LAINNYA

Senin, 23 April 2012

Cihampelas Nan Nahas


Jika kamu bukan orang Bandung, dan mengikuti wisata berombongan ke Bandung, kiranya Cihampelas merupakan lokasi wajib kunjung. Di sini bismu berhenti, lalu kamu dan kawan-kawanmu berburu kaos yang memuat huruf B, A, N, D, U, dan G untuk oleh-oleh.

Cihampelas bagi saya adalah kawasan di mana banyak toko pakaian, terutama jeans, berjajar. Patung berukuran besar menjadi ikon bagi tiap toko, entah itu gorila, spiderman, atau sopirman. SMAN 2 Bandung terselip di antara makhluk-makhluk itu. Angkot jurusan Cicaheum – Ledeng melintasi kawasan ini. Cihampelas tidak kalah ramai dari Dago—letak kedua kawasan ini berdampingan—bahkan agaknya lebih mengakomodasi kelas menengah ke bawah.

Dulu ada mal bernama Sultan Plaza di Cihampelas. Di lantai tiga Sultan Plaza terdapat food court dan arena bermain anak yang sangat mengasyikkan. Arena tersebut berupa bangunan yang cukup besar, di dalamnya terdapat berbagai ruangan dan lorong yang memenuhi hasrat menjelajah anak-anak: perosotan, mandi bola, ruang kaca, jaring-jaring, lorong dengan samsak di mana-mana, dan masih banyak lagi. Beruntung, saya sempat mencicipi wahana seru itu beberapa kali. Mal tersebut kini tinggal bangunan tanpa fungsi jelas. Pun surga bagi anak-anak dekade 1990-an itu, tinggal kenangan.

Tercengang ketika tahu kalau Sultan Plaza sudah begini keadaannya :0

Sebetulnya Cihampelas bukan kawasan yang kerap saya sambangi. Di masa ini, paling-paling saya lewati kawasan tersebut kalau saya habis dari UPI. Tahu-tahu Cihampelas Walk a. k. a. Ciwalk berdiri. Kunjungan saya ke mal berkonsep unik itu bisa dihitung dengan jari. Tahu-tahu pula Aston Tropicana menjulang di tepi, bikin saya tercengang tak henti. Konon keberadaan hotel tersebut tak ramah bagi pemukiman di sekitarnya, air tanah dan cahaya matahari hanya sampai untuk kepentingan sendiri.

Pada Minggu (22/4/2012), bersama komunitas Aleut saya berkesempatan untuk meninjau bagian dalam Cihampelas. Kawasan ini identik dengan Sungai Cikapundung, yang membelahnya. Sungai Cikapundung konon merupakan sungai terpanjang di dunia, karena melintasi Asia Afrika (yang sebetulnya nama jalan di Kota Bandung :P). Kapundung sendiri berarti nama tumbuhan, seperti Menteng, demikian kata koordinator Aleut.

Dari Jalan Siliwangi kami menuruni jalan di tepi Sungai Cikapundung yang berada di balik Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Saya belum pernah melihat Sungai Cikapundung bagian sini, biasanya bagian yang berada di sekitar Jalan Asia Afrika dan Stasiun Bandung saja.

Bandung menuju metropolitan. Dengan berjubelnya rumah-rumah, sudah mirip Jakarta kan?

Salah satu ikon Kota Bandung ini sering jadi objek acara bertemakan lingkungan hidup. Pembersihan sungai ini sering dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat maupun instansi, namun sampah tetap terlihat di banyak titik. Warna airnya serupa bajigur, namun selera sama sekali tidak terundang. Rumah-rumah dari seng maupun susunan bata yang tidak dicat berjejalan di sepanjang sungai, entah didirikan atas izin pemerintah atau tidak. Ban-ban untuk kukuyaan[1] bertumpuk di beberapa titik, heran jika ada yang berminat, tubuhnya mesti kebal dari gatal-gatal.

Itu tumpukan bannya di dekat jembatan

Melihat sekilas saja, saya agak ngeri membayangkan hidup di bantaran sungai penuh cemaran begini. Apalagi jika air sungai tersebut, sebagai sumber air terdekat, dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, entah mencuci, mandi, apalagi memasak! Apalagi jika limbah rumah tangga dibuang pula di sini. Ada yang bilang kalau masih ada orang yang memfungsikan Cikapundung sebagai kloset. Begitu dekat mereka hidup dengan biang penyakit.

Konon baik-buruknya pengelolaan sebuah kota dilihat dari keadaan sungainya. Jelaslah bagaimana pengelolaan Kota Bandung jika dilihat dari rupa Sungai Cikapundung. Bisa dibayangkan sebuah sungai yang di hulunya terdapat peternakan?

Selain itu, Sungai Cikapundung dengan seabrek polutannya bermuara di Sungai Citarum. Sungai Citarum sendiri telah menjadi isu global. Limbah dari sekian pabrik multi nasional berbaur dalam alirannya, yang berhulu di Gunung Wayang dan bermuara di Laut Jawa. Menurut Kang Jana, pegiat Aleut yang bekerja untuk Greenpeace, sungai di negara semacam China, Thailand, dan sekitarnya juga mengalami nasib serupa. Apa kabar samudra dunia?

Lorong-lorong pemukiman padat nan sempit, berkelok-kelok, serupa jalan tikus. Anak-anak sini harus pandai mencari ruang bermain alternatif. Pada sebuah saluran air mengalir dengan amat deras, bagai salah satu wahana di tempat rekreasi air macam Waterboom atau Waterbyur. Ada yang bercerita kalau seorang anak pernah hanyut di saluran tersebut, saat hujan turun dan air meluap.

Kami berhenti sejenak di Masjid Mungsolkanas. Letaknya di sebuah gang yang jalan masuknya tidak jauh dari jalan raya. Masjid yang dulunya hanya sebuah tajug alias musala ini telah berada di lahan tersebut sejak tahun 1869. Dalam sebuah kotak kaca di lantai dua tersimpan sebuah Alquran yang ditulis dengan tangan.

Mungsolkanas itu ternyata singkatan!

Sayangnya tidak ada informasi mengenai Alquran ini

Bentuk asli masjid ini agaknya sudah tidak tampak. Renovasi terbaru yang dilakukan beberapa tahun lalu menghabiskan dana hingga sekitar dua puluh enam juta rupiah. Atap masjid dilapisi semacam karpet tahan air yang diperkeras. Kami berkesempatan naik ke sana.

Calon apartemen yang memakan lahan begitu luas pun menjadi panorama utama di lantai tiga. Keberadaannya kontras dengan sekitarnya, mengingatkan saya akan Hotel Ibis di Jalan Gatot Subroto. Keberadaannya menambah kegeraman pada penguasa kota, yang mengizinkan perombakan cagar budaya demi cagar budaya demi bangunan komersial. Anak-anak sekolahan kehilangan Centrum, BJ Habibie menangisi peruntuhan SMAK Dago.

Pembangunan apartemen di seberang masjid itu pun mengorbankan sebuah kolam renang yang pernah jadi tujuan pelesir pada zaman pendudukan Belanda. Kolam tersebut didirikan oleh istri pemilik Hotel Savoy Homann. Tamu hotel yang ingin berenang di sana akan diantarkan dengan kereta kuda. Air kolam langsung dialirkan dari mata air. Patung Neptunus di tepi kolam menjadi ikon.

Sejak pembangunan di Cihampelas kian merajalela, aliran dari mata air ke kolam jadi seret. Pengisian kolam jadi makan waktu lebih dari sehari, konon akibat disabotase Ciwalk. Mungkin pula didukung berbagai faktor lain, kolam renang tersebut akhirnya direlakan pemiliknya.

Dari tepi Cihampelas: campur aduk bangunan komersial, pemukiman, dan hutan kota 

Cihampelas yang memelas menjatuhkan iba, sekaligus menuai kemuakan pada yang berwenang. Cihampelas bukan sekadar kawasan wisata, di balik kulitnya yang wah ada sepenggal wajah bumi yang bermuram durja. Berkelanalah di belantara Cihampelas, barangkali tafakurmu akan lebih bermakna. Tata kota yang semrawut, lingkungan yang mengenaskan, masyarakat yang termarjinalkan sekaligus memiriskan, wahai pecinta Kota Bandung, apa yang bisa kita lakukan setelah menyaksikan itu semua secara langsung? ***


padahal selama di jalan aku netral saja, entah mengapa dalam menulis aku jadi terdorong untuk memberi kesan memihak begini


[1] Kukuyaan, menurut interpretasi saya atas penjelasan beberapa orang, adalah semacam rafting individual. Kita bermain di sungai dengan tubuh kita diapungkan oleh ban, atau menyusuri sungai beriak—sesuai arah arusnya—dengan cara itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar