Rabu, 28 Oktober 2020

Pengertian Hikmah yang Sebenarnya dan Cara-cara untuk Memperolehnya

Gambar dari Bukalapak.
Kata "hikmah" biasanya muncul sebagai penghiburan bagi orang yang baru mengalami peristiwa buruk. "Semua pasti ada hikmahnya," begitu. Tapi, apakah sebenarnya hikmah itu? Tentunya, buku Al-Hikmah karya Dr. Nashir bin Sulaiman Al-Umar ini (penerjemah: Amir Hamzah Fachrudin, penerbit: Pustaka Hidayah, Bandung, cetakan pertama, Maret 1995) menjabarkan pengertian yang lebih luas daripada yang diberikan KBBI.

Hikmah bisa diartikan menurut bahasa, Alquran, sunah, serta definisi para ulama. Tentu ada benang merah atau titik temunya. Dari berbagai pengertian yang ada dalam buku ini, dapat disimpulkan bahwa hikmah adalah melakukan sesuatu yang layak dengan cara yang layak dan dalam waktu yang layak (halaman 31). Saya menangkap bahwa orang yang memiliki hikmah adalah yang dapat bersikap adil dan bijaksana. 

Contoh-contoh hikmah dapat ditemukan dalam Alquran dan sunah. Malah sebenarnya seluruh isi Alquran adalah hikmah. Demikian juga dengan segala perkataan dan perbuatan Rasulullah saw. yang maksum (terpelihara dari kekeliruan dan kesalahan). Beberapa contoh hikmah yang diangkat dalam buku ini dari Alquran adalah kisah pemuda Al-Kahfi, kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Saba', serta kisah Lukman dan anaknya. Adapun contoh teladan Rasulullah saw. yang terutama adalah cara beliau dalam menyampaikan ajaran Islam yang disesuaikan menurut sasarannya. Beliau juga bersikap rendah hati dan terbuka, mau mempertimbangkan sudut pandang lawannya.


Seandainya para da'i mampu menyarankan sesuatu kepada setiap orang yang akan menjadi baik baginya (selain kewajiban-kewajiban dan yang hukumnya fardhu'ain) dan menghindarkannya dari segala sesuatu yang tidak dapat dilaksanakannya, maka tentu umat ini mampu menyempurnakan sebagian besar aspek kehidupannya. Akan tetapi kenyataan mayoritas manusia adalah seperti yang digambarkan oleh seorang penyair dalam sebuah syairnya, yang mencerminkan para da'i

Ketentuan segala sesuatu berada di atas tabiatnya, 

seperti menuntut bara api di dalam air. (halaman 51)


Rupanya tidak setiap orang dianugerahi hikmah (halaman 81), tapi sebagian kecil saja. Malah, nyatanya dalam kehidupan sehari-hari (keluarga, masyarakat, media, pergaulan, dan sebagainya) jarang terdapat kepedulian pada hikmah (halaman 103). Sebagai contoh, aturan agama yang memperbolehkan untuk memukul istri atau anak dipahami secara keliru sehingga terjadi tindakan yang abusive. Penyebaran hoaks serta sikap nyinyir dan baper juga akibat dari kurangnya hikmah. 

Tanda lain dari kurangnya hikmah adalah sulitnya membedakan hal-hal sebagaimana berikut (dari halaman 112):


  • antara kuat dengan keras dan kasar
  • antara lembut dan halus dengan lemah
  • antara sanjungan dengan rayuan
  • antara mengusahakan kemaslahatan dengan menghindarkan kerusakan
  • antara nasihat dan pencemaran nama baik orang lain
  • antara merahasiakan dengan menyembunyian kebenaran
  • antara gairah dengan luapan emosional
  • antara kemuliaan dengan takabur
  • antara rendah hati dengan rendah diri
  • antara tenang dengan kaku dan malas
  • antara berani dan keburu nafsu
  • antara takut fitnah dengan pengecut


Meski begitu, sepertinya jalan menuju hikmah dapat diusahakan (istilahnya: mujahadah, halaman 95). Karena itulah, buku ini memberikan petunjuknya dalam bab mengenai penghalang-penghalang serta rukun-rukun dan faktor-faktor penyebab hikmah. Saya merangkum bahwa untuk dapat memiliki hikmah, orang perlu:


1) mendalami agama, tentunya, dengan berlandaskan pada Alquran dan sunah.

2) menimba ilmu, karena luasnya ayat-ayat Allah. Ilmu sejarah, budaya, serta pengalaman bangsa/orang lain dapat membantu memahami ketetapan Allah (sunatullah) (halaman 90). 

3) menjaga akal dari kuasa hawa nafsu (pengendalian diri).


Dan bencana akal adalah hawa nafsu

maka barangsiapa (mampu) menguasai nafsunya

akalnya telah selamat. (halaman 63)


4) mengembangkan cara pandang yang luas, mendalam dan menyeluruh, juga prinspiel.

5) meningkatkan kecerdasan emosional.

6) berpartisipasi sosial.

7) mencari banyak pengalaman.

8) bersabar, karena hikmah merupakan akumulasi dari pemahaman dan pengalaman yang tentunya memerlukan waktu. Malah orang dikatakan baru memiliki cukup pengalaman setelah berusia 40 tahun (halaman 84).

9) memiliki tujuan dan target.

10) berdoa dan beristikharah.

 

PENUTUP

Ungkapan "semua pasti ada hikmahnya" cenderung menempatkan hikmah pada peristiwa atau kejadian, seolah-olah akan datang dengan sendirinya seiring dengan bergulirnya nasib. Buku ini menerangkan bahwa hikmah justru terletak pada diri orangnya, kemampuannya dalam mempersepsikan peristiwa dan mengatasi permasalahan. Hikmah tidak datang dengan sendirinya, tapi tergantung pada kemampuan individu yang dapat diusahakan dengan terlebih dahulu membebaskan diri dari penghalang-penghalangnya baru kemudian memerhatikan rukun-rukun dan faktor-faktor penyebabnya. 

Hikmah perlu dimiliki individu untuk mencegahnya dari terjerumus dalam perbuatan buruk serta hal-hal yang tidak penting dan kurang utama. Dalam skala yang lebih luas, hikmah penting dalam penyebaran ajaran Islam untuk menghindarkan dari kesalahpahaman serta bahaya dan tipu daya musuh Islam.

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain