Sabtu, 21 November 2020

Kiat Mati Bahagia

Gambar dari Shopee.

Penulis : Dr. Abdullah Al-Muthlaq, Dr. Aidh Al-Qarni

Penerjemah : Abdul Halim, S. Ag, CRBA

Penerbit : Pustaka Ilman, Depok

ISBN : 979-3371-36-6

Cetakan 1, Desember 2005

Buku ini kecil, dengan ukuran font cukup besar, dan cuma 137 halaman, bisa ditamatkan dalam waktu singkat. Secara garis besar, isinya mengingatkan agar selalu waspada terhadap kematian yang bisa datang sewaktu-waktu. Cara-caranya pun dijabarkan. Tapi buku ini juga menyoroti bahwa adakalanya terjadi hal di luar perkiraan.

“… dan seseorang senantiasa melakukan perbuatan calon penghuni surga sehingga jarak antara dia dan surga hanya tinggal sejengkal. Akan tetapi, dalam catatan Allah tercatat bahwa di akhir hayatnya dia melakukan pekerjaan calon penghuni neraka, sehingga dia pun terjerumus ke sana.” (H. R. Bukhari, 11/418; Muslim, hadis nomor 2643) –halaman 17

Ada orang yang dipandang oleh manusia beramal seperti calon penghuni surga, padahal dia calon penghuni neraka. Dan ada juga orang yang dipandang oleh manusia beramal seperti calon penghuni neraka, padahal dia calon penghuni surga.” –halaman 19

Bagaimana kita akan berakhir, tidak ada yang tahu. Boleh jadi itu di luar kendali kita. Yang ada dalam kendali kita paling-paling mengupayakan amalan tertentu dengan niat untuk menghindari akhir yang buruk (suul khatimah).

AGAR MATI BAHAGIA (Husnul Khatimah)

Suul khatimah dapat terjadi karena menunda-nunda tobat, panjang angan-angan, gemar bermaksiat, serta bunuh diri. Supaya tidak panjang angan, ada beberapa amalan yang dapat dilakukan, yaitu:

  •          Mengingat kematian
  •           Ziarah kubur
  •           Memandikan dan mengurus jenazah
  •           Menjenguk orang sakit
  •           Mengunjungi orang-orang saleh

Selain itu, untuk mengantisipasi kematian mendadak, seorang muslim juga hendaknya membersihkan diri dari utang dan perbuatan aniaya terhadap orang lain.

Sebab, di akhirat kelak seorang hamba yang dirampas haknya oleh seseorang pasti meminta haknya dari orang zalim itu. Di sana uang atau harta tidak berlaku lagi. Yang berlaku adalah amal kebaikan. Jika orang zalim itu memiliki kebaikan, kebaikannya diserahkan kepada si teraniaya. Jika tidak, keburukan si teraniaya ditimpakan kepadanya. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa jiwa seorang mukmin digantungkan pada utangnya hingga utangnya dilunasi. –halaman 25

Kebalikan dari suul khatimah adalah husnul khatimah. Tanda-tanda dari husnul khatimah adalah mati dalam keadaan berikut:

1.       Mengucapkan tauhid

2.       Syahid

3.       Dalam peperangan atau melaksanakan ibadah haji

4.       Dalam ketaatan (misalnya saat berpuasa atau bersedekah)

5.       Saat mempertahankan lima hal pokok yang diperintahkan Allah untuk menjaganya, yaitu agama, jiwa, harta, kehormatan, dan akal

6.       Karena wabah penyakit dalam keadaan sabar dan rela; penyakit yang dimaksud adalah sampar, TBC, sakit perut, radang selaput dada, … Corona?

7.       Saat melahirkan

8.       Karena tenggelam, terbakar, atau tertimpa keruntuhan

9.       Pada Jumat, siang atau malamnya

10.   Dengan pelipis berkeringat

Sebagian dari keadaan di atas bersifat insidental, bukan untuk direncanakan. Sebagian lagi dapat dipersiapkan dengan menjaga ketakwaan, rajin mengoreksi diri, segera bertobat dan beristigfar apabila tergelincir dalam dosa, serta senantiasa berzikir.

NASIHAT KUBUR DAN SAAT-SAAT PERTAMA DI DALAM KUBUR

Dalam bab-bab ini terdapat ajakan untuk membayangkan keadaan saat mati sekalian peringatan agar mempersiapkannya.

RIWAYAT PENGALAMAN MIMPI

Bagian ini menceritakan berbagai pengalaman bermimpi bertemu Rasulullah SAW, sahabat, atau orang saleh lainnya yang berhubungan dengan kematian. Buku ini memang mencantumkan daftar rujukan, terutama dari Alquran dan hadis, namun tidak untuk bagian ini.

Ada juga pengalaman orang-orang Indonesia. Orang mati yang ditemui dalam mimpi biasanya keluarga, kerabat, atau teman yang sekiranya minta dikirimi doa. Ada juga yang mengisyaratkan pesan agar yang didatangi melaksanakan amalan tertentu, contohnya berwakaf dan segera melunasi utang.

Catatan pribadi:

Buku ini mengilhamkan untuk berbuat amalan tertentu, khususnya di bagian “Tips Mengusir Angan Kosong” serta “mempertahankan lima hal pokok yang diperintahkan Allah untuk menjaganya”. Tips mengusir angan kosong memberikan contoh-contoh tindakan yang konkret sebagaimana sudah disebutkan di atas. Adapun mempertahankan lima hal pokok yang diperintahkan Allah sepertinya boleh dikembangkan sebagai berikut:

-          Mempertahankan agama, dengan rajin beribadah dan menambah ilmu

-          Mempertahankan jiwa, dengan menjaga kesehatan fisik dan mental

-          Mempertahankan harta, dengan kemampuan mengelola keuangan, sumber daya, dan berbagai bentuk rezeki lainnya

-          Mempertahankan kehormatan, dengan mawas diri, memperbaiki perilaku, menghormati orang lain, dan seterusnya

-          Mempertahankan akal, dengan memberdayakan kemampuan otak, terus belajar, memperkaya pengetahuan, mengasah pemikiran, dan sebagainya

Jumat, 13 November 2020

Mencari Perguruan Tinggi Layak Pilih

Sebuah buku panduan tentang perguruan tinggi yang relatif lengkap. Berguna tak hanya untuk calon mahasiswa, tapi juga untuk para orang tua.

Buku ini lebih lengkap bila dibandingkan dengan buku profil perguruan tingi yang pernah terbit di Indonesia. Misalnya, Kemana Setelah Lulus SLTA, Panduan Belajar ke Perguruan Tinggi, Direktori Pendidikan Tinggi dan Kejuruan, Direktori Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia, atau Direktori Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia.

Jumlah perguruan tinggi di Indonesia sekitar 1.200. Rinciannya: 1.040 perguruan tinggi swasta (PTS), 51 perguruan tinggi negeri (PTN), dan 111 perguruan tinggi kedinasan, seperti Akabri dan Balai Pendidikan dan Latihan Pelayaran, yang berada di luar Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Namun, seperti dikatakan oleh tim penyusun buku Panduan Memilih Perguruan Tinggi, tidak semua perguruan tinggi itu baik. Barangkali, itulah asumsi dasar mengapa penerbit dan penyusun hanya memprofilkan 438 perguruan tinggi. Seluruh PTN masuk, sementara PTS dan perguruan tinggi kedinasan dipilih sebagian kecil saja.

Kendati begitu, disebut lebih lengkap karena Panduan Memilih Perguruan Tinggi mendeskripsikan unsur-unsur terpenting dari sebuah lembaga pendidikan tinggi yang berkaitan dengan proses belajar-mengajar. Unsur-unsur itu antara lain, fasilitas yang dimiliki, jumlah dosen, jumlah mahasiswa, perbandingan jumlah dosen dan mahasiswa, sistem penerimaan mahasiswa baru, daya tampung, jumlah peminat, jumlah buku di perpustakaan, jumlah lulusan, jenis program studi, biaya kuliah, dan reputasi perguruan tinggi tersebut di mata masyarakat atau lembaga-lembaga pemberi bantuan. Khusus untuk PTS, ditambah dengan informasi tentang status akreditasi setiap program studi: disamakan, diakui, atau terdaftar.

Pembaca juga dapat melihat PTN mana yang paling banyak peminatnya, tingkat persaingan rata-rata dalam memperebutkan kursi yang tersedia, program studi yang memiliki tingkat persaingan tertinggi dan terendah. Informasi-informasi tersebut disajikan dengan gaya tulisan jurnalistik.

Tulisan pada bagian pengantar yang penting adalah tentang bimbingan cara memilih perguruan tinggi berdasarkan kapasitas individual. Umpamanya dipertanyakan, apakah Anda termasuk orang yang mudah putus asa, rajin belajar, pembosan, memiliki minat baca yang baik, jenis bidang studi yang Anda impikan, dan lain-lain. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan membantu calon mahasiswa mengevaluasi kapasitas individualnya sebelum memutuskan memilih perguruan tinggi tertentu.

Nilai rata-rata mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada bidang ilmu pengetahuan sosial (angkatan 1993/1994) , dalam UMPTN lalu menempati urutan tertinggi (715,94), menyusul kemudian Universitas Indonesia (715,68), Universitas Diponegoro (676,71), dan seterusnya. Sedangkan untuk bidang ilmu pengetahuan alam, nilai rata-rata tertinggi dicapai oleh Institut Teknologi Bandung (733,12), lalu Universitas Gadjah Mada (726,26), Universitas Indonesia (724,23), dan seterusnya.

Secara tersirat, bagian ini juga ingin mematahkan mitos bahwa calon-calon mahasiswa PTN selalu lebih baik daripada calon mahasiswa PTS. Itu dibuktikan antara lain dengan adanya PTN yang tingkat persaingannya begitu longgar. Pemilih-pemilih bidang ilmu pengetahuan alam di sebuah PTN di Indonesia Bagian Tengah, misalnya, hampir-hampir tidak menghadapi persaingan. Artinya, mereka yang mendaftarkan diri hampir pasti diterima. Sementara, dalam bagian profil, kita dapat melihat sejumlah PTS yang dibanjiri peminat dengan tingkat persaingan yang cukup ketat.

Tentu saja, buku ini tidak luput dari kekurangan. Yang paling mengganggu adalah mengenai kriteria pemilihan perguruan tinggi yang ditulis. Pembaca tidak diberi alasan yang jelas, mengapa dari 1.200 perguruan tinggi hanya 438 yang dipilih untuk diinformasikan.

Khusus untuk PTS, penyusun memang hanya memprofilkan PTS yang berstatus minimal diakui. Tapi, saya tidak yakin bahwa di antara PTS yang belum ditulis, semuanya terdaftar. Contohnya Institut Bisnis Indonesia (IBI) yang--dari segi fasilitas, status akreditasi, dan jumlah mahasiswa--jauh lebih baik daripada sejumlah PTS yang ditulis dalam buku ini. Tetapi, mengapa IBI tidak ada?

Priyono B. Sumbogo


PANDUAN MEMILIH PERGURUAN TINGGI

Penyusun: Pusat Dokumentasi dan Analisa Tempo

Penerbit: Pusat Dokumentasi dan Analisa Tempo, Jakarta, 1994, xii, 548 halaman


Sumber: Forum Keadilan, Nomor 5, Tahun III, 23 Juni 1994

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain