Senin, 24 Oktober 2011

Sang Penari Latar



            Aku membuka sebuah buku setebal sekitar 1000 halaman. Warna halaman buku tersebut sudah menguning. Buku ini terbit di tahun 80-an. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang menjual buku ini sekarang.
            Isi buku tersebut mengenai keadaan Bandung tempo dulu. Gaya bahasanya cukup enak dibaca. Penulis terkesan ingin berakrab ria dengan pembacanya. Namun saat ini aku sedang tidak tertarik untuk membaca. Aku memerhatikan gambar-gambarnya saja. Gambar-gambar tersebut berupa ilustrasi tangan maupun foto hitam-putih.
            Aku sampai pada halaman di mana terdapat sebuah foto yang menunjukkan Gedung Palaguna pada awal berdirinya. Palaguna menjadi mal favorit masyarakat Bandung waktu itu. Kita juga bisa menonton bioskop di sana. Kemudian mal lain bermunculan di kota kembang. Setelah krisis moneter tahun 1998, keeksisan Palaguna kian pudar. Tempat tersebut jadi terkesan kumuh dan menyeramkan. Sarang PSK dan kecoak.
            Saat aku meninjau ke sana akhir-akhir ini, lantai dasar gedung masih digunakan. Ada beberapa toko yang buka. Katanya kontrak mereka akan berakhir tahun 2014. Banyak wacana mengenai akan dibangun apa Palaguna setelah itu: RTH; perpustakaan; pusat seni dan budaya; macam-macam.
            Kubuka halaman lagi. Kali ini aku melihat Taman Tegallega tempo dulu. Gerbangnya yang melengkung jadi ciri khas. Taman tersebut telah ditetapkan statusnya menjadi kawasan konservasi setelah acara penanaman tanaman langka dari negara-negara Asia-Afrika dalam peringatan 50 tahun Konferensi Asia-Afrika beberapa tahun lampau. Sejak keluarnya perda mengenai pengelolaan taman tersebut, pengunjung diharuskan membayar retribusi agar dapat memasukinya. Yang aku herankan, penarikan retribusi ternyata tidak selaras dengan keadaan fasilitas yang ada di sana. Jembatan dan kandang burung terbengkalai. Sampah-sampai bertebaran. Kutemukan banyak pula pedagang di sana padahal sudah jelas peraturan—yang terpampang besar-besar setelah gerbang yang kumasuki—mengatakan bahwa tidak boleh ada pedagang di dalam kawasan.  
            Aku mengusap foto tersebut dengan telapak tangan kananku. Permukaan halaman terasa halus. Tiba-tiba seberkas cahaya menyeruak dari foto tersebut. Aku merasa seperti terhisap.
            Udara kering Bandung menyergap tubuhku. Sekelilingku tampak agak buram, sephia, sebagaimana kualitas foto yang kuusap tadi. Tapi mungkin juga karena langit tengah mendung atau waktu sudah menjelang petang. Cukup banyak orang di taman ini sedang melakukan aktivitas yang lumrah dilakukan pada sore hari seperti joging, bersepeda, atau sekadar nongkrong. Aku pandangi langit biru muda-pudar yang menaungiku. Tajuk pepohonan mengisi sekitarnya. Aku turunkan pandangan ke bawah. Aku dapatkan panorama yang tak asing. Monumen Bandung Lautan Api di seberang sana jelas menunjukkan bawah aku tengah berada di Taman Tegallega.
            Namun demikian, keadaan tampak berbeda dari keadaan taman tersebut yang terakhir kali aku kunjungi—sekitar sebulan lalu. Sekilas, aku mendapati perbedaan pada keadaan infrastruktur. Dan terutama adalah pakaian yang dikenakan oleh orang-orang yang ada di sini. Rata-rata mereka mengenakan pakaian dengan warna cerah mencolok. Potongan rambut mereka pun sangat zadul. Kebanyakan memiliki rambut mengembang. Sadarlah aku. Sepertinya aku sedang berada di era dua dekadean lampau. Aku langsung ngeh kalau yang kukenakan adalah jaket kulit dan celana jins yang melekat dari pinggang—bukan pinggul seperti yang jadi tren di eraku.
            Lalu aku perhatikan orang-orang yang tadinya tersebar tak teratur mulai bergerak membentuk suatu formasi. Aku tergiring menjadi bagian dari kumpulan tersebut. Entah dari mana datangnya, aku mendengar suara ketukan yang berirama. Keras sekali. Seperti ada sekian speaker mengepung kawasan ini, tapi aku tak melihat satu pun. Apakah tersembunyi di balik rimbun pepohonan? Segera, musik enerjik khas era ini menyusul. Tubuh orang-orang bergerak, tubuhku juga. Gerakan kami sama, begitu pula langkah kami. Suatu tarian massal. Tapi aku yakin ini bukan SKJ.
            Musik tak terasa lagi datang dari berbagai penjuru, melainkan menguar dari tubuh kami. Menjadi atmosfer yang kami hirup dan menggerakkan kami. Aku lihat di kejauhan sepasang laki-laki dan perempuan. Aku kira mereka beberapa tahun lebih tua dariku. Pakaian mereka tidak berbeda dari kami. Rambut yang perempuan dikuncir ekor kuda. Tinggi badan yang laki-laki mungkin beberapa belas cm lebih tinggi. Rambutnya lurus lebat dan berponi panjang. Ia mengenakan kaca mata.
Tubuhku terus bergerak melakukan tarian yang sama dengan orang-orang lainnya, namun kuusahakan mataku tak lepas dari mereka. Lengan kananku melipat, menusuk ke kanan, ganti lengan satunya. Kakiku juga bergerak ke kanan lalu ke kiri.
            Orang-orang membentuk dua kelompok dengan laki-laki dan perempuan itu berada di depan masing-masing kelompok. Mereka juga melakukan gerakan yang sama dengan kami. Lalu aku lihat yang perempuan mendekat ke arah yang laki-laki. Laki-laki itu juga ikut maju. Mereka tidak dalam tarian yang sama lagi. Perempuan itu bernyanyi. Gerakannya tak lagi sama dengan kami. Begitupun yang laki-laki. Ia merespons gerakan perempuan tersebut dengan gerakannya sendiri.

“Teringat ku di masa lalu
Bersenda di taman yang indah
Sungguh riangnya di hatiku
Karna kini kita berjaya

“Citaku tercapai
Punyai kebebasan
Dan dikau berjaya, telah berjaya…”

Beberapa perempuan maju dan menari mengikuti gerakan perempuan berkuncir ekor kuda.

“Sinaran, mentari menyinari
Menusuk ke jiwaku
Ketika bersamamu
Masanya bila kita berdua
Bagai mahligai indah yang tumpah di muka dunia.”

Ganti laki-laki itu yang bernyanyi.

“Ikatan telah dijalinkan
Hatiku terima ketika
Segala rasanya di jiwa
Kemesraan terjalin cinta

"Citaku tercapai
Punyai kebebasan
Dan dikau berjaya, telah berjaya..”

Beberapa laki-laki juga maju lalu menari mengikuti gerakan lak-laki berkacamata tersebut.

"Sinaran, mentari menyinari
Menusuk ke jiwaku
Ketika bersamamu
Masanya bila kita berdua
Bagai mahligai indah yang tumpah di muka dunia.”

Saat menyanyi, gerakan mereka menyesuaikan kata-kata yang mereka lantunkan. Ketika tak menyanyi, gerakan mereka jadi sama lagi dengan kami. Aku perhatikan terus mereka sementara kedua lenganku terangkat ke atas, bergoyang, lalu turun lagi. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa hapal koreografi ini. Tubuhku bergerak dengan sendirinya. Mungkin begitu pula yang dialami orang-orang di sekelilingku. Ekspresi mereka tampak berseri-seri. Aku jadi ngeh kalau mungkin hanya aku yang bertampang bengong karena sukar memahami apa yang terjadi. 
Musik melambat. Perempuan berkuncir ekor kuda itu maju lagi dan menyanyi. Tubuhnya dan tubuh laki-laki berkacamata mendekat.

“Oh perihnya rasa
Pabila di kala tiada
Bagai kenangan yang tiba mewujud cahaya sedang menyinar… Oooo…”

Lalu mereka menari lagi bersama kami selama beberapa lama. Kami meloncat. Lengan kami bergerak serentak. Kaki kami lincah ke sana ke mari. Lalu sejoli itu berpisah lagi dari kelompok mereka masing-masing. Tubuh mereka kembali mendekat. Aku dengar laki-laki itu bernyanyi,

“Citaku tercapai
Punyai kebebasan
Dan dikau berjaya, telah berjaya…”

            Mereka mundur lagi dan bergabung bersama kami. Mereka tetap bernyanyi, bergantian seperti saling menyahut, namun gerakan mereka tetap sama seperti kami.

“Sinaran, mentari pun menyinar
Pabila dikau pulang
Bersama ku semula…
Masanya bila kita berdua
Bagai mahligai  indah yang tumpah di muka dunia…”[1]

            Mereka tak lagi bernyanyi, setidaknya bukan lagi berupa kata-kata utuh, melainkan seperti “uuu~huhu…” atau “duruduruuududu…” atau seperti itulah. Bergantian. Mereka tak lagi menari, melainkan saling mendekat lagi dan memandang lekat tiada putus. Mungkin mereka sepasang kekasih yang baru jadi.
Musik kontan berhenti seiring dengan kedua lengan kami semua, para penari, yang terangkat ke atas. Hal itu membuatku agak terkejut. Lalu orang-orang bubar.
            Aku menegur salah seorang perempuan berbaju pink menyala yang ada di dekatku. “Ada apa ya?” tanyaku.
            Ujarnya, “Oh, sebentar lagi mereka jadi suami istri. Kemarin baru lamaran.”
            Perempuan itu berlalu sementara aku manggut-manggut. Mereka sebetulnya tampak tidak asing bagiku. Tapi, entahlah, aneh juga. Baru saja aku balik kanan, bermaksud meninjau keadaan taman ini di tahun 80-an, ketika tubuhku terasa seperti terangkat, lenyap, dan terduduk lagi di atas kasur. Terasa beban berupa buku tebal yang telah menghisapku tadi di atas pangkuan. Sejenak pikiranku seperti kosong sebelum kemudian memahami apa yang barusan kualami.
            Inilah pengalaman pertamaku jadi penari latar.
           



[1] Sheila Majid - Sinaran

Senin, 17 Oktober 2011

Kenapa Kamu Harus Dengerin Lagu-lagu Ini

emerald band – pasti dapat

langkah-langkahku semakin berat berjalan/ hari-hariku semakin jauh tertinggal/ ternyata aku belum juga sampai/ di puncak citaku yang kujanjikan/ namun begitu/ ku tak kan pernah mengalah/ karna kupikir/ semua kan tercapai jua/ selalu/ ilusiku berkata / kejarlah anganmu/ jangan kau ragu/ yakinlah kau pasti/ mendapatkannya/ aku tahu pasti/ satu saat nanti/ anganku yang ada kan hadir di sini/ aku tahu pasti/ satu hari nanti/ aku pasti dapat apa yang ku cari/

Inilah theme song skripsi saya—yang belum dimulai saja sudah bikin galau. Teman saya bilang, ia tertawa saat saya mengsmskan penggalan lirik lagu ini padanya. Bukan main, padahal lagu ini sungguhan bagusnya. Liriknya pas benar dengan keadaan saya. Petikan gitar di awal sudah ciamik saja.

yopie latul – ayun langkahmu

ayun langkahmu/ sambut harimu/ mentari tlah lelah menunggu/ gapai harapmu/ capai citamu/ buanglah angan-angan semu/ dekaplah erat masa lalumu, kawanku/ dan rangkullah masa depanmu tanpa ragu/ pastikan pilihanmu tuk maju/ buanglah semua rasa putus asa/ hidup penuh tantangan/ hadapilah rintangan/ tiada yang mudah di dunia/ kegagalan, keberhasilan manusia selalu datang silih berganti/ jangan sampai kekecewaan di dada menahan ayunan langkahmu/

Yang mula memikat saya dari lagu ini adalah bagian tiada yang mudah di dunia/ kegagalan, keberhasilan manusia selalu datang silih berganti. Atmosfer lagu ini yang begitu ceria jika dihayati kiranya bisa membangkitkan semangat di dalam diri.

january christy – masa-masa

masa-masa keraguan/ usai sudah kini/ masa-masa yang kan datang/ mari bersama hadapi/ raih cita tuk sentosa/ jangan bimbang ragu/ tegar tiada kata jera/ dalam perjuangan nanti/ tanamkan kepastian/ dalam meraih cita/ yang menjadi harapan/ jalan berliku dalam kehidupan/ deburan hikmah semata/ masa-masa yang bahagia/ menanti di sana/ namun tanpa kerja nyata/ dan doa pada yang esa/ kiranya kan sia-sia

Paling kena buat saya di bagian tanamkan kepastian/ dalam meraih cita Seringkali saya sudah menginginkan sesuatu namun saya ragu apakah saya bisa mencapainya. Serasa kapasitas tak akan mampu memenuhi, padahal barangkali saja sebaliknya—belum juga dicoba. Maka ketika mendengar bagian tersebut saya merasa dikuatkan. Pastikan dan jalani saja apa yang menghadang sesudahnya.

benny soebardja – apatis

roda-roda terus berputar/ tanda masih ada hidup/ karna dunia belum henti/ berputar melingkar searah/ terik embun sejuta sentuhan/ pahit mengacuk pelengkap/ seribu satu perasaan/ bergabung setangkup senada/ curam-curam berkeliaran/ tanda bahaya sana sini/ padang rumput lembut hijau/ itu pun tiada tertampak/ sudah lahir sudah terlanjur/ mengapa harus menyesal/ hadapi dunia berani/ bukalah dadamu/ tantanglah dunia/ tanyakan salahmu, wibawa

Lagu ini di-cover Ipang untuk soundtrack film “Sang Pemimpi”. Saya dengar versi yang itu dulu baru versi zadulnya, namun saya lebih suka yang zadul. Lirik lagu ini terasa amat puitis—seakan metaforis. Bagi yang malas mikir, bayangkan saja serasa harfiah. Lalu sampailah pada bagian paling menohok, sudah lahir sudah terlanjur/mengapa harus menyesal.

Dunia berputar melingkar searah, sebagaimana orang sering mengibaratkan kehidupan bagai rollercoaster. Karena memang begitulah jalurnya rollercoaster, sehingga dia hanya bisa naik, turun, naik lagi, turun lagi, dan seterusnya. Pernahkah mereka-reka bagaimana jika rollercoaster tersebut ke luar jalur? Mungkinkah? Yang ada sih, penumpangnya celaka lalu perusahaan rugi karena barangnya jadi rusak.

utha likumahuwa – esok kan masih ada

wajahmu kupandang dengan gemas/ mengapa air mata slalu ada di pipimu/ hai nona manis biarkanlah bumi berputar/ menurut kehendak yang kuasa/ apakah artinya sebuah derita/ bila kau yakin itu pasti akan berlalu/ hai nona manis biarkanlah bumi berputar/ menurut kehendak yang kuasa/ tuhan ku tahu hidup ini sangat berat/ tapi takdir pun tak mungkin slalu sama/ coba cobalah tinggalkan sejenak anganmu/ esok kan masih ada/

Ini lagu kesukaan mama saya. Saya sudah berencana untuk memasukkannya pula dalam calon novel sebagai sebuah lagu penghiburan.

Sebagaimana “Apatis”-nya Benny Soebardja, lirik lagu ini mengingatkan soal putaran yang harus kita jalani seakan kita hamster dalam kandang. Mengandung antitesis juga untuk “Pasti Dapat”-nya Emerald Band, dan bikin saya sebal karena bagian ini, coba cobalah tinggalkan sejenak anganmu.

Esok kan masih ada, siapa yang tahu kapan kiamat tiba? Bagaimana jika kita tidak bangun lagi di esok hari? Audzubillah. Astagfirullah. La ilaha ilallah. Wallahu alam.

Kadang semangat ada karena kita membiarkan angan hidup dalam benak kita. Namun lagu ini sungguh ingin kita untuk realistis.

chaseiro – untukmu

dari wajah lusuhku ada/ satu harap penuh damba/ kau coba menulis padaku/ dunia penuh beda, ternyata/ keinginan hatimu, kawan/ tiada nyata tanpa kerja/ kau tahan kan semua hina/ tuk menempuh apa yang kau tuju/ likunya gelombang turut serta/ menghilangkan jejak cita/ segalanya ada padamu/ teruskanlah, buanglah putus asa/ marilah teruskan cita-cita/ jangan tertinggal dengan percuma/ semoga hari bahagia/ kan tiba, di hadapanmu/ seberkas, sinar pesona/ begitu pula kala kudamba

Hampir sebagian besar lagu Chaseiro yang saya miliki berlirik menggugah. Selain lagu ini, sebut juga “Tempat Berpijak”, “Suram”, “Sendiri”, “Semangat Jiwa Muda”, “Perangai Diri”, “Pengungkapan”, “Ceria”, dan lain-lain. Menurut saya esensinya amat intrapersonal.

Saya takjub akan kedalaman renungan yang dialami sang pencipta lirik kala menggubah. Entah apakah ia mengalami proses yang sama dengan saya atau tidak. Yang jelas, saya kerap merasa apa yang disampaikan lagu-lagu tersebut sesuai dengan diri saya namun itu tidak sampai membuat saya begitu kreatifnya hingga menjadikan pergulatan jiwa saya sebagai lagu-lagu.

rumah sakit – pisang

mati/ bila hati sudah jadi basi/ penuh/ malu sinar masih tidak berlalu/ ini bukan waktunya/ meracuni sendiri tanpa tahu/ buang saja dosamu/ cari sahabat dan mandiri/ ku kan mandiri/ malu/ hilang/ hingga saja buang dinyatakan/ tenang/ itu baru harus sudah dimulai/ minggu bulan pun baru/ hari-hari ikut berganti cerah/ bersih segar gemilang/ tanpa halangan dan rintangan/ dan rintangan/ raih/

Lagu-lagu Rumah Sakit memang berlirik absurd. Seperti judul salah satu lagunya yang pertama kali saya dengar langsung memikat pendengaran saya, “Anomali”. Nah, lagu yang ini juga entah apa hubungannya antara judul dengan isi—kok lagu judulnya “Pisang”?

Bagian paling menyentak saya dari lagu yang mengusung buah favorit saya ini adalah buang saja dosamu/ cari sahabat dan mandiri/ ku kan mandiri/, seakan mewakili suatu tekad, yang belum kunjung saya wujudkan.  

Betapa berhubungan dengan pisang, ada pula lagu Rumah Sakit yang berjudul “Kuning”. Itu pun favorit saya. Waktu saya masih kos, saya suka putar yang satu itu keras-keras saat galau melanda. Liriknya yang tidak jelas maksudnya—butuh penafsiran mendalam—amat mewakili ketidakjelasan yang kerap saya rasakan.
  
***

Sebagian lagu di atas saya ketahui dari mendengarkan radio 104.1 Ardia FM Jogja. Radio tersebut biasa memutar lagu-lagu Indonesia lawas pada pukul 7-10 WIB. Sebagian lagi saya peroleh dari penelusuran sendiri. Semuanya adalah lagu lawas. Sepengetahuan saya lagu yang umurnya “paling muda” adalah “Pisang”-nya Rumah Sakit—diproduksi dalam album self-titled tahun 1997. Chaseiro eksis di akhir dekade 70-an - 80-an awal . Yang lainnya saya kira muncul di dekade 80-an - 90-an awal.

Mungkin banyak lagu-lagu dalam negeri yang memotivasi juga di masa sekarang. Namun entah mengapa saya lebih suka dengan lagu-lagu zadul. Bukan sekadar masalah selera saja, saya kira. Berdasarkan pengetahuan saya akan lagu-lagu masa sekarang, belum ada yang liriknya mengena bagi saya. Selebihnya mungkin bisa dikatakan masalah selera atau hal lain yang saya kurang begitu mengerti.

Bagaimanapun saya ini remaja era digital yang tersasar di sekitar era 80-an. Juga angan saya untuk bisa merasakan masa SMA di pertengahan dekade 90-an. Cewek-cewek berambut bob, cowok-cowok berponi belah tengah, bawahan seragam sekolah naik hingga pinggang, baju bebas berupa t-shirt dan jins dengan ikat pinggang—bukan ikat pinggul, pulang sekolah menonton “Si Doel Anak Sekolahan” atau “Jin dan Jun”, beli kaset Singiku... Nah, kalau yang ini jelas angan yang amat sangat sukar sekali untuk digapai… :-/

Sabtu, 15 Oktober 2011

(When) Turtle (Really) Can Fly

Judul : Joshua Joshua Tango
Pengarang : Robert Wolfe
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2008

Belum cek kapan film “Turtle Can Fly” diproduksi. Novel ini sendiri diproduksi tahun 2004 di Amsterdam. Bisa jadi pengarang novel ini terinpirasi si film lalu membuat novel yang membuktikan kalau kura-kura memang bisa terbang—karena dalam si film yang bertajuk demikian sama sekali tidak ada adegan kura-kura terbangnya. Atau malah si pembuat film yang terinpirasi dari si novel. “Kura-kura dalam novel ini kok bisa terbang? Kayaknya bagus buat judul film.”—meski, sekali lagi saya katakan kalau dalam film tersebut sama sekali tidak ada adegan kura-kura terbangnya!

Ada Nobita dengan Doraemonnya, Timmy Turner dengan Cosmo dan Wanda—fairly odd parents-nya, lalu sekarang Marcel dengan Joshua. Mungkin impian dasar setiap anak yang lemah dan kesepian untuk memiliki seorang teman yang bisa selalu diandalkan.

Bukan robot kucing maupun sepasang peri bersayap, kali ini sang teman berwujud kura-kura ajaib dari Brasil. Ia tidak hanya bisa terbang, tapi juga berpikir, menyanyi, menari tango, bertelepati, bergurau, dan narsis. Novel ini menceritakan bagaimana kehadirannya dapat mengubah kehidupan seorang anak.

Mulanya Marcel Groen hanyalah seorang anak bertubuh kecil dan berambut kribo merah yang tersingkir dari pergaulan. Ia kikuk, kadang sikapnya kasar, sesekali bertindak pengecut, namun sebenarnya memiliki banyak potensi. Ibunya kabur, orang-orang di sekolahnya menyebalkan, ayahnya terlalu sibuk bekerja, penjaganya rese, belum lagi ada sepasang kakak-beradik yang suka mengganggunya setiap pulang sekolah.

Suatu hari ayah Marcel membawa pulang kura-kura tersebut, yang mulanya dinamai Herman, untuk objek penelitiannya. Ditengarai sang kura-kura memiliki kemampuan berpikir setaraf manusia, bahkan lebih, sehingga ayah Marcel yang peneliti hendak memasang alat untuk mengetahui aktivitas otak hewan tersebut.

Awalnya keberadaan Herman membuat Marcel takut—apalagi ketika kura-kura itu mulai coba berkomunikasi dengannya. Namun lama-lama Marcel bisa menerima sang kura-kura yang ternyata bernama Joshua.

Dengan kemampuan telepati yang dimiliki Joshua, Marcel bisa berkomunikasi dengan kura-kura tersebut hampir di setiap waktu. Kura-kura itu membantunya memberi jawaban oke di kelas—yang membuat Marcel jadi menarik bagi seorang cewek. Joshua juga membantu Marcel menghindar dari duet maut Luc dan Ed Jabrik.

Ketika Joshua mulai dipasangi alat oleh ayah Marcel, yang menyebabkannya tidak bisa melakukan aktivitas apapun supaya jati dirinya tidak terkuak, Marcel pun berusaha agar ia bisa terus bermain dengan Joshua. Satu-satunya cara adalah Marcel harus memberi Joshua tenaga mimpi agar Joshua bisa terbang. Aktivitas sang kura-kura tidak akan terdeteksi oleh alat yang hanya berfungsi hingga ketinggian tertentu tersebut.

Tenaga mimpi didapatkan dari mereka yang memiliki keinginan untuk mewujudkan mimpi mereka. Tentu saja keinginan ini berwujud tindakan. Marcel mencari-cari apa mimpinya. Ia pun mulai berlatih sepak bola. Ia juga mengirim surat pada ibunya.

“Kalau orrang melakukan sesuatu yang benarr-benarr diinginkannya, sesuatu yang selalu jadi impiannya, dengan sendirrinya akan muncul tenaga mimpi.” (hal. 62)

“…kau ingat tenaga mimpi, pusatkan pikirranmu pada apa yang benar-benar kauinginkan…” (hal. 67)

Ya. Memang Joshua bicara dengan r tebal. Bayangkan betapa telitinya dia yang harus mengetik dialog sang kura-kura.

Usaha Marcel tidak hanya memberikan sang kura-kura tenaga mimpi untuk terbang—tapi juga memberikan perubahan bagi kehidupan Marcel sendiri.

Karena Joshua bisa jalan-jalan lagi, mereka jadi mengalami berbagai petualangan seru. Misalnya ketika Joshua ingin mendapat ijazah penerbangan bertenaga mimpi. Petualangan ini mempertemukan mereka dengan seorang penyiar radio yang nantinya juga berperan dalam mewujudkan mimpi Marcel. Inilah buah dari mengambil berbagai risiko.

Dengan kemampuan terbangnya pula, Joshua menunjukkan pada Marcel bahwa di atas awan pekat yang menurunkan hujan ada langit cerah di mana lingkup pandang kita bisa lebih luas.

Langit terbentang luas dan berwarna biru cerah, matahari bersinar di cakrawala. Kabut yang barusan mereka tembus mengawang mengitari mereka bagaikan busa sabun mandi. Gumpalan awan berwarna putih dan abu-abu. Membentang ke segala penjuru seperti dalam pemandangan pegunungan khayalan. Mangkuk sup selebar laut. Begitu menyesakkan rasanya tadi, begitu luas rasanya sekarang, ada tempat untuk semuanya, untuk seluruh dunia, untuk lebih banyak daripada seluruh dunia!


“Kau tidak perrcaya saat kau kehujanan di bawah, tapi di atas selalu ada ini yang menanti.” (hal. 279)

“…Apa dalam kepalamu yang bikin bisa melihat pikirranmu?”

“Aku tidak tahu, Joshua. Kadang-kadang pikirannya kelihatan begitu saja. Mungkin ada sesuatu di bagian belakang kepalaku yang melihat pikiranku itu. Ya, mungkin ada semacam cahaya di bagian belakang kepalaku.”


“Kau benarr. Kau selalu punya mataharri di bagian belakang kepalamu yang kadang-kadang tidak kelihatan karrena terrtutup awan.”


“Orrang kadang punya pikirran yang sangat indah di atas sini. …” (hal. 280)

How subtile…

Menurut Joshua, keberanian adalah ketika kita takut tapi kita tetap melakukan sesuatu. Orang yang tidak takut tidak memerlukan keberanian. Orang takutlah yang memerlukan keberanian supaya ia bisa tetap melakukan sesuatu. Seolah Joshua telah menyuntikkan efek kata-kata tersebut padanya, Marcel jadi berani untuk melakukan banyak hal.  Misalnya saja ia berani mengambil bola yang tercebur ke kali. Aksinya malah membuat seorang pria ikut tercebur juga. Namun ia berani pula untuk minta maaf pada pria tersebut.

Ia juga berani menantang Jan-Miller, kapten tim sepak bola sekaligus musuhnya di sekolah, untuk adu penalti. Berkat latihan yang terus-menerus—yang mulanya untuk persediaan tenaga mimpi Joshua, Marcel jadi ahli dalam melakukan tendangan penalti. Meski tidak bisa memenuhi tantangannya, dan ia malah kabur gara-gara itu, ia telah menunjukkan kemampuan yang membuatnya dimasukkan dalam tim sepak bola sekolah.

Klimaks cerita berupa pertandingan antara tim sepak bola sekolah Marcel melawan tim sepak bola sekolah Jabrik bersaudara. Namun sebelum itu Marcel dihadapkan pada dilema. Joshua akan dipulangkan ke Brasil karena penelitian ayah Marcel tidak kunjung berhasil. Namun Joshua bisa tetap tinggal apabila Marcel membocorkan rahasia Joshua pada ayahnya. Mana yang akan Marcel pilih?

Namun ada satu hal lagi soal pikiran yang sering ditekankan Joshua pada Marcel—yang agak pencemas— sepanjang cerita ini. Berkali-kali Joshua mengingatkan Marcel agar tidak mengikuti pikiran. Pikiran tidak selalu benar. Kamu telah berlatih. Kamu telah punya kemampuan. Biarkan kemampuanmu yang menunjukkan keadaan yang sebenarnya, jangan sampai pikiran mempengaruhi.

“Jelas kau merrasakannya, dan bagimu itu kenyataan. Karranganmu jadi kenyataan untukmu sendirri. Bagi Kolonel juga begitu—bagi dia, perrang benarr-benarr ada.”

“Oke. Tapi kalau mesti menembak tendangan penalti, kita merrasakan tekanan, itu kan biasa. Itu kan tekanan betulan?”

“Hanya kalau kau karrang sendirri. Kalau kau tidak mengarrangnya, tekanan itu tidak ada.” Joshua meletakkan bola pada titik penalti. “Kalau mau menembak tendangan penalti dengan tenaga mimpi, kau tidak mengarrang apa-apa. Tidak ada tekanan, tidak ada apa-apa. Kau tanya apa yang benarr ada. Apakah bola betulan ada?” Dia terus menatap Marcel sampai anak itu mengangguk. “Apa gawang benarr ada?”

“Ya,” jawab Marcel.

“Apa kiperr benar ada?”


“Kaulihat? Apa yang benarr ada? Bola, gawang, kiperr. Yang lain tidak penting—yang lain-lain cuma pikirran, karrangan. Lepaskan itu, carri kesunyian, lantas bum! Bahwa kau harrus mencetak gol, itu pikirran yang harrus di kepalamu.”

“Ya, kau gampang bicara. Buat aku tidak segampang itu, tahu!” tukas Marcel.

“Justrru karrena itu kita latihan,” kata Joshua. (hal. 143-144)

Marcel diam sebentar. Semua menatapnya. “Triknya adalah,” katanya lambat, “tidak menghiraukan pikiran. Kepala kita ini banyak maunya. Kosongkan saja. Kalau kepala kosong, kaki kita lebih mengerti dia harus berbuat apa. Tinggal lihat saja, jangan banyak pikir, dan kalau kepala kosong, kau akan merasakan sendiri kapan saat untuk menendang.”

“Apa itu yang kaulakukan?” tanya Klaas. “Kupikir kau banyak berlatih.”

Marcel mengangguk. “Tentu aku banyak berlatih, kakiku ini mesti belajar menendang. Tapi kalau kau sudah bisa menendang, apa yang ada di kepalamu lebih penting.” Klaas tetap menatap sepatunya. Marcel berbicara lebih lirih sedikit, “Dan gagal tidak terlalu buruk. Yang penting kau mencoba.” (hal. 347-348)

Yang saya bingungkan adalah kemampuan yang dimaksud di sini adalah kemampuan motorik—menendang. Bagaimana dengan kemampuan kognitif yang justru melibatkan pikiran, seperti membaca dan menulis? Bagaimana kita bisa memisahkan pikiran dari kemampuan yang melibatkan pikiran?

Saya sudah berprasangka akhir cerita ini akan sedih—meski ketika membacanya ternyata saya tidak sedih-sedih amat. Teman Marcel yang berupa manusia—ya akhirnya ia punya teman manusia juga, namanya Duca—tetap akan dipulangkan ke negara asalnya, Kosovo, meski sang jagonya sepak bola tersebut masih bisa tinggal lebih lama di Belanda. Belum jelas juga apakah ibu Marcel bakal kembali dari India atau tidak. Setidaknya Joshua jadi bisa bernyanyi keras-keras lagi. Entah apakah Marcel bisa mempertahankan atau menjadikan kehidupannya lebih baik lagi setelah kepergian Joshua. Eh, maaf, spoiler.

Paling yang saya herankan adalah ketika Joshua terbang siang-siang. Atau bisa pula malam. Kok hebat sekali ya sesering itu ia terbang tapi tidak pernah ketahuan siapa pun? Belum lagi dengan Marcel ikut terbang dengan duduk di atas punggungnya. Tapi kalau difilmkan mesti fantastis sekali. Pas ditonton di pagi hari sambil sarapan, atau mungkin saat siang akhir pekan.

Cerita yang berlatar di Belanda, dengan nama jalan yang diakhiri –straat, memberi kesan tersendiri akan kehidupan biasa kini di negara penjajah negeri kita zaman lampau itu. Beberapa adegan terjadi di kali dan mengingatkan saya bahwa Belanda adalah negara yang dibangun dengan membendung sungai bukan? Atau laut, eh? Beberapa tempat di Indonesia, seperti Jakarta dan Bali, memang disebut-sebut. Sungguh masih dekat kita bagi mereka rupanya.

Tidak perlu kerumitan untuk menyampaikan sesuatu yang berarti dalam kehidupan. Novel ini membuktikannya. Gaya bahasa yang ringan membuat novel ini seolah cocok bagi pembaca anak-anak. Sebagaimana film “The Adventure of Lavagirl and Sharkboy” yang dikemas sebagai film anak-anak, namun adakah anak-anak yang sudah ngeh dengan istilah “the stream of counsciousness”? Selain itu tebal halaman novel ini lumayan dan ukuran font-nya tidak bisa dibilang besar juga. Semoga anak-anak tidak lelah membacanya.

Namanya juga fiksi. Perlu diingat bahwa seberapapun novel ini menginspirasi, perubahan tidak mesti terjadi secepat yang Marcel alami. Dalam cerita ini pun keadaan tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya komunikasi di antara Marcel dengan Joshua putus. Marcel harus berjuang dengan dirinya sendiri.

Lagipula kita tidak bisa mengharap tahu-tahu ada kura-kura ajaib mendatangi kita kan? Namun mungkin itu intinya. Keajaiban akan mendatangkan perubahan. Marilah kita cari keajaiban tersebut—yang wujudnya tidak harus berupa kura-kura bertingkah laku manusia. Atau mungkin keajaiban adalah perubahan itu sendiri. Sesuatu yang ganjil, aneh, jarang ada, tidak seperti biasa, mengherankan—biasanya tidak nyaman dengan keadaan seperti itu. Tapi kamu ingin berubah tidak?

Waktu saya ke Bandung akhir September – awal Oktober lalu, di bazaar buku belakang TB Gramedia Jalan Merdeka novel ini dijual hanya sepuluh ribu rupiah. Saya tidak menyangka ternyata novel ini oke punya! :-)   
“…Dalam kehidupan ini kau masih akan mendapatkan banyak teman baik, dan kau akan berrteman dengan merreka untuk selamanya, walaupun kau tidak berrtemu merreka setiap harri. Malah meskipun kau tidak berrtemu merreka lagi untuk selamanya, merreka ada di dalammu. Atau malah sedikit di luarrmu. Karrena mempunyai teman sejati berrarrti sedikit merrangkak keluarr darri dirrimu sendirri. Kalau punya teman sejati, kau membangun sedikit jembatan keluarr dirrimu sendirri. Jembatan yang tidak tampak, dan setiap teman sejati ikut membangun sedikit jembatan itu. Jadi walau kau tidak berrtemu teman sejati itu lagi, dia selalu hadirr.”

“Apa Mama juga bagian dari jembatan itu?”

“Lebih tepat dikatakan ibumu adalah penyangga jembatan itu. Merrupakan cinta yang sudah ada sebelum kau ada. Berrteman adalah upayamu sendirri, dan itu membuatmu merrasa ada sesuatu yang menjadi milikmu sendirri.”

“Dan jembatan itu menuju ke mana?”

“Ah, itu perrtanyaan yang terrlalu indah untuk dijawab.” (hal. 376-377)

Jadi ke mana ya? 

Rabu, 12 Oktober 2011

Kumpulan Cara Bekerja Keras



Judul : Negeri 5 Menara
Pengarang : Anwar Fuadi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010

Sejenis Laskar Pelangi, tapi kontennya lebih mengena bagi saya. Keduanya mengisahkan kekuatan semangat mereka yang berasal dari daerah dalam menuntut ilmu. 

Memang sih saya tidak ingat persis di Laskar Pelangi itu ada apa saja. Novel tersebut bisa saya baca dalam waktu cepat—artinya: rame! Tapi saya tidak ingat juga apa ada kalimat-kalimat di sana yang bagus untuk dikutip. Selain itu beberapa bagian saya rasa agak berlebihan, antara lain, kalau tidak salah, saat Lintang mengerahkan kemampuannya dalam mengalahkan lawan di lomba cerdas cermat. Kemampuan yang ketinggian.

Novel ini mungkin bagus untuk menggugah mereka yang berasal dari daerah. Namun saya sendiri merasa tidak terwakili. Bagi saya tidak baik rasanya membandingkan, “Mereka saja yang berasal dari daerah bisa, mengapa kita yang terfasilitasi lebih baik tidak?” Ibaratnya pistol itu punya jenis pelurunya masing-masing dan saya adalah peluru, maka novel tersebut bukan pistol yang pas buat saya.

Sementara dalam Negeri 5 Menara, tokoh-tokohnya memiliki warna yang lebih beragam. Tidak seperti para tokoh dalam Laskar Pelangi yang hanya berasal dari satu daerah, tokoh-tokoh di N5M berasal dari berbagai daerah. Tidak hanya dari pedalaman Sumatera Barat, tapi ada juga dari Sumatera Utara, Sulawesi, Madura, Surabaya, sampai Bandung! Itu mengapa saya merasa lebih kena saja dengan novel ini ketimbang Laskar Pelangi.

Lagipula, yang jelas diberikan dalam N5M adalah bagaimana caranya bekerja keras. Setiap orang bisa memraktekkannya. Tidak mesti anak daerah—tapi juga anak kota yang tak terfasilitasi dengan baik. Kemampuan dasar bisa saja mempengaruhi, namun intinya man jadda wa jadda: kesungguhan.

Gaya hidup yang diterapkan di Pondok Madani membuat saya iri. Bukannya saya ingin juga seperti itu—pasti sangat berat. Yang membuat saya iri adalah bagaimana mereka bisa bertahan dalam situasi yang keras. Saya juga ingin bisa seperti itu namun dengan cara saya sendiri.

Maka sementara membaca novel ini, saya beberapa kali menyelipkan pembatas buku pada halaman tertentu. Tujuannya adalah karena apa yang ada di halaman tersebut amat bagus untuk dikutip dan dijadikan motivasi. Sebagai contoh adalah berikut.

Halaman 106

Man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjai di depan. Karena yang kita tuju bukan sekarang, tapi ada yang lebih besar dan prinsipil, yaitu menjadi manusia yang telah menemukan misinya dalam hidup.”

“Misi yang dimaksud adalah ketika kalian melakukan sesuatu hal positif dengan kualitas sangat tinggi dan di saat yang sama menikmati prosesnya. Bila kalian merasakan sangat baik melakukan suatu hal dengan usaha yang minimum, mungkin itu adalah misi hidup yang diberikan Tuhan. …. Temukan dan semoga kalian menjadi orang yang berbahagia.”

Halaman 158

“Dulu aku anak yang sangat pemalu untuk tampil di depan umum, apalagi harus berpidato panjang lebar. Kini, tiga kali latihan pidato dalam seminggu, latihan menjadi imam shalat, belum lagi berbagai kegiatan seperti pramuka, pelan-pelan menambah kepercayaan diriku di muka umum. Kalau dulu tanganku dingin dan suaraku bergetar-getar seperti mau menangis, sekarang tanganku terkepal dan suaraku mulai bisa normal. Perubahan itu terjadi semalam dua malam. Awalnya semua kebiasaan baru ini aku paksakan terjadi. aku buat-buat saja seakan-akan aku orator ulung, mengikuti contoh kawan-kawan dan kakak-kakak yang lebih hebat. Memekik sana memekik sini, mengepalkan tangan di udara, tunjuk sanadan sini sampai menggedor-gedor podium. Ternyata lama-lama kepura-puraan positif ini menjadi kebiasaan dan kenyataan yang sebenarnya. Ajaib!”

Halaman 265

“Jangan dipaksakan untuk menghapal. Kalau sudah tamat sekali, ulangi lagi dari awal sampai akhir. Lalu ulangi lagi, kali ini sambil mencontreng setiap kosa kata yang sering dipakai. Lalu tuliskan juga di buku catatan. Niscaya, kosa kata yang dicontreng di kamus tadi dan yang sudah dituliskan ke buku tadi tidak akan lupa. Sayidina Ali pernah bilang, ikatlah ilmu dengan mencatatnya. Proses mencatat itulah yang mematri kosa kata baru di kepala kita.”

“…. Saya baca buku kisah hidup Malcolm X, tokoh The Nation of Islam yang kemudian menjadi muslim sejati. Dia waktu itu masuk penjara. Dalam penjara dia banyak merenung dan ingin menulis. Tapi begitu akan menuliskan pemikirannya, isinya sangat dangkal. Dia frustasi karena dia tak punya kemampuan untuk menggambarkan apa yang ada di kepalanya. Akhirnya dia bertekad untuk membaca kamus, halaman demi halaman. Hasilnya, tulisannya kuat, dalam dan memuaskan.

Halaman 318

“Jangan pernah takut dan tunduk kepada siapa pun. Takutlah hanya kepada Allah. Karena yang membatasi kita atas dan bawah hanyalah tanah dan langit.”

Halaman 396

“Ingatlah nasihat Imam Syafii: Orang yang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.”

Mohon izin dan banyak terima kasih kepada pengarang novel ini!

Selasa, 11 Oktober 2011

What this is?! You walk! (Balada Seorang Pedestrian)

Di Jogja, kebiasaan saya jalan kaki sering jadi perkara.

Dua tahun pertama kuliah di Jogja, saya tinggal di rumah Bulik. Di tahun kedua, saya mulai keranjingan jalan kaki.

Saya butuh paling tidak 50 menit untuk jalan kaki dari rumah Bulik sampai kampus saya di Fakultas Kehutanan UGM. Itu medium mode. Kalau fast mode, saya bisa hemat setidaknya 10 menit.

Ketika jembatan yang menghubungkan Pogung dengan Jalan A. M. Sangaji selesai dibangun, saya bisa memangkas waktu perjalanan jadi 30 menit saja. Menyenangkan sekali menyusuri jembatan tersebut sambil mata menyapu pemandangan di bawahnya.

Memang panas benar badan saya begitu sampai tujuan. Tapi pada periode itu jadi suka ada lagu mengalun dalam kepala saya. Maka saya pun jadi pengarang lagu. Kalau tidak begitu, maka orang-orang imajiner yang mengisi kepala saya. Kalau tidak begitu, saya paling menikmati jalan kaki di bawah hujan yang tidak begitu deras.

Dengan kebiasaan yang hampir tiap hari begitu, dua kali sehari malah, kalau saya absen maka saya akan bangun pagi dengan kram yang amat menyakitkan sepanjang tungkai kaki saya.

Kebiasaan ini jadi perkara ketika para tetangga Bulik yang mengenali saya, dan melihat saya jalan kaki, komplain pada Bulik. Mereka kira Bulik tidak mengurus saya dengan baik.

Selain itu, memang saya rada mbeling. Saya tidak malu pakai rok yang bolong bagian bawahnya. Saya juga tidak kunjung mahir mengemudikan motor dan mobil padahal sudah difasilitasi. Saya tidak begitu berminat ditawari sepeda listrik. Tidak niat sih. Jalan kaki sudah cukup, lebih fleksibel, dan tidak merepotkan!

Jelas saya terusik dengan komplain ini. Yang capek juga siapa, pikir saya waktu itu. Saya pikir toh kebiasaan ini sangat menyehatkan meski bikin muka gosong dan sepatu bolong.

Bahkan sampai ada tetangga Bude saya—yang rumahnya masih cukup dekat dari rumah Bulik, menawarkan saya untuk naik motor bersamanya saja pada hari dan jam tertentu.

Waktu saya cerita sama teman-teman kampus saya, seorang teman saya bilang kalau memang begitulah orang Jogja. Mereka sangat perhatian pada orang lain. Terlalu perhatian! Mungkin para tetangga itu kasihan melihat saya yang sudah lusuh, panas-panas, jalan kaki jauh pula. Padahal saya sendiri melakukan ini dengan senang hati.

Teman saya itu sendiri adalah orang Jogja. Kalau kami bertemu di jalan dalam perjalanan ke kampus, dia akan mengajak saya naik motornya. Pas benar, kalau saya sedang mengejar kuliah jam 7.10!

Tahun ketiga dan tahun keempat kuliah, saya kos di lokasi yang jauhnya sekitar 10 menit jalan kaki dari kampus. Sejak ini hingga sekarang, saya tidak lagi kejatuhan lagu-lagu dalam kepala.

Sesekali saya jalan kaki tak tentu arah di sekitar kos selama kurang lebih sejam. Kalau ada acara di Rumah Cahaya FLP Yogyakarta waktu itu, saya jalan kaki. Begitupun saat saya jadi sukarelawan untuk Balai Bacaan Srigunting, saya jalan kaki ke sana. Keduanya berlokasi di Nandan. Dan tentu saja saya jalan kaki kalau mau ke Perpustakaan Kota. Saya juga pernah sengaja jalan kaki sampai Malioboro.

Sekarang saya tinggal di rumah Bude—yang berdekatan dengan rumah Bulik itu. Seperti dulu, kalau sudah waktunya pulang dan saya tidak kebagian angkutan umum biasa yang hanya edar sampai menjelang magrib, maka saya naik Trans Jogja. Kalau naik yang satu ini, saya turun di Jombor. Dari Jombor, saya jalan kaki sekitar 20 menit sampai rumah Bude.

Mengetahui ini, Bude suka khawatir kalau saya pulang malam—apalagi kalau sudah magrib saya belum telepon. Beliau bersyukur kalau ada yang mengantar saya pulang.

Pakde suka bilang, saya telepon beliau saja kalau saya sudah sampai Jombor. Nanti beliau jemput. Ini tidak pernah saya lakukan sebab saya tidak ingin tambah merepotkan. Tapi saya pernah begini sama Bulik karena beliau menyuruh. Pakde juga suka menawarkan diri untuk mengantar saya.

Tapi saya tidak pernah lagi jalan kaki dari rumah sampai kampus. Saya takut hal yang sama terjadi saat saya masih tinggal di rumah Bulik.

Saya bayangkan, seandainya almarhum Mbah Surip adalah pakde saya, tentu beliau tidak akan menjemput saya dengan kijang oranyenya. Beliau punya cara lain yang jadi andalan.

Tak gendong ke mana-mana… Enak dong? Mantep dong? Daripada kamu jalan kaki, kepanasan, mendingan tak gendong tho, enak tho, mantep tho, hayo, mau ke mana? Tak gendong ke mana-mana. Tak gendong ke mana-mana. Enak tau![1]

Where are you going? Ok, I am walking!


[1] Mbah Surip – Tak Gendong (dengan sedikit modifikasi)

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain