LAINNYA

Rabu, 31 Maret 2010

19 Maret

di lobby rumah sakit itu
aku berlagak tak melihatmu
hingga kau mendekatiku
dan menyapa kaku
sejak itu
disertai perasaan gagu
muka ilfilmu terbayang selalu

i think you're the right person for me but i'm just too humble for you

Jumat, 26 Maret 2010

pedagang eceran

bapak itu, selalu dengan senyum terulas yang diusahakan.
legowo.
pakaian lusuh itu mungkin adalah pakaian terbaiknya
menyandang tas besar yang senada pakaiannya
dua tangannya yang bertonjolan urat
memegang benda-benda plastik berwarna-warni
menapaki ubin fakultas
mendorong pintu demi pintu,
yang di dalamnya ada orang berdasi
atau berbatik rapi
terlindung dari hawa panas yang diuarkan siang terik
setengah menuai asa, menawarkan
adakah yang hendak menukar
benda-benda dalam tangannya itu dengan uang kertas?

Rabu, 24 Maret 2010

Bandung – Kutoarjo – Jogja: Perjalanan Berisi Kenikmatan dan Kesialan yang Datang Silih Berganti, Extended

Akhir dari perjalanan panjang yang melelahkan

Pramex membelah sawah dengan lembut. Lama-lama saya mengantuk. Sesekali saya jatuh tertidur. Sesekali pula saya bertanya pada perempuan di sebelah saya kapan kereta ini sampai di Jogja, di Tugu, di Lempuyangan. Saya memutuskan untuk turun di Lempuyangan saja. Sepertinya jalan yang harus ditempuh untuk mencapai bis lebih nyaman dilewati dan tidak lebih jauh jaraknya.

Turun di Lempuyangan. Mencari pintu keluar. Menyusuri tepi jalan yang bau pesing. Melihat bis jalur enam ngetem di pertigaan. Saya masuk ke dalamnya. Sip. Ngetem agak lama. Menunggu sampai penumpang pada berjejalan rupanya.

Turun di utara gerbang Fakultas Pertanian UGM. Ketemu teman. Kuliah jam sembilan tadi hanya sampai jam sepuluh katanya. Jalan ke kosan.

Sampai di kosan, ada yang baru dari pulang kampung juga rupanya. Kami menceritakan kesialan kami masing-masing. Ia juga sial karena ditinggal travelnnya padahal ia hanya telat lima menit dan biasanya travelnya itu yang telat. Akhirnya ia mencari travel lain. Itu terjadi pada sekitar pukul setengah tujuh pagi ini dan sebagai orang Kebumen, dia sepertinya menguasai sekali daerah Kutoarjo.

Melihatnya mengepel kamar, saya jadi iri. Saya ingin mengepel kamar juga jadinya. Padahal waktu yang tersisa hingga jam sebelas kurang dari sejam lagi. Saya paling hanya sempat mandi, boro-boro sarapan. Menyapu ruangan. Mandi. Saya memutuskan untuk tidak pergi. Saya akan mengepel ruangan saja dan melanjutkan beres-beres.

Dan malapetaka itu akhirnya saya sadari. Pakaian-pakaian, buku-buku, tempat pensil, dan otomatis si ransel itu sendiri, ketumpahan air jagung. Rupanya ampas jagung yang juga berupa air sisa rebusan tetap bisa merembes meskipun kresek yang mewadahinya sudah diikat rapat.

Percayalah, parfum aroma jagung kesegarannya hanya terasa beberapa jam. Setelah itu yang ada hanyalah bau busuk memuakkan.

Hari itu akhirnya saya hanya ikut kuliah yang jam satu. Setelah itu, saya mengurus beberapa hal dan baru jam tujuh malam saya sampai di kosan lagi.

Setengah delapan sampai setengah delapan lagi saya tepar di atas lantai (lepas dari dinginnya Bandung langsung terenggut ke gerahnya Jogja). Saya hanya bangun untuk solat. Tidak hanya jet lag, yang namanya sepur lag ternyata juga ada.


tamat

Jumat, 19 Maret 2010

Bandung – Kutoarjo – Jogja: Perjalanan Berisi Kenikmatan dan Kesialan yang Datang Silih Berganti, Bagian 4 dari 4, tapi belum yang terakhir

Menunggu kepastian (baca: Pramex kapan berangkat?)

Tiket Pramex seharga Rp 8.000,00 saya dicoret penjaga peron. Saya lantas belok kanan, menuju toilet yang berada tidak jauh di sebelah musola. Di depan toilet, ada bangku kayu. Ada beberapa barang yang entah siapa pemiliknya tergeletak begitu saja di situ. Ada yang di bawah maupun di atasnya. Tidak ada penjaganya sama sekali. Saya kira akan aman juga bagi saya kalau saya menaruh plastik oleh-oleh saya barang sejenak di situ.

Saya masuk ke dalam toilet yang dari luar tampak bersih itu. Saya takjub ketika dengan mata kepala sendiri melihat bahwa setiap ruangan di toilet itu benar-benar bersih! Sebuah stasiun di kota (?) kecil macam Kutoarjo saja memiliki toilet yang begini bersihnya, tapi yang ada di stasiun kota besar macam Bandung malah sebaliknya! Saking menjijikkannya sampai-sampai demi alasan kemanusiaan saya tidak sudi mendeskripsikannya di sini. Saksikan saja sendiri agar lebih menghayati. Memang sih saya belum mengecek apakah toilet di Stasiun Bandung keadaannya jauh lebih mending daripada tolilet di Stasiun Kiaracondong. Saya ingat pernah memakai toilet di sana juga, tapi saya lupa bagaimana keadaannya. Kiranya tidak separah di Stasiun Kiaracondong sih. Saking bersihnya toilet di Stasiun Kutoarjo ini, saya sampai mengabaikannya dalam ponsel baru saya (hahah, lebay apa sombong nih...).

Sehabis menuntaskan apa yang saya ingin tuntaskan di toilet, saya solat di musola. Musola Al Anwar namanya. Musola yang cukup luas—lebih luas daripada musola di timur Stasiun Lempuyangan—tapi mukenanya sepertinya tidak pernah dicuci. Sambil agak mendongak, saya menunaikan solat subuh disambung solat duha.

Kelar solat, saya berniat untuk sarapan jagung rebus yang saya bekal dari rumah. Sebelum berangkat ke stasiun memang papa menyuruh saya untuk berbekal hasil panenan dari kebun itu. Lagi nurut-nurutnya, saya masukkan tiga buah (eh jagung mah bukan buah ya?) ke dalam keresek hitam. Memang setiap kali membuka ransel, aroma jagung langsung menguar ke dalam rongga hidung saya. Hal ini belum menjadi masalah hingga setibanya saya di kosan nanti.

Saya membeli sebotol Pocari Sweat dari seorang bapak dengan lemari berisi barang dagangannya di samping depan musola. Pocari Sweat tanpa segel plastik. Memang tidak ada segelnya atau hanya karena saya membelinya di stasiun? Masih ada waktu sekitar satu jam hingga keberangkatan Pramex yang entah kapan akan datang. Saya duduk di salah satu bangku kelabu yang kosong. Sarapan sudah bisa dimulai.

Jarang-jarang saya bisa menggerogoti jagung senikmat ini. Padahal kalau sedang di rumah dan ada jagung rebus, entah kenapa saya malah enggan memakannya. Kalau ada makanan lain ya mending saya makan makanan lain saja. Saya menikmati jagung itu mengamat-amati pemandangan. Mantaplah, sarapan jagung rebus dingin di stasiun yang lagi sepi.

Beberapa orang petugas sedang membersihkan rel dari sampah. Dari mana lagi asal sampah itu kalau bukan dari dalam kereta? Cukup senang dengan pemandangan itu.

Saya sebetulnya kepikiran untuk menawarkan jagung pada orang di sekitar saya, mengingat mbak-mbak di Kutojaya tadi yang begitu cueknya tidak menawarkan cemilan. Saya sempat menawarkannya pada seorang bapak yang baru saja duduk di sebelah kanan saya. Ia menolak.

Bapak di bangku sebelah kiri saya sedang menelepon. Saya menguping. Mendengarkan percakapan sebenarnya kegiatan yang menarik dan inspiratif. Menerka-nerka ada cerita apa di balik percakapan tersebut. Yang kiranya bisa disajikan lagi setelah dilengkapi dengan bumbu-bumbi improvisasi dan impresi. Beginilah otak tukang ngarang.

Bapak itu mengabarkan kepada si “sampeyan” (begitu bapak itu menyebut orang yang diteleponnya) mengenai Khadijah, seseorang asal Jember (kalau tidak salah dengar dari daerah bernama Jenggawa), yang sudah tiga tahun terlantar di Malaysia. Majikannya tidak memberinya gaji. Sekarang Khadijah sedang berada di Jakarta. Bapak itu bertanya pada si “sampeyan” apakah Khadijah ini anak buahnya?

Tuh kan. Menguping percakapan itu memang menarik.

Bapak ini bilang ia akan memberikan nomor Khadijah pada si “sampeyan” agar “sampeyan” dapat menghubungi langsung orang itu dan percaya. Terdengar “sampeyan” berkata, “Oh, ya.” Bapak itu pun mencari-cari pinjaman pulpen. Saya memberikannya. Bapak itu ternyata sudah memiliki secarik kertas sendiri rupanya.

Terdengar pemberitahuan dari speaker bahwa Pramex akan datang dari arah timur jalur empat. Saya kontan memasukkan kembali jagung kedua yang sudah saya kupas dan gerogoti sedikit ke dalam keresek hitam. Pramex belum datang ternyata. Saya mengeluarkan jagung itu lagi dan meneruskan makan. Ketika kepala lokomotif Pramex benar-benar muncul, saya membungkus lagi si jagung dan bergegas menyambut. Saya diteriaki bapak yang tadi pinjam pulpen saya. Saya kelupaan mengambilnya lagi rupanya. Bapak yang baik. Saya membalasnya dengan senyum yang entah kelihatan apa tidak. Sok buru-buru (padahal Pramexnya juga ternyata berangkatnya masih lama).

Saya menunggu para penumpang yang sebelumnya turun dulu baru naik. Di gerbong pertama di belakang ruang masinis ini, hanya tinggal satu dua penumpang tersisa. Gerbong di belakangnya juga tampak lengang. Seorang mbak-mbak petugas kereta dorong yang berisi bermacam makanan dan minuman untuk dijual sedang mengurus barang-barangnya itu. ia membuang sampah ke luar kereta. Dari kotak kelabu bertulisan “BUKAN BAK SAMPAH” yang membuat saya kepikiran untuk membuang sampah saya ke situ, ia mengambil semprotan dan lap. Seorang petugas cleaning service berkulit gelap dan berbibir pink menyapu dan mengepel lantai gerbong dan membuka jendela-jendela.

Saya menghabiskan sisa jagung saya. Ampasnya saya masukkan kembali dalam kresek hitam. Karena kotak kelabu di seberang sana ternyata “BUKAN BAK SAMPAH”, saya memasukkan kresek hitam tersebut ke dalam ransel. Saya melanjutkan membuat catatan perjalanan. Gerah. Badan terasa gatal dan lengket. Menunggu-nunggu kapan datangnya pukul 8.30. Satu per satu penumpang baru datang hingga makin lama ruang kosong di bangku-bangku panjang ini nyaris tidak tersisa lagi dan saya sudah merasa tidak nyaman untuk terus menulis. Saya memasukkan catatan dan pulpen ke dalam ransel. Saya taruh plastik oleh-oleh di tempat barang di atas saya. Pramex bergerak.

Jogja, saya datang kembali.


bersambung

Rabu, 17 Maret 2010

Bandung – Kutoarjo – Jogja: Perjalanan Berisi Kenikmatan dan Kesialan yang Datang Silih Berganti, Bagian 3 dari 4

Terdampar di Kutoarjo

Seturunnya dari kereta, saya berencana untuk membeli tiket Pramex dulu baru ke musola untuk menunaikan solat subuh yang kesiangan. Saya tidak tahu Pramex berikutnya akan datang kapan. Saya mengira ia akan datang segera. Saya pun ke luar peron. Ke luar dunia dalam stasiun dan berhadapan dengan lingkungan Kutoarjo. Selamat datang di Kutoarjo! Hm, pemandangan di depan saya kurang mencirikan sebuah perkotaan.

Di mana ya saya bisa membeli tiket Pramex? Seorang gadis berkerudung hitam, berbaju garis-garis biru dan rok panjang hitam, bersandal jepit kuning, menyandang ransel kembung, dan menenteng sekeresek hitam besar berisi sale pisang tampak mondar-mandir di pelataran stasiun. Pada pagi yang dibilang cerah nanggung tapi dibilang mendung juga nggak, ia mendekati loket informasi karena satu-satunya loket yang buka selain loket itu hanyalah loket yang menjual tiket kereta ekonomi. Dan antriannya panjang. Dan sepertinya tidak menjual tiket Pramex.

“Beli tiket Pramex di mana ya?”

“Di loket tiga. Bukanya baru jam tujuh.”

Saya melirik lingkaran jam yang menempel di dinding ruangan di balik loket. Masih jam setengah tujuh kurang. Bagus, saya baru bisa solat subuh setelah jam tujuh nanti. Saya menuju loket tiga yang masih tertutup gorden. Di kacanya tertempel kertas yang memberitahukan kepada saya bahwa kalau saya ingin ikut kuliah jam sembilan hari itu, saya harusnya naik Pramex yang berangkat pukul 5.40 tadi. Pramex berikutnya baru akan berangkat pukul 8.30. Jika perjalanan dari Kutoarjo menuiju Jogja dengan menggunakan Pramex membutuhkan waktu sekitar sejam, maka saya baru akan sampai di Jogja sekitar jam setengah sepuluh. Ditambah perjalanan naik bis menuju kos dan waktu yang diperlukan untuk membereskan bawaan dan membersihkan diri—bahkan jika memungkinkan, sarapan—maka bisa-bisa saya baru siap kuliah setelah jam kuliah telah berakhir. Kuliah jam sembilan maksudnya, karena saya juga masih ada kuliah jam sebelas dan jam satu. Yeah, busy Monday.

Seandainya si Kutojaya berangkat tepat dengan waktu yang tertera di tiket, saya mestinya masih bisa ikut Pramex pukul 5.40. Dan tentu saja bisa ikut kuliah jam sembilan.

Saya mencari-cari tempat yang enak untuk diduduki sembari menunggu jam tujuh. Tidak ada tempat yang sepertinya benar-benar bersih. Seorang bapak menawarkan tumpangan pada saya. Entah apa kendaraannya. Saya bilang saya menunggu Pramex. Bapak itu menawarkan untuk naik bis saja. Saya tidak benar-benar mengindahkan bapak tersebut. Yang pasti-pasti aja deh, Pak! Alih-alih masuk ruang kuliah malah nyasar kan berabe!

Saya juga mencari-cari musola atau masjid di sekitar. Saya sudah tidak sabar untuk segera menunaikan kewajiban saya. Mungkin saya bisa solat dulu sambil menunggu loketnya buka. Saya bertanya pada seorang satpam yang sedang menaikkan portal. Ia tahunya hanya musola yang ada di dalam stasiun. Aduh, tidak mungkin kan saya sengaja beli tiket peron dua ribu lima ratus hanya untuk solat setelah itu ke luar lagi? Ribet.

Saya akhirnya duduk di semacam dudukan semen pada tembok kuning yang memagari teras stasiun. Saya berniat menghabiskan waktu dengan meneruskan menulis catatan perjalanan saya. Entahlah apa status saya sekarang ini. Mahasiswa nyasar? Musafir? Saya membawa beberapa stel pakaian (atasan dan bawahan masing-masing tiga!), pakaian dalam, buku-buku, uang secukupnya, dan makanan. Dengan perbekalan tersebut, kiranya saya bisa bertahan hidup di kota ini sampai saya mendapatkan pekerjaan. Dengan demikian saya bisa terus menyambung hidup. Pikiran saya mulai ngaco. Rasa haus merambat. Saya tidak membawa air minum untuk perbekalan saya.

Di manakah Kutoarjo ini? Seperti dunia antah berantah saja. Di manakah letaknya di peta? Sepertinya hanya terkenal di kalangan penumpang yang biasa melintasi jalur selatan dengan kereta. Kalau bawaan saya tidak banyak dan berat begini serta tidak sedang dalam masa perkuliahan, melainkan liburan, tentu saya tidak akan segan-segan untuk menjelajahi si Kutoarjo ini.

Saya menulis di tempat tersebut hanya sebentar. Saya merasa orang di belakang saya sengaja mendekat untuk melihat apa yang saya tulis. Dan sepertinya tidak hanya ada ia seorang. Saya turun dari situ. Mencari dan mencari. Akhirnya saya duduk di atas lantai yang meski tidak terlalu bersih tapi lumayanlah untuk diduduki. Saya meneruskan menulis catatan perjalanan saya. Sekitar satu setengah halaman menulis, saya merasa loket yang menjual tiket Pramex sudah buka. Di seberang saya lihat memang sudah ada lebih dari satu loket yang buka dan antriannya panjang sekali. Semoga itu bukan antrian untuk mendapatkan tiket Pramex.

Alhamdulillah, bukan. Saya mendapatkan tiket Pramex yang baru berangkat sekitar satu setengah jam lagi tanpa harus mengantri. Akhirnya, saya bisa juga memenuhi panggilan yang tertunda...


bersambung

Jumat, 12 Maret 2010

Bandung – Kutoarjo – Jogja: Perjalanan Berisi Kenikmatan dan Kesialan yang Datang Silih Berganti, Bagian 2 dari 4

Semalam di Kutojaya

Di hadapan saya sudah ada seorang mbak-mbak yang tampaknya umurnya tidak jauh berbeda dengan saya. Ia sedang berdiri, berbicara dengan seseorang di luar kereta. Bapak-bapak yang sama-sama salah gerbong tadi duduk di tepi, menyisakan satu ruang kosong di antara kami. Saya menegur bapak itu mengenai kejadian yang ia alami tadi. Saya katakan padanya bahwa saya juga mengalami hal yang sama. Padahal kami sama-sama sudah menghitung tapi yang kami dapatkan adalah gerbong yang salah. Tak lama, ruang kosong di antara saya dengan bapak itu terisi oleh sepasang tungkai kaki milik seorang mas-mas yang duduk di sebelah mbak-mbak yang sudah duduk di tempatnya. Wajah mas-mas tersebut sudah pernah saya lihat sebelumnya saat kami sama-sama sedang menunggu penjualan tiket tadi. Di sebelah mas-mas tersebut adalah seorang bapak-bapak yang wajahnya membuat saya menyangka bahwa pekerjaannya hanyalah seorang pedagang kecil.

Menurut saya, naik kereta ekonomi adalah sebuah pengalaman yang mengesankan. Di tempat inilah kita dihadapkan pada realitas sosial. Kita bisa bertemu dan mengobrol dengan orang-orang dari berbagai kalangan, terutama dari kalangan akar rumput. Mungkin saja bapak di seberang saya ini memang seorang pedagang kecil yang hendak pulang kampung menengok keluarga. Mungkin saja pakaian yang digunakan para pedagang asongan yang wira-wiri ini adalah pakaian terbaiknya. Kepekaan sosial kita akan meningkat. Idealnya sih begitu. Realitanya, saya sendiri masih kurang memanfaatkan situasi ini. Dari sekian perjalanan menggunakan kereta ekonomi, sudah beberapa kali saya diajak ngobrol orang, bahkan sampai ada yang menjadi teman di Facebook. Yang saya dapatkan sebetulnya bisa lebih banyak asal saja saya mau menginisiasi pembicaraan atau bisa menggali lebih dalam informasi dari orang yang mengobrol dengan saya.

Daripada bengong, membaca buku pun tidak berhasrat, saya berinisiatif untuk menuliskan apa yang saya alami tadi sebagai sebuah catatan perjalanan yang akan saya posting di blog. Saya mengeluarkan bundelan kertas buku tulis yang saya gunakan untuk menulisi catatan harian. Ransel saya yang kembung saya gunakan sebagai alas. Sebagai pemanasan, saya terlebih dulu menuliskan apa yang sedang saya alami dan apa yang jadi pikiran utama saya selama seharian itu. Seperti biasa, saya selalu menandai catatan harian saya dengan jam. Dan saat itu sudah pukul 21.57 padahal seharusnya kereta berangkat pukul 21.30.

Pedagang asongan sekali-sekali lewat. Macam-macam. Seorang mas-mas melemparkan tiga pasang kaos kaki berplastik yang diikat karet ke pangkuan bapak di seberang saya. Lima ribu harganya. Sambil menulis, saya melirik benda itu. Gila nih, bisa-bisanya pedagang asongan di kereta ekonomi ini, murah meriah abis! Saya menegur bapak tersebut sebab saya ingin melihat si kaos kaki. Bahannya sih kayaknya lumayan tebal, sementara di Sunmor UGM saja—yang konon harga barang-barang yang dijual di sana murah-murah—tiga pasang kaos kaki seharga sepuluh ribu tipisnya nggak jaminan. Belum ada dua minggu sudah robek! Akhirnya saya memberikan uang lima ribu pada si pedagang kaos kaki. Muncul niatan untuk memamerkan ini pada teman saya yang waktu itu sama-sama membeli kaos kaki sepuluh ribu tiga di Sunmor. Di hari berikutnya, diketahui salah satu kaos kaki, yang jika jumlahnya tiga harganya lima ribu ini, tidak serupa antara yang kanan dengan yang kiri.

Perut mulai lapar. Mbak-mbak di hadapan saya sedang menelepon. Posisi saya benar-benar nyaman untuk menulis. Bisa menyandar ke dua sisi (jendela dan sandaran tempat duduk). Ada alas. Tidak ada orang yang begitu dekatnya dengan saya sehingga dapat mengintip apa yang bisa saya tulis. Tersapu oleh mata saya, sepertinya orang-orang di sekitar saya mulai penasaran saya menulis apa. Terutama mas-mas peselonjor kaki yang sepertinya memerhatikan saya terus sampai ia bosan sendiri.

Seorang anak kecil, yang tampaknya masih SD, dengan sapu bergagang pendek merangkak untuk membersihkan sampah di bawah tempat duduk. Pekerjaan yang oke. Mencerminkan kekurangsigapan petugas KA yang harusnya bertanggung jawab membersihkan kereta (kalau para penumpang yang baru tidak buru-buru masuk, keretanya bakal sempat dibersihkan dulu tidak ya?). Mencerminkan pula betapa jorok dan tidak beradabnya masyarakat Indonesia. Yang membuat saya jadi tidak bersimpati pada anak itu adalah karena ada sebatang rokok yang menyelip di kupingnya. Selesai menyingkirkan sampah (sepertinya lumayan juga penghasilannya dari sini—selain mendapat uang dari penumpang, sampah ini juga dapat dikumpulkan, disetor entah ke mana, dan dari sini ia akan mendapatkan uang lagi), dengan wajah memelas ia meminta uang pada orang-orang yang duduk di tempat yang ia bersihkan bagian bawahnya tadi. Saya tidak memerhatikan orang di sana memberikannya apa. Saat tangannya ganti menengadah ke tempat duduk yang ada sayanya, di tangannya itu tergeletak sebatang rokok lain. Di bawah rokok tersebut kiranya ada lipatan-lipatan uang. Jadi orang di sana tadi kasih rokok apa uang? Saya bertanya-tanya. Tercetus pikiran untuk memberi anak itu uang sambil berpesan, “jangan dipake untuk beli rokok, ya,” namun tangan kanan ini sedang asik-asiknya merekam apa yang terjadi.

Pengemis buta dan penjaja kacamata lewat. Terbersit rasa ingin tahu akan kondisi hidup mereka yang sebenarnya.

Saya jadi menyesal kenapa tadi harus buru-buru masuk. Sampai jam segini kereta belum juga berangkat. Masih ada pula ruang kosong di beberapa bangku yang terlihat dari jangkauan pandang saya. Kenapa tadi kami semua begitu buru-buru dan rusuh? Padahal suara dari speaker sudah meyakinkan bahwa semua penumpang pasti dapat tempat duduk... Kutojaya, a friend indeed for grass-root people, halah...

Mas-mas di depan saya kembali merokok. Sial. Sambil mengunyah permen karet loh. Hal yang kontradiktif menurut saya, mengingat biasanya orang mengunyah permen karet untuk mengalihkan kebiasaan merokok—lah, ini dua-duanya sekaligus!

Penyemprot penyegar ruangan lewat disusul penjaja donat enam biji lima ribu. Serangga serupa kecoak mungil (atau memang kecoak yang masih balita?) mondar-mandir di tepian jendela yang dindingnya sedang saya sandari. Pedagang minuman mendorong embernya.

Mengecek sms. Tidak ada. Apa yang ditulis beralih ke perkara di luar realitas di dalam kereta ekonomi.

Mbak-mbak di hadapan saya mengelurkan cemilan setelah sebelumnya menutup hidung gara-gara asap rokok dari orang di sebelahnya. Bapak di sebelah saya juga mulai mengeluarkan rokok. Yak, bagus, semuanya saja merokok. Kereta terasa mulai bergerak. Mbak-mbak tersebut tidak menawarkan cemilannya pada siapapun. Betapa cueknya, meski pun saya sedang tidak berminat juga pada apa yang dimakannya itu. Sama cueknya dengan mas-mas yang membuat saya harus duduk bersebelahan dengan sepasang kaki (untung berkaos). Sama cueknya seperti mereka yang meracuni udara yang saya hirup.

Pemukul dan penggaruk tubuh tiga ribu rupiah saja. Dimanfaatkan sebentar barang itu oleh bapak di sebelah. Tak lama, barang itu diambil pedagangnya lagi.

Suara dari speaker memberitahukan bahwa kereta Pasundan telah tiba. Saya pernah naik Pasundan tahun 2007 pergi pulang saat ada acara di Surabaya. Saya ke Surabaya dari Jogja (saat itu saya baru diterima di UGM dan ada tes TOEFL) naik itu dan pulangnya dari sana ke Bandung saya naik itu lagi. Kalau tidak salah saat itu Pasundan tiba di Bandung lebih malam dari ini. Menjelang tengah malam. Kereta yang asalnya penuh sesak sampai-sampai satu deret tempat duduk diduduki berlima, semakin malam semakin lengang. Senyap. Temaram. Tempat duduk pada kosong, bebas pilih yang mana. Serasa kereta milik sendiri saja. Turun dari Pasundan, papa menjemput saya.

Terdengar suara peluit ditiup panjang sekali. Berkali-kali.

Sepertinya kali ini kereta benar-benar akan berangkat. Saya menengok hape. Masih tidak ada sms. Pukul 22.49. Kereta terlambat sekitar satu setengah jam, saya tidak menyangka bahwa ini nantinya akan membawa akibat fatal bagi saya.

Selamat tinggal, Bandung.

Seorang ibu-ibu berkerudung dan berkacamata melintas dengan baskom di atas kepalanya. Ia menjajakan nasi ayam dan aroma ayamnya begitu menggoda. Tapi malam-malam begini siapa yang masih mau makan? Ibu itu menghilang bersamaan dengan kedatangan seorang satpam yang membangunkan bapak di seberang saya. Mas-mas di sebelahnya menyalakan rokok lagi. Mbak-mbak dengan musik yang terdengar dari gadget dalam genggamannya menutup hidung dengan kerudungnya. Seseorang bertopi dan berpakaian dinas tak jauh di belakang satpam muda gagah yang terus membangunkan orang-orang. Peran satpam ini jelas lebih dari seorang tukang bangunin orang. Mengamankan penumpang gelap misalnya. “Karcis! Karcis!”

Mas-mas yang sepertinya masinis kereta itu mendekat. Ia melubangi karcis tanpa mengecek isinya terlebih dulu. Ia memakai kaos merah di balik seragamnya dan rambutnya agak gondrong.

Rupanya gerbong yang saya naiki ini adalah gerbong terakhir. Ringan terasa. Seperti naik jet coaster di bangku paling belakang. Aneh. Padahal tadi saya sudah hitung ada delapan gerbong... Ah, memusingkan. Saya mengantuk. Kepala ini enaknya menyandar ke dinding tapi takutnya si kecoak balita kembali datang dan menyelinap ke dalam kerudung...

Enam halaman sudah yang saya tulisi sembari menunggu kereta ini berangkat. Saya memasukkan catatan saya ke dalam ransel dan tidur. Saya ingat sempat terbangun beberapa kali.

Pemeriksaan tiket lagi. Sekali melubangi langsung lima. Setengah mengantuk, saya mengatur pembagian kelima tiket itu kembali sesuai nomor tempat duduk masing-masing. Tidak juga sih. Yang penting saya mendapatkan kembali tiket 10 A saya, seolah itu memang penting. Orang-orang di sekitar saya ini hanya bisa heran dengan polah saya.

Kereta mulai sepi. Alarm subuh berbunyi. Orang-orang di sekitar saya pada pindah tempat duduk. Mas-mas mengobrol dengan mbak-mbak dengan akurnya. Ironis, mengingat tadi mbak-mbaknya terganggu dengan mas-masnya yang merokok. Ah, pasti lagi flirting nih. Tukaran nomor. Bapak di sebelah saya pindah ke tempat duduk sebelah yang penumpangnya sudah pergi. Aih, tuh kan, betapa nikmatnya naik kereta ekonomi yang seperti itu. Dengan kenikmatan yang sama dengan yang bisa didapat di kelas bisnis, kita hanya perlu membayar sekitar seperempatnya saja. Tahu-tahu mbak-mbaknya sudah turun. Mungkin di Kebumen. Mas-masnya bertanya saya turun di mana. Kutoarjo. Ia sendiri saya lupa turun di mana, yang jelas sebelum saya dan kira-kira jaraknya kurang satu jam dari Kutoarjo. Bapak-bapak yang di sebelah saya pamit turun. Hari sudah terang. Menanti solat subuh di Stasiun Kutoarjo. Berapa lama lagi sampai di Kutoarjo? Saya bertanya pada ibu-ibu di bangku belakang saya. Setengah jam. Saya menurunkan plastik oleh-oleh dari atas. Di pemberhentian berikutnya saya akan turun.

bersambung

Rabu, 10 Maret 2010

Bandung – Kutoarjo – Jogja: Perjalanan Berisi Kenikmatan dan Kesialan yang Datang Silih Berganti, Bagian 1 dari 4

Perjuangan menggapai gerbong yang benar

Begitu saya mendekat, bapak petugas bertubuh gempal di balik satu-satunya loket yang buka itu malah menghilang. Papa mengetok kaca loket berkali-kali sampai kepala orang tersebut muncul lagi. Tak berapa lama, ia kembali ke balik loket. Saya bilang padanya bahwa saya mau beli tiket Kutojaya. Bapak itu meminta saya untuk menunggu sebentar. Katanya, gerbongnya sudah penuh, tapi keretanya kan panjang (kereta kan emang panjang?), jadi kemungkinan ada tambahan tempat duduk (apa bedanya dengan tambahan gerbong? Bapak itu tidak mengakuinya).

Papa tetap berdiri di depan loket sementara saya mundur, memberi ruang bagi mereka yang datang setelah kami. Membiarkan mereka—sesama calon penumpang Kutojaya—mengetahui kemudian bahwa mereka harus menunggu sampai ada kepastian bahwa ada tambahan tempat duduk. Keretanya kan panjang..

Kutojaya adalah nama kereta ekonomi yang berangkat pukul 21.30 WIB dari Stasiun Kiaracondong Bandung dan tiba di Stasiun Kutoarjo pukul 5.30 WIB (itulah yang tertera di karcis).

Seorang bapak yang saya temui di Kahuripan (kereta ekonomi untuk jarak Bandung – Kediri dan sebaliknya) sekitar dua hari sebelum ini menyarankan kepada saya untuk kembali ke Jogja menggunakan Kutojaya saja. Kereta ini berangkat dari Kiaracondong dan tidak sepenuh Kahuripan karena jarak yang ditempuh lebih pendek. Pasti dapat tempat duduk, tidak rebutan. Bahkan kalau sedang sepi, kita bisa mendapatkan tiket bebas tempat duduk alias kita bebas memilih mau duduk di mana. Menurut keterangan bapak tersebut, Kutojaya akan berhenti di Kutoarjo sekitar pukul 5.10. Pramex (Prambanan Express, kereta jarak Solo – Kutoarjo yang otomatis melewati Jogja juga) akan datang sekitar setengah jam kemudian. Saya akan sampai di Jogja sekitar pukul tujuh lebih. Masih bisa ikut kuliah jam sembilan, pikir saya. Dan tidak harus naik Kahuripan lagi yang keadaannya mengenaskan seperti ini..

Pada waktu itu, 25 Februari 2010 malam, Kahuripan sepertinya sedang penuh-penuhnya. Saya menaiki kereta ini dari Stasiun Lempuyangan, Jogja, dengan harga tiket Rp 24.000,00. Mungkin karena tanggal 26-nya tanggal merah. Saya termasuk beruntung malam itu. Saya bisa mendapatkan tempat duduk meski di tepi dan sesekali harus terbangun saat ada pedangan asongan lewat dan dengan seenaknya menyenggol-nyenggol. Banyak penumpang lain yang tidak kebagian tempat duduk. Mereka harus berdiri dan kalau mereka mau tidur mereka jongkok. Tidur mereka jelas tidak nyenyak. Sesekali pedagang asongan datang, memaksa mereka memberikan jalan agar ia bisa lewat. Sambil memendam kekesalan karena saya sedikit-sedikit jadi ikut terbangun juga, saya menaruh iba pada mereka. Mereka pasti lebih menderita dari saya. Dan sebagian di antara mereka adalah perempuan. Tidak ada yang namanya etika di mana seorang laki-laki seharusnya memberikan tempat duduknya bagi perempuan yang berdiri. Semuanya menjadi egois. Siapa cepat (atau beruntung) ia dapat. Saya bersyukur tidak ada nenek-nenek berdiri di dekat saya.

Ingatan saya melayang pada suatu malam di bulan Oktober, ketika saya hendak kembali ke Jogja dari Bandung menggunakan Kahuripan. Akang-akang di balik loket mengatakan bahwa tiket tempat duduk di Kahuripan sudah penuh. Ia menawarkan saya untuk naik Kutojaya saja, nanti disambung Pramex. Waktu itu saya pikir betapa ribetnya harus naik dua kali. Yang pasti-pasti ajalah! Saya tidak peduli. Saya tetap membeli tiket Kahuripan meskipun itu tiket berdiri. Setelah mendapatkan tiket, saya masuk ke dalam peron. Sambil menunggu kedatangan kereta yang ternyata berangkat dari Padalarang, saya melihat sebuah kereta ekonomi yang belum berangkat tampak lengang isinya. Itukah Kutojaya? Kahuripan pun datang. Para calon penumpang mengejar-ngejar pintu masuk gerbong seolah-olah kereta itu tidak akan berhenti. Setelah kereta berhenti, mereka berebut masuk. Berebut tempat duduk. Saya yang pegang tiket berdiri berusaha tetap santai. Menerima kenyataan bahwa saya terancam berdiri dari Bandung sampai Jogja semalaman. Saya tidak harus berebut tempat duduk karena tiket yang saya pegang menyatakan saya tidak punya hak untuk duduk kecuali kalau orang yang duduk di sana sudah turun atau tidak menggunakan haknya. Dan yang terjadi adalah malam itu menjadi perjalanan naik kereta ekonomi paling tidak menyenangkan yang bisa saya ingat.

Maka, 28 Februari 2010 pun menjadi tanggal bersejarah di mana untuk pertama kalinya saya naik Kutojaya, a friendly economic train. Dari Bandung ke Kutoarjo. Seperti apakah rasanya singgah di Stasiun Kutoarjo nanti?

Saya menaruh barang-barang saya yang lumayan berat di atas sebuah kotak kelabu. Sesekali saya mengamati papa. Memang seorang ayah itu harus selalu sedia berkorban di mana dan kapan saja. Saya agak terenyuh juga ia mengantri untuk saya (meski akhirnya ia tidak mengantar saya sampai melewati peron, pasti karena harus bayar lagi).

Bapak petugas bertubuh gempal di balik loket tadi pergi ke ruang kepala stasiun. Ia menelepon kepada entah siapa. Orang-orang di belakang papa jumlahnya makin banyak. Beberapa lama kemudian, bapak itu kembali. Papa langsung sigap membeli tiket. Demikian saya. Dengan sigap pula saya mendekat untuk bilang, “Yang deket jendela, ya, Pak!” Selembar uang dua puluh ribu (yang entah uang dari dompet saya atau dari saku celana papa) ditukar oleh selembar tiket dan sekeping logam lima ratus kuningan oleh bapak petugas. Tempat duduk 10 A gerbong 7. Alhamdulillah. Papa bertanya apakah saya mendapat tempat duduk sesuai dengan yang saya inginkan.

Saya pamit pada papa dengan menyalaminya sementara kepada ibu saya tadi saya pamit hanya dengan meneriakinya. Sok buru-buru.

Saat itu sudah sekitar pukul sembilan malam saat saya memasuki peron. Terdengar pemberitahuan bahwa kereta Kutojaya akan segera tiba dari arah timur di jalur enam. Di sepanjang jalur tersebut sudah terlihat banyak orang menanti. Suatu pemandangan yang bikin males. Asumsi saya, gerbong tujuh adalah gerbong yang datang paling belakang. Saya mengira-ngira gerbong itu nanti akan berhenti di mana, di situlah saya akan berdiri. Mestilah di sana tidak begitu banyak juga orang yang menanti.

Namun sebelum itu, saya harus mencari toilet. Saya pikir lebih baik saya pipis di stasiun daripada di kereta. Meski saya menyesal juga kenapa saya tadi tidak pipis saja dulu di rumah secara di stasiun (Kiaracondong) toiletnya juga jorok kayak mana... Hiii... Saya menitipkan plastik oleh-oleh pada bocah penjaga toilet. Tidak lama, saya sudah mengambilnya lagi dan bergegas mendekati jalur enam. Bidang berumput yang saya injak tak kentara memperlihatkan beceknya. Saya tidak peduli kaki saya jadi kotor.

Dari kejauhan di arah timur, terlihat bulatan-bulatan cahaya lampu kereta perlahan mendekat. Dua deret lokomotif saya sambut. Berturut-turut saya menghitung gerbong penumpang yang mengekor di belakangnya. 1... 2... 3... 4... 5... 6... 7... 8... Pas. Saya sempat dengar tadi bapak petugas bertubuh gempal itu bilang total gerbongnya ada delapan. Berarti saya nanti akan naik gerbong kedua dari belakang.

Gerbong-gerbong itu berhenti. Para calon penumpang mendekat ke pintu. Tidak begitu ramai di sini saya kira, di tengah sana mesti ramai sekali. Wajah-wajah kelelahan dengan menenteng bawaan yang beratnya bervariasi turun. Saya menerka-nerka dari mana sebetulnya asal kereta ini. Apakah dari Kutoarjo? Padahal saya kira kereta ini stay saja di Kiaracondong sejak awal. Kereta yang menanti kedatangan penumpang, bukannya sebaliknya.

Suara dari speaker berkumandang lagi meminta para calon penumpang membiarkan dulu para penumpang sebelumnya turun sampai habis. Semua penumpang mendapatkan tempat duduk. Tenang saja. Oke, baiklah, percaya deh. Dalam hati terbersit prasangka. Kutojaya memang teman yang baik bagi kami para calon penumpang berduit minim. Kereta ekonomi yang memanusiakan penumpang. Tidak akan ada mereka yang berjejal hingga tidak kebagian tempat duduk lalu harus duduk di lorong, disenggol-senggol dan diganggu para pedagang asongan setiap saat. Tidak akan ada tempat duduk berkapasitas dua orang diisi bertiga.

Sambil turun, wajah-wajah kumal itu membawa serta sampah-sampah dari dalam kereta ke luar. Mereka menendang-nendang sampah-sampah yang menghalangi jalan mereka itu (siapa juga yang buang?). Gumpalan tisu. Botol plastik. Botol kaca minuman penambah stamina. Seseorang mengeluhkan sampah yang dapat membahayakan itu. Seorang mas-mas yang sabar menunggu di balik pintu hendak mengambilnya namun saya keburu menendang benda itu ke rumput. Jika benda itu sampai pecah di tengah jalan, bisa-bisa ada kaki akan terluka—terutama kaki yang tidak tertutup sempurna. Kaki saya yang hanya beralaskan sandal jepit misalnya.

Kami, para calon penumpang di luar gerbong, menunggu para penumpang sebelumnya turun dengan sabar. Kami yakin kami akan mendapatkan tempat duduk. Kami memegang tiket bernomor. Suara dari speaker juga telah mengingatkan kami. Namun anehnya, masih saja ada perasaan was-was ingin cepat-cepat masuk ke dalam gerbong.

Saat kami mencoba masuk ke dalam gerbong, tahu-tahu ada penumpang yang masih hendak ke luar. Penumpang itu mengingatkan kami untuk membiarkannya turun dulu. Hal ini berkali-kali terjadi. Berkali-kali sudah saya menapaki tangga gerbong—mengira penumpang di dalam sudah turun semua—namun harus turun lagi kemudian. Ternyata masih ada penumpang yang belum turun. Di sinilah kesabaran diuji. Muncul perasaan, mbok ya kalau turun tuh sekalian semua gitu loh, jangan sedikit-sedikit kayak gini... Kalau antar calon penumpang dengan penumpang sebelumnya tidak ada saling pengertian, maka bisa-bisa arus ke luar masuk gerbong akan macet. Saya merasakan betapa tidak enaknya didorong-dorong, berdempet-dempetan, dan terjepit di sana. Biasanya saya akan mengalah. Saya akan turun lagi dan membiarkan yang turun duluan. Tapi kadang di belakang saya ada lagi calon penumpang yang tidak sabaran. Ia tidak mau turun lagi. Ia diam saja di situ. Akibatnya saya terjebak. Mau ke luar lewat celah satunya, tidak bisa. Di sana sudah dijejali oleh orang-orang yang hendak turun maupun merangsek ingin segera masuk.

Ada ibu-ibu yang sudah menaiki tangga gerbong dan tidak mau turun lagi ketika ada penumpang lagi yang hendak turun. Ibu itu bergeming saja di tempatnya, padahal para penumpang dari dalam membutuhkan ruang yang lebih untuk dapat keluar. Bisa dirasakan betapa kesalnya melihat kejadian ini. Ada pula ibu-ibu yang memilih untuk masuk ke WC saja daripada harus turun lagi. Ini masih mending. Saya juga terpikir seperti itu. Tapi saya tidak mungkin mendesak ibu-ibu itu untuk lebih masuk ke dalam WC, jadilah saya turun lagi.

Setelah beberapa kali turun dan naik, yakinlah saya bahwa saya sudah bisa benar-benar memasuki gerbong karena penumpang di dalamnya sudah turun semua. Akhirnya, saya bisa menuju ke tahap selanjutnya: mencari tempat duduk. Dengan menafikan sampah berwarna-warni yang berserakan di mana-mana, saya mencari-cari tempat duduk nomor 10 di sisi kanan gerbong. Dapat. Sudah ada dua orang bapak-bapak di sana. Yang satu duduk (di seberang tempat duduk nomor 10) sementara yang satu lagi berdiri. Ketika saya mendekat, bapak yang berdiri tampak heran.

“10 A?” tegur saya.

“Tapi ini sudah dipesan,” kata bapak itu sambil tangannya mengisyaratkan bahwa ketiga huruf alfabet yang menandai sederet tempat duduk itulah yang ia maksud.

“Ini gerbong berapa?”

“Gerbong dua.”

Saya agak tercengang. Membayangkan pergulatan keras yang harus saya hadapi di pintu tadi demi bisa masuk ke dalam gerbong ini. Baiklah, saya harus pindah. Saya hendak pindah ke gerbong tujuh yang terasa amat jauhnya itu lewat gerbong-gerbong lain tanpa harus turun lagi. Tapi itu ide buruk. Gelombang penumpang yang baru naik segera melanda. Saya tidak mungkin berjalan menembusnya. Memaksakan diri adalah ide yang buruk. Lewat arah satunya, turun lagi dari gerbong dan lewat jalan di luar? Itu lebih baik. Namun sama saja. Orang-orang sudah berbondong-bondong menyerbu masuk ke dalam kereta dari arah satunya lagi itu. Saya terduduk di tempat duduk nomor 10 yang bukan hak saya itu. Berusaha tetap sabar dengan beramah-ramah. “Saya duduk di sini dulu sampai sepi! Nggak bisa jalan!”

Ketika ada kesempatan, saya bangkit dari situ. Saya turun dari gerbong dan berjalan ke arah barat, menapaki rumput becek, sambil menghitung... 1... 2... 3... 4... 5... 6... 7... Saya menaiki gerbong tersebut. Keadaannya sama saja ternyata. Masih banyak orang berdesakan mencari tempat duduknya. Dorongan-dorongan tak sabaran masih harus saya rasakan. Ah, itu tempat duduk nomor 10! Seorang bapak-bapak sudah menaruh bawaannya di sana, namun kelihatannya seseorang di hadapannya memberitahunya bahwa ini bukan gerbongnya. Saya bertanya pada seorang ibu-ibu yang sudah duduk di belakang saya, “Ini gerbong berapa?”

“Gerbong enam.”

Padahal saya merasa tidak salah hitung tadi.

Saya lupa entah bagaimana caranya—menunggu lorong sepi atau turun dari gerbong lagi—untuk bisa sampai di gerbong tujuh. Gerbong yang kali ini tampak sedikit lebih lengang. Saya melihat bapak-bapak yang salah gerbong tadi sedang menaikkan bawaannya di tempat barang di atas tempat duduk nomor 10. Saya langsung melempar ransel saya ke sisi dekat jendela, mengamankan teritorial. Bapak itu tampak kaget saat berbalik dan melihat sudah ada ransel saya di situ. Ia tidak menyadari kedatangan saya. Dengan mantap saya katakan padanya bahwa tempat duduk saya nomornya 10 A. Kali ini saya tidak salah tempat.

bersambung

Jumat, 05 Maret 2010

Bersama Pro-U Media Membentuk Peradaban Islami

Kemampuan public speaking perlu dimiliki oleh penulis agar bukunya cepat laku. Memang tidak ada hubungan antara kemampuan menulis dengan kemampuan berbicara, akan tetapi penulis yang memiliki kemampuan public speaking yang baik dapat menjual lebih banyak buku karyanya saat acara bedah buku dibandingkan penulis yang tidak memiliki kemampuan public speaking yang baik. Perlu diadakan training public speaking bagi penulis. Penulis yang mampu menjual bukunya sendiri lebih disenangi penerbit, demikian disampaikan Mas Eko, karyawan Pro-U Media dari bagian distribusi dan pemasaran, dalam acara kunjungan forum fiksi FLP Yogyakarta ke Penerbit Pro-U Media, Kamis, 4 Maret 2010.

Kunjungan ke penerbit merupakan salah satu agenda forum fiksi yang bertujuan untuk mengenalkan lebih jauh penerbit yang dikunjungi kepada peserta forum, mengetahui karakter penerbitan (baik karya maupun manajemen penerbitan), dan memberikan suplemen motivasi kepada peserta. Karena keterbatasan ruang di kantor Pro-U Media, acara diselenggarakan di teras Masjid Jogokariyan secara lesehan sebagaimana acara forum biasanya. Acara dimulai selepas ashar dan diakhiri sekitar pukul 5 sore, lewat setengah jam dari yang dijadwalkan berakhir.

Karyawan Pro-U Media sendiri berjumlah 16 orang yang terdiri dari redaksi (terdiri dari kepala editor dan editor serta proofreader), tim kreatif (mengerjakan disain cover dan layout), distribusi dan promosi, administrasi, dan gudang.

Mas Farid, editor Pro U Media, menyampaikan mengenai prosedur penerimaan naskah di Pro-U Media, khususnya untuk karya fiksi. Pro U Media hanya menerima naskah fiksi dalam bentuk novel. Novel memiliki prospek yang lebih besar dibandingkan puisi maupun cerpen. Novel-novel yang diterbitkan oleh Pro-U Media umumnya berlatar belakang sejarah (contoh: Tembang Ilalang), atau bertema menggugah (contoh: The Gate of Heaven) dengan porsi percintaan tidak mendominasi. Semesta merupakan lini sastra Pro-U Media yang menerbitkan novel-novel semacam ini. “Novel dengan latar belakang sejarah lagi diminati. Tiga juara lomba novel menggugah kemarin adalah novel-novel berlatar belakang sejarah,” kata Mas Farid.

Pro-U Media menerima naskah yang tidak hanya sekedar laku, melainkan juga memiliki visi dan misi. Ini sesuai dengan misi Pro-U Media sebagai penerbit yang ikut membangun peradaban islami. Naskah yang dapat menginspirasi orang untuk berbuat yang tidak baik tidak akan diterbitkan.

Naskah fiksi yang bisa diterbitkan oleh Pro-U Media harus bertema islami, unik, orisinil, bahasa renyah dan mengalir, tegas dalam sikap keislaman, dan plot tidak klise dan monoton. Jumlah halaman minimal 150, diketik pada kertas A4 (kwarto), spasi 2, font Times New Roman/Garamond, dan semua margin 3 cm. Naskah dikirim ke alamat Pro-U Media di Jalan Jogokariyan 35 Yogyakarta 55143 (telepon dan faks 0274 376301, sms 0274 74472222). Naskah juga dapat dikirim melalui alamat e-mail proumedia@gmail.com. Naskah dalam bentuk print out lebih disukai.

Pro U Media belum menerima naskah cerita anak. Pun belum ada naskah terjemahan yang masuk ke meja penerbit.

Waktu untuk menunggu konfirmasi naskah maksimal 2 bulan. Setiap bulan, naskah yang masuk ke meja Pro-U Media bisa mencapai sekitar 30 naskah. Namun berdasarkan pertimbangan pasar, Pro-U Media hanya menargetkan 4 buku untuk diterbitkan. Dengan demikian, penerbit memiliki banyak stok naskah. Naskah stok baru akan dikeluarkan saat ada momentum yang tepat. Misalnya saat mendekati UAN, Pro-U mengeluarkan judul “Funtastic Learning” yang merupakan buku motivasi bagi para remaja yang akan menghadapi UAN.

Pro-U Media tidak menggunakan sistem beli putus karena akan menzalimi penulis. Royalti dibayarkan pada penulis setiap kali buku cetak ulang (sekali cetak 3000 eksemplar). Besarnya berkisar antara 7-10% dari harga buku, tergantung pada bobot naskah dan jaringan yang dimiliki penulis.

Setelah naskah diterima, editing dilakukan. Editor mengecek kebahasaan dan rasionalitas alur. Pada novel berlatar belakang sejarah misalnya, editor akan mengecek apakah tanggal-tanggal di dalamnya sudah valid atau belum. Jika terjadi kesalahan, editor akan memberikan referensi yang benar kepada penulis. Jika ada adegan kurang syar’i dalam naskah yang potensial namun penulis menghendakinya tetap begitu, maka naskah tersebut tidak akan diterbitkan. Editor memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi penulis. Penulis adalah aset. Jika penulis berkembang, maka penerbit juga yang akan mendapatkan keuntungannya, apalagi jika penulis tersebut loyal kepada penerbit.

Naskah yang sudah melalui editing kemudian di-layout lalu dicetak. Hasilnya dibaca oleh proofreader. Setelah dua kali menggunakan jasa proofreader, naskah di-layout lagi kemudian “difilmkan” (dibuat disain cetaknya) lalu dibawa ke percetakan. Hasil cetakan disortir lagi (mengecek halaman kosong atau terlipat), diplastiki, lalu didistribusikan.

Tidak ada yang secara pasti dapat menjamin sebuah novel yang dipasarkan akan menjadi best seller atau tidak. Ada novel yang sudah dipasarkan sebaik-baiknya, namun penjualannya tetap lambat. Ada pula buku non novel, yang isinya biasa saja, tapi penjualannya cepat. Untuk mensiasati buku yang kurang laku, penerbit biasanya mengganti cover atau menonjolkan sisi lain dari buku tersebut.

Penulis ingin bukunya ada di setiap toko. Penerbit sudah berusaha mendistribusikan bukunya ke setiap agen, lapak, toko buku kecil, maupun toko buku besar, baik di kota besar maupun di daerah. Banyak pula toko buku yang melobi agar penerbit memasukkan bukunya ke sana. Namun penerbit sering terkendala oleh masalah administrasi, pembayaran, dan lain-lain. Sering ada toko buku yang tidak amanah, tidak membayarkan uang penjualan buku yang laku kepada penerbit.

Penerbit juga melakukan promosi. Bentuk promosi yang dilakukan adalah promosi di dunia maya, mengadakan acara road show/bedah buku, dan resensi.

Pro-U Media telah memiliki blog (proumedia.blogspot.com). Informasi mengenai buku-buku yang diterbitkan, syarat naskah yang diterima, maupun acara penerbit, dapat diakses melalui blog ini. Selain blog, Pro-U Media juga berpromosi lewat milis dan sedang menganggarkan pembuatan website.

Banyak orang yang mengenal buku-buku Pro-U Media karena acara road show/bedah buku. Banyak lembaga (organisasi kampus, masjid, dan lain-lain) yang justru datang sendiri menawarkan ke penerbit untuk mengadakan acara bedah buku Pro-U Media.

Penulis resensi buku Pro-U Media yang karyanya dimuat di media massa akan diapreasiasi penerbit. Penerbit akan memberikan buku Pro-U Media kepada penulis secara cuma-cuma.

Buku Pro-U Media sudah dikenal sampai ke Malaysia. Penerbit Malaysia sudah ada yang menawarkan diri untuk menerbitkan buku Pro-U Media. “Sewaktu kita kedatangan tamu para pelajar dari Malaysia, mereka membeli buku-buku kita dan membawanya pulang. Buku-buku itu dibaca oleh orangtua mereka, bahkan ada yang sampai menjadikannya sebagai bahan untuk training motivasi,” ungkap Mas Eko.

Sesi penjelasan dari Mas Farid dan Mas Eko disambung dengan sesi diskusi. Hanya beberapa pertanyaan yang dapat dijawab dikarenakan waktu yang semakin ngaret dari yang dijadwalkan berakhir. Bagi peserta maupun pembaca tulisan ini yang berminat untuk bertanya-tanya lebih jauh lagi mengenai Pro-U Media, dapat melayangkan pertanyaannya ke kontak penerbit yang telah dicantumkan di atas maupun langsung ke Mas Farid di farid_asbani@yahoo.com.

Rabu, 03 Maret 2010

Pendidikan Seks bagi Remaja Indonesia dalam Novel

Julukannya JAB. Joko Anak Babu. Obsesinya dua. Jadian sama Wulan, biarpun seperti pungguk merindukan bulan. Dan mencari ayahnya, supaya tidak disebut anak haram. Dia terlibat cinta pertama yang murni bebas polusi. Mengalami ciuman pertama yang norak banget. Merasakan cemburu meski belum nyadar. Sampai suatu hari dia mengajak pacarnya melompat keluar Dari Jendela SMP. Menginjak bumi terlarang yang belum boleh mereka jelang. Dan segala yang lucu dari dunia remaja berubah haru.

Apakah ini cerita tentang remaja hamil? Menginjak bumi terlarang yang belum mereka jelang, hm. Tapi bisa saja ini jebakan… Bagaimanapun juga, novel ini menarik perhatian saya untuk membacanya (obviously, i’m an omnivourous fiction reader!).

Kalimat yang pendek-pendek langsung jadi perhatian saya. Sesuai dengan aturan menulis yang kerap saya dengar, buatlah kalimat yang pendek-pendek. Novel ini memenuhi kaidah tersebut. Kalimat pendek-pendek membuat pembaca tidak cepat capek, katanya. Tapi yang saya rasakan justru cerita jadi tidak begitu mengalir karena terlalu sering berhenti.

Dan novel ini tidak memenuhi aturan gunakan satu sudut pandang saja per bagiannya. Maksudnya, dalam satu bab itu ada beberapa bagian. Seharusnya setiap bagian dipaparkan dengan satu sudut pandang saja. Kalau di awal memakai sudut pandang si A, sampai akhir harus konsisten dengan itu. Tapi sudut pandang dalam novel ini dengan enak melompat-lompat. Dalam satu bagian, bisa ditemukan sudut pandang beberapa orang sekaligus. Amat bertentangan dengan yang seorang editor di klinik penerbitan Kompas-Gramedia Fair 2010 (3 Februari 2010 di Jogja Expo Center, Yogyakarta) katakan pada saya.

Terlepas dari aturan menulis yang membuat saya tercenung-cenung, saya terhibur dengan kesegaran gaya bahasa di dalam novel ini. Meski pengarangnya sudah ibu-ibu dan cerita ini umurnya sudah sekitar sewindu lebih tua daripada saya, namun tetap enak dibaca. Gahul! Biarpun saya kadang merasa juga gaya bahasanya “kurang jaman sekarang”.

Cetakan pertama adalah tahun 1983. Saya curiga ini teenlit tahun 80’an meski tidak ada logo teenlit-nya. Bukannya serial Lupus ada sih. Menilik bahasanya yang ringan, semakin kuat dugaan saya tersebut. Cerita boleh ala 27 tahun lalu, tapi jaman telah banyak berubah selama itu. Mengingatkan saya pada “Lupus Returns: Cewek Junkies” yang telah saya baca dan buat review-nya sebelum-sebelum ini.

Di cetakan-cetakan awal buku ini tentu belum ada itu ceritanya Wulan memberi ponsel pada Joko, Roni punya akun Facebook, Joko dan kawan-kawan nongkrong di kedai kopi mahal, dan semacamnya. Padahal, banyak perannya kemajuan teknologi ini pada cerita. Teknologi yang berpengaruh paling signifikan dalam cerita ini adalah ponsel. Hubungan Joko dengan Wulan jadi makin intim berkat ponsel. Bapaknya Wulan bisa menghubungi Pak Prapto untuk memberitahu Joko suatu peristiwa penting sehingga Joko bisa datang secepatnya juga berkat ponsel. Jelas, hal ini tidak mungkin terjadi di cetakan-cetakan awal novel ini. Jadi saya penasaran bagaimana cerita di dalamnya bisa berjalan dengan lancar pada waktu itu.

Biarpun teknologi sudah tahun 2000’an, cerita masih ala 80’an. Istilah melantai, guru feodal (sebutan saya buat guru yang arogan, otoriter, galak, tidak bersahabat dengan siswa, dan semacam itulah), ibu yang yang setia melayani ayah yang dominan, sepasang tokoh utama yang digambarkan rupawan, seragam sekolah yang kiranya berbeda dengan seragam sekolah negeri, dan lain-lain yang saya mungkin tidak ingat—aduh, sinetron abis. Bukannya lantas jadi jadul dan tidak relevan dengan jaman sekarang sih.

Plot cerita yang ada dalam novel ini, selain membuat saya merasa menonton FTV saat membacanya, juga masih sejenis dengan beberapa film remaja yang diproduksi tahun-tahun belakangan ini. Sebut saja judul-judul film remaja tanggung semacam “Basah” dan “Married by Accident” yang produksi Indonesia maupun yang produksi Korea Selatan macam “Jenny, Juno” yang dimaksudkan untuk memberi pendidikan seks pada remaja yang menontonnya. Para tokoh remaja dalam film-film itu lebih muda usianya dari saya, tapi pengalaman seksualnya lebih banyak. Saya jadi ngeri. Apalagi mengingat ada tokoh dalam novel ini yang kena Penyakit Menular Seksual (PMS). Apakah ini memang novel untuk remaja atau novel dewasa dengan tokoh remaja?

Sebagian orang menganggap seksualitas adalah sesuatu yang tabu untuk diperbincangkan. Apalagi seksualitas remaja! Apakah memang pendidikan seks harus sudah diajarkan sejak dini—sejak bangku SMP setidaknya? Saya ingat, sewaktu saya masih SMP beberapa anak cowok di kelas saya omongan dan bahkan kelakuannya juga sama nyerempet pornonya dengan para tokoh anak SMP cowok di novel ini. Jadi, apa yang digambarkan dalam novel ini sebetulnya memang benar. Meski saya tidak bisa membayangkan seorang teman yang saya kenal mendadak hamil di luar nikah. Lalu, apakah memang dengan memberikan pendidikan seks sejak dini remaja akan lebih bisa menahan keinginan seksualnya?

Adegan di mana Bu Narti sedang menjelaskan organ reproduksi mengingatkan saya pada adegan dalam “Jenny, Juno”, di mana ada pula adegan seorang ibu guru muda sedang menjelaskan organ reproduksi pada para siswa. Baik di Indonesia, maupun di Korea Selatan, ternyata kejadiannya sama saja. Anak perempuan menerima pelajaran ini dengan penuh minat sementara anak laki-laki tidak becus menanggapinya. Pada akhirnya, perempuanlah yang menjadi korban. Syukur kalau laki-lakinya gentle seperti dalam “Jenny, Juno” itu.

Mengingat jalan ceritanya yang gaya lama namun dikemas baru, alur ceritanya pun sudah dapat ditebak. Sejak bab pertama saya sudah bisa menduga siapa ayah kandung Joko.

Namun, pengarang berhasil mengulur-ulur alur sehingga membuat kita terus membaca akibat penasaran akan kelanjutan cerita. Masa-masa kasmaran Joko dan Wulan begitu simpel dan lucu, khas remaja yang masih setengah anak-anak setengah dewasa. Banyak keputusan diambil spontan, tanpa pikir panjang. Diam-diam suspense menyelinap. Apakah Wulan akan hamil? Kapan? Sudah melebihi halaman tengah mereka kok tidak kunjung begituan? Apakah Joko akan bertanggung jawab? Apakah Joko dan Wulan nantinya akan menikah? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus memburu dan terjawab satu per satu hingga tahu-tahu di halaman terakhir logo penerbit menyambut. Beberapa tokoh memiliki karakter yang kuat sehingga kesan tentang mereka dan apa yang mereka perbuat dapat lekat cukup lama dalam benak saya.

Menamatkan novel ini sukses membuat saya penasaran dengan orang yang telah mengarangnya. Salah satu obat mujarab untuk mengobati penasaran adalah dengan menyambangi Mbah Google. Mbah, saya sedang mencari cover novel ini untuk dipasang di blog saya. Mbah, saya dapat cover novel ini versi jadul, oldschool sekaleee! Mbah, Mira W. itu sebenarnya siapa sih, saya cuman tahu dia itu dokter, tapi kok sempat-sempatnya produktif menulis ya? Mbah, bagaimana ya komentar orang lain tentang novel ini? Mbah, horeee, saya dapat link untuk mengunduh beberapa novel Mira W.!

Tak lupa saya cantumkan memorable quotes dari novel mengesankan ini.

Tetapi belum sempat ibu Joko bangkit, pintunya diketuk. Pak Prapto yang membukanya. Dan dia tertegun. Ada dua orang polisi tegak di ambang pintu.
“Selamat siang. Rumahnya Joko?”
“Ya. Saya kepala sekolahnya,” sahut Pak Prapto sambil mengerutkan dahi.
“Saya ibunya,” sela ibu Joko ketakutan.
Saya calon mertuanya, ayah Wulan mengembuskan kekesalannya. Tapi dia diam saja.
(hal. 299)

“Orang lain siapa, Pak?” gumam istrinya bingung. Dia baru mendengar cerita suaminya. Dan dia tambah terpukul.
“Pokoknya bukan anak itu.”
“Tapi siapa yang mau mengawini anak lima belas tahun yang sudah hamil?”
“Aku rela membayarnya.”
“Aku tidak setuju, Pak!” protes ibu Wulan tersinggung. “Seperti menjual anak saja!”
“Bukan menjual anak,” kilah ayah Wulan pahit. “Membeli menantu.”
(hal. 302)

“Dia mirip siapa, Pak?” tanya Joko ingin tahu. Seperti akukah mukanya? Hidung Wulan-kah yang melekat di wajahnya?
“Ya, seperti Bapak dong!” sahut ayah Wulan bangga. “Kakeknya!”
Jangan, pinta Joko dalam hati. Jangan seperti dia jeleknya!
(hal. 350)

Joko sudah siap lari ke kamar Wulan ketika tiba-tiba dia tertegun. Sedetik kemudian, dia menoleh kepada ayah Wulan.
“Boleh minta tolong, Pak?” tanyanya sopan.
“Memberi nama anakmu?” Ayah Wulan tersenyum bangga.
“Tolong tengok Pak Prapto.”
Sesaat ayah Wulan terenyak. Sebelum kepalanya perlahan-lahan mengangguk.
“Di UGD? Sekarang juga Bapak ke sana.”
“Satu lagi, Pak.”
“Apa lagi?”
“Kunci mobilnya ada sama satpam.”
Kurang ajar, geram ayah Wulan gemas. Tentu saja hanya dalam hati. Aku dikacungi bocah!
(hal. 350-351)

Wulan’s father is totally awesome!



Judul : Dari Jendela SMP
Pengarang : Mira W.
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2009 (cet. 13)
Tebal, panjang halaman : 352 hlm, 18 cm