sini. Kami memanggilnya "Teteh". Saya dan Teteh cukup dekat. Begitu bel berdering, tanda jam istirahat mulai, saya langsung menghampiri Teteh di sini. Dia memegang kunci perpustakaan sekaligus menjadi penjaganya. Sesekali saya menjadi asisten Teteh. Saya melayani murid lainnya yang hendak meminjam buku, misal. Ketika Teteh tahu-tahu tidak bekerja lagi tanpa diketahui sebabnya, saya jadi tidak mudah mengakses perpustakaan lagi. Kalau teringat padanya, saya jadi merindukannya dan kedekatan kami. Teteh, kau ada di mana?
Para guru masih bertahan. Saya takjub mendapati muka-muka mereka masih eksis dalam kegiatan SD baru-baru ini. Mulai dari kiri: Pak Hadi - Pak Asep - Pak (entah) - Pak Abu - Pak Eko. Pak Hadi adalah guru favorit siswa. Ia suka bercerita dan selalu memulai ceritanya dengan "aya nini-nini". Pak Asep juga mau menceritakan yang horor kalau diminta. Pak Abu ternyata uwaknya teman saya waktu SMP. Selain di SD, Pak Eko juga mengajar di SMP Istiqamah.
Kantin. Saya jarang makan di sini. Untuk ukuran kantong siswa SD, harga makanan di sini tergolong mahal. Kami kan tahunya jajan yang ringan-ringan macam batagor, cakue, dan lain-lain. Kantin ini juga menjual makanan berat.
Lapangan kasti. Entah apa fungsi area ini sebenarnya. Waktu saya kelas 4, saya dan teman-teman sedang getol-getolnya main kasti di sini. Biasanya pagi sebelum masuk atau istirahat. Kalau lapangan di bawahnya sudah penuh terisi saat momen SKJ-Sabtu-pagi, siswa yang tidak kebagian tempat di bawah akan bergoyang di sini.
Lapangan upacara sekaligus lapangan olahraga dan SKJ-Sabtu pagi. Sekarang area ini jadi tempat parkir juga. Kalau tidak berolahraga di sini, maka kami akan berolahraga di lapangan satunya yaitu lapangan merah. Sekarang area ini jadi berasa rada sempit, padahal dulu lumayan besar. Maklum, sekarang kan sudah gede...

Salah satu lorong kelas. Selain deretan kelas untuk kelas bawah dan kelas atas (dulu), terdapat MCK putri, tangga, mading, aula, dan (dulu) koperasi juga di sini. Area ini berdampingan dengan area TK (tidak terfoto).
Mading. Kelas 6 saya (maklum, lokasi kelas berganti-ganti tiap tahunnya) terletak di seberang MCK putri yang terletak di samping mading ini. Kami, kelas 6, mengurus mading ini. Kami tempelkan karya kami, saya dengan komik saya. Kami juga menyertakan kotak untuk komentar. Sejak ada komentar mengenai komik saya yang garing, saya melanjutkan bikin komik di buku tulis saja. Kelas 5 iri dengan mading kami. Mereka merusaknya. 
Lorong ruang guru. Ruang guru letaknya di sebelah kiri. Di seberangnya adalah aula. Saya pernah diam beberapa lama di ruang guru untuk mengerjakan ujian susulan. Tangga di ujung sana adalah tempat kami mengintip teman-teman kami yang bolos solat zuhur berjamaah dan malah pacaran di dalam kelas. Ada lubang-lubang untuk mengintip pada dinding di samping tangga tersebut.
Menara. Sewaktu masih di kelas bawah, saya dan teman-teman suka menghabiskan waktu istirahat atau pulang sekolah di sini. Letaknya dekat dengan kelas kami. Saya suka penasaran dengan besi-besi yang menempel di bagian tengah, yang tentu digunakan untuk memanjat sampai ke puncak menara. Saya dan teman-teman segeng saya waktu kelas 6 berfoto di bawah menara ini saat kelulusan.
Tangga menuju perpustakaan. Waktu itu ada dua macam perpustakaan. Jika lurus terus lalu belok sedikit, di sebelah kanan adalah perpustakaan. Dulu perpustakaan untuk siswa merupakan ruangan kecil yang merupakan bagian dari perpustakaan untuk umum. Namun perpustakaan untuk siswa kemudian dipindah ke ruangan di seberangnya. Lebih luas dan nyaman, malahan. Di sana saya sering menghabiskan waktu saya. Benar-benar menyenangkan! Lantainya berkarpet, ada bantal-bantal, saya bisa membaca buku sambil leyeh-leyeh. Entah masih ada perpustakaan untuk umum di lantai ini atau tidak, yang jelas saya tidak bisa mengintip keadaan perpustakaan yang dulu pernah dicinta.
Gerbang. Dulu gerbang tersebut biasanya terbuka. Di luar menanti banyak pedagang makanan. Biasanya kami menunggu angkot sambil beli batagor. Pernah juga ada yang menjajakan komik-komik bekas. Kalau Jumatan, peminta-mintalah yang banyak mengisi. Sempat ada wartel dipajang di samping gerbang ini.
Klinik. Di sinilah dulu kami mengantri untuk periksa gigi. Ternyata klinik ini juga diperuntukkan bagi umum.
Plaza. Di sinilah kami biasa menghabiskan waktu untuk bermain atau menunggu jemputan atau sekadar mengobrol dengan teman. Memang asyik nongkrong di sini,. Kita bisa mengamati pohon-pohon besar dan lalu lintas di bawahnya yang sedang-sedang saja. Kalau aula sedang tidak bisa dipakai untuk solat zuhur berjamaah, kami melakukannya di sini. Plaza ini terletak di atas, di luar masjid. Biasanya kotor dan lengket, jadi sebaiknya gunakan alas kotor untuk berjalan di sini.
Prestasi sekolah. Wah, selamat ya SD Istiqamah termasuk tiga besar sekolah terhijau di Bandung! Salah satu bukti pendukung mengapa SD ini dicanangkan demikian bisa dilihat di bawah.
Rumah tanaman. Ini baru lo. Saya lupa kapan terakhir kali saya ke mari sebelum ini. Tahun ini apa tahun lalu ya? Apa dua tahun lalu? Yang jelas baru kali ini saya melihat benda ini. Saya juga tidak tahu bagaimana pengelolaannya, semoga para siswa dibimbing guru atau pegawai lain yang melakukannya. :D
Serodotan. Letak bebatuan ini dekat kelas saya waktu saya masih kelas bawah. Saya dan teman-teman suka ke mari saat istirahat atau pulang sekolah. Kami akan naik ke atas, lalu meluncur turun ke bawah. Mungkin sekarang ditanam tanaman di atasnya adalah untuk mencegah para siswa agar tidak melanjutkan permainan ini. Memang dulu kami sudah diberitahu kalau ini dapat berbahaya. Berseluncur di sini juga bikin celana olahraga biru kami bolong-bolong di bagian pantat.
Pramuka. Rupanya pramuka sudah eksis di sekolah ini. Zaman saya, susah sekali mendisiplinkan anak-anak untuk ikut kegiatan pramuka. Yang jalan paling hanya baris-berbaris. Tidak ada yang namanya persami. Saya sendiri pernah ikut bolos, hujan-hujanan bersama beberapa teman, sementara di atas sana, di plaza, banyak siswa lain sedang dilatih entah apa. Pramuka hanya sekadar seragam. Namun kini SD Istiqamah memiliki seragam pramukanya sendiri. Lucu deh, saya juga ingin punya.
Lapangan merah dan SMAN 20 Bandung. Inilah yang dinamakan lapangan merah. Lapangan ini sebenarnya masuk ke area TK. Ada banyak sarana bermain di bawahnya, bahkan kini sudah ada pula di sisi satunya. Kami yang sudah SD suka nebeng main ke sini hingga akhirnya penggunaan sarana di sini dibatasi. Sesekali kami berolahraga di lapangan ini. Dulu lantainya hanya kotak-kotak, tidak diberi warna lain seperti sekarang. Kalau main kasti misalnya, sesekali bola kami melambung sampai ke jalan raya. Kalau sudah begitu, jeda lama. Nah, di seberang adalah bangunan SMA 20. 
Tempat cuci tangan. Sebenarnya ini masuk ke area TK. Dulu bagian atas keran tidak ditutupi bebatuan melainkan akuarium kaca sehingga kita bisa mengamati ikan-ikan di dalamnya. Kalau kebetulan lewat dan merasa tangan kotor, kami suka menumpang cuci tangan di sini.
Tempat jualan Bu Amel. Anak-anak Bu Amel dulu bersekolah di sini. Mungkin pada mulanya ia jualan hanya untuk mengisi waktu sambil menunggui anak-anaknya saja. Namun lama kelamaan jualannya makin laris. Ia berjualan aneka jajanan untuk anak-anak--tentu bukan jajanan ala mang-mang. Ibu-ibu pun suka berkerumun di dekatnya. Bu Amel mulai aktif jualan sejak saya kelas 3 atau 4 sampai saya lulus. Mulanya dulu bukan di tempat ini, tapi di tempat lain. Baru di tempat ini ia mulai pakai meja karena yang ia jual makin banyak. Entah Bu Amel masih jualan apa tidak dan di mana anak-anaknya bersekolah kini setelah lulus dari sekolah ini.

