LAINNYA

Selasa, 31 Mei 2011

Jadi pingin jadi pustakawan lagi...

Potensi. Ini adalah salah satu kata yang paling saya suka. Terutama kalau tidak diembeli dengan "jasa lingkungan", "keanekaragaman hayati", "ekosistem", dan semacamnya hahahaha... Potensi yang saya maksud di sini adalah terkait potensi diri. Saking sukanya saya pada kata ini, saya sampai bikin tiga novel untuk mengeksplorasinya ;)

Pada pagi menjelang siang hari ini saya mengatakan pada teman-teman yang ada di dalam perpustakaan kantor balai, "Kayaknya habis lulus kuliah entar saya mau kerja jadi pustakawan aja deh!" Siapa ya itu yang bilang cocok?

salah satu sisi perpustakaan kantor balai TNUK
Saya lagi enggak ingin menceritakan bagaimana pergaulan intens saya dengan buku, keterlibatan saya dalam aktivitas keperpustakaan sejak SD hingga kini, dan berbagai perpustakaan yang telah saya akrabi hingga teman-teman suka tanya atau minta bantuan saya untuk mencarikan buku. Saya hanya ingin mengungkapkan rasa senang karena bisa memberi manfaat sesuai dengan potensi yang saya miliki. (Dan potensi di sini bukan potensi biasa, saya kira. Tidak semua orang memilikinya. Sesuatu yang bikin saya terkesan punya keunggulan dibanding orang lain.)

Lina ngumpet terus di balik laptop
Meski hari ini hanya Lina yang mengatakannya. Dia kiranya merasa terbantu karena kecepatan saya dalam mendapatkan dokumen-dokumen yang kami butuhkan. Sebenarnya ini juga karena saya lihat daftar pustaka laporan magang para kakak angkatan di Taman Nasional Ujung Kulon tahun lalu plus bantuan dari Cah. Saya hanya menyerahkannya dengan segera ke dekat Lina. Kemarin juga saya yang berinisiatif minta katalog ke petugas untuk memudahkan saya dan teman-teman menelusuri judul-judul yang diinginkan.

Meski demikian, saya memang telah sadar bahwa potensi saya dalam hal kepustakawanan memang ada. Setidaknya saya ada minat besar ke sana.

Hari ini saya ingin bekerja di perpustakaan dan terus mengarang. Bekerja di perpustakaan, apalagi kalau koleksinya selengkap Perpustakaan Nasional, pasti bakal sangat membantu kepengarangan saya. Mari bermimpi... :D

H3JUK: Pekerjaan Dimulai!

Saya lupa pernah baca di mana: orang autis suka mengumpulkan informasi tapi tidak tahu cara mengolahnya. Hari ini saya merasa demikian. Saya dihadapkan pada rak-rak berisi berbagai data tentang flora, fauna, sosial-ekonomi, jasa lingkungan, handbook, RPTN, rencana, dan lain sebagainya terkait Ujung Kulon maupun taman nasional-taman nasional lainnya. Namun saya bingung apa yang harus saya lakukan pada mereka kemudian. Cek? Telaah? Analisis? Tapi ini begitu banyak! Apa saja yang harus ditampilkan dalam laporan nanti? Dueng!

Praktek jurusan yang kami lakukan ini mencakup enam aspek: manajemen kawasan, flora, fauna, jasa lingkungan, masyarakat, dan wisata alam--yang masing-masingnya diampu satu orang. Kelompok saya jumlahnya lima orang dengan saya pada mulanya memilih aspek manajemen kawasan sebagai fokus kajian. Namun ada yang bilang, entah siapa, kalau sebaiknya saya memilih jasa lingkungan (karbon) saja sedang aspek manajemen kawasan dikerjakan bersama-sama karena aspek ini kiranya yang paling harus dipahami oleh kami semua.

Aspek jasa lingkungan, yaitu karbon, ternyata merupakan yang paling simpel di antara yang lain. Melihat laporan-laporan praktek jurusan pada gelombang sebelumnya, rumus yang digunakan itu-itu saja. Memang proses selanjutnya tidak sesimpel itu juga, namun kita lewat saja bagian ini.

(Mungkin) karena simpelnya aspek karbon yang jadi beban saya dibanding aspek-aspek lainnya, maka sayalah yang akhirnya "dipasrahi" teman-teman sekelompok untuk menggarap aspek manajemen kawasan--ditambah pada awalnya saya memang hendak mengambil aspek ini. Ketua kelompok saya, terutama, yang suka lupa kalau aspek ini sebetulnya tanggung jawab bersama.

Maka pada hari ini, di mana agendanya adalah pencarian data sekunder, sayalah yang mencurahkan pikiran untuk aspek ini. Lagipula memang penelitian tentang karbon belum pernah dilakukan sama sekali di TNUK. Ucok, dari kelompok satunya, yang sama-sama mengampu aspek karbon berfesbuk ria hampir sepanjang hari.

Untung saja ada Lina. Kelompok satunya berjumlah enam orang sehingga ada satu orang yang bisa fokus pada aspek manajemen kawasan. Ya Lina tu. Berkat sharing dengannya, plus kinerjanya yang memang mengagumkan, saya sangat terbantu. Meski kami sudah berbagi tugas, namun dia bisa lebih mengkoordinir teman-teman yang dapat membantu pengumpulan data yang jadi jatah saya, waha. Dia juga bantu merumuskan apa yang harus saya lakukan dengan data yang melimpah ini. Katanya, "Cari data yang bener-bener kamu butuhin aja..." Meski demikian, berhalaman-halaman daftar data yang harus saya kumpulkan yang saya tulis lagi di notes hijau ternyata berguna juga sih.

tampak dari tepi Jalan Raya Labuan...
Sebetulnya saya ingin membuat rangkuman hasil pengumpulan data yang saya lakukan sepanjang hari ini, semacam laporan ala kadarnya begitulah. Namun, entah nanti sempat atau tidak, saya mau merekam hari ini dulu--hari ketiga di kantor BTNUK.

Saya kira saya berhasil tidur sebelum pergantian hari semalam. Saya bangun jam empat tepat padahal enggak pakai alarm dan padahal saya nyetelnya jam tiga juga. Di luar sana ramai suara tilawah penyambut subuh yang mungkin berasal dari berbagai penjuru tanah Banten. Sementara Lina sahur, saya mandi dan mencuci sedikit pakaian. Saya menunggu azan subuh sambil mengetik tulisan untuk blog. Sehabis itu dan solat subuh, saya sempat kepikiran untuk tidur lagi. Namun akhirnya saya beli sarapan murah untuk teman-teman sekebelasan bareng Cah, Vina, Gilang, ... Desta juga enggak ya? Lalu kami sarapan nasi bungkus di rumah Pak Arif dan setelahnya bergegas menyiapkan diri untuk memulai aktivitas di kantor balai.

duduk manis di ruang depan
Sesampai di kantor balai, para cewek menunggu di kursi depan sementara para cowok pada narsis di halaman. Setelah senyum-senyum, salaman, dan atau kenalan sama beberapa orang petugas balai yang lalu lalalng, pak kepala balai akhirnya muncul juga ke hadapan. Saat giliran saya untuk salaman dan kenalan dengannya, saya malah jadi gagap. Maksud ingin membantu Desta menyebut namanya (karena dia enggak begitu saat pak kepala balai bertanya), saya malah berucap, "Des... Des... Des... Dyah!" Aih, grogian.

formasi lengkap
Kami lalu berkumpul di semacam ruang rapat. Grup Legon Pakis di sisi kiri pak kepala balai sementara grup Taman Jaya di sisi kanannya. Kami juga ditemani oleh beberapa petugas balai lain seperti Pak Luki, Pak Firmanto, Pak Indra, Bu Desy, Pak Mumu, Pak Edy, dan ...siapa lagi ya? He. Cah sampai membuat ilustrasi di notes birunya untuk mempermudahnya mengingat mereka semua. Satu per satu kami memperkenalkan diri.

pak kepala balai...
Pak kepala balai, yang saya kira lazimnya orang Sunda sebagaimana yang Om Maman S. Mahayana pernah bilang dalam salah satu bukunya yang memuat kritik cerpen penulis Sunda, ternyata suka heureuy. Sebelum mulai, beliau meminta salah seorang dari kami untuk menampilkan lagu terlebih dulu. Memang di salah satu sudut ruangan ada seperangkat alat musik seperti kibor, alat musik tabuh, dan entah apa lagi. Beliau menunjuk Cah, mungkin karena rambutnya gondrong jadi dikira nyeni kali ya. Cah menghindar dengan mengatakan kalau dia mahasiswa Seni Rupa (bukan seni rupa musik). Yeah, seni rupa-rupa.

...dan para stafnya
Banyak lagi kami tertawa dibuatnya, Misal ketika Soni memperkenalkan diri dan mengatakan dirinya berasal dari Nganjuk, kata beliau, "Tau enggak, nganjuk dalam bahasa Sunda artinya apa? Artinya ngutang!" Derai tawa. Saya sudah pernah bilang ini sebelumnya pada Soni. Entah dia ingat apa enggak. Soni tampaknya jadi favorit pak kepala balai. Mungkin karena nama yang tertera di baju lapangan Getasnya hanya "SO", jadi mudah memanggilnya. Selama beberapa lama kemudian Soni jadi populer dipanggil "So" oleh kami. Sonilah yang pertama ditanya pak kepala balai. Beliau tanya soal satwa di TNUK. Tepat--memang Soni yang pegang aspek fauna di kelompok kami. Saya kira saya tidak akan bisa menjawab lebih baik dari Soni. Saya khawatir kalau-kalau saya jadi sasaran pak kepala balai selanjutnya, alhamdulillah tidak.

berfoto bersama Bang Manurung
(yang baju putih di tengah)
Oh senangnya jika saya bisa menuliskan pengalaman saya selanjutnya dengan lebih rinci, namun apa daya waktu sudah hampir menunjukkan jam sepuluh malam saat saya menulis ini. Mata sudah berat. Sejak azan isya waktu Indonesia bagian Labuan, kami menghabiskan waktu di Kedai 13 dengan seorang alumni FKT UGM yang kini bekerja untuk WWF, Timer Manurung. Lina mempertemukan kami dengan abang satu ini antara lain karena Putro butuh mewawancarai LSM untuk penelitiannya. Terimakasih, Bang, telah menghemat uang makan malam kami... :)

Jadi, ini adalah poin hal-hal yang terjadi mulai dari habis overview dari pihak balai sampai pertemuan dengan Bang Timer...

- kumpul di perpustakaan kantor balai, cari data
- jam satu lebih, saya bareng Cah, Putro, Vina, Desta, dan Fajar beli es doger depan kantor balai, naruh data seabrek di fotokopian terdekat, makan di Minang Saiyo (Cah bilang harganya pasti, pasti MAHAL), balik ke kantor balai untuk solat zuhur, nungguin fotokopian, balik ke kantor balai lagi untuk wawancara Bu Desy bareng Cah, Soni, Gilang, dan Vina, lalu nimbrung Cah dan Gilang di ruang Pak Haryono, nongkrong sama teman-teman di ruang depan di kala kantor sudah mau tutup, nemenin Lina menghadap Pak Indra, balik ke rumah Pak Arif, mandi, nyuci, dan seterusnya deh...

Alhamdulillah, tidak seperti kemarin-kemarin yang saya keluhkan di sini, saya rasakan badan sudah mulai berteman dengan udara. Mungkin karena seharian saya banyak menghabiskan waktu di ruangan ber-AC kali ya, jadi keringetannya enggak begitu heboh. Sesekali gerah terasa bet, saat AC mati, saat ke luar cari makan... Namun selebihnya saya merasa tidak terlalu mengeluarkan keringat. Apalagi sore sempat hujan gerimis yang lantas jadi deras dan bikin saya panik seketika kala ingat jemuran.

Ya sudah begini saja dulu.
(selesai diketik pada 5.27, tanggal 31 Mei 2011)

Senin, 30 Mei 2011

Udara Panas...

Sejak masuk kereta Progo, saya hampir tidak pernah tidak berkeringat. Kalau naik kereta dari Jogja ke Bandung, memang pada mulanya saya gerah di awal--biasalah, udara Jogja--tapi harus siap-siap bersidekap untuk mengumpulkan hangat begitu menjelang pagi. Kali ini, membawa baju lapangan untuk tujuan itu jadi sia-sia--meski nantinya terpakai juga sih.

Tidak seperti Kahuripan yang makin menuju Bandung penumpangnya makin sedikit, Progo sepertinya tidak mengalami pengurangan penumpang yang cukup signifikan. Angin yang menyembur dari jendela terasa tidak berguna. Hawa tetap saja panas. Duduk saya tetap mepet jendela. Kasihan Vina, yang duduk di sebelah saya, terjepit antara saya dengan seorang mas-mas padahal kapasitas bangku yang kami duduki hanya dua orang.

Memasuki Bekasi dan seterusnya, tetap tidak terasa hawa sejuk yang berarti. Begitu turun di Stasiun Jatinegara pun panas tetap melingkupi tubuh.

Belum lagi saat menaiki bis Kalideres-Labuan. Panas sempat terusir dengan kencangnya angin yang masuk dari pintu. Memang saya duduk di deretan bangku paling belakang. Namun begitu bis tidak lagi berjalan kencang, panasnya menggila. Ketidaknyamananan ini ditambah dengan posisi duduk terus-menerus di atas bangku yang tidak ergonomis--begini juga pas di Progo.

Lepas dari Tangerang, pemandangan agak gersang di luar makin "memanasi" suasana.

Kami turun di terminal Labuan, di mana sempat terjadi kericuhan kecil antara beberapa pria di sana. Memperebutkan kami? Entahlah. Pada akhirnya kami mencarter sebuah angkot untuk kami bersebelas ditambah segala bawaan kami. Kalau satu orang membawa dua-tiga barang besar (carrier, ransel, maupun kotak alat atau dus makanan), bisa dibayangkan betapa sesaknya di dalam. Saya lihat Putro, yang duduk di pojok, bercucuran keringat deras sekali bagai habis disirami air dari depan.

Untunglah penderitaan kami tidak lama. Setelah sampai di kantor balai, kami mendapat ruang yang jauh lebih leluasa untuk bergerak. Salah satu ruang yang dibuka untuk kami berhawa cukup sejuk.

Memang ada kala saya tidak berkeringat, seperti saat di kamar dengan jendela terbuka dan berkaos lengan pendek, atau saat pagi hari. Ini membikin saya senang. Tapi lepas dari itu, saya tampaknya harus bertoleransi dengan hawa panas yang membekap. Syukur saya tidak seperti Lina dan Vina yang sepertinya mengalami alergi karena tidak cocok dengan udara dan air di sini. Sejauh ini saya tidak mengalami masalah berarti. Paling-paling hanya tidak betah dengan udara panas (dan berdebu) saja. Plus kecemasan terpendam karena membawa sandang terbatas. Harus ada yang bertoleransi dengan bau juga nih nantinya...

Saya bertanya-tanya apakah ini derita yang akan dialami oleh tiap orang yang telah mendiami daerah berhawa sejuk selama kurang lebih 16 tahun. Gerah sedikit tidak betah. Gerah selalu apalagi. Secara saya masih dua minggu kurang di sini, untuk hari-hari ke depan saya harus menyesuaikan diri dengan udara yang ada. Jadi ingin di Bandung saja. Kalau untuk sementara begini, apa boleh buat. Kalau ditanya di kota mana kelak saya ingin berdomisili, saya akan menunjuk kota-kota berhawa sejuk.

-diketik 5.11 di rumah Pak Arif, diunggah di perpustakaan kantor Balai Taman Nasional Ujung Kulon

Minggu, 29 Mei 2011

H2JUK: An Idle Day

Kami menginap di rumah salah seorang staf, Pak Arif namanya. Menurut Mas Andri, Pak Arif sedang ke lapangan jadi kami bisa pakai rumahnya. Pak Arif sudah tahu kami bakal tinggal di sana. Di bagian belakang kantor balai memang ada empat rumah. Rumah yang paling depan adalah rumah milik kepala balai, Pak Agus. Kami menempati rumah nomor tiga dari depan. Sementara tiga rumah lainnya menghadap ke samping, rumah paling belakang menghadap searah dengan kantor balai.

Di rumah Pak Arif, kami bisa menggunakan dua kamar, satu kamar mandi, perlengkapan dapur, tempat jemuran, dan ruang tengah yang TV-nya menampilkan channel-channel dari berbagai pelosok negeri. Kami bisa menonton siaran dari channel lokal milik Aceh, Bali, Sulawesi Selatan, hingga Papua. Di bagian bawah meja ruang tengah ada majalah Men's Health, Living, Alkisah, tabloid Pulsa, serta entah apa lagi. Saya baca majalah yang pertama dan ngeri dengan isinya.

Ada empat cewek dalam rombongan kami--termasuk saya. Kami menempati kamar paling kecil dengan dua kasur, yaitu kasur kapuk dan kasur angin, serta sebuah lemari. Alhamdulillah, ternyata akses wifi dari kantor balai sampai juga ke kamar ini, jadi saya bisa langsung post tulisan ini deh... ^^

Pada hari ini, saya tidur menjelang pukul satu dini hari di atas kasur angin. Sempat tidak nyenyak di awal karena sebagian teman tidur menyusul. Padahal saya pasang alarm jam empat, tapi sadar-sadar sudah jam enam saja. Di luar sudah terang. Saya langsung bergegas ambil wudhu untuk solat subuh. Saya bangunkan juga teman yang lagi solat. Di luar kamar, cowok-cowok bergelimpangan dengan TV menyala.

Sehabis solat subuh, saya tidur lagi. Saya baru bangun lagi mungkin sekitar jam setengah delapan. Setelah itu saya cari apapun yang bisa dimakan untuk sarapan karena sepertinya tidak semua teman merasa harus disiplin sarapan. Jadi saya makan saja roti yang sudah setengah dimakan kemarin, biskuit MP-ASI, cemilannya Vina, dan entah apa lagi sambil diselingin menonton TV atau entah apa.

Kemudian saya dengar kalau para cowok sudah ketemu pak kepala balai, Pak Agus, saat mereka nonton bola di kantor balai pas dini hari. Tapi para cowok ini bukannya kenalan atau mengajak ngobrol. Mereka malah hanyut terus dalam keasikan menonton bola. Soni dan Gilang tidur sementara Cah dan siapa entah satu lagi setengah enggak sadar. Putro mengaku sempat menyapa dan seterusnya. Rijal dengan enaknya bilang masak lagi nonton bola malah ngobrol. Lagipula, katanya, saat itu mereka lagi musuhan dengan pihak balai. Pihak balai dukung MU sedang para mahasiswa dukung Barca. Entah siapa itu yang bilang, pak kepala balai sedih MU kalah. Cah baru sadar dari tidurnya saat gol terakhir atau apa begitu. Tahu-tahu pak kepala balai sudah menghilang.

Atas peristiwa tersebut, ada inisiatif untuk sowan ke rumah pak kepala balai pagi itu. Ini kemudian jadi perkara sepanjang hari hingga malamnya oleh Putro kata Lina. Sebabnya, mengetahui akan mengunjungi pak kepala balai, kami para cewek otomatis pada mandi dulu. Kami semua baru selesai mandi agak siang. Akhirnya semua siap (setelah menggadang-gadang Desta...). Sampai di depan rumah pak kepala balai yang bercat pink, seorang wanita menyambut kami. Katanya Pak Agus sedang sakit sehingga tidak bisa menemui. "Senin aja ya?" kata ibu-ibu tersebut.

Jadilah kami lanjut melaju cari makan. Kami makan di warteg terdekat yang ibu-ibu front depannya malah meladeni kami dalam bahasa Jawa. Seperti malam sebelumnya, sementara kelompok satunya pada bayar sendiri-sendiri, kelompok saya tetap bayarnya komunal.

Sehabis makan, kami kembali ke rumah Pak Arif. Kami para cewek tidur-tiduran di lantai kamar. Saya membaca hasil penelitian tentang kokoleceran lalu lama-lama ketiduran sedang teman-teman lainnya sudah pada tidur. Akhirnya saya ikutan tidur juga, melewatkan azan zuhur...

Santai benar memang saya di sini dalam hal jadwal solat. Mentang-mentang musafir, solat boleh dijama kapan saja, waha.

Saya tidur sampai sekitar setelah ashar. Begitu pun teman-teman. Tapi kami masih pada malas-malasan sampai Cah dan Rijal rame sendiri di luar kamar. Ada yang menggedor pintu. "Woy, katanya mau ke pantai?"

Bangkitlah kami. Saya solat ashar campur solat zuhur. Kami semua siap-siap. Di depan kantor balai, kami menunggu angkot yang bisa membawa kami ke Pantai Carita. Menurut keterangan Mas Andri, kami bisa mencapai pantai dalam waktu setengah jam dengan angkot. Seharusnya kami naik angkot yang di seberang jalan. Namun sebuah angkot yang mengarah ke sebaliknya malah berhenti dan mengoper penumpangnya sehingga kami semua bisa naik ke dalam dan diantar dengan angkotnya...

kayak foto zadul...
Sesampainya di pantai, kami foto-foto. Saya lihat ada banana boat. Pingin juga sih mencoba tapi secara saya tidak bawa banyak baju, sebaiknya saya menahan diri. Saya hanya melihat teman-teman pada minta difoto saja sedang saya difoto hanya kalau ada yang mau memfoto. Saya, Vina, dan Cah sempat jalan menjauh dari teman-teman. Tapi lalu kami dipanggil. Kami semua berjalan ke arah sebaliknya. Kalau ada spot bagus, beberapa dari kami, atau bahkan semuanya, berhenti untuk difoto.

Sembari berjalan, saya perhatikan di angkasa burung-burung terbang membentuk formasi logo NIKE. Saya jalan lagi dan melihat seorang ibu tengah mendongak. Saya ikutan. Wah, Formasi lain lagi. Bentuknya seperti gunung! Saya ingat untuk menyampaikan salam dari Nurdin pada burung yang ada di sini. Bagaimana caranya ya? Saya lihat di belakang Putro dengan SLR-nya sedang memotret burung-burung tersebut. Kata Gilang, para burung terbang dengan membentuk formasi macam-macam begitu untuk memecah angin. "Burung yang paling depan yang paling capek tuh. Entar kalau udah capek, gantian sama burung lainnya,"

Niat awal teman-teman adalah untuk menonton matahari terbenam. Menurut keterangan sopir angkot yang kami naiki, kami masih bisa mendapat angkot hingga jam delapan atau sembilan. Namun tampaknya langit mendung. Mereka ingin ke sisi lain pantai, namun untuk menuju ke sana tidak ada jalan yang mudah ditempuh. Kami harus memutar dengan memasuki gerbang lain. Ternyata kami tetap tidak bisa masuk.

yang ngejoki cuma dua orang, lainnya ngegaya!
Akhirnya kami foto-foto saja di depan lanjut menyeberang jalan untuk mencegat angkot kembali. Putro dan entah siapa lagi tetap di tempat untuk memfoto kami semua yang ceritanya berlagak hendak mencegat angkot. Tak dinyana, sebuah mobil bak berhenti di dekat kami. Kami bertanya-tanya apakah pengemudi mobil tersebut memang berniat mengangkut kami. Kata pengemudi tersebut, "Ayo!" Dengan girang kami langsung menaiki mobil bak tersebut.

Bagian depan mobil diisi oleh tiga orang bapak-bapak termasuk pengemudi. Di belakang ada seorang pemuda dengan rollmeter di tangan. Basa-basi Cah bertanya mengenai mereka. Pemuda itu bilang kalau mereka sedang mengerjakan proyek jalan.

Meski kami sudah bilang kalau tujuan kami Mess Badak, namun kami tidak diberhentikan di sana. Belum juga sampai kantor balai, kami sudah diberhentikan karena mereka rupanya sudah sampai tujuan mereka. Pengemudi yang telah berbaik hati mengangkut kami membantu mencarikan angkot juga. Lagi-lagi si sopir angkot yang hendak kami naiki mengoper penumpang sebelumnya.

suasana di warung makan si teteh....
Di dalam angkot yang melaju, gerimis mulai rintik. Kami berhenti di warteg tempat kami makan pada malam sebelumnya. Hujan turun semakin deras. Kami menunggu hujan berhenti baru lanjut kembali ke kantor balai. Sesampai di kantor balai, mandi-mandi deh. Jam delapan lebih kami briefing untuk keesokan harinya. Waktu istirahat sudah usai. Besok kami sudah harus bekerja mengumpulkan data!

Sabtu, 28 Mei 2011

H1JUK: Misteri Kokoleceran Telah Terkuak

Carilah gambar Vatica bantamensis di Google. Sampai tanggal 14 Mei 2011, gambar yang saya temukan untuk artikel tentang kokoleceran melalui penelusuran via Google malah gambar saudaranya, Vatica rassak. Artikel yang membahas kokoleceran sedemikian rupa--tidak sekedar menampilkan morfologi atau taksonomi atau semacamnya saja--pun sekiranya hanya yang dilansir dalam laman ini saja. Bahkan penulis artikel tersebut pun mengatakan bahwa dirinya sendiri belum pernah menjumpai flora ini.

Kokoleceran konon merupakan flora endemik yang hanya dapat ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon saja. Entah mengapa perseberannya sedemikian terbatas. Flora ini masuk dalam redlist IUCN alias terancam punah.

Dari berbagai sumber yang saya temukan mengenai flora di Taman Nasional Ujung Kulon (selanjutnya TNUK), yang mencantumkan kokoleceran dalam daftar hanya dalam laman ini saja.

Sedemikian langkanya flora ini, saya mensugesti Cah untuk menjadikan kokoleceran sebagai objek penelitiannya saja. Namun keraguan apakah jenis ini berada atau tidak di resort tujuan kami serta kegunaannya yang belum jelas membuat gagasan ini tidak jadi dijalankan.

pohon kokoleceran di depan kantor kepala balai
Siang ini, kami akhirnya sampai di kantor Balai TNUK. Dalam bincang-bincang awal dengan Mas Andri (salah satu petugas PEH TNUK alias Pengendali Ekosistem Hutan alias forest-bender menurut Putro--yang banyak membantu kami sejak sebelum keberangkatan), saya iseng menanyakan tentang kokoleceran kepanya. Dia bilang kokoleceran banyak ditemukan di Semenanjung Ujung Kulon--entah di Resort Taman Jaya. Flora ini ditanam juga dii depan kantor kepala balai.

Malamnya, Desta menyerahkan sebuah jilidan pada saya. Katanya itu dari Mas Andri. Wow. Informasi tentang kokoleceran! Penelitian mengenai keberadaan kokoleceran akhirnya dilakukan juga pada tahun 2010. Mas Andri mengizinkan kami memfotokopi jilidan tersebut. Katanya, ini merupakan satu-satunya informasi yang ada--belum diperbanyak.

Menurut hasil skimming saya, sebagaimana keterangan Mas Andri, kokoleceran yang ditemukan pada penelitian ini berada di Semenanjung Ujung Kulon saja. Mengenai keberadaannnya di bagian TN lain, saya belum membacanya secara detil. Penemuan yang didapat tidak hanya satu-dua saja, tapi banyak! Bahkan salah satu penemuan dikatakan fenomenal karena pohon kokoleceran yang ditemukan berdiameter besar dan memiliki ribuan anakan tersebar di bawahnya.

Anakan kokoleceran saat ini sedang dibudidayakan di Kebun Raya Bogor. Oh ya, memang jenis ini juga konon ditemukan di sana juga--tapi mungkin merupakan hasil konservasi eks situ. Kegunaan dari flora ini memang dicantumkan belum jelas.

Saya tidak sabar memperbanyak hasil penelitian ini--salah satunya untuk pribadi. Memang misteri flora ini akhirnya terkuak, namun entah mengapa daya tarik akibat kemisteriusannya itu masih menyisa dalam diri saya, waha.

Insya Allah hasil penelitian ini akan saya sarikan dan publikasikan di blog kalau ada kesempatan.

-ditulis di pinggir lapangan bulu tangkis kantor balai sambil sesekali melihat teman-teman yang sedang main

Kamis, 19 Mei 2011

Ketemu Morgan

Dalam mimpi saya semalam, saya ketemu Morgan SM*SH. Kayaknya itu awalnya niat saya cuman nemenin adik saya jalan-jalan deh, tapi malah saya yang banyak foto-foto sama Morgan. 

Sesudah jalan-jalan, kami duduk-duduk di ruang tamu sebuah rumah, enggak tau rumah siapa... Banyak orang di sana pada duduk-duduk juga di sofa, nguriling. Ada Pak Bambang dari Lab. Biomet juga, waha. Saya duduk sebelahan sama Morgan sambil ngeliat foto-foto pas jalan-jalan tadi itu...

Pas lagi gitu, ada yang ngetok pintu. Saya yang nyambut. Ada mbak-mbak rambut pendek kayak cowok, lurus, putih, pake kacamata, ngasiin mangkok isinya kayak saus rendang gitu, sama piring isinya apa saya enggak mengamati persis. 

"Ini siapa yang pesen?" tanya saya ke orang-orang. Saya kira Pak Bambang yang pesen tapi enggak ada seorang pun yang ngaku. Lah, bingung.

Eh, si Morgan ngerogoh sakunya terus ngasih duit ke saya. Ya udah saya kasiin ke mbak itu deh. Si mbak balik ke mobilnya yang nganterin di depan rumah. Saya intip dari balik jendela, di mobil itu ada cewek-cewek lainnya dan mereka pada heboh gitu.

What a dream. Dear, Morgan, you treated us so well, ha-ha!

Minggu, 15 Mei 2011

Permainan Ayah-Anak Kali Kedua (penggalan doang)

(saya coba ngikutin sini. tapi saya ga pernah ngirimin karya saya antara jam 9-11 malam itu karena ga punya modem sendiri di jogja sini. udah ada beberapa karya. salah satunya udah pernah saya post. nah ini untuk tema tanggal 9 mei 2011, "AYAH", saya kembangkan dari salah satu fragmen dalam bakal novel saya. terima kasih kepada mereka yang telah mencetuskan adanya kegiatan semacam ini, semoga Allah SWT membalas :))


Mula
Ini adalah kali kedua kami berperan sebagai ayah dan anak. Om Yan dan aku. Pada mulanya adalah percakapan iseng antara aku dan kawan akrab mamaku saat SMA yang lalu jadi teman baikku juga itu,
“Gimana ya rasanya punya anak yang udah sebesar Bibe?”
“Tanya aja orangtuaku, Om.”
“Hahaha…”
“Aku juga penasaran gimana rasanya ya punya papa yang kayak Om.”
“Mau jadi anak Om, Bibe?”
“Om mau jadi papaku?”
“Enggak. Saya maunya jadi Ayah.”
“Oke, Ayah… Jadi, Ayah, kita mau ke mana, Ayah…”
“Hahaha… Enaknya pergi ke mana, ya, Nak?”
Pagi ini aku sengaja pulang ke rumah hanya untuk mengambil gitar dan kaset lawas Mama. Papa sudah di rumah, menghirup kopi dan mengemut roti panggang. Tapi aku lekas saja lanjut pergi ke sekolah.
Ada yang ingin aku tunjukkan pada Om Yan.
 
(setelah ini ada bagian 1-8, tapi dilewat aja ya, hihihi...)


Akhir
Papa meminta Tante Zaha meminjamiku baju hangat meski aku sudah merasa cukup dengan sweater dari Om Yan ini.
Tadinya aku sudah duduk mengangkang di atas Honda Astrea reyot Papa, dengan kedua belah tangan menarik-narik ujung rok ke depan, tapi Papa menyuruhku duduk menyamping saja. Papa mencantel ranselku di bagian depan motor sementara tas gitar aku gendong sendiri. Tas selempang Papa menjadi sekat di antara kami.
Motor yang kami naiki mulai batuk-batuk. Aku mengenakan helm lalu melambaikan tangan pada Tante Zaha yang mengantar sampai di balik pagar. Dia merapatkan pashmina yang membalut setengah tubuhnya sebelum membalas. Sebetulnya aku kasihan meninggalkannya di rumah seluas itu hanya dengan seorang pembantu belia saja. Semoga Om Pir cepat datang kembali untuk menemaninya…
“Tadi jalan ke mana aja sama Om Yan?” tanya Papa di tengah laju motor yang menembus angin malam.
“Kartika Sari, sama Dago Tea House…”
“Ngapain aja?”
“Mmm… Cuman jalan-jalan aja, ngobrol-ngobrol…”
“Bibe seneng jalan-jalan sama Om Yan?”
“Seneng…”
Hanya percik lelampu kota, lubang-lubang di jalan, deru mesin banyak kendaraan, dan sekian keramaian para makhluk pengisi gelap lain yang mengisi perjalanan kami kemudian, sebelum Papa bertanya lagi padaku, “Katanya Bibe marah sama Papa ya?”
Aku tidak langsung menjawab. “Enggak…” dustaku kemudian, padahal di jawaban sebelumnya aku jujur-jujur saja.
Siapa yang tidak marah sih kalau buku hariannya dibaca dan, perhatikan, dikoreksi—bukan oleh dirinya sendiri(!)? Sampai sekarang pun aku rasa aku bakalan masih muak kalau melihat tulisan Papa di buku harianku.
Memang editor lebay papaku ini. Mukaku menabrak jaket kulitnya. Tapi tidak lama—dia mendadak ngerem tadi karena ada ibu-ibu mau menyeberang.
“Tinggal di rumah Tante Zaha enak, Bibe?”
Aku mengantuk. “Kasian Tante Zaha enggak ada yang nemenin, Papa…” jawabku malas.
Dia tidak pernah menyinggung pakaian yang kukenakan pada malam itu, untunglah… Aku memejamkan mata. Terbayang sebuah rencana untuk mengajak Papa dan Mama ke Dago Tea House juga dengan membawa tikar, termos, roti lapis, dan SLR pemberian papaku tentu saja… Ah, tadi lupa kebawa.
“Bibe mau beli gorengan dulu enggak?”
“Enggak… Tadi udah kenyang makan Kartika Sari…”


(yah. sampai di sini saja. dan begitulah... :))

Selasa, 10 Mei 2011

Potret Kelabilan Orangtua

Judul : Bright Angel Time
Pengarang : Martha McPhee
Penerbit : Serambi, Jakarta, 2009

Kadang saya pikir apa yang disampaikan dalam "The Secret" itu ada benarnya. Kadang saya menginginkan sesuatu dan dalam waktu tidak berapa lama saya mendapatkannya. Contohnya... Perasaan saya buruk hari ini dan saya ingin esok lebih baik. Esok saya ketemu teman-teman dan perasaan saya memang jadi lebih baik. Hehe. Contoh lain, saya merasa sudah lama tidak kebanjiran ide dalam kepala. Esoknya, saya sudah menulis beberapa poin dalam buku catatan saya. Begitulah. Memang sudah sunatullah-nya begitu kali ya.

Belum berapa lama ini saya lagi gandrung sama satu proyek. Kalau dalam tiga novel sebelumnya saya menggunakan sudut pandang orang ketiga, kali ini saya ingin pakai sudut pandang orang pertama. Beberapa kali saya coba masuk ke proses penulisan, saya merasa belum juga mendapat "suara" si tokoh utama. Saya juga ingin agar situasi-situasi yang ada dibawakan dengan cara yang lebih mengalir. Saya pikir saya harus mencari novel dengan sudut pandang orang pertama, ya supaya dapat feel-nya saja.

Di samping itu, ada seorang teman saya, yang sudah membaca beberapa karya fiksi saya, dan menyimpulkan bahwa tema pokok saya adalah "keluarga". Sebenarnya saya tidak pernah memaksudkan demikian, tapi kebetulan saja proyek kali ini temanya "keluarga" banget.

Lalu pada suatu ketika saya sowan ke kamar tetangga kos saya. Dia ternyata punya beberapa buku menarik yang saya belum baca. Di antaranya adalah novel ini. "kisah menyentuh tentang keluarga, persahabatan, dan petualangan", begitu yang tertera di sampulnya. Baca sinopsis sampul belakangnya... "pria karismatik" ya, hm, tokoh utama seorang anak dan memakai sudut pandang orang pertama? Wa. Pas.

Tokoh utama novel ini adalah seorang gadis berusia 8 tahun. Kate namanya. Dia punya dua kakak perempuan: Jane dan Julia. Suatu hari Papa mereka kabur dengan istri tetangga. Hal itu diketahui dari kedatangan si tetangga yang ujug-ujug datang ke rumah dan bilang ingin membunuh Papa. O, tentu Mama mereka sangat sedih. Namun kemudian datang Anton yang ahli terapi Gestalt, pastor Jesuit, dan entah apa lagi. Mama mereka pun pacaran dengan Anton. Mama lalu membawa mereka ke semacam camp di mana mereka dipertemukan dan mulai tinggal bersama anak-anaknya Anton: Nicholas, Sofia, Caroline, Timothy, dan Finny (saya absen mumpung masih ingat...) yang agak-agak nyeleneh secara anak-anak itu dibiarkan hidup bebas oleh Anton. Mama anak-anak itu sendiri kabur ke biara--kecuali Finny yang konon anak adopsi. Hm. Selain itu, ada lagi orang-orang yang "sempat" jadi anggota keluarga mereka, seperti James, Dwayne, Cynthia Banks, pasangan Sal-Sam dan anak-anak mereka... Mama sempat cekcok dengan Anton namun kembali baikan, berencana menikah, dan cerita diakhiri dengan perjalanan keluarga ini ke Grand Canyon. Eh, sori, spoiler.

Dengan latar 70-an di Amerika Serikat negara bagian antah berantah (saya tidak terlalu memerhatikan), cinta, spiritualitas, baju kembang-kembang, acara bugil bareng, ganja, dan semacamnya mewarnai situasi-situasi dalam novel ini. Saya penasaran kalau difilmkan mungkin akan ada banyak trik kamera untuk menutupi ini dan itu, hihi... Namun dalam novel ini sempat digambarkan cukup jelas. Mengerikan juga, mengingat yang "membawakan" cerita ini adalah seorang gadis umur 8 tahun.

Anton sangat bebas dalam mendidik anak-anaknya. Tidak ada dari anak-anak Anton maupun anak-anak Mama yang tergolong remaja tingkat atas... maksudnya, usia mereka rata-rata masih berkisar di usia remaja awal, kecuali James dan Dwayne yang penebeng. Tapi mereka dibiarkan saja minum minuman keras sampai mabuk. Kalau menurut pandangan "orang normal", bisa dibilang mereka tidak diurus dengan baik karena Kate sebagai narator beberapa kali mendeskripsikan betapa kotornya mereka. Anton terus membawa mereka jalan-jalan. Mereka juga tidak disekolahkan (o, mereka sekolah deng, di EREHWON atau kalau dibalik jadi NOWHERE). Saya menyayangkan karakter James, yang mengingatkan Anton akan ini, yang kurang dieksplorasi. Begitulah. Namun dengan polosnya Kate menaruh kepercayaan pada Anton sampai-sampai ia pindah dari agamanya sendiri ke agama Anton.

Terlepas dari bagian yang berpotensi mengandung dakwah kristiani tersebut, ada beberapa hal dalam novel ini yang saya soroti.

Pertama, gaya penceritaan yang mengalir, kadang berupa penggalan situasi saja, seperti flashback, dan makin mendukung pembaca yang suka memvisualisasikan novel layaknya film. Namun perlu diperhatikan juga bahwa aliran-aliran itu ada dalam wadahnya masing-masing yang disebut bab. Dan dalam setiap bab ada jeram-jeramnya. Nah lo, apa coba? Namun, pengarang kiranya tak luput dari kelemahan sudut pandang pertama yang mestinya terbatas pengetahuannya. Kate kok tahu apa yang sesungguhnya terjadi di antara Papa dengan Camille pada hari minggatnya Papa?

Kedua, yang minat dengan geologi akan bertambah wawasannya dengan membaca novel ini. Papa Kate adalah seorang ahli geologi. Konon dia menggali sendirian sedalam 2000 meter di Afrika Selatan demi sebongkah batu emas yang akhirnya jadi milik Kate. Kate sangat berminat dengan geologi dan luas pula pengetahuannya akan batu-batuan--ia mengoleksinya! Karena saya tidak begitu minat, pun unsur proximity-nya tidak kena, maka kandungan pengetahuan ini hanya bikin saya mengagumi kemampuan pengarangnya saja, namun tidak memperluas wawasan saya akan dunia geologi.

Yea, yang saya kagumi adalah kemampuannya dalam menyelipkan pengetahuan di dalam cerita. Tidak hanya menambah wawasan, tapi dari situ juga bisa ada potensi konflik yang bisa digali, misal, minat yang diturunkan Papa pada Kate ini menciptakan keterikatan sendiri di antara keduanya bukan? Sementara Jane dan Julia tidak mau lagi menebeng mobil Papa untuk ke sekolah, Kate masih bertahan. Finny juga sempat mengambil batu emas Kate dan tidak mau mengembalikannya. Memang kemudian Kate mengalah dan tidak menginginkan batu itu lagi, namun saya membacanya sebagai pertanda mulai renggangnya ikatan di antara Kate dengan Papa.

Yang tambah bikin saya berkesan adalah bagian saat mereka hendak menjelajahi Grand Canyon. Mereka sempat dilarang oleh ranger (semacam penjaga begitu...) dan... penjelasan si ranger kemudian bahwa tempat ini berbahaya karena keadaannya begini, ada hewan apa saja, sedang yang direkomendasikan adalah ini dan itu, dan sebagainya, mencetuskan inspirasi bagi saya kalau beginilah caranya memanfaatkan disiplin ilmu dalam fiksi. Subhanallah! Yea, soalnya perkara memasuki kawasan alam seperti ini adalah salah satu menu yang dihidangkan jurusan saya, Bung!

Contoh lain sebenarnya sudah ditunjukkan dalam "Gara-gara si Munyuk!", namun entah mengapa yang ini juga bikin saya terkesan. Mungkin karena porsi utamanya ditempati oleh pesan kekeluargaan dan sebagainya itu kali ya sehingga kemunculan wawasan kealaman jadi tersirat. Wawasan kealaman bisa jadi hanya latar dan mungkin bisa pula diganti oleh yang lain--misalnya Papa itu koki, Kate jadi tahu banyak tentang makanan, dan perjalanan yang dilakukan rombongan Anton ini adalah wisata kuliner dan bukannya wisata alam. Hehe.

Sesuatu yang membuat saya ngeh kalau ke manapun Anton membawa rombongan itu pergi, sejauh apapun dari Papa, ikatan Kate dengan papanya akan tetap langgeng oleh bebatuan yang jadi minat mereka berdua. Ya, setiap kali Kate selalu membawa batu-batunya, dia juga mampu menjelaskan tentang bebatuan di suatu tempat, dan itu selalu mengingatkannya pada Papa. Indahnya.

Ketiga, pesan kekeluargaan. Hm. Sebenarnya saya tidak terlalu mendapatkan pesannya selain bahwa Anton dan Mama, juga para orangtua dalam novel ini mungkin, tidak becus mendidik anak. Entahlah, saya merasa mereka egois atau memang begitukah tabiat orang sana? Namun saat saya menggarap pengembangan karakter para orang dewasa dalam proyek saya sendiri, sembari mengingat-ingat karakter para orang dewasa dalam kehidupan saya, saya merasa bahwa, ya, tua itu pasti tapi dewasa itu pilihan. Jika dewasa itu berarti jadi penyabar, pengalah, dan semacamnya, mengapa masih kita temukan orang dewasa yang bertindak semaunya, menerapkan aturan mereka sendiri tanpa mau kompromi, dan semacamnya pula? Apa sih arti dewasa itu? Hanya karena mereka sudah cukup umur untuk bikin anak lantas bisa disebut dewasa?

Keempat, saya menemukan inspirasi lagi nih di halaman 57:

"Aku ingat bagaimana dia berkata kalau meninggal nanti dia ingin kami semua mengadakan pesta dan makan steik tebal lengkap dengan jusnya dan merica untuk merayakan kehidupannya."

Entahlah. Kalimat ini memberikan saya perspektif baru dalam melihat kematian. Bahwa kematian itu bukan untuk ditangisi, bukan untuk membuat kita merasa kehilangan, melainkan bersyukur, "Alhamdulillah, dia pernah hidup dan memberi sesuatu bagi kehidupan ini." Seperti melihat gelas setengah isi dan bukannya setengah kosong, bukan?

Ada pula di halaman 105:

"Papa bilang manusia bekerja begitu keras agar bisa hidup abadi, menciptakan karya seni dan monumen-monumen, mengembangkan teknologi, bingung bagaimana bisa meninggalkan jejaknya padahal sebenarnya dia itu tidak begitu penting, hanya seorang tamu di bumi ini, dan berada di sini hanya sebentar."

Yang saya garis bawahi adalah frase yang ada kata "tamu"-nya. Yeah, kita di bumi ini hanya menumpang. Bukan berarti kita tidak boleh memberikan sesuatu bagi tuan rumah, tapi ya mbok tinggalkan kesan yang baik begitu sebelum meninggalkan rumah supaya tuan rumah sudi menerima kita kembali di rumahnya. Rumahku kan surgaku. Hehe... Nyambung aja...

Oke, satu lagi kalimat menyentil di halaman 179:

"Aku sama sekali tidak tahu tentang agama, tetapi rasa-rasanya berada dekat dengannya kok hebat."

"nya" dalam "dengannya" ini entah merujuk pada "agama" atau pada Anton yang disinggung pada beberapa kalimat sebelumnya. Kalau merujuk pada Anton, maka Katoliknya Kate, sesuai agama Anton, jadi beralasan. Bagaimanapun juga, entah itu "agama" atau Anton, kalimat ini saya rasa menyentil karena saya kira kadang kita merasa sudah cukup hanya dengan, katakanlah, atribut keagamaan tanpa memahami benar esensi dari agama itu sendiri. Hanya dengan kerudung, dan atau gabung anak-anak masjid, dan atau sekedar tilawah tanpa memaknai artinya, dan atau lain-lainnya saja kita sudah merasa cukup dengan keislaman kita. Padahal konsekuensi bersyahadat saja belum dicamkan... Tidak merasa? Tidak apa-apa. Muslim di dunia ini tidak hanya yang semacam kamu doang kan?

Mengingat tidak sedikit yang bisa saya ambil dari novel ini, saya kira novel ini sebetulnya novel bagus dalam beberapa hal. Sayang saja, banyak nilai dan perilaku di dalamnya yang tidak sesuai atau terasa janggal dengan konstruksi pikiran saya sebagai muslim, orang timur, dan orang yang tidak biasa dengan kontak fisik intim. 

Pada akhirnya, novel ini tidak memberi solusi bagaimana mendidik anak yang baik. Tapi baik menurut siapa? Dengan mendidik anak-anaknya sebagai diceritakan dalam novel ini, Anton mungkin sudah merasa sebagai orangtua yang baik. Mama mungkin tidak peduli (coba hitung berapa kali dia menempelkan ibu jari ke bibir sebagai tanda kuch kuch hota hai-nya)--apakah hanya karena dia merasa terlalu muda saat menikah lantas itu bisa jadi cukup alasan baginya untuk mengabaikan anak-anaknya? Saya ngeri membayangkan masa depan anak-anak dalam novel ini, haha... Meski demikian, adalah cinta yang menjadi dasar bagi mereka untuk bisa selalu bersama dan menerima orang-orang baru dalam kehidupan mereka. Wallahualam.

sumber gambar

Senin, 09 Mei 2011

Bahagia

Aku telah tinggal dalam rongga ini selama bertahun-tahun. Kamu senang sekali ketika aku lahir. Kamu memerhatikanku dengan intens sejak itu, mengawasiku tumbuh dan berkembang, mengasupiku dengan sari-sari kehidupan. Kamu perlakukan aku seakan aku adalah anakmu kelak.

Aku juga sayang padamu. Aku ingin selalu kamu perhatikan. Maka aku mengganggumu terus. Aku tidak peduli kamu sedang di kelas, di atas motor, mendengarkan orang mengobrol, atau malah menjelang molor.

Aku tidak suka kalau kamu mencekcoki rongga ini dengan apapun yang tidak ada kepentingannya denganku. Itu semua sampah! Tapi kadang hanya itu yang bisa kamu dapat dari dunia luar. Aku harus rela berdesakan dengan mereka. Aku senang kalau mereka akhirnya tersingkirkan juga. Rongga ini jadi terasa lega lagi dan aku kian leluasa bergerak. Seringkali aku bergerak terus, menendangi mereka yang hendak turut menjejali rongga ini. Enak saja.

Aku ini istimewa tahu. Aku lahir di rongga ini, asli sini, murni! Sementara mereka tidak mau tahu apa-apa tentang dirimu. Mereka hanyalah kiriman orang-orang yang tidak paham akan potensi sejati dirimu. Aku tidak rela mereka ada di sini, apalagi karena kehadiran mereka sama sekali tak berguna. Hanya menuh-menuhi tempat saja!

Tapi, ada sesuatu yang membuatku gelisah. Semakin banyak sampah yang kamu masukkan seiring dengan semakin berkembang pulanya diriku, rongga ini kian terasa sesak. Dan aku tidak mau gelisah sendirian. Maka aku membuatmu gelisah juga sepanjang waktu.

Sering kali juga aku merasa tidak berguna. Aku hanya membebanimu saja. Selama aku di rongga ini, kamu harus terus-menerus menghidupiku, berusaha menenangkanku yang sering bandel, berharap aku bisa diam barang beberapa waktu saja, namun aku tidak bisa ditebak. Aku suka meledak-ledak.

Aku ingin ke luar dari rongga ini!

Aku ingin berguna. Aku ingin menjadikanmu sesuatu yang istimewa. Sesuatu yang dipuji-puja. Sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Aku ingin melakukannya untukmu. Maka keluarkanlah aku! Aku tahu aku bisa. Selama ini kamu merawatku agar kelak aku bisa menjadi seperti itu bukan? Itulah tujuanmu memeliharaku dalam rongga ini bukan? Nah, sekarang aku kira sudah tiba saatnya bagiku untuk membantumu mewujudkan mimpimu itu...

Namun kamu malah mendesakku lagi ke dalam. Katamu, di luar sana berbahaya, Sayangku! Kamu bilang kalau aku belum cukup tangguh untuk dapat menghadapi dunia luar. Aku belum utuh. Belum sempurna. Masih banyak yang harus kamu lakukan untuk mempersiapkanku. Kamu takut mengeluarkan diriku. Lalu kapan kamu akan siap? Kamu bilang kamu tidak punya cukup waktu sekarang ini tapi nanti pasti ada! Kapan? Aku merajuk.

Aku ingat para penghuni lainnya di rongga ini. Ya, sama sepertiku. Mereka juga lahir di rongga ini. Dibesarkan olehmu. Diasupi. Disayangi. Hanya untuk sementara waktu... Laksana bibit yang disemai, kamu siram mereka, kamu berikan berbagai unsur hara, lalu mereka tumbuh lalu kamu tinggalkan mereka. Dan lamat-lamat mereka tersingkir ke sudut. Berhenti merekah. Menunggu untuk kamu jamah lagi sementara rongga ini terus menerus kedatangan penghuni baru. 

Aku tahu giliranku mungkin akan sampai... Ah, tapi aku tidak mau! Aku tahu aku bisa jadi sesuatu! Aku tidak mau didiamkan terus dalam rongga ini! Aku ingin tumbuh! Aku ingin hidup! Aku juga ingin menjelajahi rongga-rongga lainnya seperti yang kamu ceritakan itu! Biarkan aku melakukannya demi kamu!

Tapi... tapi... tapi...

Aku tak peduli. Aku rongrong kamu terus hingga kamu kelelahan. Hingga kamu tutup rongga ini dengan kelambu mimpi. Tapi kamu harus membukanya lagi esok pagi karena seperti itulah kehidupanmu harus berjalan. Dan aku akan ikut jalan bersamamu. Mendorongmu menilik kehidupan yang perlu kamu tahu untuk memenuhi kebutuhanku. Saat kamu suntuk, kamu bisa memanggilku untuk membuatmu tersenyum lagi.

Namun aku dan kamu sama-sama tahu, bahwa kita bosan hidup terus-menerus seperti ini.

Oh, berapa kali aku harus mendesakmu, hah? Keluarkan aku dan kita akan lihat bahwa kita bisa membuat perbedaan sekecil apapun itu. Oh, jangan lagi kamu kemukakan alasan-alasan itu! Mungkin hanya akibat kecemasan dan kejemuan yang melandamu saja--padahal kamu bisa melakukannya! Mewujudkan mimpimu itu bersamaku! Tapi bagaimana aku bisa melakukannya kalau aku sendiri tak berwujud?!

Maka aku terus berusaha ke luar dari rongga ini. Satu-satunya cara, yang lantas jadi ambisiku, adalah dengan menggerakkan tanganmu untuk melakukannya. Ya, hanya tanganmu yang bisa! Dan aku tahu harus minta bantuan siapa agar tanganmu sudi terangkat. Bentuknya gumpalan halus yang mendekam dalam dadamu. Ia bisa membesar dan mengecil tergantung situasi. Dan aku akan membuatnya jadi topan badai! Gemuruh yang menghentak-hentak! Hingga tak bisa kamu tahankan lagi, tak tertahankan, matamu terbuka, dan melalui tanganmulah aku mewujud... jadi kata-kata!

Kamu terpana. Sudah terlanjur aku mewujud meski tak sempurna. Kamu tak puas. Namun yang mengendalikan tanganmu adalah gejolak yang kuterbitkan. Tak bisa didiamkan. Kamu resah. Maka aku pun dijamahmu selalu. Tanganmu mengoyak-oyak wujud mentahku yang kamu anggap gagal. Kamu potong. Kamu giling. Kamu telan. Kamu kunyah. Kamu muntahkan kembali. Kamu lumat lagi. Namun aku terus berusaha untuk melesak ke luar. Itu wujudku... Itu wujudku... Aku hampir sampai kepadanya... Kamu tahan aku. Aku meronta-ronta. Kamu coba benamkan lagi. Aku berontak. Aku ingin ke luar. Aku ingin bertemu wujudku... meski... pun... aku...

...harus membuatmu sampai gila...

...meski... pun... aku....

...harus menculikmu dari dunia nyata....

Meskipun harus ganti aku yang memenjarakanmu!

Sayang, ini memang sebuah pengorbanan. Kamu kuras waktu, tenaga, pikiran, makanan, hingga kehidupan sosialmu, hanya demi aku.

Tapi, Sayang, percayalah, suatu saat aku akan berhenti menggerakkan tanganmu jua, ketika telah sampai wujudku yang--meski tak sempurna karena hanya Penciptamulah Yang Kuasa--indah kamu lihat dalam jiwa. Cacat di sana sini oleh ketaksempurnaanmu tak kentara karena keseluruhannya telah membikin batinmu bersukaria.

Maka kembang api digempitakan.Tak hanya ronggamu itu kini, namun hamparan putih yang seakan tiada batasnya pun dapat pula kuisi. AKU HIDUP! Dan aku tak sabar menanti rongga-rongga lainnya untuk kujelajahi pula! HIDUPKU AKAN SEMAKIN HIDUP!

Tapi, kamu bilang, mungkin masih jauh jalan yang harus kita tempuh hingga terwujud mimpi itu...

Tidak apa-apa, Sayang! Kamu bisa mempercantikku kapanpun kamu mau. Yang penting wujudku telah purna! Tidak hanya mata batinmu saja kini yang bisa menikmati keindahan diriku, tapi juga matamu yang bulat kecokelatan itu, dan sekian mata lainnya yang doyan melahap kekayaan pikir dan rasa dalam begini rupa.

Meski kamu tak berkata, aku sudah senang ketika dari gelora harumu saja sudah ternyata. Kamu bahagia. Aku bahagia. AKULAH KARYA!

Aku harap para penghuni lain dalam ronggamu yang sempit itu juga bisa lekas menyusulku.

Jumat, 06 Mei 2011

ANAK

tiap hari aku mengurusmu
mau tidak mau
karena kamu mendatangiku terus

tiap hari aku memendam emosi dan rasa
aku pantau terus perkembanganmu
aku berusaha berbuat sesuatu agar kamu bisa jadi yang terbaik.

seandainya aku bisa mengabaikanmu, itu pun dengan keyakinan bahwa suatu saat aku akan kembali padamu

namun rupanya kita belum bisa berpisah
segala jemu, segala jenuh, bagaimana bisa kutahankan sedang itu tidak ada?
aku tidak mengerti.

kamu adalah pemberian dari Tuhan.
patutnya aku syukuri. akan aku lakukan.

ah, sayang,
bagaimanapun kamu jadinya nanti,

...hahh...

aku belum bisa menemukan kata-kata yang pas untuk membuncahkan perasaan padamu ini di dadaku.

Rabu, 04 Mei 2011

lanturan pergantian bulan

pada penghujung bulan, aku ingat setahun lalu pada bulan yang sama aku melahirkan anak pertamaku. tahun ini aku ingin anak keempat. tapi aku harus mengerti bahwa kelahiran itu butuh banyak persiapan. maka aku baru bisa hamil terus. harus sabar. 

aku membuat sebuah puisi di kereta waktu kembali ke kota ini (jogja):

musikku malam ini deru kereta api
antarkanku menjelang sendiri lagi
tiada pula sunyi menggaruk udara
selimut tebal menimpa, dingin dihela

hangatnya orang-orang terkasih menjauh
esok-esok hari tersimpan dalam inbox saja
demi pencarianku akan keluasan hidup
inilah sumbernya derita pendera

saat itu 24 april 2011, malam. tapi ke manapun aku pergi, anakku akan selalu kubawa.

ada juga guratan-guratan lain.

290411:
rujak es krim, kenapa kamu tidak jualan?
padahal aku sudah siap dompet di tangan...
[di jalan menuju kos]

sampai baru-baru ini ia masih belum jualan. sedih.

300411:
ketika kulonprogo begitu panasnya kendati berhawa murni,
yang teringat hanya pulang ke bandung, kota sejuk nan berpolusi.
[di tepi lukisan hidup perbukitan menoreh]

lalu pada kemarin malam, aku merenungkan diriku sendiri yang bisa-bisa untuk selamanya tidak akan bisa dipahami, dipahamkan, bahkan oleh rasioku sendiri. seperti yang diungkapkan belle & sebastian dalam "family tree":

i've been feeling down
i've been looking round the town
for somebody just like me
...
i've been feeling blue
and i don't know what to do
...
because they never teach us
a thing i want to know
we do chemistry, biology, and maths
i want poetry and music and some laughs
and i don't think it's an awful lot to ask
...
cause i'm here in a cage
with a bottle of rage

lalu aku juga teringat seseorang dan menyadari bahwa aku membencinya setiap kali aku mengingatnya. aku tidak lagi merasakan apapun dari dia menganggapku apa. seandainya kami bisa berhenti. rasanya aku sudah tidak mau peduli apa-apa lagi. atau menuju gila. itu cukup untuk menyudahi apa saja.

aku tidak galau. jangan sebut kata itu. karena aku kembali berpegang: "aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan (masih seharusnya, meski konon sebaiknya tanda kematangan)." dan aku berusaha menjalankannya hari ini. anakku memanggil. tapi aku harus meninggalkannya sementara. "kalau aku tidak mengurus yang ini, bisa jadi kamu tidak bisa kuhidupi dengan baik, nak."

aku mengunduh "i'm coming home" dari birtles & goble dan the postman. aku ingin menangis membaca liriknya yang aku dapatkan dari sini.

mom, i'm coming home,
so take my picture off the wall,
i'm coming home, i've had enough of being alone.
 
dad, i'll see you soon,
don't keep me talking on the phone,
you're wasting time, i've gotta move, i'm going home.
 
since i've been away it gets harder every day,
i really have a lot to learn,
she loved me at the start, then she left and broke my heart,
to my home i will return.
 
now i will come to you,
back to the only friends i know,
you understand, your love is true, i'm coming home.


bukan sekedar pada diriku sendiri, tapi juga pada seseorang di sana. ah, anakku memanggil lagi. mama pasti pulang, nak.

melankolia adalah bakat yang tak mudah, bahkan enggan, untuk dipahami, dipahamkan, bahkan oleh rasioku sendiri. tapi...

010511:
sebelum kamu menjadi tua
ayo kerahkan segala daya!
kerja! kerja! kerja!
[lagu menuju sleman]

ya, aku sudah sering kali diberitahu. bosan, tahu. sampai aku tidak mau apa-apa lagi.

sudah ya.