LAINNYA

Senin, 30 Juni 2014

Beruang yang Apa Adanya (James Thurber, 1940)

Di sebuah hutan di Barat Jauh hiduplah seekor beruang cokelat yang apa adanya. Ia suka pergi ke bar yang menjual mead, minuman fermentasi dari madu, dan hanya minum dua gelas. Lalu ia akan menaruh uangnya di meja dan berkata, "Beri minuman untuk beruang-beruang di belakang sana," dan pulang.

Namun kemudian ia menjadi sering membeli minuman untuk dirinya sendiri. Ia akan terhuyung-huyung pulang pada malam hari, menyepak cantelan payung, menjatuhkan lampu, dan membenturkan sikunya ke jendela. Lalu ia akan roboh di lantai dan tergeletak di sana sampai tertidur. Istrinya sangat sedih sedang anak-anaknya ketakutan.

Akhirnya si beruang menyadari kesalahan dalam tindak-tanduknya itu dan mulai memperbaiki diri. Alhasil ia menjadi seorang antialkohol yang terkenal dan penceramah yang gigih dalam hal berpantang minum minuman keras. Kepada siapapun yang berkunjung ke rumahnya, ia akan menyampaikan efek buruk dari minum-minum. Ia akan membanggakan betapa kuat dan sehat dirinya sejak berhenti menyentuh barang itu. Untuk membuktikannya, ia akan berdiri di atas kepala dan tangannya, bersalto di dalam rumah, menyepak cantelan payung, menjatuhkan lampu, dan membenturkan sikunya ke jendela. Lalu ia akan rebah di lantai, lelah karena gerak badannya yang menyehatkan itu dan tertidur. Istrinya menjadi sangat sedih sedang anak-anaknya ketakutan.

Moral: Apapun yang Anda perbuat, boleh jadi Anda akan tetap jatuh tersungkur.



Alih bahasa dari fabel James Thurber, "The Bear Who Let It Alone" (1940). James Thurber (1894-1961) adalah seorang penulis humor dan kartunis dari Amerika Serikat. Karya-karya James Thurber lainnya yang saya pernah coba terjemahkan bisa dilihat di sini.

Rabu, 25 Juni 2014

Alih Bahasa Cerpen Fernando Sorrentino, "Mere Suggestion"

Jadi, semua ini dimulai ketika saya mencoba untuk menerjemahkan cerpen Jorge Luis Borges, "The Lottery in Babylon" (1941). Upaya yang lagi-lagi berbuah frustasi. Maka saya mengambil buku kumpulan cerpen Inggris dan Amerika dari Longman yang telah disederhanakan. Buku itu dulunya milik Nenek, dan kini penampakannya sudah menghitam akibat debu menahun. Saya pun mulai meninjau, lalu mengecek beberapa cerpen di internet. Biasanya saya tidak akan menerjemahkan cerpen yang sudah pernah diterjemahkan (dan dipublikasikan, tentunya, sehingga saya mengetahuinya) oleh orang lain. Dalam pencarian tersebut, saya sampai ke situs east of the web. Situs ini menyimpan banyak cerpen (berbahasa Inggris, tentunya). Di antaranya berkategori "humour", kesukaan saya. Saya menyadari, lagi-lagi, bahwa belajar menerjemahkan itu sebaiknya dimulai dari teks-teks yang ringan dan pendek dulu, dan lucu. Borges? Mungkin saya perlu 10.000 jam menerjemahkan dulu baru bisa kembali ke sana. (Mudah-mudahan tidak selama itu juga.... Huf!). 

Banyak cerpen dalam daftar "humour" tersebut adalah karangan Fernando Sorrentino (l. 1942). Sama-sama penulis Argentina, setidaknya. Biarpun tidak setermasyhur yang satunya, karya penulis ini telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Di antara beberapa cerpen pendek yang ditulisnya dan telah diterjemahkan serta dipublikasikan ke dalam bahasa Indonesia yaitu "There's a Man in the Habit of Hitting Me on the Head with an Umbrella" (judul yang menggugah, bukan?) dan "An Enlightening Book" yang bisa ditemukan dalam buku kumpulan 47 cerpen pendek dari 5 benua, Pagi di Amerika yang diterbitkan oleh Serambi, 2004) (ed. Hikmat Darmawan). (Sial, godaan untuk menghabiskan duit di Palasari lagi, nih!). 