Wah... Sudah cukup ya putar-putarnya. Bikin saya ingin balik ke masa SD lagi nih he he. Sebetulnya masih ada sisi-sisi maupun sudut-sudut lain yang berisi kenangan. Belum lagi cerita-cerita di baliknya. Namun karena berbagai keterbatasan, saya tak sampai menjamah semuanya. Cukuplah ini yang mewakili nostalgia saya. 

Sampai jumpa.

"Berbahagia dan Berbagi": Dari Bandung untuk Majene untuk Bandung Lagi

Majene terletak di barat Sulawesi. Daerah ini mencakup pesisir, perbukitan, dan kota. Dari Makassar, perjalanan ke sana dapat ditempuh dengan bis malam. Jalan sudah dibangun sejak zaman penjajahan Belanda. Tidak ada yang menggunakan kendaraan offroad untuk melintasi jalan ini, meski kondisinya pas untuk itu. Umumnya orang Majene bertubuh pendek, kata Firman.

FKPPI tampak dari Pitimoss
Ke Majenelah, Indonesia Mengajar (IM) mengirim Firman, Alin, Soleh, Arum, Fauzan dan beberapa pengajar muda lain pada tahun 2010. Kebetulan, semua orang Bandung. Namun hanya lima nama tersebut yang hadir dalam lingkar belajar yang diadakan Komunitas Sahabat Kota (KSK) di ruang sekretaris bangunan milik Forum Komunitas Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI) Bandung, 23 Desember 2011. Bangunan berupa rumah tua itu berseberangan dengan Pitimoss, tempat penyewaan buku nan tenar di kalangan muda Bandung (keanggotaannya berlaku seumur hidup lo…).

Dimulai pukul setengah empat sore, selaku moderator AW meminta seluruh orang dalam ruangan untuk memperkenalkan diri—lengkap dengan asal dan arti “bahagia”, sesuai judul acara ini: “Berbahagia dan Berbagi”. Para peserta umumnya mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung seperti ITB, UNPAD, UNPAR, UIN, sampai IT Telkom. Mahasiswa S2 juga ada.

Firman dan Alin kemudian memandu kami untuk menyanyikan lagu yang biasa mereka nyanyikan bersama anak-anak Majene.


Selamat pagi semua, halo halo (x2)
Tengok kanan, tengok kiri, halo halo
Selamat sore semua, halo-halo


Ditambah gerakan, lagu ini kami nyanyikan dengan mengganti “tengok” jadi “teplok” lalu “gelitik”. “Selamat sore” diganti “selamat pagi” agar kami lebih semangat.

Firman, Alin, dan Soleh memulai cerita mereka sembari memamerkan foto-foto lanskap Majene. Perumahan di atas bukit, pemandangan laut dari halaman sekolah, mangrove yang baru ditanam LSM YPMD, hingga aktivitas masyarakat kala memanen kakao. Jenis ini dapat dipanen setiap minggu dan memberi pendapatan bagi masyarakat sebesar dua puluh ribu rupiah/kg.

Majene dulunya terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil yang digabungkan oleh pemerintah Belanda saat itu. Suku Mandar menduduki daerah ini. Mereka masih mempertahankan tradisi lama. Perayaan maulid nabi diselenggarakan selama tiga bulan dengan lokasi berpindah dari satu tempat ke tempat lain—sesuai lokasi eks kerajaan. Pakaian khas Mandar adalah sarung sutra bermotif kotak-kotak serta baju poko—beda dengan baju bodo.

Namun kehadiran perwakilan pengajar muda IM angkatan pertama ini bukan untuk promosi daerah yang pernah mereka tinggali selama setahun tersebut. Mereka datang untuk berbagi, tidak hanya pada anak-anak Majene, tapi juga pada kami yang mungkin tahun depan akan menyusul kiprah mereka.


Motivasi para pengajar muda

Yang jadi motivasi awal bagi Firman untuk mengikuti IM adalah perhatiannya pada anak-anak yang suka mendampinginya selama menjalani proyek dosen di pelosok luar Pulau Jawa. Terlepas dari apakah mereka memang tidak sekolah atau meninggalkan sekolah secara sengaja, anak-anak tersebut membutuhkan pekerjaan. Sekolah jadi terpinggirkan.

Soleh memang menyukai anak-anak. Mereka selalu tampak gembira, kata lulusan Sastra Indonesia UNPAD angkatan 2005 ini. Ia sudah terpikir untuk pergi ke daerah dan mengajar anak-anak di sana sebelum ia mengikuti IM.

Alin mengikuti IM karena masalah personal. Sebagai keturunan China, ia merasa memiliki keterbatasan. Ia ingin menghilangkannya dengan menunjukkan ke-Indonesia-annya. Ia mengaku bahwa sebelum ikut IM ia tidak begitu menyukai anak-anak, namun IM mengubahnya.

Fauzan juga mulanya risi saat anak-anak menggandulinya. Ia ingin hubungan di antara ia dengan mereka hanya sebatas guru dengan murid. Namun pengalaman ini membuatnya belajar untuk menggunakan hati saat mengambil keputusan.


Tantangan dan kendala

Sepertinya siapapun berkesempatan untuk jadi pengajar muda. Ketika saya bertanya apa kemampuan dasar yang sebaiknya dimiliki calon pengajar muda, Alin bilang kalau mereka diberikan pelatihan selama dua bulan sebelum diterjunkan. Pelatihan yang diberikan ala militer—bahkan katanya angkatan yang baru dilatih Kopassus. Kedisiplinan, survival (“belajar makan ulat…”), hingga cara bikin kurikulum, psikologi, evaluasi, dan sebagainya diberikan selama pelatihan tersebut.

Namun yang terpenting adalah kita harus menjajaki daerah tujuan sebelum berangkat ke sana. Setelah ditanya warga tentang Baharudin Lopa, Alin jadi malu karena tidak mengenal tokoh kebanggaan Mandar tersebut.

Meski satu Majene, namun hanya satu pengajar muda untuk satu sekolah. Dan mereka memiliki cara-cara kreatif dalam menggugah anak-anak untuk maju. Soleh membuat lagu yang membuat anak-anak lebih siap sebelum menghadapi pelajaran. Melihat keadaan sekolah yang kotor, ia mengadakan lomba membersihkan sampah yang disambut anak-anak dengan semangat. Saat ada kesempatan, Arum ingin mempertemukan anak Majene dengan wakil presiden. Karena jumlah anak yang diperkenankan hanya satu, ia menyeleksi mereka dari surat yang mereka buat untuk presiden. Firman dan salah seorang mbak di ruangan—juga pengajar di SD, tapi di kota—mempertemukan anak-anak mereka, desa dan kota, melalui sahabat pena.

Permasalahan yang mereka hadapi pun beragam. Seperti yang dikatakan Firman, di sana hanya guru yang memiliki buku. Jadi murid-murid harus giat mencatat. Meski jumlah guru yang terdata lengkap, hanya sedikit guru yang datang saat kegiatan belajar-mengajar. Tidak jarang satu sekolah hanya diurus tiga orang atau bahkan sendirian hari itu. Selain itu, hanya sebagian dari siswa-siswa kelas enam yang bisa membaca. Seharusnya mereka tidak lulus UN, namun nilai mereka di-mark up sedemikian rupa. Bahkan ujian belum selesai pun, nilai sudah ada.

Atau seperti yang Fauzan alami. Sebulan terakhir ia di Majene, sekolahnya disegel karena sengketa lahan. Menurut Fauzan, guru-guru mogok mengajar karena dipengaruhi media yang kerap menayangkan aksi mogok kalau ada hal tidak beres. Dua sampai tiga minggu, ia mengajar dari satu rumah ke rumah lain. Karena warga mempermasalahkan, Fauzan akhirnya mengontak dinas. Seminggu terakhir ia di Majene, sekolah kembali dibuka.

Ada lagi yang diungkap oleh Arum. Ia bilang di sana dana BOS dihitung per anak. Setiap tiga bulan, sekolah mendapat dua puluh juta rupiah untuk dua ratus anak. Namun anak-anak tetap tidak memiliki buku. Guru pun tak dikasih spidol. Ada saja alasan kepala sekolah. Arum sampai memotret laporan keuangan di mana tertera dana dialokasikan untuk keperluan ekskul, dana guru, dan lain-lain, namun itu semua fiktif. Ketika Arum melaporkan ini pada pengawas, pengawas itu bilang kalau ini tidak bagus namun setelahnya ia diam saja. Rupanya antara kepala sekolah, pengawas, hingga kepala dinas masih terdapat hubungan persaudaraan. Maka bersamaan dengan turunnya dana BOS, kepala sekolah memiliki Ninja baru. Kepala di sekolah lain bahkan punya rumah baru. Entah apa hubungannya.

