LAINNYA

Senin, 30 April 2012

PerNoWriMo: Bibi (1) -- 1 dari 4


Sukses dengan NaNoWriMo 2011, tahun 2012 saya sempet kepikiran buat bikin novel tiap bulan yang jumlah harinya 30. Tapi ini bukan NaNoWriMo, yang berarti National Novel Writing Month, yang berarti itu dilakukan bersama-sama secara nasional--meski sebenarnya nasional--di bulan November aja, maka saya namain proyek ini PerNoWriMo alias Personal Novel Writing Month karena dilakukan secara personal. Aturan mainnya sama kayak NaNoWrimo, yaitu dalam 30 hari saya harus menghasilkan novel sebanyak 50.000 kata alias sehari setidaknya 1.666 kata. Saya pun memulai proyek ini di bulan April. 

Selama 7 hari berturut-turut, saya berhasil memenuhi ketentuan tersebut sampai saya, bahasa Sundanya mah, stuck.  Biarpun saya udah punya konsep, awal- akhirnya gimana, tengahnya mau diisi apa aja, tapi pada akhirnya saya menyadari kalau saya belum siap buat garap cerita ini. Karakter-karakter dan plotnya cukup kompleks. Dan saya ga tahan buat nulis asal-asalan, apalagi sebetulnya saya punya kewajiban dan proyek utama yang seharusnya diseriusin. Daripada makin bikin ricuh pikiran, akhirnya saya berhenti deh. Kewalahan sendiri malahan hihihi.  

Yang udah tertulis itu mungkin bakal saya tulis ulang bertahun-tahun kemudian, ga tahu kapan. Jadi saya pikir lebih baik yang ga jadi ini saya bagikan aja biar bisa dinikmati khalayak, sekadar ngasih tahu kalau perkembangan menulis fiksi saya udah sampai sini. :D 

Yang saya bagikan ini adalah dua dari sembilan karakter yang membentuk cerita. Sebetulnya saya udah nulis sampai empat, tapi pas masuk ke yang keempat saya udah kehabisan kata-kata. Terus penggarapan karakter yang ketiga menurut saya belum tepat, masih butuh pengembangan lagi supaya bisa lebih wajar. Ceritanya sendiri sebetulnya menyangkut isu yang sensitif, yang akan terberitahukan kalau cerita ini udah jadi. :P 

Dari dua karakter itu, ada 23 halaman A5 yang ingin saya bagi. Saya akan mem-posting-nya selama empat hari berturut-turut. Selamat menikmati! :)







____________________


Bibi (1)
Bibi adalah wanita yang bekerja untuk suatu keluarga di sebuah rumah. Semburat putih tampak pada rambutnya yang selalu digelung. Selalu pula, peyot tubuhnya diselubungi kebaya lusuh dipadu jarik batik. Kini kulitnya sewarna karton, dulu pernah kuning. Tak satupun majikan Bibi memperbolehkan wanita itu mengunyah pinang atau tembakau.
          Sejak masih gadis, Bibi telah bekerja dari satu majikan ke majikan lain, dari satu kota ke kota lain, bahkan ke negara lain. Semua majikannya sedarah. Ia sempat berhenti bekerja untuk keluarga itu selama beberapa belas tahun. Ia pulang ke kampung, menikah, lalu mengurus keturunannya sampai ia dimohon-mohon untuk kembali. Seolah ada kepercayaan tertanam dalam keluarga itu, Bibi adalah pengasuh anak terbaik yang mereka ketahui.
          Wanita yang menjadi majikan terakhir adalah anak keempat dari majikan pertama Bibi. Ia telah tumbuh dan berkembang, dari seorang gadis kecil yang gemar merengek menjadi pegawai BUMN yang jabatannya terus naik. Bibi mulai bekerja khusus untuknya sejak wanita itu hamil untuk pertama kali. Sementara sang suami melanjutkan studi di luar negeri, wanita tersebut dipindahkan dari satu kota ke kota lain. Di manapun wanita itu tinggal dalam waktu yang cukup lama, Bibi selalu serta. Bibi merawat anak demi anak wanita tersebut sejak mereka masih dalam kandungan. Bibi mengasuh ketiganya dengan telaten sebagaimana ia mengasuh ibu mereka dulu. Itulah pekerjaan utamanya. Meski pekerjaan rumah  lainnya diserahkan pada fisik yang lebih muda, kadang Bibi urun tenaga. Pembantu pendamping Bibi jarang berganti.
          Bibi paling menikmati saat di mana ia menggendong anak majikannya dalam jarik. Bibi akan membuai. Menimang-nimang. Menyanyikan tembang-tembang Jawa yang selalu fasih ia lantunkan sejak ia masih bocah. Jika langit diterangi matahari dengan bersahabat, Bibi membawa si kecil keluar rumah. Sering kali Bibi bertemu dengan ibu, ayah, atau simbok lain dengan batita dalam jarik yang terikat di pundak. Satu sama lain saling menyapa lalu berbincang sekadarnya namun hangat.
          Tapi momen yang paling Bibi senangi adalah menyapih batitanya di tepi hamparan rumput yang luas. Hamparan tersebut membentuk teras-teras. Setiap teras menyajikan daratan yang cukup lapang bagi penduduk kampung untuk menggembalakan kerbau. Ia menemukan tempat semacam itu ketika majikannya ditugaskan di Lawang. Dari daratan yang biasa dipijak, Bibi bisa mengedarkan pandang sejauh mungkin dan mendapati barisan pepohonan yang rimbun. Sesekali tegur-menegur yang ramah terjadi antara ia dan petani yang melewati jalan setapak di belakangnya. Setelah mengusap pipi si bungsu yang berlepotan bubur sumsum, ia mengarahkan bocah tersebut agar melihat pada kerbau-kerbau yang merumput. “Lembune lahap tho…” ucap Bibi dengan lembut. Satu sendok lagi dikecap oleh mulut mungil itu. Kedua belah pipinya berguncang-guncang.
          Momen itu selalu terasa seperti kemarin. Tahu-tahu si bungsu sekaligus satu-satunya putra itu telah mampu berlari. Tubuhnya tak kalah gembil dari pipinya. Sepasang matanya yang mungil seolah terbenam pada permukaan wajah yang kuning langsat. Bibi tak lagi kuat mengangkat, selain karena bobot tubuh bocah itu, juga karena perilakunya yang tak bisa diam.
Bibi pun tak mampu mengejar. Nyeri di dada ketika Bibi berusaha menyusul Raka yang langsung tancap begitu bersua teman-teman sepermainannya. Hampir tumpah piring berisi makanan Raka sore itu. Wajah Bibi kian keriput akibat kerut-kerut menahan nyut-nyut, namun tetap terarah pada si bocah. Ia mendesah, “…Gusti Rabbi…” ketika Raka menendangi temannya. Di lain kesempatan Raka tidak saja menendang, tapi juga memukul, menghantam, atau membanting. Kadang Bibi kehabisan kata untuk dilisankan dengan lirih. Ketika cengkeraman di dadanya mengendur, Bibi mendekat dengan langkah terseok-seok.
Di rumah, Bibi tetap sibuk mengubah tikai menjadi damai. Ratu tidak mau berhenti mendorong dada Raka—jika tempelengannya tak mengena. Raka juga tidak mau berhenti meludahi kakaknya. Di belakang Ratu, Rara cemberut saking jijik dengan lendir berbusa yang mengalir di sepanjang lengannya. Situasi akan lebih baik apabila ibunya anak-anak berada di rumah. Dalam dekapan wanita itu, si bungsu menjadi lebih dapat diarahkan. Kalau tidak, Ratu akan berang karena Bibi lebih memilih untuk tidur bersama Raka ketimbang menemaninya dan Rara seperti biasa.
Bibi menghadapi ini setiap hari.
          Ketika pada suatu malam Bibi tidak kelihatan menemani anak-anak, sang majikan langsung merasa ada sesuatu yang janggal. Ratu mengatakan bahwa Bibi sakit. Bibi mendekam di kamar sepulang dari lapangan untuk memberi makan sore pada Raka. Wanita itu pun mendatangi Bibi. Setelahnya, tugas mendampingi Raka diserahkan pada pembantu satu lagi.
          Tapi Sari tidak seperti Bibi. Tabiat para majikan yang seenaknya dan selalu ingin dilayani memang masih bisa ia toleransi, tapi tidak dengan perilaku si bungsu yang suka menodai barang-barang—kalau bukan menghancurkannya. Entah dengan pulpen, lipstik ibunya, atau kecap dan sambal, ia akan menghiasi perabotan dengan ragam pewarna yang ia temukan. Sang nyonya tak sampai hati untuk memarahi bungsunya, jadi kekesalannya diluapkan pada orang yang ia suruh untuk membersihkan barang-barang itu. Sari tidak tahu bagaimana melenyapkan noda itu hingga benar-benar tak berbekas, jadi gerutu nyonya tetap mengiang-ngiang di telinga. Sembari memangku Raka, Bibi mengarahkan anak itu agar mewarnai kertas saja. Lalu pulpen di genggaman Raka meninggalkan noda yang tak pernah hilang di kebaya Bibi.  
Setelah beberapa kali badannya kena cakar dan gigitan Raka, Sari berusaha untuk menyelesaikan tugas sorenya dengan cepat. Setelah menjejali mulut badung itu dengan bersendok-sendok makanan dari piring, entah nanti akan dikunyah atau malah dilepeh, perempuan itu meninggalkan Raka di mana pun bocah itu ingin tinggal. Toh Raka tidak pernah jauh dari lapangan. Raka sudah semakin besar. Raka tahu ke mana harus pulang setelah menjelajah hingga ke berbagai titik di sekitar komplek perumahan.
Maka setiap menjelang senja Bibi memandang jam dalam resah, sembari tangannya membelai-belai rambut Ratu. Dokter berpesan agar aktivitas Bibi tidak terlalu melelahkan. Fisik Bibi sudah tak sekuat dulu, apalagi jantungnya. “Bibi mau cari Dek Raka dulu ya Mbak,” begitu kata Bibi di puncak kegelisahannya.
Ratu memegang erat lengan Bibi. “Enggak usah Bi. Paling entar lagi juga pulang!” seru gadis cilik yang tengah beranjak remaja itu. Meski bau Bibi aneh, tapi entah mengapa Ratu selalu merasa nyaman untuk meletakkan kepalanya di pangkuan Bibi.
Kekhawatiran Bibi tidak pernah berarti. Pakaian dan tubuh Raka yang tak tertutup memang coreng-moreng dengan tanah dan darah, tapi bocah tambun itu selalu kembali ke rumah dalam keadaan utuh.
Sesekali Raka pulang diantar omelan dari tetangga yang tak terima anaknya dihajar. Baik Bibi maupun Sari sama-sama menunduk dan membiarkan telinga mereka menadahi muntahan komplain. Sehabis itu Sari tak tahan untuk tak menjewer Raka meski nyonyanya mungkin akan balas memarahinya kalau si bungsu sampai mengadu. Sebelum itu terjadi, Bibi mengambil alih Raka.
Dengan sayang ia menanggalkan helai demi helai pakaian dari tubuh anak itu. “Kalau berteman itu yang baik tho, Le,” ucap Bibi lembut. “Bukannya diantemi… Temennya entar pada takut…”
Entah anak itu mendengar atau tidak. “Aku kan jagoan!” serunya sementara Bibi mulai membasuh tubuhnya dengan air hangat. Satu tangannya berpegang pada pundak Bibi. “Enggak boleh ada yang ngalahin aku!” Raka terus berceloteh mengenai betapa hebat dirinya. Bibi tersenyum. Sesungguhnya ia rindu untuk melihat kehebatan anak itu lagi, yang larinya begitu kencang hingga wanita tua ini kewalahan, yang energinya seakan tak habis-habis, yang gembul pipinya begitu menggemaskan, yang suka mendekap dengan amat erat hingga Bibi kegelian…
“…eeh… Basah tho…”
Raka tak peduli. Ia membenamkan mukanya semakin dalam ke perut Bibi. Lingkaran tangannya pada pinggang Bibi mengencang. Dengan handuk besar dan tebal, Bibi menyelubungi tubuh anak itu dan rasanya ingin sekali memeluk keseluruhannya. Tapi anak itu semakin tinggi saja.
“Siapa yang jagoan, siapa?” Bibi menggoncang-goncangkan tubuh Raka dengan gemas. Anak itu tergelak-gelak. Seketika Bibi melupakan perkara yang telah anak itu timbulkan. Tidakkah orang-orang melihat kepolosan anak ini? Ia sama sekali tidak berbahaya. 


...bersambung ke besok: Bibi (2)


Selasa, 24 April 2012

elegi pedestrian




oleh pengendara motor zebra cross dijajah 


oleh PKL trotoar dijarah 


tak ada leluasa bagi pedestrian tuk melangkah


o... rupanya pedestrian telah terbiasa tuk mengalah...


[foto pertama dan foto ketiga diambil di jalan ir. h. juanda bandung, 22/4/12, sedangkan foto kedua diambil di jalan di selatan bunderan ugm jogja, 13/4/11]

Senin, 23 April 2012

Cihampelas Nan Nahas


Jika kamu bukan orang Bandung, dan mengikuti wisata berombongan ke Bandung, kiranya Cihampelas merupakan lokasi wajib kunjung. Di sini bismu berhenti, lalu kamu dan kawan-kawanmu berburu kaos yang memuat huruf B, A, N, D, U, dan G untuk oleh-oleh.

Cihampelas bagi saya adalah kawasan di mana banyak toko pakaian, terutama jeans, berjajar. Patung berukuran besar menjadi ikon bagi tiap toko, entah itu gorila, spiderman, atau sopirman. SMAN 2 Bandung terselip di antara makhluk-makhluk itu. Angkot jurusan Cicaheum – Ledeng melintasi kawasan ini. Cihampelas tidak kalah ramai dari Dago—letak kedua kawasan ini berdampingan—bahkan agaknya lebih mengakomodasi kelas menengah ke bawah.

Dulu ada mal bernama Sultan Plaza di Cihampelas. Di lantai tiga Sultan Plaza terdapat food court dan arena bermain anak yang sangat mengasyikkan. Arena tersebut berupa bangunan yang cukup besar, di dalamnya terdapat berbagai ruangan dan lorong yang memenuhi hasrat menjelajah anak-anak: perosotan, mandi bola, ruang kaca, jaring-jaring, lorong dengan samsak di mana-mana, dan masih banyak lagi. Beruntung, saya sempat mencicipi wahana seru itu beberapa kali. Mal tersebut kini tinggal bangunan tanpa fungsi jelas. Pun surga bagi anak-anak dekade 1990-an itu, tinggal kenangan.

Tercengang ketika tahu kalau Sultan Plaza sudah begini keadaannya :0

Sebetulnya Cihampelas bukan kawasan yang kerap saya sambangi. Di masa ini, paling-paling saya lewati kawasan tersebut kalau saya habis dari UPI. Tahu-tahu Cihampelas Walk a. k. a. Ciwalk berdiri. Kunjungan saya ke mal berkonsep unik itu bisa dihitung dengan jari. Tahu-tahu pula Aston Tropicana menjulang di tepi, bikin saya tercengang tak henti. Konon keberadaan hotel tersebut tak ramah bagi pemukiman di sekitarnya, air tanah dan cahaya matahari hanya sampai untuk kepentingan sendiri.

Pada Minggu (22/4/2012), bersama komunitas Aleut saya berkesempatan untuk meninjau bagian dalam Cihampelas. Kawasan ini identik dengan Sungai Cikapundung, yang membelahnya. Sungai Cikapundung konon merupakan sungai terpanjang di dunia, karena melintasi Asia Afrika (yang sebetulnya nama jalan di Kota Bandung :P). Kapundung sendiri berarti nama tumbuhan, seperti Menteng, demikian kata koordinator Aleut.

Dari Jalan Siliwangi kami menuruni jalan di tepi Sungai Cikapundung yang berada di balik Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Saya belum pernah melihat Sungai Cikapundung bagian sini, biasanya bagian yang berada di sekitar Jalan Asia Afrika dan Stasiun Bandung saja.

Bandung menuju metropolitan. Dengan berjubelnya rumah-rumah, sudah mirip Jakarta kan?

Salah satu ikon Kota Bandung ini sering jadi objek acara bertemakan lingkungan hidup. Pembersihan sungai ini sering dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat maupun instansi, namun sampah tetap terlihat di banyak titik. Warna airnya serupa bajigur, namun selera sama sekali tidak terundang. Rumah-rumah dari seng maupun susunan bata yang tidak dicat berjejalan di sepanjang sungai, entah didirikan atas izin pemerintah atau tidak. Ban-ban untuk kukuyaan[1] bertumpuk di beberapa titik, heran jika ada yang berminat, tubuhnya mesti kebal dari gatal-gatal.

Itu tumpukan bannya di dekat jembatan

Melihat sekilas saja, saya agak ngeri membayangkan hidup di bantaran sungai penuh cemaran begini. Apalagi jika air sungai tersebut, sebagai sumber air terdekat, dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, entah mencuci, mandi, apalagi memasak! Apalagi jika limbah rumah tangga dibuang pula di sini. Ada yang bilang kalau masih ada orang yang memfungsikan Cikapundung sebagai kloset. Begitu dekat mereka hidup dengan biang penyakit.

Konon baik-buruknya pengelolaan sebuah kota dilihat dari keadaan sungainya. Jelaslah bagaimana pengelolaan Kota Bandung jika dilihat dari rupa Sungai Cikapundung. Bisa dibayangkan sebuah sungai yang di hulunya terdapat peternakan?

Selain itu, Sungai Cikapundung dengan seabrek polutannya bermuara di Sungai Citarum. Sungai Citarum sendiri telah menjadi isu global. Limbah dari sekian pabrik multi nasional berbaur dalam alirannya, yang berhulu di Gunung Wayang dan bermuara di Laut Jawa. Menurut Kang Jana, pegiat Aleut yang bekerja untuk Greenpeace, sungai di negara semacam China, Thailand, dan sekitarnya juga mengalami nasib serupa. Apa kabar samudra dunia?

Lorong-lorong pemukiman padat nan sempit, berkelok-kelok, serupa jalan tikus. Anak-anak sini harus pandai mencari ruang bermain alternatif. Pada sebuah saluran air mengalir dengan amat deras, bagai salah satu wahana di tempat rekreasi air macam Waterboom atau Waterbyur. Ada yang bercerita kalau seorang anak pernah hanyut di saluran tersebut, saat hujan turun dan air meluap.

Kami berhenti sejenak di Masjid Mungsolkanas. Letaknya di sebuah gang yang jalan masuknya tidak jauh dari jalan raya. Masjid yang dulunya hanya sebuah tajug alias musala ini telah berada di lahan tersebut sejak tahun 1869. Dalam sebuah kotak kaca di lantai dua tersimpan sebuah Alquran yang ditulis dengan tangan.

Mungsolkanas itu ternyata singkatan!

Sayangnya tidak ada informasi mengenai Alquran ini

Bentuk asli masjid ini agaknya sudah tidak tampak. Renovasi terbaru yang dilakukan beberapa tahun lalu menghabiskan dana hingga sekitar dua puluh enam juta rupiah. Atap masjid dilapisi semacam karpet tahan air yang diperkeras. Kami berkesempatan naik ke sana.

Calon apartemen yang memakan lahan begitu luas pun menjadi panorama utama di lantai tiga. Keberadaannya kontras dengan sekitarnya, mengingatkan saya akan Hotel Ibis di Jalan Gatot Subroto. Keberadaannya menambah kegeraman pada penguasa kota, yang mengizinkan perombakan cagar budaya demi cagar budaya demi bangunan komersial. Anak-anak sekolahan kehilangan Centrum, BJ Habibie menangisi peruntuhan SMAK Dago.

Pembangunan apartemen di seberang masjid itu pun mengorbankan sebuah kolam renang yang pernah jadi tujuan pelesir pada zaman pendudukan Belanda. Kolam tersebut didirikan oleh istri pemilik Hotel Savoy Homann. Tamu hotel yang ingin berenang di sana akan diantarkan dengan kereta kuda. Air kolam langsung dialirkan dari mata air. Patung Neptunus di tepi kolam menjadi ikon.

Sejak pembangunan di Cihampelas kian merajalela, aliran dari mata air ke kolam jadi seret. Pengisian kolam jadi makan waktu lebih dari sehari, konon akibat disabotase Ciwalk. Mungkin pula didukung berbagai faktor lain, kolam renang tersebut akhirnya direlakan pemiliknya.

Dari tepi Cihampelas: campur aduk bangunan komersial, pemukiman, dan hutan kota 

Cihampelas yang memelas menjatuhkan iba, sekaligus menuai kemuakan pada yang berwenang. Cihampelas bukan sekadar kawasan wisata, di balik kulitnya yang wah ada sepenggal wajah bumi yang bermuram durja. Berkelanalah di belantara Cihampelas, barangkali tafakurmu akan lebih bermakna. Tata kota yang semrawut, lingkungan yang mengenaskan, masyarakat yang termarjinalkan sekaligus memiriskan, wahai pecinta Kota Bandung, apa yang bisa kita lakukan setelah menyaksikan itu semua secara langsung? ***


padahal selama di jalan aku netral saja, entah mengapa dalam menulis aku jadi terdorong untuk memberi kesan memihak begini


[1] Kukuyaan, menurut interpretasi saya atas penjelasan beberapa orang, adalah semacam rafting individual. Kita bermain di sungai dengan tubuh kita diapungkan oleh ban, atau menyusuri sungai beriak—sesuai arah arusnya—dengan cara itu.

Minggu, 22 April 2012

Setengah Hati di Gua Pawon


Pelataran situs yang dimanfaatkan
sebagai tempat jemuran oleh warga
Kawasan Cagar Budaya Gua Pawon tampak sepi pada Sabtu (21/4/12) menjelang siang. Seorang bocah duduk di tengah kepungan tampah-tampah berisi hamparan beras. Beberapa warga berkeliaran, namun bilik dengan petunjuk bertuliskan “Tempat Daftar Pengunjung” tidak dijaga siapapun. Nomor telepon seseorang bernama Hendi tertera pada petunjuk tersebut.

Rombongan yang terdiri dari saya; Tanti, Ika, Ani, dan Mehul dari Kimia UPI; serta Arif dari UNINUS pun menuruni beberapa anak tangga yang menuju ke Bale Riung. Ada kotak kaca berisi maket master plan objek wisata Gua Pawon di bagian tengah bangunan dari kayu dan bambu tersebut.

The Bale Riung
Kami mendekati seorang pria berperawakan kurus yang sedang berdiri di luar bangunan. Ternyata pria itulah yang bernama Hendi. Ia merupakan salah seorang juru pelihara di situs ini. Ia bersedia menemani kami dalam melakukan peninjauan. Menjelang siang hingga menjelang sore, ia bercerita banyak kepada kami.

sampai!
Semerbak kotoran kalong menyerta, begitu kami mendekati Gua Pawon. Merekalah pemukim gua tersebut, sejak entah berapa ribu tahun. Mereka bercokol pada langit-langit gua selama bulan belum tampak. Kotoran mereka berceceran di permukaan bawah gua. Aromanya mungkin gangguan bagi pengunjung, namun bagi warga itu adalah berkah. Warga memanfaatkan kotoran kalong alias guano untuk memupuki tanaman mereka, ketimbang beli.

Sesungguhnya kalau hendak sekadar meninjau Gua Pawon, pengunjung tidaklah mesti diiringi pemandu, pun membawa senter. Pencahayaan memadai pada jam kerja matahari.

Dinding hijau yang bikin sejuk
Gua Pawon adalah sebuah bukit kapur dengan lubang serta lorong di mana-mana. Gua Pawon juga bagai sebuah rumah besar yang terdiri dari ruang-ruang dengan panorama berbeda antar satu sama lain. Di ruang depan, langit-langit amat tinggi dan bolong di puncaknya. Di ruang yang lain, langit-langit mengagumkan untuk dinikmati karena berupa stalaktit. Dinding pada ruang tertentu dilapisi dengan lumut. Ada tiga jendela besar di bagian belakang rumah, dengan beberapa anak tangga besar yang mengitari semacam taman.

Hawa adem yang terasa dalam naungan lubang di bukit kapur ini menurut Pak Hendi justru kondusif untuk belajar. Hendaknya anak sekolahan datang ke mari untuk membaca buku.

Pak Hendi
Lantai rumah memang cukup terjal, baik itu tanah maupun batu. Setelah pendakian sekejap, atap rumah menawarkan pemandangan Desa Gunung Masigit yang dikeliling perbukitan. Sebagian bukit tampak rimbun, sedangkan sebagian lagi memperlihatkan lapisan putih kekuningan—kapur. Pada lapisan itu warga menggantungkan hidup.

Kerangka di sebuah rumah
Pada sebuah ruangan, sesosok kerangka meringkuk. Dalam kondisi seperti itulah ia ditemukan, penemuan yang mengungkap kehidupan manusia purba. Dinding yang melatarinya dihiasi grafiti kontemporer, kendati ada pagar tinggi dengan kawat berduri yang membatasi pengunjung dengan replika tersebut. Sosok aslinya, beserta barang-barang yang ditemukan bersamanya, telah disimpan di Museum Sri Baduga.

Ada kawasan karst juga di Pacitan. Ada fosil manusia purba juga ditemukan di sana. Apakah memang ada kaitan antara manusia purba dengan daerah berkapur—hunian favorit pada masa itu, misalnya?

Menurut Pak Hendi, pemerintah mulai mengurus situs Gua Pawon sejak awal dekade 1990-an. Sebelum itu, situs Gua Pawon telah terkenal di mancanegara. Seorang asing datang untuk meninjau lalu tercengang karena situs tersebut tak terawat.

Ada empat yang seperti ini
tanpa jelas apa fungsinya
Kini sejumlah fasilitas seperti plang-plang, tempat daftar pengunjung, balai riung, toilet, musala, dan museum melengkapi Gua Pawon sebagai sebuah objek wisata, tapi sejumlah keanehan pun tampak. Ada plang yang menunjukkan lokasi situs pada gapura di tepi jalan raya, tapi jalan menuju ke situs sangat tidak ramah kendaraan. Plang penunjuk jalan baru ditemukan lagi setelah kami berjalan cukup jauh, jadi sebelumnya kami harus aktif bertanya pada warga. Plang lama tidak dicopot meski plang baru sudah berdiri di depannya. Toilet dilumuri dengan bercak-bercak cokelat yang sudah bikin bergidik sejak dilihat dari jauh. Tidak ada area wudu yang memadai di sekitar musala. Ada penunjuk arah ke museum, namun menurut Pak Hendi tidak ada koleksi apapun di museum tersebut. Grafiti kontemporer mewarnai dinding gua, dan tidak ada satupun peringatan—agar pengunjung memelihara—terpampang di sekitar situs. Ada semacam display di beberapa titik, tapi tidak ada informasi apapun terpajang di dalamnya.

Menilik desa di mana situs ini berada pun bagai melakukan survei KKN. Pemerintah pernah bermaksud menjadikannya sebagai kampung budaya, namun sejumlah masalah perlu untuk lebih dulu diatasi.

Berada di daerah berkapur membuat desa ini bermasalah dengan air. Pak Hendi mengatakan kalau warga biasanya memiliki banyak poci. Air ditampung lalu dibiarkan mengendap dalam poci yang satu, sementara air yang siap diminum sudah berada lebih lama dalam poci yang lain.

Musala mengintip dari balik semak
Kendati ada dua toren di dekat musala, tak satupun mengucurkan air. Toilet di samping Bale Riung terlalu mengenaskan untuk dimasuki. Untuk berwudu kami harus menempuh jarak yang lumayan dari musala ke sumber air bersama milik warga. Air dari mata air di bagian bawah desa itu mengalir ke bak penampungan besar, yang konon tak pernah habis. Sampai di sana, kami bersua dengan warga yang habis mandi maupun tengah mencuci perabotan makanan dan pakaian. Kami juga menemukan beberapa jerigen dalam perjalanan antara musala dengan sumber air tersebut.

Selain air, perkara penambangan di kawasan karst Citatah mengancam sumber nafkah warga.

Salah satu rumah warga
Padahal desa yang berada di bawah situs Gua Pawon ini memiliki potensi untuk menyokong maupun disokong status Gua Pawon sebagai objek wisata. Rumah-rumah warga masih berupa rumah panggung dengan bilik bambu, suatu kearifan lokal karena sifat tanah yang dipijak tak stabil. Tanaman jambu biji tumbuh di mana-mana, melalui PKK warga telah dapat mengolahnya menjadi dodol. Fungsi Gua Pawon sebagai sarana edukasi masyarakat dioptimalkan dengan memasang pesan-pesan pelestarian maupun melabeli tetumbuhan di sekitar situs. Pokdarwis alias Kelompok Sadar Wisata bisa dibentuk agar penghasilan warga bertambah melalui ragam jasa wisata, baik dengan menjadi pemandu, menjajakan oleh-oleh dodol jambu khas Desa Gunung Masigit, mendirikan warung bagi pengunjung yang lapar dan haus, maupun menyediakan tempat bagi pengunjung yang hendak bermalam.

Pembinaan menjadi angan-angan. Kita mungkin tahu apa masalahnya, lalu di mana dan mengapa pembinaan harus dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut, tapi kita terantuk pada bagaimana itu akan dilakukan—kapan, siapa yang mau melakukan?***


N. B.

Situ Ciburuy
Gua Pawon berlokasi di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.  Akses menuju lokasi ini sesungguhnya mudah. Kita dapat menaiki Damri yang menuju Ciburuy dari Alun-alun Kota Bandung. Perjalanan seharga Rp 4.000,- saja ini memakan waktu sekitar 1,5 – 2 jam. Setelah sampai di Situ Ciburuy, kita lanjutkan perjalanan dengan menaiki angkutan pedesaan dengan ongkos Rp 2.000,- saja. Angkutan pedesaan serupa angkot pada umumnya dengan keunikan yaitu pintu masuknya di belakang. Di seberang gapura berplang “SELAMAT DATANG DI KAWASAN CAGAR BUDAYA GUA PAWON” kita berhenti. Kita lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, tidak sampai satu jam. Beberapa persimpangan akan kita temukan, jadi jangan malu bertanya pada warga.

Sabtu, 21 April 2012

Pada mulanya adalah sebuah draf surat

Sampul notes itu bertuliskan

KONVENSI GKM PT POS INDONESIA (PERSERO) 1995


"Melalui Pelaksanaan GKM secara berkesinambungan 
Kita raih Catur Sukses berlandaskan Sapta Pedoman"


lalu

Bandung, 19 September 1995

BADAN PENYELENGGARA PENGENDALIAN MUTU TERPADU
PT POS INDONESIA (PERSERO)

Puncak tulisan itu dihiasi logo PT Pos Indonesia dengan lingkaran merah berujung panah. Warna putih yang menjadi latarnya telah kusam. Sejak 7 Maret 2012 saya bermaksud menjadikannya sebagai wadah untuk menuangkan keseharian, namun apalah yang saya temukan di awal halaman.


Saya kira ini merupakan tulisan yang pertama-tama saya bikin. Waktu itu saya telah 5 tahun dan baru masuk SD. Saya ingat waktu itu pula saya mulai bisa membaca. Beberapa kali saya menulis surat untuk para mbah, orangtua bapak saya, yang bermukim di Jogja. Mereka meninggal pada tahun 1998, hanya berselang sekitar satu bulan antar satu sama lain. Saya tidak ke Jogja ketika Mbah Kakung meninggal, hanya Papa. Papa bilang Mbah Kakung menyebut nama saya sebelum ia meninggal. Apakah engkau mengingatku karena aku menulis untukmu, Mbah?

Enam belas tahun berselang. 9 April 2012, saya tergelitik untuk menulis ulang draf surat ini dalam versi saya yang sekarang. 


Usia 5 tahun, bahkan saya belum mengerti apa itu harapan. Hingga usia 21 tahun, harapan-harapan telah menyemarakkan sekaligus merontokkan hidup. Semua tertera dalam tulisan, dalam berbagai bentuk: catatan harian, esai, opini, tulisan bebas, cerpen, draf cerita, puisi, feature, news, resensi, laporan praktikum, novel, sampai skripsi. Semua akan terus dijelajahi. Tapi semua pada mulanya adalah sebuah draf surat, yang mungkin akan diakhiri pula oleh draf surat, surat wasiat. 

Jumat, 20 April 2012

Fajar Menyingsing di Gunung Prau

dok. Kurnia Latifiana

Mulanya hanya seutas cacing meliuk di dasar got. Putih bagai mi. Cah menyorot tepi. Buset. Rumbai-rumbai merah jambu itu rupanya sebangsa cacing pula! Terus kami melangkah, pun cahaya dari senter Cah. Rumbai-rumbai merah jambu melulu, bergoyang-goyang di balik muka air. Gelap dengan pendar rembulan adalah momen pesta pora bagi mereka. Tak terbayang apabila kaki kita tercelup ke sana, memburai kawanan. Sembari menggeliat, mereka telusuri bagian dalam celana. Saya bergidik.

Dinginnya Dieng pada sekitar pukul sebelas malam itu, Jumat (13/4/12), belum mengganggu. Perjalanan baru saja dimulai. Rombongan terdiri dari saya, Nurdin, Trubus, Bagus, Mbak Nia, Mas Aat, Cah, Mbak Ayu, dan Mas Ovip. Mas Ovip adalah pemuda Dieng yang aktif di Pokdarwis[1] sedangkan yang lain adalah mahasiswa serta mantan mahasiswa sebuah fakultas di UGM. Nurdin, selaku penggagas acara, meminta Mas Ovip untuk mengantarkan kami ke Gunung Prau.

Gunung Prau, sebagaimana Gunung Padang, sesungguhnya lebih tepat disebut bukit—bukit di atas plato berketinggian 2093 mdpl. Dilihat dari dataran, Gunung Prau terletak di selatan dan ditandai oleh sebuah menara pada perbukitan rimbun.

Kami bertolak dengan motor dari Jogja sekitar pukul empat sore dan tiba di Wonosobo sekitar dua setengah jam kemudian. Setelah makan nasi goreng di rumah Mbak Ayu, sekitar satu jam kami habiskan untuk mencapai Dieng.

Termos di rumah Mas Ovip: disumbat bohlam
Di dapur rumah Mas Ovip, kami meringkuk di seputar api-api sembari menyeruput teh panas. Sangat khas Dieng. Nurdin mengutarakan keinginannya untuk bermalam di padang rumput yang dinamakan Bukit Teletubbies. Kata Mas Ovip, “Kalau bermalam di sana, paginya kita enggak bakal bangun,” sebab tempat yang dimaksud berada di dekat kawah. Gunung Prau pun jadi alternatif.

Nurdin tampaknya sudah biasa bermalam di gunung, bukit, maupun hutan. Ia menyangka kawan-kawan seperjalanannya kali ini sesiap dirinya. Tapi, tidak semua dari kami membawa sleeping bag, senter, makanan, peralatan masak, dan pakaian ganti, bahkan Mbak Ayu baru pulih dari tipes. Tapi, kami tetap jalan.

Mas Ovip memimpin dengan senter saya yang membiaskan oranye, sedang yang lain putih. Formasi di belakangnya berubah-ubah.

Lepas dari jalan beraspal, kami mendaki tangga di belakang terminal. Setelah melintasi jalan di muka pemukiman para ahli kubur, langkah kami membelah hamparan kebun kentang, wortel, kubis, dan berbagai komoditas Dieng lain. Siluet pohon pinus yang bagai raksasa menjulang dalam kesendirian.

Rimba pun disusupi. Permukaan yang ditapaki kian menguras energi. Semula tersengal-sengal, namun setelah beberapa lama nafas terkontrol. Mendaki memang membutuhkan pengalaman, atau setidaknya olahraga teratur. Kalau kita tidak biasa, pernafasan kita bakal “kaget” seperti istilah Mbak Nia terhadap apa yang dialami Bagus. Bagus sering berhenti karena nafasnya tidak kunjung terkendali. Padahal, ketika kita berhenti terlalu sering atau lama sebelum melanjutkan perjalanan, pernafasan kita bakal membutuhkan penyesuaian lagi. Ngos-ngosan lagi.

Kaki pun mengalami penderitaannya sendiri. Sepatu lapangan yang berat bagai yang Nurdin pakai agaknya enak untuk perjalanan seperti ini. Tapi hujan sewaktu-sewaktu bisa datang sehingga saya tidak menjadikan itu sebagai pilihan, apalagi kalau tidak bawa alas kaki buat ganti (itulah Nurdin). Sandal lapangan amat fleksibel, meski licin juga ketika lumpur menerpa. Cah hanya memakai sandal jepit dan sepertinya ia tidak mengalami masalah. Tapi Bagus, sandalnya yang ala bapak-bapak itu ia copot sehingga kakinya telanjang.

Rintik membelai kulit, merembesi pakaian. Mas Ovip mengira itu kabut semata. Rintik tak berhenti, kendati ditunggu beberapa lama. Itu hujan ternyata. Ponco disibak.

Dengan mata yang rabun, pun tidak pegang senter sendiri, saya sangat mengandalkan sorotan dari orang yang pegang senter. Saya kasih senter saya ke Mas Ovip, Nurdin kasih senternya ke saya, saya kasih senter Nurdin ke Trubus, Trubus dan Mas Ovip berganti mengarahkan jalan bagi saya. Saya bagai buta. Sering kali saya jatuh, atau hampir jatuh, selain karena permukaan yang hendak dipijak tak terlihat dengan jelas, koordinasi tubuh saya juga kurang baik. Padahal saya merasa masih berenergi. Mas Ovip bilang itu karena lelah.

Dari belakang Mas Ovip menyorot jalan yang harus saya lalui. Ini lebih mudah ketimbang saya jalan di belakangnya lalu jatuh karena penerangan kurang, sementara Trubus belum sampai di dekat saya. Agaknya karena ini kami salah arah.

Puncak bukit, alias Gunung Prau, telah terlihat. Tapi kami menembus semak, bukannya meniti jalan setapak. Mas Ovip kembali menjadi ujung tombak. Ia pun bingung, tapi ia terus mencari jalan. Saya tidak kuasa menyusul dengan kecepatan yang sama. Ia kian jauh. Sempat dalam pandangan saya hanya siluet tetumbuhan dilatari kelam, sementara rintik terus menderu. Dalam hati saya berdoa agar Allah menunjukkan jalan, begini rasanya tak berpenglihatan, sembari terus berjalan dengan meraba daun dan dahan. Di belakang saya Trubus mendekat. Takut sedikit pudar, tapi kaki tetap siaga menginjak-injak sebelum melangkah. Tubuh condong pada dinding apapun di sisi kiri, sebab barangkali sisi kanan adalah jurang.

Ikon Gunung Prau: menara yang menjulang
di kala terang
Akhirnya jalan setapak kembali tampak. Dinding yang dilajurinya cukup curam. Semangat bikin tak peduli. Kami telah hampir. Jalan datar sudah terhampar. Menara yang menjulang itu seakan mengucapkan selamat datang. Di baliknya ada beberapa bangunan. Tiga jam terlampaui.

Identitas salah satu bangunan di Gunung Prau
Ponco ditanggalkan. Matras dibentangkan. Ransel diletakkan. Minyak kayu putih dioleskan. Kencang angin mendera, diduga bikin nyala api dari kompor gas tak jadi. Kami pindah ke sisi lain bangunan yang lebih tertutup. Jika bangunan itu berada di tepi jalan raya, dan saya hanya melewatinya saja untuk mencapai tujuan yang lebih nyaman, saya akan mengesankannya angker. Dalam keadaan darurat sebagai ini, bangunan itu jadi bersahabat.

Sementara sebagian dari kami merebus air, lainnya membuat shelter. Bagi cewek adalah tenda milik Nurdin cs sedangkan bagi cowok adalah matras beratapkan ponco. Semua cowok membawa sleeping bag, untung.

Dalam pakaian basah, diliputi angin yang mendesah, serta dingin yang bikin resah, kami menyeruput air hangat beraroma dan berasa jahe. Mi dibumbui buncis yang dipotong dengan tangan, diraup ramai-ramai. Kloter berikutnya, mi dibumbui susu cokelat. Rasanya gurih sekaligus manis, nikmat. Biskuit oranye setengah bulat dicelupkan. Lumayan. Lalu dimasukkan juga biskuit-serupa-*reo-tapi-bukan, saya tidak tega makanan dibegitukan.

Usai cukup makan dan minum, saya, Mbak Nia, dan Mbak Ayu memasuki tenda. Dome merek E*g*r, bukan bivak, tapi atapnya masih harus dilapisi ponco. Ukurannya pas untuk tiga orang, kami. Pakaian yang basah diganti dengan yang kering. Kaki dilumuri bedak. Hanya ada satu sleeping bag untuk bertiga, mbak-mbak menghamparkannya sebagai alas. Mas Ovip membawakan selimut bulu yang digunakan kedua mbak, sedangkan saya memakai selimut garis-garis ala rumah sakit plus sarung.

Sleeping bag tak cukup untuk menahan dingin yang menguar dari permukaan di bawah tenda. Dingin itu meresap ke tubuh kami. Sekali waktu lelap sampai, namun kesadaran timbul kembali dan menjadi derita. Neraka mungkin panas, tapi dingin tak kalah menyiksa. Tak terbayang apabila hasrat ingin buang air kecil muncul, seperti yang Mbak Ayu alami dua kali sepanjang sisa malam itu. Tak terbayang apabila kami berada di luar juga sebagaimana para cowok, apakah selembar matras dan sleeping bag cukup?

Justru di saat nyaman mulai sayup-sayup, suara yang memberitahukan bahwa langit telah merah terdengar. Mari mengerang. Langkah-langkah muncul, menjauh. Pujian pada terbitnya si bola api di ufuk berseliweran, diharapkan pelontarnya untuk bikin kabita[2]. Saya tidak terpengaruh. Saya keluar terakhir dari tenda, setelah mengganti pakaian kering dengan pakaian basah lagi karena beberapa pertimbangan. Saya baru menuju matahari ketika yang lain sudah jalan berlawanan arah dengan saya. Matahari pun sudah bertengger pada posisinya, sudah bukan sunrise melainkan sun saja.

Sang Fajar di ufuk seberang
Fajar menyingsing, lebih populer disebut sunrise, mengapa engkau biasa saja bagiku? Saya pernah menyaksikan naiknya mentari di Gunung Guntur dan Bukit Sikunir sebelumnya, dua puncak yang terkenal bagi pemburu sunrise, adakah saya tergugah sangat dalam pengalaman itu? Kala itu mentari naik dengan cepat dilatari semburat-semburat kapas yang bagai awan. Koin yang amat terang. Gunung-gunung menjalarkan kaki yang mencengkeram bumi dengan kokoh, disaput kabut, bagai lukisan. Mengapa kita harus berjuang semalaman dulu (dua malam untuk Gunung Guntur), payah dalam nafas, kaki, dan hujan, baru bisa mengagumi kebesaran Tuhan? Bisakah kita memuji Tuhan dengan hanya  bercokol di tengah hiruk-pikuk perkotaan saja?

Lukisan Tuhan
Sekiranya ini cuman perkara kesukaan. Toh yang mengaku “pecinta alam” belum tentu beriman. Toh yang anak kota tulen tak mesti menafikan solat.

Sapa mentari dengan pancaran sinarnya yang bikin mata terpicing, “Udah, nikmatin aja.“ Maka diiringi “Jika Nanti Kau Panggil Namaku” dari grup lawas bernama SAS, saya melakukan senam asal-asalan. Tubuh yang kaku-kaku berkat digempur semalaman ini perlu dilemaskan. Dingin harus digusah. Asmara yang mulai berpendar lagi diabaikan saja.

Kubis: selain jadi bumbu mi,
ia juga berfungsi sebagai spons untuk
membersihkan wadah serta serbet untuk
memegang benda yang panas 
Ketika saya kembali, Nurdin sedang menunaikan solat di atas matras. Ia bersujud menghadap matahari. Sejak kapan matahari terbit di arah kiblat, Bung? Dalam benaknya dunia mungkin telah kiamat, atau ia sekadar saking terpesona pada sumber binar. Kecele dua kali, ia juga melakukan tayamum padahal ada sumber air di samping bangunan sebelah.

Satu dari banyak bukit Dieng yang telah gundul.
Tapi kelihatannya malah seolah artistik lo.
Setelah sarapan, kami beres-beres. Saya makin kerap jatuh saat menuruni bukit—Trubus sangat menantikan momen-momen tersebut. Nurdin berdiskusi dengan Mas Ovip mengenai jenis pohon untuk penghijauan bukit-bukit Dieng. Mas Ovip mencari jenis yang tidak menarik untuk ditebang warga, namun cepat tumbuh serta dapat menyerap banyak air.

Ketika kami sampai di rumah Mas Ovip, tidak banyak jeda waktu hingga zuhur. Batal rencana untuk mengunjungi pesona alam lain di pelosok Dieng. Sementara Mas Ovip pergi, Bagus menemani Trubus mencari sarapan dan kembang setempat, sofa di ruang depan rumah Mas Ovip dikuasai enam orang yang larut dalam kantuk masing-masing.

Menjelang pukul setengah tiga sore, kami telah siap untuk meninggalkan dataran tinggi tempat para dewa bersemayam itu. Hujan mengiringi perjalanan kami menuju Wonosobo. Ujung ponco saya terbelit rantai motor yang saya naiki, tapi saya tidak merasakannya. Kamar mandi dan santap sore di rumah Mbak Ayu menjadi jeda nikmat sebelum perjalanan dilanjutkan.

Duduk di atas motor yang melaju selama berjam-jam juga sebuah penderitaan. Tubuh saya baru terasa seperti sedia kala, tidak lagi kaku-kaku, setelah renang pada Senin sore. Selama dua hari pula Diapet menjadi teman yang baik. Dengan demikian ingin saya kukuhkan Diapet dan Dieng jadi sejoli, lihat pengalaman saya sebelumnya.


[1] Kelompok Sadar Wisata
[2] Sunda: kepingin juga

Rabu, 18 April 2012

Hanya Ada di Jogja


Ada hal-hal yang memenuhi kesenangan saya di satu kota, yang tidak saya temukan gantinya di kota lain. Kalaupun ada, kesan yang ditimbulkan tidak sama. Kalau di Bandung ada kehidupan lama, taman-taman kota, dan komunitas Aleut, di Jogja ada yang berikut.

Ardia FM

http://www.wartajazz.com/news/2009/10/11/mendengarkan-radio-jazz-ardia-fm-yogya-via-streaming/

Suatu malam saya cerita pada seorang kenalan kalau di Bandung ada sebuah radio yang hanya memutar lagu-lagu jazz[1]. Kenalan itu memberitahu saya kalau di Jogja juga ada radio serupa, Ardia, di gelombang 104,1 FM.

Sejak si radio guling[2] mendekam di kamar kosan saya, Ardia pun menjadi teman yang selalu mengisi waktu-waktu saya di kamar. Berbulan-bulan, sampai saya cabut dari kosan tersebut.   

Ardia ternyata tidak hanya memutar lagu-lagu jazz, tapi juga lagu-lagu lawas—yang justru lebih memenuhi selera saya! Dari Ardia, perbendaharaan dan koleksi mp3 lagu jazz dan lawas saya bertambah. Ardia mempertemukan saya dengan Chaseiro, grup era 80-an dengan lirik-lirik motivasi yang menggugah. Saya juga jadi mengenal Powerslave, Gito Rollies, Tok Tok, SAS, Mus Mujiono, Yopie Latul, Kin, Singiku, Emerald Band, Krakatau, Omar, sampai lagu populer Brazil “Water of March”.

Ardia mengudara dari jam 7 – 1 WIB, tapi kadang jam 5 pagi ia sudah mengumandangkan lagu-lagu Barat lawas yang semarak.

Jam 7 – 10, lagu-lagu Indonesia lawas dari sekitar era 70-2000-an meraja.

Jam 10 – 12, lagu-lagu jazz mengalun. Sebetulnya saya tidak terlalu menikmati jazz, namun jazz yang diwarnai dengan nuansa etnik merupakan hidangan lezat bagi telinga, dan itu pernah saya dengar diputar pada jam-jam ini.

Jam 12 – 14, kadang sampai jam 15, adalah giliran lagu-lagu Barat lawas yang berdendang.

Jam 14 atau 15 sampai 21, saya tidak pasti. Kadang saya dengar jazz, kadang Indonesia lawas seperti waktu pagi atau jazz etnik seperti waktu siang, kadang semacam musik eksperimental yang membingungkan telinga, pernah juga musikalisasi puisi, atau rombongan lagu-lagunya Januar Christy.

Jam 21 – 23, ada malam blues, malam reggae, malam klasik, malam rock ‘n roll, bahkan malam penerawangan, yang saya tidak pasti akan hari untuk masing-masing genre tersebut.

Jam 23 – 1, lagu-lagu lawas kembali membelai telinga, kali ini campuran, Indonesia dan Barat.

Ketika mengacak frekuensi radio-radio di Bandung, saya berhenti pada sebuah radio yang mengklaim sebagai pemutar 100% lagu enak. Ingin saya mengatakan pada radio tersebut bahwa bagi saya Ardialah pemutar 100% lagu enak. Iklan pun sedikit sekali, yang paling sering adalah Citra Net, dan pernah juga Ngajogjazz. Saya paling sebal kalau radio kebanyakan iklan sedang penyiarnya kebanyakan meracau, Ardia tidak demikian, sungguh memanjakan telinga! Tapi kadang radio ini hanya memperdengarkan suara lebah untuk beberapa lama.

Salsabila

http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=986386&page=12

Salsabila merupakan kolam renang yang biasa direkomendasikan teman-teman perempuan saya ketika kami membicarakan keinginan untuk renang. Letaknya di dalam komplek sekolah Budi Mulia milik Pak Amien Rais, Jalan Seturan. Untuk mencapainya, saya biasa naik kendaraan umum (D6, A3, atau Trans Jogja) lalu berhenti di Ring Road dan melanjutkan dengan jalan kaki sejauh 10 menit.

Salsabila menyediakan empat hari khusus untuk pengunjung perempuan, yaitu Senin (15.30 – 20.00), Rabu (15.00 – 20.00), Kamis (16.00 – 20.00), dan Jumat (11.00 – 16.00).

Harga tiket masuknya sangat murah, yaitu 9000 rupiah untuk umum, 6000 rupiah untuk mahasiswa, dan 3000 rupiah untuk anak-anak. Kita bisa gratis masuk sekali dengan menukar 10 tiket.

Ada tiga kamar mandi, empat bilik bilas, dan empat bilik ganti untuk perempuan. Kondisinya selalu bersih. Untuk laki-laki, saya tidak tahu persis karena jarang ke bagian sana.

Pengunjung tidak dipungut biaya sama sekali ketika hendak menitipkan barang. Pengunjung diwajibkan memakai pakaian renang. Apabila tidak membawa pakaian renang, pengunjung dapat menyewanya di tempat penitipan barang.

Di dekat tempat penitipan barang, pengunjung bisa membeli makanan dan minuman. Musola juga tersedia. Jumlah kursi begitu banyak dan mengisi sekeliling kolam.

Bagian atas kolam ditutupi semacam kanopi sehingga pengunjung tidak usah khawatir tubuhnya jadi gelap apabila matahari terik, apalagi kehujanan.

Meskipun demikian, ukuran kolam kadang tidak memadai untuk jumlah pengunjung yang sedang membeludak. Ketika itu terjadi, saya tidak jarang bersenggolan atau tabrakan dengan orang lain yang sama-sama sedang meluncur. Selain itu, kendati Salsabila berarti "mata air surga", kadang air kolam tampak keruh dan aroma kaporitnya  begitu kuat. 


http://sobatperpus.wordpress.com/2011/07/04/kegiatan-perpustakaan-kota-yogyakarta-boleh-ribut-asal-pakai-celana/

Perpustakaan ini terletak di selatan Gramedia Jalan Sudirman. Pada jalan yang teduh itu (jalan di depan perpustakaan alias Jalan Suroto, bukan Jalan Sudirman), kita juga bisa menemukan bangunan KOMPAS, Bentara Budaya Yogyakarta, Rumah Mirota, TELKOM, dan SMAN 3 Yogyakarta.

Perpustakaan Kota buka setiap hari, Senin pukul 8 – 15.30, Selasa – Jumat pukul 8 – 17, Sabtu pukul 8 – 15, sedang Minggu pukul 9 – 14.

Yang bisa mendaftar sebagai anggota adalah warga Jogja dan mahasiswa perguruan tinggi yang ada di  Jogja. Pendaftaran dilakukan dengan mengisi formulir, menyerahkan fotokopi KTP dan KTM, serta berfoto di depan meja petugas. Pembuatan kartu bisa ditunggu. Kartu ini untuk digunakan dalam transaksi buku dan presensi pengunjung. Semua gratis!

Peminjaman pun cuma-cuma. Kita bisa meminjam maksimal dua buka dengan jatah seminggu, yang bisa diperpanjang sekali, dengan meninggalkan kartu identitas (KTM atau KTP). Keterlambatan dikenai denda hanya 200 rupiah/hari.

Bangunan perpustakaan terdiri dari dua tingkat. Buku-buku, dari koleksi berbahasa asing, metode penelitian, perkomputeran, agama, ilmu-ilmu sosial, ilmu-ilmu terapan, sastra, sampai biografi dan sejarah, ada di lantai bawah. Di lantai atas ada ensiklopedi, buku-buku referensi, dan komputer. Koleksi bacaan di perpustakaan ini mungkin tidak begitu melimpah, mengingat bangunannya yang tidak terlalu luas, tapi cukuplah bagi mereka yang haus informasi apapun. Perpustakaan juga menyediakan Bank Buku sehingga barangkali kita bisa menambah koleksi perpustakaan.
  
Tempat untuk duduk tersedia baik di lantai bawah, lantai atas, maupun di halaman. Fasilitas lain seperti tempat penitipan barang, komputer pencarian, akses wifi (bisa diakses dengan meminta user id dan password di meja depan), toilet, musola, papan pengumuman macam-macam, sampai tempat untuk beli makanan dan minuman juga tersedia. Bahkan kita bisa mengambil agenda pertunjukan di Jogja selama sepekan di sini.

Lokasi yang strategis dan kemudahan akses menunjukkan upaya Pemerintah Kota Yogyakarta dalam mencerdaskan warganya. Warga menyambutnya dengan animo tinggi. Perpustakaan tampak penuh ketika kita mendatanginya di siang hari, terutama seusai jam sekolah. Kita akan menemukan banyak anak sekolahan, baik yang sedang privat maupun mengerjakan tugas bersama. Sesekali bagian tertentu dari perpustakaan digunakan untuk latihan tari atau teater—saya tidak menyaksikan secara langsung tetapi mendengar atau lewat selintas saja. Kalau bukan untuk mengakses wifi di lantai atas atau membaca buku yang mudah dicerna, saya tidak betah berlama-lama di sana.



[1] Radio yang bernama KLCBS itu juga menyelipkan nuansa Islami dengan doa, hadis Rasulullah SAW, maupun rekaman dialog pemikiran Islam.
[2] Radio berbentuk silinder dengan dua speaker bulat besar seperti mata di kanan dan kirinya. Radio berwarna hijau ini menemani saya di kamar selama masa SMP dan SMA saya.