Cerpen pertama beliau yang saya coba terjemahkan adalah cerpen yang paling pendek, hanya satu halaman, yang diterjemahkan oleh Clark M. Zlotchew ke dalam bahasa Inggris dengan judul: "Mere Suggestion". Sebetulnya ada yang sudah menerjemahkan cerpen ini ke dalam bahasa Indonesia, namun karena saya kadung dibikin tertarik sama versi film cerpen ini (tenang, tenang, saya sematkan di bawah sono kok) dan tidak puas dengan terjemahan yang sudah ada, maka saya menerjemahkannya ulang. Mudah-mudahan hasilnya cukup enak dibaca. Silakan apabila ada masukan dikarenakan bagian yang dirasa kurang luwes atau tepat.



Cuma Sugesti 
(Cerpen Fernando Sorrentino)

Teman-temanku bilang aku ini orangnya sangat mudah terpengaruh oleh sugesti. Kurasa mereka benar. Sebagai buktinya, mereka mengungkit-ungkit kejadian kecil yang menimpaku pada Kamis lalu.

Pagi itu aku sedang membaca novel horor. Walaupun pada waktu itu cuaca terang, aku merasa menjadi korban dari kekuatan sugesti dalam cerita itu. Sugesti itu membuatku membayangkan adanya seorang pembunuh haus darah di dapur. Pembunuh haus darah itu mengacungkan belatinya yang besar, menantiku memasuki dapur sehingga dia dapat menyergapku dan menancapkan pisaunya ke punggungku. Walaupun aku duduk tepat di seberang pintu dapur, walaupun senyatanya tak ada seorangpun yang dapat memasuki dapur itu tanpa sepenglihatanku, dan tidak ada akses lain ke dapur kecuali melewati pintu itu; tapi aku sepenuhnya teryakinkan bahwa memang ada pembunuh yang bersembunyi di balik pintu yang tertutup itu.

Jadi karena menjadi korban sugesti itu aku tidak berani untuk memasuki dapur. Aku menjadi cemas. Sebentar lagi waktunya makan siang dan aku perlu ke dapur. Tahu-tahu terdengar dering bel dari pintu depan.

“Silakan masuk!” aku berseru tanpa bangkit. “Pintunya tidak dikunci kok.”

Petugas apartemen masuk. Dia membawakan beberapa surat.

“Kakiku tidak bisa digerakkan,” kataku. “Bisakah tolong ke dapur dan ambilkan segelas air?”

“Tentu,” sahutnya. Dia membuka pintu dapur dan masuk. Lalu aku mendengar jerit kesakitan disusul suara tubuh yang dalam robohnya menjatuhkan pula perabotan. Akupun lompat dari kursiku dan lari ke dapur. Petugas itu, separuh tubuhnya tersangga oleh meja sementara belati yang besar menancap di punggungnya, terbaring tewas. Sekarang, tenanglah. Aku bisa memastikan bahwa tentu saja tak ada pembunuhan di dapur.

Karena logikanya, kejadian itu sebenarnya cuma sugesti.[]




Selasa, 24 Juni 2014

Vampir yang Kelaparan

Cerita ini saya sertakan dalam Program Tantangan Kemudian 2014. Saya mendapat tantangan dari Rea_sekar untuk membuat cerita fantasi untuk anak SD dengan ketentuan antara lain panjangnya maksimal 1000 kata serta tidak menggunakan nama-nama yang sulit diucapkan oleh lidah Indonesia, adegan kekerasan atau perang, maupun sihir/mantra (saya memang tidak mengerti tradisi fikfan macam begituan, untunglah). Cerpen ini saya pajang ulang di sini karena mendapat poin di atas 100, wahahaha... (berasa prestasi, gitu ya, padahal mah...). Cerpen ini awalnya ditulis hingga lebih dari 10.000 kata namun demi kepentingan tantangan saya meringkasnya menjadi sebagai berikut. Jelaslah cerpen ini tidak akan layak dimuat di Bobo atau media beken manapun, tapi sedikitnya mudah-mudahan dapat menghibur pembaca.



Tantangan Fantasi (khusus untuk pembaca anak SD)

sumber: http://bintaf.files.wordpress.com/2013/01/drakula11.jpg
sumber gambar 

Sebuah truk pikap berhenti di depan rumah Vido. Dari dalam truk itu, sebuah peti mati digotong keluar dan dibawa masuk ke gudang rumah Vido. Vido bertanya kepada papinya darimana asal peti mati itu. “Itu punya teman Papi di luar negeri. Teman Papi mengoleksi barang antik.”

“Apa isinya?” Vido bertanya lagi. Papi Vido tidak tahu. Temannya hanya menitipkan barang itu untuk sementara.

Vido segera memberi tahu temannya, Ghira, lewat telepon. “Kita harus memeriksanya nanti malam. Biar seru! Kamu menginap saja.”

Ghira penasaran sekaligus takut. Tapi dia lebih takut kalau Vido mengatainya penakut dan memberitahukannya kepada teman-teman sekelas. Ghira pun meminta izin kepada mamanya.

Malam itu mereka menunggu sampai rumah Vido gelap dan sepi. Ini adalah penyelidikan rahasia! Mereka memasuki gudang dengan berbekal senter, handycam, dan hafalan ayat suci.

Tutup peti itu sangat berat ketika mereka mencoba mengangkatnya. Mereka pun mencoba menggesernya dengan sekuat tenaga. Perlahan, isi peti itu terlihat. Sebuah tangan yang pucat membantu mereka mengangkat tutup itu dari dalam peti. Tutup itu lalu terjungkal ke lantai.

Sesosok laki-laki yang sangat kurus dan tua bangkit dari dalam peti, dan menyeringai. Jubahnya berwarna hitam dan lebar. Gigi-giginya panjang, tajam, dan berkilat-kilat. Begitu juga dengan kuku-kukunya. Vido dan Ghira menjerit. Mereka hendak melarikan diri. Tapi tangan laki-laki itu dengan cepatnya menangkap kaki mereka. Laki-laki itu lalu membenamkan taringnya ke betis Vido dan Ghira secara bergantian. Rasanya seperti dicubit!

Tiba-tiba laki-laki itu melepaskan mereka, lalu melepeh-lepeh. “Harrrh… Darah kalian tidak enak!”

Laki-laki itu lalu menarik kain di bagian belakang jubahnya sampai menutupi separuh mukanya, lalu berubah wujud menjadi kelelawar. Kelelawar ceking itu terbang terhuyung-huyung ke luar gudang, dan menghilang.

“Dia vampir!” seru Ghira dengan amat ketakutan.

“Kita juga akan menjadi vampir!” seru Vido tidak kalah takutnya.

Luka di kaki mereka mengucurkan darah. Mereka segera membersihkannya di kamar mandi. Bekas taring vampir itu sekarang terlihat seperti dua titik kecil bekas gigitan serangga.

Mereka cemas sekali semalaman itu karena mereka akan menjadi vampir. Tapi sampai subuh tiba, tidak ada perubahan apa-apa pada mereka. Mereka menunggu lagi sepanjang hari sambil bertanya-tanya ke mana perginya vampir itu, tapi mereka tetap tidak merasakan perubahan apa-apa. Ghira pun pulang ke rumahnya.

Besoknya di sekolah Vido bercerita kepada Ghira. Pagi itu, Papi, Mami, dan kakak-kakak Vido bangun dengan luka yang menyerupai bekas gigitan vampir itu! Mereka mengira itu hanya bekas gigitan serangga.

“Gawat! Bisa-bisa dia mengubah seluruh kota menjadi vampir!” kata Ghira khawatir.

“Kita harus cepat-cepat menemukannya!” desak Vido.

Setiap hari sepulang sekolah, mereka melakukan pencarian di sekitar rumah Vido dengan berbekal jaring. Kata Mang Adin, penjaga sekolah mereka, pada siang hari kelelawar suka tidur di pucuk-pucuk pohon. Tapi mereka tidak berani mengambilnya apalagi menyuruh orang lain yang melakukan. Jadi mereka hanya memandangi gundukan-gundukan hitam yang mereka sangka kelelawar itu dengan curiga. Kalau Ghira diperbolehkan menginap, mereka melakukan pencarian di seluruh penjuru rumah Vido saja sebab mereka tidak diizinkan ke luar pada malam hari.

Hari menjadi minggu. Minggu menjadi bulan. Vampir itu tidak kunjung ditemukan. Vido dan Ghira pun sudah lupa. Mereka juga tidak berubah menjadi vampir.

Sampai suatu hari, Vido dan Ghira menemukan vampir itu secara tidak sengaja. Waktu itu mereka sedang mencari bahan untuk tugas prakarya di gudang rumah Vido. Vampir itu sedang meringkuk di sudut peti mati. Dia tampak jauh lebih kurus dan tua daripada yang terakhir kali mereka lihat.

Vampir itu menangis. Darah mengalir menuruni pipinya yang cekung.

Vido dan Ghira merasa kasihan. Mereka mendengarkan vampir itu bercerita.

“Suatu hari seseorang menangkapku dan mengurungku di dalam peti ini. Aku tidak bisa keluar lagi untuk mencari makan. Berapa lamanya aku tidak tahu. Sampai kalian melepaskanku. Tapi segalanya telah berubah. Tempat ini asing bagiku. Ada lebih banyak orang dan binatang tapi tidak satupun yang darahnya enak. Semuanya terasa kotor seperti tapal kuda yang karatan. Peh!”

“Jadi kau telah menggigit banyak orang dan binatang! Tapi kenapa tidak ada yang berubah menjadi vampir juga?” tanya Vido.

“Tidak semua yang kami isap darahnya akan berubah menjadi vampir juga. Ada zat khusus untuk itu, tapi aku terlalu lemah untuk mengeluarkannya. Lagipula kami hanya mengisap darah seperlunya.”

Vido dan Gira merasa bingung hendak menolong atau membiarkan vampir itu mati kelaparan. Mereka tidak tahu apa yang mereka dapat lakukan. Ketika mereka menengok vampir itu lagi pada hari berikutnya, makhluk itu telah menjadi kelelawar dan mati.

Amanat: Kalau kita sering menghirup asap kendaraan, darah kita akan mengandung racun yang bernama timbal. Timbal, selain tidak disukai oleh vampir, juga dapat menyebabkan kebodohan, kanker, dan berbagai penyakit lainnya pada manusia.[] 



Kamis, 05 Juni 2014

gulagu pengangguran

Rhoma Irama - "Pengangguran"

telah lama kualami/ hidup tiada pegangan/ pengangguran, ya Allah.../ tiap hari susah makan/ anak istri bertangisan/ jadi korban, ya Allah.../ tiada yang mau menolong/ pada diriku ini/ tiada yang mau perduli/ akan nasibku ini/ bahkan mereka mencemoohkan/ penuh kebencian/ akupun selalu disisihkan/ dari pergaulan/ Ya Tuhan Rabbul Izzati/ tanamkan dalam jiwaku kesabaran, ya Allah.../

Ini lagu-tentang-pengangguran paling mengenaskan yang sejauh ini saya kumpulkan. Kalau ingat lagu beliau yang lain, "Kegagalan Cinta", raja dangdut satu ini tampaknya memang super melankolis. "...kalah dah lagu emo," kata seorang blogger yang telah melakukan kontemplasi mendalam atas hidupnya sebagai pengangguran berdasarkan lagu ini. Memang tidak semua pengangguran bernasib nahas sebagaimana yang diceritakan dalam lagu ini, namun saya kira di suatu tempat memang ada kaum yang demikian. Biarpun secara umum lagu ini mengajak bersedih-sedih sekaligus menuai simpati kepada kaum yang kurang beruntung tersebut, pada akhirnya mengingatkan jua bahwa bagaimanapun pedihnya suratan takdir (jyah) berserah dirilah kepada Yang Maha Kuasa. Zaman sekarang, apa ada lagu dangdut yang mutunya menandingi buatan Rhoma Irama?



Iwan Fals - "Sarjana Muda"

berjalan seorang pria muda/ dengan jaket lusuh di pundaknya/ di sela bibir tampak mengering/ terselip sebatang rumput liar/ jelas menatap awan berarak/ wajah murung semakin terlihat/ dengan langkah gontai tak terarah/ keringat bercampur debu jalanan/ engkau sarjana muda/ resah mencari kerja/ mengandalkan ijazahmu/ empat tahun lamanya/ bergelut dengan buku/ tuk jaminan masa depan/ langkah kakimu terhenti/ di depan halaman/ sebuah jawatan/ tercenung lesu engkau melangkah/ dari pintu kantor yang diharapkan/ terngiang kata tiada lowongan/ untuk kerja yang didambakan/ tak peduli berusaha lagi/ namun kata sama kau dapatkan/ engkau sarjana muda/ resah tak dapat kerja/ tak berguna ijazahmu/ empat tahun lamanya/ bergelut dengan buku/ sia-sia semuanya/ setengah putus asa dia berucap/ maaf ibu/

Saya mengetahui lagu ini dari sebuah cerita di Kemudian. Liriknya dikutip dalam paragraf pembuka. Sebetulnya lagu ini tidak kalah lesu daripada lagu lainnya tentang pengangguran yang dibawakan oleh Rhoma Irama. Malah realitas tersebut diungkapkan secara lebih luas dalam bentuk balada. Lagu ini ada di nomor pertama dalam album profesional Iwan Fals yang pertama. Mengingat bahwa album bertajuk Sarjana Muda tersebut dirilis pada tahun 1981, fenomena sarjana-kesulitan-mencari-pekerjaan ini ternyata sudah berlangsung sedari lama sekali. Problem yang tidak kunjung tuntas sampai sekarang. Ijazah dan buku tidak cukup menjadi jaminan.

Seseorang membuat videoklip lagu ini untuk tugas akhir. Silakan dinikmati.





Kantata Takwa ft. Iwan Fals - "Balada Pengangguran"

o, apa jadinya/ e, ingin apa/ o, apa jadinya/ e, aku lesu/ dibolak-balik dinalar-nalar tanpa logika o ya/ diraba-raba diterka-terka tidak terduga/ misteri ijazah tidak ada gunanya/ ketekunan tidak ada artinya/ pembangunan o/ pengangguran ya/ penerangan o/ kegelapan ya/ putus asa o ya/ akan merampok takut penjara/ menyanyi tidak bisa/ bunuh diri ku takut neraka/ menangis tidak bisa/ kaki lima o/ kaki lima ya/ makan debu/ ya janji palsu/ mengutang lalu lagi mengutang/ tahu-tahu menipu/ penyuluhan o kegelapan ya/ 

Kali ini Iwan Fals bersama Kantata Takwa dalam album yang dirilis kurang lebih sepuluh tahun sejak lagunya yang bertema serupa. Sebagian liriknya kalau tidak salah diambil dari puisi WS Rendra. Pengangguran masih menjadi masalah, tentunya. Lagu ini setidaknya terasa energik ketimbang yang lain-lainnya. Tidak mengajak menye-menye; meratapi nasib dalam kelesuan. Lebih seperti... frustasi, mungkin. Melampiaskan kekecewaan pada diri yang tidak memiliki keberanian (akan merampok takut penjara; bunuh diri ku takut neraka) pun keterampilan (menyanyi tidak bisa; menangis tidak bisa). Dan ironi: Negara terus berkembang, kenapa saya tidak? (pembangunan o! pengangguran ya!) Bait-bait itu kadangkala terngiang-ngiang di dalam kepala, terasa menggelikan. Keputusasaan pun menyeret sang pengangguran pada laku negatif: utang, menipu. Seakan hendak menunjukkan salah satu penyebab maraknya kriminalitas. Di latar pun terdengar lagu "Padamu Negeri" dinyanyikan.





Iwan Ernawan - "Batan Nganggur"

Iwan yang satu ini agaknya hanya populer di kalangan penggemar lagu pop sunda. Beliau berasal dari kota tauco alias Cianjur. Saya baru mendengarkan lagunya yang berjudul "Cilaka" dan "Batan Nganggur". Keduanya mengandung pesan sosial, satir malahan, dan dibawakan dengan jenaka, kendati yang tidak memahami bahasa sunda mungkin bakal mengernyit saja.

"Batan Nganggur" berarti "Daripada Nganggur". Dari judul ini saja kita dapat menebak kalau lagu ini mengangkat isu pengangguran. Begini penggalan liriknya: ...kahayang ngalamar ka kantoran/ tapi sok tara aya lowongan/ nu aya ge kalah dikurudan/ komo nu keur ngamimitian/ .../ mending ge milih ngembangkeun bakat/ najan bakat, bakat ku butuh/ .../ matak jadi jalma kudu pinter/ ngarah heunteu gampang kabalinger/ neangan gawe pasti teu sulit/ komo lamun dibarengan duit.../ yang artinya kira-kira: ...keinginan melamar ke kantoran/ tapi selalu tidak ada lowongan/ yang ada malah dipalak/ apalagi yang baru pertama kali/ .../ mendingan milih mengembangkan bakat/ meskipun bakat, bakat karena butuh/ .../ makanya jadi orang harus pintar/ supaya tidak gampang tertipu/ mencari kerja pasti tidak sulit/ apalagi kalau dibarengi duit/.

Hihihi. Orang sunda katanya memang memiliki selera humor yang tinggi, termasuk dalam menertawakan kesulitan diri. Simak kekocakan (alm.) Iwan Ernawan dalam videoklip di bawah ini. Tentunya lagu ini lebih dinikmati apabila liriknya yang dalam bahasa sunda itu dapat dimengerti, untuk itu seseorang telah berbaik hati memajang lirik tersebut sekalian terjemahannya dalam bahasa Indonesia di sini.



Ada yang punya referensi lagi?

Rabu, 04 Juni 2014

Satu hal yang kau pelajari dari hubungan antara orangtua dan orangtuanya orangtua

Kalau kau tidak memberi cukup perhatian kepada anakmu, maka boleh jadi merekapun tidak akan cukup peduli kepadamu ketika kau sudah renta dan tidak berdaya. Bagaimanapun wajibnya berbakti kepada orangtua, akan sulit apabila tidak didahului dengan berbakti kepada anak.