Kalau menurut Soleh, tantangan baginya adalah bagaimana menghadapi semangat belajar anak-anak yang tinggi. Mereka suka mengajak belajar hingga malam padahal genset menyala hanya dari jam enam sampai delapan malam. Setelah itu, mereka belajar menggunakan lilin atau pelita. Selain itu, para orangtua di sana memang tidak begitu peduli akan pendidikan. Kalau masa panen tiba, anak-anak mereka harus ikut ke kebun.

Standard sukses di sana adalah apabila anak bisa menghasilkan uang lebih banyak dari orangtuanya. Dunia mereka yang terbatas menjadikan guru alias PNS sebagai profesi paling dihargai.

Perbedaan bahasa juga jadi kendala. Di sana, “kita” berarti “kamu”, mengangguk berarti tidak tahu, sedang mengangkat alis berarti mengiyakan. Setiap dusun memiliki bahasa berbeda. Namun para pengajar muda ini mengaku tidak mengalami masalah berarti dalam adaptasi. Asal kita selalu mendengarkan mereka dan tidak menolak kalau disuruh makan, mereka baik-baik saja pada kita.

Laporan yang harus mereka buat berupa blog dan pengisian aneka borang. Mereka baru dikirimkan semacam parabola agar bisa mengakses internet pada bulan kedelapan, sebelumnya mereka memperbarui blog kalau ada kesempatan ke kota saja. Kalau ada masalah, mereka bisa mencurahkannya pada sesama pengajar muda di lokasi lain yang berdekatan dengan lokasi mereka atau mengontak langsung pihak IM. Homesick pasti ada, namun mereka menguatkan diri dengan menyadari kalau setahun bukan waktu yang lama. Mereka harus mengoptimalkan keberadaan mereka.

Menurut Soleh, tantangan yang ada tidak usah dipikir. Seperti masalah nilai yang dimodifikasi misalnya, itu bukan tanggung jawab mereka. Mereka tidak berani mengatakan bahwa mereka sudah membuat perubahan. Yang terpenting adalah bagaimana membuat anak-anak tersebut senang sekolah.


Tentang Indonesia Mengajar

Konsep IM kiranya hampir seperti KKN, namun dengan durasi jauh lebih lama dan terfokus pada pendidikan anak-anak. Tidak ada target khusus. Tujuan IM hanya untuk mengisi kekosongan guru—baik kosong yang benar-benar maupun yang dibuat-buat, kata Soleh. Para pengajar muda diharapkan dapat menjadi role model bagi anak-anak yang mereka ajar, serta motivasi bagi para orangtua untuk memajukan anak mereka. Salah satu dukungan warga kepada pendidikan adalah dengan merayakan kelulusan anak mereka dengan heboh.

Menurut Fauzan, meski tidak ada target namun ada outcome mapping untuk mengetahui perubahan perilaku dari orang-orang yang bersinggungan dengan mereka selama di daerah. Yayasan IM hendak membuat semacam impact evaluation untuk melihat dampak dari kegiatan ini setelah lima tahun. Namun konsep mengenai ini belum jelas.
           
Kontrak dengan kabupaten yang menjadi lokasi penerjunan para pengajar muda adalah lima tahun, sedang dengan para pengajar muda hanya setahun. Namun apabila kabupaten masih membutuhkan program ini, kontrak dapat diperpanjang. Sekali lagi, yang penting adalah bagaimana membuat masyarakat peduli pada pendidikan.


Antara Desa dan Kota

Forum merembet pada perbandingan antara anak desa dengan anak kota. Salah satu perbedaan yang ada adalah semangat belajar. Anak desa memiliki semangat belajar lebih tinggi. Menurut Arum, anak kota punya banyak hal yang bisa mereka lakukan kalau mereka malas belajar. Main PS atau ke mal misalnya. Fasilitas di desa lebih terbatas. Tambah Fauzan, struggle power anak desa lebih tinggi. Supaya bisa makan, mereka harus membantu orangtua mereka. Anak kota serba dimudahkan. Untuk makan saja, justru mereka harus dipaksa saking asyiknya main PS.

Dunia anak kota sudah dirampas, kata Soleh. Karena tidak ada lapangan lagi untuk main bola, mereka pun lari ke PS. Sebetulnya selama masih ada tempat untuk lari-lari, kehadiran gadget macam PS bukan terlalu masalah. Tidak lama lagi eksistensi PS sepertinya akan merambat ke Majene. Meski jauh dari sinyal, warga telah memiliki ponsel meski belum dapat difungsikan seutuhnya.

Menurut Kak Kandi, salah seorang pengurus KSK, secara alami anak-anak menyukai alam. Namun anak kota sudah tidak memiliki sarana untuk itu. Lingkungan pun tidak mendukung. Anak-anak yang tinggal di gang misalnya. Mereka hanya punya lahan di tengah gang untuk main kelereng, itupun penuh gangguan. Akhirnya mereka lari ke persewaan PS yang jelas menghabiskan uang orangtua mereka. “Jika anak-anak kurang bersentuhan dengan alam, emosi mereka jadi enggak stabil,” katanya. Ada istilah tersendiri untuk ini, namun saya tidak sempat catat.

Tambah seorang mbak berjilbab pink, anak-anak sekarang dilarang main di jalan karena keamanan kian rawan. Mereka bisa saja diculik sewaktu-waktu. Akhirnya orangtua memberi mereka fasilitas apa saja di dalam rumah asal mereka tidak main keluar.

Di sini saya tercenung karena menyadari maksud dari “kota ramah anak” yang sepertinya pernah didengungkan KSK dalam salah satu media sosialnya. Kota seharusnya diisi dengan fasilitas bermain anak. Bermain amat penting artinya bagi perkembangan anak. Namun anak kota hanya bisa iri kala menyaksikan  para bolang di TV. Anak-anak desa itu masih bisa menikmati fasilitas bermain alami di lingkungan mereka.

Saya tidak ingat persis siapa yang mengatakannya pada forum ini, mungkin salah satu pengajar muda. Ia bilang kalau anak desa sebetulnya memiliki potensi yang tidak kalah hebat dari anak kota. Anak kota, anak-anak Bandung bahkan, bisa jadi kalah dari anak desa seandainya anak desa pun diberi fasilitas memadai. Dari seratusan anak yang dapat tembus olimpiade, anak Majene adalah salah satunya.

Namun pada dasarnya anak-anak akan malas belajar kalau mereka merasa dipaksa. Kreativitas para pengajar dituntut agar anak-anak dapat menikmati proses belajar.


KSK dan pendidikan anak kota

Pendidikan memrihatinkan tidak hanya ada di pedalaman, kata Kak Kandi. Di kota pun dapat kita temukan yang seperti itu, ditambah lagi dengan kian minimnya ruang bermain bagi anak.

KSK merupakan komunitas pendidikan alternatif yang memberdayakan anak muda agar berkontribusi pada kotanya, ujar AW saat memulai forum ini. Maret 2011, KSK mengadakan kegiatan di sebuah SD di kota Bandung. Mereka menyuluh anak-anak mengenai makanan sehat. Anak-anak diminta untuk membaca label dari ragam produk camilan anak-anak. Setelah itu, mereka membeli camilan, mencermati labelnya, lalu secara berkelompok mempresentasikan apa yang telah mereka dapat.

Maret-Juni 2012, KSK akan menyelenggarakan kembali acara serupa dengan tema Education for Sustainable Development (ESD) di SD Pardomuan. Rencana kegiatan kali ini dilakukan paling tidak seminggu sekali dengan melibatkan tidak hanya siswa, tapi juga orangtua mereka, bahkan guru. Rekrutmen akan segera dibuka.

Dua jam pun tak terasa. Dari yang awalnya beberapa orang saja, ruangan tersebut pada akhirnya tampak penuh terisi dua puluhan orang—meski deretan terdepan kosong.  Di luar sudah gelap dan hujan merintik saat kami keluar bangunan FKPPI. Saya sempat mengobrol sedikit dengan Rifa—salah seorang pengurus KSK juga—mengenai kontribusi KSK dalam Bandung Inisiatif, khususnya terhadap Babakan Siliwangi. Komunitas ini pernah berpartisipasi dalam sayembara desain Babakan Siliwangi serta kerap mengadakan lingkar belajar di sekitar hutan kota yang baru dicanangkan tersebut.

Mengapa pendidikan menjadi penting adalah karena pendidikanlah yang membentuk kita seperti sekarang ini. Seperti kata Firman, jangan terus persoalkan di mana kebaikan dan kesalahan pendidikan melainkan bagaimana kita bisa memberi sesuatu untuk mengubah kesalahan tersebut.

Selasa, 20 Desember 2011

Emansipasi Pria




ketika pria juga tak mau kalah dari wanita...

Pelajaran Kehidupan

Heran.
Padahal aku sudah begitu banyak membaca,
tapi masih saja picik caraku memandang.
Padahal aku sudah mengalami begitu banyak pertentangan,
tapi masih saja aku belum bijak dalam menyikapi perbedaan.

Tuhan,
sekolah yang Kau dirikan ini tidak cuman
2 tingkat bak TK
6 tingkat bak SD
3 tingkat bak SMP dan SMA
7 tingkat bak batasan maksimal kuliah di UGM.
sepanjang  umurku adalah banyak tingkatan itu.
aku tidak tahu kapan aku akan lulus.
Engkau guruku, Engkau dosenku,
tapi Engkau tak harus punya sertifikasi apalagi sibuk keluar negeri.

Tolong bimbing aku, Maha Ilmu.

(malam kalut 19/12/11)

Senin, 19 Desember 2011

kunghu dang atau kung, hudang! - oseng-oseng kangkung berkarakter


para pembaca nan budiman, sebelum kita mulai panduan memasak bersama nyonya teladan kali ini, terlebih dulu saya sajikan sebuah pesan dari sponsor.

silahkan buka link ini


lalu sukailah (klik "like") tulisan yang ada di sana. partipasi anda sangat berarti. :)
dan kalau lagi tidak ada kerjaan, bolehlah pula buka yang ini

terima kasih.

jadi nyonya teladan telah resmi mengangkat saya sebagai juru ketiknya. namun tentu saya tidak akan menggunakan gaya bahasanya yang amat nyonya-nyonya itu.

bersama nyonya teladan, menu garapan kami pagi ini adalah sebuah oseng-oseng sederhana. anda hanya membutuhkan tiga bahan saja.

satu, seplastik irisan tahu. harganya seribu di tukang tahu yang biasa lewat samping rumah dengan motornya pagi-pagi. irisan tahu bukan berasal dari tahu kotak kuning meski teksturnya serupa. irisan tahu tanpa perwarna dan bentuknya tak beraturan.

dua, seplastik pindang jajar genjang. harganya dua ribu di warung terdekat. kata teteh yang jual, berat pindang kotakan ini satu ons.

tiga, seikat kangkung. ini juga dapat dibeli di warung terdekat. tidak bonus ulat. nyonya teladan tidak tahu berapa harganya, yang beli bukan beliau.

bumbu yang digunakan pun simpel saja. yang dicuci dan dipotong/diiris (selain kangkung) hanyalah tiga siung bawang merah, satu batang cabe merah besar, dan setengah butir bawang bombay.

sebelum dioseng dengan kangkung, tahu dan pindang harus digoreng setengah matang terlebih dulu. konon, pindang tidak lebih cepat masak dari tahu sehingga keduanya tidak digoreng bersamaan. kami menggoreng tahu terlebih dulu, baru pindang. setelah pindang disisihkan, bumbu ditumis sampai harum. namun waspadalah. harum tidak harum, begitu bumbu mulai gosong, bahan-bahan lain harus lekas dimasukkan. masukkan pindang, tahu, dan biarkan kangkung jadi yang terakhir. aduk-aduk sampai kangkung layu. tambah air secukupnya agar wajan tidak seret. masakan ini muat dalam satu piring biasa.

kangkung-tahu-pindang, nyonya teladan ingin menamakan masakan ini "kunghu dang" atau "kung, hudang!". Dari dua versi penulisan tersebut, nyonya teladan bilang versi pertama digunakan ketika masakan ini disuguhkan pada orang China, sedang versi kedua adalah untuk orang Sunda.

kehadiran pindang sungguh menambah cita rasa dalam sajian perkangkungan. aroma gurihnya bagai sanguinis-koleris di tengah gerombolan plegmatis. kehadiran tahu juga tidak boleh dilewatkan meski ia sekadar penggembira. ialah plegmatis-sanguinis dalam arak-arakan ini. sedang kangkung nan bersahaja tetaplah koleris-melankolis. ini bukan oseng-oseng kangkung biasa. biarkan lidah anda mengenali setiap karakter yang berbaur dengan manja. coba deh!

Minggu, 18 Desember 2011

sayur kare


halo lagi. aduh, nyonya teladan ke mana lagi ya? waha. beliau lagi sibuk studi banding pkk ke mana-mana.

jadi pagi ini kami memasak sayur kare.

dari resep yang ada, kami melakukan beberapa inovasi.

2 ons daging tetelan bertulang diganti satu wadah styrofoam tulang ayam
1/4 butir kelapa diganti santan satu kotak
3 ikat soun diganti sebungkus bihun yang masih tersisa di pantri
10 biji jintan tiada ditemukan di warung terdekat, pun keberadaan tukang sayur putar-putar, jadi tak kami pakai
4 sendok minyak goreng diganti minyak goreng setumpahnya
1 sendok makan garam diganti garam sekira-kiranya bisa bikin calon hidangan lebih berasa

lainnya tetap sesuai resep.

selain yang sudah disebutkan,

untuk bahan, kami menggunakan: 1/2 ons buncis, 1 ons kentang, 1 ons wortel, 4 helai kol

sedang untuk bumbu: 5 siung bawang putih, 5 siung bawang merah, 3 biji cabe merah, 1/2 sendok teh ketumbar, 1 ruas jari kunyit, 1/2 ruas jari jahe, 1 ruas jari laos, 1 batang sereh, 1 helai daun salam, 1 buah kemiri, 1/2 sendok teh terasi, 1 sendok makan gula merah, dan 1 sendok makan asam

beginilah cara membuatnya, semoga anda penasaran:

tulang ayam direbus hingga kaldu terbenam.
sayuran macam wortel, kol, buncis, dan kentang dipotong-potong lalu dicuci. rendam kentang supaya tidak hitam.
bihun juga direndam.
haluskan semua bumbu selain daun salam, sereh, gula, asam. seduh asam dengan air panas dalam gelas kecil, lalu aduk-aduk sampai jadi air asam.

bumbu yang telah dihaluskan kemudian ditumis, tambahkan sereh.
tumisan dimasukkan ke dalam rebusan tulang alias kaldu. masukkan pula daun salam yang tadi lupa ikut ditumis. rebus sampai mendidih.

wortel dan kentang kemudian dimasukkan.
giliran selanjutnya adalah buncis, santan, kol, bihun, gula merah, lalu asam yang dicairkan.
pancimu sudah penuh. aduk terus dan dapati lemak dari tiga sumber bergumpal-gumpal di permukaan.
siap disajikan.

panas lebih nikmat. dan sebaiknya ini dimakan dengan keripik jamur yang sangat asin serta rasa syukur atas segala daya upaya hingga ada sesuatu yang bisa dimakan.

Sabtu, 17 Desember 2011

sayur bening


biasanya kalau urusan masak, nyonya teladan yang tampil di hadapan. namun kali ini beliau berhalangan. jadi saya menggantikan.

kali ini kita memasak sesuatu yang mudah: sayur bening. definisi sayur bening adalah sayur yang kuahnya bening. biasanya yang jadi sayur pengisi adalah bayam. bahan lain untuk memasak sayur ini juga mudah didapat.

secara sederhana, demikianlah komposisi sayur bening yang kami buat pagi ini.

- dua ikat bayam
- satu batang wortel
- tiga lembar daun salam
- dua siung bawang merah
- setengah sendok bulat garam
- satu sendok bulat gula pasir
- air secukupnya
- seperempat butir tomat

hal pertama yang dilakukan adalah membersihkan bayam. ada bagian tertentu yang harus dibuang, yaitu pengikat dan tangkai yang agak besar. setelah itu bayam dicuci tiga kali.

wortel juga dicuci. buang ujung-ujungnya. kerok lapisan terluar, lalu potong bulat-bulat.

iris bawang tipis-tipis. bentuknya tidak mesti seragam, toh setelah dimasak nanti sama saja.

bersihkan tomat. buang bagian yang kotor.

panaskan air. masukkan salam ("assalamualaikum..."). setelah air mendidih, masukkan bawang. aduk-aduk sedikit. beri garam dan gula. aduk-aduk. setelah rasanya pas, masukkan wortel. makin mendidih, bayam boleh dimasukkan. aduk-aduk sampai layu dan merata dengan bahan-bahan yang sudah dimasukkan sebelumnya. tomat dimasukkan terakhir. hidangkan.

sebelum memasukkan bayam, pastikan kalau wortel sudah cukup empuk. tapi tergantung selera juga, barangkali anda suka wortel yang keras.

biarpun kurang menggugah selera, yang penting gizinya. dan niat.

Bekal Membina Keluarga Sejahtera


Judul : Resep Masakan dan PKK
Penulis : Ny. Wulandari
Penerbit : Aneka Ilmu, Semarang, 1987 (cet. 9)


Eyang putri akan menertawakan dia yang memasak menggunakan resep. Sebab yang eyang putri butuhkan hanya feeling. Afektif. Sedang ketangkasan merajang bawang atau kekuatan dalam memarut kepala merupakan aspek psikomotorik. Namun pendidikan tak akan lengkap tanpa kehadiran satu aspek lagi: kognitif. Untuk itulah sebuah buku semacam ini ditulis.

Manfaatnya secara kognitif memang ada, antara lain, saya mendapatkan pengetahuan baru mengenai 4 bumbu yang paling sering digunakan dalam memasak aneka sayur. Dari 11 resep sayur yangtersaji, semuanya menggunakan garam, 10 di antaranya menggunakan bawang merah, 9 resep menggunakan bawang putih, sedang ketumbar digunakan dalam 6 resep. Jenis lain yang cukup banyak digunakan adalah terasi, cabe merah, gula merah, dan salam.

Dalam memasak sayur, sayur harus dibersihkan dulu. Kita biasa memasak sayur dalam kuah. Perkara sayur dimasukkan lalu direbus atau dimasukkan setelah mendidih, itu tergantung jenis sayurnya. Sawi bisa langsung ditumis. Bayam adalah sayur yang rentan sehingga biasanya dimasukkan terakhir. Daging, kacang, nangka, atau kluwih harus direbus dulu.

Bumbu biasanya dimasukkan setelah sayur lalu dimasak sampai air mendidih lagi. Jenis bumbu yang digunakan untuk satu menu adalah beragam. Semuanya bisa dimasukkan secara bersamaan, atau bergiliran. Ada yang diiris dulu lalu ditumis, langsung dimasukkan begitu saja, dihaluskan dulu baru ditumis, dihaluskan saja lalu dimasukkan, maupun diiris lantas dimasukkan.

Selain sayur, buku kecil nan tipis ini juga memuat seratusan resep lain. Ada macam-macam masakan nasional lain seperti sop, acar, mie, sambal, gulai, sate, nasi, soto, pergedel, sambal goreng, lauk-pauk, gudeg, ca, serta tahu dan tempe. Belum lagi kue nasional: kue kering, kue basah, roti, cake, dan hidangan segar. Wow, ternyata bukan hanya tembang saja yang nasional, tapi juga makanan dan kue. Hebat.

Bukan sekadar resep masakan, buku ini dilengkapi juga dengan pendidikan kesejahteraan keluarga alias PKK. Ada sepuluh pokok PKK yakni: hubungan intern dan antar keluarga, bimbingan anak, makanan, pakaian, perumahan, kesehatan keuangan, tata laksana rumah tangga, keamanan lahir batin, serta perencanaan sehat.

Hubungan intern keluarga merupakan bahan yang bagus untuk dijadikan novel. Bagi warga kota yang individualis-apatis-materialistis, secara nyata nilai-nilai kekeluargaan telah pudar. Kapan terakhir kali seluruh anggota keluarga bisa kumpul, makan malam bersama, bercanda ringan sesudahnya, dan masing-masing menceritakan pengalaman-pengalaman dan kesulitan-kesulitannya? Rekreasi maupun melakukan pekerjaan rumah bersama-sama merupakan aktivitas sederhana namun hal-hal yang demikian ini justru mempertebal ikatan batin sehingga tumbuh rasa kasih sayang. (hal. 102)

Hubungan antar keluarga alias dengan tetangga juga patut diperhatikan demi ketenteraman batin. Saya hidup di lingkungan di mana suatu rumah kerampokan dan tetangganya tidak ada yang tahu. Pun saya tidak hapal wajah tetangga saya. Namun saya juga hidup di lingkungan di mana hampir tiap hari mau tidak mau saya harus senyum, bahkan mengucap sedikit kata, karena bertukar pandang dengan tetangga. Dua lingkungan yang berbeda, tentu, sebab hidup saya saat ini semi-nomaden. Mending yang mana?

Membimbing anak merupakan suatu hal nan teramat vital. Belum jadi orangtua saja saya sudah mengerti kalau ini tidak mudah. Menurut penulis buku ini, tidak jarang terjadi, banyak di antara keluarga kurang berhasil dalam membimbing putra-putrinya, hanya karena kurang sebab diperhatikannya masalah-masalah yang berhubungan dengan perkembangan jiwa anak-anak. Pada hakekatnya, membimbing anak adalah menyiapkan anak-anak untuk dapat menjadi matang, dewasa dalam segala hal, dewasa dalam tingkah dan perbuatan, dan lain-lain. (hal. 104)

Ada beberapa contoh yang diberikan buku ini untuk mewujudkan keadaan demikian, antara lain: orangtua harus dapat menunjukkan kerja sama yang baik, arif bijaksana dalam mengatasi segala hal, menanamkan tata tertib kehidupan pada anak-anak sejak kecil, serta tidak memaksakan kehendak pada anak-anak—karena ini tidak didasari asas-asas kejiwaan. (hal. 105)

Untuk pemenuhan segi makanan, tentu kita ingat slogan 4 Sehat 5 Sempurna. Pada segi pakaian, setiap keluarga diharapkan untuk mampu membuat pakaian sendiri khususnya pakaian sehari-hari. Sedang pada segi perumahan dan kesehatan, marilah kita peduli pada yang serba sehat dan ramah lingkungan. Tata laksana rumah tangga berarti kita memiliki inisiatif untuk menjadikan rumah kita—luar-dalam—enak dipandang. Ketenteraman lahir batin memang merupakan satu kebutuhan penting—kebutuhan akan rasa aman (safety needs)—menurut teori Abraham Maslow.

Keuangan dan perencanaan sehat sebetulnya hampir mirip. Dalam penjelasannya, yang dimaksud perencanaan sehat adalah perencanaan keuangan untuk jangka panjang. Menurut penulis, pada hakekatnya penghasilan dengan pengeluaran harus sama besar. Makanya ada peribahasa “besar pasak daripada tiang”, pengeluaran jangan lebih besar dari penghasilan—alias boros. Namun menurut saya, tak selalu adil jika penghasilan harus sama besar dengan pengeluaran. Jika penghasilan besar, berarti pengeluaran harus besar pula, tapi harus dilihat dulu untuk apa pengeluaran ini. Jika semata demi menyamakan besar penghasilan lantas menghamburkannya untuk membeli mobil mewah, ini malah jadi masalah.

Baru 5 Desember 2011 lalu, Pikiran Rakyat meneropong perilaku hidup mewah di kalangan pejabat. Rusmin Effendy, melalui artikelnya yang bertajuk Budaya Hedonisme Versus Politik Asketik, menganjurkan asketisme alias paham yang mempraktikkan kesederhanaan, kejujuran, hidup serba kekurangan, kontemplasi untuk menuju jiwa yang sempurna dan kerelaan berkorban.

Artikel lainnya, Hidup Sederhana Itu Indah, menampilkan kebersahajaan Rasulullah SAW. Meski istrinya, Siti Khadijah, kaya, rumah Rasulullah sederhana. Ia tidur hanya beralas pelepah daun kurma. Pada sore hari, hatinya tidak tenang apabila di rumahnya masih ada sisa makanan sehingga ia akan membagi-bagikannya pada jamaah, demikian menurut H. R. Bukhari.

Menurut Dr. H. Hazrul Azwar MM, penulis artikel ini, dengan kaya kita bisa bersedekah dan membiayai perjuangan umat. Namun menjadi kaya tidak harus hedonis, berkelimpahan yang takabur dan suka pamer, apalagi kikir. Hidup sederhana harus merupakan kesadaran ingin mencari makna hidup yang tinggi. Hidup sederhana mendorong kepekaan terhadap lingkungan, suka berbagi, membantu yang lemah, serta peduli terhadap sesama. Dengan gaya hidup seperti ini, kita akan lebih ingat pada Allah dan selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah Ia berikan.

Dari pendidikan memasak hingga keteladanan Rasulullah, bekal untuk mengarungi kehidupan rumah tangga itu sendiri ternyata tak sederhana. Insya Allah pembelajaran akan terus dilangsungkan. Semoga pada saatnya nanti kognisi, afeksi, dan psikomotorik dapat berpadu menghasilkan generasi madani. Amin ya Allah. Mari Ibu-ibu, kita nyanyikan Mars PKK…

Jumat, 16 Desember 2011

Bandung 30 tahun lalu dengan sekarang: sama saja!


Bandung adalah sebuah kota besar. Ada yang menyebutnya sebagai kota metropolitan kedua di Indonesia, setelah Jakarta, namun saya lupa siapa. Pada masa jaya-jayanya Chaseiro, empat belas pemuda menyenandungkan puisi tentang sang kota. Mereka adalah Yayat Hendrayana, Jeihan, Soetan Iwan Soekri Munaf, Eddy D. Iskandar, Diro Aritonang, Rachmat Dst, Anton De Sumartana, Aland Achmad Dachlan, Yessi Anwar, Beni Setia, Wilson Nadeak, Yuniarso Ridwan, Acep Zamzam Noor, dan Hamid Jabbar.

Sepertinya kita perlu termenung setelah membaca empat puluh delapan puisi mereka yang diterbitkan pada tahun 1981 oleh SWAWEDAR69, Bandung, dalam sebuah buku kecil nan tipis ini.

Simaklah penggalan puisi berikut.

Permadanimu adalah lima ribu kubik sampah/ yang terhampar sehari-hari/ Minyak wangimu adalah udara yang pengap/ oleh bau yang menusuk/
Ada pula yang tergolek di emper-emper/ atau menyuruk ke kolong-kolong jembatan/ mendirikan rumah kardus/

(Yayat Hendrayana – Dendang Bandung)

Realitas tersebut ternyata bukan hal baru. Tiga puluh tahun silam, di kota ini sawah telah tertindih dan bangunan berlomba ke angkasa, didera pameran harga (Eddy D. Iskandar – Bandung). Udaranya pun telah pengap penuh cemar (Yessi Anwar – Tanah Negriku).

Bahkan ketika kupandang kali cikapundung/ coklat warnanya bagaikan air bajigur/ aku merasa bingung/ begitu banyak orang membersihkan tubuh/ di air keruh/ (Eddy D. Iskandar – Tembang Cikapundung)

Padahal dalam puisinya yang ditulis pada 16-18 Mei 1981, Tentang Sebuah Kota, Wilson Nadeak mengungkapkan bahwa Antara cihampelas-taman sari, dua puluh lima tahun lalu… cikapundung yang bening air mengalir dari sawah.

Bukan semata permasalahan lingkungan, sejak dahulu kala orang kota pun sudah asing dengan sekitarnya, bahkan terhadap tuhan. Kalau boleh saya tampilkan sebagian puisi Diro Aritonang, Magrib di Alun-alun Bandung.

keramaian kota jadi asing
di antara orang-orang bertopeng
sementara azan menggema membentur
dinding-dinding kota
dan tak singgah maupun hinggap
dalam hati orang-orang bertopeng
karena mereka telah dibisutulikan
oleh keterasingannya sendiri?

Fenomena bunuh diri yang dipicu keterasingan diri baru saja diulas dalam KOMPAS, 15 Desember 2011 silam. Dalam artikel bertajuk Rasa Terasing dan Cari Jalan Pintas, lebih jauh diungkapkan bahwa para pelaku bunuh diri dari golongan menengah ke atas menghadapi persoalan eksistensi diri, seperti merasa teralienasi atau merasa hidup sia-sia karena kehadirannya tidak lagi dianggap berarti bagi orang lain. Muara dari perasaan ini adalah lemahnya kohesi sosial yang antara lain dikarenakan kian mengecilnya ruang untuk saling menyapa, saling berbagi, dan membuka diri dengan sesama. Ruang-ruang itu mengecil oleh persaingan dan pola kerja, prosedur resmi, hedonisme, sikap ortodoks, serta kian canggihnya alat telekomunikasi yang membuat manusia merasa jauh meski dekat

Maka melalui Doa Urbanis: Terjepit di Sela Kota Terhimpit Kesibukan Kota, Anton De Sumartana mengungkapkan,

Beri aku garis
kan kurakit dijadikan bidang
kan dibentuk jadi ruang
tempat dialog dan bergumul
mengisi hidup kehidupan

Yang kita butuhkan adalah ruang. Ruang publik. Ruang terbuka hijau. Bahkan ruang keluarga. Sebuah ruang yang dapat memanusiakan kita, menghidupi kehidupan, sebelum kota ini tenggelam oleh penduduk yang terus bertumpuk, tertimbun oleh sampah yang terus berlimpah, maupun berubah jadi penuh basil dan penyakit dengan dengung lalat yang tiap saat terus merubung—seperti dalam puisi lain Anton De Sumartana, Mungkinkah?

Semua itu bakal jadi mungkin/ bila dibiarkan renta/ tanpa partisipasi semuanya!