LAINNYA

Senin, 21 Mei 2012

Tolong, Garuda 5 Menggempur Saya!


Saya masih berada di bagian awal, sempat baca-baca sekilas sih tengahnya, tapi saya sudah merasakan kalau novel ini adalah cerita yang memang ingin saya baca. Novel ini adalah cerita remaja, cerita komedi, cerita fantasi dengan unsur lokal, sekaligus cerita religi…

Sejak dulu obsesi saya memang mencari cerita remaja yang beda. Bagaimana kalau teenlit dikemas secara serius, dengan diksi yang melimpah ruah, EYD dan tata bahasa yang baik tapi enak dibaca, taburan humor yang cerdas, atau bercampur dengan unsur fantasi, bahkan merupakan satire… dan yang pasti adalah sarat makna…?

Dan kendati saya jarang membaca cerita fantasi, tapi melalui forum di dunia maya saya ngeh kalau jumlah orang Indonesia yang menulis cerita fantasi begitu banyak. Dan saya gemas saja ketika mitologi yang umum dijadikan landasan dalam membuat cerita tidak berasal dari negeri sendiri (*sok nasionalis tea), padahal barangkali mistisisme kita pun bisa dikemas dengan keren dan jauh dari kesan kampungan.

Terlepas dari apakah “Garuda 5 Utusan Iblis” (selanjutnya G5UI) memenuhi berbagai obsesi tersebut, secara keseluruhan saya menganggap novel ini luar biasa.

Cerita dibuka dengan latar sekitar enam abad silam. Sentika bersama empat sahabatnya: Pramesti, Anggraini, Widura, dan Rangga, yang sesama pendekar sakti mengemban tugas untuk mencegah utusan Iblis turun ke bumi. Iblis ingin hidup lebih lama, sehingga ia bermaksud memundurkan Hari Pembalasan alias kiamat. Caranya adalah dengan memusnahkan manusia sebelum hari itu terjadi. Secara kiamat berarti berakhirnya kehidupan manusia di dunia, maka kiamat tidak akan terjadi kalau manusia sudah keburu tidak ada—harus diciptakan dulu kehidupan yang baru. Ki Sangeti, seorang dukun tua, hendak menawarkan diri pada Iblis untuk menunaikan maksud keji tersebut. Namun Sentika dan para pendekarnya yang mandraguna tak akan membiarkan hal itu terjadi. Akhirnya mereka dapat membunuh Ki Sangeti, namun rupanya kakek jahat tersebut berjanji akan bangkit lagi setelah 666 tahun. Tidak mungkin Sentika cs masih hidup saat itu, sehingga mereka harus menitiskan kekuatan mereka pada keturunan mereka yang hidup pada zaman itu. Kira-kira begitulah.

Bagian selanjutnya berlatar kehidupan anak-anak SMA ibukota masa kini. Sejak awal kita akan dipertemukan dengan Jaka yang titisan Sentika, Bun yang keturunan Widura, serta Rani yang mewarisi Anggraini, dan berbagai karakter serta nama lain. Mereka adalah warga SMA Raya, Jakarta, yang tadinya hendak mengadakan jambore, tapi malah terjebak dalam situasi menegangkan bersama sekian lelembut.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan saya menyukai novel ini, tapi ada pula beberapa alasan yang menjadikan novel ini tidak begitu bagus. Saya coba jelaskan satu per satu apa yang saya dapatkan dari novel ini yak.

Bahasa

Gaya bahasa yang lincah dan spontan barangkali menjadikan semua karakter, termasuk narator, pandai melucu, dan ini sangat menghibur. Bahkan dalam situasi tegang pun masih bisa terselip celetukan yang bikin mendengus. Inilah yang bikin saya merasa “aman” dalam membaca novel ini, dalam arti: semenyeramkan apapun musuhnya, semencekam apapun situasinya, cerita ini tidak betul-betul serius. Tak ada satupun karakter dari pihak protagonis yang mati. Kalaupun ada yang cedera parah, ia tetap bakal selamat akhirnya.

Perbedaan gaya bahasa antar para karakter pun relatif bisa dirasakan, misalnya Rani yang meledak-ledak, Ratih yang tegas sekaligus lembut, Bun yang sopan, Jo yang kasar, Bu Dadang yang orang Sunda, Prasti yang manja dan genit, Jaka yang kadang polos, dan seterusnya, dan ini semakin menguatkan karakter-karakter tersebut yang dari kelakuan saja barangkali sudah beda.

“Angkara”, “prana”, “mudra”, marcaprada”, adalah segelintir kata yang digunakan untuk menggambarkan kekhasan dunia persilatan, yang belum tentu dijumpai dalam cerita remaja biasa. Kekayaan diksi inilah yang membangun situasi hingga sedemikian rupa, yang saya kira selain baik untuk menambah perbendaharaan pembaca, juga menjadi estetika cerita.

Dengan demikian cerita dalam novel ini dibawakan dalam bahasa yang ngepop, sesuai dengan gaya bahasa para karakternya yang anak muda zaman sekarang, sekaligus kaya diksi khas dunia persilatan. Keduanya sama memikat, sekaligus mengurangi nilai novel ini ketika penggunaannya dicampuradukkan—dan itu dilakukan baik oleh narator maupun para karakter.

Saya tidak melewatkan satu kata pun dalam novel ini, semua terbaca, namun demikian penuturan cerita masih terasa cair dan barangkali butuh Diapet.

Karakter

Yang ditimbulkan dari kekuatan karakter barangkali adalah simpati pembaca, yang bikin pembaca ingin terus mengetahui nasib karakter tersebut. Karakter-karakter dalam G5UI berhasil menempel dalam benak saya. Saya suka Jaka yang harusnya jadi hero, tapi malah mudah dipengaruhi. Kendati pembaca lain mungkin mencerca-merca kegoblokan Jaka, tapi entah mengapa saya kira wajar saya kalau pemuda tanggung semacam Jaka begitu mudah terjerat pesona wanita (*hahai bahasanye!). Saya juga suka Bun yang doyan bercanda, Rani yang begitu ekspresif, dan seterusnya. Para karakter tampil begitu manusiawi dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi yang lebih mengundang saya untuk terus membaca novel ini agaknya malah kekuatan alur.

Alur

Titisan tiga dari lima Pendekar Garuda telah terkuak sejak awal, tapi dua yang lain baru tersibak di bagian akhir. Maka sepanjang itu pulalah saya rasa ingin tahu saya berkobar. Ketika karakter-karakter lain bermunculan, kejadian-kejadian aneh berdatangan, saya menebak-nebak apakah karakter ini ternyata itu atau karakter ini ternyata itu. Kepastiannya tidak akan saya dapatkan kecuali saya terus mengikuti jalan cerita! Saya sempat tergoda untuk mengintip bagian terakhir, kiranya dugaan saya betul. Tapi saya tetap ingin membaca.

Sebetulnya bukan saya tidak pernah terpikir kalau alur dalam novel ini klise. Hampir segalanya telah dirancang oleh karakter antagonis. Permainkan karakter protagonis: kecoh tokoh utama, pecah-belah para pendukungnya, dan seterusnya, lalu hantam habis-habisan di akhir! Tapi entah mengapa agaknya malah itu yang bikin semangat saya menggebu-gebu, mungkin karena saya tak sabar menanti tebakan saya benar apa tidak. Saya malah jadi menyadari pentingnya menata alur. Meski saya pikir sayang juga jika alur sudah dibikin sedemikian berpilin, ternyata di akhir diungkapkan begitu saja secara gamblang oleh karakter antagonis.

SMA Raya

Saya suka dengan gambaran SMA Raya sebagai SMA swasta di Jakarta yang tidak terlalu ngetop. Biarpun terkesan underdog, tapi SMA Raya menjadi istimewa karena keterlibatannya dalam peristiwa yang menentukan nasib dunia.

Para siswa SMA Raya gemar tawuran pula, dan ternyata itu malah ada gunanya dalam pertarungan melawan musuh. Namun saya kira bagian tawuran ini kurang dieksplorasi. Kendati dikatakan gemar tawuran, hanya bagian di mana Jaka dan Rani jadi hero saja yang ditampilkan, padahal agaknya bukan dua anak itu yang biasa tawuran, melainkan para siswa Geng Brimobs—yang malah baru dimunculkan belakangan. Kalau aksi para berandalan itu dalam tawuran sudah disuguhkan sejak awal, maka aksi berikutnya dalam melawan musuh yang berbeda wujud akan terasa lebih wajar.

Islam

Inilah hal yang paling saya soroti sepanjang membaca novel ini. Sejak dibikin takjub di prolog karena konsep Islam yang melandasi cerita ini, saya menggarisbawahi (dalam benak doang sih) setiap hal terkait Islam yang saya temukan. Mulai dari kalimat-kalimat toyyibah yang dilontarkan para karakternya, si Jaka yang salat Subuhnya tepat waktu, bapaknya Jaka yang mewanti-wanti sang anak agar tidak terjerumus dalam kesyirikan, salat Subuh berjamaah di tenda peleton, Ratih dan Rani yang habis salat Subuh, sajadah yang digunakan Pak Tris untuk mengusir monster-monster, sampai kekuatan ayat Quran yang dapat melemahkan sihir musuh. Subhanallah.

Tapi bertaburannya hal-hal Islami itu tak lantas menjadi fanatisme. Pengarang tetap memberi ruang bagi kepercayaan lain, sebagai contoh, kelima Pendekar Garuda adalah muslim namun salah satu titisannya ternyata bukan. Saya juga tidak mendapati adanya kesan yang “memihak”, melainkan ya memang begitu adanya yang terjadi di dunia G5UI. Selain itu, adegan-adegan romantika remaja disajikan sebagaimana lazimnya, kata “org*sm*” dilontarkan salah satu karakter, penamaan jurus-jurus juga agaknya masih didasarkan pada kepercayaan akan dewa-dewi. Tapi kalau dipikir lebih jauh, semuanya bisa diterima. Bagaimanapun unsur Islam lebih dominan.

Fantasi lokal agaknya tak bisa dilepaskan dari metafisika, yang acap dipersepsi mengarah pada kesyirikan. Saya awam sih dalam hal ini, tapi waktu SMA saya sempat ikut ekskul bela diri dengan tenaga dalam. Sejak itu saya memahami kalau metafisika itu tak mesti berarti syirik. Ini adalah bagaimana kita memahami sunatullah yang berlaku di alam lain, juga bagaimana kita mengenali dan mengendalikan energi dengan kekuatan dari dalam tubuh kita sendiri. Dan novel ini justru menunjukkan kalau pemahaman akan metafisika memperkuat keimanan.

Sebagaimana Jaka cs dalam novel ini, adalah tugas dari setiap manusia untuk menolak serangan iblis. Jika umumnya kita memaknai serangan iblis sebagai godaan untuk melakukan perbuatan maksiat, maka serangan iblis dalam novel ini diterjemahkan menjadi serangan yang sesungguhnya: makhluk-makhluk yang dapat memporak-porandakan dan melukai secara fisik; yang harus ditangkis dengan jurus-jurus silat. Kita di dunia nyata tak harus menguasai jurus-jurus silat agar bisa menahan godaan maksiat, tapi baik di dunia nyata maupun dunia fiktif G5UI, ada kepercayaan bahwa segala daya dan upaya akan berhasil jika ditunjang dengan doa.

Sebagai muslim, apa yang dikandung G5U1 barangkali cocok dengan kepercayaan saya. Mungkin karena itu, mungkin juga karena pengemasan yang populer dan toleran, maka saya merasa bahwa kendati menyiarkan ajaran Islam, G5UI tidak terasa sebagai novel dakwah. Entah juga kalau pembaca lain ada yang berpendapat sebaliknya hehehe…

Kok saya sepertinya sangat terpikat

Saya tidak mengerti ajian apa yang telah ditanamkan pengarang dalam novelnya ini hehehe… bahkan adegan yang barangkali bakal dianggap norak oleh sebagian orang saya lahap saja. Entah bagaimana cara pengarang menyusun kata-kata, saya begitu hanyut dalam cerita sampai saya merasa tersiksa. Saya tidak ingin berhenti membaca, tapi mata saya sudah tidak kuat!

Mungkin ini karena pengalaman baca saya yang masih kurang, sehingga saya menganggap novel ini luar biasa. Mungkin juga karena saya sendiri ingin menggarap cerita remaja, cerita remaja yang unik—baik ceritanya maupun remajanya. Dan sejak awal saya sudah menganggap novel ini unik, lalu kelucuan tersebar di mana-mana sehingga menyenangkan yang baca, narasinya enak dilahap, suspense­­­-nya pun kena, karakter-karakternya berkesan, dan seterusnya sebagaimana saya sudah jabarkan, meski saya tidak memungkiri kalau ada juga hal-hal yang menurunkan nilai novel ini, serta apa-apa yang saya sukai belum tentu orang lain juga suka.

Saya ber”adeuh… adeuh…” sendiri pas baca bagian yang judulnya saja sudah “Rahasia Hati” atau “Romansa Tenda”. Saya menyengir pas Jaka dan Prasti berlagak sedang syuting film Bollywood. Saya tergelitik ketika Neo Pendekar Garuda mencanangkan nama baru untuk kelompok mereka: G-Five (kalau saya jadi salah satu dari mereka, saya tidak akan memusingkan nama, langsung serbu saja!). Belum lagi adegan-adegan yang menimbulkan visualisasi bak sinetron dalam benak saya, entah itu adegan silat atau adegan adu mulut antar karakter. Adegan-adegan pertarungan di antara pepohonan pada bagian awal juga terasa bak sedang membaca komik Naruto, belum saat Ki Sangeti memperbanyak diri (kalau tak salah jurus Naruto yang serupa ini adalah kagebunshin kamehameha *ngaco), tapi saya larut saja. Semuanya sensasional.

Sementara para pendekar tengah bertarung dengan para dedemit, pikiran yang bertanya-tanya: bagaimana keadaan empat ratusan orang ‘awam’ yang menyaksikan itu; bagaimana kalau dalam situasi mencekam itu mereka ingin buang air tapi takut ke mana-mana, bisi dihadang setan; bagaimana kalau ada yang mendadak histeris lalu lari-lari keluar tempat perlindungan; dan seterusnya. Tapi saya abaikan kemungkinan-kemungkinan itu, pun barangkali ada bagian yang mengingkari logika, ikutin ajalah!

Dan begitu halaman 699 saya tuntaskan, saya terkulai di kasur. Capek, sekaligus puas. Saya tidak mengindahkan lagi kriteria “karya sastra yang baik” dan "karya sastra yang buruk” ala Eyang Budi Darma (lihat “Ceramah Eyang”), melainkan karya yang rame atau tidak.***

Senin, 14 Mei 2012

Keliling Dunia Lewat Jalur Bawah: Tak Kalah Menakjubkan!


Judul : 60000 Mil di Bawah Laut
Pengarang : Jules Verne
Penerjemah : Noviatri
Penerbit : PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2010

Sesuatu yang diduga cetacean menghebohkan dunia pelayaran. Banyak kapal menjadi korban. Monsieur Aronnax beserta pendampingnya yang setia, Conseil, mengikuti misi Kapten Farragut untuk menguak misteri tersebut. Mereka menumpang kapal Abraham Lincoln dan bertemu sobat baru dari Kanada, Ned Land.

Pertemuan dengan makhluk asing itu malah menghempaskan Aronnax, Conseil, dan Ned dari kapal. Mereka terombang-ambing di lautan sebelum akhirnya terdampar di punggung benda misterius yang diburu-buru, ternyata itu adalah sebuah kapal selam!

Saat itu tahun 1866, kapal selam Nautilus yang dikomandani Kapten Nemo merupakan penemuan yang luar biasa. Panjangnya mencapai puluhan meter sedangkan lebarnya sekitar delapan meter. Di dalamnya terdapat perpustakaan dan museum dengan koleksi dari sumber daya laut yang menakjubkan. Selain itu sumber daya laut juga dapat diolah menjadi bahan untuk menggerakkan kapal, berbagai hidangan yang lezat, dan sebagainya. Aronnax beserta kedua sahabatnya dijamu dengan sangat baik oleh Kapten Nemo.

Edisi bahasa Indonesia novel ini terdiri dari 404 halaman, dan saya hampir tidak bosan membaca dikarenakan deskripsi akan kehidupan bawah laut yang begitu semarak. Secara tidak langsung saya telah dibawa keliling dunia oleh pengarang, lewat jalur bawah! Tak hanya keindahan biotanya yang kerap mencengangkan, melainkan juga bentukan alam yang bervariasi. Dari yang “biasa” saja, hingga area super panas di bawah Gunung Santorin, lalu ciptaan Tuhan yang saking indahnya hingga dapat membutakan mata di bawah gunung es. Belum lagi gelimpangan harta, bahkan jasad manusia, dari kapal-kapal yang karam.

Sesekali Kapten Nemo mengajak para tamunya bertualang, mulai dari menyambangi daratan Papua, berburu berang-berang laut di Pulau Crespo, menyusuri lorong bawah laut yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Tengah, bertarung melawan cumi-cumi raksasa, mencicipi susu paus, hingga membalas serangan dari kapal lain.

Kendati begitu beragam yang bisa disaksikan di dunia bawah laut, kebosanan tetap dapat melanda. Satu setengah jam dalam pesawat saja sudah bikin saya merasa rada mengidap klaustrofobia, apalagi berbulan-bulan di kapal selam! Begitupun yang dialami dengan Aronnax dan para sobatnya. Beberapa kali Ned mengajak Aronnax dan Conseil untuk melarikan diri, akankah mereka berhasil?

Meskipun Kapten Nemo memberi para tamunya kebebasan untuk berkelana di penjuru Nautilus, misteri tetap terpendam. Sepuluh bulan mengembara dunia bawah laut bersama, identitas Kapten Nemo tidak terkuak, pun sekian puluh awaknya. Kematian salah satu awak di bagian tengah novel juga tidak diketahui sebabnya hingga akhir. Hanya penjelasan bagaimana kapal selam itu dibangun saja yang diungkapkan, agaknya ini sebab mengapa novel ini dikategorikan sebagai fiksi ilmiah. Jika novel ini adalah novel psikologis, agaknya sebab Kapten Nemo mengasingkan diri dari dunia luar dengan kapal selamnya itu akan dibeberkan. Alih-alih mengusut latar belakang para manusia dalam cerita ini, pengarang lebih suka mengeksplorasi kekayaan dunia bawah laut. Sentuhan kepribadian diberikan secukupnya: Kapten Nemo yang moody, Conseil yang setia, Ned yang temperamen, serta Aronnax yang berkepala dingin.

Namun dengan taburan deskripsi bawah laut di berbagai lokasi yang membumbungkan imajinasi, plus pengetahuan akan situasi bawah laut yang menakjubkan, saya kira novel ini merupakan bacaan yang baik bagi anak-anak, tentunya dari spesies kutu buku yang sudah kuat melahap novel tebal dengan ukuran font relatif kecil.

Bahasa terjemahan dalam novel ini sebetulnya mudah dicerna, tetapi beberapa kali saya menemukan adanya cetakan yang kurang enak dilihat, seperti “dsb” dan bukannya “dan sebagainya”, atau “asked” mendampingi “tanya”, “with” setelah “dengan”, juga “and” yang membarengi “dan”.

Bagaimanapun melalui novel ini pembaca dapat menyadari bahwa sumber daya laut begitu kaya, dengan potensi pemanfaatan yang amat besar, sekaligus rentan akan kepunahan. Ketika Ned meminta izin dari Kapten Nemo untuk membunuh paus, beginilah jawab sang kapten,

“…Tapi kali ini kita akan membunuh hanya untuk memenuhi kepuasan membunuh saja. Saya sadar itu hak istimewa yang diberikan kepada manusia, tapi saya tidak bisa menyetujui hobi membunuh sepeti itu. …. Populasi mereka sekarang sudah jarang ditemui di seluruh Teluk Baffin, dan nantinya kelompok binatang berguna ini lama-lama juga akan punah sendiri. Jangan ganggu paus-paus malang itu. Mereka sudah punya banyak musuh. Sebut saja cachalot, ikan pedang, dan ikan gergaji, tanpa anda sekarang mengusik mereka.” (halaman 299)

Saya jarang membaca fiksi ilmiah. Setelah membaca sekilas beberapa publikasi ilmiah mengenai genre satu ini, saya menyadari kontribusi fiksi ilmiah dalam perkembangan teknologi.

Berlandaskan pengetahuan mengenai teknologi yang telah ada, manusia memimpikan bagaimana teknologi tersebut jika dikembangkan lebih jauh lagi… Bagaimana jika teknologi kloning yang ada dapat menghadirkan lagi dinosaurus di muka bumi? Maka jadilah “Jurassic Park” oleh Michael Crichton. Dalam “60000 Mil di Bawah Laut” pun, setelah Nautilus dapat membuktikan kecanggihannya, terselip impian untuk membuat kota kapal selam.

Dan fiksi ilmiah tidak hanya menyajikan mimpi, melainkan konsekuensi yang mungkin terjadi dari teknologi tersebut. Dalam “Jurassic Park”: spesies dinosaurus terganas akhirnya memporak-porandakan eksistensi manusia di Isla Sorna. Dalam “60000 Mil di Bawah Laut”: Nautilus terjebak di gunung es sehingga seluruh penumpang kapal harus bahu-membahu menjebol es, sekaligus berbagi oksigen.

Jika selama ini fiksi ilmiah acap berlandaskan science yang bersifat eksak, apakah social science juga bisa menjadi bahan untuk membuat fiksi ilmiah?*** 

Rabu, 09 Mei 2012

Apanya Dong


Ini cerita tentang seorang cowok ketemu cewek, tapi tidak tepat 500 hari. Ali tidak pernah menghitung hari di mana langkahnya terhenti begitu melihat cewek itu. Ia tidak ingat sejak kapan. Dan seterusnya ia tertegun. Di balik pilar kantin, hangat-hangat dalam dadanya, sehangat-hangat seplastik cilok dalam genggamannya. Cewek berkuda ekor kuda—kuda Sumbawa—dengan gerak-gerik yang seakan atraktif, kebetulan ia lagi energik, yang lagi asyik cengkerama dengan kawanannya.

Bahu belakang Ali terdorong. Ketan mengajak adu bahu rupanya. Ali berlagak termangu. Di belakang Ketan ada pula Jongil, Mahmud, dan Kehed. Semua oknum 4KANGSON, sebuah forum di SMAN Selonongan yang keanggotaannya eksklusif: hanya senior yang sudah cowok. Tiap minggu kembang-kembang sekolah ditaburkan dalam forum untuk dikaji bersama, di mana Ali berpartisipasi secara pasif di dalamnya. Ia setia mendengar lagi bungkam. Ia bertahan dalam forum itu demi hiburan, demi apa lagi yang menarik untuk dibahas dari seorang cewek bernama Zia. Zia tidak layak disebut kembang sebetulnya, juga tidak berusaha untuk jadi kembang, tapi ada saja aspek dari cewek itu yang menarik bagi para partisipan aktif untuk membahasnya: celotehannya, sikapnya, gerak-geriknya, apa saja!, tapi malah bikin hati Ali jadi nyut-nyutan.

“Ali, nyanyi dong!” seruan Ketan membikin Ali bingung.

“Iya Li, kalo lagi terpesona, nyanyi dong!” tambah Kehed.

“Maaf ya, salah orang…” Ali hendak mengeloyor, tapi Ketan, Jongil, Mahmud, dan Kehed mengepungnya.

“…enggak apa-apa Li, kita tahu kok kamu enggak doyan nyanyi,” kata Ketan.

“Bukannya enggak doyan, emang enggak bisa,” tanggap Ali.

“Tapi keterpesonaan itu harus diungkapkan,” sahut Mahmud. “Jangan dipendam aja.”

“Iya, kamu harus lebih ekspresif, Ali. Makanya… kita bisa tahu kalo cuman kamu yang enggak ketawa pas kita lagi ngomongin cewek…”

“…argh,” usir Ali. Ia berusaha melepaskan diri. Ia kan berusaha menghormati para cewek itu dengan tidak ikut menertawakan mereka, meski ia tidak bisa berhenti menyimak juga.

“…cewek yang lagi beli bubur ayam,” sambung Mahmud.

Sontak Ali menoleh. O benar, dalam tangkupan tangan Zia ada semangkuk bubur ayam.

“Kalau kamu enggak bisa nyanyi, kita aja yang nyanyiin…” Ketan menepuk bahu Ali dari belakang, lalu melangkah pelan ke depan Ali. Kedua telunjuknya mengarah ke kepalanya sendiri, berputar-putar.

Pikir-pikir, apanya, apanya… a… panyaa dong… Yang sebelah maa…na? Sesuatu yang sangat menarik…

Ganti Mahmud yang berputar ke depan Ali.

Pikir-pikir, apanya, apanya… aaaaapanyaaa dooong… Geramannya memecah riuh kantin, sehingga orang-orang mulai mengalihkan perhatian. Dia punya apaa…? Sungguh matii aku tertarik…

Ali terlonjak ketika tahu-tahu Kehed dan Jongil menggiring Zia. Cewek itu sempat menjerit kaget. Salah satu tangannya masih memegang sendok dengan lumuran bubur di ujung. Di hadapan Ketan, yang berdiri di samping Ali, mereka berhenti. Kedua belah tangan Kehed dan Jongil memegang-megang wajah Zia.

Mungkin itu rambutnya? Jongil mengacak rambut Zia. Zia sontak mengangkat kedua tangan untuk melindungi rambutnya itu.

Sebelah tangan Ketan mengelus dagu. Ia menggeleng.

Dahinya? Kehed menyibak poni Zia. Zia langsung memukul tangan cowok itu, tapi tangan Kehed segera terangkat sehingga Zia mengenai dahinya sendiri.

Semuanya biasa saja. Coba aku lihat lagi, yang mana yang menarik… Muka Ketan mendekat ke arah Zia, yang kontan beringsut mundur, sembari tubuhnya berputar pelan mengitari cewek itu.

Mungkin itu matanya? Telunjuk dan jari tengah Jongil berusaha membuat mata Zia terbuka lebih lebar, Zia panik.

Hidungnya? Kali ini Zia berhasil menepis tangan Kehed yang berusaha menoel pucuk hidungnya.

Semuanya biasa saja. Ketan akhirnya mundur juga. Sejajar Ali, ia berhenti. Dengan lirikan yang menggoda pada Ali, ia melanjutkan, makin aku memandangnya makin aku jatuh hatiiii… Kedua tangan Jongil dan Kehed tertangkup di bawah dagu, memandang Zia dari bawah seakan cewek itu telah bikin mereka meleleh.

Ali dan Zia sama tersentak. Ketan, Jongil, Mahmud, dan Ketan kompak beringsut menjauh dari keduanya, lalu menyerbu orang-orang yang menyaksikan, bertanya dari satu orang ke lain orang.

Aapa apa apanyaa dong,
Apanyaa dong,
Apanya dong, dang ding dong…

Aapa apa apanyaa dong,
Apanyaa dong,
Apanya dong, dang ding dong daaang ding dong!

Mahmud mendekati Ali. Lama-lama, kupikir, kupikir, apa kuu..aat… Ali berusaha menghalau bocah itu, tapi gerakan Mahmud lebih cepat. Tahu-tahu Ketan yang berada di belakang Ali. Sebelah tangannya memegang-megang sebelah dada Ali hingga Ali bergidik, sebelah hatiku mauu… Ganti sebelah tangannya yang lain meraba sebelah dada Ali yang lain lagi, sebelah hatiku maluuuu…! O Ali jadi lemas digerayangi begitu.

Coba kulihat lagi, dari balik lingkaran kaca pembesar mata Mahmud terlihat makin besar juga, tak adalah… Akupun harus lihat benar. Jongil memberikan mikroskop pada Mahmud. Zia berhasil berlalu, tapi Kehed menghadangnya di sisi lain. Zia menjerit.

Ah. Ali sudah kadung malu! Panas merajah mukanya, dan gerah bergelenyar-gelenyar di penjuru bagian dalam tubuhnya. Jadi ia pun berbalik. Ingat bahwa sebagai senior ia sudah tidak leluasa mengongkang kaki di sekre ekskulnya dulu, batinnya makin kalut. Tahu deh mau ke mana, pokoknya tinggalkan kantin, dan laksanakan!

Tapi Mahmud mengaum makin keras, hingga menerjang rongga telinga Ali. Walaupun kalau kupergi… Ali menoleh, lebih untuk membalas Mahmud dengan tatapan sangar, meski secara tak diduga yang ia dapati malah tatapan Zia yang sama nanar. …dia pun mencuri pandang..

Lorong menuju koridor sekolah membenamkan tubuh Ali dalam kesejukan. Masih terdengar was wes wos di situ dan di mari, namun ketenangan Ali merayap seiring dengan keheningan yang merambat. Aja-aja ada si Ketan cs itu, tapi dalam hati masih saja ada sungutan Ali. Sekaligus ia malu karena ia malah kabur dalam situasi tersebut, ketimbang menanggapi dengan santai dan renyah. Ia merasa dirinya sangat kekanak-kanakkan, aduh, Ali tidak tahu lagi bagaimana harus menghadapi orang-orang… menghadapi cewek yang kerap bercokol dalam benak tanpa ia sendiri kehendaki… Ia berjalan sambil menunduk, sampai menabrak orang. Untung teman. Selagi bercakap seraya cengar-cengir sembunyikan malu, cewek itu melintas. Arah yang sama. Lagi mereka saling pandang, sama grogi. Ali langsung memalingkan kepala dari senyum tipis yang terulas di wajah itu.

COBA KULIHAT LAGI… teriak Ketan serta-merta. Raungannya lebih menggelegar ketimbang Mahmud…  DIA MULAI… BERANI SENYUM DAN MENANTANG… Tepat di telinga Ali, suara Ketan bagai membelai, enggak tahunya memang dia, lalu mengaum, KEKASIHKU YANG KUSAYAAANG…

Di belakang Ketan, tidak hanya Mahmud, Jongil, dan Kehed yang membentuk formasi. Ali menyadari siswa-siswa yang beserta mereka adalah yang ia lihat sewaktu di kantin tadi. Siswa-siswa lain yang semula nongkrong di tepi koridor ikut bergabung, bahkan teman yang tadi berbincang dengan Ali. Hanya Ali dan Zia, terpaku, ketika dalam gerakan yang serempak formasi itu mendekati mereka dan menggeru-geru,

APA APA APA APANYAAA DONG,
APANYA DONG,
APANYA DONG, DANG DING DONG

APA APA APA APANYAAA DONG,
APANYAAA DONG
APANYAAA DONG,
APANYA…

Apanya? Desis Ali.

Telapak tangan Ali berair. Ciloknya sudah tak begitu hangat. Ketan, Jongil, Mahmud, dan Kehed telah lama berlalu setelah menyapa Ali sekilas tadi. Kembali Ali leluasa untuk sekali lagi melihat cewek berkuncir kuda itu. Zia dan kawanannya telah mendapatkan tempat duduk di sisi kantin.

Tiba-tiba Zia itu berdiri, lalu berjalan ke arah Ali. Gerobak bubur ayam terletak beberapa meter di depan Ali. Buru-buru Ali memagut cilok, biar benda kenyal itu tertelan bersama ludahnya. Begitu mata cewek itu terarah padanya, Ali berbalik. Bahkan dalam bayangannya sendiri, ia tak mampu bernyanyi.


terinspirasi dari mendengarkan “Apanya Dong” oleh Serieus. kadang aku berpikir, cita-citaku seharusnya jadi sutradara video klip.

Kamis, 03 Mei 2012

PerNoWriMo: Raka (2) -- 4 dari 4

Raka (2)
Aku bersimpuh di depan pintu. Aku turunkan kepalaku hingga nyaris menempel ke ubin merah hati. Aku dekatkan penciumanku ke celah di bawah pintu lalu mengendus-endus. Bau itu semakin kuat di sini. Aku bangkit. Aku segera menarik-narik gagang pintu. Sepertinya dikunci juga. Aku berdecak. Aku tendangi pintu itu, barangkali bakal terbuka dengan sendirinya, tapi ternyata tidak. Kacanya saja yang bergetar.
Apa aku harus menunggu sampai pacar Ratu datang, memarkir mobilnya di depan rumah ini sebagaimana biasa, lalu menyulut rokok sembari menunggu Ratu keluar rumah, dan meledakkan rumah ini beserta dirinya sekalian mobilnya?
Aku harap itu terjadi.
Kalaupun tidak, kebocoran gas tetap bahaya.
Aku diam sebentar.
          Aku susuri jendela-jendela terdekat. Semuanya tertutup rapat. Barangkali saja ada yang bisa aku tarik keluar. Aku perhatikan lagi jendela-jendela itu dengan saksama. Semuanya diselot. Aku dekatkan muka pada jendela. Aku mendapati perabotan dan kesunyian.
          Aku edarkan pandanganku ke sisi lain pintu. Ada jendela-jendela yang lebih kecil, jendela berupa kisi-kisi maupun jendela persegi yang letaknya jauh melebihi tinggi badanku yang hanya 170 cm.
Ada dinding tinggi juga di ujung carport, dilapisi dengan batu hias hitam keemasan, yang melatari taman kecil. Di sampingnya ada pintu merah yang sepertinya terbuat dari besi.
Aku mendesah. Aku tidak sudi jalan ke sana.
Jadi aku balut tangan kananku dengan singlet Ratu. Aku mengambil jarak sekitar 1 meter dari pintu itu. Aku tarik sikut kananku jauh-jauh sebelum menghunjamkan tinju sekuat mungkin ke kaca pintu itu. Bunyinya tidak mengenakkan. Sontak aku berjongkok seraya memeluk buntalan kain di ujung lengan kananku. Kaca sialan itu tebal juga.
Aku buka buntalan kain itu. Aku tatap tanganku dengan nelangsa. Aku goyang-goyangkan sebelum membalutnya lagi. Aku atur nafas seraya memusatkan kekuatan pada tinju kananku. Kali aku menggunakan waktu yang lebih lama dari sebelumnya. Barulah aku menghasilkan bunyi itu lagi, BUK, BUK, dan BUK, aku meringis, sekali lagi, CRAK.
Retak sedikit. Aku buka balutan itu lagi. Tangan kananku sangat merah.
Kini giliran tangan kiriku bekerja, meski aku agak sulit mengarahkannya. Aku hantam lagi retakan itu. Aku arahkan juga pada bagian lain yang belum retak. Retakan membesar. Sebagian runtuh.
Aku menunduk. Nafasku yang tersengal-sengal terdengar sangat jelas. Aku puas. Puas sekali. Sekilas terpikir untuk menghancurkan seluruh kaca di rumah ini. Lalu seperti ada yang menjalar di bagian dalam tubuhku. Di tengah sengal, ujung bibirku tertarik ke atas. Aku sempat gamang sesaat. Tapi karena aku tidak ingat apa sebabnya, aku kembali menikmati kesenangan yang tiba-tiba ini. Ini cara yang jauh lebih menyenangkan ketimbang menelepon Bapak Anthony dan mengatakan kalau rumahnya bisa meledak sewaktu-waktu.
Pukulan selanjutnya aku hentakkan dengan semangat yang lebih besar. Lebih besar lagi pada pukulan-pukulan seterusnya. Minta maaf dan ganti rugi adalah perkara gampang, biar orangtuaku yang melakukannya, aku tinggal mengunci diri dalam kamar.
Tahu-tahu saja aku sudah berhenti. Aku cabuti potongan kaca yang tersisa di bagian bawah kosen. Setelah itu aku memastikan sisa potongan kaca di bagian samping kiri, kanan, dan atas tidak akan melukaiku begitu aku melewatinya untuk masuk ke dalam rumah.
Begitu turun dari kosen, aku berada di sebuah ruangan yang besar. Bau gas semakin menyengat. Aku sampirkan singlet Ratu ke bahu. Aku tutup hidungku dengan kerah kaos. Nafasku jadi pendek-pendek. Mataku nyalang mencari di mana letak elpiji bangsat itu. Intuisiku mengarahkan aku ke kanan.
Aku melalui sebuah lorong pendek dengan pintu di kanan-kiri dan bertemu dapur yang sedikit lebih luas dari dapur rumahku.
Ada berbagai kemasan makanan dan minuman pada meja besar di tengah ruangan itu. Sebagian berada dalam plastik. Tidak ada yang terbuka. Aku meraih salah satu bungkus snack, menilik tanggal kedaluwarsa, menyobeknya, lalu mencicipi beberapa batang. Enak.
Ada galon dan dispenser juga, air dalam galon itu tampak penuh, indikator heater pada dispenser menyala. Aku curiga jangan-jangan kulkas di ujung pantri itu hidup, bisa jalan-jalan, bisa makan, ah bukan, colokannya tersambung dengan arus listrik, maksudku.
Aku bingung. Jadi rumah ini sebetulnya masih dihuni ya?
Aku tutupi lagi hidung dengan kerah kaos. Aku dekati tabung elpiji di bawah kompor gas. Tidak terdengar desis. Kuputar kenop pada kompor. Rupanya dari tadi kompor ini menyala tanpa api.
Siapapun yang menghuni rumah ini, dia tolol.
Aku sibak tirai yang menutupi jendela dapur. Kuangkat selot, kubuka jendela lebar-lebar. Aku coba buka pintu-pintu, tapi sepertinya semua dikunci.
Aku kembali ke ruangan besar itu. Ketika melewati kosen yang bolong, aku ingat untuk tidak coba memecahkan kaca lagi. Aku bakal cari jendela sebanyak mungkin saja di rumah yang sumpek ini.
Tirai-tirai aku seret ke tepi, selot-selot aku tarik ke atas. Di balik dinding kaca aku berhenti. Aku menggeser tirai yang menghalangi pandanganku menuju rumah bertingkat dua di seberang rumah ini.
Halaman sebelah kiri rumah itu diteduhi pohon cengkeh dan pohon mangga.
Di bawahnya, ada bangku di mana Ratu dan Rara biasa mencurahkan kotoran di hati mereka pada satu sama lain, sembari merumuskan tindakan semena-mena berikutnya untuknya.
Sementara itu, aku di halaman tengah mengurusi tanaman hias sekaligus tanaman bumbu dapur, berlagak tidak mendengar apapun yang mereka pergunjingkan.
Halaman sebelah kanan adalah garasi untuk dua mobil, dengan satu motor menyempil, sedangkan mobil baru Ratu kebagian di carport.
Di atas garasi, ada bagian dari bangunan lantai dua yang menjorok agak jauh ke dalam, itu area babu.
Selebihnya sejajar dengan bangunan di bawahnya. Berturut-turut adalah kamarku, beranda, dan kamar Ratu.
Kuamati agak lama jendela kamarku yang tidak terlampau lebar. Aku malas membuka jendelaku, tapi aku selalu buka tirai sebelah dalam selama jam kerja matahari. Masih ada tirai satunya, yang putih berenda dan memuakkan, yang menyelubungi jendelaku. Tidak ada seorangpun yang bisa mengintip aktivitasku di dalam kamar, aku tersenyum.
Kamar Ratu dan kamar Rara ada di seberang kamarku, dipisahkan oleh ruangan cukup luas yang bersambung dengan beranda serta tangga. Jadi kalau aku mau ke lantai bawah dari kamarku, atau ke kamarku dari lantai bawah, aku pasti melewati area mereka, dan itu adalah momen-tidak-menenteramkan yang aku alami setiap hari sejak tinggal di rumah itu.
Tidak ada yang menarik.
Aku teruskan menggeser tirai itu hingga tepi. Cahaya matahari yang loyo akhirnya menggapai ruangan suram ini. Aku ikat bagian tengah tirai dengan tali yang aku temukan pada kosen.  
Aku hendak mencari jendela di ruangan lain. Bau menyebalkan ini tidak gampang surut. Maka aku berbalik, dan serta-merta tersentak.
Bukan Bibi, tapi aku tetap sulit meneguk ludah. Dan jantungku sudah kadung berdebar kencang, sialan! Bolor benar aku, sedari tadi keliaran tapi tidak lihat orang itu duduk di situ.
Dan ia cuman duduk. Kedua sikutnya bertumpu pada tangan sofa besar itu. Kepalanya teleng ke kanan, ditopang oleh jemarinya yang besar.
Laki-laki itu berbadan besar, tapi tidak gendut. Mungkin ia juga tinggi, kalau berdiri.
Sebagian badannya disiram cahaya matahari,  rambutnya yang lurus menjuntai sampai bahu terlihat agak kecokelatan.
Sepertinya ia berumur jauh lebih tua dariku, tapi ia tidak seperti om-om, atau bapak-bapak, mungkin 30-an, aku tidak bisa memastikan, aku bahkan tidak bisa berpikir, mendadak ada udara dingin yang membelai-belai.
Tiga puluh dua detik kami saling tatap, ekspresinya tidak berubah. Salah satu ujung bibirnya tertarik ke atas. Matanya terang sebelah, aku tahu itu karena cahaya matahari, tapi sorot keduanya sangat lembut.
Sangat lembut.
Akhirnya aku bisa meneguk ludah. Nafasku agak megap-megap, tapi aku masih cukup sadar untuk mengambil tindakan.
Aku berjalan menyamping, aku hendak menuju kosen yang bolong, tapi aku tidak bakal melepaskan mataku darinya, aku tidak bakal membiarkanku ia mendekatiku, me…
…matanya terus mengikutiku… bergerak perlahan.
Waktu aku makin mendekati kosen… semestinya aku sudah tidak berada dalam jangkauan pandangnya lagi jika posisinya tetap seperti itu… pantas tadi aku tidak bisa melihat keberadaannya yang terhalang sandaran sofa… sandaran sofa yang tinggi… tapi tiba-tiba badannya tegak… aku bisa melihat puncak kepalanya… dari balik sandaran sofa ia mengintip… mengintip dengan matanya yang terang… aku bisa melihat hasrat menyala di sana… sebelah tangannya mencengkeram tepi sandaran sofa… waktu tangannya menggapai… aku sudah melompati kosen.


...sampai jumpa kapan-kapan! :)




____________________






Rabu, 02 Mei 2012

PerNoWriMo: Raka (1) -- 3 dari 4

Raka (1)
Namaku Raka. Raka Pamungkas. Raka tapi pamungkas, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti yang terakhir, yang menimbulkan kematian.
Waktu aku kecil, aku gemetaran hebat ketika Bibi datang dalam wujud kematiannya.
Matanya seperti mau mencolot. Lengannya menggantung, nyaris putus. Tungkai kakinya tertekuk—bukan pada dengkul—sedang kakinya menghadap ke belakang. Sementara ia menyeret setengah badannya mendekatiku, satu per satu organnya jatuh.
Orang-orang mendapati wajahku pucat, suhu tubuhku naik—padahal aku merasa dikeram dalam kulkas, dan nafasku tidak teratur. Ludah menggumpal di pangkal kerongkonganku, tapi aku sulit meneguknya.
Sosok Bibi baru hilang setelah aku menjerit histeris, atau diam saja tapi ada yang memberiku kontak fisik.
Bahkan meski itu Ratu yang mencubit lenganku dengan keras, setelahnya aku bakal sangat lega.
Kadang aku sudah sangat lemas, tidak kunjung ada orang yang menepuk bahuku, tapi aku belum pernah pingsan.
Tapi Bibi juga muncul dalam sosok yang bersih. Kepalanya utuh, bagian tubuhnya yang lain juga. Ia pakai kebaya dan kain terbaiknya. Ia tersenyum padaku. Setiap kali melihat sosoknya yang seperti itu, aku ingin menangis, atau betul-betul menangis. Aku rindu.
Waktu aku kecil, kemunculannya adalah sesuatu yang tidak terduga.
Satu kejadian bikin orang-orang sibuk menenangkanku. Setelah itu aku pikir Bibi tidak akan muncul lagi. Aku melupakannya.
Lalu ia datang dalam wujudnya yang tidak berbentuk. Begitu seterusnya.
Sekali Bibi datang dalam wujudnya yang aku rindukan, aku terkecoh. Aku kira Bibi sudah memaafkan aku.
Tapi ketika ia datang lagi dengan darah menetes-netes dari tubuhnya, aku pikir Ratu dan Rara benar.
Aku mulai paham kalau Bibi bakal selalu datang, sewaktu-waktu. Aku tidak bisa menebak ia bakal muncul dalam wujud seperti apa. Ia bahkan menghampiri aku dalam mimpi.
Waktu aku lebih besar, aku mulai sadar. Kemunculan Bibi mungkin ada penyebabnya.
Meski pertemuan dengannya sering jadi pengalaman mengagetkan sekaligus mengerikan, pelan-pelan aku mengingat waktu kemunculannya, bagaimana wujudnya, sedang apa aku waktu itu, dan sebagainya.
Aku ingin bisa menemukan suatu pola. Aku ingin dalam keadaan siap sewaktu-waktu ia terlihat, sehingga aku bisa lebih mengendalikan diri.
Toh aku bukan orang yang dikaruniai kemampuan melihat makhluk gaib. Aku hanya melihat Bibi.
Ibu gagal bikin aku ketemu psikolog secara kontinyu, Ratu dan Rara makin jarang mengkaitkan aku dengan kematian Bibi, sampai tidak pernah sama sekali.
Kami pindah ke kota satu, lalu ke kota berikut, lalu kota di mana kami tinggal lagi sama Bapak. Bapak mengajar di universitas negeri setempat.
Tapi Bibi masih suka mengamati aku dari pojok ruangan.
Aku suka ketika aku bangun lalu mendapatinya tersenyum padaku. Seperti saat ini, saat di mana matahari jadi pecundang di hadapan mendung, rautnya yang penuh kerut bersinar karena indah.
Entah mengapa aku malu. Aku makin membenamkan sebagian mukaku ke bantal, tapi sebelah mataku tetap padanya.
Aku tidak pernah benar-benar memerhatikan wajah Bibi.
Ketika aku mendapati segurat kuyu di sana, mungkin ia sedih karena bocah ciliknya tidak lagi gembil. Ia tidak bisa lagi mencubit kenyal di bagian bawah wajahku, tidak saja karena fisiknya yang tidak ada, tapi karena aku sudah punya dagu.
Sejenak mataku teralih ke lain arah. Kesadaranku sudah benar-benar pulih. Tapi pikiranku belum terisi dengan apa yang harus aku lakukan habis ini.
Mataku terarah ke pojok lagi. Bibi sudah tidak ada. Bertahun-tahun lalu aku masih bisa merasa kehilangan. Kini entah mengapa perasaanku sedatar papan. Mungkin karena aku tahu. Nanti ia akan muncul lagi, entah kapan.
Mungkin barusan ia datang untuk mengingatkan kalau aku belum makan siang. Sebetulnya aku ingat, berkat Rara menggedor pintu kamarku, lalu Ibu meneriakkan namaku, tapi aku sengaja tidak bangkit.
Hiruk pikuk penawaran dan kesepakatan transaksi campur baur dengan kesegaran sayur gunung, anyir darah, tengik keringat. Sebaiknya tubuhmu lentur, atau kamu akan memecahkan rekor tubrukan terbanyak. Otot pada lengan dan kakimu juga perlu dilatih, ada beban seberat 7,3 kg yang kamu harus angkat, dan total 5.255 langkah yang kamu harus tempuh. Keseimbangan juga tidak kalah penting, kamu harus menjaga motor yang digantungi plastik-plastik belanjaan—belum penumpang di belakangmu dengan plastik belanjaan paling besar—agar tidak goyah sepanjang 1,2 km perjalanan. Lima jam setelahnya, pengorbanan untuk Minggu pagi tanpa Doraemon terbayar dengan sajian khas Tio Ciu di meja makan.
Ibu selalu ingin membawa aku setiap kali ia belanja. Aku kalkulatornya. Tugasku lainnya, yang bermula dari iseng saja, adalah mencermati setiap angka yang dilontarkan pedagang. Ayam, 28.000, daun seledri, 2000, daun bawang, 2000, cabai, 10.000, jamur, 20.000, penyedap masakan 3.500… dan sebelum pedagang angkat kalkulator, aku sudah harus mengucapkan, “65.500,” pada Ibu. Ibu bilang ini adalah kemampuan paling dasar yang dimiliki setiap lelaki dari keluarga Bapak, yang menurutku setiap anak SD juga punya.
Aku lebih suka makan sendiri, tanpa tatapan pedas dari para kakak, atau pinta Bapak untuk memoles koleksi barang-barang kuningannya, atau Ibu yang ingin aku bicara lebih banyak. Aku lebih suka makan sendiri, dengan Ibu melintas di belakang, Bapak yang tidak mengacuhkan dunia sementara TV bersamanya, tapi si kakak tetap paling resek sejagat raya.
“Deeek… Mana bajuku?”
Aku merasakan kehadiran Ratu di sampingku. Berkacak pinggang, pasti. Aku tidak menoleh dan tetap asyik menggigiti tulang ayam. “Di beranda…”
Ia menjewerku. “Kan aku udah bilang, jangan dijemur di beranda!”
Panas dan perih di telinga, aku memandang marah pada Ratu sampai ia menaiki tangga. Aku ingin melemparkan tulang di tanganku ini padanya.
Si kuda binal itu kembali. Ekornya yang panjang terlihat bergoyang-goyang melalui celah antara lekuk pinggang dengan lengannya. Alisnya bertaut sedang bibirnya mengerut.
“Tank top-ku enggak ada!” serunya gusar.
“Baguslah…”
Ia menyabetku dengan blus wol di tangannya. Seperti dilecut dengan ijuk. Aku balas ia dengan tulang. Aku tidak peduli nanti malam Bibi akan mendatangiku dalam wujud apa. Ratu mencengkeram kepalaku dengan kedua tangannya yang berjari panjang-panjang. Ia mengacak-acak rambutku. Aku harap Bibi mendatangi Ratu juga.
“Makanya, cuci baju sendiri!” sentakku.
“Ini kan gara-gara kamu ngegores mobilku!” Ratu semakin gemas. Seketika ia mengangkat tangannya dari kepalaku, mungkin karena Bapak menoleh.
“Cepet cari! Jam empat nanti aku pergi, bajunya mau aku pake!”
Aku tahu aku kalah. Tapi aku tetap mengerahkan pandangan yang mengecam kepadanya.
Tidak lama setelah ia berlalu, aku menghabiskan makananku.
Aku menuju ke beranda dan memang tidak mendapati singlet Ratu di sana. Angin menghampiri aku dengan kasar. Mungkin ia biangnya. Pandanganku melayang dari awan gelap yang bergolak lalu menyisir genteng dan halaman rumah-rumah di bawah.
Ratu sudah berkali-kali memintaku membersihkan noda di bajunya. Ia mahasiswa S2 sekaligus asisten dosen di almamaternya, tapi kebiasaannya seperti anak kecil. Entah kapan ia akan berhenti menorehkan pulpen ke blus wol atau singletnya.
Aku sudah kasih tahu dia di mana aku menyimpan gliserin dan garam sitrun untuk menghilangkan noda-noda semacam itu, tapi ia sering sok sibuk.
Ia mencari-cari kesalahanku padanya atau kebaikannya padaku, ia pikir ia bisa bikin aku tidak berkutik dengan itu.
Aku lebih suka membencinya sebagaimana ia membenciku, ketimbang berbuat baik padanya sebagaimana ia pernah berbuat baik padaku.
Jadi aku jemur baju-bajunya itu di beranda, biar orang yang lewat depan rumah tahu kalau Ratu suka pamer baju.
Dan Ratu itu tidak bisa melihat, meski matanya gede, tapi ia kuda. Apa tadi ia tidak lihat singletnya terkapar di halaman rumah depan?
Aku pilih langsung ke sana saja ketimbang koar-koar di depan kamarnya.
Tapi aku tidak mangkel, apalagi menyerapah, ketika aku menuruni tangga, terus sampai ke pintu depan.
Aku seret kaki. Sandal jepit yang aku pakai bergesek dengan lantai semen, lalu aspal.
Aku baru menyadari model rumah itu serupa dengan model rumah yang muncul di film-filmnya Rano Karno waktu masih seumuran aku, plus lumut, tapi sudah dikikis. Hamparan rumput tempat singlet Ratu jatuh juga sepertinya belum lama dipangkas. Ada tumpukan daun kering di sisi halaman, lengkap dengan sapu lidi milik Gaban, tapi ada daun kering yang juga berceceran. Sepertinya rumah ini dibersihkan setiap kurun waktu tertentu.
Dulu Ratu dan Rara sempat berteman sama mbak-mbak yang tinggal di rumah ini, tapi tahu-tahu saja mbak-mbak itu beserta keluarganya pergi, rumah itu tidak dihuni lagi, tapi aku tidak ingat itu sejak kapan, karena aku tidak peduli.
Papan dengan tulisan cetak “DISEWAKAN” bersambung nomor ponsel Bapak Anthony digantung pada pagar besi dengan karat di sana-sini. Papan itu bergoyang-goyang ketika aku menaiki pagar yang setinggi mataku. Digembok sih. Kedua tanganku menggapai bagian atas pagar tersebut yang datar.  Dengan itu aku mendapat topangan untuk menghela badanku naik. Aku pijak kedua kakiku pada sela-sela pagar, pada besi yang melintang di sana. Lalu satu demi satu kakiku pindah ke sisi pagar sebelah dalam, menginjak besi melintang lagi, baru melompat ke lantai semen.
Serta-merta hidungku bergerak-gerak. Aku mencium bau menusuk yang menimbulkan perasaan tidak nyaman.
Aku ambil singlet Ratu sebelum langkahku makin menjauhi pagar, makin menerobos hawa lembap di bawah carport yang beratap.
Pintu masuknya terletak di samping, dan di ujung carport, sementara bagian depan berupa dinding cokelat pudar, dinding berlapis batu hias dengan cokelat yang lebih tua, disambung dinding kaca yang besar dengan tirai cokelat menutupinya. 
Aku mendapati debu pada permukaan jendela, dengan besi-besi melingkar dan tirai putih berlubang-lubang di baliknya, tidak dibersihkan dengan cukup niat. Tapi aku hanya lihat sekilas. Tidak ada satupun yang terbuka.


...bersambung ke besok: Raka (2)


Selasa, 01 Mei 2012

PerNoWriMo: Bibi (2) -- 2 dari 4

Bibi (2)
Seorang tetangga mendatangi rumah pada suatu sore. Salah satu lubang hidung anaknya disumbat tisu. Memar mewarnai pelipis dan sekitar mata kiri sang bocah. Ibunya mencak-mencak di depan Bibi. Kali ini Sari tak mau ikut. Ia diam saja di dapur dan menyibukkan diri sementara Bibi dimaki-maki.
“Kurang ajar! Masak anak saya dilempar pakai truk? Memangnya anak saya ini apaan?! Ya Gusti…”
Pandangan Bibi yang nanar menyapu lantai. Mulutnya melantunkan permohonan maaf dengan amat lirih. “Ya… Ya… Bu… Nanti saya kasih tahu anaknya…”
“Jangan cuman kasih tahu anaknya, kasih tahu juga ibunya! Punya anak kok ya enggak bisa ngedidik…”
Jantung Bibi serasa diperas. Adalah tanggung jawabnya untuk membesarkan anak-anak sementara ibu mereka berkutat nyaris sehari penuh di kantor. Sekuat mungkin ia menahan agar tubuhnya tidak gemetar.
Wanita tersebut mengumpat seraya menyeret anaknya pergi dari halaman.
Selepas kepergian mereka, Bibi mencari-cari selopnya. Rara yang sedari mula mengintip kejadian tersebut keluar dari balik pintu depan. “Mau ke mana Bi?” tanya gadis cilik itu pelan. Ia tak kalah gentar dari Bibi.
“Mau cari Adek…” kata Bibi. “Sudah Mbak Rara di rumah saja ya…”
Rara memang tidak berminat untuk ikut mencari Raka. Kegalauan Bibi masih bisa Rara rasakan hingga sosok nenek itu menghilang di belokan jalan. Garis-garis lembayung membayang di langit. Rara menutup pintu lalu berlari mencari tempat yang terang di dalam rumah.
Bibi mengangkat kain hingga sebagian betisnya tersingkap. Tapak selopnya beradu dengan aspal berbatu. Ia tidak terpikir apapun mengenai di mana kira-kira keberadaan Raka. Hanya nyalang matanya pada apapun di sekitarnya. Bibirnya komat-kamit mengucurkan doa agar petunjuk dari Yang Maha Tahu mengarahkan langkahnya.
Wajahnya mengernyit tepat ketika ia mendapati lapangan kosong-melompong. Ia mengelus-elus dada. Terasa ada sesuatu yang dipelintir di dalam sana. Ia memelankan langkah. “Dek… Dek Raka…” Kepala beberapa ekor gagak menengok ketika suara parau itu mengudara.
          Dari balik pagar rumah yang tengah dilewati, seorang wanita muda menegurnya. Wanita itu menunjuk arah menuju sawah. Ia melihat Raka berjalan ke sana.
Ketenangan membercak di atas nyeri Bibi. Ia mengucapkan terima kasih pada wanita itu. Langkah Bibi menjadi lebih wajar meski masih diliputi ketidakpastian. Barulah ia berucap syukur ketika melihat sosok itu di atas hamparan rumput.
Kepala bocah itu tengadah ke angkasa dengan mulut menganga. Ia begitu terkesima ketika beberapa ekor merpati mendarat di pundak pria di sebelahnya.
“Dek… Dek Raka…” Bocah itu menoleh. “Ayo pulang yuk…”
Cengiran yang diulas bocah itu memamerkan barisan gigi yang kecil-kecil lagi putih. Matanya lebur menjadi garis. Semburat jingga runtuh di atas kepalanya.
Bibi kira bocah itu akan berlari ke arahnya, menyeruduk ke dalam pelukannya. Tapi Raka malah terus melewatinya. Kepalanya teleng. Ekspresi pada wajahnya meneriakkan kata-kata, “Ayo kejar aku Bi!” Kecemasan Bibi kian jadi. Ia mengangkat kainnya lagi. “Oalaaah…” desahnya panjang. “Bibimu ini udah enggak kuat lari, Dek…” Tapi kemudian ia tetap tergopoh-gopoh.
Bocah itu lari cepat sekali bagaikan ahli. Dalam pelarian ia merasakan sensasi mendebarkan. Akankah Bibi berhasil menangkapnya? Selama ini ia membayangkan jarit Bibi, yang biasa dipakai untuk menggendongnya, juga berfungsi sebagai selendang terbang. Bibi akan menyibakkan kedua ujung jarit tersebut lalu melesat ke atas. Raka mendongak. Ia berharap melihat sosok Bibi dilatari kelamnya awan. Meski tidak menemukan apapun selain formasi kawanan burung yang hendak pulang ke sarang, dayanya untuk melanjutkan pelarian tetap ada.
Sebentar lagi Raka akan melewati jalan menuju rumah. Tapi ia tidak ingin pelariannya usai begitu saja. Ia tidak menoleh ke belakang sama sekali. Ia tahu Bibi akan selalu mengejarnya. Ia bisa merasakannya. Ia ingin Bibi menangkapnya lalu bersama-sama mereka pulang.
Jalan raya menghadang. Tidak ada kendaraan yang berlalu dengan kecepatan pelan. Ini adalah jalan penghubung kabupaten dengan kotamadya. Bibi selalu menggenggam tangan Raka dengan erat jika mereka hendak menyeberang. Ada bakso yang lezat di sisi jalan satunya. Mereka cukup sering membeli ke sana. Dan menyeberang adalah hal yang mudah. Tengok kanan. Kendaraan masih menyerbu. Tunggu sampai arusnya mereda. Sudah? Kendaraan seperti tidak kunjung berhenti. Raka bingung. Ia menoleh ke belakang dengan gelisah. Bisa-bisa Bibi keburu sampai. Saat itulah mata sipit sang bocah menangkap sepasang orang yang hendak menyeberang juga. Dengan gesit langkah-langkah kecilnya menjejeri mereka. Ternyata pembatas jalan ini tinggi juga. Raka merasa lebih mudah menaikinya ketika ada tangan Bibi menarik sebelah tangannya, atau sekalian mengangkat badannya yang subur itu. Tapi Raka bisa melakukannya sendiri! Bocah itu menyimpan sorakannya untuk ia tunjukkan nanti, saat Bibi sudah sampai di tepi jalan. Sementara itu ia menanti sambil bersandar pada tiang lampu. Ia memantulkan-mantulkan punggungnya pada tiang tersebut seraya sesekali pandangannya teralih ke tepi jalan. Itu Bibi!
Raka mengangkat kedua lengannya setinggi mungkin seraya melambai lalu melonjak-lonjak. Terpancar sekilas kelegaan di wajah panik Bibi sebelum kembali mengawasi laju kendaraan. Bibi ingin lekas menyeberang. Raka tidak memerhatikan kerut-kerut yang tidak biasa di wajah Bibi. Ia terus melonjak-lonjak. “Bibi! Aku bisa nyeberang lo! Bibiii!” teriaknya sekencang mungkin untuk menyemangati.
Orang-orang di samping Bibi bergerak dengan langkah cepat. Bibi menyusul dengan tertatih-tatih. Mendadak ia tercekat. Tepat ketika orang-orang di sampingnya tadi telah mencapai pembatas jalan, sebuah bis menyalip sedan lantas menerobos ruang yang ada. Sopir bis tidak memperhitungkan adanya wanita tua yang gagal melanjutkan langkah. Benturan keras antara tubuh manusia dengan dinding depan bis berkecepatan tinggi serta-merta memalingkan banyak wajah. Seluruh ban di bagian kanan bis itu melindas tubuh Bibi, disusul ban dari mobil-mobil lain yang tak sempat menghindar. Jeritan dan seruan membumbung bersama polusi di udara.
Raka tak memerhatikan bagaimana ada kendaraan yang seketika berhenti dan tetap melaju. Ia tidak melihat orang-orang yang berlarian searah dengan ceceran darah, meski ia mengikuti mereka. Getaran merambati setiap langkahnya. Setiap langkahnya berpijak ke paving block, seketika itu kakinya terasa goyah. “Bibi… Bibi… Bibi…” gumamnya tanpa henti dengan tatapan nanar sekaligus setengah sadar. Aliran udara menyetrum pelan sekujur lehernya, telinganya, lantas merembet ke tepian lengannya… Dengan gontai kakinya menuruni pembatas jalan, “awas!”, dan dua buah kendaraan berdesing bagai peluru di belakangnya. Ia menyentuh orang-orang yang ia lalui tanpa melihat mereka. Ia hanya ingin memegang sesuatu.
Seseorang berjengit ketika  merasa ada sesuatu yang mencengkeram pergelangan tangannya. Seorang anak kecil. Tatapan bocah itu terpaku pada sosok yang terkapar dalam genangan darah di aspal. Sosok dengan posisi tubuh yang ganjil. Lengan dan kaki tidak mengarah ke semestinya. Rambut kelabu terburai menutupi sebagian wajah. Mulut terbuka setengah. Mata membeliak ke arah berlawanan. Salah satu bola mata yang nyaris mencuat dari rongganya mengarah tepat ke sang bocah. Cengkeraman di pergelangan tangan mengencang.


...bersambung ke besok: Raka (1)