LAINNYA

Rabu, 31 Oktober 2012

Di Dalam Tubuh Miranda



“Kenapa kamu masuk ke Miranda?”

Justru aku mau keluar. Tolong aku keluar dari sini.

“Wah. Saya enggak berkemampuan buat ngeluarin kamu. Saya cuman bisa dialog sama kamu aja.”

Dan ngobrol bareng makhluk dari alam lain selalu jadi pengalaman eksotis buatku.

“Kenapa kamu bisa ada di dalam Miranda?”

Miranda nyaman. Orangnya baik, teman-temannya suka. Hidupnya enak, semua dipenuhi orangtuanya. Rajin belajar, aku bisa banyak menyerap ilmu manusia.

“Terus kalau kamu emang nyaman kenapa kamu pingin keluar?”

Aku enggak aman lama-lama di sini. Teman-temanku pindah-pindah medium, mereka lebih dihargai. Mereka belajar lebih banyak, mereka mendapat lebih banyak. Enggak ada tempat yang aman sebetulnya, tapi harus ada dinamika.

“Ya udah keluar aja.”

Enggak segampang itu. Kamu lihat sendiri kan, Miranda kesakitan waktu aku mau keluar. Aku sengaja muncul waktu Miranda dengan orang banyak, supaya menarik perhatian, supaya ada yang bisa bantu aku keluar.

“Oh baguslah. Mungkin entar orangtua Miranda bakal panggil kiai, orang pinter, atau apa…”

Tapi sebetulnya aku takut. Aku udah terlalu lama di Miranda. Nanti pasti susah menyesuaikan diri lagi dengan medium baru. Aku bingung.

“Tapi akhirnya kan kamu udah terlanjur menampakkan diri…”

Makanya itu, aku enggak tahu setelah ini gimana. Aku capek sama masalah ini. Aku enggak tahu sampai kapan bisa tahan di sini, tapi apa aku bisa tahan di luar sana? Oh…

Nonmiranda menangis dengan menggunakan air mata Miranda.

Tiba-tiba tubuh Miranda berkelojotan, diakhiri sentakan kencang. Pandangannya kosong sesaat, lalu dengan lemah celingukan. Ekspresinya tidak lagi menyerupai Suzanna waktu minta sate 100 tusuk, suaranya tidak lagi seperti Darth Vader.

“...ngh, aku kenapa sih...?” tanyanya, dengan napas masih terengah.

sumber gambar:
http://bengkuluekspress.com/siswa-sman-3-bs-kesurupan-massal/
Akupun seperti baru menyadari kalau hanya aku dan dia di ruangan ini. Dia perempuan dan aku bukan. Lengan dan kakinya terikat di tempat tidur. Pintu tertutup. Gorden rapat. Sialan. Makhluk itu menghilang begitu saja. Dasar pecundang. Setan labil.

“Enggak ada apa-apa,” kataku. Lekas-lekas berdiri.

“Kenapa aku di sini? Ngapain kamu di sini?!” Kali ini gelisah Miranda bukan karena makhluk di dalam tubuhnya, aku yakin… ia lebih ngeri padaku ketimbang pada makhluk di dalam tubuhnya-andai-saja-ia-tahu.

“Tenang, tenang, Miranda…” Lihat, pakaian kita sama-sama utuh. Kamu di tempat tidur dan aku di sofa yang jaraknya satu meter lebih darimu. Tubuhku bahkan tidak condong ke arahmu. Sayangnya aku terkelu.

Cepat! Sebelum dikira pervert!

“Saya panggil guru dulu…” ucapku sebelum menutup pintu, “…ngasih tahu kalau kamu udah sadar,” dengan menyimpan sesuatu yang masih ingin bersembunyi di dalam tubuhmu.[[waktuhabis!]] 


241012:sekadar ngerjain latihan dari sini
dengan menggunakan emosi yang ada di lagu "Runaway, Houses, City, and Clouds" (Tame Impala, 2010)

Selasa, 30 Oktober 2012

Belajar Menghajar


Bogemnya menjurus ke daguku. Bagus, aku bisa mengelak. Deru napasku menghebat, dengusnya tertahan di lubang hidung. Bagus, begitu pula katanya. Sekarang apa? Yang kupikirkan hanya menyerbu perutnya dengan puncak kepalaku. Tertangkap kedua belah tangannya, lalu tergampar tendangannya bak bola. Aku terhuyung. Tubuhku berderak di ubin. Tidak ada gunanya meresapi nyeri. Mengaduh-aduh bukan senjata yang mempan. Ia ulurkan tangan padaku, kusambut, sekalian kujegal tumitnya. Sip! Ia nyaris terjungkal, tapi bagian atas tubuhnya lantas berkelok dengan luwes, lalu menghantam tubuhku dari atas. Dadaku menubruk ubin. Ia biarkan aku terengah-engah berapa lama, sebelum menarik sebelah tanganku dengan kasar. Aku bahkan tidak sadar ia sudah tidak menindihku. Bagian belakang tubuhku terlempar hingga menabrak dinding. Segera ia mengambil jarak, angkat kedua bogem, sementara sepasang tungkai kakinya menjejak kuda-kuda. Ayo, ayo. Hembusan napasku amat keras. Sebelah mataku sudah tidak melihat. Serasa aku bakal ambruk setiap saat. Tapi ia menantiku. Aku kerahkan pukulan sikut, berharap bisa menusuk bagian manapun dari tubuhnya, manapun, ayo, terjatuhlah. Tapi bogemnya menggebuk pipiku. Sial! Sontak aku meludah. Gimana, rasanya? Ia mengulas senyum. Asin, bangke!, asin! Kujawab dengan batuk-batuk yang efeknya bak meledakkan rusuk. Aku bisa dengar sengalnya. Pelipisnya yang berkilat-kilat akibat keringat. Mendadak semangatku nyala. Ini akan jadi penghabisan, penghabisan! Kujelmakan diriku kilat, condong ke perutnya. Ia berkelit, untung masih tertangkap sebelah mataku yang masih dapat membuka. Hyah! Hyah! HYAAH! Aku sudah tidak peduli mana tangan mana kaki. Pandanganku merah, merah. Aku dibakar panas dari mana-mana, bekas tubuhnya yang menubruk tubuhku dengan semena-mena. Terakhir kuayunkan pundakku, pundakku, jatuh dalam rengkuhannya.

Ia tertawa, bangsat!, ia tertawa. Aku terkulai di kaki tempat tidurnya, sementara ia turun ke lantai bawah. Suara ibunya. Ada apa sih Nak gedebak gedebuk di atas. Beres-beres, Bu!, serunya bernada misuh-misuh, aku tahu dalam hati ia terkekeh puas, si keparat itu. Bercak merah menodai seragamku, bagus, seragamku sekarang menyerupai bendera Jepang. Aku tidak tahu jatuh dari mana cairan itu, dari dahiku apa hidungku apa mataku apa mana. Barangkali jantungku pun telah melesak ke kepala, berdenyut-denyut keras di sana.

Ia kembali, menghamburkan barang-barang dari tangkupannya di dekatku. Kapas, cotton bud, sebotol alkohol, Betadine, plester… Aku tidak tahu kalau ia ikut PMR di sekolah. Pedulilah. Perih mulai menimpa titik-titik mulai dari permukaan kulitku hingga beberapa kilometer lagi ke dalamnya. Kuintip sesekali matanya, yang dengan saksama memerhatikanku—lukaku.

“…aku enggak mau ginian lagi,” ucapku, dengan napas yang masih sukar kuatur.

“Manja banget kamu ini,” gerutunya, tanpa senewen betul.

Aku tidak menjawab, sekalian menelengkan kepalaku. Aku ingin meludah lagi. Tapi melihat bercak dari lukaku pada hari-hari sebelumnya saja belum ia bersihkan… ya ampun si brengsek ini benar-benar jorok—kadal buntung.

Ocehannya terus dengan bagaimana pukulanku makin kuat, tendanganku makin mengena, tusukanku makin lincah, dan pertahananku makin gesit dari waktu ke waktu.

Jujur, aku tidak bisa menahan ini, aku ingin bersamanya—ya aku memang ingin bersamanya!, tapi tidak untuk jadi samsaknya. Tidak untuk jadi pengganti dirinya sedang ia pengganti bapaknya, dulu, dulu ketika ia bangun siang ditampar, tidak menghabiskan makan digampar, keluyuran ditonjok, tidak kerjakan PR dijotos, menangis ditoyor, mengeyel ditempeleng. Ringan tangan dan berat mulut, begitu ia mengenang bapaknya, yang almarhum.

“Tapi kamu tahu, Raka, waktu aku jadi juara umum di SD-ku. Aku pulang bawa piala besar, piagam, hadiah… kamu tahu gimana bapakku?”

“AKH!” Tiba-tiba ia menabok lenganku dengan kencang, membuatku tahu mesti ada memar yang dalam di sana.

“…sebetulnya enggak persis di sana sih, tapi di punggung…”

Jangan tabok punggungku!

bikin sendiri dong ah meme-mu di
http://memegenerator.net/instance/28839326
“…habis itu dia nangis, Raka, dia nangis. Yang lain enggak merhatiin dia nangis, tapi aku tahu dia nangis, dia langsung pergi jadi yang lain enggak liat, tapi aku tahu, Raka, aku tahu.”

Setelah menyobek pembungkus plester ia henti sesaat. Memandang ke lain arah sebelum kembali padaku. “Aku bukan orang yang sulit kayak bapakku. Kalau aku ingin kamu jadi temenku, aku bisa bilang langsung sama kamu, enggak sulit.”

He. Benarkah? Ia tidak melakukannya. Ia cuman mengajakku ke kamarnya, main game, lalu bilang kalau tarung betulan lebih enak ketimbang tarung dengan avatar, lalu ia ketagihan. Aku bisa apa, tubuhnya jauh lebih besar dan perkasa.

“Tapi…” sejenak mukanya mengernyut-ngernyut, “…aku suka cara bapakku.”

Ia menyeringai, lebar. [cukupah:14.20 – 15. 11:231012]


sekadar ngerjain latihan dari sini

Senin, 29 Oktober 2012

Perempuan di Ambang Jendela


Perempuan itu tinggal di sudut kamar di lantai dua. Kamar yang hanya ditempati ketika ada tamu. Aku sudah menyadari keberadaannya sejak aku kecil. Kadang malam-malam aku menemani ibuku ke gudang, yang terletak di dekat kamar itu. Pintu kamar terbuka, gelap tanpa setitik pun nyala, dan menampakkan sosoknya yang hanya disinari bulan.

Aku pernah menanyakan tentangnya pada ibuku. Ibuku tampak tidak suka. “Hush!” ujarnya. “Enggak ada siapa-siapa di situ.”

Tapi aku tahu ia sungguh ada. Setelah ibuku bicara seperti itu, beberapa kali kami ke lantai dua lagi, aku masih melihatnya. Tapi aku biarkan saja. Lama-lama aku tidak menggubrisnya juga, sebagaimana ibuku.

Ibuku, sekalian adikku, kemudian meninggal dalam suatu kecelakaan. Aku tinggal berdua di rumah dengan ayahku—plus seorang bibik yang bekerja untuk kami dari pagi sampai menjelang sore. Kalau malam rumahku menjadi sangat sepi, karena ayahku pulang semakin larut.

Suatu malam ayahku tidak pulang, ada dinas. Ia menyuruhku untuk menginap di rumah tanteku saja sementara, tapi aku merasa sudah cukup besar untuk ditinggal sendiri di rumah semalaman.

Malam itu aku mengerjakan PR sembari menonton TV. Tidak bisa kupungkiri lama-lama kesendirian memberdirikan bulu romaku. Sesekali aku mengedarkan pandang ke sekitarku. Napasku memburu. Kubayangkan seorang pria tiba-tiba memasuki rumahku, mengacungkan celurit dengan wajah garang, aku digoroknya sampai nyawaku meregang, lalu ia pergi dari rumah ini dengan menggotong barang-barang berharga.

Kukeraskan volume TV. Aku sudah tidak bisa berkonsentrasi pada PR.

Tiba-tiba ada suara. Aku kontan berlari ke lantai dua. Uh mengerikan sekali di lantai bawah, sendiri. Barangkali itu hanya kucing atau apa, tapi aku kadung ketakutan. Kalau di lantai dua kan aku tidak sendiri. Aku tahu, aku ingat.

Perempuan itu masih ada di sana. Duduk tenang di ambang jendela. Begitu anggun.

Aku duduk di tempat tidur, jarak di antara kami mungkin hanya semeter.

“Hei,” panggilku. “Halo.”

Dan itu menjadi awal perkenalanku dengannya. Sepertinya ia juga sudah mengenaliku sejak lama, begitu yang aku sangka dari sorot matanya. Rautnya begitu pucat hingga ia tampak seperti panda berwujud manusia. Pipinya tirus, ia begitu kurus. Rambutnya hitam panjang, agak acak-acakan. Mulutnya membentuk garis mendatar. Gaunnya putih panjang, seperti transparan, seperti bersayap. Usianya mungkin belasan tahun lebih tua dariku.

Terlalu jeri aku untuk kembali ke lantai bawah dan kembali sendirian. Maka aku duduk saja bersamanya, menikmati malam yang tanpa angin. Aku mencoba berkata-kata untuk mengusir kecanggungan. Ia tidak bisa menjawab kata-kataku, tapi aku tahu dari ekspresi matanya ia menyimakku. Kata-kataku keluar semakin lancar hingga membentuk cerita. Aku ceritakan diriku. Aku ceritakan ayahku. Aku ceritakan ibuku dan adikku yang sudah tiada. Aku ceritakan teman-temanku di sekolah, yang tidak terlalu menganggapku. Aku ceritakan orang-orang yang harus kuhindari, kadang bikin aku sampai berlari. Kadang aku berhenti sejenak, termenung sendiri akan ceritaku. Tapi di bawah tatapannya aku merasa ditunggu untuk melanjutkan. Tidak terasa kantuk olehku. Menakjubkan. Setelah mulutku basah kembali aku berikan yang ia nanti-nanti, sampai wujudnya diburai azan subuh.

Aku tertegun, dan aku mengantuk. Aku tidur hampir di setiap pelajaran di sekolah.

Hampir-hampir ia kulupakan ketika ayahku bersamaku saat malam. Teringat ia. Ketika ayahku tidak memerhatikan aku berlari ke atas. Ia ada. Kutumpahkan hal-hal menarik yang kualami hari itu, seakan ia sebuah buku harian. Ia tersenyum—ia tersenyum! Lalu aku kembali ke lantai bawah karena ayahku menyuruhku untuk tidur.

Esok lagi aku mendatanginya lebih awal. Tidak banyak yang bisa aku ceritakan padanya kali itu. Tapi aku ingin bersamanya. Walaupun ia selalu diam seperti ayahku, tapi aku tahu matanya selalu padaku. Aku ingin mengerjakan PR ditemani olehnya.

Dari ambang pintu kulihat sosoknya, membuatku gembira. Aku nyalakan lampu, dan ia menjadi tidak tampak.

Kurasa aku bisa mengerjakan PR dengan penerangan bulan saja.

Malam-malamku selanjutnya banyak kuiisi dengannya. Jika beberapa malam saja aku tidak bertemu dengannya, rasanya aku merindukannya. Ia yang mendengarkanku dengan tulus. Bahkan sesekali ia tertawa meskipun aku merasa tidak ada yang lucu pada ceritaku, tapi bukan tawa menghina. Barangkali aku telah menghiburnya. Aku kira ia pun kesepian. Tawanya terdengar seperti dari kejauhan, hampir-hampir lirih dan tidak menyentuh pendengaranku. Ia tidak pernah memperlihatkan giginya. Sebetulnya aku ingin ia dapat bicara, tapi sepertinya aku belum siap jika ia sampai memperlihatkan giginya, meskipun aku tidak tahu giginya seperti apa.

Ia sudah menantiku sejak magrib dan akan memudar menjelang subuh. Tapi aku tidak lagi pernah menghabiskan semalaman penuh bersamanya, karena ayahku akan heran kenapa aku begitu betah di lantai dua yang sumpek, dan ia rahasiaku, ayahku tidak boleh tahu. Kalau langkah ayahku sampai mendekat aku segera pamit pada temanku di ambang jendela itu. Di mata ayahku aku sudah tampak seperti senang memencilkan diri, apalagi kalau ia sampai menyaksikanku bicara sendiri, aku tidak mau ia sampai mengira ada yang salah denganku.

Tapi pada suatu malam aku merasa harus menghabiskan malam di kamar itu lagi. Ini bakal jadi yang terakhir kali, sebab ayahku telah memberitahuku. Kami akan pindah ke rumah yang lebih besar dengan seorang ibu dan adik-adik untukku. Bukankah itu menyenangkan? Kami berkemas-kemas hingga berhari-hari, tapi hari sebelum hari kepindahan kami berkemas-kemas hingga larut aku lelah sekali. Di depan perempuan itu aku ambruk. Maafkan aku bahkan terlalu lelah untuk bercerita. Aku tahu ia sudah puas hanya dengan memandangiku. Aku tidur menghadapnya. Tersenyum padanya sebelum memejamkan mataku. Sinar rembulan menghangatkan wajahku.

Gelap begitu singkat. Tahu-tahu sayup-sayup subuh menyelusup ke dalam rongga telingaku. Oh sudah saatnya ia menguap, aku tahu, tapi aku tidak kuasa membuka mataku, malah membenamkan sisi wajahku lebih dalam ke bantal. Pada sisi wajahku yang terbuka kurasakan belaian lembut menerpa. Ia telah pergi, selamat tinggal, untuk kembali lagi di penghujung hari berikut, tapi aku sudah tidak ada. (19.48 – 20. 34/221012)


dengan diiringi “Anomali” dari Rumah Sakit dan “Pumped-up Kicks” dari Foster The People 
sekadar ngerjain latihan dari sini 

Minggu, 28 Oktober 2012

Elegi Kelinci Toska (II)


Sesaat aku kaku. Barangkali kelinci itu akan menyerbuku. Akan segera kututup pintu dari luar jika itu terjadi, lalu mencari tameng untuk melindungi diriku dari sergapannya.

Tapi ia tenang.

Berapa lama kami mengamati satu sama lain. Kelinci itu seperti patung berbulu. Aku bukan. Aku mengalah. Kutarik kursi lalu duduk di balik meja, posisiku membelakangi jendela. Kukeluarkan buku catatan setengah terbakar itu dari laci. Segera aku berbalik, ingin tahu reaksinya.

Ia bergeming.

Kubuka halaman terakhir yang kuisi. Kuangkat pulpen. Sesekali aku menoleh padanya, masih ia bergeming.

Apa ia akan menerkam leherku saat aku menulis? Punggungku mendadak bak agar-agar.

…kamu bakal menulis nama-nama lagi…i…i…

…suara itu berat dan lesu, lamat-lamat. Aku berbalik. Kelinci itu masih patung berbulu. Jantungku mulai memompa lebih kencang. Dengus napasku terdengar benar, panas di bawah lubang hidungku.

…kamu bakal menulis nama-nama lagi…i…i…

Aku yakin mulut kelinci itu tidak terbuka sama sekali. Tapi suara siapa yang mendenging-denging di kepalaku, menggetarkan indra pendengaranku dari dalam?

Mataku pada matanya. Patung berbulu. Pada mulutnya, tanpa sepercik darahpun. Aromanya samar-samar merambat, barangkali karena terpaan angin dari belakang, kepalaku pening.

...tulislah… suara itu lagi. ...tulislah sebelum tujuh hari...i…i…

Kini aku membeku. Luar dan dalam.

…batasnya tujuh hari…i…i…
…atau habiskan buku itu…
…lalu giliranmu…

Raib inginku untuk menulis nama-nama. Aku tidak mau melukai orang lagi.

...di buku itu paling banyak kamu tulis tentang dirimu…
…darahmu akan sebanyak yang kamu tulis tentang dirimu…

Aku harap ini hanya mimpi. Sempoyongan aku menggapai-gapai kasur, meskipun itu mendekatkanku pada sang kelinci. Suara itu memeras otakku, seperti anak kecil yang menggigiti bola bulu dengan gemas. Sebelah wajahku tenggelam di bantal, sebelah mataku membelalak ke arahnya. Adakah kamu—adakah kamu? Mata kelinci itu lurus masih ke mejaku, seolah aku di sana masih…

…kepalanya bergerak sedikit-sedikit. Robotkah ia?

Wajahnya tepat di wajahku. Wajah manusia. Bayang-bayang. Kelinci hilang. Ini baru petang kan, kenapa tahu-tahu serasa malam? Argh… Badanku tak bisa kugerakkan. Mulutku dibungkam bantal.

Kupejamkan mata, kubenamkan seluruhnya pada bantal berapa lama.

Kuintip lagi. Masih ada wajah itu, cuman wajah. Seorang pria kusut kasau.

Makhluk itu punya mulut kali ini, ia bicara dengan mulut.

Tenanglah! Ia berkata seperti itu berkali-kali, dan aku seperti terhipnotis. Tapi aku masih terlalu lembam untuk bangkit. Ini cuman kutukan.

Yeah. Ini cuman… kutu… kan?

…cuman.

Aku terkutuk untuk melaksanakan perintah.
Perintah dalam buku itu.
Buku itu harus dibuang.
Buang ke lubang yang tidak mungkin ada.
Lubang yang tidak mungkin ada di bawah pohon yang tidak bisa dihancurkan.
Buang sebelum tujuh hari.
Tujuh hari sejak kamu terakhir kali menulis.
Ini hari keenam.
Besok…
…besok.
…besok…

Lama-lama suara itu menyerupai bisikan. Dan aku tertidur. Aku tidak bermimpi apa-apa. Hanya hitam. Kepalaku berat. Aku tidak merasakan kakiku. Pikiranku melayang-layang mencari refleksi, tapi tak mewujud apa-apa. Hanya mengiang-ngiang selama aku terhanyut ke dalam ketidaksadaran. Ada sebuah dunia yang lain, yang aku tidak pahami, yang aku terseret, tidak bisa keluar, dan… to…

…looo…

…ooo…

…ooo…

…ng…
           
…!

Aku terbangun. Kelinci itu masih patung berbulu di ambang jendela. Perlahan kututup lagi mataku. Kulelapkan diri ke dalam palung tanpa mimpi. Sampai aku terangkat kembali oleh parasut yang mendadak terpasang pada punggungku. Ia patung berbulu masih. Kepalanya menghadap ke meja, seolah aku di sana masih. Aku terperangah dan ngeri, tapi lamban laun terhunjam dalam lelap lagi.

Aku bangun dengan tersengal-sengal, seakan baru mendapatkan giliran dalam marathon.

Kelinci itu!...

…tidak ada di jendela!

Semula moncongnya yang dingin menyentuh ujung jempol kakiku, menghentakkanku dari lain alam. Lalu ia mulai melahap, menggerogoti. Aku berteriak. Kakiku bergerak dengan liar, menendang-nendang udara. Tubuh kelinci itu berat, berayun-ayun di udara, menarik jempolku serta. Kuambil bantal lalu kuhempas keras-keras di atas buntalan toska itu. Cengkeraman gigi-giginya makin kuat pada jempolku. Aku mengerang. Makan wortel sana, jangan jempolku!

Merah merembes dari pangkal jempol ke kasurku, sementara bening dari sudut mata menuju lembah kakiku. Aku tak melihatnya ketika tahu-tahu jempolku bebas dari mulutnya. Pucuk hidungnya bergerak-gerak. Aku terpana, sesaat, karena setelahnya terkaman kelinci itu lebih beringas dan lebih beringas.

Ia menyerbu sekujur tubuhku. Gigitannya silet yang menancap-iris. Langsung ke kulitku, atau menembus kain bajuku. Ia lukis motif di tubuhku, berupa bercak-bercak darah. Aku berlari ke luar kamar dengan bebannya berayun-ayun dari pundakku, serasa segumpal dagingku akan tercerabut.

Ibuku histeris mendapatiku pontang-panting, dan kelinci itu. Ia kehilangan daya untuk berkata-kata.

Aku terjerembap saat kelinci itu menggarap tempurung lututku. Lututku terlipat, hendak menghunjam lantai, tapi terhalang tubuhnya.

“Ngek!”

Tak ada lagi sayatan silet tebal pada lututku. Kukira kelinci itu  tewas tertohok lututku.

Ia di pinggangku.

Sebelah lenganku menggapai-gapai ke arahnya. Dapat!—bulunya! Kurenggut! Akh! Kutarik dengan tubuhnya yang gempal itu sekalian. Aku berteriak keras karena agaknya selapis dagingku terbawa. Benar saja, menggelantung dari mulutnya yang bergincu darah. Sementara sebelah tanganku mencekal lehernya, akuberganti posisi, lalu sebelah tangan lagi. Seerat mungkin kedua tanganku hendak menghancurkan bagian dalam lehernya. Ia meronta-ronta. Giginya yang lebih menyakitkan dari duri berupaya mencabik-cabik jemariku.

Sampai ia habis daya.

Sore itu pula kelinci itu kubakar di pinggir halaman. Asapnya lebih busuk dari bangkai. Berapa lama menyebar ke seantero rumah, barangkali akan meracuni kami hingga kami jadi zombie. Tak terjadi. Badanku amat lemas setelah kejadian itu. Ibuku mengobati lukaku sementara, air mata bercucuran seperti tidak bakal henti, lalu ketika ayahku pulang kami ke rumah sakit.

Buku catatan setengah terbakar itu kukembalikan ke tempatnya semula, di bawah pohon yang terbelah dua. Kugali tanah dalam-dalam. Si laknat itu kutanam.

Hujan lebat beberapa hari kemudian. Lembah di mana pohon itu tertancap longsor.

Kunanti kukuku mengeras, gigiku meruncing, mataku memerah, kulitku menebal, segala proses yang kubutuhkan untuk jadi zombie. Tidak ada. Berangsur-angsur luka-lukaku kembali jadi kulit, meski tak secokelat sedia kala.

Yang ada adalah suatu ketika tubuhku terasa ditekan dari seluruh penjuru. Telingaku gatal luar biasa, kugaruk kuat karena begitu menyiksa. Begitupun gigi-gigiku, aku ingin mencopot semua. Di bawah sorot purnama aku menggeliat, gorden memang selalu kusingkap. Tekanan itu semakin dahsyat. Sprei kucakar-cakar dengan kukuku yang meruncing. Tungkai lengan dan kakiku memendek. Apa terjadi. Mataku terbuka lebar-lebar. Sebisa mungkin tak kututup, agar dengan saksama kusaksikan pertumbuhan rambut-rambut di sekujur tubuhku. Melebat dan menghijau. Toska.***


Disclaimer!: “Kelinci Toska” adalah lagu karangan Sind3ntosca, bercerita tentang seekor kelinci yang dijauhi teman-temannya karena warnanya yang beda, jelek dan bau. Cerpen ini sebetulnya tidak secara langsung terinspirasi dari lagu tersebut, melainkan begitu saja menancap di imajinasi saya saat saya mencoba untuk mengerjakan latihan dari sini. “Bahan-bahan” sebenarnya yang saya gunakan untuk membentuk cerpen ini adalah “a half-burned notebook”, “an ancient curse”, “a mysterious rabbit”, “an impossible doorway”, dan “an indestructible tree”.

Sabtu, 27 Oktober 2012

Elegi Kelinci Toska (I)


Semalam petir menggelegar. Konon menumbangkan sebatang pohon di hutan kota. Petang aku datang untuk mengeceknya. Sekadar iseng.

Pohon terbelah dua. Di bawahnya buku catatan tertimbun sebagian oleh tanah. Separuh gosong buku itu, serpihan-serpihan hitam melayang ketika aku membersihkannya.

Halaman-halamannya kuning kasar. Semakin ke tengah semakin memudar. Kusentil lagi ujungnya yang terbakar, agar remah-remah jatuh ke belukar.

Seorang pria bertopi mendekat. Aku selipkan buku itu ke dalam jaket.

Di kamar aku amati buku itu dengan lebih saksama. Di balik sampul tertera aksara, seperti warisan zaman purba. Aku tak bisa memahami paku-paku yang bersaling-silang itu. Jangan-jangan ini mantra kutukan. Hahah.

Aksara itu ditoreh dengan tinta yang demikian dalam meresap. Agak kecokelatan.

Pada beberapa halaman berikut aku menemukan beberapa baris tulisan tangan. Kali ini, mestinya, berupa alfabet. Namun tulisan itu ditimpa oleh coret-coretan. Agaknya oleh tinta yang sama hitam.

Halaman-halaman lain tak berisi.

Buku itu kubiarkan saja mendekam di laci. Hingga beberapa lama tak kusentuh lagi.

Aku berpikir-pikir mengenai buku tersebut. Siapa gerangan yang memiliki. Aku penasaran bagaimana rasa menorehkan tinta pada permukaan halamannya yang agak kasar.

Kuputuskan sampai kapanpun pemilik buku itu tidak akan pernah jelas. Apa aku harus memindainya, menggunggah rupa buku itu ke berbagai media sosial, demi sepintas informasi mengenai siapa pemilik buku itu?

Kuputuskan untuk menggunakan buku itu sebagai ganti jurnalku yang telah habis.

Aku bukan seorang penulis jurnal yang rajin. Hanya beberapa hari sekali aku mengungkapkan sesuatu dalam jurnal. Sering peristiwa yang kuurai tidak penting amat.

Tanganku seperti terbenam saat kupertemukan ujung pulpen dengan kertas pada buku catatan yang setengah terbakar itu. Seolah ujung pulpenku tidak mau lepas lagi dari permukaan itu. Tanganku ditarik dan ditariknya lagi. Menari terus, betapa luwes. Tahu-tahu beberapa halaman telah berbalik.

Kesadaranku sampai. Aku hentikan penulisan. Kututup buku itu. Perasaan menakjubkan menyelubungiku. Entah kenapa. Aku bersyukur apa yang aku tuliskan pada permukaan kertas tidak lantas menyayat-nyayat permukaan kulitku, bak Harry Potter saat dihukum salah satu gurunya.

Selang beberapa hari, aku tidak ingat, aku belum berhasrat untuk menulis lagi, ketika makhluk itu muncul di rumahku. Sepasang telinganya sepanjang tubuhnya barangkali. Warnanya lebih toska dari jas almamater ITB. Aromanya sebusuk comberan. Giginya setajam sembilu, masya Allah!, ia menggigit leher ibuku. Ibuku menjerit-jerit. Ayahku berusaha menarik kelinci itu, tapi bagaimana agar kulit ibuku tidak ikut sobek. Rahang makhluk itu menganga dengan merahnya darah ibuku saat berhasil dilepaskan, serta-merta meloncat ke dada ayahku ia terkam. Ayahku teriak-teriak sementara ibuku yang masih terengah-engah berusaha merenggut makhluk itu juga. Adikku di tepi menangis-nangis tidak tahu mesti berbuat apa, sama terpaku seperti aku. Baru aku tersengat untuk bergerak ketika kelinci itu, dengan darah ayahku telah melumuri mulutnya, meloncat ke kaki adikku. Lengkingan adikku menyayat. Makhluk itu memperbesar raupannya seketika aku meremas tubuh gempalnya. Bulunya yang kasar lengket. Ayah dan ibuku berteriak-teriak. Tangisan adikku nyaring. Aku terguling seketika kelinci itu melepaskan mulutnya, tubuhnya, dari kaki adikku sementara ia masih dalam cengkeramanku yang melemah. Ia melesat. Tinggalkan sebuah keluarga dalam darah. Membawa darah ibuku, ayahku, adikku dalam mulutnya, tidak aku.

Esok aku pergi ke sekolah dalam kecamuk. Keluargaku masih dilanda panik, bagaimana jika kelinci itu muncul lagi, bagaimana jika ia masih bersembunyi di sudut-sudut rumah, di tepi-tepi halaman. Kenapa aku tidak diserang. Sepulang sekolah aku akan memburunya, harus.

Di sekolah, di kelas, aku menemukan orang-orang yang aku kenal, banyak temanku dan sedikit guruku, tampak dengan perban melekat di anggota badan. Di wajah, di leher, di lengan, di pinggang, di paha, di kaki. Alasan mereka sama. Seekor kelinci berbulu toska dan bau menghajar mereka sekonyong-konyong. Tidak akan melepas sampai membawa darah di mulutnya, lalu pergi begitu saja. Kudukku dileleri es batu.

Tetapi, berarti kelinci itu sudah tidak berada di sekitar rumahku. Ia sudah berkeliaran di jalanan kota, bahkan gang demi gang, solokan demi solokan. Menghampiri banyak temanku dan sedikit guruku, siapapun sebetulnya, siapapun yang menempati relung-relung di otakku, yang kucungkil untuk kuurai dengan aksara…

…aku hapalkan wajah-wajah itu yang mengeluh akan sakit daging mereka yang terkoyak. Sekian jahitan membolongi kulit mereka. Mencemaskan infeksi akan menjalari saluran darah mereka, bagaimana jika kelinci itu membawa virus. Sehari mereka demam, esok isi tubuh mereka mulai membusuk, otak mereka hilang, namun tubuh mereka bergerak-gerak tak keruan. Digerakkan oleh rasa haus akan darah yang kelinci itu tularkan pada mereka.

Di rumah aku buka buku catatan setengah terbakar itu. Kutelusuri orang-orang yang kurekam di sana. Ibuku, ceklis. Ayahku, ceklis. Adikku, ceklis. Si Anu, ceklis. Si Itu, ceklis. Si Una, ceklis. Si Uti, ceklis. Ceklis. Ceklis. Ceklis.

Belum sesuatu yang aneh terjadi pada keluargaku. Belum keluar hasil pengecekan di laboratorium-apakah mereka terinfeksi virus yang dapat mengubah mereka jadi zombie. Aku menonton TV dan menyibak koran, menyimak aksi para hipokrit. Sebuah cita-cita tercetus dalam kepalaku, yaitu untuk membersihkan masyarakatku dari hewan-hewan berwujud manusia itu. Aku bukan KPK, tapi barangkali aku bisa menyentil para koruptor dengan cara lain. Sekadar gigitan tak akan membuat mereka jera, tapi bolehlah aku mengerjai jahanam-jahanam itu.

Apalagi buku catatan ini lebih canggih dari Death Note. Aku tidak perlu tulis nama lengkap segala, kekuatan misterius dalam buku ini tahu siapa yang kumaksud. Tidak ada serangan jantung yang mematikan memang, ataupun skenario lain. ….. Barangkali bisa kucoba. Kutulis nama seseorang yang sedang berkibar di koran dan TV dan mana-mana berkat perkara sekian M. Gigit sampai mati. Aku menulis nama-nama hingga satu halaman, sebetulnya hingga aku tidak tahu siapa lagi yang cukup bangsat untuk dianggap sebagai sampah masyarakat. Kugeletakkan buku itu di laci. Kudiamkan.

Berhari-hari aku amati jikalau ada perubahan pada keluargaku. Adakah kuku mereka mengeras, gigi mereka meruncing, mata mereka memerah, kulit mereka menebal, segala proses yang mereka butuhkan untuk jadi zombie. Mereka masih mengganti perban meski sudah hampir seminggu, luka yang cukup dalam. Tidak ada tanda-tanda, cuman berita kalau pejabat X mendadak masuk rumah sakit karena diserang makhluk misterius. Pejabat Y juga, dan pejabat Z, dan oknum… Tidak pernah seseru ini membaca koran dan memelototi TV.

Permainan ini semakin menarik. Aku ingin menulis lebih banyak lagi nama di buku itu. Muhahahahahaha…

Kelinci itu duduk di tepi jendela kamarku.

Seandainya aku bisa mengecat bulu makhluk itu dengan warna yang lebih tidak mencolok mata, dan memasang lensa kontak pada matanya—keseluruhan bola matanya merah kelam. (bersambung)


Disclaimer!: “Kelinci Toska” adalah lagu karangan Sind3ntosca, bercerita tentang seekor kelinci yang dijauhi teman-temannya karena warnanya yang beda, jelek dan bau. Cerpen ini sebetulnya tidak secara langsung terinspirasi dari lagu tersebut, melainkan begitu saja menancap di imajinasi saya saat saya mencoba untuk mengerjakan latihan dari sini. “Bahan-bahan” sebenarnya yang saya gunakan untuk membentuk cerpen ini adalah “a half-burned notebook”, “an ancient curse”, “a mysterious rabbit”, “an impossible doorway”, dan “an indestructible tree”.

Jumat, 26 Oktober 2012

Betapa Mabuk Bikin Keblinger



You Were Perfectly Fine” merupakan cerpen karya Dorothy Parker (1893 – 1967), seorang satiris yang terkemuka di AS. Cerpen yang pertama kali dipublikasikan di The New Yorker pada tahun 1929 ini mengangkat tentang dampak dari alkohol.

http://article.wn.com/view/2012/07/11/Another_Dorothy_Parker_Mystery/
Seorang pria tidak enak badan karena mabuk semalam, pun tidak ingat apa saja yang telah ia lakukan. Seorang wanita mendekati, lalu menegur. Percakapan mereka menjadi sajian utama dalam cerpen. Sang pria bertanya apa saja yang telah ia lakukan semalam. Sang wanita pun menjawab. Sang pria khawatir akan tingkah yang macam-macam di luar kesadarannya, yang berdasarkan laporan sang wanita memang terjadi dan sepertinya situasinya sangat kocak…

Didn’t I eat my dinner? he said.

Oh, not a thing,she said. “Every time the waiter would offer you something, you’d give it right back to him, because you said that he was your long-lost brother, changed in the cradle by a gypsi band, and that anything you had was his. …”

…ini hanya salah satu di antaranya.

Dan selalu, setelah habis laporan mengenai tingkah yang satu, sebelum dilanjutkan dengan tingkah yang lain, dengan lekas sang wanita menghibur sang pria. “You were all right”, “You were wonderful”, “You were perfectly fine”…

Rupanya pada semalam itu pula sang pria telah mengucapkan sesuatu yang sangat menyenangkan hati sang wanita… tanpa kita ketahui secara pasti apa sang pria benar-benar memaksudkannya atau tidak.

Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga, dan terbatas. Kita tidak diberi petunjuk yang pasti mengenai status hubungan di antara kedua orang tersebut. Tidak langsung dikatakan bahwa semalam adalah pesta, si pria mabuk, sehingga dari deskripsi secukupnya yang diberikan kita cuman bisa mengira-ngira. Pun latar yang digunakan hanya sebuah ruangan, entah di rumah atau di hotel. Simpel. Bahkan semula saya mengira wanita dalam cerpen ini memiliki ketertarikan sepihak dengan si pria, lalu hendak menjebak pria tersebut agar bersamanya.

Adapun sebuah sumber menyebutkan bahwa cerpen ini berdasarkan kehidupan pengarang dengan suaminya yang alkoholik. Alih-alih memperkarakan kecanduan suami akan alkohol—bagai menuang bensin ke api unggun—istri malah menyikapinya dengan humor demi mempertahankan pernikahan mereka. Simpati pun berbalik.

Anggap saja pria-wanita dalam cerpen ini memang suami-istri. Agaknya mereka memiliki kehidupan rumah tangga yang rapuh. Istri tidak pasti akan perasaan suami akan dirinya…

…”And I’d never known, all this time, how you had been feeling about me, and I’d never dared to let you see how I felt about you. …”

...sedang suami seperti yang kurang menaruh perhatian pada istri. Malah saat mabuk ia sempat-sempatnya menggoda wanita milik orang lain.

“…you know how silly Jim get, when he thinks anybody is making too much fuss over Elinor.”
“Of course you didn’t,” she said. “You were only fooling…”
“Was I making a pass at Elinor?” he said. “Did I do that?”

Akan tetapi setelah segala kejadian memalukan itu, di perjalanan pulang dalam taksi suami mengatakan sesuatu pada istri yang membuat istri senang—terlalu senang. Tidak jelas sebetulnya apa yang dikatakan suami pada istri malam itu, tapi agaknya momentum tersebut membuat asa istri yang semula redup sontak melejit. Suami mengiya-iyakan saja, saat istri mengungkapkan betapa indah momen tersebut. Saya kira sebetulnya suami tidak yakin dengan apa yang ia katakan semalam.


“Oh, surely,” he said. “Mrs. Hoover or anybody. So I fell down on the sidewalk. That would explain what’s the matter with my—Yes. I see. And then what, if you don’t mind?” 
 
“Oh yes,” he said. “Riding in the taxi. Oh, yes, sure. Pretty long ride, hmm?” 
  
“Yes,” he said. “I guess it must have been.”

Agaknya suami tertegun istri masih sudi menanggapinya dengan baik, setelah berbagai akibat konyol yang timbul dari alkoholismenya. Dan ia masih bisa bilang, “I think I’d better go join a monastery in Tibet,” yang segera ditampik istri.

Suami kemudian menyuruh istri mengambilkan minuman, lalu sendirian ia menjadi lemas. Ia cuman berkata “oh, dear, oh, dear, oh dear” yang dalam bahasa Indonesia barangkali “ya ampun, ya ampun, ya, ampun DJ.” Kita tidak diberi tahu apa yang ada dalam pikirannya. Jika saya boleh mengembangkan cerita ini, saya kira suami tidak menyangka bahwa hubungannya dengan istri malah baik-baik saja. Mungkin sebetulnya ia tidak yakin dengan hubungannya dengan istri, alkohol jadi pelariannya, sementara istri justru masih ingin mempertahankan hubungan tersebut.

Beberapa link yang menyediakan cerpen ini secara cuma-cuma di Google. Bacalah, dan terkekeh-kekeh sendiri, sekaligus merenung. Sejak “The Train from Rhodesia” dari Nadine Gordimer, saya dibikin termenung akan hubungan suami-istri yang tidak lancar. Agaknya satu individu saja sudah diciptakan untuk menjadi begitu kompleks, dan ketika ia harus bersatu dengan individu lain yang tentu kompleks pula, kompleks kali lipat deh.

Saya tidak dekat dengan alkoholisme. Paling tidak saya bisa beranggapan bahwa alkohol mungkin meringankan di awal, tapi risiko yang mesti ditanggung setelahnya bisa bikin berabe.***


(dari "The Harper Anthology of Fiction" oleh Sylvan Barnet, 1991, HarperCollins Publishers Inc.)

Kamis, 25 Oktober 2012

Belajar Bahasa Jerman lewat Lirik Lagu "Du" (Peter Maffay)


Du” (“You” dalam bahasa Inggris) merupakan lagu milik Peter Maffay, seorang musisi Jerman. Lagu ini menjadi hit terbesar di Jerman pada tahun 1970 dan membuat nama penyanyinya menjadi tenar. Barangsiapa biasa mendengarkan lagu-lagu zadul, terutama dari Barat, mestinya sudah tidak asing dengan lagu yang amat populer ini. Silahkan tengok Bang Maffay nyanyi "Du" di sini.


Lirik lagu ini bercerita mengenai perasaan seseorang terhadap kekasihnya, yang mana baginya sang kekasih adalah segalanya.

Menurut saya lagu ini bisa menjadi sarana yang menarik untuk awal pembelajaran bahasa Jerman, mulai dari cara pengucapan sampai pengenalan berbagai macam kata (kata kerja, kata benda, kata tanya, pronomina, Die Modal Verben, preposisi, dan pengingkaran).

Saya akan mulai dari cara pengucapan.

Cara pengucapan bahasa Jerman secara umum sama dengan bahasa Indonesia. Perbedaan antara lain terdapat pada vokal, diftong, dan konsonan.

Vokal

[ä] dibaca [e] atau [ε]

[ö] dibaca seperti bibir mengucapkan bunyi [o] tapi lidah berposisi mengucapkan [e]

[ü] dibaca [ui], seperti bibir mengucapkan bunyi [u] tapi lidah berposisi mengucapkan [i]

Diftong

[au] dibaca [ao]

[ei] dibaca [ai]

[ie] dibaca [i:] (‘i’ bunyi panjang)

Konsonan

[ch] dibaca [kh] agak berat

[g] dibaca [kh] ringan, hampir terdengar seperti bunyi [h]

[h] yang terletak setelah huruf vokal tidak dibaca, melainkan sebagai pemanjang bunyi huruf vokal tersebut.

[j] dibaca [y]

[s] dibaca [z] bila posisinya sebagai awal suatu suku kata

[sch] dibaca [shy], posisi bibir agak menjorok ke depan dan ujung lidah menghasilkan bunyi mendesis

[z] dibaca [ts] mendesis

[sz] atau dalam bahasa Jerman sering ditulis dengan [ß] dibaca [ss]


Nah, dengan petunjuk di atas, sekarang kita coba menyanyikan lagu ini bersama-sama ya. Vokal, diftong, dan konsonan yang mesti diperhatikan cara pengucapannya sudah saya tandai dengan warna kuning.

Satu, dua, tiga!


In Deinen Augen steht so vieles was mir sagt
Du fühlst genauso wie ich.
Du bist das Mädchen das zu mir gehört,
ich lebe nur noch für Dich.

[refrain]
Du bist alles, was ich habe auf der Welt,
Du bist alles was ich will.
Du, Du allein kannst mich versteh'n.
Du, Du darfst nie mehr von mir gehn.

Seit wir uns kennen ist mein Leben bunt und schön,
und es ist schön nur durch Dich.
Was auch gescheh'n mag ich bleibe bei Dir,
ich laß Dich niemals im Stich.

-kembali ke refrain-

[gesprochen/spoken]
Du – ich will Dir etwas sagen
was ich noch zu keinem anderen Mädchen
zu keinem anderen Mädchen gesagt habe.
Ich hab’ Dich lieb, ja ich hab’ Dich lieb -
Und ich will Dich immer lieb haben
immer, immer nur Dich.

Wo ich auch bin, was ich auch tu,
ich hab ein Ziel, und dieses Ziel
bist Du, bist Du, bist Du.

Ich kann nicht sagen was Du für mich bist,
sag daß ich Dich – Dich nie verlier.
Ohne Dich leben das kann ich nicht mehr,
nichts kann mich trennen von Dir.

-kembali ke refrain-


Bagaimana lagunya? Cukup menyayat hati kan? Setelah kita dengarkan lagu ini dengan saksama, ternyata ada beberapa hal yang tidak sesuai atau belum termuat dalam petunjuk. Misalnya.

[g] tetap dibaca [g]

[w] terdengar seperti [v]

[r] kadang seperti tidak dibaca

[ch] kadang tetap dibaca [ch], kadang [kh]

Hal ini juga baru saya temui setelah membandingkan apa yang tertera pada referensi saya dengan yang saya dengar sendiri dari cara Peter Maffay menyanyikan liriknya. Oleh karena itu, kalau bisa kita mencari sebanyak mungkin referensi. Petunjuk yang saya muat di sini juga belum mencakup seluruh poin yang ada dalam referensi saya. Barangkali juga ada lagu berbahasa Jerman lainnya yang bisa kita jadikan sarana belajar?

Baiklah. Kita sudah mulai mempelajari cara pengucapan bahasa Jerman sembari melatih vokal kita. Cara pembelajaran yang cukup menghibur kan? Hehehe. Saya cukupkan pembelajaran sampai di sini. Nantikan episode berikutnya ya. Semoga kita bisa bedah lirik lagu “Du” habis-habisan sampai memahaminya dengan cara kita sendiri, sekaligus membuka wawasan kita akan bahasa Jerman. :D