Jumat, 07 April 2023

Catatan Harian 2022

Selama 2022, saya menulis catatan harian di 155 halaman kertas folio bekas. Itu hampir, atau tidak sampai, setengah halaman per hari. Saya baru tamat membaca seluruhnya sehari sebelum menulis ini.

Melihat poin-poin yang didapat dari pembacaan, tampaknya satu hal yang saya pelajari pada 2022 adalah untuk tidak begitu pelit mengeluarkan uang dalam hal yang bisa dianggap sebagai "investasi" perbaikan/pengembangan diri kecil-kecilan, sebagai berikut.

Gembor 9 L
Karena ingin memanfaatkan yang ada terlebih dahulu, untuk menyiram tanaman, sebelumnya saya menggunakan botol 1,5 L yang tutupnya dilubangi. Namun tanaman saya tersebar di beberapa tempat. Sebotol penuh air 1,5 L itu tidak mesti cukup untuk menyirami tanaman di satu tempat saja. Jadi saya mesti bolak-balik mengambil air ke sana-sini dan itu melelahkan. Ketika mulai menanam lagi, untuk mengurangi kemalasan, saya putuskan untuk membeli gembor ukuran besar sekalian. Meskipun pada akhirnya saya cuma kuat mengangkut 5 gayung air sekali jalan 😅

Shampoo bar
Sebelumnya, terus terang, saya pakai sampo kedaluwarsa yang distok orang tua tapi tidak kunjung dipakai. Memikirkan sampah plastik yang dihasilkan dari sampo biasa, saya berpikiran untuk mencoba pakai shampoo bar yang kemasannya bisa dikompos. Saya menemukan yang harganya relatif murah di platform oranye. Ternyata pakai shampoo bar itu memerlukan kesabaran ya, haha. Saya perlu membasahi dan meremas-remas gumpalan sampo itu sebelum mengusap-usapkan busanya ke seluruh rambut. (Apalagi kalau rambutnya panjang.) Setelah beberapa bulan pemakaian, rambut saya tetap rontok, patah-patah, dan bercabang pula walau tampak lebih bervolume(?). Saya sudah pakai sampo yang katanya dari bahan-bahan alami, kemasannya bisa kembali jadi alami pula, mau bagaimana lagi? Mungkin saya perlu tambahan nutrisi, memperbaiki rambut dari dalam. Adapun sampo kedaluwarsa sekarang saya gunakan untuk membersihkan sandal saja :v

Buku folio 300 lembar
Kembali soal prinsip memanfaatkan yang ada terlebih dahulu, untuk mencatat ide cerita dan mengonsep narasinya, biasanya saya menggunakan kertas bekas. Namun proyek yang sudah bertahun-tahun saya geluti ini rupanya tidak kunjung berbuah draf yang memuaskan, sedang coretan saya sudah berbundel-bundel berfolder-folder (bukan dalam bentuk digital) sampai saya pusing melihatnya apalagi ketika mesti mengumpulkan dan menyusun lagi ide-ide di berlembar-lembar kertas yang bila dilepaskan dari penjepitnya jadi terserak di sana-sini. Mengingat sewaktu SD, SMA, awal kuliah, dan beberapa tahun lalu saya pernah menggunakan buku folio (atau semacamnya yang kalau orang lain mah menggunakannya sebagai buku kas, katalog, dst) untuk mencatat ide dsb, dan pada akhirnya memang menghasilkan draf-draf yang menurut saya pribadi layak diperlihatkan ke orang lain, saya pun berpikiran untuk membeli lagi buku semacam itu dengan warna yang belum pernah saya miliki. Harganya lumayan juga ya, kalau dihitung-hitung Rp150/lembar. Dan, sampai saat saya menulis ini, buku itu baru terisi sedikit :v

Lebih banyak compost bag 
Saya memerlukannya untuk menyimpan media tanam yang belum hendak digunakan lagi serta kompos kering yang kemungkinan akan terus bertambah, juga supaya masa pemrosesan limbah dan kompos basah bakal lebih lama sehingga lebih matang. Melihat space yang tersisa di halaman, sepertinya saya hanya bisa menambah satu compost bag lagi yang ukuran L. Kalau untuk di balkon, tampak masih bisa untuk beberapa compost bag lagi--juga yang ukuran L supaya mudah mengambilnya--yang sepertinya tidak benar-benar diperlukan jika saya rajin berkebun hehehe.

Keyboard dan mouse bluetooth
Karena saya menjalankan toko online sekarang menggunakan tablet, maka alat-alat ini diperlukan untuk memudahkan entri produk.

Masih berhubungan dengan uang, saya menemukan tips dari sebuah video di YouTube yang sekarang ini sedang saya coba amalkan yaitu membagi pemasukan jadi dua: sebagian untuk tabungan, sebagian lagi untuk dihabiskan. Dengan cara begini, saya jadi merasa agak tenang dan tidak begitu ceroboh lagi dalam keuangan.


Di samping soal kegiatan sehari-hari, catatan harian saya banyak berisi soal--apa lagi?--karang mengarang. Itu memerlukan effort yang jauh lebih besar daripada membaca buku dan me-review-nya. Tahun ini saya hanya menyelesaikan 2 draf novelet (masing-masing sekitar belasan ribu kata). Itu pun saya malas memajangnya entah di mana. Seperti sudah kurang ada kepuasan dari keberhasilan menyelesaikan draf, mau pendek atau panjang. 

Saya mengompensasinya dengan mencari file digital semua yang pernah saya karang--maksudnya yang berupa karya fiksi--dari notebook, hard disk external, e-mail, CD-CD penyimpanan--dan mengumpulkannya di satu folder di Drive. Seperti cendera mata dari suatu perjalanan masa yang tampak telah usai, mungkin. 

Satu hal lagi: terasa seperti sudah tidak penting lagi kegiatan mengapresiasi dan diapresiasi. Orang mau diapresiasi dengan cara yang mungkin tidak sesuai dengan cara kita mengapresiasi, dan belum tentu sudi mengapresiasi balik. Diapresiasi pun, buat apa lagi? Jika dipuji, bisa berkembang jadi riya, ujub, sombong--perkara-perkara batin yang mesti dihindari. Jika dicela, tambah PR makan pikiran. Coba mengapresiasi diri sendiri pun terasa cringe.

Bukannya sudah sama sekali tidak ada keinginan untuk menulis ulang draf-draf novelet itu dan melanjutkan ceritanya sampai entah kapan, tapi sepertinya saya perlu terlebih dahulu kembali menghidupkan passion itu. Sementara itu, ada target-target yang saya simpan mana tahu bisa dilaksanakan kalau-kalau entah bagaimana passion itu kembali menggelora. Latihan-latihan kecil sesimpel membuat 1 kalimat menggunakan gaya bahasa tertentu, puisi, sketsa, vinyet, cerpen, fragmen ... baru kembali ke novel. Kuncinya:

1. Tetapkan rutin mengarang.
2. Penuhi target itu tanpa peduli hasilnya bagus atau tidak, bakal ada yang baca atau tidak.
3. Dalam beberapa tahun (menurut pengalaman sebelumnya, baru setelah 4 tahun), mengarang baru terasa betul-betul asyik dan nikmat.


Ada beberapa hal yang belum sempat saya lakukan pada tahun itu atau saya rencanakan untuk dilakukan mulai tahun ini atau mendatang atau tidak akan pernah, seperti:
- membaca bahan kuliah dimulai dari buku-buku catatan yang diurutkan sesuai tanggal, kemudian menurut transkrip;
- membaca buku kumpulan entri harian mengenai entrepreuneurship
- mengompilasikan isi buku yang telah tuntas diterjemahkan (Welcome to the NHKRich without Money).

Saya merasa telah mendapatkan perspektif mengenai gaya kerja atau gaya hidup saya selama ini, dan PR yang utama adalah: fokus.

Satu wisdom yang saya rumuskan di tahun ini:

Tetaplah hidup, walau tak berguna.
Tetaplah bergerak, walau lambat.
Tetaplah berusaha, walau mustahil.

Kamis, 06 April 2023

Korupsi dan Kebudayaan: Sejumlah Karangan Lepas

Gambar di-screenshot
dari Ipusnas.
Penulis : Ajip Rosidi
Penerbit : PT. Dunia Pustaka Jaya, Bandung
Cetakan 1 April 2006, cetakan 2 (atau 3?) Desember 2015
ISBN : 978-979-419-365-5, (E) 978-979-419-688-5

Saya baca buku ini dalam rangka mengikuti acara Reboan yang diadakan Klub Buku Laswi. Buku ini ada di Goodreads, tapi kovernya beda dengan yang saya pinjam di Ipusnas. Yang di Ipusnas pun ternyata halamannya tidak lengkap. Teks di halaman 107, 145, 172, dan 192 hilang sebagian. Entah apa teks yang hilang ini juga ada di copy-copy lainnya di Ipusnas ataukah hanya di copy yang saya pinjam saja.

Buku ini memuat 24 tulisan Ajip Rosidi (selanjutnya saya sebut dengan Pak Ajip) yang sebelumnya pernah diterbitkan di media massa, juga ada yang merupakan makalah seminar, diskusi panel, dan semacamnya, serta pesanan/permintaan. Tanggalnya terentang dari akhir 1990-an sampai medio 2000-an. Sebagaimana yang tampak pada judul, tema utama dari tulisan-tulisan tersebut adalah korupsi yang Pak Ajip melihatnya dari perspektif kebudayaan. Meskipun tidak semua tulisan dalam buku ini mengenai korupsi. Tulisan-tulisan yang belakangan lebih menyoal tentang bahasa, kebudayaan dan kesusastraan. Tulisannya banyak yang merupakan kritik terhadap persoalan dalam bidang-bidang tersebut.

Sebetulnya tiap habis membaca 1 artikel, saya berusaha untuk menuliskan komentar pendek mengenainya. Catatan saya selama membaca buku ini sampai berlembar-lembar. Namun, terus terang, di akhir saya kesulitan merumuskannya menjadi suatu rangkuman hehehe. Termasuk kala hadir di Reboan, pada waktunya membahas isi buku ini. Saya banyak diam mendengarkan saja. Ketika tiba giliran saya mesti berkomentar, saya hanya bisa membagikan beberapa pengalaman terkait serta sedikit refleksi pribadi.

Kalau bicara mengenai korupsi, saya merasa tidak bisa sok suci. Misalnya, adakalanya saya tak mau atau tak mampu bangun pagi. Akibatnya, saya jadi tidak sempat melakukan kegiatan-kegiatan yang telah dijadwalkan untuk dikerjakan pada waktu itu. Saya pun telah merasa melakukan korupsi waktu. 

Belum lagi kalau kita ingat pengalaman masa sekolah, seringnya saya tidak suka menyontek tapi mungkin ada saat-saat ketika saya melakukannya melihat teman-teman pada begitu apalagi kalau soal-soalnya memang sangat susah. Pada masa kuliah, ada yang namanya PKM dan pengajuan dana penelitian. Saya menyaksikan sendiri seseorang merancang dana yang menggelembung untuk pengeluaran yang tidak benar-benar perlu. 

Hal-hal itu ada dalam keseharian kita, tampak sepele tapi kalau dilakukan dalam situasi tertentu ternyata menyalahi keadilan sosial dan berdampak signifikan. Di penghujung Reboan, seorang peserta lain mengatakan bahwa kita merasa tidak korup mungkin karena kita belum diberikan kesempatan untuk itu. Seandainya kita yang berada dalam posisi berkuasa memegang banyak uang, belum tentu kita sendiri kuat iman. Kita mesti terus mewaspadai setan yang berada dalam diri kita sendiri. 

Dalam buku ini Pak Ajip beberapa kali menghujat presiden kedua sebagai aktor utama yang mengukuhkan sistem korupsi berjemaah. Namun pada artikel lain, beliau memaparkan riwayat kerajaan-kerajaan nusantara yang pada dasarnya sudah terpecah belah mementingkan golongan dsb sehingga mudah dimanfaatkan oleh VOC. Hal ini menimbulkan pertanyaan bagi saya, apakah kalau presidennya bukan yang itu, rakyat Indonesia bakal lebih bersih dari korupsi berjemaah? Hal ini juga seperti diklarifikasi lagi dalam catatan penutup buku ini oleh Teten Masduki, yang mengatakan bahwa korupsi merupakan sistem modern yang memang diinisiasi oleh VOC. Di situ saya merasa agak bingung.

Kebingungan-kebingungan lainnya yaitu di awal sempat saya merasa beliau ada sentimen ke Jawa terlebih presiden kedua orang Jawa, tapi kemudian beliau mengangkat Jawa dalam konteks yang positif; di artikel lain seperti tidak setuju dengan bahasa Arab dan Inggris diajarkan sejak dini--bahasa dan kebudayaan daerah lah yang mesti didahulukan, tapi di artikel berikutnya menyanjung suatu sistem pendidikan yang mewajibkan penggunaan bahasa Arab tanpa mesti mementingkan latar kedaerahan murid. 

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain