Kamis, 19 Oktober 2023

Bahasa Indonesia, Bahasa Kita: Akan Diganti dengan Bahasa Inggris? -- Sekumpulan Pandangan dan Pendapat

Gambar di-screeshot
dari Ipusnas.
Edisi yang Diperbaharui
Penulis : Ajip Rosidi
Penerbit : PT. Dunia Pustaka Jaya, Bandung
Cetakan pertama, November 2001
Cetakan kelima, Desember 2015
Edisi elektronik, 2018
ISBN 978-979-419-545-1 (PDF), 978-979-419-368-6

Di dalam buku ini ada 17 tulisan yang hampir semuanya semula pernah diterbitkan di media cetak (surat kabar, majalah) atau merupakan makalah yang dipersiapkan penulisnya sebagai pembicara. Semuanya bertalian dengan bahasa, jelasnya bahasa daerah, bahasa nasional, dan bahasa asing yang dalam pemakaiannya sehari-hari oleh masyarakat di negara kita terdapat banyak problem. Dalam pengantar untuk edisi yang diperbaharui, sudah dipermaklumkan bahwa dalam tulisan-tulisan ini akan ada pengulangan-pengulangan karena dibuat dalam waktu berlainan untuk keperluan dan publik berlainan. Memang setelah membaca beberapa buku (almarhum) Pak Ajip, banyak ditemukan pengulangan. Tidak apa-apa, Pak, biar tercamkan dalam-dalam di sanubari.

Setelah membaca sebagian besar tulisan, saya menangkap benang merah atau garis besarnya adalah anjuran pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar sekalian kritik terhadap pencampuradukkannya dengan bahasa asing serta lunturnya kebanggaan penggunaan bahasa nasional dan terutama bahasa daerah. Persoalan ini kita alami sehari-sehari.

Dalam pengalaman saya sendiri, acap kali saya heran bila menemukan terbitan berbahasa Inggris yang padahal dibuat orang Indonesia untuk orang Indonesia. Terbitan tersebut misalnya konten Instagram, ada pula novel (biasanya yang pop) yang judulnya doang berbahasa Inggris tapi isinya umumnya berbahasa Indonesia--seakan-akan kalau judulnya berbahasa Indonesia tidak akan menarik pembaca. Di sisi lain, saya sendiri termasuk pelaku yang doyan mencampuradukkan berbagai bahasa baik dalam berbicara maupun menulis wkwkwk. Indonesia, Inggris, Sunda adalah komposisi bahasa saya sehari-hari. Saya duga ini problem bagi siapa saja yang sehari-harinya terpapar oleh lebih dari satu bahasa, sehingga timbul kekacauan dalam pikirannya dan ketika mesti mengeluarkan pendapat secara spontan maka terjadilah pencampuradukkan itu. Walau demikian, bagi Pak Ajip tampaknya itu tidak boleh jadi pembenaran. Dalam tulisan "Berbanggalah dengan Bahasa Indonesia", beliau mencontohkan sosok founding father Bung Hatta yang walaupun menguasai berbagai bahasa asing, tetapi dapat mengendalikan kemampuan itu menyesuaikan dengan tempat dan audiensnya; tahu kapan bisa sepenuhnya berbicara dalam bahasa Belanda, tahu kapan mesti sepenuhnya dalam bahasa Indonesia, tanpa mesti mencampuradukkannya. Pengendalian diri macam itulah yang beliau sarankan. Nasihatnya di halaman 129, "... jangan dibiasakan berpikir dalam bahasa asing kalau sedang berbicara dalam bahasa Idonesia, sehingga tidak memperhatikan aturan kalimat bahasa Indonesia."

Saya menduga Pak Ajip menghendaki prioritas penguasaan bahasa sebagai berikut:
  1. bahasa daerah,
  2. bahasa nasional (Indonesia),
  3. bahasa asing (di antaranya Inggris, yang paling mendominasi). 
Sedangkan di masyarakat kenyataannya berbolak-balik. Bahasa daerah ditinggalkan, bahasa nasional masih acak-acakan sudah keburu dicampuri bahasa asing. Buat saya sendiri, bahasa Indonesia yang pertama, bahasa Inggris kedua, sedang bahasa daerah bagai pengisi latar atau aksen saja (^^;)v Bukannya tidak ada kesadaran untuk mengapresiasi dan mendalami kedaerahan. Cuma, lagi-lagi, kenyataan menunjukkan bahwa penguasaan bahasa daerah tidaklah menjadi keharusan dalam pergaulan sehari-hari apalagi di kota besar tempat saya telah menghabiskan sebagian besar umur. 

Membaca buku ini memantik saya untuk merenungkan lagi pemakaian bahasa saya sendiri. Namun, betapapun penguasaan ketiga macam bahasa di atas tampak merupakan gagasan yang ideal, kenyataannya waktu mulai terasa sempit, tenaga makin terbatas, dan situasi sehari-hari yang sedang dialami pun tidak menjadikan hal tersebut sebagai tuntutan. Apalagi untuk bahasa daerah, sebagaimana yang sudah dimaklumi sendiri oleh Pak Ajip di halaman 46, "... penguasaan bahasa daerah dengan baik tidak mempunyai nilai sosial." Nah! Kecuali kalau kelak di Duolingo ada bahasa Sunda dan/atau bahasa Jawa, tentu dengan senang hati saya akan memainkannya mempelajarinya di sana 😂

Yang saya herankan, sepanjang buku ini, tidak sekali pun saya temukan Pak Ajip mengungkit bahasa Arab. Padahal bahasa Arab kiranya boleh dikatakan termasuk bahasa asing yang mulai menggeser kosakata bahasa nasional, sebagai contoh mas/mbak jadi akh/ukh, pria/wanita jadi ikhwan/akhwat, maaf jadi afwan, terima kasih jadi jazakumullah khairan katsira, berprasangka buruk jadi suuzan, menggunjing jadi gibah, dan masih banyak lagi. Memang sepertinya kosakata bahasa Arab itu baru mulai umum belakangan khususnya di komunitas tertentu, sementara tulisan-tulisan dalam buku ini dibuat sudah belasan tahun lalu bahkan lebih lama lagi sedang kini Pak Ajip sudah tiada. Saya pun jadi bertanya-tanya, seandainya masih hidup dan aktif menulis, bagaimanakah kira-kira sikap Pak Ajip terhadap fenomena ini. Saya pikir, sebagai muslim yang taat, mestilah beliau memaklumi bahwa penguasaan bahasa Arab boleh dianggap penting untuk menunjang ibadah. Namun di sisi lain, sebagaimana terhadap bahasa Inggris, beliau tampak tidak suka bila bahasa daerah/nasional makin terkikis oleh bahasa asing.

Gambar di-screenshot
dari Instagram.
Buku ini dibahas dalam Klub Buku Laswi (bertempat di belakang Toko Buku Bandung yang sekaligus di depan Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut 2, Bandung) pada Rabu, 18 Oktober 2023 kemarin. Di ujung pembahasan ini, Kang Wanggi Hoed memberikan tanggapan menarik yang mengingatkan saya pada ungkapan "bahasa menunjukkan budaya". Kang Wanggi menangkap kekhawatiran Pak Ajip akan fenomena beringgris-ria ini, yang di balik itu sesungguhnya ada suatu kepentingan. Simpelnya: dengan maraknya penginggrisan, tanpa disadari masyarakat pun mengalami pembaratan--jelasnya, mengadopsi nilai-nilai barat yang individualistis, materialistis, dan seterusnya, sehingga menyisihkan nilai-nilai kedaerahan yang mengutamakan gotong-royong, menghargai lingkungan hidup, dan seterusnya, sebagaimana bisa kita amati dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa tampak memberikan efek psikologis tertentu pada audiensnya, yang entah bagaimana mempersepsikan bahwa kalau dalam bahasa asing itu lebih menarik sedang dalam bahasa sendiri (nasional/daerah) itu inferior. Sayangnya, dampak budaya ini tidak dikupas lebih lanjut dalam tulisan-tulisan Pak Ajip di buku ini. Oke, kita harus melestarikan bahasa daerah, memperbaiki bahasa Indonesia, dan bijaksana dalam mempergunakan bahasa Inggris. Tapi, mengapa harus demikian? Mengapa itu penting? Apa dampaknya dari melakukan atau tidak melakukan? Bagaimana meyakinkan masyarakat akan dampak-dampak yang terluputkan itu? Bagaimana pemahaman itu dapat berguna dalam kehidupan sehari-hari yang mereka jalani? Dan, apakah dengan menuliskannya saja cukup? Siapakah yang mau membacanya belum lagi mengamalkannya dalam skala luas? Bukankah Pak Ajip pun sudah banyak menulis tentang hal ini tapi kenyataan makin jauh panggang dari api? Barangkali ini PR bagi penerus Pak Ajip untuk menjawabnya.

(Buku ini ada di Goodreads tapi cuma 1 edisi dan tanpa kover sebagaimana yang saya baca di Ipusnas. Maka saya mengulasnya di blog ini dengan menyertakan kover dari Ipusnas. Namun kopi yang saya baca di Ipusnas ini ada satu halaman yang tidak ada, yaitu halaman 89.)

Selasa, 10 Oktober 2023

Salah Kaprah Ladang Berpindah

Sebelumnya ini dibuat pada 26/06/23.


Menyambung pembacaan Cerita dari Tengah Rimba, bab ketiga buku ini yang berjudul "BERLADANG" menceritakan bagaimana penduduk di pedalaman Kalimantan membuka ladang dengan cara membakar hutan. Mereka berkeliling hutan untuk memilih lahan yang akan digarap. Setelah menemukan tempat pilihan (bisa didukung dengan adanya firasat), mereka membuat tanda (misalkan dengan sepotong bambu yang dibelah-belah atasnya sehingga berbentuk seperti bunga) sebagai pernyataan akan mengusahakan lahan tersebut. Tanda itu memberi tahu orang lain agar tidak menyerobot. Kemudian mereka mengadakan upacara kecil supaya tidak diganggu roh-roh halus yang dianggap menghuni tempat itu. Setelah upacara, mulailah menumbangkan pohon-pohon dan tetumbuhan lainnya di tanah itu. Hasil tebangan dibiarkan selama seminggu supaya mengering dan lebih mudah dibakar. Api dihidupkan pada keempat sudut lahan. 

Perladangan ini tentulah sangat vital bagi warga yang menggarapnya karena merupakan sumber penghidupan mereka. Tetumbuhan yang dibakar pun menjadi abu yang dapat menyuburkan tanaman. Namun, di sisi lain terdapat nada mengkritisi praktik tersebut.

"Mereka bertiga menyaksikan secara pelan-pelan kayu-kayu kecil yang mereka tebang habis menjadi abu. Tak ada satu lagi yang hidup di sana. Tanaman musnah apalagi binatang. Entah berapa banyak makhluk hidup baik binatang maupun tanaman yang mati karena pembakaran tersebut. Makin besar api yang mereka nyalakan makin besar pula kepunahan yang terjadi. Hal itu akan selalu terjadi bilamana seorang peladang membakar hutan untuk membuka ladangnya." (halaman 20)

"Akan tetapi tidak jarang terjadi seorang peladang yang membakar hutan, yang terbakar bukan hanya apa yang mereka tebang akan tetapi juga hutan-hutan lain di sekitarnya dan menimbulkan akibat yang sangat merugikan." (halaman 22)

"Kata orang berladang ini merusak hutan. Mungkin juga ada benarnya, walaupun masih belum seberapa bilamana dibandingkan dengan luasnya hutan yang ada. Akan tetapi bilamana jumlah para peladang semakin bertambah semakin besar pula kerusakan hutan yang akan timbul." (halaman 26)

Pernyataan sebagaimana yang dikutip di atas menimbulkan kesan negatif pada teknik perladangan berpindah yang selama ini dilakukan oleh warga sekitar hutan. Seakan-akan, jika ada kebakaran hutan, maka peladang lah yang mesti disalahkan. Bab ini menyinggung juga perusahaan-perusahaan yang diberi Hak Pengusahaan Hutan oleh negara sehingga boleh menebangi hutan. ("Tetapi terpikir juga olehnya kalau terus-terusan ditebang dengan cara besar-besaran bisa habis juga hutan kita." --halaman 19) Namun tidak ada keterangan yang mendetail sebagaimana praktik yang dilakukan oleh warga. Malah terkesan bahwa perusahaan pemegang HPH itu lebih dapat mempertanggungjawabkan tindakannya.

"'Ayah, apa tidak sayang kayu-kayu besar itu dibakar?' kata Arman. 'Kalau di seberang, di pabrik itu, kayu itu dibikin mereka papan dan macam-macam.' Tapi kata ayah, 'bagaimana kita mengerjakannya, mengangkatnya saja kita tidak kuat, alatnya tidak ada dan tempat ini jauh dari rumah kita.' Arman terdiam, kelihatannya ia masih belum puas karena ia merasa kayu itu cukup berharga dan dapat diolah tetapi menjadi terbuang karena dibakar begitu saja." (halaman 20) 

Berselang hampir setengah tahun sejak membaca buku itu, saya menemukan video dari saluran Vox di YouTube yang berjudul "How decades of stopping forest fires made them worse" (dirilis pada 22 September 2021). Video ini dibuka dengan menceritakan upaya Departemen Kehutanan Amerika Serikat (US Forest Service) menangani kebakaran hutan yang justru memberikan efek bumerang. Selama beberapa dekade, upaya mereka efektif. Kebakaran hutan tidak terjadi lagi. Namun sekarang kebakaran hutan kembali terjadi bahkan lebih parah. Rupanya hutan yang terjaga dari api selama beberapa dekade itu memperbanyak materi pembakaran ketika api kembali melalap. (Scientists are beginning to understand that decades of fire suppression has created dense forests that are ready to ignite in catastrophic ways. --0.58 - 1.03) Maka muncullah solusi yang sebetulnya sudah dijalankan penduduk asli selama berabad-abad yaitu sengaja membakar petak-petak di dalam hutan. (One proposed solution dates back hundreds of years: burning parts of our forests, on purpose. --1.07 - 1.11).

Maka, api itu tidak sepenuhnya buruk. Api justru termasuk energi yang mendukung pertumbuhan.

"For most of the globe and particularly the forests in the western US, they actually evolved with fire. Tree rings, soil samples, and charcoal records all show a history of fire--likely started by lightning strikes and other natural phenomena. And that history shows that fire isn't always a destructive force--but an important part of forest ecology. 

"Fire plays a really important role where it is essentially removing a lot of the older, less productive material from the landscape and is creating pockets in patches of different ages of vegetation. 

"That diversity of ages also produces a diversity of species. In many places, fires work as a 'reset button' for the forest. It clears out dead brush and older materials and makes space for new growth. For some species, fire is even vital for reproduction. For example, low burning fires dry out sequoia tree cones enough for them to open and drop seeds. At the same time, the fire clears the ground to expose fresh, nutrient rich soil which creates ideal conditions for seeds to germinate. But aside from the ecological benefits, fires also help a forest become more resistant to high severity burns later on. Low burning fires clear the forest floor and lower branches from trees. Then, if a more intense fire moves through the same area, it's slowed by a lack of fuel.

