LAINNYA

Minggu, 25 Mei 2014

...mendapatkan identitas yang sama dengan kelompok penguasa.

... Sejumlah besar penduduk Suriah, Mesopotamia dan Persia baru masuk Islam pada abad kedua dan ketiga Hijriah. Terdapat jeda waktu yang lama antara penaklukan militer di negara itu dengan konversi agama penduduknya. Motif konversi mereka pun terutama didasari oleh kepentingan pribadi, yaitu untuk menghindari pajak dan mendapatkan identitas yang sama dengan kelompok penguasa. ...

Dari halaman 182 History of Arabs karya Philip K. Hitti (Penerjemah: R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi; Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, cetakan I, Juli 2013). Merasa mulai paham kenapa ada kekhawatiran apabila calon pemimpin berasal dari kalangan tertentu. Pemimpin itu sosok untuk diteladani, ditiru. Tapi orang bisa saja meniru lebih dari sekadar kualitas dalam kepribadian.

Sabtu, 24 Mei 2014

Kritis Selagi Membaca

Aku jarang menonton TV. Tahun-tahun belakangan ini satu-satunya acara TV nasional yang kutunggu hanya Sketsa di salah satu TV Trans, itupun kini tidak lagi. Aku juga jarang membaca koran. Lieur. Kebanyakan judul, topik. Mending baca buku; terfokus pada satu topik saja. Aku mengetahui isu-isu terkini hanya dari pembicaraan orang-orang, atau pengamatan di jalanan pada saat menaiki angkot. Seperti yang kulakukan baru-baru ini. Tadinya aku duduk di pojok angkot Margahayu-Ledeng, namun ketika mendengar wanita di samping sopir mengeluhkan kinerja walikota, hubungan rakyat dengan pemimpin yang bagai anak-anak mencontoh orangtuanya, aku menggeser posisiku hingga agak ke depan, berusaha menguping. Gara-gara ibu itu, aku yang tadinya hendak turun di Jalan Supratman mengurungkan niat dan malah berhenti di ujung jembatan layang Kiaracondong (sementara ibu itu sudah turun di ujung sebelumnya). Anyway, mungkin seperti katak dalam tempurung ya. Tapi aku tidak hendak mempersoalkan keuntungan/kerugian dari tidak mengikuti berita. Bagaimanapun entah kenapa aku berminat ketika ada kesempatan untuk menonton film Di Balik Frekuensi, yang menceritakan politik di balik TV berita. Lalu aku merasa tepat untuk mengiringi pengalaman menonton film tersebut dengan pembacaan buku Analisis Wacana dari Eriyanto (LKiS, Yogyakarta, cetakan IX, Juni 2011). Kupikir berhubungan. Kendati yang satu cenderung pada media cetak, sedang yang lain pada TV berita, namun keduanya sama-sama mempersoalkan apa yang ada di balik pemberitaan di media massa. Entahkah ideologi, kognisi wartawannya, dominansi pihak tertentu, atau kepentingan partai politik. Namun pembahasan yang memang nyaris di luar lingkup minatku membuatku tidak bisa menceritakan isi buku ini tanpa melakukan pembacaan ulang dengan cermat—yang belum terasa pentingnya untuk kulakukan. Bahkan catatan kakinya yang amat banyak dan panjang itu tidak kubaca, kendati aku berhasil menuntaskan pembahasan utamanya. Adapun buku ini kumiliki berkat rekomendasi dari kawanku yang berkuliah di jurusan Komunikasi. Baca bukunya Eriyanto, katanya, sebagai pengantar aja sih. Mungkin sekitar tahun 2012, aku membelinya berbarengan dengan buku Analisis Framing dari penulis yang sama di pameran buku di Landmark, Bandung. Pada waktu itu aku sedang mengerjakan skrispi yang membuatku berhubungan dengan banyak artikel baik dari koran maupun blog. Tentu saja kajiannya tidak sejauh itu, tidak sampai seperti yang dicontohkan dalam buku ini yaitu dengan menganalisis pilihan kata, susunan kalimat, dan sebagainya. Adapun Analisis Framing sudah kuselesaikan lebih dulu. Aku ingat membaca buku tersebut sembari menunggu giliran pembuatan e-KTP di pelataran kantor kecamatan di dekat rumah, namun catatan pembacaannya belum dapat kutemukan—kalau memang tidak ada. Bagaimanapun pembacaan buku semacam ini sedikitnya mewanti-wantiku agar tidak percaya begitu saja pada apa yang kubaca, melainkan sembari mengkritisi apapun yang mungkin ada di baliknya. Toh analisis wacana sebetulnya tidak hanya berlaku untuk berita di media cetak, melainkan pada semua teks termasuk sastra.

Jumat, 23 Mei 2014

Cerita yang Tak Kunjung Ditulis

Dari kapan aku ingin menulis novel—novel-novelan sih karena tidak akan diterbitkan—tentang seorang anak SMA ganteng yang stres kalau naik angkot. Dia lalu minta dibelikan sepeda oleh ibunya. Hobinya adalah bikin roti. Sebetulnya dia dulu ikut klub tinju, tapi sejak suatu insiden yang membikin wajahnya babak-belur dan giginya rompal, ibunya melarangnya untuk melanjutkan. Mungkin takut anaknya tidak ganteng lagi. Dia membawa ransel besar ke sekolah tapi tidak sebesar carrier yang biasa digendong para penjelajah alam. Selain buku-buku pelajaran dan buku tulis untuk setiap buku pelajaran dan alat tulis lengkap dan PDA (karena waktu itu masih tahun 2006) untuk mengatur agenda yang padat, dia mengisi ransel tersebut dengan bekal roti lapis buatannya sendiri dan botol minum 1L karena dia banyak beraktivitas dan dengan demikian banyak berkeringat. Kadang dia membawa tas sepatu kalau harinya ekskul sepak bola. Dia terlalu ganteng untuk membiarkan cinta-cintaan melemahkannya sehingga banyak cewek yang menangis putus asa karenanya. Singkat cerita: Dia baru naik ke kelas dua—atau sebelas. Karena posisi menentukan prestasi, dia memilih untuk duduk di samping seorang anak perempuan pemalu, tepat di depan meja guru. Mereka menjadi kawan baik dalam konteks tidak saling mengganggu selama jam pelajaran. Sesekali mereka mengobrol sewaktu jam istirahat. Dipikirnya teman sebangkunya itu sangat rajin, tekun, dan berkomitmen terhadap tugas-tugas sekolah. Dia senang sekali dengan orang yang seperti itu. Karena dia KM, dia punya wewenang untuk memercayakan jabatan penting di kelas pada anak perempuan itu. Karena sebagai siswa berprestasi dia juga sibuk di luar kelas maupun di luar sekolah, dia melimpahkan tugas yang cukup banyak. Namun ada hal yang tidak diketahui atau mungkin tidak disadari olehnya  mengenai anak perempuan itu. Anak perempuan yang pada mulanya menyanggupi tawarannya, namun kemudian melalaikan kepercayaan yang diberikan olehnya. Anak SMA ganteng yang berhati keras itu lalu menuntut pertanggungjawaban. Akan dikejarnya anak perempuan itu sampai dia mendapat penjelasan, akan ada yang marah-marah dan akan ada yang menangis, akan ada yang memaksa dan akan ada yang defensif, tapi tidak akan ada romansa sama sekali di antara mereka. Kalaupun ada romansa, kejadiannya bukan di antara mereka. Apa cerita tentang remaja mesti ada cinta-cintaannya? Bosen, keles. Mungkin karena konsepnya begini makanya tidak jadi-jadi ya. Hahaha. Kangen ih menulis novel sekadar untuk bersenang-senang. Novel nu kumaha aing we lah!

Selasa, 20 Mei 2014

Napak-tilas Basa Bandung Halimunan: Baca, Jalan, bari Diajar Nyunda!

Ide menarik kadang tercetus dari obrolan pada waktu senggang. Begitulah antara Kang Adew dan Nurul hingga muncul ide untuk menapaktilasi panineungan (:kenangan) H. Us Tiarsa R. dalam buku Basa Bandung Halimunan. Jadi membaca bukan sekadar membaca melainkan sembari mengalami langsung apa yang disuguhkan dalam bacaan. Datangi tempat-tempat yang dirujuk di dalam buku. Bandingkan apa yang tertulis di dalam buku dengan kenyataan yang kita lihat. Metode ini hampir serupa dengan yang dilakukan oleh Komunitas Aleut. Namun komunitas tersebut tidak secara spesifik menyebutnya sebagai “pembacaan”—atau istilah yang lazim kami pakai: “tadarusan”. Buku dipegang sebagai pendukung keterangan dari koordinator atau narasumber, dan jumlahnya bisa lebih dari satu. Adapun Kang Adew mengacu pada hanya satu buku yaitu Basa Bandung Halimunan. Buku ini merupakan kumpulan tulisan H. Us Tiarsa R. mengenai keadaan Bandung sebagaimana diamatinya pada tahun ’50-’60-an. Tulisan-tulisan tersebut pendek saja, sekitar dua-tiga halaman, dan sebelumnya dimuat di sebuah media berbahasa sunda. Adapun “basa Bandung halimunan” sendiri berarti “sewaktu Bandung berkabut”. Sekarang pun Bandung masih berkabut—oleh polusi.

Kang Adew ini pegiat di Asia-Africa Reading Club (AARC), Museum Konperensi Asia Afrika, yang punya program tadarusan buku tokoh-tokoh Asia-Afrika setiap Rabu, pukul 16.30 – 20.00 WIB. Saya pertama kali mengikuti acara ini sewaktu buku yang ditadaruskan adalah Di Bawah Bendera Revolusi karya bapak proklamator kita, Soekarno. Setelah buku tersebut tamat, tadarusan dilanjutkan dengan buku Nelson Mandela, dan kini, Mochammad Hatta. Saya bukan pengikut setia AARC kendati setiap pulang dari acaranya saya merasa mendapat semacam semangat untuk mulai berpikir besar, berpikir global. Biasanya tadarusan dilakukan di salah satu ruangan di Museum. Mereka melakukan napak tilas juga, sesekali. Nah, konsep itu pula yang hendak diterapkan pada Basa Bandung Halimunan, namun kali ini napak tilas sudah pasti dilakukan karena isi buku tersebut memang menyerupai panduan perjalanan (ke masa lalu) dengan deskripsi tempat dan sebagainya—alih-alih pemikiran sebagaimana dalam tadarusan rutin AARC—dan tentunya semangat yang diusung berbeda yakni semangat untuk lebih mengenal kota yang kami tinggali sekalian belajar bahasa sunda—karena dalam bahasa tersebut buku itu ditulis. Konsep “tadarusan” berarti teks dalam buku itu dibacakan keras-keras oleh seseorang atau bergantian, lalu yang mengerti bahasa sunda akan mengartikan kata-kata tertentu sehingga yang tidak begitu mengerti bahasa tersebut (seperti saya) dapat memahami apa yang diceritakan. Harapannya, pembacaan napak-tilas ini dapat memantik teman-teman yang mengikutinya untuk menuangkan warna-warni kehidupan kota, realitasnya, menjadi sebentuk karya—karya apapun—seperti yang dicontohkan oleh para penyair, sastrawan

Potret iseng sewaktu Ukeba (pojok kiri)
tampil di IFI dalam rangka Record Shop
Festival (atau semacam itu), Sabtu, 19/4/14

Ide ini tadinya hendak mulai dilaksanakan pada 19/4/14, di sekitar Jalan Wastukencana—sebagaimana yang dirujuk dalam tulisan pertama buku tersebut. Namun karena pada waktu itu Kang Adew ternyata ada jadwal manggung di Institut Fran├žais Indonesia aka IFI bersama Komunitas Ukulele Bandung alias Ukeba, maka alih-alih melakukan pembacaan sambil jalan-jalan, kami malah menjadi groupies-nya Kang Adew, eh, Ukeba. Namun sebelum penampilan grupnya, Kang Adew menyempatkan diri untuk memberikan pengantar dan, sesudahnya, melakukan pembacaan bersama tulisan yang tadinya hendak dinapaktilasi itu. Ganjil memang rasanya, mengulas bacaan berbahasa sunda di teritorial Prancis....

Dua minggu kemudian pembacaan napak-tilas benar-benar dilaksanakan sebagaimana diinginkan. Mereka mulai dari tulisan berjudul “Setatsion”—Stasiun. Kumpul pada pukul 13, blusukan, sampai kira-kira pukul 16. Mereka sempat mampir ke UNISBA untuk mencari jejak kuburan Belanda alias kerkop—sundana mah. Sayang pada waktu itu saya tidak bisa ikut.

Dua minggu berikutnya, Sabtu, 18/5/14, akhirnya kesempatan itu datang pada saya. Kami berkumpul di Stasiun Bandung sebelah utara pada pukul 13 Waktu Indonesia Karet. Tulisan yang hendak dinapaktilasi berjudul “Numpak Kapal”, bisa diartikan menjadi “Menaiki Pesawat” karena “Kapal” yang dimaksud adalah “kapal terbang”—sebab keberadaan “kapal laut” di daerah yang tidak punya pantai seperti Bandung itu tidak lazim. Kami pun mencari tempat-tempat yang dirujuk dalam tulisan tersebut, di antaranya Jalan H. Iskat dan susukan Ciguriang.

Kami menduga Jalan H. Iskat terletak di seberang stasiun, namun karena ada banyak jalan di sana dan kami tidak pasti yang mana, kami asal saja memasuki salah satunya, lalu menanyakan pada orang yang lewat di mana lokasi itu persisnya. Seorang ibu-ibu berbaik hati menuntun kami menemukan jalan tersebut, sekalian beliau sendiri menuju rumahnya yang terletak di jalan lain. Kang Adew mengaku kami mencari jalan tersebut untuk menemui saudaranya.

Jalan H. Iskat kini telah menjadi pemukiman. Ada satu hotel yang terselip di antara rumah-rumah. Kami duduk di depan pagar salah satu rumah yang tampak asri. Pembacaan pun dimulai. Sembari mengartikan teks tersebut, Kang Adew menambahkan situasi yang melatarinya.

Pada tahun 1946, masa agresi pertama Belanda, warga Bandung memilih untuk membakar kotanya, tidak seperti warga Surabaya yang melawan agar tidak dijajah kembali. Pemuda Bandung pun dikatai pemuda peuyeum oleh pemuda Surabaya. Peuyeum kan lembek. Bagaimanapun,  strategi itu dipilih karena warga Bandung kekurangan senjata. Nah, kawasan stasiun alias Kebonkawung itu termasuk yang dibakar. Pada tahun 1949, penulis Basa Bandung Halimunan menengok kawasan tersebut dan mendapati bahwa Jalan H. Iskat yang dulunya bernama Gang Litsonlan itu masih berupa kebun yang luas. Bangkai kapal (ingat, yang terbang) dan mobil patihsolengkrah—berserakan, tertutup oleh alimusa, lameta, eurih—semak belukar. Pada permukaan tubuh kendaraan tersebut terdapat lubang-lubang bekas peluru. Agaknya kapal merupakan sisa perang, namun mobil yang ditemukan umumnya mobil sedan seperti Fiat, Buick, dan sebagainya. Anak-anak setempat menjadikannya mainan. Mereka mengaku-ngaku kendaraan-kendaraan itu seolah milik mereka. Yang mobil diakui sebagai milik perorangan, sedangkan yang kapal dipakai ramai-ramai. Ada yang berpura-pura menjadi pilot. Ada yang berpura-pura menjatuhkan bom. Ada yang berpura-pura menembakkan senjata. Bermain serdadu-serdaduan. Masing-masing menirukan bunyi entahkah pesawat, bom, atau senjata, sampai tutup telinga segala seolah kebisingan itu sungguh-sungguh terjadi. Boleh jadi imajinasi mereka memang tinggi. Bisa pula karena mereka mengalami sendiri bagaimana huru-hara perang. Kadang mereka bertemu sinyo yang bisa berbahasa sunda dan mengajak bermain, namun mereka malah malu-malu. Lagipula orangtua mereka menakut-nakuti kalau Belanda itu jahat, suka membunuh, dan sebagainya. Serakan bangkai tersebut kini jelaslah sudah dibersihkan, entah dibawa ke mana…

Jalan H. Iskat sekarang, tampak dari sebelah utara.
Dulunya kebun penuh bangkai kendaraan.

Kalapa cina, salah satu tumbuhan yang
menaungi balong
Nah, masih dalam kawasan tersebut terdapat susukan Ciguriang. Kang Adew menanyakan tempat tersebut kepada warga setempat yang lewat, mengaku sedang mengadakan penelitian. Dalam buku disebutkan bahwa dahulu para warga sok ngajengjehe alias jongkok sorrow di sekitar situ, tahulah sedang apa… Atap bangunan yang diduga berada dalam kompleks GOR Pajajaran sudah terlihat. Kami memasuki jalan kecil beberapa jauh di belakangnya, dan menemukan tempat yang secara menakjubkan kok masih ada di tengah perkotaan macam Bandung ini: balong!—yang diteduhi oleh pepohonan rindang di sekelilingnya, dan di seberangnya terdapat tanah kosong. Menurut buku, tempat semacam itu dihuni banyak ular. Jadi, hati-hati kalau bermain di sana!

Omong-omong soal ngajengjehe, kata ini hanya satu dari berbagai varian “jongkok” dalam bahasa sunda. Istilah lain yang dikenalkan dalam obrolan adalah cineten dan cingogo, dan mungkin ada lagi. Sayang, masing-masing tidak diperagakan dengan jelas. Selama ini saya hanya tahu cingogo, dan posisi jongkok—bagaimanapun variasinya—biasanya diasosiasikan dengan buang air. Selain “jongkok”, terdapat pula variasi untuk “jatuh”, seperti tikusruk, tisoledad, dan sebagainya, yang dalam bahasa Indonesia pun variasinya sebenarnya cukup banyak: “terjungkal”, “terjengkang”, “tersungkur”, “terjerembap”, dan lain-lain. Sungguhpun begitu agaknya bahasa daerah masih jauh lebih kaya, seperti dalam bahasa sunda. Variasi lain dalam bahasa sunda yang saya ketahui adalah untuk kata “liur”, bisa disebut dahdir, jigong, acay, hokcay. Saya pernah punya teman mengumpulkan kata-kata “jorok” dalam bahasa sunda, sebagaimana yang saya sudah sebut tadi, ditambah dengan kata-kata lain seperti leho (ingus), cileuh (belek), dan saya lupa apa lagi, dan mendengar kata-kata tersebut diucapkan saja sudah membuatnya tertawa-tawa seperti kuntilanak karena terasa lucu di telinganya.

Balong yang diduga sisa susukan Ciguriang

Mencegat warga setempat untuk mendapatkan keterangan

Ayam-ayam mengaso di sofa rongsok

Memeragakan posisi ngajengheng

Anyway, pembacaan dilanjutkan di tribune GOR Pajajaran. Kebetulan tulisan berikutnya, yang berjudul “Mandor Atma”, secara khusus bercerita mengenai tempat tersebut. Entahkah para pengunjung lainnya yang membersamai kami pada hari yang mulai redup itu tahu kalau mereka tengah menduduki bekas kerkop alias pekuburan… Biarpun begitu, pada masa lalu kerkop telah menjadi ruang publik tempat warga menghabiskan waktu senggang. Anak-anak bermain, mengambili pecahan marmer untuk dijadikan kelereng atau apa. Ada yang piknik. Ada yang pacaran, mungkin seperti dalam lagu lawas yang dinyanyikan oleh Rien Djamain, “Menanti di Bawah Pohon Kemboja”. Ada juga yang membaca, mungkin patut dicoba oleh pencinta buku. Pada tahun ’60-an, pekuburan itu dijadikan GOR. Sebagian penghuni dibawa pulang kampung oleh keturunannya, sebagian lagi dipindahkan ke Makam Pandu. Adapun Mandor Atma adalah nama kuncen penghuni bedeng di pekuburan tersebut. Pekerjaannya mengusiri orang-orang jahil.

Salah satu sisi GOR Pajajaran. Dulunya pekuburan.
Gedung di seberang adalah gedung KONI Jabar.

Kini kami termasuk orang-orang yang menghabiskan waktu senggang di pekuburan, walau bentuknya sudah berupa GOR. Mereka yang memiliki banyak waktu senggang terkesan menganggur, dan sedihnya itu menjadi stigma. Padahal, Kang Adew bilang, ide-ide besar ada kalanya lahir dari sekumpulan orang yang gemar duduk santai di warung kopi alih-alih dalam situasi formal. Nangkring produktif, istilahnya mungkin begitu. Salah satu upayanya adalah dengan melakukan pembacaan napak-tilas ini, mudah-mudahan. Nah, siapa mau ikut dalam kesempatan selanjutnya? Cung!

Senin, 19 Mei 2014

Katarsis dalam Sebungkus Seblak Pedas

Keluar dari parkiran ITB, aku melihat sepasang pria dan wanita bergandengan tangan. Lalu entah kenapa aku merasa perlu untuk membeli sebungkus seblak pedas di Toko Istek Salman. Sebetulnya aku sudah mengidamkannya sejak Kamis lalu, namun aku menahannya dan kali ini perasaan itu muncul lagi dengan kuatnya. Jika suatu saat aku punya pabrik seblak, akan kunamai merek dagangnya dengan: SeblaKatarsis. Pada kawan yang kutemui kemudian kuungkapkan bagaimana aku menemukan katarsis dalam sebungkus seblak pedas, bagaimana emosi di dalam diri dapat terbakar oleh panas di mulut dan pada akhirnya tersalurkan dalam suatu bentuk. (Dan dia sepakat! Makanya dia suka makan yang pedas.) Bukan berupa karya sastra sih, maupun bentuk karya seni lainnya. Tapi yang penting keluar kan walau bentuknya cair dan setelahnya kau harus minum Diapet untuk memadatkannya kembali.


Karena seblak itu baik digunakan hanya sampai sebelum September 2014, maka kuajak kawanku itu untuk sama-sama bersegera menghabiskannya. Bisi keburu September 2014!

Minggu, 18 Mei 2014

Apapun yang Kau Lakukan, yang Penting di Baliknya Ada Keyakinan yang Kau Perjuangkan

Jumat, 16/5/14, aku diajak ke Kebun Seni, tepatnya Warung Narasi, yang letaknya di pelataran parkir Kebun Binatang, Bandung. Di daerah berbahasa sunda, penjaja tahu keliling menyebut dagangannya “tarahuuu…”, kalau nasi berarti “narasiii…” Tapi Warung Narasi tidak menyajikan nasi, melainkan “ide”.

Ruangannya kira-kira seluas kamar tidur. Dindingnya dicat pink. Karpet tebal mengalasi. Meja besar berdiri di tengah. Permukaan kayu meja senada dengan rak buku yang lebar dan tinggi menutupi salah satu sisi dinding. Pada sisi lainnya melekat whiteboard yang lebar, yang juga berfungsi sebagai layar untuk memantulkan sinar dari proyektor. Lebar di sini berarti panjangnya mulai dari ujung satu ke ujung lain dinding. Pada sisi lainnya lagi terdapat akuarium yang dihuni oleh banyak siput kecil. Di atasnya terdapat bingkai-bingkai berisi potongan artikel dan kover buku. Dispenser di pojok ruangan.

Aku bertanya pada kawan-kawan jalanku mengenai Warung Narasi namun rupanya mereka pun tidak banyak mengetahui selain bahwa komunitas tersebut diasuh oleh Acep Iwan Saidi—selanjutnya akan kusebut Pak Acep—dan mengadakan pelatihan menulis dengan kuota terbatas. Pada kesempatan tersebut mereka bermaksud memulai diskusi dwimingguan.

Acara yang katanya dimulai pada pukul 15 itu hampir dibatalkan, ketika kami datang. Lalu datang beberapa anak muda lainnya. Kiranya sekitar pukul 16.30 diskusi pun dilangsungkan. Sebetulnya lebih tepat disebut kuliah sih. Pak Acep yang dosen itu mengenali salah satu kawan jalanku sebagai mahasiswinya di Jatinangor.

Topik yang disampaikan adalah Ideologi Puisi. Namun agaknya “puisi” di sini bisa digeneralisasi menjadi karya seni apapun, karena sesungguhnya aku tidak berminat dengan perpuisian, lagipun Pak Acep kadang tidak hanya menyebut “penyair” dan Chairil Anwar, tapi juga “seniman”, “pengarang”, Pramoedya Ananta Toer…

Mengikuti kuliah yang mengacak-acak isi kepala ini, aku menyadari kalau pikiranku itu praktis. Sembari mendengarkan aku mencari-cari apa yang bisa kuterapkan. Sedangkan beliau bicara soal “ide”—istilah-istilah yang bagiku abstrak seperti “ideologi”—sesuatu yang diidealkan, “kesadaran palsu”, keyakinan yang bertentangan dengan logika, “hegemoni”—“hegemoni aparatus”, “eksplorasi bentuk”, dan sebagainya. Memang ada sedikit yang agak bisa kumengerti, dan kucatat dengan kata-kataku sendiri.

Ketika seseorang melihat dirinya, dia melihat dunia, dan ketika dia melihat dunia, dia melihat dirinya. Dengan mendefinisikan dirinya, dia membedakan dirinya dari sekitarnya.

Ada perkataan beliau yang sesuai dengan pikiranku belakangan ini, yang sebetulnya sudah pernah kudapati bertahun-tahun lalu dalam buku Harmonium Budi Darma.

Seseorang tidak sekadar menulis, membaca, atau bekerja, melainkan dia memiliki keyakinan tertentu sehingga dia menulis, membaca, atau bekerja. Para pengarang besar memiliki kegelisahan yang terus-menerus digelutinya.

Yang menjadi perenunganku belakangan ini adalah bahwa agaknya aku tidak memiliki “keyakinan” sebagaimana dimaksud, sehingga aku ragu untuk meneruskan mimpi menjadi pengarang, atau menjadi apapun selain pengarang. Menulis yang menulis, bukan menulis yang asal-asalan seperti dalam catatan harian dan blog ini. Barangkali aku sudah lupa kenapa pada satu waktu aku merasa jalanku adalah menjadi pengarang, atau apapun selain pengarang. Tapi pada waktu itu memang ada yang ingin kusampaikan. Protesku sebagai remaja yang baru mengenal individualisme. Paham yang menganggap bahwa kebutuhan setiap anak tidak bisa disamaratakan. Maka lahirlah draf-draf yang butut itu. Tapi kemudian aku menyadari agaknya individualisme baru bisa diterapkan dalam lingkungan yang mapan, adapun lingkunganku masih gelagapan. Dan makin kemari aku makin merasa dituntut untuk conform. Segala yang kupahami itu salah. Kosongkan diri. Keyakinan itu pergi. Tidak ada yang pasti.

Poin penting yang kutangkap adalah bahwa seseorang harus memiliki keyakinan untuk diperjuangkan, serta bagaimana ia memindahkan luka realitas menjadi luka dirinya dan bagaimana agar kegelisahannya menjadi kegelisahan realitas. Bagaimana menghubungkan antara ideologi dalam benaknya dengan realitas di sekitarnya. Kenyataannya, para seniman berjarak dari realitas sosialnya. Tapi “realitas” yang dimaksud di sini apa? Kukira seorang seniman pun hidup dalam realitasnya sendiri, realitas yang menyebabkan dirinya mesti berkompromi. Mesti membuat sajak atau cerpen yang K*MP*S-oriented kalau ingin diakui sebagai pengarang berkualitas, misal. Dan, memangnya kenapa kalau berkompromi?

Selama berhadapan dengan Pak Acep, aku merasa samar dengan apa yang disampaikan. Tapi sesudahnya, dalam perjalanan menuju masjid Salman untuk menumpang salat bersama kengkawan, meletup banyak pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang kalaupun aku berkesempatan untuk bertemu dengan beliau lagi barangkali aku tetap segan mengajukannya. Pertanyaan-pertanyaan yang kupikir sebaiknya kupendam sendiri; sebagai pupuk untuk menumbuhkan kembali keyakinan akan sesuatu yang aku belum tahu...

Keyakinan yang mungkin akan menyebabkan pertentangan terus-menerus dengan orang-orang lainnya.



NB. Salah satu kawan jalan saya agaknya lebih mengerti, silakan baca laporannya di sini.

Sabtu, 17 Mei 2014

Paris Ternyata...

            …
Dan gadis itu tak pernah mengerti daya tarik apa yang menyebabkan orang-orang di dunia toh ingin ke Paris…
            …
Wanita tua pemilik penginapan tampak sedang menggaruki pantatnya seraya meludah ke got di samping. Dua ekor tikus hitam besar berlarian berebutan gumpalan dahak yang mengambang di permukaan air parit.
Keesokan harinya Marc berhasil meyakinkan si “gadis Asia” untuk berdampingan menyusuri sungai Seine yang cokelat dan jorok.
         

Cerpen Leila S. Chudori, “Paris, Juni 1988” (MATRA, Mei 1989)—yang cuplikannya kutaruh di atas itu—menguatkanku untuk segera membaca Paris: Sejarah yang Tersembunyi. Pertama kali dicetak pada Februari 2014 oleh PT Pustaka Alvabet, Jakarta, pertama kali aku melihat buku itu terpajang di salah satu stan dalam pameran buku di Landmark, Bandung, akhir Februari-awal Maret lalu. Penulisnya, Andrew Hussey, muncul di serial Filthy Cities episode 2 yang belum lama ini ditayangkan di BBC Knowledge. Ia mendampingi host serial tersebut, (masganteng) Dan Snow, menyusuri Sungai Seine, dan menceritakan betapa buruknya hawa di sepanjang aliran. Segala limbah dibuang ke sana, termasuk bangkai manusia. Semakin kita berjalan, semakin kita merasakan perubahan pada tubuh kita akibat udara yang beracun. Di dalam bukunya, ia menceritakan jauh lebih banyak mengenai kejorokan yang menyelimuti kota tersebut selama berabad-abad. Orang membuang feses lewat jendela ke jalanan sehingga pepatah “sedia payung sebelum kejatuhan tahi” sangat penting untuk dicamkan pada masa itu. Bahan makanan sulit diperoleh. Produsen roti digantung karena menimbun tepung. Mayat-mayat bergelimpangan dan menjadi sumber pangan alternatif kala wabah kelaparan melanda.

Sejarah yang diceritakan dalam buku ini dimulai dari zaman bangsa Galia, yaitu pemukim asli yang menentang pendudukan Roma dan pemimpinnya, Julius Caesar. Referensiku mengenai ini hanya film Asterix-Obelix (benar enggak ya penulisannya?) live action yang diputar di TV—itupun ada bagian yang disensor. Lalu orang-orang Frank datang. (Kukira orang Frank ini identik dengan orang Franka yang acap disebut dalam buku-buku mengenai Perang Salib.) Terjadi perkawinan antarras.

Singkat cerita: Muncul monarki yang amat berjarak dengan rakyat jelata. Segala barang dan segala usaha masyarakat diberi pajak yang besar. Lalu dengan uang pajak tersebut para penguasa yang tidak tahu malu dan tanpa tenggang-rasa itu bersenang-senang.

Singkat cerita: Abad pertengahan berlalu dan muncul sastrawan bernama Victor Hugo. Maka aku menyela pembacaan dengan menonton film yang diangkat dari karyanya, Les Miserables, yang pemutarannya tersendat-sendat karena kapasitasnya terlalu besar untuk laptopku. Kukira dalam film tersebut aku akan menemukan gambaran yang jauh lebih hidup akan betapa kumuhnya Prancis pada masa itu, ketimbang yang disajikan dalam buku—yang hanya lewat kata-kata dan selebihnya kita harus menghidupkannya sendiri dengan imajinasi yang kadang pas-pasan. Aku kurang sreg dengan bagaimana hampir seluruh dialog dalam film itu disampaikan dengan bernyanyi. Agak mirip Sweeney Todd, kukira; ada Helena Bonham Carter dan Sacha Baron yang memainkan peran sinting—seperti biasa, anak perempuan yang hilang, pemuda yang diam-diam mencari perhatian, dan anak kecil yang tahu segalanya. Karakterisasi dalam cerita ini kubagi menjadi: tokoh protagonis dan para pendukungnya yang secara umum baik, kusebut tokoh putih; tokoh abu-abu, yaitu tokoh yang membuat pemirsa bertanya-tanya sepanjang cerita apakah dia akan mendukung protagonis atau sebaliknya, dalam film ini ialah Javert yang motifnya sebetulnya sekadar melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan sebetulnya, lagi, antagonis ya; dan tokoh hitam, yaitu tokoh yang sedari awal hingga akhir usil melulu seperti pasangan suami-istri yang diperankan oleh Sacha Baron dan Helena Bonham Carter itu. Sebelumnya aku mengarang karakterisasi ini ketika pembacaan novel The Columbus Affair dan menyangka ini telah menjadi semacam aturan dalam menulis karya fiksi yang lazim. Tapi harusnya ini tulisan tentang Paris, buku Andrew Hussey, dan hal-hal terkait itu, bukan? #salahfokus

Topik lainnya dalam buku ini yang cukup menarik bagiku adalah mengenai perkembangan kesusasteraan, terutama sejak abad ke-18. Aku tahu sangat sedikit tentang para penulis Prancis: Honore Balzac (penulis yang jam kerjanya sangat intens); Marcel Proust (penulis yang melapisi ruang kerjanya dengan gabus); Albert Camus (pencetus aliran absurdisme yang pernah dibahas di Kamisan FLP Bandung), dan; Colette (kuketahui dari artikel di internet tentang para penulis wanita eksentrik). Aku jadi agak tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang kesusasteraan Prancis, termasuk karya yang aman untuk dikonsumsi anak-anak seperti kisah tentang Pangeran Kecil. Cerita yang sangat indah, menurutku, yang tidak biasanya menyukai cerita sebagai sekadar sebuah cerita. Melankolia dalam cerita itu sangat-sangat-sangat menyentuhku… untuk ikut-ikutan melankolis.

Lainnya ada tentang orang-orang Amerika yang hijrah ke Paris hingga dapat dianggap membentuk koloni sendiri. Di antara mereka adalah penulis dan pemain jaz. Jaz sangat disukai di Paris. Dalam buku ini ada beberapa kali disebutkan nama penulis yang pindah ke Paris untuk, katakanlah, mencari ilham, dan tidak mesti orang Amerika. Paris telah menjadi pusat kebudayaan dan lahirnya beragam aliran seni. Perkembangannya sangat meriah. Bahkan ketika Jerman memasuki kota tersebut dalam rangka Perang Dunia, kegiatan kebudayaan tetap berjalan.

Setelahnya ada revolusi. Warga Paris tampaknya senang dengan revolusi—mengingat apa yang terjadi dengan monarki pada penghujung Abad Pertengahan. Lahir generasi muda yang tidak suka bekerja dan tidak berminat dengan uang, paternalistik. Mereka tampak kurang mandiri dibandingkan anak-anak muda dari kota-kota besar lain di dunia seperti London dan New York. Nah, ketika cerita tentang Paris sudah memasuki masa yang relatif kontemporer, dalam kepalaku mengiang-ngiang film The Dreamers. Film ini memang disebut, akhirnya!, sebagai gambaran mengenai generasi muda dari kalangan menengah borjuis dalam menghadapi revolusi dan kebebasan seksual. Interaksi antara mahasiswa AS dan sepasang kembar cewek-cowok, dan bagaimana mereka mengamati satu sama lain dengan pandangan yang agaknya mencerminkan karakteristik negara masing-masing. Saranku sih, tidak perlu mencari apalagi menonton film itu kalau tidak berkenan dengan adegan telanjang. (Tapi dia ganteng, salah satu di antara si kembar itu, yang cowok.)

Buku ini enak dibaca, mungkin karena hasil terjemahannya memang apik. Memang butuh waktu yang relatif lama untuk dapat menamatkan lima ratusan halaman, tapi hampir-hampir tak terasa. Selain itu tiap bagian dibagi menjadi bab-bab yang dibagi lagi ke dalam subbab-subbab yang relatif pendek, sehingga pembacaan tidak begitu melelahkan karena ada cukup banyak jeda untuk beristirahat sejenak. Namun agaknya tetap dibutuhkan referensi mengenai per-Prancis-an sebelum pembacaan. Entah sejarahnya, budayanya. Setidaknya mengetahui bagaimana cara mengucapkan kata-kata dalam bahasa tersebut, yang banyak sekali bertebaran dalam buku ini. Walau gambarannya akan keadaan kota dari masa ke masa cukup hidup, namun peristiwa-peristiwa tersebut disampaikan sepintas-sepintas saja. Untuk mengetahui lebih banyak tentang Marie Antoinette atau Louis Philippe misalnya, kita perlu mencari referensi lain. Maka setidaknya cukuplah buku ini sebagai pengenalan terhadap sejarah sebuah tempat, Paris sebagai kota—pada khususnya, dan Prancis sebagai negara—pada umumnya.

Membaca Paris: Sejarah yang Tersembunyi agaknya seperti membaca Semerbak Bunga di Bandung Raya—sama-sama sejarah sebuah kota. Hanya sayangnya aku tidak bisa menapaktilasi dan membandingkan keduanya secara langsung. Yang satu baru bisa kususuri lewat bacaan. Memang di dalam bukunya Andrew Hussey juga memberikan panduan singkat bagi yang ingin menelusuri Paris. Yang menarik adalah karena kedua kota ini memiliki kaitan—setidaknya dalam ranah lokal. Bandung acap disebut-sebut sebagai Paris van Java sejak masa kolonial. Kini julukan tersebut terasa makin bikin miris. Agaknya pemirip-miripan tersebut bukan semata dalam hal keindahannya, entahkah sebagai pusat mode, berseminya bunga-bunga (dalam arti harfiah), dan gadis-gadis cantik berkeliaran, tapi juga dalam hal kejorokannya. Setidaknya selama menjadi warga kota ini aku telah terbiasa dengan sampah yang bertebaran di mana-mana… di mana lagi ada kejadian satu kampung tewas karena tertimpa oleh gunung sampah? Mungkin juga dalam hal prostitusi. Kehidupan seks di Paris sebagaimana diceritakan oleh Andrew Hussey dalam bukunya ini barangkali persis dengan apa yang digambarkan oleh Moamar Emka dalam Jakarta Undercover—walau tidak sespesifik yang satunya. Bandung juga dikenal sebagai pusat prostitusi pada masa kolonial. Noni-noni indo hasil hubungan gelap tuan tanah dengan wanita pribumi nyaba ke kota untuk menjajakan kenikmatan badani. Pernah dengar dari omong-omong di Komunitas Aleut, rumah sakit kelamin pertama di Asia—atau Asia Tenggara?—didirikan di Bandung. Maka kita tidak sepatutnya bangga ketika kota kita disama-samakan dengan kota dari negeri lain. Selain karena sikap tersebut mengesankan adanya inferioritas—seperti pengarang yang kurang percaya diri kalau di sampul bukunya tidak tertera endorsement yang membandingkan karyanya itu dengan buku lain yang terkenal dan best seller—atau malah krisis identitas, ternyata Paris tidak seindah itu kok. 

Jumat, 16 Mei 2014

Catatan Kamisan FLP Bandung, 15/5/14

Materi kali ini adalah penjelasan mengenai kritik sastra. Pematerinya sama dengan dua minggu lalu, yaitu Kang Opik. Beliau bisa dibilang dedengkotnya FLP Bandung, paling sering diminta berbicara dalam forum, dan karena beliau juga dosen maka aku serasa mendapat kuliah gratis. Selanjutnya aku akan menyebutnya Kang O saja.

Kang O bilang kritik sastra itu hal yang tidak ada manfaatnya secara ekonomi. Zaman sekarang produk-produk yang dihasilkan semakin bersifat instan, termasuk produk kebudayaan macam karya fiksi. Orang dapat langsung menikmati suatu karya tanpa harus melengkapinya dengan pembacaan kritik. Itulah dampak kapitalisme. Apa-apa dituntut untuk serba cepat, serba ringkas, serba instan… Sepertinya aku perlu menelusuri lebih lanjut mengenai kapitalisme ini. Sedari SMA aku membaca tulisan yang menuding-nuding kapitalisme dan menganggapnya momok, tanpa benar-benar memahaminya. Dan kapitalisme mestinya berhubungan dengan karya seseorang bernama Karl Marx, Das Kapital, karena sama-sama mengandung kata “kapital”. Tapi itu kejauhan. Bukannya tadi aku sedang mencatat apa yang kudapat dari Kamisan minggu ini?

Padahal, lanjut Kang O, produk kebudayaan seperti karya sastra yang berkualitas merupakan nutrisi bagi jiwa. Kerumitan dalam karya sastra apabila digali dapatlah memberikan hal-hal yang bernilai. Karya sastra menyodorkan contoh permasalahan yang mungkin saja kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Adapun peranan kritik sastra adalah: bagi penulis, dapat memberitahu cara menulis karya yang berkualitas, sedangkan; bagi pembaca, dapat membantu menggali nilai-nilai yang ada di dalam suatu karya.

Adalah Aristoteles yang mula-mula mencetuskan kritik terhadap karya seni. Ia juga yang merumuskan alur dalam karya sastra atau bisa disebut juga “struktur dramatik”, yang secara berurutan terdiri dari: perkenalan, konflik, klimaks, resolusi, konklusi… semacam itulah. Kalau boleh kubilang: Pengembangan emosi (dalam cerita) yang menyerupai pegunungan. Aristoteles juga mengkritik Plato yang mengemukakan bahwa karya seni itu hanyalah tiruan dari kenyataan yang adalah tiruan dari ide, oleh karena itu tukang lebih mulia daripada penyair. Bagaimanapun juga, Plato hidup dalam dunia ide tapi itu soal lain.

Kritik sastra secara umum bisa digolongkan menjadi empat: mimetik, karya sebagai tiruan kenyataan; ekspresif, karya dikaitkan dengan kehidupan pengarangnya; objektif, karya dilihat berdasarkan unsur instrinsiknya belaka, dan; pragmatik, bagaimana respons pembaca terhadap karya. Sebetulnya jenis-jenis kritik ini bisa dikembangkan lagi sehingga kita kenal adanya istilah “sosiologi sastra”, “psikologi sastra”, “kritik feminis”, dan sebagainya. Salah satu buku yang berisi penjelasan mengenai jenis-jenis kritik ini adalah karangan Rachmat Djoko Pradopo, seorang dosen UGM. Aku pernah mencatatnya di Word tapi terhapus baru-baru ini bersama seluruh tulisanku sejak SMA. (Tidak usah berbelasungkawa. Terima kasih.)

Ada satu pendapat yang mengatakan bahwa karya yang layak dikritik hanyalah karya adiluhung. Karya adiluhung terus dikritik, terus dibaca. Setiap pembacaan menghasilkan interpretasi baru. Sebutlah karya para pengarang Rusia seperti Dostoyevsky, Tolstoy, dan sebagainya. Dari negeri kita: Chairil Anwar, Siti Nurbaya, dan seterusnya. Karena kupikir karya adiluhung umumnya dibuat pada zaman baheula, (wajar apabila selalu dibaca karena sudah dipakemkan dalam pelajaran bahasa Indonesia,) maka kutanyakan nasib karya kontemporer. Kata Kang O, itu hanya satu pendapat. Yang jelas, ciri khas karya adiluhung adalah bersifat transindividual, maksudnya, ketika membacanya, kita merasa karya tersebut mewakili diri setiap manusia, atau mungkin bisa dibilang juga: universal.

Bagaimanapun juga, kita membutuhkan kengerian—tragedi—sebagaimana disampaikan dalam karya sastra, atau istilahnya, katarsis, untuk menyalurkan insting kebinatangan kita. Jangan-jangan pelaku kriminal adalah orang yang tidak mengapresiasi produk budaya yang berkualitas sehingga insting kebinatangannya tidak tersalurkan. Begitu menurut Kang O.

Kini nilai karya sastra tidaklah ditentukan oleh kritikus melainkan oleh pasar—pembaca awam. Jadinya bagi penerbit mempublikasikan karya sastra itu seperti CSR saja. Adapun keuntungan diperoleh dari penjualan buku jenis-jenis lainnya. Kualitas karya yang tidak banyak dibaca—diterbitkan sendiri malahan—boleh jadi lebih bagus ketimbang yang diterbitkan besar-besaran dan dibaca banyak orang. Dalam situasi yang menjadikan kualitas karya sastra kabur ini, apa yang sebaiknya kita—sebagai individu dan komunitas—lakukan? tanyaku. Terpikir dalam benakku kalau kita perlu mengenalkan karya-karya sastra yang berkualitas pada pembaca awam. Tapi, heh, aku sendiri pembaca awam. Seperti apa karya sastra yang berkualitas masih menjadi pertanyaan buatku. Maka kata Kang O, yang penting adalah komitmen. Terus belajar, lalu membaginya kepada orang lain entahkah melalui diskusi atau kampanye atau apapunlah. Pada dasarnya, kita sendirilah yang membutuhkan bacaan yang berkualitas untuk menjadikan diri kita manusia yang lebih baik.

Saat jeda forum aku membahas beberapa hal dengan kawan di sebelahku, termasuk soal manfaat dari “bacaan yang berkualitas” itu. Tidak praktis, memang, tidak langsung, aku teringat komentar senada dari salah seorang pengarang AS yang diwawancarai untuk buku Novel Voices. Dia bilang kalau saja para politikus membaca karyanya, dia mungkin akan langsung diangkat ke surga begitu meninggal. Teringat juga pada teenlit-teenlit dan buku-buku yang mengecam pendidikan milik Mama (yang padahal guru), yang kubaca semasa SMA, mungkin merekalah yang secara tidak langsung meracuni pikiranku hingga aku membawa diriku pada keadaan ini. Komitmen, kata Kang O. Aku lebih merasa diriku seperti Pangeran Kecil yang merawat setangkai mawar hingga merasakan keterikatan, sulit untuk melepaskan diri dari bunga tersebut, biarpun si mawar begitu angkuhnya.

Hal lain yang terungkit adalah: Jika mengonsumsi produk kebudayaan yang berkualitas itu penting, kenapa forum yang membicarakan tentangnya seperti forum kami ini seringkali sepi dan didatangi oleh orang yang itu-itu saja?

Sabtu, 10 Mei 2014

Pembacaan Cerpen Seno Gumira Ajidarma—“Clara”

Dari Kamisan FLP Bandung (8/5/14), aku mendapatkan cerpen Seno Gumira Ajidarma, “Clara”. Dicetak tanpa spasi sehingga panjangnya tiga halaman HVS saja (kalau mau hemat kertas mah dicetak bolak-balik sekalian atuh, Neng…), agaknya itu juga yang memengaruhi pembacaanku sehingga cenderung mengebut, yang akibatnya aku merasa hanyut. Faktor lainnya kukira karena cerita dituturkan dalam bahasa yang lugas sehingga langsung mengena. Uwah pokoknya. Maklumlah, pengarang yang satu ini juga jurnalis sehingga bisa mendapatkan banyak pengalaman oke untuk dituangkan menjadi karya kreatif. Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara—begitu yang acap kubaca berkenaan dengan pengarang tersebut. Sudah banyak yang mengagumi sang pengarang, dan aku memekik tanpa sengaja ketika kenalanku bilang bahwa dia diajar oleh beliau di perkuliahannya.


Tercatat ditulis pada 26 Juni 1998 di Jakarta, cerpen ini berlatar peristiwa Mei 1998 (tepat enambelas tahun lalu!) ketika penjarahan dan pemerkosaan terjadi di mana-mana terutama pada orang-orang keturunan Tionghoa. Menurutku, intinya bukanlah soal siapa yang baik dan siapa yang buruk melainkan bagaimana kita memahami kedua sisi yang berseberangan dalam tragedi tersebut. Dua sisi itu menuturkan situasi dalam perspektif masing-masing secara bergantian. Satu sisi menjadi pembuka, muncul lagi di tengah-tengah, dan menjadi penutup, sedangkan sisi yang lain mengisi di sela-selanya.

Sisi pertama yaitu sisi pribumi yang diwakili seseorang berseragam. Pekerjaannya adalah membuat laporan dan seringkali harus memanipulasi kenyataan dalam menjalankan tugasnya itu. Ia tidak kunjung kaya biarpun sudah memeras dan menerima sogokan dari sana-sini. Batinnya: Aku memang punya sentimen kepada orang-orang kaya—apalagi kalau dia Cina.

Sisi lainnya yaitu sisi keturunan Tionghoa yang dibawakan oleh Clara. Ia mengurus perusahaan keluarga yang nyaris bangkrut. Sewaktu terjadi kerusuhan, Clara ingin menengok keluarganya di rumah kendati ia sudah diperingatkan oleh mereka agar jangan pulang. Sekelompok orang menghentikannya di jalan tol, mencabik-cabik pakaiannya, dan memerkosanya sampai pingsan. Ia ditolong oleh perempuan tua yang membawanya pada petugas berseragam.

Dua sisi bertemu. Petugas berseragam harus mengesampingkan hati nuraninya, dan tidak dapat menahan hasrat yang lebih dari kebinatangan kala melihat Clara hanya diselubungi oleh selembar kain pemberian perempuan tua.

Pada 1998, di antara kami semua mungkin belum ada yang usianya mencapai belasan tahun. Adapun yang kuingat tentang waktu itu hanyalah Cindy Cenora menyanyikan, “Aku cinta rupiah!” Krisis moneter—kecemburuan sosial—frustasi massal—kerusuhan—penjarahan dan pemerkosaan—kami mencoba menghubung-hubungkannya untuk memahami latar cerita ini. Siti—moderator Kamisan—memahamkan pada kami soal sentimen pribumi pada Cina dengan cerita dari bapaknya yang pernah bekerja pada orang Cina. Majikannya itu hanya mementingkan keuntungan sendiri dan memperlakukan para pekerjanya secara kurang layak—sebagaimana yang ditunjukkan oleh sikap Papa Clara dalam cerpen ini. Ketika perusahaannya nyaris bangkrut, ia ingin mem-PHK para buruh. Namun kita tidak bisa menggeneralisasi semua Cina. Cerpen ini menunjukkan bahwa Clara adalah Cina yang berbeda dari stigma. Saya ngotot untuk tidak mem-PHK para buruh. Selain kasihan, itu juga hanya akan menimbulkan kerusuhan. Begitu penuturannya—ia tahu. Tapi ia memakai BMW saat hendak pulang untuk menengok keluarganya—merek yang ironisnya justru memperjelas kesenjangan antara kaum kaya—yang kebetulan Cina—dan kaum susah—yang umumnya pribumi (walau novel Supernova: Petir—Dewi Lestari— menunjukkan ada juga Cina kere).

Obrolan sempat dirembetkan oleh Siti ke isu sentimen pada Cina yang terangkat lagi pada masa kini, khususnya dalam bidang politik. Aku juga hendak merembet: Semasa KKN, selama berminggu-minggu aku tidur di kamar yang sama dengan seorang keturunan Tionghoa. Dia sering menelepon dalam bahasa Tio Ciu (sementara Clara dalam “Clara” maupun Elektra dalam Petir mengaku tidak memahami bahasa China), dan sesekali menceritakan tentang keluarganya padaku. Walau semasa SD aku pernah mengikuti les aritmetika di lingkungan yang didominasi oleh keturunan Tionghoa, namun agaknya baru semasa KKN itulah interaksi yang cukup mendalam dengan salah satu dari mereka terjadi. Semasa KKN itu pula aku berteman cukup dekat dengan seseorang yang walaupun bukan keturunan Tionghoa tapi menganut agama yang berbeda denganku, dan dengan dia pun aku berbagi banyak cerita. Interaksi dengan orang-orang dari kalangan yang berbeda itu sejujurnya terasa biasa saja bagiku, walaupun di sisi lain aku menyadari bahwa pengalaman tersebut sebenarnya membukakan wawasan baru. Maksudku, aku memandang mereka lebih sebagai individu alih-alih golongan yang mereka wakili. Aku tidak begitu memikirkan bahwa mereka Cina atau nonmuslim, aku lebih tertarik pada pengalaman apapun yang mereka bagi padaku yang dengan demikian meluaskan pengetahuanku dan mendekatkan hubunganku dengan mereka. Maka aku—sebagai bagian dari ras/suku dan agama yang menjadi mayoritas di negeri yang kutinggali—agak tercenung ketika mendapati adanya keresahan apabila yang terpilih untuk menjalankan pemerintahan adalah orang dari golongan minoritas tertentu. Aku tidak begitu memahami mengapa atribut yang melekat pada seseorang menjadi begitu penting ketimbang bagaimana dirinya sebagai individu.


Sedikit di luar konteks tapi masih dalam Kamisan

Tema Kamisan bulan ini adalah isu sastra, khususnya kritik sastra. Pengantar mengenai apa itu dan macam-macam kritik sastra telah disampaikan pada Kamisan minggu lalu—aku tidak menghadirinya. Sebagai orang awam aku lebih suka menggunakan kata “apresiasi” ketimbang “kritik”. Terkesan bagiku “kritik” hanya mungkin dilakukan oleh orang yang benar-benar memahami kesusastraan, sedangkan “apresiasi” bisa dilakukan oleh siapa saja termasuk yang awam sekalipun. Kritik cenderung pada perkataan yang nyelekit (biarpun sebetulnya tidak mesti begitu) sedangkan apresiasi bisa berupa apa saja. Menurut, lagi-lagi, Siti, apresiasi bisa dibagi menjadi beberapa tingkatan. Tingkatan terendah adalah ketika kita membaca karya seseorang karena kita mengenal orang tersebut. Tingkatan berikutnya adalah ketika kita membaca seluruh karya dari pengarang tertentu. Tingkatan selanjutnya dia tidak hafal. Yang pasti, tingkatan tertinggi dalam apresiasi adalah ketika karya tersebut menggugah kita untuk berkarya juga. Tanyaku: Termasuk kalau karya itu jelek banget sehingga jadinya kita geregetan pingin bikin yang lebih bagus dari itu? Ya…! Karena jelaslah kritik/apresiasi yang paling nyelekit adalah ketika kita sudah berbagi karya kita pada orang lain dan… tidak ada tanggapan. Adapun tanyaku yang satu ini terpendam saja: Bagaimana dengan karya yang saking bagus sampai-sampai bikin kita minder dan merasa tidak ada gunanya lagi berkarya?  

Jumat, 09 Mei 2014

1
Sewaktu sedang dilaksanakan salat berjamaah di masjid, terdengar tangisan anak kecil.

"Bu, tolong anaknya di-silent dulu."


8-5-14




2
Membaca buku semacam Mendalami P4, UUD 1945 dan GBHN tampaknya akan seperti membaca catatan harian. Di catatan harian aku menulis banyak hal yang ingin kulakukan tapi nantinya tidak kukerjakan.



3
Ma, ayo kita belanja buku, lalu kita sumbangkan buku-buku yang ternyata kita sudah punya di rumah.



4
Sumber daya alam menipis. Gunakan air dengan sebijak mungkin. Mandilah paling sering dua hari sekali sebab mandi dua kali sehari itu pemborosan. Tingkatkan toleransi pada keberagaman bau badan.



5
Aku bekerja sangat keras, baru tidur ketika lelah. Tapi aku gampang merasa lelah, jadi sebagian besar waktu kuhabiskan untuk tidur.

Kamis, 08 Mei 2014

Siapa Mampu Bersimpati

Semalam aku menceritakan perkenalanku dengan R. E. M., dan teringat akan lagu yang dibawakan oleh vokalis grup tersebut, Michael Stipe, di penghujung film Happiness (1998). Setelahnya aku membaca tulisan terbaru dari beberapa blog yang kuikuti. Salah satunya ditulis oleh seorang calon psikolog anak—mahasiswi pascasarjana UI, sebenarnya. Dia mengungkapkan situasi emosional yang dialaminya tiap kali mendengarkan secara langsung cerita dari pasien-pasiennya, yang di antaranya adalah anak yang menjadi—dan juga orangtua daripada—korban pelecehan seksual. Kita tahu belum lama ini berita tentang pelecehan seksual pada anak sedang marak, lagi. Lagi-lagi aku teringat akan Happiness, tepatnya pada wanita penulis dalam film tersebut. Dia penulis puisi yang dikagumi sampai-sampai membikinnya lelah, dia juga disibukkan oleh acara penandatanganan bukunya. Beberapa puisi dalam bukunya, Pornographic Childhood, dijuduli “RAPE AT ELEVEN”, “RAPE AT TWELVE”. Satu ketika dia merasakan ketidakpuasan atas karyanya itu yang menurutnya dangkal dan tidak berbobot. Apa yang ditulisnya kepalsuan belaka. Just another sordid exploitationist—begitu dia menganggap dirinya. Kalau saja dia pernah diperkosa sewaktu masih menjadi anak-anak, maka yang ditulisnya akan autentik. Di sisi lain, ada seorang psikolog yang secara diam-diam memerkosa teman-teman anak lelakinya. Kali pertama, dia membubuhkan obat tidur pada makanan teman anaknya yang sedang menginap. Kali kedua, dia mendatangi teman anaknya—teman yang berbeda—yang sedang tinggal sendirian di rumah karena kedua orangtuanya berlibur ke Eropa. Perbuatannya itu terlacak oleh polisi karena dia ternyata meninggalkan semacam virus pada bocah-bocah yang menjadi korbannya sehingga mereka sakit—selain karena dia keceplosan sewaktu kali pertama diwawancara. Lantas kupikir ini waktunya untuk menonton ulang Happiness.

Sumber gambar dan sekalian baca ulasannya di sini

Setelah beberapa lama menonton film tersebut, aku membatin, Kenapa aku nonton film yang ngajak bunuh diri kayak gini? Tapi aku teringat akan akhir ceritanya yang cukup positif. Memang, dalam kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian ini sesekali harapan muncul sekilas-sekilas. Dan ketika cerita diakhiri dengan momen munculnya harapan, aku menyimpulkan bahwa kreatornya bermaksud untuk mengedepankan kesan positif terhadap kehidupan ke dalam benak penikmat karyanya.

Ada banyak tokoh dalam Happiness dengan problem masing-masing yang disampaikan secukupnya. Satu tokoh terkait dengan tokoh lain secara langsung maupun tidak langsung, entahkah sebagai saudara kandungnya, saudara iparnya, tetangga saudara kandungnya, orangtuanya, muridnya, pasiennya. Antara penulis yang ingin diperkosa dan psikolog yang diam-diam memerkosa, misal, ada hubungan ipar kendati mereka tidak bertemu dalam cerita. Selain mereka, ada: Joy, musisi gagal yang dalam usia kepala tiga tidak kunjung mendapat kepuasan dalam hubungan asmara dan pekerjaan; Allen, karyawan kantor yang mengisi kesendirian dengan menelepon ke sembarang nomor—kalau yang mengangkat adalah perempuan, dia akan menjadikannya sebagai objek masturbasi; Kristina, wanita tambun yang membunuh penjaga pintu apartemen yang memerkosanya, lalu diam-diam menyimpan potongan tubuh pria itu di dalam kulkasnya; Mona, wanita tua yang tidak lagi dicintai oleh suaminya tapi tidak juga diceraikan; Lenny, pria tua yang tidak lagi mencintai istrinya dan tidak juga siapapun, yang dirasakannya hanya kekosongan dan di akhir dia membubuhkan garam banyak-banyak ke makanannya agar lekas mati; Billy, bocah lelaki yang sedang mengeksplorasi seksualitasnya, dan dengan sedih mendengar pengakuan ayahnya yang telah memerkosa teman-temannya; Trish, ibu rumah tangga yang selalu ingin unggul, sempurna, dan terlihat bahagia, tapi tidak bisa berempati dengan masalah orang lain; dan seterusnya…

Philip Seymour Hoffman sebagai Allen. source

Film ini tidak kusarankan bagi orang yang tidak nyaman dengan adegan seks (meliputi masturbasi, sanggama, serta mani muncrat) dan pembunuhan. Apabila tontonan semacam itu dapat ditoleransi, film ini sebenarnya lucu. Psikolog yang dalam batinnya mengecek daftar belanjaan dan keperluan lain yang mesti dituntaskannya sepulang kerja, sementara di hadapannya seorang pasien sedang mengeluhkan dirinya yang membosankan. Ayah paedofil yang dengan lembut menjawab pertanyaan-pertanyaan anaknya tentang seksualitas, sambil tidak lupa menawarkan apakah anak itu mau melihat kemaluannya. Penulis yang ingin diperkosa namun setelah bertemu dengan orang yang mau memerkosanya merasa pria itu bukan tipenya. Dan yang tidak kalah menggelikannya bagiku adalah adegan di penghujung. Penulis yang mengarang-ngarang derita dalam karyanya, ingin agar orang-orang dapat mengaitkan diri dengan kepedihan yang mereka tidak mengalaminya sendiri, namun terhadap tragedi yang benar-benar terjadi pada orang di sekitarnya dia malah menertawakannya.

Mona : Helen, so what's gonna happen to that woman? Who killed your doorman?

Helen : I don't know, mom. It's so sad. She's all alone. I just wish I'd gotten to know her better. We might have found we had something in common.

Joy : Maybe you'll write a poem about her.

Helen : (laughs) Joy, I'm so sorry. But... don't worry. I'm not laughing at you. I'm laughing with you.

Joy : But I'm not laughing.

Menarik ketika sosok-sosok yang tampak menyedihkan justru yang mampu bersimpati terhadap orang-orang lainnya yang bermasalah sementara sosok-sosok yang tampak baik-baik saja justru bersikap sebaliknya. Seperti dalam penggalan dialog di atas: Joy si musisi gagal menyarankan Helen si penulis angkuh agar menulis puisi tentang wanita kesepian yang terlibat pembunuhan, tapi dia malah ditertawakan. Begitupun antara Bill si psikolog paedofil dan istrinya, Trish si ibu rumah tangga “sempurna”: Ketika anak mereka menceritakan tentang guru pemadat yang terancam dipecat, dia menganggap perlakuan tersebut agak kejam sementara Trish malahan mendukung bahkan mengancam anaknya kalau-kalau suatu saat menjadi pemadat, dia tidak akan menganggapnya sebagai anak lagi.

Penggalan dialog pembuka dari Andy (Jon Lovitz),
pasangan Joy yang kemudian bunuh diri. source

Kita mungkin merasa geli, risi, ganjil, sekaligus ngeri selama menonton film ini. Tapi mungkin itu juga yang dirasakan oleh mereka yang berhadapan langsung dengan korban maupun pelaku dari berbagai kasus yang dianggap menyimpang. Maka bagiku film ini bukan soal bahagia atau tidak—menilik judulnya—melainkan bagaimana kita menyikapi problem yang menimpa orang-orang biasa dalam kehidupan sehari-hari: baik diri kita sendiri maupun orang lain. Agaknya pengalaman kita sendiri yang menentukan mampu-tidaknya kita dalam bersimpati terhadap cerita orang lain; bagaimana kepedihan kita sendiri membuat kita bisa menempatkan diri dalam posisi orang lain yang sama atau malahan lebih menderita.

Rabu, 07 Mei 2014

Sepuluh Tahun Mengenal R. E. M.

Dimulai dari videoklip “Bad Day”. Aku belum mencermati liriknya, tapi pada masa itu aku merasa mengalami cukup banyak “bad day”.


Aku membeli kaset album The Best of R. E. M. in Time 1988-2003 di supermarket dekat sekolah. Tercatat: 130204. Aku tidak mengenal lagu-lagu R. E. M. lainnya. Tapi satu-dua lagu yang memikat, entah aku mengetahuinya dari tayangan videoklip di TV ataukah karena sering diputar di radio, cukup untuk membuatku membeli kaset tanpa peduli apakah aku bakal cocok dengan lagu-lagu lainnya. Ini hanya masalah pembiasaan. Butuh beberapa kali mendengarkan sampai aku cocok dengan lagu-lagu Suede dalam album Singles—dibeli di konter yang sama 2,5 bulan kemudian. Untuk R. E. M., tidak sesulit itu.

“Man on the Moon”, “The Great Beyond”, sampai yang kutunggu-tunggu, “Bad Day”, lolos ke dalam telingaku tanpa masalah.

Aku tidak mengerti kenapa temanku semasa SMA menyukai “What’s the Frequency, Kenneth?” sampai-sampai dia mencantumkannya di dalam novel yang kami garap bersama.

“All the Way to Reno” juga menjadi lagu yang membuatku termenung-menung walaupun aku belum tahu di mana itu Reno, tempat macam apa itu. Yang kutangkap, lagu itu sepertinya mendorong seseorang agar tidak putus asa. You know who you are, you’re gonna be a star. … Your achilles heel is a tendency… Bagi seorang anak SMP tampaknya penting kata-kata yang mendorong untuk terus bermimpi seperti itu.

Beberapa lagu setelahnya tidak begitu kunikmati, hingga “Imitation of Life”, yang menjadi lagu yang pertama-tama kucoba saat belajar memainkan gitar—di samping “Animal Instinct” dari The Cranberries. Aku mengopi halaman berisi chord-nya dari majalah milik teman sekelas. Kuncinya cukup gampang: Em Am G D C—itu saja. This sugarcane, this lemonade. This hurricane, I’m not afraid. C’mon c’mon no one can see me cry…

Aku mencatat lirik lagu-lagu R. E. M. lainnya yang kusuka dan terpukau. Aku tidak mengerti apa hubungan antara bait satu dengan bait lainnya tapi mengaitkan diriku sepenggal-penggal. Misalnya dalam lirik “The Great Beyond” ini: I’m pushing an elephant up the stairs. I’m tossing up punch lines that were never there. Over my shoulder a piano falls, crashing to the ground. Pada waktu itu aku bertanya-tanya kenapa orang itu mendorong gajah ke puncak tangga, kenapa ada piano yang jatuh. Tahu-tahu terdengarlah: I’m looking answers from the great beyond. Bagian ini yang paling jelas. Kini ketika aku memikirkan bagian yang tidak kumengerti itu sejenak, aku menghubungkannya dengan mitologi Sisyphus. Sisyphus dihukum mendorong batu besar ke puncak gunung. Bagaimanapun kerasnya dia mendorong, batu itu akan menggelinding ke bawah. Seperti mengerjakan perbuatan yang sia-sia. Begitupun dalam lirik R. E. M. tersebut. Batu diganti gajah—sama-sama besar. Adanya piano yang jatuh ibarat “sudah jatuh tertimpa tangga pula”. Sudah mah kudu mendorong gajah, ketiban piano pula. Kenapa kita mesti mengerjakan perbuatan yang memayahkan namun hasilnya seolah sia-sia saja, itulah pertanyaan yang kita nanti-nantikan jawabannya dari Yang Di Atas Sana.

Di sisi dua, lagu yang pertama-tama kusuka adalah “Animal”. Aku ingat, saat SMA sepertinya, menyetel lagu ini keras-keras dengan pintu kamar tertutup rapat tentunya. Aku membayangkan videoklip lagu tersebut seolah-olah aku akan menyutradarainya. What’s the big deal, I’m an animal... Tampaknya pada masa itu aku merasa lagu tersebut mengekspresikan sisi liarku sebagai remaja—haha.  

Setelah itu aku suka “Stand” karena liriknya lucu: Stand in the place where you live… Now face north… Think about direction that you wonder why you haven’t before… Now stand in the place where you work… Now face west... Think about… dan seterusnya.

Lalu ada “Electrolite” yang efeknya padaku sebagaimana “All the Way to Reno”: pikiran seakan dibawa mengawang-awang ke angkasa, termenung. You are the star tonight. You shine electric outta sight. Your light eclipsed the moon tonight…  

“All the Right Friends” juga terasa mengena hanya karena judul itu saja sudah mengingatkanku akan hubungan pertemananku—terlepas dari apa sebetulnya yang disampaikan dalam liriknya.

“Everybody Hurts” kukenal lebih dulu dari versinya The Corrs.


Lagu-lagu selanjutnya dalam album tersebut terasa sendu dan tidak begitu kusuka.

Album tersebut menjadi kaset yang paling sering kuputar.

Semasa kuliah aku tidak mendengarkan R. E. M sesering sebelumnya. Aku melanjutkan pendidikan di luar kota. Tidak ada alat pemutar kaset yang bisa kuandalkan. Lagipun sejak SMA aku mulai mengakrabi mp3 dan akibatnya aku berkenalan dengan banyak sekali lagu, penyanyi, ataupun grup yang aku belum pernah dengar sebelumnya. Aku bisa memilih lagu yang hendak didengarkan secara acak, tidak mesti berurutan sebagaimana kalau mendengarkan lewat kaset.

Kadang aku menemukan lagu-lagu R. E. M. yang tidak terdapat dalam album The Best, tapi aku tidak lagi begitu terkesan. Aku bahkan tidak ingat apa kepanjangan daripada R. E. M. Aku hanya ingat nama satu personilnya, vokalisnya, yang botak, yaitu Michael Stipe, yang konon berorientasi seksual… khas—menurut majalah yang kubaca di suatu tempat makan lumpia di Jogja. Aku mengenali suaranya, sambil menebak-nebak apakah itu memang suaranya, dalam lagu yang menutup film Happiness. Aku juga tahu kalau R. E. M. itu bisa berarti istilah yang berkaitan dengan kondisi saat kita terlelap—Rapid Eye Movement, tapi apakah sama kepanjangannya?

Kini tidak ada satupun alat pemutar kaset yang masih bekerja dengan baik di rumah, seakan pundung karena lama tidak digunakan. Koleksi kasetku mendekam saja di dalam rak plastik kecil di kamarku dulu yang sekarang menjadi kamar adik. Entah bagaimana kondisi pita suaranya—apakah masih dapat melantunkan lagu-lagu dengan jernih? Bagaimanapun juga, aku bukanlah kolektor berdedikasi.

Akupun mendengarkan R. E. M. lewat mp3 dan tidak sering. Hanya sewaktu-waktu dan tampak seperti cara baru dalam menikmati lagu: Lakukan sewaktu hari gelap entah menjelang tengah malam atau subuh; Matikan lampu terang di langit-langit dan nyalakan lampu remang-remang di meja; Duduk di atas kursi di balik meja dan jangan lakukan apapun lagi dalam nuansa syahdu tersebut selain mendengarkan lagu-lagu yang volumenya disetel cukup keras, dan; Sesekali bolehlah sambil menyeruput (ini)teh-susu(?) instan dan ikut menyanyikan bagian yang diketahui liriknya.

“Man on the Moon” serta “The Great Beyond” tetap menjadi pembuka yang menawan. Tapi kini aku lebih menikmati lagu-lagu yang pembawaannya tenang, yang padahal sebelumnya tidak kusukai, seperti dua lagu terakhir di sisi dua yaitu “At My Most Beautiful” dan “Nightswimming”; dan yang belakangan ini beberapa kali aku ingin mendengarkannya secara khusus, “Losing My Religion”.


Lupa baca dari mana: Inspirasi pembuatan video ini berasal dari cerpen Gabriel Garcia Marquez, "A Very Old Man with Enormous Wings".

Minggu, 04 Mei 2014

Kecoak, Tisu, dan Tamborin

Embul senang berburu kecoak. Kalau malam kadang aku mendapati dia duduk di karpet depan kamar mandi, mungkin sedang menunggu kemunculan kecoak. Dia mengejar-ngejar kecoak seakan serangga itu mainan yang bergerak. Dia akan menangkapnya dengan sebelah kaki, menjepitnya dengan mulut, lalu membawanya sambil berlari-lari dan menjatuhkannya kembali. Kecoak itu akan berusaha kabur namun Embul selalu berhasil menangkapnya lagi. Begitu terus sampai dia bosan.

Pernah Embul menangkap seekor kecoak hingga sebelah sayap serangga itu tercabut. Dengan sayapnya yang tinggal separuh kecoak yang terbaring telentang itu berusaha kabur, tapi tidak bisa. Sebelah sayapnya terus bergetar-getar, membuatnya berputar-putar bagai gasing. Embul kembali dan memainkannya.

Aku senang melihatnya mengejar kecoak karena dia punya hiburan, tidak melulu kesepian. Selain itu aksinya mengurangi populasi kecoak di rumah kami. Untung rumah kami kotor sehingga stok mainan untuk Embul tidak ada habisnya.

Beruntunglah mereka yang memilikinya.
Gambar diambil dari sini.
Selagi mengamati Embul berakrobat dengan kecoak, aku teringat komik berjudul Si Cerdik Michael. Isinya berupa cerita serupa sketsa mengenai interaksi antara kucing dan manusia, ada saja di antaranya yang membuatku terkakak-kakak. Semisal ada cerita tentang pasangan yang mendapat kucing yang entahkah dulunya dipelihara bule atau berasal dari luar negeri, dan mereka bingung apa mesti dalam bahasa Inggris kalau ingin berbicara dengan kucing itu; apa dia mengerti bahasa mereka. Aku jadi bertanya-tanya apa si pengarang pada mulanya juga suka mengamati perilaku kucing dan akibatnya tergugah untuk menuangkannya dalam komik. Ada satu ceritanya yang berkaitan dengan kesukaan kucing memain-mainkan makhluk tangkapannya. Perilaku yang sadistis sebetulnya. Namun makhluk dalam cerita itu bukan kecoak, melainkan lalat berwajah manusia dan berkumis. Sayang komik itu tampaknya sudah lenyap dari peredaran, dulupun aku mendapatkannya hanya dari taman bacaan.

Pernah aku membayangkan Embul menghampiriku dengan mulut memagut kecoak, menjatuhkannya di depanku seolah itu hadiah. Betapa manisnya. Tapi dia akan mengambilnya kembali, memain-mainkannya lagi. Di Si Cerdik Michael pun ada cerita tentang seorang gadis yang membayangkan kucing idaman. Kucing yang bisa buang air di kloset lalu menggelontornya sendiri. Lebih manis lagi kalau-kalau suatu saat aku menangis dia mendekatiku dengan mulut menjepit tisu. Tapi mudah-mudahan bukan tisu dari tempat sampah.
***

Satu malam aku melihat Embul mengorek-ngorek plastik tempat sampah. Aku berusaha menjauhkannya beberapa kali, tapi dia selalu kembali. Aku pun membiarkanya.

Adikku sedang menonton TV. Embul menghampirinya dengan mulut memagut tisu yang ringsek. Aku bilang pada adikku kalau Embul baru saja dari tempat sampah. Adikku menghindarinya. Embul menjatuhkan tisu di mulutnya yang ternyata terdiri dari dua gumpalan. Salah satunya berupa gulungan dengan ujungnya berwarna kekuningan. Tisu bekas ingus adikku.

Adikku sudah beberapa lama ini mengidap pilek. Dia suka menggulung tisu lalu memasukkannya ke dalam lubang hidung untuk menyumbat ingus.

Embul seolah ingin menunjukkan pada adikku, “Nih, tisu bekas ingus kamu yaa.”

Aku menyuruh adikku untuk mengembalikan tisu gulung-kuning itu ke tempat sampah karena itu bekas ingusnya. Tapi menurut dia, Embul yang harus mengembalikannya karena kucing itu yang membawanya. Aku terus merongrong adikku yang juga bersikukuh. Akhirnya dia mengangkat Embul di bagian perut dengan sebelah tangan. Lalu dia menyuruh kucing itu untuk memungut kembali tisu yang telah dijatuhkannya. Setelah tisu itu terambil entah oleh mulut atau kaki depan Embul, adikku membawanya ke atas tempat sampah lalu membuat kucing itu menjatuhkan tisu itu kembali. Masih tersisa satu remukan tisu. Adikku pun kembali dengan kucing itu, menyuruhnya untuk melakukan hal yang sama. Dan seterusnya.
***

Sebelum itu aku dan adikku yang lain mengamati Embul yang bermain-main. Sesekali dia telungkup dengan bokongnya menggepeng lalu aku menepuk-nepuk sisi kanan dan kiri bergantian hingga berbunyi “Pok. Pok. Pok.” Adikku bilang dia bukan Kucing Biola. Ya, kataku, dia Kucing Tamborin.