Kamis, 25 Agustus 2011

menjelang keberangkatan KKN

Ada saja hal-hal berkesan dalam hidup. Serentetan datang menjelang saya berangkat KKN (4 Juli 2011). 


Jumat, 1 Juli 2011

Pasca ujian susulan HHNK, saya, Adit, Ardan, dan Putri menanti keberadaan Pak Oka di depan lift lantai dua. Kertas jawaban kami bertumpuk di atas meja. Punya Adit paling atas.

“Tulisan kamu rapi banget ya, Dit, kayak diketik pakai komputer,” begitu kata saya kira-kira sembari meraih tumpukan kertas tersebut. Saya amat-amati kepunyaan yang lain. Memang punya Adit paling rapi. Bentuk font-nya stabil dan membentuk paduan aksara yang lurus tanpa kecenderungan untuk ke mana-mana. Adit menanggapi dengan kalimat merendah.

Punya saya paling bawah. “Yang punya saya aja udah kayak kolom koran nih,” saya mengomentari milik sendiri. Enggak seperti yang lain, yang menulis jawaban dari ujung kiri ke ujung kanan kertas, saya menulis jawaban saya dari ujung kiri ke tengah, balik ke ujung kiri lagi, begitu seterusnya sampai bawah, dan saya lanjutkan lagi ke atas, mulai dari tengah sampai ujung kanan—intinya membentuk dua kolomlah!

“Kan mau jadi kolumnis…” sambut Adit.

Saya terpana. Saya memang pernah bilang sama dia kalau saya ingin jadi jurnalis.

Entah apa kelak saya bisa meraih keinginan tersebut atau enggak. Ketika orang lain mengatakan seolah-olah saya ada harapan untuk mewujudkannya, rasanya jadi malu sendiri.

Sabtu, 2 Juli 2011

Rabu, 29 Juni 2011, papa saya pulang ke Bandung dengan sebagian barang dari kosan saya memberati bagian belakang mobilnya. Pagi itu juga saya tahu dari Bulik kalau sore pengumuman SNMPTN sudah bisa dilihat. Wah, kalau sampai si Ira lolos ke Biologi UGM bisa-bisa barang yang sudah dibawa ke Bandung bakal dibawa balik ke Jogja dong. Percuma! Tapi siapa yang tahu? Jadi saya sms ke adik saya itu semoga dia keterima di ITB saja.

Menjelang maghrib, saya dapat sms dari ibu saya kalau Ira lolos ke SITH ITB. ALHAMDULILLAH—segera balas saya yang segera disambut oleh sms adik saya itu, dengan huruf sama gedenya, yang mengabarkan serupa. Enggak jadi dibawa balik ke Jogja dong barang-barang saya, haha, kecuali kalau Inda dan atau Ito kelak kuliah di Jogja—tapi kan masih lama!

Hanyut oleh rasa bangga akan kegemilangannya, saya dengan adik saya bertukar sms cukup banyak dan hangat sampai saya sendiri heran kok tahu-tahu kami bisa begitu… Sebagai seorang kakak yang kerap dijadikan tempat bertanya dan diminta dukungan dan bantu ambil keputusan, saya berikan dia petuah-petuah dalam mengarungi fase kehidupan selanjutnya: kehidupan perkuliahan…  sampai dalam smsnya itu terselip rentetan kata yang bikin kening saya berkerut macam “pingin bikin ortu bangga”, “harus bisa balik modal”, “kan kasihan masih ada inda ito”… wew… Begitu janggal! Mula pasalnya adalah Papa ngebanding-bandingin dia dengan temannya yang lolos FTI sementara Mama ingin dia masuk Kedokteran UNDIP (“padahal uang masuknya 100 juta, mana bisa bayaaaar?” curhatnya). Namun tetap saja saya bertanya-tanya, ada apa dengan anak ini? Mengapa pikirannya jauh lebih dewasa daripada saya? Aaaaa… Smsan pun terhenti dengan balasan yang menyatakan ketidaktahuan saya sebab saya sendiri belum bisa balik modal.

Dalam kali smsan berikutnya, dia bilang kalau hidup itu terlalu banyak pilihan. Jadi bingung.

Ingin sebetulnya saya ungkapkan sama dia mengenai kasus saya. Sewaktu berada di fasenya, pilihan saya hanya jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan UGM. Saya enggak ikut jalur masuk PTN apapun selain UMUGM. Begitu tegasnya pilihan saya itu sampai Papa akhirnya menerima sedang Mama salut dengan keyakinan saya. Dan sekarang saya kira saya kian menyadari passion saya dan ingin terus melaju di lajur tersebut. Maka saya bilang sama dia, “Kalau udah punya minat yang pasti, pilihan bakal menyempit kok.”

Saya harap dia bisa terus bertahan di ITB dan menggagalkan tes masuk Kedokteran UNDIP-nya, ha. Mending kursinya dikasih buat orang lain saja, kan sudah dapat kursi di ITB, jangan rakus, betul kan?

Hari ini, awalnya saya cuman tanya apa barang saya yang dibawa dari Jogja ke Bandung kemarin itu sudah dibereskan apa belum, tahu-tahu dalam smsnya terselip kalimat ganjil lagi, “Di ITB bisa nyicil enggak sih?”

Nyicil apa?! Jangan-jangan dia berpikir untuk membiayai kuliahnya secara mandiri? Wow! Katanya lagi, “Nyicil BPPM (uang pangkal)” Wawawa. Saya sudah berprasangka saja Papa kasih dia kalimat macam-macam yang bikin dia merasa telah begitu membebani orangtua. Sedang saya?! Siang ini saja saya sudah ambil tiga ratus ribu lagi yang lebih dari setengahnya langsung saya habiskan untuk beli buku-buku referensi, deodoran (mereknya agak mahal sih—karena cuman beli di Indomaret pilihan jadi terbatas!), odol—semua untuk KKN! Sebelum dapat kata-kata begini saja dari Ira saya sudah merasa amat bersalah sama Papa. O. Untuk keperluan saya sendiri saja selama empat tahun kuliah di Jogja ini, sudah berapa puluh juta uang Papa yang saya sedot—hanya untuk saya sendiri saja!? Sekarang adik saya (dan adik-adik saya lainnya bakalan) yang kena getahnya. O. Jangan-jangan di rumah lagi hangat-hangatnya suatu konflik?

Sementara adik saya yang baru mau jadi mahasiswa sudah memikirkan soal balik modal la-la-la, saya yang sudah hampir tamat jadi mahasiswa saja malah melupakan itu dan lagi semangat-semangatnya meniti impian yang tidak menjamin kemapanan: mempelajari sastra dan menulis novel!

Kata Ira lagi, “Pengen nyicil aja hehe abis pengajuan subsidi belum tentu diterima, doain dapet subsidi ya huehe T-T” Masih saja saya penasaran. Saya bertanya-tanya jadinya. Memang ada apa sih? Berapa uang pangkalnya? Apakah Papa sedang kesulitan?

“55 juta. Ira ngajuin subsidi 50%... Sekarang ITB mahaaal.”

Gubrak. Mendadak saya jadi maklum dan jadi lebih tenang karena pemakluman itu. Wajarlah, ini konsekuensi kalau mau masuk PTN bergengsi, bukan? Uang pangkal saya saja dulu hanya lima juta—yaaa, Kehutanan UGM kok dibandingkan sama SITH ITB? Harga empat tahun lalu pula! Saking wajarnya hal ini sampai enggak berhasrat saya memprotes: kesempatan mengecap pendidikan teknik yang konon terbaik se-Indonesia ini kok hanya untuk mereka yang kebanyakan uang saja?!

“Orang miskin dilarang sekolah”, siapapun yang menciptakan kalimat ini, dia enggak salah, dia sungguh bijaksana.

Pa, ayo pindah ke rumah yang lebih sederhana supaya adik-adik saya lancar sekolahnya.

Minggu, 3 Juli 2011

Saya bilang sama Bude, “Pingin cepet-cepet selesai KKN.”

Respons Bude, “Pingin cepet-cepet selesai apa pingin cepet-cepet berangkat?”

“Pingin cepet-cepet berangkat terus pingin cepet-cepet selesai,” jawab saya.

“Dijalanin saja belum,” kata Bude lagi.

Makanya itu Bude, selama belum dijalani begini rasanya resah saja. Hal yang sama mungkin saya alami sebelum saya berangkat ke Getas (25 hari) maupun ke Ujung Kulon (sekitar dua minggu)—yang setelah terlalui rasanya malah overall menyenangkan…

Inginnya santai, menjalankan semuanya dengan lancar, tapi tidak bisa dipungkiri kalau diam-diam terpendam kecemasan. Bagaimana nanti kalau program-program saya sukar jalan. Bagaimana nanti saya bertarung dengan rasa tidak percaya diri saya. Bagaimana nanti teman-teman baru saya menanggapi karakter asli saya. Bagaimana nanti saya bisa mengatasi kalau sekiranya terjadi konflik di antara mereka. Bagaimana … oh, bagaimana…

Lalu Bude saya cerita mengenai KKN papa saya dulu. Papa saya alumni UGM juga, Teknik Sipil. KKN-nya mungkin sudah sekitar tiga puluh tahun lalu. Hal yang saya ketahui dari KKN-nya selama ini hanya ia pernah difoto dengan hanya menggunakan kolor dan sarung dan caping dan suling di atas punggung kerbau—ceritanya logo KOMPAS begitu. Ada juga yang hanya berkolor doang dengan pose tiduran di atas lumpur sawah. Weh.

KKN papa saya dulu di Purworejo. Jaman itu KKN UGM hanya berkisar di Jawa Tengah. Paling jauh ke barat sampai Kebumen sedangkan ke timur saya lupa. Kata Bude, Papa membuatkan sumur dengan pompa tangan untuk warga. Saat itu warga sana belum tahu bagaimana mendapatkan air tawar. Kebutuhan air mereka terpenuhi dari air asin—mungkin lokasi KKN-nya dekat pantai. Papa sempat pulang ke Jogja. Kebetulan Pakde punya pompa tangan yang tidak dipakai. Papa lalu membawanya beserta si sepeda motor zadul hijau (dulu sempat jadi sarana saya belajar mengendarai motor). Warga sangat senang dibuatkan yang demikian. Mereka jadi punya sumber air tawar. Pak lurahnya sampai datang ke rumah Mbah Untung (mendiang kakek saya) untuk mengucapkan terima kasih.

Padahal saya acap mencela-cela Papa, tapi ada saja hal-hal yang bikin bangga. Dan ada kekuatan pada rasa bangga. :)

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain