LAINNYA

Jumat, 19 Februari 2010

Bertemu Pak Kemadiono, Pemusik Difabel di Malioboro


Kalau Anda pernah berjalan-jalan di Malioboro, khususnya di trotoar sebelah timur—tidak jauh dari selatan Mal Malioboro, dekat Hotel Mutiara—Anda mungkin ingat dengan sosok seorang pemusik buta yang memainkan angklung dan kecrekan. Bukankah menarik, seorang difabel yang dapat memainkan alat musik? Di pinggir jalan? Atraktif. Usahanya amat membuat salut. Yang normal saja bisanya hanya minta-minta.

Dalam rangka mengikuti Diklat Jurnalistik 2010 yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Teknik Industri UGM bekerja sama dengan Tim Diklat KOMPAS Jakarta tanggal 3 – 6 Februari 2010, saya berniat untuk mengangkat profil pemusik tersebut. Maka pada tanggal 4 Februari 2010, menjelang siang buta, dengan menaiki Trans Jogja saya menuju Maliboro.

Saya mendekati pria itu, yang sedang menjalankan profesinya. Saya menaruh dua lembar ribuan di wadah yang terletak di depannya. Saya lalu jongkok di sampingnya. Di tengah riuh lalu lalang orang-orang, saya mencoba menarik perhatiannya. Saya menegurnya dengan suara agak dikeraskan. Bapak tersebut akhirnya sadar dengan keberadaan saya. Saya ungkapkan maksud saya. Dia mendekatkan kepalanya. Menariknya lagi. Dari sakunya, dia keluarkan semacam earphone. Dia tempelkan di telinganya. Lalu kepalanya mendekat ke arah saya lagi.

Sepanjang percakapan kami yang amat tidak efektif itu, telinganya harus dekat dengan mulut saya dalam jarak kurang dari 10 cm.

Sebelumnya dia mengambil uang yang saya masukkan ke dalam wadahnya. Dia meraba-rabanya lalu memasukkannya ke kantongnya. Mungkinkah dia bisa memperkirakan berapa nominalnya? Apakah dia tahu bahwa uang itu berasal dari saya?

Hal pertama yang harus dilakukan sebelum mewawancarai orang tentu adalah menanyakan identitas orang tersebut. Ketika dia mengucapkan namanya, saya agak kurang jelas mendengarnya. Selain karena situasi di sana memang berisik, bapak ini juga agak kurang jelas bicaranya. Setelah beberapa kali mengulang ucapannya karena saya selalu salah tangkap, tanpa tedeng aling-aling dia merogoh saku celananya. Dia sodorkan KTP itu tepat di depan muka saya. KTP asli dengan foto dan tanda tangan yang berwenang.

Kemadiono. Bantul, 1 Maret 1956. KAWIN. Hanya itu yang saya catat dari kartu identitas yang diberikannya.

Siap untuk menanyakan hal-hal lainnya.

Pertama-tama yang saya tanyakan adalah, “Bapak sejak kapan di sini?” Dia menjawab dengan suara tidak jelas. Awalnya saya menulis di buku tulis saya “81 tahun”. Jelas saya bingung. Apakah dia setua itu? Saya bertanya lagi dan mendapatkan angka baru. 22.

Pak Kemadiono bisa Anda temui di tempat ini pada jam kerjanya yaitu dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Dia datang dan pergi dari tempat kerjanya itu dengan menggunakan becak sendirian. Maksudnya tentu saja bukan dia sendiri yang mengemudikan becaknya.

Dia mempunyai seorang istri, yang nampaknya tidak bekerja, dan belum memberinya anak. Mereka tinggal di kontrakan mereka di Minggiran, Kecamatan Mantrirejon, RT 59 RW 16.

Pak Kemadiono sudah cacat sejak lahir. Bagaimana dia bisa memainkan musik, menurut pengakuannya dia belajar sendiri. Dia bisa memainkan alat musik apa saja. Gitar. Kibor. Kemampuannya bermusik berkembang setelah dia memasuki SLB Manding di Jalan Parangtritis sejak berumur 25 tahun.

Lalu dengan suaranya yang tidak jelas, dia memberikan isyarat kepada saya bahwa pengunjungnya sepi. Ada pengunjung lewat. Dia mesti kembali bekerja. Tanpa mengacuhkan saya lagi, dia memainkan musiknya kembali. Jelas dia merasa terganggu dengan saya. Saya telah membuatnya kehilangan “pengunjung”nya. Mana hanya kasih 2000 perak lagi (itu pun kalau dia menyangka uang tersebut asalnya dari saya :p).

Baiklah, itu tandanya saya disuruh pergi. Jangan mengganggu dia lagi.

Padahal belum sempat saya menanyakan kepadanya poin-poin seperti berapa penghasilannya, bagaimana apresiasi pengunjung terhadapnya, bagaimana harapannya akan masa depannya, dan sebagainya.

Selamat bekerja kembali, Pak Kemadiono! Semoga perolehan Anda hari ini memuaskan!

Saya memasuki shelter Trans Jogja dengan mood buruk. Haha.

Selepas tengah hari, saya ke ruang diklat untuk mengumpulkan tulisan. Jadi hari itu agendanya adalah praktik lapangan. Setiap peserta ditugaskan meliput dan mengumpulkan tulisannya hari itu itu sebelum jam tiga sore. Pada akhirnya sih saya mengumpulkan tulisan tentang Jogja Bird Walk 2010, liputan basi.

Dalam serangkaian acara itu, ada seorang mas-mas yang pekerjaannya merekam keberlangsungan acara. Dia sepertinya bekerja untuk sebuah TV lokal. Saya juga sempat diwawancarainya di hari pertama. Pertanyaan yang dia ajukan waktu itu kepada saya antara lain adalah apakah saya sudah kepikiran hendak meliput apa untuk tugas nanti. Awalnya saya bilang saya ingin mengangkat eksistensi pedagang kecil. Maka, di hari kedua ini, mas-mas tersebut sempat mendekati saya lagi. Dia menegur saya (dan masih ingat nama saya sementara dia tidak memberitahukan namanya sendiri pada saya!), menanyakan apakah saya jadi mengangkat tentang pedagang kecil. Saya bilang tidak jadi. Saya ceritakan bahwa saya jadinya hendak mengangkat profil pemusik difabel di Malioboro tapi gagal. Lalu dia menyebut nama “Pak Kemad”. Saya langsung ngeh. Ya, Pak Kemadiono?! Dia bercerita, dulu dia juga pernah coba mewawancarainya. Lalu apakah berhasil? Saya bertanya. Sepertinya yang dia alami sama dengan saya. Waktu itu, Pak Kemad langsung menyodorkan KTP-nya. Masih KTP buatan yang terbuat dari HVS.

Rabu, 17 Februari 2010

Sang Legenda yang Mencoba untuk Tetap Eksis


Judul : Lupus Returns: Cewek Junkies
Pengarang : Hilman
Penerbit : Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007
Tebal dan panjang halaman : 176 hlm; 11 cm

Lupus kembali! Ia mendobrak portal yang membatasi era 80 – 90’an dengan era 2000-an. Dengan susah payah ia berusaha untuk beradaptasi. Lulu kenal friendster, Lupus berhadapan dengan mobil matic, sementara Boim dan Gusur nonton DVD Kuntilanak. Mereka terasa seperti tante dan om-om ringkih yang memaksa jadi anak muda jaman sekarang. Mengusung gaya New Order padahal sudah jamannya Goodnite Electric. Saya bisa mendengar Lupus cs berdiri di portal sambil menyanyikan Forever Young-nya Alphaville.

Bagaikan nasi kemarin lusa yang dibubuhi bayam yang matang baru saja. Bayamnya sih segar, sesegar tebak-tebakkan, adegan, dan dialog aneh dalam buku ini yang bikin ngakak. Tapi nasinya, basi mah ya basi aja... Mungkin karena sang penulis sudah sedemikian profesionalnya di bidang penulisan sinetron, ceritanya juga jadi ikut-ikutan begitu. Tak dikejar, maka tak tayang.

Beginilah ceritanya...

Lupus putus sama ceweknya yang seksi abis, Vera. Vera yang cheerleader soalnya lagi kepincut sama atlet basket, Restu. Beruntung Lupus segera menemukan cewek pengganti Vera yang tak kalah cantiknya... Nessa namanya. Cewek yang rada-rada ajaib ini berhasil mengembalikan Lupus menjadi cowok periang. Ternyata, Nessa punya masa lalu kelam. Dia mantan junkies! Mengetahui kenyataan itu, Lupus jadi gamang. Hubungannya dengan Nessa merenggang. Vera yang mengetahui itu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meraih Lupus kembali karena Restu ternyata selingkuh! Sementara itu, mantan cowok Nessa, Dito, yang mengaku sudah tobat, datang untuk membawa Nessa kembali. Ternyata Dito bohong. Dia masih jadi bandar narkoba. Nessa berusaha melarikan diri darinya. Lupus sampai jauh-jauh datang dari Jakarta ke Bali untuk memperbaiki hubungannya dengan Nessa. Eh, Lupus malah dihajar Dito cs. Trio Lulu, Boim, dan Gusur pun menyusul Lupus saat itu juga untuk menyelamatkannya. Dito cs berhasil diringkus polisi. Lupus dan Nessa jadian lagi deh! Tamat begitu saja.

Sinetron banget gak seh lo...

Memang sudah lama saya tidak baca Lupus. Perasaan, Lupus jaman dulu ceritanya tidak begini amat. Lagipula sekarang sudah bukan jamannya dia lagi. Biarlah dia menjadi legenda. Penciri muda-mudi era 80 – 90-an. Sekarang mah jamannya teenlit, atuh, euy... Mengapa dia harus memaksa muncul padahal sudah bukan jamannya? Seharusnya dia sudah punya istri dan beranak pinak, setidaknya dua!

Untunglah gaya penulisan ngocol dan tebak-tebakkan yang bikin ngakak cukup jadi penyegar. Amat menghibur. Salah satu tebak-tebakkan yang bikin saya ngakak adalah salah satu tebak-tebakkannya Lulu ke Lupus (saya lupa halamannya yang mana, jadi tidak saya kutip tapi saya tuliskan lagi seingatnya),

Lulu : “Burung apa yang bisa nempel di dinding?”
Lupus : “Burungnya cicak!”

Belum lagi tingkah Lupus cs yang aneh-aneh. Misalnya, dalam salah satu cerita, Lulu sedang berulang tahun dan Lupus cs berniat memberinya kado istimewa. Sebuah kado seukuran kardus TV. Isinya orang.

Ini saya kutip saja salah satu dialog yang menurut saya aneh (aneh yang menggelikan, bukan aneh yang bikin dahi berkernyit),

“Cekak nih, lagi cekak. Wakakakak...!”
“Cekak tapi kok bisa cekakakan gitu?”
“Ih, siapa yang cekakakan? Gue kan cekikikan?”
(hal. 13)

Namun tidak selalu gaya penulisan menyegarkan cerita. Beberapa deskripsi sekiranya bisa lebih disederhanakan bahasanya. Misalnya deskripsi tentang tubuh Vera, keintiman hubungan antara Vera dengan Restu, atau malah antara Lupus dengan Nessa. Kalau saya sih risih bacanya. Apa cowok memang begitu ya bahasanya?

Kalau kamu hanya ingin terhibur dengan bacaan super ringan, buku ini bisa jadi alternatif. Dibandingkan dengan teenlit-teenlit yang sudah ceritanya tidak mutu, gaya penulisannya garing pula, saya menyarankan untuk membaca buku ini saja. Terbukti ampuh mengundang tawa, setidaknya pada saya.


sumber gambar

Jumat, 12 Februari 2010

Jelajah Kawasan Konservasi (bagian 1)

27-29 Desember 2009. Di penghujung tahun, 52 orang mahasiswa jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan (KSDH) Fakultas Kehutanan UGM, yang terdiri dari angkatan 2007 dan angkatan 2008, terlibat dalam rangkaian acara Jelajah Kawasan Konservasi. Selama 2 hari 3 malam kami menyambangi beberapa titik di wilayah Jawa Timur: Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Kebun Raya Purwodadi, dan Taman Safari II Prigen. Dengan dukungan dari jurusan, acara yang diselenggarakan oleh Forestation (himpunan mahasiswa jurusan KSDH) ini menyerupai Kuliah Lapangan Jurusan. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan, yeah, ada laporan kelompok yang harus kami kumpulkan nantinya. Untuk semua kunjungan itu beserta fasilitias, hanya 300.000 rupiah yang harus kami bayar. Meski demikian, acara ini tetap menjadi tamasya selepas KBM semester ganjil bagi kami. Juga, refreshing menjelang ujian akhir semester.

Saat itu pukul 16.06 WIB. Kawasan Fakultas Kehutanan UGM tampak kelabu. Rinai hujan mengiringi kepergian kami semenjak dari sana, lalu melintasi Klaten, Solo, Sragen, hingga Ngawi. Bukan lagi hujan lokal (misalnya Fakultas Pertanian hujan, Fakultas Kehutanan tidak, padahal bersebelahan).

Di dalam bis KARYA JASA, kaki kami terjepit bangku di depan kami (kecuali yang duduk di bangku paling depan tentu saja). Dingin menggerogoti. Apalagi pakaian kami masih agak basah karena berhujan-hujan dari lapangan parkir utara—tempat kami kumpul di kampus—sampai gerbang tempat bis parkir. Kami menafikan segala ketidaknyamanan itu dengan bercengkerama bersama teman-teman yang duduk di bangku sekitar kami. Melewati Solo lalu Sragen, mereka yang berasal dari sana, seketika antusias menunjukkan tempat-tempat yang familiar bagi mereka. Mulai dari jalan masuk menuju rumah hingga tempat nongkrong kalau mau wifi-an gratis malam-malam.

Bis yang kami tumpangi sebetulnya baik fasilitasnya. AC. Bangkunya 2-2. TV-nya juga ada 2. Sejak dari Jogja kami dihibur oleh tayangan film Kungfu Panda. Mata saya sampai sakit dibuatnya. Bagaimana tidak, 1,5 jam lebih mata saya mendongak terus ke atas. Film selanjutnya yang diputar tidak terlalu seru. Saya bahkan sudah lupa judulnya. Tapi salah satu pemainnya adalah pengisi suara di Kungfu Panda. Sebuah film yang dimaksudkan sebagai komedi tapi kurang mak crot. Karena tidak ada lagi film yang seru, akhirnya beragam video musik diputar. Kalau lagunya mantap kami serentak menyanyi, kalau tidak si operator harus menerima deraan caci maki.

Sudah beranjak larut malam saat kami sampai di Ngawi. Kami berhenti di Rumah Makan DUTA untuk makan malam dan solat bagi yang melaksanakan. Menilik daftar harga di menunya, makanan di sini naudzubillah mahalnya. Padahal kenyang yang didapat mungkin tidak sampai setengah harganya. Semua makanan harganya berkisar di antara 10.000 rupiah. Ada beberapa pilihan menu untuk rombongan kami, yaitu ayam bakar, rawon, gulai kambing, dan satu lagi saya tidak ingat. Sejak di bis entah mengapa saya sudah berhasrat makan ayam bakar. Tapi setelah memesannya saya menyesal. Pertama, cuaca saat itu lebih mendukung untuk makan sesuatu yang berkuah ketimbang keringan. Kedua, ternyata harga rawon lebih mahal dari ayam bakar. Lepas makan, menuntaskan keperluan masing-masing, dan bercengkerama, perjalanan kembali dilanjutkan. Hampir sepanjang perjalanan saya tidur.

Kala itu sudah dini hari ketika panitia membangunkan kami. Sudah hampir sampai katanya. Tapi tidak jadi. Terminalnya ternyata sudah pindah (?). Tiada mengapalah. Bis membelah jalanan sunyi di suatu pedesaan. Pukul 3 pagi, sampailah kami di Terminal Sukapura. Kami disambut oleh para penjaja sarung tangan, kupluk, syal, dan semacamnya. Katanya dingin sekali di atas sana. Ya, memang sudah mulai terasa. Sementara kami menurunkan muatan dari bagasi, (kalau saya tidak salah ingat) 4 elf berbondong-bondong datang. Kami bahu membahu menaikkan kembali muatan kami di atap elf-elf itu. Muatan sudah di atap, masuklah kami ke dalam elf. Elf sudah penuh terisi, dibawalah kami melalui jalanan gelap yang berkelak-kelok naik ke atas. Kalau jendela dibuka, angin dingin akan menderu masuk. Meski kami duduk berdempet-dempetan, hawa dingin tetap membayangi. Elf memasuki halaman Pusat Pengunjung Cemorolawang Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Lagi-lagi beberapa penjaja barang-barang penghangat tubuh menyambut kami.

Di samping gedung utama, ada sebuah bangunan yang telah disediakan untuk tempat rombongan kami beristirahat. Bangunan tersebut memiliki ruangan utama dengan luas sekitar 8 m x 12 m. Tiga buah spring bed kotak besar digeletakkan begitu saja di lantai. Dua di antaranya tidak berplastik. Bagian tengah ruangan disangga 4 tiang kayu. Tujuh buah lampu neon berpencar di langit-langit. Ada 3 pintu. Satu pintu adalah pintu keluar masuk kami, 1 pintu berada di sisi seberang namun selalu tertutup, sementara 1 pintu lainnya adalah pintu menuju sebuah ruangan yang lebih kecil. Ruangan kecil tersebut seperti gudang dengan sebuah sofa dan tumpukan barang-barang tidak jelas. Ada pintu menuju kamar mandi pula di situ. Kamar mandi yang kerannya tidak menghasilkan air.

Sebagian dari kami langsung merebahkan diri dan barang bawaan ke kasur. Saya tidak kebagian tempat. Lagipula tidak ada pembatas antara putra dengan putri. Keduanya bisa tidur dalam kasur yang sama. Alih-alih menidurkan diri lagi, saya memanfaatkan waktu untuk bersih diri meski mendapat giliran paling akhir. Tidak mandi, tentu saja.

Gelap perlahan pudar. Sebagian teman ada yang berjalan-jalan ke luar. Seorang teman mengajak saya untuk ke luar juga. Dia mau foto-foto. Saya disuruh jadi juru fotonya, maksudnya. Tidak saya sangka, begitu saya ke luar ruangan, mengikuti teman saya itu berjalan tidak terlalu jauh menuju tepi jurang di belakang bangunan, subhanallah... Di sanalah lautan pasir membentang luas. Gunung Batok dan Kawah Bromo yang fenomenal itu (halah) duduk tenang namun kokoh di peraduan mereka. Menunggu dipandang. Mereka menikmati itu sebagaimana kami menikmati memandang mereka. Di belakang mereka, pengunungan entah-apa-namanya memanjang hingga tak terlihat. Memang kelabu masih belum sirna benar namun loreng-loreng yang dipamerkan Gunung Batok sudah memukau kami. Kawah Bromo anteng saja mengepulkan asap di sebelahnya. Mereka selalu siap sedia untuk berfoto bersama kami. Kiranya hampir semua anggota rombongan kami punya foto dengan pasangan Gunung Batok-Kawah Bromo di belakang punggung mereka. Entah sendiri atau pun bersama-sama. Seharusnya sepulang dari sini kami kompak mengganti foto profil kami di facebook dengan foto tersebut. Satu hal yang kami tidak sadari adalah, seharusnya kami berfoto di saat hari telah cerah benar. Mestilah foto yang kami dapatkan hasilnya akan lebih cemerlang ketimbang hasil foto saat subuh-subuh.

Puas berfoto-foto, kardus sarapan dan teh menyambut kami.


Di dalam Pusat Pengunjung Cemorolawang Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TN BTS)

Tempat ini adalah sebuah ruangan berbentuk segi 8 nyaris. Di seberang ruangan agak ke kanan, ada pintu yang tak terlihat menuju kamar mandi dan pintu di seberangnya adalah pintu menuju dunia lain. Oh, tidak. Di balik pintu itu terdapat sebuah ruangan bersegi 8 lagi dengan deretan bangku plastik merah (seperti bangku halte bis) dalam 3 banjar menurun ke bawah. Ada viewer di sana. Juga meja kayu panjang dan kursi-kursi di baliknya yang menghadap ke arah berlawanan. Jelaslah ini ruangan apa.

Kita kembali ke luar ruangan-untuk-presentasi-apapun-itu. Ruangan depan sekilas seperti museum. Sebuah meja yang sepertinya adalah pos kerja petugas informasi menyambut kami. Setiap sisi dinding dipasang oleh papan ber-background merah dengan lampu neon di atasnya. Ada juga meja-meja kaca. Keduanya menampilkan informasi dan benda-benda yang ada hubungannya dengan taman nasional ini.

Sebuah papan menampilkan informasi mengenai kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan di TN BTS, yaitu penataan batas, pengamanan kawasan, pembinaan masyarakat dan generasi muda, inventarisasi flora dan fauna, serta monitoring kebersihan kawasan dan pengembangan wisata alam yang meliputi monitoring batas kawasan, patroli hutan, operasi gabungan, budidaya tanaman dan obat-obatan, bantuan ternak kambing kepada masyarakat, dan penyuluhan/bina cinta alam.

Sebuah papan yang lain menampilkan berbagai gangguan yang terjadi di TN BTS. Sebut saja pencurian kayu, kebakaran hutan, perambahan kawasan, pengambilan batu dari kawasan, pencurian bambu, dan pengarangan, semua ini dapat menurunkan potensi sumber daya alam.

Papan lainnya ada yang menampilkan prosesi upacara Kasada, juga tempat-tempat di sekitar kawasan seperti Ranu Kumbolo dan Ranu Pane—yang mengingatkan saya pada novel “5 cm”, dan penjelasan mengenai taman nasional itu sendiri. Mau tahu? Taman nasional ialah kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem asli yang dikelola dengan sistem zonasi untuk tujuan penelitian, rekreasi dan wisata alam, pendidikan dan interpretasi, penunjang budidaya, dan pelestarian plasma nutfah.

Sementara itu pada meja display, ada yang menampilkan batu-batu vulkano yang ditemukan di kawasan, ada juga yang sekedar tempat untuk memajang buah-buahan palsu serta sepasang tanduk kerbau, yang dijadikan properti foto oleh kami. Sebuah meja display besar berbentuk kotak yang berada di tengah ruangan menampilkan peta timbul kawasan TN BTS.

Pagi itu acara kami adalah materi ruangan. Kami telah duduk manis di bangku-bangku merah dengan plastik cemilan di pangkuan kami. Video karaoke Didi Kempot menyambut. Namun pembicara yang seharusnya mengisi materi tidak kunjung datang. Beberapa dari kami pergi ke ruang operator. Di sana kami menemukan beberapa film tentang TN BTS, di samping DVD-DVD bajakan dan VCD-VCD karaokean. Kami pun berinisiatif untuk memutarkan salah satu film tentang TN BTS, yatu tentang pendakian Gunung Semeru. Teman-teman tampak tertarik dan menonton film tersebut sampai akhir. Film-film lain dengan judul yang berbeda tentang TN BTS pun kami putar lagi. Antara lain tentang perlindungan dan pengamanan hutan hingga wisata pendidikan. Beberapa masalah muncul. Teman-teman tampaknya sudah bosan dengan film semacam itu dan lebih memilih untuk tidur, berfoto-foto di luar, atau mengerjakan kegiatan-kegiatan tidak produktif lainnya. Film “4bia” berhasil memikat kembali teman-teman tapi tidak lama. Pembicara yang ditunggu-tunggu akhirnya datang jua. Saat itu sudah pukul 9 pagi. Entah sudah berapa jam kami menunggu sebelum itu.

Pembicara yang kami tunggu adalah Ir. Eni Endah Suwarni, M. Sc., Kepala Bidang Teknis Konservasi TN BTS. Wanita berkerudung asal Nganjuk ini sudah lebih dari 2 tahun bekerja di Seksi Pengelolaan TN I Organisasi Balai Besar TN BTS. Sebelumnya beliau bekerja di Manggala (Departemen Kehutanan pusat di Jakarta). Beliau telat karena mobilnya mogok. Justru setelah pembicara datang, saya malah tak kuasa menahan kantuk. Hampir di sepanjang acara saya ketiduran. Saya hanya mencatat sedikit-sedikit saja sewaktu saya sadar. Pada intinya, ini adalah materi tentang pengelolaan kawasan di TN BTS. Setelah pemberian materi selama kurang lebih setengah jam, kami berfoto-foto di depan bangunan. Penjaja cindera mata mendekat. Udara masih dingin. Kiranya saya bisa memahami mengapa Belle & Sebastian membuat lagu-lagu semacam “Another Sunny Day”, “Here Come The Sun”, atau “A Sleep On A Sunbeam”. Di negara mereka mesti sinar matahari hanya datang sesekali seperti yang saat itu saya alami.

(bersambung)

Rabu, 10 Februari 2010

Melangkahi Senja bersama Manusia-manusia Banyusoco

November, 2009
Bayang-bayang gelap mulai merengkuh langit. Masih ada dua manusia Banyusoso lainnya yang harus kami temui. Setelah itu, barulah kami dapat kembali ke penginapan kami yang merupakan rumah seorang mandor hutan yang bekerja untuk RPH (Resort Pemangkuan Hutan) Playen. Sebelumnya sudah dua orang yang kami sambangi rumahnya. Tugas ini mengharuskan masing-masing dari kami mewawancarai dua orang masyarakat desa hutan—dalam rangka praktikum mata kuliah Perencanaan Sumber Daya Hutan. Kami sepakat untuk melakukannya bersama-sama.

Banyusoco adalah sebuah dusun di Desa Kepek, Kecamatan Playen, Gunungkidul, Yogyakarta. Kehadirannya bisa ditandai dari sebuah papan bercat putih, yang berdiri di balik gerbang batako sebuah bangunan SD, bertuliskan: SDN BANYUSOCO. Pada sebuah jalan di balik SD tersebutlah kami berbelok.

Menyusuri jalan berbatu, melewati rumah demi rumah, meneliti kalau-kalau ada manusia melintas. Pada sebuah rumah, kami melihatnya. Keraguan menguar namun akhirnya kami melangkah juga ke jalan menuju rumah itu.

Maka bertemulah kami dengan Bu Sartini, 45 tahun, penduduk asli Kepek II yang sudah sejak lahir tinggal di sini. Aktivitas memasaknya jadi terganggu akibat kedatangan kami yang tiba-tiba. Dengan keramahan khas orang desa, ia tetap menerima kami. Kursi yang berdiam di sisi teras rumah berlapis semennya hanya mampu menampung kami berdua. Agak rikuh juga kami karena sementara kami duduk di sana, ia—yang senja itu secara bersahaja memakai kaos tanpa lengan dan celana pendek—duduk hanya beralaskan lantai semen. Namun kehangatan yang senantiasa terpancar dari wajahnya saat berbicara dengan kami membuat perasaan kami lebih nyaman.

Lahan seluas 10-100 m2, dari luas seluruhnya yang 15 hektar, menjadi jatahnya sebagai seorang petani untuk ditanami. Pembagian lahan ini berdasarkan kemampuan menggarap dari petani itu sendiri. Lahan tersebut ditanaminya jagung dan kedelai. Dalam waktu 3 bulan, jagung sudah dapat dipanen meski sekarang susah tumbuh karena kurang air. Hasilnya ia manfaatkan untuk diri sendiri dan ala kadanya untuk Pak Mantri, sekedar untuk ‘memberi rasa’. Namun demikian, ia tidak bergabung dengan kelompok tani mana pun, termasuk Kelompok Tani Kertaharja yang basecamp-nya di rumah Pak Sudar. “Repot,” katanya. Ia juga kurang mengetahui adanya perkumpulan masyarakat lainnya selain kumpul RT sebulan sekali.

Selain bertani, ia tidak mempunyai pekerjaan lain meski dulu ia sempat membuat emping. Ternak pun hanya pinjaman. Sebagai sumber air, ia memiliki sumur yang meski pada pasca gempa Jogja kemarin sempat kering. Kalau sudah begitu air harus dibeli dari Playen.

Meski kayu bisa didapatkannya dari ladang sendiri, ia mengaku mengambil kayu juga dari hutan pemerintah untuk kayu bakar. Namun hal itu dilakukannya juga untuk membersihkan cabang dari pohon agar pohon tersebut dapat tumbuh lebih cepat. Dalam kehutanan, pembersihan cabang ini dikenal dengan istilah prunning. Kadang-kadang ia mencari rumput juga di sana.

Di sekitar kami, beberapa anak berseliweran mengejar seekor kucing betina. Ia bercerita pada kami betapa seringnya kucing itu hamil dan setiap kali dibuang pasti kembali lagi. Dua dari anak-anak yang ikut menemani kami mengobrol di teras adalah anaknya. Suaminya, yang dapat bekerja di mana-mana sebagai tukang bangunan, tidak tampak.

Habis sudah pertanyaan di kepala kami. Kami memandangi langit di kejauhan yang mengisyaratkan agar kami bergegas karena gelap tak lama lagi akan datang. Masih ada seorang lagi yang harus kami temui. Kami pun pamit pergi.

Kembali kami susuri jalan berbatu itu, melewati rumah demi rumah, mencari-cari manusia yang bisa kami wawancarai dan ia mestilah seorang petani hutan. Semoga dalam kesempatan berikutnya kami beruntung.

Di sisi jalan sebelah kiri, kami melihat seorang pria sedang jongkok mengamati sapi-sapinya yang berada dalam kandang. Mendekatlah kami padanya sambil mengenalkan diri dan menyampaikan maksud kami. Ia segera memahami. “Tapi yang petani bapak saya, bukan saya,” ujarnya. Diantarkannya kami ke belakang rumah untuk menemui seorang pria tua. Istrinya menemani sambil menggendong cucu kecilnya. Kami harus menaiki beberapa undakan untuk dapat menginjak lantai teras belakang rumah itu. Dari tempat kami duduk, kami bisa melihat kandang sapi di sebelah kiri depan dan kamar mandi serta sumur di sebelah kanan depan. Jika kami menoleh lebih ke kanan lagi maka akan terlihat rumah lainnya. Jika kami kembali menoleh ke kiri, di sanalah Pak Wasilan, 58 tahun, duduk tegak dengan kedua siku bertelekan lengan kursi.

“Mau tanya apa?” tanyanya. Kami segera ingat akan daftar pertanyaan kami.

Pak Wasilan sudah sejak kecil tinggal di sini, sudah turun temurun. Kini ia menempati rumahnya bersama 4 orang anggota keluarganya: istrinya, anak lelakinya, menantunya, dan cucunya. Di hadapan kami istrinya sesekali ikut menimbrungi percakapan sambil asik mengemong cucunya. Sementara itu ayah dan ibu cucunya sempat terlihat bersama di dekat sumur.

Ia baru aktif bekerja sebagai petani selama 2 tahun ini, yaitu sejak ia pensiun sebagai buruh rakyat di pemerintahan alias PNS. Aktivitasnya kini menanami hutan pemerintah dengan jagung, ketela, kacang, dan kedelai secara tumpang sari. Ia memiliki lahan seluas 1 hektar namun letaknya terpisah-pisah dan ia tidak harus membayar untuk itu. Air untuk membasahi tanaman-tanamannya didapatkan hanya dengan mengandalkan hujan saja. “Kalau nggak ada ya sudah. Mau minum aja beli. Ada sumur tapi ada sumbernya dan bayar setiap bulan tergantung pemakaiannya berapa m3,” tambahnya. Ia tidak ikut kelompok tani mana pun karena tidak sempat ikut mendaftar.

Penghasilannya dari bertani tidak seberapa. Dalam setahun ia hanya mendapatkan sekitar 4 juta dari tengkulak. Semuanya hanya untuk keluarga dan tidak dibagi untuk mantri. Namun ia bisa mendapatkan penghasilan tambahan dengan menjual sapi-sapinya—yang diberinya makan macam-macam dari hutan seperti kolonjono, jagung, dan salam. Juga dari kebun jati yang membentang di belakang kandang.

Ceritanya tentang kebijakan di kawasan hutan sini hampir mendominasi pembicaraan. Sebelum ada Gerakan Nasional, hutan dikerjakan oleh Dinas Kehutanan. Lahan dibuka sekian hektar dan beberapa ratus Kepala Keluarga dipekerjakan untuk menanaminya dengan jangka waktu pemanfaatan lahan paling lama 3 tahun. Menurutnya ini adalah kebijakan yang bagus dan tepat sekali. Pembicaraan terus berlanjut diisi dengan isu-isu menarik yang tak sempat kami torehkan dalam catatan. Kami mungkin tak begitu paham juga.

Azan maghrib mulai mengiang-ngiang. Langit sudah gelap benar. Kami mengundurkan diri hendak pulang meski kebingungan masih mencokoli kepala: hendak lewat jalan yang mana ke penginapan? Kami tidak hapal jalan dan tidak pula membawa penerangan. Biarlah intuisi yang membawa kami.

Kami bangkit dari kursi dan mengitari samping rumah untuk sampai kembali di jalan berbatu.

“Kanan apa kiri nih?

“Kayaknya kiri deh.”

Kami berjalan ke kiri dan menanamkan niat untuk menembus gelap, apapun nanti yang akan kami temui di jalan. Tapi sepertinya lebih baik kembali ke penginapan laki-laki di Menggoran. Jalan menuju ke sana lebih dikenali karena tinggal menyusuri aspal saja. Maka kami pun balik kanan. Tahu-tahu Pak Wasilan sudah berada di depan rumahnya. “Loh, kalian mau ke mana?”

“Ke penginapan, Pak.”

“Di mana?”

“Di rumah Pak....” Kami menyebutkan nama mandor hutan yang rumahnya jadi tempat kami menginap. Rupanya Pak Wasilan tidak begitu mengenalnya. Lalu kami bilang bahwa kami akan menelepon teman kami saja dan minta dijemput di depan. Kali ini, biarlah pulsa yang tersisa di hape yang akan menyelamatkan kami. Pak Wasilan mengatakan kalau ada apa-apa kembali saja ke rumahnya dan minta dijemput di sana. Rasanya terenyuh hati ini dengan kebaikannya namun kami tetap dengan niat kami untuk menunggu teman kami di depan saja, di dekat SDN Banyusoco. Pergilah kami dari halaman rumahnya. Kami tembus gelap yang sudah benar pekat hingga cahaya motor yang menjemput kami di ujung jalan menyilaukan mata. Purna sudah tugas kami melakukan inventarisasi sosial masyarakat desa hutan meskipun tidak semua poin di daftar pertanyaan dapat kami lontarkan.

Jumat, 05 Februari 2010

JOGJA CLOTHING ATTACK 2010: Angkat Eksistensi Merek Lokal


JOGJA, PANDAWA – Jumat (5/2), Jogja Clothing Attack 2010 mulai dihelat EO Indie Pro di GOR Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) hingga Minggu (7/2). Acara yang dimulai dari pukul 10.00–22.00 WIB ini dibuat untuk mengenalkan merek-merek clothing lokal kepada kaum muda.

Acara yang didukung Pemerintah Kota Yogyakarta ini baru pertama kali diadakan. Berbeda dengan Kickfest, yang sudah beberapa kali diadakan, acara ini bertujuan mengangkat merek-merek lokal. Dari 33 stand, hanya 3 yang mengusung merek luar. Salah satunya adalah Trix dari Jakarta. Merek-merek lokal yang ditemui antara lain Blackstar, Whyzein, Huit, Fel & CO, Routing, dan Deth Aparell.

Nandi, salah seorang panitia, mengatakan bahwa yang menjadi parameter keberhasilan acara ini bukanlah banyak atau tidaknya pengunjung. Ia berharap acara ini bisa memfasilitasi para pemilik merek lokal untuk membentuk asosiasi.

Awalnya ia pesimis. Sementara acara clothing lain umumnya mengusung merek-merek besar, acara ini malah memainkan kekuatan merek lokal yang belum banyak dikenal. Ia khawatir kaum muda Jogja sudah ter-mindset untuk lebih membeli merek-merek luar.

Hingga sekitar pukul 7 malam, saat PANDAWA berkunjung, sudah 4000-an tiket masuk yang terjual. Satu lembar tiket dihargai 5000 rupiah. Menurutnya, ini sudah relatif bagus. Kendalanya adalah cuaca yang tidak menentu. Sejak Jumatan hingga sekitar Maghrib, hujan turun sehingga lokasi cukup lengang. Namun sekitar Isya, tampak muda-mudi mulai memadati lokasi.

Isna, pelajar SMK 5 yang magang di Blackstar, mengungkapkan bahwa stand-nya termasuk yang ramai dikunjungi sejak acara dimulai. Umumnya pengunjung tertarik dengan kaos berkarakter monster. Dengan kisaran harga 45.000–200.000 rupiah, pengunjung sudah bisa mendapatkan barang yang diinginkan.

Menurut Fe, salah seorang pengunjung yang sering menyambangi acara semacam ini, kualitas merek luar masih lebih bagus daripada merek lokal. Ia mengaku biasa menghabiskan 100.000–200.000 rupiah sekali belanja. “Ada beberapa yang sablonannya kurang bagus. Desainnya monoton. Over all sudah bagus tapi masih harus diperbaiki,” ujarnya yang diamini temannya, Karen. (DSA/RAM)

Rabu, 03 Februari 2010

Keluarga Jutek

Sejak hari pertama kami pindah ke lingkungan ini, kami sudah merasa betah dan kerasan. Banyak tetangga yang datang, mengajak berkenalan dan menawarkan bantuan. Tingkat kepedulian sosial di sini sangat tinggi. Gotong royong sudah mendarah daging dalam tubuh para pemukimnya. Dan senangnya pula, seperti sudah tradisi saja, para tetangga di sini suka saling mengirimkan makanan!

Keluargaku menanggapi sikap hangat para tetangga dengan positif. Dalam waktu dekat kami sudah seperti membentuk suatu sistem kekerabatan antar tetangga. Kami dekat satu sama lain dan senang apabila dapat saling membantu.

Tapi aku dan keluargaku sama sekali belum pernah melihat tetangga yang tinggal di samping kanan rumah kami keluar rumah. Sementara bila pada sore hari bapak-bapak duduk-duduk di teras sambil minum kopi, ibu-ibu berkumpul di pagar sambil ngerumpi dan anak-anak pergi ke luar rumah untuk bermain, tak satupun dari anggota keluarga yang tinggal di sebelah rumah kami ini menampakkan batang hidungnya. Rumah mereka selalu kelihatan sepi, seperti tak berpenghuni.

“Emang tu rumah udah berapa lama nggak ada orangnya?” tanya Inay, kakak perempuanku, yang kadang-kadang ikut berkumpul bersama para ibu meski seharusnya dia bergabung dengan anak SMA sebayanya.

“Siapa bilang nggak ada orangnya?” ujar Bu Endah, tetangga depan rumah. Ia yang paling dekat dengan keluarga kami di antara tetangga-tetangga lainnya karena paling sering mengirimkan makanan.

“Oh, ada ya?” tanya ibuku.

“Adalah! Mereka lagi ada keperluan keluarga ke Singapur, kunci rumahnya kan dititipin ke saya!” jawab Bu Endah agak membanggakan diri. Kami semua lalu memandang ke arah rumah besar itu. Memang bukan satu-satunya yang besar di kawasan ini, tapi
tu rumah emang bagus sih. Kesannya mewah dan elegan gitu.

“Ada yang ngejagain gak sih? Rumah segede gitu pasti banyak yang ngincer,” kataku ikut angkat suara. Di kelompok penggosip ini, aku yang usianya paling muda. Bersama-sama kakakku tentunya.

“Ada. Tapi jarang nampakkin diri.” Bu Endah setia menjawab.

“Kalo penghuninya, ada berapa orang? Anak-anaknya kayak gimana? Ada yang segede Inay nggak?”

“Anaknya dua orang, laki semua,” ujar Bu Ajeng. Aku dan Inay mengucapkan, “Wah!” bersama-sama.

“Ganteng-ganteng pula. Kira-kira sebayalah, dengan Neng Inay ma Neng Inon.”

“Tapi mereka emang jarang keluar rumah sih,” kata Bu Endah lagi. “Orangnya…rada-rada jutek!”

“Tapi anak-anak cowoknya nggak kan?” kata Inay antusias.

“Sama aja deh kayaknya, Neng,” timpal Bu Ajeng. “Rumah Ibu kan deket lapangan, tapi ibu nggak pernah liat mereka main di sana kok.”

“Ya, wajarlah, mereka kan lagi di Singapura,” kataku.

“Mungkin ibu aja kali, yang nggak hapal wajah mereka,” tambah Inay.

“Nggak kok, suer!”

“Inay! Inon! Masuk, beresin tuh dapur! Abis diapain sih sampai dapurnya ancur gitu?!” Bapak kami ternyata udah misuh-misuh di depan pintu rumah.

“Aduh, pasti tadi abis bikin kue, kita lupa ngeberesin lagi!” ujar Inay.

“Kan ada Bi Inah,” kataku.

“Bi Inah lagi pulang kampung, Bego! Cepetan ah!”

Inay menyeretku masuk rumah, meninggalkan ibu-ibu yang tambah asik ngerumpi. Dan sambil membersihkan dapur, gagasan itu tiba-tiba muncul di otak Inay.

“Non, pas mereka balik dari Singapur, kita gebetin mereka yuk!”

“Hah?! Gebetan lo udah ratusan kali!” teriakku.

**

Keesokan paginya, dari jendela kamarku di lantai 2, aku melihat sebuah Audi hitam menunggu di depan rumah di samping kanan kami. Pagar rumah tersebut terbuka dan terlihat tanda-tanda kehidupan.

“Inay! Inay!” teriakku.

“Apaan?!” Inay yang sedang mengancingkan seragamnya mendekat ke arahku, menengok ke arahku dan lalu ke arah rumah tersebut.

“Wah, tetangga sebelah rumah udah pulang, bow! Kita samperin yuk!”

“Gila lo! Pagi-pagi gini! Kenal juga nggak!” ujarku.

Lalu kami melihatnya. Orang cakep pertama. Milik Inay, memakai seragam SMA, bertubuh gagah, masuk ke dalam mobil. Eh, nggak deng, cuman masukin tasnya doang.

Lalu datang orang cakep kedua. Ini bagianku. Sama aja sih kayak kakaknya, cuman badannya agak lebih kecilan dikit aja. Berseragam SMP dan tampak sangat keren.

“Caaakeeeep…” ujarku dan Inay berbarengan. Kami terpesona melihat pemandangan indah di pagi hari itu.

“INAY! INON! KALIAN MO DI ATAS SAMPE JAM BERAPA?! KALAU KALIAN LAMA-LAMA BAPAK BISA TELAT! ANAK PEREMPUAN KOK MALES YA?!”

“Huuuuh… Babbeh!” teriakku dan Inay bersamaan.

**

Sore hari, waktunya ngerumpi

“Tetangga sebelah, kok mukanya gitu ya,” ujar ibuku sambil sesekali melirik ke arah rumah besar di samping rumah. Di halamannya yang luas, tampak seorang wanita berwajah judes sedang mengawasi halamannya itu. Lalu ada pembantunya yang sedang menyiram tanaman, berwajah judes juga.

“Ih, gila. Tampang pembantunya aja udah jutek gitu, apalagi yang punya rumahnya!” sungut Inay yang paling sebel kalo udah ngeliat wajah orang yang lagi jutek padahal nggak ada apa-apa yang pantes dijutekin.

“Udahlah, da biasanya juga emang gitu. Udah bawaan kali. Eh, udah ketemu sama anak-anaknya belum?” tanya Bu Endah.

Aku angkat bicara. “Ngeliat sih udah. Tapi baru tadi pagi aja, abis itu nggak lagi deh. Kita awasin terus rumah mereka, tapi merekanya nggak keluar-keluar.”

“Tapi, gila, cakep banget bo, apalagi itu tuh, yang udah SMA. Tante tau nggak namanya?” kata Inay semangat.

“Hmmh, anak ibu, bukannya belajar, main ma cowok terus kerjaannya!” kata ibuku jutek.

“Jangan gitu Bu, nanti wajahnya jadi kayak tetangga sebelah lo!” ujarku keras-keras—gak peduli bakal kedengeran ma orangnya apa nggak— sambil menirukan wajah terjutek yang aku punya, nyaris mirip dengan wajah si tetangga sebelah. Kami semua ketawa.

Malam harinya, Inay jadi semakin menggebu-gebu untuk bisa segera berkenalan dengan tetangga sebelah. Aku juga sama sih, tapi aku kan setia ma gebetanku yang di sekolah. Jadi aku memilih untuk bersikap pasif aja.

“Besok sore yuk, kita kirimin mereka kue!” seru Inay semangat, menutup obrolan kami malam itu.

**

Akhir-akhir ini hujan sering turun dengan lebatnya. Apalagi pas sore-sore. Dan bapak sangat bersyukur kegiatan ngerumpi yang sering berlangsung di pagar rumah dan mengganggu pemandangan sorenya itu terhenti untuk sementara. Dan batal deh jadinya rencana kami untuk mengirimkan tetangga sebelah kue. Kue-kue yang udah terlanjur dibuat dan batal dikirim itu pun akhirnya kami konsumsi sendiri.

Sampai datang suatu siang menjelang sore yang cerah. Aku dan Inay sedang semangat membuat kue untuk dikirim ke tetangga sebelah ketika ibu datang dengan muka kusut.

“Kenapa, Bu?” tanya Inay sambil menjilati adonan coklat di jarinya.

“Itu tuh, tetangga sebelah!” sungut ibu. “Disenyumin sama disapa baik-baik, ramah-ramah, hangat-hangat, eeeeh…bukannya ngebales, malah baeud coba! Ibu kayak dianggap angin lalu aja, dicuekin! Dan itu udah berlangsung beberapa kali! Sampai yang terakhir kalinya sebelum ini sih ibu masih sabar-sabar aja, tapi lama-lama kan nggak tahan! Jangan bikin kue buat tetangga sebelah, ah!”

“Eeeh, ibu! Ini kan udah terlanjur dibikin! Masak mo dimakan sendiri lagi sih? Bisa-bisa Inay tambah gendut!” Inay protes.

“Pokoknya jangan bikin. Awas, nggak nurut ma orangtua!” Ibu tetap bersikeras.

Inay langsung cemberut. “Kamu aja yang makan deh!” serunya sambil menyodorkan kue pertama yang baru jadi dan masih hangat karena baru keluar dari oven (iyalah, emangnya dari tong sampah!) itu ke arahku.

“Ih! Nggak! Sori! Gue juga lagi diet tau! Kasih aja ke kucing!” Aku menunjuk Epson, kucing yang baru kami pungut dari jalanan seminggu yang lalu. Gitu-gitu, tu kucing udah dibawa ke dokter hewan, dibersihkan dan divaksin lo. Soalnya kami sekeluarga nemuin dia pas dia lagi sekarat! Jadinya langsung kami bawa ke dokter hewan terdekat.

“Gila! Epson sekarat lagi gara-gara salah makan, baru tau rasa lo! Kasih bapak aja deh nanti!” Inay segera duduk di sofa terdekat sambil cemberut. “Tapi anak-anak cowoknya nggak ikut-ikutan judes kayak bonyoknya kan?”

Aku mengangkat bahu. Malam harinya giliran bapak yang marah-marah gara-gara mobilnya keserempet ma tetangga sebelah ketika sama-sama hendak memasukkan mobil. Dua-duanya nggak ada yang mo ngalah, sampai Pak RT datang dan mengclearkan masalah.

“Tapi anak-anak cowoknya nggak kayak gitu kaaaaaann?!” Inay tetap pada pendiriannya.

**

Pulang sekolah hari ini agak sorean karena aku main dulu di rumah temen. Tapi pulang sekolah sore-sore justru lebih enak daripada pas siang-siang ketika matahari masih panas-panasnya. Sore-sore kan adem!

Jalanan menuju rumahku udah mulai rame dengan rutinitas sorenya yang biasa. Aku senang memperhatikan ini dan rumah-rumah di sekitarku, apalagi ketika sudah mendekati rumah si tetangga sebelah. Di carport rumah tersebut terpasang sebuah ring basket dan tiap kali melihatnya aku selalu berkhayal sedang bermain basket bersama si cowok cakep tetanggaku itu.

Tapi kali ini rumah tersebut tampak rame. Ada sebuah mobil dan beberapa motor terparkir di depan rumah. Wah, pasti lagi banyak tamu nih. Dan ternyata memang iya. Sepertinya teman-teman si cowo cakep (kayaknya sih yang udah SMA) lagi pada main di situ. Dan ada beberapa cowok yang lagi nongkrong sambil main gitar dan tertawa-tawa pula di beranda rumah yang luas dan menghadap ke jalan itu.

Dan begitu aku melangkah melewati rumah tersebut, tawa mereka semakin keras. Sepertinya mereka sedang menunjuk-nunjuk ke arahku. Atau bukan? Kan yang ada di jalanan ini nggak hanya aku aja. Tapi…, kok perasaanku nggak enak, ya?

Aku menoleh.

“Tuh, liat, dia noleh!” salah satu dari mereka berteriak dan mereka segera ketawa-ketawa lagi. Aku cepat-cepat memalingkan muka. Semoga aja yang noleh ke arah mereka di jalanan ini nggak hanya aku aja. Amin! Amin! Amin!

“RRRRR! GOGOGOGOGOGOGOGOGOG!” Aku langsung berlari sekencang-kencangnya dari situ. Cowok-cowok nyebelin itu ketawa makin keras. Orang-orang di sekitar situ juga kaget melihat tiba-tiba ada gongongan keras dari arah rumah tersebut. Tapi sepertinya cowok-cowok tersebut cuman ketawa buat aku! Sesampainya di rumah yang cuman beberapa meter dari tempat kejadian, para bigos yang juga kaget langsung menyambutku.

“Ada apa sih? Ada apaan? Non, ada apaan?” Inay bertanya-tanya penasaran. Aku nggak menghiraukannya dan terus masuk ke dalam rumah sambil berteriak, “Gak tau! Gak tau! Gak tau!”

**

Sejak saat itu, selalu muncul gonggongan menyeramkan dari arah rumah sebelah. Gonggongan tersebut berasal dari seekor anjing (ya iyalah, emang kucing!) besar yang menyerupai herder yang terkenal karena galaknya itu.

Bu Endah dan Bu Ajeng bilang, keluarga tersebut memang sudah mempunyai anjing sejak dulu, tapi jarang dikeluarin karena mereka tau kalo anjing kesayangan yang hanya jinak pada mereka itu galak banget ma orang asing, apalagi tetangga baru! Kalaupun pernah, pasti dikeluarinnya pas malem-malem buta dan itu dilakukan khusus untuk olahraganya si anjing. Tapi entah kenapa sekarang si anjing yang nggak kalah jutek dari pemiliknya itu jadi disuruh nongkrong di balik pagar rumah setiap hari.

“Dan selalu di jam-jam saat kita mau ke luar rumah!” kata ibu antusias. “Kalian mo pergi ke sekolah, bapak ke kantor, anjingnya dikeluarin. Ibu mo ke warung, anjingnya dikeluarin. Jam kalian pulang sekolah, jam kalian main di luar, jam ibu ngerumpi, jam bapak pulang dari kantor, selaluuu aja, ada di anjing g***** sialan itu!”

“Ck! Udah dijadwal kayaknya!” potong bapak.

“Emang mereka dendam apa sih, ama kita? Gitu-gitu banget!” ujarku.

Inay yang ternyata udah jadi korban juga ikut berkomentar. “Tau nggak, waktu Selasa kemarin Inay ma temen-temen ke rumah, sama temen-temennya si cowo brengsek itu kita dikatain cewe kampungan coba! Belum pas anjingnya itu ngegonggongin, temen-temen Inay kan pada takut anjing. Puas deh diketawain! Padahal Inay kan sekolah di SMA elit se-Bandung, Inay nggak terimaaaa!” Inay sepertinya lupa pada kalimat tapi-anak-anak-cowonya-nggak-gitu-kan yang dulu sering diucapkannya.

“Kita apain ya, mereka?” ucap bapak. Semua anggota keluarga pun berpikir di tengah suasana makan malam tersebut.

Tiba-tiba Inay nyeletuk, “Bu, pingin BAB nih…”

“Ih! Pantesan dari tadi bau kentut! Cepetan ke belakang gih!” Kami semua, kecuali Inay, menutup hidung.

“Tapi nggak bisa keluar… udah berapa hari, nggak tau… takut ada apa-apa nih!”

“Ambil tuh, obat pencaharnya Om Burhan di kotak P3K!” ujar bapak cepat.

“Sejak kapan kita punya obat pencahar, Pak? Di keluarga kita kan nggak ada yang punya masalah yang kayak gituan. Yah… kecuali si Inay sekarang…” kata ibu sambil memandang Inay dengan pandangan prihatin.

“Ibu jangan gitu dong!”

“Waktu Om Burhan ke sini pas syukuran rumah, obatnya ketinggalan…”

“Ah! Bener! Anjingnya kita kasih obat pencahar aja!” seruku cepat. Semuanya langsung memandang ke arahku.

“Wah, dapet ide brilian darimana lo?!” jerit Inay sumringah.

“Tapi kalau malem-malem anjingnya pasti ditaruh di luar kan, buat jaga rumah,” sambung ibu.

“Ah, nggak mungkin. Mereka kan sayang banget sama anjingnya, Bu. Pak RT yang bilang kok, sampai-sampai di dalem rumah pun disediain ruangan khusus. Pasti anjingnya ada di dalem!”

“Tapi kalo malem-malem anjingnya kan suka dibawa ke luar!”

“Tapi tulang mainannya si Dogi kan ada tuh, suka ditinggalin di luar. Jadi, pas si anjing ma pemiliknya yang nganterin jalan-jalan itu udah pergi, kita menyelinap diam-diam. Orang-orang rumah pastinya udah pada tidur juga kan? Gak bakal ketahuanlah! Kita lumurin tulangnya pake obat pencahar, kan obatnya berupa sirup tuh. Trus pas si Dogi main-main ma tulangnya, berhasil deh rencana kita!”

Rencanaku itu disambut meriah oleh semuanya. Kami pun segera menyiapkan barang-barang yang kami perlukan. Kami menunggu sampai tengah malam, lalu bapak dan Inay (yang punya dendam paling besar) segera beraksi dengan pakaian serba hitam. Aku dan ibu salat tahajud di rumah, mendoakan keberhasilan untuk ini. Bapak dan Inay pun kembali ke rumah dengan selamat, tepat ketika si anjing dan pemiliknya kembali ke rumah mereka. Kami pun segera mengadakan pesta kecil-kecilan.

**

Beberapa hari setelah itu…

Aku dan Inay baru pulang dari bermain basket dari lapangan sore itu, ketika kami melihat si Nyonya Jutek a.k.a Tetangga Sebelah keluar dari rumah kami dengan tampang super kusut, super jutek, dan super marah. Ia melotot dengan penuh emosi begitu berpapasan dengan kami.

“Ada apa sih, Ma?” tanya Inay begitu melihat ibu sedang membereskan majalah di ruang tamu.

“Tau tuh, tetangga,” ujar ibu cuek. “Dia bilang anjingnya keracunan makanan gara-gara kita, padahal mana? Buktinya aja nggak ada. Kita kan tetangga yang ramah dan baik hati. Iya kan? Aneh-aneh aja. Menyelinap malam-malam katanya. Maling kali!”

Aku dan Inay tersenyum. Rencana kami berhasil. Tapi kegembiraan tersebut segera berganti jadi kesedihan. Keesokan harinya,

“EPSON MANAAAAAA?!” jerit Inay. Dia soalnya yang paling sayang ma Epson.

“Kita lapor polisi, Pak… Atau bikin selebaran buat nyari si Epson…” rengek ibu.

“Padahal dia begitu baik, begitu lucu, begitu lincah, temannya banyak…, Amelia kali! Pokoknya, sungguh banyak yang telah dia lakukan pada keluarga kami, hk, hk…,” aku nggak mau kalah sedih jadi aku menempelkan bawang di mataku supaya bisa menangis. Ya, Epson, kucing kesayangan kami hilang. Langsung saat itu juga keluargaku bergegas ke luar rumah untuk mencarinya. Aku ikut ke luar rumah dan menemukan si cowok cakep sebelah rumah yang sama denganku, masih duduk di bangku SMP, sedang men-dribble bola basket di depan rumahnya sambil berjongkok.

“Kamu liat Epson nggak?” tanyaku dengan mata sembab karena bawang. Nilai plus untukku karena sudah berhasil menegurnya duluan.

“Siapa Epson?”

“Kucing. Kucing kesayangan kami, dia hilang tak tentu rimbanya. Tahukah kau ke mana perginya?” Aduh, jadi dramatis gini… pasti gara-gara pengaruh bawang!

“Ikut eskul teater ya, Mbak? Nama kucing kok Epson, printer kali! Paling-paling dia udah dimakan ma si Vicky.”

“Siapa Vicky?”

“My Dogi. Nama panjangnya Victoria Adams Barbara Margareta Aurelia Saragosa Felicia Carmanita. Sekarang dia lagi dirawat inap di kelas VIP sebuah rumah sakit khusus hewan elit di Singapura. Pasti gara-gara diracunin ma keluarga lo tuh! Udah gitu makan kucing lo yang…ih, jorok itu pula. Jadi aja tambah sakit! Untung cuman mencret-mencret doang!”

“Anjing kok kayak manusia sih? Dikasih nama panjang-panjang, dimasukin ke kelas VIP, di Singapura pula. Mending duitnya tuh, ya, disumbangin ke fakir miskin! Lagian, suruh siapa makan kucing?”

“Emangnya lo siapa sih?! Suka amat ngurusin anjing orang. Kampring lo!”

“HAH?!”

Sejak itu aku nggak mau berurusan dengan keluarga itu lagi, apalagi keluargaku. Mereka tambah marah aja sewaktu tau si Epson ternyata sudah tewas dimakan Vicky. Perang pun semakin memanas, dan tiba-tiba datanglah sebuah keanehan.

Suatu sore, seperti biasalah, Bu Endah datang mengirimkan sebuah puding ke rumah kami.

“Aduh makasih, udah lama loh, Jeng nggak ngirim makanan ke sini lagi,” ibu menerima puding itu dengan senang hati.

“Oh, soal makanan sih, saya emang udah nggak niat ngirim ke sini lagi, hohoho, cuman bercanda kok. Tu puding bukan dari saya, tapi dari Nyonya Tetangga Sebelah….”

“HAH?! Nggak mau ah. Nih! Saya balikin! Takut ada apa-apanya!” ibu memaksa Bu Endah menerima puding itu kembali. Bu Endah segera menolaknya, dan memaksa tangan ibu untuk tetap memegangnya.

“Sama! Saya juga takut ada apa-apanya! Tapi Bu, kalo barang yang udah diterima nggak boleh dibalikin lagi loh!”

“Emangnya siapa yang nerima?”

“Sampeyan ini gimana? Wong dia ngasihnya dengan tulus ikhlas kok, ya terima saja! Lagian dia juga titip pesan, katanya mo berdamai! Kalo ibu terima, ibu mesti bales ngasih makanan lagi, yang artinya iya, saya mo damai!”

“Masak sih?”

“Percaya deh ama saya!”

Ibu termakan omongan Bu Endah dan kami sekeluarga memakan puding tersebut saat makan malam.

“Enak nih,” ujar Inay. “Si cowok cakepnya ikut bantuin juga nggak ya?”

“Heh, katanya udah ilfil! Tapi kok mereka masih mo damai ma kita, ya?” celetukku.

“Udah, makan jangan sambil ngomong. Ayo, ayo, nambah lagi. Makanan enak harus dihabiskan!” kata bapak sambil terus mengambili puding dan memakannya dengan lahap.

Dan beberapa lama setelah itu, kami semua sudah mengantri di depan pintu kamar mandi. Perut kami rasanya melilit seakan-akan minta semua isinya dikeluarkan!

“Ibuuuuuu! Cepetan dong, B-A-B-nya! Udah nggak tahan nih!” jerit Inay, menggedor-gedor pintu WC sambil memegangi perutnya yang melilit.

“Bentar dong! Duh, kenapa sih kita semua bisa pingin B-A-B-nya barengan?” bales ibu.

“Bapak mo numpang di rumah tetangga aja ah,” ujar bapak sambil buru-buru lari ke luar rumah.

“Ikut Pak! Ikut Pak!” seruku. Tapi mau melangkah pun rasanya susah!

“Ibuuuuuu! Keburu keluar nih, cepetan! Gila, rasanya kayak pas abis minum obat pencaharnya Om Burhan aja! Eh? Obat pencahar?”

“Itu dia! Obat pencahar alias obat pencuci perut!” seruku setuju, melupakan sensasi pingin BAB-ku sejenak.

“GILAAAA!” seru Inay histeris. “Gak kreatif amat tu keluarga. Plagiat, niru-niruin kita pake obat pencahar!”

“APAAA?!” seru ibu dari dalam WC. Lalu terdengar gumaman, “Awas, ya, si Bu Endah kalo ketemu nanti….”

“Jadi sekarang skornya berapa?” tanyaku.

Inay berkata dengan penuh dendam, “Gak peduli mereka skornya mo berapa (karena skor mereka udah beberapa angka di atas kita), yang penting kita mesti BALAS DENDAAAAAAAAAAM!”

**

Perang di antara keluarga kami, yah seperti yang sudah dapat diduga, makin parah aja. Si Vicky, yang udah pulang dari rumah sakit makin keras menggonggongi kami setiap waktu kami lewat rumah tersebut (“Lain kali kita racun beneran deh, biar koit sekalian!” kata ibu nafsu), dan kami pun lalu berinisiatif untuk memukuli anjing itu dengan buah-buahan busuk yang sengaja kami pesan dari warung tiap kali dia menggonggong, tak peduli seberapapun kerasnya dia begitu. Dan untungnya dia nggak pernah berani meloncati pagar rumah dan mengejar kami karena kami selalu sudah bersiap-siap untuk menimpukinya dengan batu kali yang gede-gede. Lalu kami pun berganti siasat perang dengan lomba menyetel radio-tape keras-keras. Mereka menyetel lagu-lagu cadas yang keras-keras, kami lawan dengan musik klasik, masyid atau qasidahan.

Ketika masalah kami menjadi semakin rumit, Pak RT lalu menghubungi RW, lurah dan camat untuk menyelesaikan masalah. Kami semua hadir di balai pertemuan setempat dalam persidangan kecil-kecilan. Dan hukuman yang diberikan pengadilan pada kami adalah : keluarga yang satu harus mengunjungi keluarga yang lainnya secara bergantian selama minimal 2 jam sehari dalam setahun/sampai salah satu keluarga pindah dengan diawasi oleh petugas kelurahan. Untuk menciptakan tali silaturahmi katanya. WADDUH!


2004