"So when you get those type of patches all over the place, it becomes difficult for fire to move through that landscape again any time soon. But decades of suppression have led to a build up of dry, dread materials in our forests--so we're long past that point of just letting all fires burn." (2.04 - 3.55)

Wkwkwk, saya jadi menyalin sebagian transkrip. Untuk lengkapnya, silakan tonton sendiri videonya.


Usai menonton video ini, saya membagikannya ke teman-teman yang pernah belajar ilmu kehutanan. Seorang teman yang pernah bekerja di Kalimantan (sekitar belasan tahun lalu) mengonfirmasikan bahwa ia pernah melihat sendiri karyawan di perusahaan tempatnya bekerja yang notabene petani membersihkan lahan dengan cara membakar yang didahului dengan upacara adat. Mereka membuka lahan secukupnya saja. Pembakaran tidak sampai merembet, hanya berlangsung di lahan mereka. Pengalamannya ini persis sebagaimana yang diceritakan di buku. Namun gara-gara tradisi ini memang masyarakat setempat dipersalahkan telah menyebabkan kebakaran hutan, padahal ada pihak lain yang membuka lahan dengan cara demikian juga malah dalam skala besar-besaran. Siapakah pihak tersebut? Boleh jadi mereka adalah penyuplai barang kebutuhan kita sehari-hari sehingga tanpa disadari kita pun secara tidak langsung berkontribusi :D



Posting ini saya perbarui setelah mendengar di menit-menit terakhir video berikut seorang profesor menyatakan bahwa daripada "pertanian berpindah" lebih baik menyuburkan lahan dengan pupuk organik buatan sendiri. Memang saya menyimak video ini terputus-putus dan sambil lalu saja 😅✌️ Cuma jadi timbul pertanyaan: apakah pertanian berpindah memang tidak layak dipertahankan akibat dari semakin terbatasnya lahan juga semakin meningkatnya penduduk dan industri?

Kamis, 05 Oktober 2023

Contoh The Gift Economy dalam Cerpen Anak

(Posting ini untuk penyimpanan sementara supaya mudah ditemukan, kapan-kapan mungkin dipindahkan ke blog lain.)


Tak Usah Kau Takut

Oleh Ny Widya Suwarna

Bobo No. 47/XXIX/02

 

Marta bergegas pulang ke rumahnya. Ia baru saja belajar bersama di rumah Sisi. “Apakah hari ini lemet buatan Mama laku terjual?” pikir Marta gelisah. Rumah Marta adalah sebuah penginapan kecil. Namun akhir-akhir ini jarang ada tamu menginap. Padahal penghasilan Mama berasal dari tamu-tamu itu. Ayah Marta sudah meninggal. Hari ini Mama baru akan mencoba menjual lemet atau ketimus. Makanan kecil ini terbuat dari singkong, diberi gula merah dan kelapa, dibungkus daun pisang dan kemudian dikukus.

Ketika Marta masuk ke rumah, tampak Mama dan Mbak Eni sedang duduk di kursi meja makan. Mama bertopang dagu, sementara Mbak Eni duduk membisu. Di atas nampan di meja masih ada tumpukan lemet.

“Halo, Ma, Marta sudah pulang. Lo, kok lemetnya masih banyak?” tanya Marta, lalu duduk di sisi Mama. Mbak Eni menghela napas.

“Tadi Mbak bawa 50 bungkus. Mbak sudah keliling kompleks, tapi hanya laku 25 buah. Masih ada 25 buah lagi. Banyak orang tak mampu beli kue. Mungkin mereka bikin sendiri!” kata Mbak Eni.

“Yaaa, baru jualan satu hari, kok hasilnya payah!” seru Marta kecewa.

Mama tersenyum dan berkata, “Sudah, tak usah kecewa. Kita mengucap syukur pada Tuhan karena sudah 25 buah lemet laku. Mbak Eni pergi ke warung saja dan beli beras 1 kg. Nanti kalau ada tukang sayur kita beli bayam dan jagung. Besok kita masak bubur!”

Kemudian Mama menyanyi pelan-pelan, “Tak usah kau takut, Tuhan menjagamu ….”

Marta ikut menyanyi. Ada perasaan hangat mengalir di hatinya. Tuhan selalu menolong kalau Marta, Mbak Eni, dan Mama menghadapi kesulitan.

Selesai menyanyi, Marta dan Mama saling berpandangan dan tersenyum. Mama bangkit dan mengambil lemet serta memisah-misahkannya di meja.

“Marta, tolong antarkan 5 buah pada Ibu Sakri. Dan 5 buah lagi untuk Tante Ina. Yang 5 buah terserah kamu mau berikan pada siapa. Yang 10 buah akan kita makan sendiri!” kata Mama. Marta pergi ke dapur, mengambil kantung-kantung plastik dan memasukkan lemet-lemet tadi.

Marta berjalan ke luar rumah sambil berpikir-pikir. Mula-mula lemet yang 5 buah akan diberikannya pada kawannya, Evi, yang tinggal di ujung jalan. Tapi, kemudian diurungkan niatnya. Belum tentu Evi suka singkong. Mungkin lebih baik ia berikan pada tukang-tukang ojek yang mangkal di ujung kompleks. Tapi ah, siapa tahu ada orang lain yang lebih cocok untuk menerima lemet itu.

Marta menyelesaikan tugasnya mengantar lemet pada Bu Sakri dan Tante Ina. Marta terharu ketika anak-anak Bu Sakri menyambutnya gembira. Mereka berseru, “Horeee, ada kueee!” lalu mereka segera memakan lemet bawaannya.

Tante Ina lain lagi. Ia berkata, “Wah, lagi krismon bagi-bagi kue! Ini bukan untuk dijual?”

“Maunya sih dijual, tapi cuma laku sebagian!” kata Marta. Kemudian Tante Ina memberikan 5 bungkus mi instant.

Ketika berjalan pulang Marta masih bingung. Lemet yang 5 buah itu mau diberikan pada siapa? Ah, akhirnya Marta ingat tukang tambal ban, Pak Amin. Ia pun belok ke kanan. Di bawah pohon besar di ujung jalan, di sanalah tempat Pak Amin mangkal.

“Hei, nona kecil, sini dulu!” tiba-tiba terdengar suara dari arah kanan. Oom Martin yang gemuk pendek melambai-lambaikan tangan. Marta masuk ke halaman rumah. Tiba-tiba saja hatinya tergerak untuk memberikan lemet itu pada Oom Martin.

“Ini untuk Oom!” katanya sambil memberikan bungkusan berisi lemet.

“Terima kasih, terima kasih. Kamu tahu saja Oom lagi lapar. Beta baru pulang memancing dan Tante belum pulang dari kantor!” kata Oom Martin.

“Duduklah dulu. Oom mau makan kue ini!” kata Oom Martin. Marta duduk di teras dan Oom Martin segera melahap lemetnya. Satu buah, dua buah, tiga buah … dan Marta berseru,

“Sisakan untuk Tante, Oom!”

Oom Martin tertawa terkekeh-kekeh. “Beta sedang lapar. Tuhan baik kirim nona kecil bawa lemet. Bilang sama mamamu, besok Oom pesan 20 lemet untuk Tante. He he he, biar dia tidak marah. Marta, tolong ambilkan Oom minum. Ambil sebotol air kulkas dan gelasnya!” kata Oom Martin dengan riang. Marta menurut. Dalam hati ia merasa geli. Oom Martin ini lucu.

Sesudah Oom Martin kenyang makan dan minum ia berkata, “Tadinya Oom panggil kamu mau suruh masak supermi. Tapi, sekarang Oom sudah kenyang. Terima kasih, ya. Tunggu sebentar, Oom mau ambil ikan untuk mamamu!”

Oom Martin masuk ke dalam. Kemudian ia keluar membawa seekor ikan tenggiri yang diikat dengan tali rafia.

“Terima kasih, Oom, Mama pasti senang!” kata Marta sambil menerima ikan itu. Marta lalu pamitan. Namun saat Marta berjalan keluar halaman. “Marta! Hei nona kecil … sini dulu!” panggil Oom Martin. Marta yang sudah di jalan kembali lagi. Ada apa, pikir Marta.

“Ini uang untuk bayar lemet 20 buah. Kirim besok siang, ya!” Oom Martin memberikan uang Rp 10.000.

“Kembalinya besok, ya Oom!” kata Marta.

“Ah, kembalinya untukmu sajalah. Oom tahu kamu anak Mama yang baik!” kata Oom Martin. Marta mengucapkan terima kasih.

Di jalan menuju rumah, tak putus-putus Marta bersyukur pada Tuhan. Siapa sangka ia bertemu Oom Martin yang baru pulang mancing ikan. Siapa sangka Oom Martin pesan lemet dan Tante Ina memberikan mi instant. Siapa sangka anak-anak Bu Sakri menyambut pemberian sederhana itu dengan riang. Sungguh Tuhan amat baik. Dalam hati Marta kembali menyanyi dengan riang,

“Tak usah kau takut, Tuhan menjagamu ….”




BONUS: BAHASA JAKSEL KID 2000-AN

(Dari majalah yang sama, sebelum sampai pada cerpen di atas, ada artikel menarik.)

Minggu, 01 Oktober 2023

Mengatasi Insecure dengan Points of You

Sabtu (30/9/2023) kemarin, saya menghadiri acara bertajuk "Stop Insecure Yuk Bersyukur" yang diselenggarakan di Nutrihub, Jalan Raden Patah 36 Bandung, oleh Forum Indonesia Muda dan Yayasan Cintai Diri Indonesia, dengan pematerinya Kadek Pramitha, M.Psi., seorang psikolog. Ada dua puluhan peserta yang hadir, umumnya anak muda: pelajar SMA, mahasiswa, juga yang sudah bekerja.

Memasuki ruang acara, di tengah sudah terhampar banyak kartu yang disusun membentuk lingkaran berlapis-lapis. Sebagian besar kartu bertulisan "POINTS OF YOU" di atasnya. Sebagian lagi di lapisan terluar berupa gambar dengan quote. Ada pula yang berupa lingkaran-lingkaran kecil, entah apa yang ada di baliknya. Dua yang belakangan ini tampak digunakan sebagai cadangan, ketika ada yang tidak kebagian kartu utama. 

Sebelum menggunakan kartu-kartu tersebut, selazimnya acara, pembukaan diisi dengan sambutan dari perwakilan tiap-tiap penyelenggara: Nutrihub, Forum Indonesia Muda, dan Yayasan Cintai Diri Indonesia.  


Tampil Mbak Mitha, yang rupanya sehari-hari bekerja di Jakarta. Beliau membuka materi dengan menerangkan tentang "insecurity", definisi dan gejalanya. Insecurity terkait dengan hierarki kebutuhan menurut Maslow. Tiap-tiap kebutuhan apabila belum terpenuhi dapat memunculkan rasa insecure. Bahkan kelaparan pun termasuk, yaitu insecure akibat tidak terpenuhinya kebutuhan pokok.

Gambar dari Simply Psychology.

Peserta diminta membuat definisi "insecure" menurut diri sendiri berikut daftar hal-hal yang menyebabkan perasaan demikian, kemudian beberapa diminta untuk membagikannya.

Definisi saya sendiri--yang secara spontan terpikirkan--adalah perasaan tidak aman dalam situasi tertentu, khususnya dalam relasi dengan orang lain; perasaan rendah diri. Sesaat saya menarik kesimpulan bahwa rasa insecure umumnya berkaitan dengan pencapaian duniawi yang tidak terpenuhi, terlebih kala terpicu oleh pencapaian orang lain sehingga otomatis membanding-bandingkan. Kalau dipikirkan lagi secara luas, misalnya dalam perspektif Maslow, tentu penyebab insecure bukan itu saja.

Sembari memikirkan daftar saya sendiri, yang cenderung abstrak alias tidak spesifik, terlintas lebih jauh: kenapa pula saya harus mencapai hal-hal itu? Ada apa di balik hal-hal itu? Kebutuhan untuk survival? Self-esteem? Bagaimana jika kenyataannya saya masih bisa survive tanpa perlu mencapai apa yang dilalui orang lain? Bagaimana jika self-esteem dapat saya peroleh dengan cara yang unik, alih-alih dengan cara yang sama seperti yang diraih orang lain? Saya duga mengajukan pertanyaan-pertanyaan lebih jauh seperti itu, why and how, dan berusaha menemukan jawabannya bisa meredam rasa insecure yang timbul. 

Dari daftar penyebab insecure itu, Mbak Mitha memberikan petunjuk untuk memilih satu yang mau diproses diiringi niat untuk tidak akan memaksakan.

Mbak Mitha.

Dilanjutkan dengan sesi "duduk hening" selama lima menit. Dalam sesi itu, kami diminta memejamkan mata. Ada suara yang mengiringi. Terus terang saya tidak begitu mengindahkan suara yang disetel, saya lebih berfokus pada kesempatan untuk merelakskan diri setelah bersepeda selama setengah jam lebih (mungkin mendekati satu jam) ke lokasi yang pagi itu begitu terik cerahnya. Mbak Mitha bilang, sesi ini bukanlah meditasi. Saya duga ini merupakan mindfulness practice. Saya sendiri lagi berusaha menerapkan ini di sela-sela aktivitas, rebahan dan do nothing walau seringnya malah mindlessly scrolling HP :p

Barulah dimulai sesi utama dengan kartu Points of You. Kartu ini mungkin mengingatkan pada tarot, sebagaimana diungkit sendiri oleh Mbak Mitha. Metodenya: kita mengambil kartu secara acak kemudian menginterpretasikan hasil yang diperoleh, mengaitkannya dengan persoalan yang sedang dialami. Namun, saya pikir, alih-alih untuk meramalkan nasib, Points of You merupakan alat bantu untuk memantik self-awareness dan berfokus pada satu permasalahan.

Lingkaran kartu sebelum dijamah peserta.

Kartu pertama yang diambil adalah yang berada di lapisan-lapisan dalam, bentuknya hampir kotak dan berbintik-bintik. Di balik kartu itu ada gambar disertai tulisan. Mbak Mitha menanyakan mana yang kami tangkap terlebih dahulu, gambar atau tulisan? Manapun, kami diminta mengembangkan narasi terkait persoalan diri dari situ.

Pada kartu yang saya ambil, yang pertama-tama tertangkap oleh penglihatan saya adalah gambar kepala kucing oren yang rupanya lagi berusaha minum dari keran yang mengucurkan sedikit air. Kucing oren itu tampak tak terurus, di mata dan hidungnya ada kotoran. Tulisan yang tertera di bawahnya adalah "Solutions" lengkap dengan terjemahannya, "Solusi". Seketika saya pikir mendapat kartu yang bagus, positif--optimistis. Seketika saya dapat mengaitkan diri. Saya suka jika bisa menjadi solusi. Saya orang yang banyak ide. Saya bahkan bisa mengaitkan diri dengan si kucing oren yang tak terurus itu, apalagi rumah saya sendiri literally rumah singgah bagi kucing-kucing buangan kurang perawatan. Seketika baris-baris puisi Chairil Anwar melintas di benak saya, "Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang," memerikan alur hidup saya yang memang "liar"(?). Mungkin pula dari segi akhlak masih rada barbar, ya persis si kucing oren dalam gambar. Yang tak kalah mengena adalah aliran air yang sedikit saja keluar dari keran itu. Si kucing sedang berusaha menyambung nyawa dengan air yang mengucur kecil. Lagi-lagi persis! Saya pun sedang belajar untuk mensyukuri yang sedikit, yang dapat saya peroleh dengan segenap keterbatasan saya. Dengan apapun itu yang telah tersedia di sekitar saya, saya mesti berusaha untuk menyambung hidup sampai ajal tiba. That dirty orange cat striving for a little water from the rusty tap is my new spirit animal

Ciluk ...
Merasa dapat kartu bagus, saya lirik kanan-kiri dan membaca kartu milik orang lain. Ada yang dapat "Guilt"/"Bersalah", ada juga yang "Self-pity"/Mengasihani diri sendiri. Ah, bagi saya mah itu sudah lewat. Saya sudah punya "Solusi"!

Setelah sesaat menginterpretasikan perolehan masing-masing, kami diminta mengambil kartu lain yang berada di lapisan setelah kartu yang pertama itu. Kartu yang ini berbentuk persegi panjang tanpa bintik-bintik. Setelah membalik kartu tersebut, saya menghadapi satu kata yang bikin saya tidak merasa begitu "bagus" lagi, yaitu "Penilaian". Ya, tentu saja. Setelah menemukan "Solusi" dan menjalankannya, kita akan berhadapan dengan "Penilaian". Apakah "Solusi" tersebut memang layak untuk dijalankan? Apakah "Solusi" tersebut benar-benar mengatasi permasalahan? Bagaimanakah "Penilaian" orang lain terhadap "Solusi" yang kita jalankan itu? Bagaimanakah "Penilaian" kita terhadap diri sendiri setelah beberapa lama menjalankan "Solusi" tersebut? Apakah ada perubahan? Atau sama saja? Akankah kita terus menjalankan "Solusi" itu setelah mendapat "Penilaian" dari mana-mana? Ini PR yang mesti dipikirkan dengan serius tentu saja, untuk memutuskan apakah hendak bertahan atau meninggalkan dan cari "Solusi" lain.

... baaa!!!
Kartu berikutnya berada di lapisan lebih luar lagi, bentuknya sama persegi panjang tetapi kembali berbintik-bintik. Kartu ini berisi pertanyaan. Saya mendapat: "Apa yang membuatku sempurna?" Seketika saya menjawab dalam hati: "Tentu saja tidak akan bisa mencapai kesempurnaan!" Hanya kalau berhubungan dengan orang lain saja, khususnya dalam berjual beli, kita dituntut untuk "sempurna". Produk atau layanan yang tidak sempurna akan bikin pembeli kecewa malah enggan membeli lagi. Namun di balik kesempurnaan yang dijualkan itu, apakah memang sempurna? Kita memiliki smartphone yang dibuat dengan sempurna, misalnya. Tidak ada cacat, semua fiturnya berfungsi baik, melancarkan segala kebutuhan digital kita, dan seterusnya. Namun, apakah masih sempurna setelah mengetahui bahwa untuk mengisi dayanya kita menggunakan listrik yang berasal dari batu bara yang untuk membuka tambangnya, pabriknya, dan segala-galanya, mesti dengan merusakkan kesempurnaan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Sempurna? So, to hell with "Penilaian?" Di sisi lain, ada baiknya juga untuk bersikap seperti laron yang mengejar bintang alih-alih menabrak lampu langsung mati. Sebagaimana pernyataan yang saya temukan dalam buku The ACT Workbook or Depression and Shame, "You can never reach or achieve a value; rather these are qualities that a person might strive for." Sebagaimana kata mutiara yang konon katanya dari Bung Karno, "Bermimpilah setinggi langit, kalau gagal setidaknya kau jatuh di antara bintang-bintang dan tersedot ke dalam supermassive black hole." Maksudnya, kesempurnaan tetap perlu untuk didefinisikan dan diupayakan sekalipun kita tahu tak akan mencapainya.

Dari urutan kartu yang saya dapatkan, saya menyimpulkan bahwa ini mengenai optimisme, hambatan, dan solusinya. Ya, bahkan "Solusi" pun masih perlu diatasi dengan solusi lain. Seperti yang nanti dikutipkan oleh Mbak Mitha di penghujung acara, "Belajarlah untuk menjadi sempurna dalam ketidaksempurnaan." Lengkapnya, "Belajarlah untuk siap dalam ketidaksiapan."

Setelah merenungkan makna dari kartu-kartu saya sendiri, saya lirik kanan-kiri lagi dan tentunya menyimak peserta-peserta lain yang membagikan interpretasi terhadap kartu-kartu mereka. Sebagai sampel, peserta lain mendapatkan kombinasi kartu berikut.

Guilt/Bersalah - Kegagalan - Apa yang membuat aku bergairah?

Self-pity/Mengasihani diri sendiri - Permulaan - Apa yang membuatku tertawa?

Calling/Panggilan - Terhenti - Apa yang aku hindari?

Now/Sekarang - Cinta - Di area mana aku pernah sukses?

Selain itu, ternyata ada yang mendapat kartu berisi sama misalnya "Kematian" dan "Cinta". Sebelumnya saya kira semua kartu tersebut isinya berbeda.

Apa yang menentukan kita mendapatkan kombinasi kartu tertentu, sedang orang lain memperoleh kombinasi lainnya? Kebetulan? Takdir? Atau kartu ini memang dirancang untuk memuat persoalan-persoalan pribadi yang pokok dan umum, sehingga mau mendapat kombinasi yang manapun, setiap orang pasti bisa mengaitkan diri dan mengembangkan narasi pribadinya? Melihat kombinasi kartu yang didapatkan orang lain, saya pikir saya bisa mengembangkan narasi pribadi juga dari situ. Ada yang tampaknya sebagai persoalan yang sudah berlalu, tapi jangan-jangan cuma terkubur saja oleh persoalan lain padahal belum benar-benar teratasi. Malah, kita bisa saja "memainkan" kartu ini setiap bulan, misalkan, untuk "mengundi" permasalahan mana yang akan jadi fokus kita selama sebulan ke depan. 

Karena kebetulan dalam kesempatan ini saya mendapatkan Solusi - Penilaian - Apa yang membuatku sempurna?, maka saya bisa berfokus pada hal itu untuk sementara waktu. Misalnya, saya pikir telah mendapatkan "Solusi" atas persoalan "insecurity" saya, yakni dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menemukan makna dari berbagai penyebab rasa itu; ditambah dengan melakukan pendalaman spiritual untuk menyadarkan diri akan apa yang sejatinya perlu dicapai dalam kehidupan ini. Mengingat mati jadi satu cara untuk tenang. Bukan berarti saya merasa percaya diri telah menyiapkan cukup bekal akhirat, melainkan lebih berupa kelegaan karena serasa dibantu mengerucutkan tujuan sehingga menyingkirkan sekian persoalan lain yang rupanya tidak begitu esensial.

Jadi saya pikir telah menemukannya, meski masih sering teralihkan. Saya hendak menjalani kehidupan dengan jawaban itu, tapi bagaimanakah saya akan menyikapi penilaian dari mana-mana yang akan menyambut dalam perjalanan ini? Penilaian yang munculnya bukan hanya dari orang lain, melainkan juga diri sendiri. Toh penilaian dari diri sendiri bisa saja tidak kalah sadis daripada orang lain. Mungkin penilaian-penilaian itu bukannya untuk ditolak sama sekali, mungkin ada baiknya dipertimbangkan dengan tenang. Manakah yang boleh ditolak dan yang perlu diterima? Saya perlu terus belajar untuk menjadi bijaksana, dapat membedakan mana yang dapat ditoleransi mana yang tidak dan sebatas apa menoleransinya.
The reason we struggle with insecurity is because we compare our behind-the-scenes with everyone else's highlight reel.
- Steven Furtick
Mbak Mitha menanggapi setiap peserta yang telah berbagi seperti memberikan konseling singkat, yaitu dengan mengajukan pertanyaan dan memberikan masukan. Di slide beliau menampilkan types of insecurity, 50 questions to know your deepest insecurities, serta cara-cara untuk coping atau penyelesaian konflik yang saya catat sebagai berikut:

1. Kenali alasan, kenapa dan bagaimana bisa terjadi (mengajukan pertanyaan-pertanyaan),
2. Efeknya pada diri (mengenali jenis-jenis emosi),
3. Ketahui berapa lama telah terjadi,
4. Apa yang perlu dikelola, bagaimana caranya?

Pada akhirnya, kita perlu menentukan tindakan dan melaksanakannya. Tindakan itu dirumuskan secara berkala: apa yang akan dilakukan dalam sehari ke depan, seminggu, sebulan? Contoh yang diberikan di antaranya afirmasi diri dan duduk hening. Cara-cara ini merupakan latihan mental agar tidak terpuruk ketika jatuh lagi. 

Kembali pada perumpamaan laron yang mengejar bintang dikombinasikan dengan masukan dari The ACT Workbook for Depression and Shame, setelah menentukan "bintang" (value) yang hendak dicapai, you need to set goals that are in line with them. Value berarti arah yang hendak dituju berdasarkan apa yang dianggap penting, cahaya pemandu untuk mencapai kebermaknaan. Meski begitu, value bersifat abstrak: hanya arahan, bukan instruksi mendetail untuk mencapainya. Detailnya ditetapkan berupa goal yang diiringi intention, yaitu cara untuk mewujudkan value jadi tindakan pada waktu dan tempat tertentu. 

Terima kasih untuk Nutrihub, Forum Indonesia Muda, Yayasan Cintai Diri Indonesia, Mbak Kadek Pramitha, dan terutama teman saya (dan temannya) yang telah memberikan kesempatan untuk mengikuti acara ini :)

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain