LAINNYA

Jumat, 29 Oktober 2010

Solat tanpa Sujud

Kulihat puncak kepala itu lagi. Hitam mengikal di ujung berpendarkan uban. Lalu menghilang dari pandangan karena laju jalanku.

Setiap hari aku melintasi jalan ini sebagai bagian dari rute rumah-kampus. Memang tak setiap hari pula kulihat ia—yang kuanggap begitu rajin menunaikan solat duha—tapi penampakannya di balik kaca jendela musola komplek begitu kerap kudapat. Kadang menyentilku untuk melakukan hal serupa setibanya di kampus.

Hingga pada suatu hari, datang kesempatan padaku untuk menyadari sesuatu. Aku tertahan di depan musola karena ada ibu-ibu yang menarikku dalam percakapan singkat. Tak fokus mataku pada lawan bicara. Karena dari balik kaca jendela musola kuperhatikan benar gerakan solat pria itu. Solat macam apa yang tak pakai sujud?

Kala kulihat sepenggal kepala itu lagi pada esok harinya, sejenak aku mendekat ke jendela. Kuamati lagi gerakan solatnya. Sama seperti kemarin.

Sejak itu, entah mengapa setiap kali aku menemukannya lagi di sana, sengaja aku mendekat untuk mengamati gerakan solatnya diam-diam. Kadang gerakan solatnya lazim sebagaimana gerakan solat yang biasanya. Kutunggui sampai ia usai untuk memastikan asumsi. Kusimpulkan bahwa ia memang sedang menunaikan solat duha. Langkahku tak jadi menjauh karena sekilas mataku menangkapnya berdiri, seperti hendak menunaikan solat lagi. Benar dugaan, ia melakukannya, gerakan solat tanpa sujud.

Kupendam heranku akan pria aneh itu dari hari ke hari. Dari sejak kengehanku akan kehadiran pria itu beserta perbuatannya hingga terjadinya erupsi Gunung Merapi baru-baru ini. Kalau dihitung-hitung… aku tak menyangka tahun demi tahun dapat berlalu sedemikian cepatnya. Namun aku tak sampai berinisiatif untuk mengungkit kelakuan pria itu pada siapa pun yang mungkin mengenalnya di sekitar komplek ini.

Erupsi Gunung Merapi membuat telingaku ketagihan mendengar siaran RRI. Kalau di rumah aku dapat mendengarkannya keras-keras, di jalan menuju kampus kupasang headset yang tersambung dengan setelan radio dalam ponselku. Aku seakan tak dapat melakukan apapun, sepanjang hari-hari yang dibayangi musibah ini, selain memantau perkembangan aktivitas Gunung Merapi dari waktu ke waktu. Tempat tinggalku hanya berjarak sekian puluh kilometer dari kawasan tersebut—di mana aku pernah mengikuti beberapa kegiatan di sana, sehingga aku merasa berkepentingan untuk mengetahui apa yang terjadi. Namun hidup harus tetap berjalan bukan? Sebagaimana aku yang tetap berjalan ke kampus biarpun tak piawai mengemudi kendaraan apapun.

Kusaksikan prosesi pemakaman Mbah Maridjan dan para kerabatnya lewat visualisasi dalam kepala—sebagaimana yang dideskripsikan oleh reporter RRI, sementara mataku sendiri menyaksikan sang pria aneh dengan kebiasaannya dalam musola di waktu duha. Aku tercenung. Seperti ada sesuatu yang tersambung dalam mozaik pikiranku. Sesampainya di kampus, tahulah aku.

Beberapa mahasiswa berinisiatif mengadakan solat jenazah berjamaah di masjid kampus bagi para korban bencana alam, baik di Merapi maupun Mentawai. Pikirku saat itu, di Indonesia ini mau tinggal di kaki gunung maupun di tepi pantai sama saja terkena bencana—entah itu wedhus gembel atau tsunami. Tinggal di tengah kota pun bencana tetap bisa melanda. Kuingat lumpuhnya Jakarta karena banjir dan macet.

Meniru gerakan imam di depan, mozaik itu membangkitkan jiwa Archimedes dalam benakku. “Eureka!” sorakku dalam hati. Aku menemukannya! Makna gerakan solat yang pria aneh itu lakukan—ialah solat jenazah!

Kendati telah terkuak, masih tetap aneh pria itu bagiku. Untuk apa ia menunaikan solat jenazah sesering itu, padahal bencana yang menyebabkan ketewasan massal hanya terjadi sesekali saja? Berbagai tanya dan spekulasi mengisi rongga kepalaku.

Tak ingin lama kupendam lagi. Esok hari, sengaja aku bermaksud telat ke kampus. Di tangga teras musola, kutunggu pria itu menunaikan kebiasaannya. Berharap ia lekas usai, lekas ke luar dari dalam musola untuk menerima sambutanku.

Rasa ketar-ketirku terpecah karena bergesernya pintu musola. Mata pria itu menatap lantai teras dengan syahdu. Badannya lebih tinggi dari yang kuperkirakan namun agak bungkuk. Sesaat aku tergugu karena hawa yang ia pancarkan. Ketika ia mulai memasukkan sebelah kakinya dalam rengkuhan sandal jepit, kudorong diriku untuk pertama-tama sekedar menegur, “Habis solat, Pak?”

“Hm,” hanya begitu tanggapnya.

Sebelum sepasang sandal jepitnya menginjak paving block, kusambung lagi kata-kataku, “solat jenazah?” Pria itu tersenyum sekilas. Kuputus lagi diamnya, “buat korban Merapi ya, Pak?”

Pikiranku tak bisa mencerna makna pandangan aneh yang ia tujukan padaku. Aku meneguk ludah. Ingin kukatakan bahwa aku melihatnya solat jenazah begitu sering, meski tak sedang ada bencana yang menewaskan, meski tak ada jasad sesungguhnya di depan muka, dan betapa aku penasaran akan kelakuannya itu. Aku mulai berpikir bahwa pria ini agak sinting. Kuredam kecemasanku dengan kesadaran bahwa hari masih terang dan aku bisa teriak, meronta-ronta, atau berlari sekencang mungkin kalau terjadi apa-apa. Jadi aku berterus terang saja padanya.

Ia mendengus.

Aku memang tak mahir berbahasa Jawa, namun dapat kutangkap inti dari jawabannya, “Setiap detik ada orang yang mati. Di antara mereka ada yang muslim.”

Lalu aku ingat pada para saudara seimanku di Palestina, yang setiap hari hidup di bawah naungan hujan peluru.

Rasanya aku ingin menunaikan solat jenazah di setiap waktu.

(erupsi pikiran pasca erupsi Gunung Merapi, 28 Oktober 2010)

Kamis, 28 Oktober 2010

Kado Ulang Tahun dari Seorang Ayah untuk Putrinya


Judul : Dunia Sophie, Sebuah Novel Filsafat
Pengarang : Jostein Gaarder
Penerbit : Mizan, 2003

Saya lupa kapan pertama kali saya coba membaca novel ini. Saya sudah memilikinya sejak 2004—saat itu saya hampir seumur dengan Sophie, sang tokoh utama. Namun setelah umur saya mencapai 19 tahun, saya masih belum dapat benar memahami pelajaran filsafat yang disampaikan. Saya kepikiran untuk membacanya ulang di suatu kali—entah kapan. Cerdas nian Sophie itu, untuk ukuran gadis 14 tahun!

Pelajaran filsafat dalam novel ini dikemas dengan gaya bertutur yang membuatnya jadi terasa lebih sederhana—tentunya, jika dibandingkan dengan buku teks. Sebagian besar dapat saya pahami, sebagiannya lagi tidak. Dan tak terhitung berapa kali saya ketiduran saat membaca buku ini, seringnya di pagi hari. Secangkir filsafat untuk menyingkirkan teh atau kopi di pagi hari, mengapa tidak?

Jauh lebih banyak dialog ketimbang narasi dalam novel ini. Ada narasi pun, tersaji seperlunya saja dan kadang kurang deskriptif, misalnya ketika Sophie merasakan efek dari meminum isi botol-botol yang Alice dari Negeri Ajaib berikan.

Ada baiknya setelah habis satu bab, kita berhenti membaca sejenak untuk merenungkan apa yang disampaikan melalui bab tersebut. Kalau perlu membacanya ulang sampai sungguh paham. Kalau perlu membaca dengan meresapi setiap kalimat sehingga tak perlu sampai membaca ulang. Itu pilihan, yang saya tak melakukannya, hehe. Memang tak terhindarkan, sesekali saya membaca ulang suatu kalimat atau paragraf agar dapat memahami apa yang disampaikan.

Setidaknya, kini terbuka wawasan saya akan perkembangan pemikiran manusia dari masa ke masa. Dari Socrates sampai Sartre. Meski kalau harus menjelaskan kembali tentang filsafat Socrates, saya hanya ingat benar akan metode pembelajarannya. Itu pun sudah saya ketahui sebelum membaca novel ini, meski novel ini kemudian memberi gambaran yang lebih jelas.

Tidak hanya berisi pelajaran filsafat, novel ini juga menyuguhkan misteri yang merangsang kita untuk terus mengikuti jalan cerita. Dan menemukan banyak hal tak terduga! Pengarang mengajak kita bermain-main dengan berbagai realitas dalam novel ini. Misteri Hilde dan sang Mayor perlahan terkuak mulai tengah cerita. Selanjutnya saya merasa konsep novel ini lucu nian. Novel ini ternyata merupakan kado ulang tahun bagi sang Mayor untuk putrinya, Hilde. Sungguh suatu kado yang amat manis!

Sang Mayor membuat para tokoh rekaannya menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan pada Hilde dengan cara yang terduga. Sering dengan hal-hal janggal secara realita. Namun itu menjadi realistis karena Sophie dan guru filsafatnya, Alberto Knox, ternyata hanya rekaan sang Mayor. Tapi, sudah jelas pula bagi kita, sebagai pembaca dalam realita kita, bahwa sang Mayor dan putrinya pun merupakan rekaan pengarang!

Ini seperti melihat seseorang yang sedang melihat ke luar jendela dan mendapatkan seseorang yang sedang melihat ke luar jendela dan mendapatkan seseorang yang sedang melihat ke luar jendela… dan seterusnya.

Setelah Sophie dan Alberto akhirnya sadar bahwa mereka sekedar rekaan, dialog-dialog mereka selanjutnya akan membuat kita dapat menyelami bagaimana rasanya menjadi tokoh rekaan yang sadar bahwa dirinya rekaan. Karena saya juga mengarang, saya menerka-nerka apakah mungkin para tokoh rekaan saya juga mengalami hal yang sama. Mungkin mereka juga tengah mengamati saya dari kejauhan, berusaha menggapai saya, namun karena kami menempati realitas yang berbeda, kami tak dapat saling menyentuh. Seperti hantu, fisik mereka tak nyata namun kehadiran mereka mungkin terasa.

Situasi-situasi paralel dan keterkaitan antar satu kejadian dengan kejadian atau pelajaran filsafat berikut, baik di dunia Sophie maupun dunia Hilde—yang juga saling berkaitan, bagi saya merupakan hal yang menggelitik. Tak ada batasan dalam berimajinasi di sini. Tokoh-tokoh khayali yang kita kenal seperti Winnie the Pooh dan si Tudung Merah—bahkan Nabi Nuh!—jadi pameo dengan kemunculan sesaat yang dapat menjelaskan suatu pemikiran besar seperti Marxisme, Darwinisme, dan lain-lain.

Menjelang menamatkan Dunia Sophie, saya merasa lucu. Sophie yang sudah berumur 15 tahun akhirnya berkelana dengan Alberto yang mungkin seumuran ayahnya. Ini mengingatkan saya akan pasangan Humbert Humbert dan Lolita-nya, karena saya belum lama menamatkan Lolita sebelum menamatkan novel ini. O, tentu saya tidak mengharapkan ada kejadian macam-macam antara Sophie dan Alberto, toh ibu Sophie juga mengizinkan putrinya pergi dengan pria tersebut dengan mudahnya.

Hilde akhirnya membalas sang Mayor atas perbuatannya pada Sophie yang telah merebut simpati Hilde. Layar pun turun, menutup adegan berenang malam-malam antara ayah dan putrinya. Pertunjukan yang memberi pelajaran filsafat, humor, absurditas, dan imajinasi liar pun usai.

Maka, saya kira pengarang telah berhasil menyampaikan sebuah pesan untuk saya di penghujung novel: bebaskan pikiranmu! Kita tak akan bisa jadi filosof sebelum membebaskan pikiran kita, bukan? Alurnya jadi jelas setelah bab Freud, lalu penjelasan tentang absurditas lengkap dengan contoh kejadiannya dalam kehidupan Sophie kemudian, bahwa apa yang kita serap dari kehidupan tidak akan pergi ke mana-mana. Kita bisa saja berusaha mengenyahkannya, jika tak kuasa melepasnya kembali dalam suatu bentuk, tapi siapa nyana bahwa mereka ternyata hanya mengendap di alam bawah sadar kita? Dan mengejewantah jadi absurditas, dalam bentuk apapun itu. Intinya, jadilah sekreatif mungkin—berimajinasilah!

Namun bagaimana pun, apa yang novel ini sampaikan hanyalah kompilasi pemikiran berbagai manusia yang dikemas dengan begitu uniknya. Kita harus selalu ingat bahwa manusia tak bisa lepas dari kesalahan. Sampai kapan pun adalah kewajiban kita untuk terus mencari Kebenaran—bukan hanya kebenaran yang berlaku bagi diri kita, manusia, melainkan bagi seluruh alam semesta. Novel ini bisa jadi semacam perangsang untuk itu, namun sebaiknya kita juga punya landasan keimanan yang memadai saat menyelami pelajaran filsafat dan imajinasi di dalamnya.

Dunia Sophie adalah novel Jostein Gaarder kedua yang saya telah tamat baca. Sebelumnya adalah novel dengan judul yang persisnya saya lupa, namun berkaitan dengan lelaki penjual dongeng dan gadis pemintal jaring laba-laba (?). Saya juga tahu novel Jostein Gaarder lainnya seperti Gadis Jeruk, Misteri Soliter, dan mengenai perpustakaan apa begitu.

Saya menangkap satu hal identik dari beberapa novel Om Gaarder ini. Dalam Dunia Sophie, kisah lelaki penjual dongeng, dan Gadis Jeruk, kita akan mendapatkan kisah tentang ayah dan putrinya. Dalam Dunia Sophie, seorang ayah membuat novel filsafat untuk kado ulang tahun putrinya. Gadis Jeruk merupakan kumpulan surat seorang ayah untuk putrinya. Kisah lelaki penjual dongeng adalah tentang seorang ayah yang meninggalkan putrinya dan di kemudian hari melakukan hubungan inses dengan putrinya itu tanpa ia ketahui sebelumnya. Misteri Soliter juga melibatkan seorang tokoh ayah. Ada apa di antara Om Gaarder dengan sosok ayah?—lebih khusus lagi, hubungan ayah dan putrinya?

sumber gambar

Selasa, 26 Oktober 2010

Ratapan Seorang Pedofil


Judul : Lolita
Pengarang : Vladimir Nabokov
Penerjemah : Anton Kurnia
Penerbit : Serambi, 2009

Humbert Humbert bicara mengenai sebuah obat tidur racikan seseorang,

…tapi hanya untuk seniman hebat yang tak bisa tidur, yang harus mati selama beberapa jam untuk bisa hidup selama berabad-abad… (hal. 165)

dan menutup pengakuannya dengan,

Namun, selagi darah masih berdenyut melalui tanganku yang menulis, aku masih bisa berbicara kepadamu dari sini ke Alaska. … Ada yang harus memilih di antara dia dan H. H. serta ada yang ingin H. H. hidup paling tidak dua bulan lebih lama agar dia membuatmu hidup abadi dalam pikiran generasi selanjutnya. Aku memikirkan banteng dan malaikat, rahasia zat warna tahan lama, soneta profetik, dan perlindungan seni. Dan, hanya inilah keabadian yang bisa kubagi bersamamu, Lolita-ku. (hal. 525)

Beberapa hari sebelum saya mengutip kata-kata di atas, saya membaca sebuah blog yang mengatakan, “kalau kamu ingin setelah mati tidak ada yang tersisa, tidak usah menulis saja.”

Bagi mereka yang menyelami dunia sastra, Lolita identik dengan pedofilia—sedemikian berpengaruhnya novel yang akhirnya bisa saya tamatkan ini. Ak-hir-nya. Saya mampu menamatkannya karena memaksakan diri, antara lain dengan mengangkat prinsip: buku yang sudah terlanjur dibaca dari awal harus terus dibaca sampai akhir.

Bab pengantar seakan memberi wanti-wanti akan ditemukannya nuansa “cabul” dalam novel ini. Ya, saya menemukannya—menurut nilai-nilai dalam konstruksi pikiran saya. Bagaimana Tuan Humbert begitu terobsesi dengan si kenes Dolores Haze—Lolita-nya. Deskripsinya sedemikian rupa, saya ketar-ketir membacanya. Harus selesai! Harus selesai! Sebab saya juga penasaran apa yang akan terjadi berikutnya—meski tak secara spesifik.

Saya berusaha agar tak terhanyut pada gelombang perasaan Tuan Humbert yang begitu mengharu biru. Betapa kejinya pria malang ini. Saya bisa membayangkan kepedihan yang Lolita rasa saat perlahan-lahan masa depannya dirusak oleh seorang pria yang secara hukum adalah ayahnya—mesti tidak secara biologis.

Pada mulanya Lolita menguar kesan sebagai gadis kecil dengan potensi binal. Berlembar-lembar narasi maupun dialog, yang hampir-hampir bikin saya tak ingin membuka novel ini lagi, akhirnya terlewatkan. Lolita semakin tumbuh dan ingin menentukan nasibnya sendiri—lepas dari sikap posesif Tuan Humbert. Ia berhasil melarikan diri.

Entah apa yang akan terjadi seandainya Lolita tak pernah melarikan diri. Simpati saya padanya semakin besar di nomor-nomor terakhir pada bagian dua novel. Betapa pada mulanya ia hanyalah seorang gadis kecil yang bisa jadi bermasa depan cemerlang. Hingga ia bertemu Tuan Humbert. Hingga ia mengikuti perkemahan Q.

Sedemikian tragis nasib Lolita di kemudian hari mendorong Tuan Humbert untuk balas dendam pada orang yang telah merusak Lolita. Tuan Humbert begitu mencintai Lolita, sehingga tak mungkin ia membunuh dirinya sendiri. Lalu siapa yang akhirnya Tuan Humbert bunuh?

Benar apa kata sinopsis belakang sampul, nuansa muram terasa saat saya coba memasuki kehidupan Tuan Humbert. Sayang, saya tak sampai benar menikmati sentuhan humornya. Efek panas dingin yang timbul selagi baca novel ini cukup mengganggu saya. Kendati kisahnya bergulir tragis dan berakhir dengan kalimat-kalimat mengena, saya akui juga bahwa ini memang karya yang cukup indah, saya tak bisa merekomendasikan novel ini—jika ingin benak aman dari visualisasi “macam-macam”. Menonton versi filmnya? Saya tak mau memikirkannya. Kendati pula—memang benar apa yang dikata dalam bab pengantar—novel ini menunjukkan akibat yang dapat timbul dari seseorang dengan orientasi seksual menyimpang.

sumber gambar

Senin, 25 Oktober 2010

Dar Der Dor DR FSC 22-23 Oktober 2010!

Kuartet CDNV beraksi lagi di Hargobinangun. Jika dulu kami melakukan survei, kali ini adalah waktunya eksekusi!

Adalah acaranya bernama Development Ring (DR) yang merupakan bagian terakhir dari alur kaderisasi dalam Forestry Study Club (FSC)—kelompok studi di Fakultas Kehutanan UGM. Selain kami berempat, acara ini didukung juga oleh Mas Birama (anggota lain Dewan Konsultatif—DK—selain saya dan Nurdin), Mbak Indira dan Afifi selaku pemateri tentang cikal bakal Rumah Riset FSC di Hargobinangun, serta Dewangga sang pemateri Analisis Sosial.

Dan tentu saja… acara ini tak bakal meriah kalau tidak ada mereka: pasukan Pengurus Harian (PH) FSC 2010! Mereka adalah Lido (ketua), Tyas (sekretaris), Anggren (bendahara), Alfa, Ocha, Edi, Ali, Rina, dan Rheffy… yang demi meratanya keadilan tidak saya sebut semua jabatannya di lembaga karena saya tak hapal. Lengkapnya anggota pasukan membuat saya salut sekali pada mereka—meski mereka mengaku tak kompak sebelum ini!

Sayang sekali, salah seorang eks PH periode sebelumnya, Suryadi, tak bisa menyertai karena tak ada motor. Jadilah ia hanya melepas kepergian kami di bawah rindangnya trembesi pada masa yang menggelap. Juga bertemankan seekor celeret.

Kuartet CDNV melaju dari kawasan UGM tepat saat azan magrib. Kami solat di suatu masjid yang kami temukan di pinggir jalan. Seekor orong-orong menyambut kedatangan kami. Betapa menakjubkannya insting pemburu Cah!


Kami tiba di penginapan Restu Ibu, Kaliurang, tepat saat para PH cewek hendak menunaikan solat isya. Para cowok sudah di masjid. Cah dan Nur lekas menyusul. Setelah kewajiban satu ini tertebus, kami berembuk merangkai acara untuk kami jalani malam itu. Sebungkus besar kerupuk berputar dalam lingkaran kami untuk mengganjal perut. Bisa diduga, acara pertama kami adalah MAKAN MALAM. Kendati nasi sudah tertanak dalam rice cooker, kami memutuskan untuk menggunakannya sebagai sarapan besok. Jadi kami akan makan di luar penginapan bersama-sama!

Sementara Nur survei tempat makan, kami foto-foto di depan penginapan. Setelah bertemu beberapa alternatif, kami menembus dingin dan hening malam. Terpana sebentar di Monumen Monyet Mesum--inilah penampakannya yang sempat saya ambil di siang hari.


Bingung sejenak di tempat makan terdekat, sampai akhirnya kami terdampar di suatu tempat makan yang kalau tak salah bernama Girimulyo. Di sana saya memesan bakmi godog—sebagaimana sebagian besar yang lain—dan wedang tomat—di mana hanya saya saja yang pesan. Bakmi godognya ternyata mi rebus biasa yang dimodifikasi. Dan bertambah satu orang lagi selain Nur, yaitu Rheffy, yang mengira saya dari Bogor. Sama-sama sejuk sih, memang (:p).

Jalan berhati-hati karena perut masih penuh terisi, kami kembali ke penginapan. Mbak Indira sudah cukup lama menunggu di sana. Padahal ia sudah makan malam dan tidak boleh menginap, tapi ia bertahan demi menceritakan kami asal mula terbentuknya Rumah Riset FSC di Hargobinangun. Setelah tujuannya tersampaikan, Mbak Indira undur diri. Afifi menggantikannya. Rekaman saya pada sesi ini mencapai tiga halaman tersendiri—saya mengetiknya di netbook baru Vina lo!

Kami sempat melakukan ice breaking. Mengapa Nur sampai terpikir sebuah permainan klise, itu tak penting. Para PH amat kooperatif untuk menjadikan permainan itu tak lepas dari gelak tawa dan kami cukup gembira sesudahnya—tampaknya.

Eng ing eng, Dewangga datang juga dengan motornya. Ganti dirinya menjelaskan tentang analisis kondisi lapangan (disingkat jadi anakonda). Ternyata sebagian peserta sudah mendapat materi hampir serupa dari mata kuliah Partisipasi dan Pemberdayaan Masyarakat, olala…

Usai materi, para PH melingkar untuk mendiskusikan tugas yang akan mereka emban esok hari. Golongan “tua” kemudian terpisah jadi kubu dewasa kanak-kanak yang menonton kartun One Piece dan kubu dewasa pembelajar yang mendiskusikan hutan kota lantas lanjut ke lain-lain hal. Para PH cewek tahu-tahu sudah pada mendekam di kamar. Ali entah sejak kapan kabur ke tempat tidur. Lido dan Edi bertahan di ruang tengah dalam pembicaraan yang insya Allah bernas bersama kami angkatan 2007 ke atas. Menjelang jam satu dini hari, saya akhirnya menyerah juga untuk menemani Vina rebah di kamar.

Terbangun pada subuh. Hebatnya, saya tak tiduran lagi di kasur sesudah itu. Saya membaca novel Lolita sembari terkantuk-kantuk. Sesekali melakukan hal lain, menemani yang masak nasi misalnya, untuk menggusah kantuk. Entah yang lain berbuat apa. Tahu-tahu hari terang. Lauk buatan pengurus penginapan datang. Tak sabar menunggu para PH berkoordinasi untuk kegiatan mereka sehabis ini. Ingin lekas mengisi perut dengan nasi dan teman-temannya untuk mengusir angin.

Sebelum golongan “tua” lepas para PH di ambang pintu penginapan, terlebih dulu kelompok PH yang kemarin malam kalah permainan menampilkan sebuah drama. Tawa dan tawa. Tapi tak kalah banyak juga dengan kernyitan heran karena adegan-adegan GJ.

Afifi pergi. Para PH pergi. Mas Birama pergi. Cah dan Nur juga pergi, disusul Dewangga. Saya dan Vina membereskan penginapan dilanjut memasak nasi untuk makan siang. Agenda kami setelah itu adalah jalan-jalan. Saya berharap dengan begitu angin di dalam tubuh saya akan terkeluarkan. Selain itu, saya memiliki tujuan lain yaitu pelataran parkir Hutan Wisata Kaliurang dengan misi: bersua kembali dengan mas ganteng keriting berkacamata!

Alkisah, pada suatu Minggu di Januari 2010, saya mengantar teman-teman sekelas saya waktu SMA tamasya ke Kaliurang. Naik bis dengan rute Yogyakarta-Kaliurang ke sana, pemberhentian terakhir kami adalah Terminal Kaliurang. Ramai nian di sana kala itu. Sebelum memasuki kawasan hutan wisata, kami putar-putar cari sesuatu yang dapat dibeli. Dan saya terpikat oleh seorang mas ganteng keriting berkacamata yang tampak tak lazim duduk berdampingan dengan seorang mbak difabel. Mbak difabel yang menjual pernak-pernik untuk oleh-oleh. Hubungan apa di antara mereka, hingga kini masih jadi teka-teki yang jadi inspirasi untuk membikin sebuah kumpulan cerpen.

Maka, pada kunjungan kedua saya kali ini, tidak saya temukan keramaian sebagaimana pada waktu itu. Hanyalah barisan polisi yang mengisi tanah lapang di seberang lokasi berjualan dua orang dengan hubungan misterius itu, yang tentu saja tak saya temukan mereka—atau mas gantengnya saja tak mengapa deh—kali ini. Padahal ini Sabtu, yang harusnya merupakan hari ramai berkunjung. Mungkin karena Gunung Merapi sedang berisu?

Sudah terlanjur sampai sana, kami akhirnya masuk ke balik gerbang hutan wisata dengan membayar karcis seharga dua ribu rupiah. Saya memilih rute yang berbeda dengan dulu saya dan teman-teman sekelas SMA lalui. Akibatnya, kami jadi langsung bersua dengan Tlogo Putri yang tidak memberikan pelangi karena kurangnya terik mentari. Vina hendak ke gardu pandang. Sayangnya, jalan menuju ke sana ditutup tumpukan dedaunan. Menurut keterangan seorang perempuan pedagang, jalan itu ditutup pada pagi hari.

Ada jalan lain ke Roma, hm, gardu pandang. Kami turun dan eng ing eng, alhamdulillah buat saya sebenarnya karena sudah tahu rasanya mendaki tangga berbatu sejauh 800 meter (terasa seperti berkilo-kilometer dengan medan sedemikian rupa!), ternyata jalan lain menuju ke sana juga tertutup.

Vina tak tertarik dengan kawasan piknik, sehingga kami meninjau sebentar bangunan klinik di sana yang memang hanya bangunan. Isinya nihil. Dua ribu rupiah kami termanfaatkan dalam waktu singkat. Kami ke luar gerbang. Sebelum kembali ke penginapan, saya mengajak Vina mengudap wedang ronde. Lagi-lagi tujuannya ialah untuk membuang angin dalam perut.

Di perjalanan kembali ke penginapan, kami menemukan aspal yang bolong. Vina yang ngeh pertama kali. Bolongnya aspal jadi fenomena luar biasa yang mengundang hasrat ingin mengabadikan jika mana dari bolongnya aspal tersebut ke luar air! Bedakan dengan kubangan loh ya. Kubangan menampung air, ya, tapi tidak memancarkannya sebagaimana yang kami temukan!



Dalam perjalanan kembali ke penginapan ini, kami mengambil rute yang berbeda dengan perjalanan pergi (yang ternyata membuat kami mengambil jalan memutar yang cukup jauh). Kami hanya butuh waktu jauh lebih singkat dalam perjalanan kembali ini. Mendung bercokol di atas kami. Para PH sudah kembali dari ekspedisi lapangan mereka. Menanti kami untuk makan siang bersama—dengan sop, kerupuk, dan sambal yang amat nikmat.

Usai makan siang, para PH melingkar di ruang tengah dengan papan tulis di muka. Mereka mendiskusikan hasil jalan-jalan mereka tadi sembari menunggu Mas Nurdin sang evaluator. Vina berusaha tidur karena semalam tidurnya tak nyenyak. Berkat Ali yang menjarah Lolita, saya jadi bisa menuntaskan tugas saya mengoreksi pre test AAI. Setelahnya baru saya tega menjarah kembali novel itu dari pangkuannya agar ia bisa lebih konsentrasi pada diskusi para koleganya yang berlangsung seru.



Sesekali saya alihkan pandang dari novel ke arah mereka. Tidak kalah menarik apa yang mereka cekcokan, dari susu sampai rebung. Kendati Lido adalah manusia yang agak janggal untuk dijadikan pemimpin, setidaknya ia tak putus asa memberi hiburan bagi para anak buahnya. Humoris adalah salah satu sikap terpenting yang harus seorang ketua miliki bukan? Ocha yang ceriwis kontras dengan Ali yang tampak tak bergairah. Yang lain, saya kira cukup terjaga semangatnya.

Sebagai eks PH sekaligus DK yang diragukan kemumpuniannya, saya berusaha urun sesuatu. Untung didengarkan, haha. Satu poin penting yang saya sampaikan adalah mengenai hal paling terwarisi dari PH periode sebelumnya untuk PH periode sekarang yaitu: ketidakkompakkan!

Nur dan Cah tak kunjung datang. Para PH mulai bertanya, tak sabar ingin pulang, kendati mereka merasa mendapat banyak hal dari apa yang mereka lakukan hari ini. Hanya Ocha sih sebetulnya, yang paling sering saya dengar ia ungkapkan begitu. Semoga yang lain pun merasakan hal yang sama. Atas kebaikan hati Vina yang tak jadi bisa tidur, saya menelepon Nur. Nur bilang ia akan tiba kembali ke penginapan sekitar pukul empat sampai setengah lima sore. Sebagai informasi, Nur dan Cah sedang jadi numerator seorang teman kami, Putro, yang mengambil skripsi tentang penambang pasir. Saya tak menyangka kemudian kalau mereka mengambil data di Magelang—dikira tak jauh dari lokasi DR.

Azan ashar bergema. Untuk mengisi waktu hingga kedatangan Nur dan Cah, saya dan Vina menyusul Ali bermain bola sepak dengan beberapa orang bocah di tanah lapang samping penginapan. Berturut-turut, berganti atau bertahan, Lido, Alfa, Rheffy, dan Ocha pun serta. Saya, Vina, Ali, dan Rheffy selalu berada di kubu yang sama—Alfa sempat turun—melawan para bocah, Lido, dan Ocha. Sementara saya lihat selama kami main, Tyas dan Anggren mengurus penginapan sedangkan Alfa atau Rina mengambil potret kami. Kami, yang capek lebih karena tertawa ketimbang mengejar-ngejar bola. Sesekali melampiaskan sebal dengan kecurangan para bocah demi kemenangan—ya maklum juga sih tubuh kami lebih besar. Beberapa kali saya tertawa jumawa karena berkat saya pakai rok, gawang kubu saya jadi terselamatkan. Inilah kekuatan perempuan!

Untuk mengenang momen yang menggembirakan hati ini (juga menguras stamina Ali—striker handal kubu saya!), kami tak lupa berfoto! Seseorang memberitahu saya bahwa rok saya robek.

Melepas lelah usai bermain bola habis-habisan, saya solat ashar, packing, dan mengaso bersama teman-teman. Tidak hanya ide-ide penelitian, Ocha senang karena berkat acara DR ini ia jadi bisa menemukan potensi-potensi, di antaranya potensi sebagai pemain bola. Saya dan Rheffy sampai kepikiran untuk membuat klub kebugaran di FSC. Juga Rheffy tampaknya ingin FSC berpartisipasi dalam Pekan Olah Raga Kehutanan (PORHUT) besok dengan tim futsal putri, waha.

Alhamdulillah, Nur dan Cah—keduanya tampak lelah—datang juga akhirnya. Evaluasi dengan Mas Nurdin yang sudah malang melintang dalam dunia organisasi berlangsung hanya dalam waktu sekitar seperempat jam. Berkat keinginan pulang lekas yang membayangi sejak sebelum keberangkatan ke lokasi DR, kami tidak butuh waktu lama untuk meninggalkan penginapan.

Sebetulnya acara DR ini dirancang untuk dua malam satu hari, dengan acara masak bersama pada malam kedua. Namun karena ada ketidakkonsistenan pengurus dalam menetapkan sewa, acara masak bersama ditiadakan supaya kami menginap hanya satu malam—yang artinya dua ratus ribu rupiah kami bisa dialokasikan untuk lain hal. Saya lihat para peserta putri girang karena ini. Meski demikian, saya ingin saksikan mereka dapat mempertahankan semangat DR ini sampai dua bulan kemudian—yang konon sudah akhir kepengurusan.

Setelah kebersamaan PH FSC 2010 terekam dalam kamera, berbondong-bondong kami menembus kabut yang menyerbu. Karena Mas Birama tak jadi datang kembali, Nur-Ali-Cah harus cenglu (bonceng telu--satu motor dinaiki tiga orang).



Maaf, kepada mereka yang telah membersamai saya selama semalam sehari yang meriakan ini, untuk segala yang kurang layak, kurang menyenangkan, dan kurang memuaskan dari saya. Semoga kita selalu dalam semangat dalam usaha perbaikan dunia, diri kita dan masyarakat, dengan mengenang kata-kata Dewangga pada malam materi yang amat mengena bagi saya ini:
“Sebesar-besarnya permasalahan pribadi, itu adalah hal kecil. Sekecil-kecilnya permasalahan masyarakat, itu adalah hal besar.”
Juga sebuah lelucon dari Lido yang kiranya dapat mewakili keceriaan tawa kita (karena hanya ini yang saya ingat benar, haha, selain gombel ingusnya yang berupa selimut garis-garis),
“Kalau aa kan di Bandung, kalau ee? Di septic tank.”

Kamis, 21 Oktober 2010

Sepasang Kata yang Menjelaskan Banyak

Pada 18 Oktober 2010, saya chat dengan Pak Taufik, dosen mata kuliah Keanekaragaman Hayati (selanjutnya Kehati), via Facebook.

Saya bilang padanya bahwa kami telah berusaha mengumpulkan jurnal-jurnal yang akan jadi bahan UTS Kehati, tapi tidak semua teman yang dihubungi telah mengkonfirmasi—padahal siapa tahu sang jurnal yang akan jadi bahan ujian adalah milik mereka, berdasar tugas sebelumnya.

Awalnya saya minta judul dari jurnal-jurnal tersebut untuk diunduh sendiri, namun Pak Taufik hendak memberikan jurnal-jurnalnya ternyata. “Gimana caranya, ya?” tanya Pak Taufik. Saya menawarkan opsi agar jurnal-jurnal tersebut diunggah di 4shared.com atau dikirim ke e-mail saya untuk saya teruskan pada teman-teman.

Balasan Pak Taufik kira-kira begini, “Atau gini, gimana kalau kamu bawa flashdisk ke sini, entar saya berikan semua.”

Tanpa pikir panjang saya mengetik balasan yang isinya kira-kira begini, “Oke Pak… Begitu lebih baik, hehe… Kami ke sana sekarang!”

Padahal Pak Taufik tidak memberitahukan posisinya sedang di mana.

Pikiran saya mengasosiasikan Pak Taufik dengan Lab Pelestarian Alam. Lekas saya menutup netbook dan bersama Cah bergegas ke lab tersebut.

Sepanjang perjalanan saya tertawa amat geli (sementara Cah kurang paham lucunya di mana). Sadar, bagaimana saya bisa tahu kalau Pak Taufik ada di labnya? Bagaimana kalau ternyata dia membalas kalimat-kalimat saya tadi via gadget-nya dari suatu tempat? Rumahnya? Taman Nasional Alas Purwo? Suatu kedai kopi di Aceh? Bisa dibayangkan seandainya begitu. Saya tak sempat tahu apabila Pak Taufik balas memberitahu di mana posisinya karena buru-buru saja saya tadi menutup netbook. Lalu kami takkan menemukannya di lab, sementara dia tercenung dari suatu tempatnya, “Emangnya anak ini tau saya lagi di mana?”

Tapi logikanya memang tak mungkin Pak Taufik menyuruh saya ke sini jika ia sedang berada di tempat yang tak lazim dikunjungi mahasiswa—pada jam kerja, pada minggu UTS.

Sesampainya di Lab Pelestarian Alam, kami menemukan Pak Taufik ternyata memang sedang duduk di balik mejanya.

Lain lagi yang terjadi pada 19 Oktober 2010. Dalam rangka menunggu waktu kepemanduan AAI (Asistensi Agama Islam) di samping masjid fakultas, sempat saya menghampiri Ardian dan Nadia yang sedari lama mengobrol berdua. Nadia baru menyadari bahwa air dari tempat minumnya merembes ke mana-mana. Ardian bilang padanya, “Botol yang tutupnya kayak gini emang gitu.”

Gini yang seperti apa? Gitu yang bagaimana?

Hanya dengan melihat fisik botol tersebut, kami seolah sudah dipahamkan bahwa botol dengan tutup yang sedemikian rupa akan rentan terhadap kebocoran.

Maka gini dan gitu, ditambah pengamatan langsung, cukuplah menjelaskan sesuatu yang harus dijabarkan dalam lebih banyak kata jika melalui bahasa tulisan. Atau bahasa lisan—jika tidak mengalaminya langsung. Kamu mungkin bertanya, memang tutup botolnya yang seperti apa sih? Dan karena saya tidak bisa memperlihatkan bendanya padamu, maka tidak cukup saya hanya bilang, “Yang tutupnya kayak gini.” Gerakan pantomim oleh sepasang tangan pun kiranya tak mampu memberi bayangan. Saya harus menambahkan lebih banyak kata, bahkan memperlihatkan langsung bendanya seperti apa, bahkan kalau perlu mengujinya dengan mengisi air sampai penuh ke dalamnya.

Ke sana dan ke sini. Gini dan gitu. Betapa GJ-nya mereka! Namun siapapun yang telah paham, akan merasa bahwa sepasang kata tersebut cukup untuk mewakili banyak kata. Saya takjub benar akan kreasi berbahasa yang satu ini.

Mengingatkan saya akan konsep Blink!—kalau tidak salah, intinya adalah lintasan pikiran dalam sedetik dua detik yang memuat pengetahuan akan sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah dengan sengaja dipelajari. Hm, baca sendiri bukunya, saya juga baru baca beberapa lembar pertama, he.

Sepasang kata yang menjelaskan banyak ini tampaknya menginspirasi kreator Doraemon untuk menciptakan sebuah alat dari masa depan yang bernama “PIL INI-ITU!”—kendati bentuknya seperti kapsul.

Saya lupa cerita ini termuat di komik Doraemon nomor berapa. Guna mengefektifkan komunikasi berbelit-belit di antara dua individu, juga untuk bantu menjelaskan sesuatu yang sulit dijelaskan oleh kata-kata, Doraemon mengeluarkan alat tersebut.

Saya juga sudah lupa jalan ceritanya seperti apa. Yang jelas, dengan kapsul ini Nobita tidak perlu mendengar ocehan ibunya. Kalau ibunya hendak mengoceh, ia tinggal lemparkan saja sebagian kapsul ajaib ini ke dalam mulut ibunya, sementara ia masukkan sebagian lagi ke dalam mulutnya. Maka ocehan ibunya hanya terdengar sebagai “INI!” dan Nobita menjawabnya dengan, “…itu…”

Tak hanya menghindarkan dari kata-kata yang bikin gerah telinga, maupun melegakan jiwa karena dapat menyampaikan sesuatu yang sukar dijabarkan hanya dalam satu kata saja, Nobita memanfaatkan benar pemberian Doraemon ini—kalau bukan untuk melawan Giant, ya untuk tujuan akademislah.

Nobita belum mengerjakan PR. Dengan adanya kapsul ini, Nobita tak perlu meminta Dekisugi menjelaskan cara pengerjaan yang memusingkan secara panjang lebar. Ia tinggal memotong kapsul jadi dua, satu untuk Dekisugi dan satu untuknya. Mudah, cepat, dan tak bikin rebek kan? Hanya dengan Dekisugi mengatakan, “ini,” Nobita dapat lekas paham dan manggut-manggut, “oh, itu?!”

Jelas tak rebek. PR dikumpulkan dan Pak Guru tercengang ketika membuka PR Nobita. Pada bentangan halaman buku tulis yang terbuka lebar, ia hanya menemukan satu kata tercetak besar-besar di sana. Terdiri dari tiga huruf, dibaca, “ITU”.

Apakah itu cukup menjadi jawaban, Pak Guru?

Rabu, 20 Oktober 2010

Ole-ole Bandung

Pada 13 – 16 Oktober 2010, saya berkesempatan untuk pulang ke Bandung. Tak sedikit sesuatu menarik yang saya temu dan alami selama di sana. Saya coba mengabadikan dengan gadget yang ada, meski hasilnya pas-pasan. Inilah mereka.

13 Oktober 2010

# Gaya tidur pacarnya Welwel (1)



Belum ada yang menamainya, jadi saya sebut saja dia sebagai pacarnya Welwel. Dia bergabung dalam keluarga kami pada pertengahan tahun ini. Lumayan, untuk menakut-nakuti para tikus sebab para kucing pejantan di rumah kami tiadalah berguna. Sejak itu, kerjanya hanya diam di rumah cari-cari kesempatan untuk curi-curi dalam kesempitan, antara lain dengan menunggui saya makan. Sebagai betina, dia adalah seekor agresif. Sepertinya dia sedang hamil. Dan ternyata dia memiliki gaya tidur yang tak kalah aneh dari Welwel!


14 Oktober 2010

# Gaya tidur pacarnya Welwel (2)



Ini adalah gaya tidur lain dari pacarnya Welwel.

# Penghitung waktu mundur di lampu merah



Entah sejak kapan yang seperti ini dipasang di Bandung. Apakah memang baru-baru ini—sejak sesudah kepulangan saya ke Bandung sebelumnya—atau memang saya saja yang baru ngeh? Yang jelas saya kira Jogja lebih dulu memasang alat ini—bahkan sejak sebelum saya kuliah di sana. Akhirnya di Bandung ada juga yang begini. Foto diambil di perempatan dari Jalan Riau menuju Jalan Laswi dan dari Kosambi menuju Cicadas.

# Asbak dari kardus kecil



Saya merasa abang penjaga konter pulsa dekat rumah saya ini kreatif juga.

# Ladies Driver Zone



Olala, sudah berapa lama saya tak ke mal? Entah sejak kapan itu terpasang! Foto ini saya ambil di basement BSM, sebelum menuju Bread Talk untuk membeli sesuatu yang bisa dibagikan pada teman sekelas Inda.

Keesokan harinya, saya menyibak KOMPAS Minggu edisi triple ten dan membaca komik strip Mice di mana dia dan temannya sengaja berdandan bak wanita supaya mendapat akses parkir di zona ini.

Kapan ya, saya bisa memarkir mobil di sini? Setidaknya saya tidak harus pakai toket palsu.


15 Oktober 2010

# Eat (Beng-beng) Pray (Isya) Love (to Talk) with Juhe

Memasuki Fakultas Psikologi tidak hanya jadi anugrah bagi Juhe, tapi juga bagi saya. Entah sejak kapan pertemuan kami kerap diisi oleh pembicaraan seputar dunia intrapersonal. Amat menarik bagi saya. Saya jadi bisa mengklarifikasi spekulasi-spekulasi saya terhadap diri sendiri dan kehidupan—sepertinya sejak SMP banyak waktu saya habis hanya untuk itu. Dan sebagai calon psikolog yang baik, dia dituntut untuk mendengarkan apapun yang hendak saya katakan. Juga membuka cakrawala pikiran saya demi datangnya solusi dan inspirasi.

Sejak Despicable Me Ramadhan lalu, dan Eat Pray Love kini, adalah dua film yang cukup memberi kesan berarti bagi saya. Kalau ingin mendapat rekomendasi film-film bermutu, juga copy-nya, minta saja pada Juhe. Atau bilang sama dia, “Kalau mau ke XXI, ajak-ajak yaaa…”

Despicable Me menyampaikan sebuah pesan pada saya agar jangan mau terus-menerus dicemooh—meskipun orangtua sendiri yang melakukannya. Kita boleh gagal dalam mencapai suatu tujuan besar, tapi akhir yang jauh lebih indah adalah jika kita bisa memberi arti bagi hidup orang lain, serta membuktikan bahwa kita bisa lebih baik dari orang yang selama ini mencemooh kita. Dan bisa jadi, pencemooh terbesar dalam hidup kita adalah diri kita sendiri (catatan untuk orang dengan self esteem rendah, haha).

Kalau saya tak salah tangkap, Eat Pray Love adalah cerita mengenai seseorang yang ingin mendapatkan keseimbangan dalam hidupnya. Untuk mendapatkan itu, tidak berarti kita harus lari dari satu hal yang selama ini meresahkan kita—dalam film ini adalah cinta. Untuk menanggung risiko dari mencintai dan dicintai, adalah arti dari keseimbangan hidup itu sendiri. Kira-kira begitulah.



Sudah hampir tengah malam ketika kami pulang dari BSM karena menonton film terakhir. Juhe menginap di rumah saya dan kami mengobrol sampai sekitar pukul dua dini hari. Seperti Liz, yang tak bisa henti menciumi Felipe saat mereka sedang kasmaran-kasmarannya, padahal Liz harus bertemu Ketut, terasa berat juga bagi kami untuk mengakhiri obrolan. Tapi Juhe ada acara pukul enam pagi sementara saya jelas sudah telat untuk menonton 30 Rock. Dan kami sama mengantuk.

Ketika mentari sudah naik sepenggalan pada terang berikut, Juhe resmi jadi mahasiswa berprestasi 2010 Fakultas Psikologi UNPAD sedang saya telah sampai pada suatu kesadaran. Kesadaran bahwa saya telah mencapai tujuan saya dalam memasuki Fakultas Kehutanan UGM—khususnya jurusan KSDH. Adalah suatu perasaan puas saya dapatkan, namun membawa saya pada perenungan baru. Menetapkan tujuan adalah penting, tapi masak tujuannya hanya begitu?


16 Oktober 2010

# Dikira buah, nggak tahunya balon…



Apakah ini adalah balon yang kuat menopang tubuh saat kita menunggang di atasnya? Yang bisa kita perlakukan bak kuda-kudaan? Harus lihat umur sepertinya. Semoga laku daganganmu nan lucu ini, ya, Pak Peniup Balon… Amin…

Di tepi jalanan dekat rumah juga pernah saya temukan mang-mang jualan kepiting—yang sempat saya kira sebagai penyu.

# Yoghurt mix dj froyo



Bandung ngajak royal. Setiap kali ke Bandung, jalan bersama kawan, kerap saya keluarkan lebih dari ceban hanya untuk menghapus penasaran akan cita rasa sebuah kudapan. Beberapa tempat makan—tidak hanya di Bandung sebetulnya—memang menyajikan hidangan yang betulan enak, hanya saja harganya bisa bikin terhenyak. Namun itu dapat tertebus berkat riak-riak kecil kesenangan karena menikmatinya bersama kawan.

Kali ini saya bersama Nuhe dan seorang teman baru bernama Sari—teman kuliahnya Nuhe—di foodcourt BIP. Yang coklat-putih-kuning ialah milik saya, yang oranye-ungu-kuning adalah punya Nuhe, sedang yang putih saja merupakan pesanannya Sari. Selamat makan!

# Balkot Festival

Sayang sekali, saat kami mencapai sana, suasananya sudah GJ.





Padahal menurut spanduk, acaranya masih sampai pukul 23.00 WIB, sementara saat kami tiba di sana, azan ashar baru menyapa. Ditambah angin kencang yang disusul hujan, membuat kami ingin lekas minggat dari tempat ini.



Kata Nuhe, masih lebih baik PSB ITB kemarin. Kalau saja saya sempat mencicipi sajian-sajian utamanya, dalam waktu yang cukup untuk membuat saya merasa cukup, mungkin saya bisa bikin satu tulisan sendiri untuk mengulasnya. Tapi setidaknya lumayanlah, saya sempat lihat salah satu kendaraan hiasnya hendak pulang saat hendak ke BIP sebelum ini.

# Bandung Kreatif 2010



Diambil di jalan samping masjid di sekitar Wastukancana. Saya setuju dengan pencanangan Bandung sebagai kota kreatif—konon karena industri kreatifnya pesat, padahal bukannya kota lain tak mengusahakan demikian. Karena lahir dan besar di Bandung, saya suka menyebut diri saya sebagai orang Bandung setiap ditanya orang. Jika Bandung adalah kota kreatif, maka orang Bandung adalah orang yang kreatif. Saya orang Bandung, maka saya kreatif!

# Jalur biru



Foto ini diambil saat kami sedang berjalan menuju Jalan Ganesa. Jika jalur biru ini terus disusuri, ke kawasan Bandung utaralah kita mengarah.

Bandung terkesan hijau dan peduli lingkungan di kawasan utara, dan sebaliknya di kawasan lain. Dari mulai Taman Balkot, Taman Lansia, Taman Maluku, hingga Taman Cikapayang, semua terpusat di satu titik saja—titik yang tak jauh dari tujuan cuci mata wisatawan. Jika saya ingin mengambil skripsi tentang partisipasi masyarakat terhadap keberadaan RTH di Kota Bandung, sepertinya saya harus mengambil sampel yang banyak sekali di berbagai titik yang tersebar dalam range yang luas. Masyarakat Kota Bandung kan?—bukan masyarakat Bandung utara saja?

# Sehabis menonton Fida

Antara lain berkat dia, hampir setiap kali ke Bandung saya selalu mampir ke kawasan ITB. Sudah serasa kampus kedua saja bagi saya.

Berkat dia pula saya jadi menunda rencana kembali ke Jogja. Demi menonton pertunjukkan singkatnya. Dan mendapatkan foto ini sebagai foto favorit saya dalam rangkaian foto-foto-yang-diambil-di-Bandung-pada-13-16-Oktober-2010-menggunakan-Nokia-2630. Terima kasih pada Sari yang telah mengambilnya! Kendati kualitas gambarnya tak bagus, tetap saya memfavoritkannya. Bukankah menyenangkan bisa bermain musik bersama?—lebih-lebih kalau tahu bagaimana cara memainkan alat musiknya!






Foto ini membuat siapapun dapat mengerti apa yang saya alami jika melihat tanpa kacamata.

# Pemandangan di seberang Taman Cikapayang



O, lihatlah rona menguning pada puncak tajuk salah satu pohon. Pada kelabu yang mencair dan melarut di atas aspal. O, tidak, saya tidak hendak menjerit karena cemas akan betapa ramainya Kota Bandung. Sebab latarnya bukan oranye.

# Ruang tunggu motor



Di lampu merah perempatan menuju Jalan Laswi, Juhe tanya apakah saya sudah mengetahui kehadiran zona merah tempat kami berada saat itu. Lagi-lagi baru ngeh. Saya foto deh. Mengingatkan saya bahwa di jalanan Kota Jogja terdapat ruang dengan fungsi yang sama, yang beda adalah warna dan peruntukannya. Para pesepedalah yang mendapat keistimewaan mengisi barisan terdepan ini. Contoh ruang tunggu sepeda di Jogja diambil di perempatan Jalan Sudirman.



# Lagi-lagi penghitung waktu mundur di lampu merah



Angka 49 belum memberi arti apa-apa bagi saya kini. Pada umur segitu, mungkin saya akan sudah dapat lebih memahami perasaan orangtua saya, dengan anak-anak remaja yang sedang labil-labilnya. Tiga puluh tahun lagi—selama itu adalah proses bagi saya untuk menjadi seorang ibu yang bijaksana dalam menghadapi kelabilan anak-anaknya. Amin.

# Bintang-bintang di lantai



Sebelum menaiki Kutojaya, kena rembesan air hujan dari atapnya, dan disuruh masinis Pramex membeli tiket di Stasiun Jenar, saya disuruh Papa mengisi lambung dulu di resepsi seorang relasi—tetangga sih sepertinya. Dekat saja, di gedung milik SESKOAD dekat rumah.

Tidak banyak yang saya masukkan ke dalam lambung karena sebelumnya saya sudah menghabiskan sebungkus tahu petis di rumah. Kenikmatan yang bisa saya dapat dari sini antara lain adalah apa yang saya makan, apa yang saya ikut nyanyikan dari sudut gedung saat mbak wedding singer menembangkan I Will Fly-nya Ten 2 Five dan Semenjak Ada Dirimu-nya Andity (dengan rasa takut beser nantinya karena berada dekat pendingin), serta apa yang saya temukan pada permukaan lantai. Indah benar bukan, bintang-bintangnya? *mulai GJ*

***

Jika ini bisa menjadi suatu titik balik, akan saya nyanyikan Hari yang Terindah-nya Chaseiro bagi para kawan yang telah mencerahkan jiwa saya. Bukan berarti melenyapkan pengaruh yang kamu berikan di masa itu, kawan. Tak akan bisa saya melakukannya—sebagaimana saya tak bisa mengingkari bahwa hidup saya hanyalah untuk kini dan nanti.

Lalu untukmu, Bandung, tempat saya bernaung sejak dilibatkan dalam pelik dunia, saya pergi dulu, dengan diiringi pertanyaan mengapa saya bisa sampai mencintaimu. Membuat saya gamang. Semoga pada pertemuan kita yang berikutnya, saya bisa lihat kamu lebih indah, lebih bersih, lebih sosial, lebih bahagia… Tetaplah sejuk, tanpa harus mendinginkan jiwa. Amin.


diskleimer: dua foto diambil tidak pada saat kejadian. dua foto lagi diambil melalui milik juhe dan nuhe.

Selasa, 19 Oktober 2010

SERIEUS - Bandung, 19 Oktober

versi asli
walau lelah ku coba
tuk menggapai hatimu

rindu selalu mengganggu
tuk selalu dekatmu

adakah kau merasa
hangatnya tatapanku, oh

oh, manisnya senyummu
dan kau bukan milikku

segala yang ku beri
tak pernah berarti
berat terasa habiskan darahku
menusuk tulangku yang lelah

oh kasih... jangan kau buang cintaku...
oh kasih... tabahkanlah aku...


modifikasi
walau lelah ku coba
tuk konsen pada ujian

malas selalu mengganggu
tuk mencari hiburan

adakah kau merasa
nanarnya tatapanku, oh

oh, mirisnya senyummu
dan kau tiada membantu

materi kuliah
tak pernah berarti
berat terasa habiskan darahku
menusuk tulangku yang lelah

oh dosen... jangan kau tega padaku...
oh dosen... mudahkah ujian...


diskleimer: judulnya juga berubah jadi Jogja, 19 Oktober

Sabtu, 16 Oktober 2010

sambal penyet TBT!

nyonya teladan harus memendam kecewa ketika nona asisten kembali dari warung tanpa membawa apa-apa. baris-baris teratas dalam daftar belanja tidak ditemukannya di sana, sehingga nona asisten terlalu bingung untuk melanjutkan. jadi ia tidak membeli apa-apa.

namun nyonya teladan tak habis akal! meski hanya terhasil satu piring, nyonya teladan tetap harus urun dalam mengentas lapar di muka lantai rumah! dengan bahan-bahan seadanya, nyonya teladan ciptakan varietas baru dalam dunia persambalan: SAMBAL PENYET TBT.

kalau sayangku, anakku pernah bertandang ke Yogyakarta (ah, ya, kota nan semarak dengan seni dan budaya itu!), akan tersua banyaknya warung penyet. ada tempe penyet, tahu penyet, ayam penyet, telor penyet, segala macam penyet! o, tidak, tidak, tidak, jangan dibayangkan sebuah sajian serba gepeng anakku, sayangku, sebab yang dipenyet bukanlah lauknya, melainkan sambalnya! macam tipu-tipu saja ini, aduhai Yogyakarta, kota seribu plesetan! tak doyan nyonya teladan dengan aksi tipu-tipu, maka kali ini nyonya teladan persembahkan penyetan yang sesungguhnya! tapi tidak semua bahan dalam menu ini dipenyet sayangku, anakku. haruslah kita pandai memilah dan memilih. dan, terlebih dulu gorenglah apa yang hendak kau penyet.

nyonya teladan menggunakan sisa tempe dalam edisi kemarin sebagai bahan utama. digorenglah dulu mereka. masih dengan minyak yang sama, setelah para tempe disisihkan, cemplungkan 6 buah cengek, 1 buah cabe hijau jumbo, 2 butir bawang merah, 1 siung bawang putih, dan 1 buah tomat. semua bahan ini mudah didapat bukan? sebagiannya adalah sisa dari acara masak-memasak edisi kemarin, hohohohohoho... setelah cukup digoreng, sisihkan pula mereka. satukan dengan para tempe goreng di atas cobek dan... HANCURKAAAAN...!

sementara kau lumat mereka habis-habisan, jangan lupa tambahlah garam, sedikit air, dan mungkin 1/2 sendok teh gula pasir (yang mana nyonya teladan tak melakukannya karena lupa!) mintalah nona asisten untuk membantumu mengkukus bayam--1 ikat saja, karena lagi-lagi merupakan sisa dari edisi kemarin--dan menggoreng segenggam teri. mudah bukan?

tahap berikutnya tidak kalah mudah, sayangku, anakku, karena setelah kau lumatkan itu semua yang ada di atas cobek, kau masukkanlah kukusan bayam dan gorengan teri, lalu aduk-aduklah dengan sendok bersih hingga distribusi masing-masing setiap bahan merata.

nyonya teladan tak maksud tipu-tipu, tapi janganlah kau tertipu akan penampilan hasil karyamu yang akan menyerupai lotek.



harus kau peringatkan mereka yang beranggapan demikian, anakku, sayangku. katakanlah pada mereka bahwa ini adalah sebuah penganan yang enak dimakan dengan nasi panas dan bernama, sekali lagi, SAMBAL PENYET TEBETE alias Tempe Bayam Teri!



Rasanya, sangat amat tempe sekali...!

Jumat, 15 Oktober 2010

tahu tempe dadar bumbu geje orak-arik!

hai cinta.. apa kabar dunia? dunia pasti tambah baik, karena nyonya teladan kembali dengan sajian sederhana dengan rasa yang tak kira-kira akan setia menghempas lapar dari lambungmu!

nyonya teladan coba untuk lebih sabar. tidak seperti yang sudah-sudah, kali ini nyonya teladan menggarap satu per satu menu yang akan ditampilkan. kamu mau tahu macam mana itu anakku, sayangku? baiklah, jangan ditunda-tunda lagi ya...

yang pertama ialah TAHU TEMPE BUMBU GEJE. untuk membuat sajian ini, yang kamu butuhkan adalah 2 kotak tahu dan sejumlah tempe yang diperkirakan memadai untuk sejumlah bumbu. sejumlah bumbu macam apa itu, nyonya teladan? macam ini, anakku, sayangku... macam 8 butir bawang merah dan 3 siung bawang putih yang dipotong kecil-kecil dulu sebelum dihaluskan, 2 buah cabe hijau berukuran jumbo, 2 buah tomat yang konon mahal harganya, 2 lembar daun jeruk penggugah aroma, 3 sendok makan kecap manis, dan kaldu secukupnya.

pertama, untuk membuat kaldu, nyonya teladan merebus 2 lembar daging dalam rantang. ragam bawang yang telah dihaluskan kemudian ditumis sampai harum. potongan cabe hijau, tomat, dan daun jeruk kemudian dilemparkan ke dalamnya. diaduk-aduk sampai merata. menyusul kemudian untuk ditaruh dalam wajan ialah kecap serta komunitas tahu dan tempe yang telah matang direbus hingga rantang yang mewadahinya gosong! aduk-aduk lagi ya, sayangku, anakku. setelah itu, barulah bisa kamu campurkan kaldunya. eh, awas, dagingnya jangan sampai kebawa--karena akan kita pakai dalam menu berikutnya! nah, setelah semua bahan bersatu dalam wajan, masaklah mereka sampai kuah kaldunya mengental. mudah kan?

beginilah ia menjadi...

tampak jauh...



...dan tampak dekat...



siap beralih ke menu selanjutnya? baiklah, mari-mari-mari...! nyonya teladan perkenalkan dirimu pada DADAR ORAK-ARIK. lho, dadar apa orak-arik? ketahuilah anakku, sayangku, bahwasanya lapisan bawah ialah dadar sedang lapisan atas ialah orak-arik. hal penamaan memang berkaitan dengan persoalan teknis yang terjadi, tapi yang penting perutmu kenyang kan? ohohohohohoh...

ketahuilah pula, bahwa menu kita kali ini sungguh ramai isinya! nih ya, nyonya teladan sebutkan: 1 bawang bombay cincang, 2 buah kentang dipotong dadu, 4 butir telur, 1 ikat bayam, dan 2 lembar daging sapi yang tadi dipakai untuk membuat kaldu--dipotong dadu juga ya.

beginilah sistematika pembuatannya. perhatikan ya... pertama, kamu panaskan mentega dalam wajan. gunanya ialah untuk mensetengahmasakkan kesemua dadu kentang yang telah nona asisten potong, beserta hasil cincangan abstrak nyonya teladan! sudah setengah matang belum? kalau sudah, sisihkan dulu pekerjaan itu, sayangku, anakku. karena sekarang kita fokus pada adonan telur, bayam, daging, serta tumisan bawang bombay-kentang. jangan lupa merica dan garamnya ya, supaya ada rasa! sudah tercampur semua? baiklah... nah, sekarang panaskan lagi mentega dalam wajan, lalu, cemplungkan segala yang sudah kamu campur itu, oke? nah, terserah sekarang, kamu hendak menjadikannya dadar, orak-arik, atau dadar orak-arik. nona asisten memilih yang terakhir! hm, memang pantang menyerah ia! inilah buah semangatnya...



aduh, aduh, nyonya teladan cukup puas dengan pekerjaan hari ini. belum lagi jika ditambah dengan perkedel tahu serta perkedel tempe buatan nona asisten yang gurih punya...



papa nyonya teladan memberi nyonya teladan nilai 70 untuk tahu tempe bumbu geje! ohohohohohoho... meski akibat banyaknya tomat terkandung di dalamnya mengingatkan nyonya teladan akan kangkung rica-rica pada edisi lalu.

kepada yang berulang tahun di rumah nyonya teladan hari itu, nyonya teladan persembahkan dadar orak-arik untuknya (karena memang hanya itu yang masih tersisa!). nyonya teladan katakan itu adalah pizza!--topping-nya. temukanlah potongan daging, kentang, dan bayam di dalamnya...



cobalah memakannya dengan sambal, nyamnyamnyam!

Kamis, 14 Oktober 2010

NASI KUNING YANG MISTERIUS KARENA NYONYA TELADAN HILANG INGATAN!

nyonya teladan buka album biru dan menemukan potret-potret indah. olala, tertera pemberitahuan bahwa mereka diambil pada 10 agustus 2010--sehari sebelum dimulainya Ramadhan 1431 H. dan nyonya teladan sudah lupa, apa saja yang dibuatnya kala itu hingga terjadilah serangkaian sajian penggugah selera. namun masih nyonya teladan miliki perkamen saktinya dalam perkara masak-memasak! karena nyonya teladan hidup di era teknologi dan informasi yang tengah berkembang pesat, tak luput dalam hal kuliner pun nyonya teladan melakukan INOVASI! inilah ini, nyonya teladan berkenan hati memberi kalian intip akan sedikit bagian dalam perkamen idaman setiap wanita...

ini untuk pencuci mulutnya, sayangku, anakku, nyonya teladan bikin duluan karena rasa cinta! (baca: tahu-tahu bahan utama menyambangi dalam keadaan masih segar-segarnya, nyonya teladan pun tak mau tunggu lebih lama!)


PUDING SALJU

BAHAN COKELAT:
20 gram cokelat bubuk
100 gram gula pasir
300 cc susu
1/2 bungkus agar-agar warna putih
1 kuning telur

BAHAN PUTIH:
150 cc susu
12 bungkus agar-agar putih
50 gram gula pasir
1 putih telur
5 cetakan mangkuk ukuran sedang

CARA MEMBUAT:
1. Buat adonan cokelat. Campur bubuk cokelat bersama gula pasir, susu, dan agar-agar. Masak sampai mendidih. Kecilkan api.
2. Tuang sedikit adonan cokelat ke kuning telur sambil terus diaduk. Tuang kuning telur ke adonan cokelat. Aduk sampai rata
3. Tuang adonan cokelat ke cetakan, sisihkan.
4. Buat adonan busa. Campur susu bersama agar-agar dan gula pasir. Masak sampai mendidih.
5. Tuang kocokan putih telur ke rebusan susu. Aduh perlahan sampai rata. Tuang adonan busa ke atas bagian cokelat. Bekukan.
6. Hidangkan puding salju bersama saus vanili.

INOVASI!
susu murninya ASLI, dibawa oleh mama nyonya teladan entah dari mana, yang jelas dan pasti adalah susu sapi--tidak mungkin susu ayam! ditambah jus sirsak buatan papa nyonya teladan. tidak dimasukkan dalam cetakan mangkuk, melainkan cetakan puding biasa. rasanya enak-enak mengejutkan (karena ada rasa sirsaknya) meski terkadang ditemukan pecahan biji sirsak.


SAUS VANILI

BAHAN:
500 cc susu (ambil 25 gram campur ke kuning telur)
3 kuning telur
1 sendok makan maizena
vanili secukupnya

CARA MEMBUAT:
1. Rebus susu bersama gula sampai mendidih. Tuang larutan maizena. Masak sampai mendidih sambil diaduk.
2. Kocok kuning telur bersama gula sampai kental. Tuang rebusan susu panas sedikit demi sedikit ke adonan telur sambil terus diaduk.
3. Masak kembali sampai mendidih dengan api kecil. Tuang vanili. Aduk sampai rata. Dinginkan. Siap dihidangkan.
75 gram gula pasir.

INOVASI!
penambahan gula membuat rasa saus jadi lebih mantap, meski terdapat gumpalan-gumpalan hasil pengadukan yang tak profesional.





nah... ini dia hidangan utamanya... satu-satu ya sayangku, anakku... (meski pun nyonya teladan memasak ketiganya dalam waktu bersamaan--betapa multitasking-nya nyonya teladan! tentu dengan bantuan nona asisten nan setia, sayangku, anakku...)


OMELET MISOA JAMUR

BAHAN:
4 butir telur
30 gram misoa, rendam
50 gram jamur kancing, belah empat
3 siung bawang putih, memarkan lalu cincang
1/4 sendok teh merica
garam secukupnya
1 sendok makan minyak

CARA MEMBUAT:
1. Campur telur, misoa, jamur, bawang putih, garam, dan merica
2. Panaskan wajan dadar. Tambahkan minyak. Tuangkan campuran telur dan ke dalamnya. Biarkan di atas api kecil hingga matang. Angkat lalu potong-potong.

INOVASI!
jamur kancing diganti jamur tiram. tidak didadar, tapi diorak-arik!





KANGKUNG RICA-RICA

BAHAN:
5 butir bawang merah
2 siung bawang putih
1 buah tomat ukuran kecil
1 ruas jahe
1 ruas kunyit
1 tangkai serai, dimemarkan
garam secukupnya
10 cabe rawit utuh
1 ikat kangkung, disiangi

CARA MEMBUAT:
1. Haluskan bawang merah, bawang putih, tomat, jahe, dan kunyit. Tumis berama serai sampai harum.
2. Masukkan kangkung dan cabe rawit. Aduk-aduk sampai bumbu meresap. Boleh ditambahkan 50 cc air.

INOVASI!
meski jumlah kangkungnya sudah ditambah (jadi dua atau tiga ikat), dengan takaran bumbu sesuai resep, rasanya tetep ASEM-ASIN-ASEM gimana gitu...! (rica-rica itu maksudnya apa sih? nyonya teladan tak mengetahuinya loh!)





-resep nasi bumbu/nasi kuning tak ditemukan-

tapi meski demikian nyonya teladan tak lantas frustasi.

INOVASI!
nyonya teladan tidak menyangka hasilnya bakal jadi warna kuning, padahal nyonya teladan sudah mengikuti petunjuk dengan sebenar-benarnya kebenaran. padahal bukan "NASI KUNING TAK BERASA" judul yang tertera pada perkamen nyonya teladan. aneh bukan? namun rupanya hukum alam berkata lain. tak ada yang nyonya teladan bisa lakukan selain menghargai kodrat alamiah kaum perempuan, yaitu: menyantap hasil masakannya sendiri!





nah, sudah ya, mari kita tutup itu album biru, sebelum kamu mulai menyanyikan lagu Bunda untuk nyonya teladan, hu hu hu... jadi, sayangku, anakku, janganlah engkau ragu dalam ber-INOVASI! di bidang kuliner, karena... RESEP BELUM TENTU MEMBERIMU INFORMASI YANG BENAR!




selamat makan...! ^^

Rabu, 13 Oktober 2010

Setahun bersama Kahuripan

Perjalanan Jogja - Bandung menggunakan kereta ekonomi Kahuripan (Kediri - Bandung) sudah saya jajaki sejak Oktober tahun lalu.



Yang melatari pengalaman pertama saya naik kereta ekonomi malam-malam sendirian adalah satu, saya ingin memulihkan hubungan dengan ibu saya yang waktu itu sedang sakit, dan dua, saya hanya punya jeda waktu sebentar (Kamis malam - Minggu) setelah UTS waktu itu. Kalau saya punya seminggu mungkin saya ikhlas saja naik kelas bisnis yang harga tiketnya bisa 4 - 5 kali lipat. Untunglah sudah ada kawan seangkatan dan sejurusan sesama orang Bandung yang sudah berpengalaman naik kereta ekonomi ke Bandung, jadi saya bisa minta saran. Katanya, "Naik Kahuripan dari Lempuyangan jam setengah sepuluh malam. Naik dari gerbong yang paling belakang."

Bukannya saya tidak pernah naik kereta ekonomi sebelumnya. Saya sudah pernah naik Pasundan (Jogja - Surabaya, lalu Surabaya - Bandung) pada tahun 2005, tapi bersama banyak kenalan dan langsung dapat tempat duduk.

Pengalaman pertama saya naik Kahuripan amat mengesankan. Mulai dari murahnya harga tiket (24.000 rupiah, belum berubah sampai sekarang), ingat akan komentar orang-orang yang telah mengalami naik kereta ekonomi (penuh berjejal, tapi bisa jadi kental nilai sosial), ketar-ketir khawatir tidak mendapat tempat duduk, hingga mendapat teman-teman baru di FB :). Tak menyangka sebelumnya pada waktu itu, saya akan terjebak dalam tawa bersama para pemuda bertipe mang-mang hingga dini hari pukul dua, dan cowok di sebelah saya ternyata maba UGM yang merupakan teman SMA-nya teman SMP saya.

Saya tidak menaiki Kahuripan lagi sampai tahun 2010. Pada tahun ini, semakin kerap saja saya bertengger di dalam kereta tersebut. Hampir setiap bulan saya pulang dengannya. Tembang Perjalanan-nya Franky & Jane pun mengiringi dalam benak. Namun untuk kembali ke Jogja, saya lebih memilih tidak naik kereta yang sama. Kutojaya lebih ramah penumpang (lebih lengkap pengalaman saya naik ini bisa dibaca di sini), kendati harus naik Pramex atau bis lagi untuk mencapai Jogja.

Dengan Kahuripan, saya pernah mengalami kecele akibat perubahan jadwal. Sebelumnya, Kahuripan berangkat dari Stasiun Lempuyangan sekitar pukul setengah sepuluh malam. Waktu itu kalau tidak salah akhir Maret, saya bermaksud pulang ke Bandung untuk ikut merayakan ulang tahun ibu saya. Saya naik Trans Jogja untuk mencapai Lempuyangan. Begitu dekat stasiun, terlihat di kejauhan, sebuah kereta baru saja berangkat. Ketika dekat dengan loket, tahulah saya bahwa kereta yang barusan adalah Kahuripan. Weks! Padahal masih sekitar jam setengah sembilan malam waktu itu! Setengah berlari, saya lekas menuju shelter Trans Jogja kembali untuk menuju Stasiun Tugu. Niat sekali saya pulang ke Bandung waktu itu, demi ibu dan janji bertemu seorang kawan. Alhamdulillah, saya berhasil mendapat sebuah bangku di kelas bisnis Lodaya, meski sempat dengar komentar orang ("ngopo e?") yang lihat saya lari-lari dari shelter ke Tugu (takut tak keburu mengejar Lodaya!). Memang bukan musim liburan waktu itu. Saya tidak bilang sama orangtua saya esok paginya. bahwa saya telah menghabiskan cepe kali seceng hanya untuk tiga hari dua malam di Bandung, ha.

Masih soal jadwal, pernah Kahuripan baru menyambangi Lempuyangan pada sekitar pukul sebelas malam. Selama hampir dua jam, kami para calon penumpang yang letih menunggu, selalu menyoraki setiap pemberitahuan kedatangan kereta apabila nama kereta yang disebut bukanlah "Kahuripan". Pengaretan yang luar biasa ini menyebabkan saya baru tiba di Stasiun Kiaracondong pada sekitar pukul setengah sepuluh pagi.

Setiap naik Kahuripan, alhamdulillah, saya selalu langsung mendapat bangku. Kecuali pada H-7 Lebaran lalu. Saya baru dapat bangku sendiri begitu sampai Banjar--sebelumnya saya berdiri, kalau bukan menduduki kardus orang! Baru sekarang, oh, aku rasakan, begitu kata Mas'ud Sidik dalam lagunya, Duda, sebenar-benarnya derita dalam menaiki kereta ekonomi. Saat kereta masih berhenti di Lempuyangan, saya sempat ragu apakah dia masih bisa memuat saya. Tapi kalau saya tidak memaksakan diri menjejalkan diri ke dalam, bisa-bisa saya ketinggalan karena kereta sudah akan berangkat lagi! Dan di dalamnya... sudah panas, mengantuk, berdiri saja susah, disenggol-senggol pedagang asongan yang tak henti berseliweran pula. Saya lihat mereka yang senasib hanya bisa bertampang pasrah. O, inilah wajah kita, wajah transportasi Indonesia! Seorang ibu bahkan gelisah karena tidak bisa meloloskan hasrat ingin pipis anaknya--karena toiletnya saja penuh barang! Ibu tersebut sempat turun sebentar dengan anaknya itu di Stasiun Kutoarjo, karena ada yang bilang kereta akan berhenti cukup lama. Seorang anaknya lagi dititipkan pada saya. Belum lama menunggu, kereta sudah bergerak lagi! Gantian saya yang panik! Tapi happy ending kok jadinya.

Pengalaman selanjutnya seakan membayar derita saya dalam pengalaman sebelumnya. Dua belas Oktober 2010 malam seakan jadi peringatan setahun perkenalan saya dengan Kahuripan. Bedanya dengan setahun lalu, sekarang ibu saya, alhamdulillah, sudah tidak sakit lagi dan saya pulang bukannya setelah UTS, melainkan di pertengahan UTS.

Saya tidak tahu apakah UTS di FKT UGM sudah pernah diselenggarakan selama dua minggu sebelumnya apa belum. Yang jelas, mau seminggu atau dua minggu bagi saya semester ini sama saja. Minggu pertama saya ujian hanya Selasa sedang minggu kedua saya ujian pada Senin, Selasa, dan Kamis. Baik Senin maupun Selasa, sama-sama ujian tiga kali. Makanya saya punya jeda waktu untuk pulang.

Ada beda, ada pula sama. Sama mengesankan, saya ingin katakan.

Di tiket, tertera bahwa Kahuripan berangkat pukul 20.20. Memang dia datang agak mengaret beberapa menit. Tapi lebih cepat dari yang saya kira. Atau mungkin setting jam di ponsel saya saja yang sedang agak bermasalah.

Begitu dengar speaker mengumandangkan pengumuman kedatangan Kahuripan, refleks saya tinggalkan mbak-mbak lulusan UIN asal Sidareja yang jadi kawan mengobrol saya. Padahal kami sudah sampai membahas soal perempuan perokok segala. Saya merasa jahat kemudian, ini bukan yang sekali pula. Pada pengalaman sebelumnya, saya berkenalan dengan siswi SMAN 4 Yogyakarta. Ada ibu dan adiknya juga. Pengalaman pertamanya naik Kahuripan, kiranya. Sudah mengobrol cukup akrab, begitu Kahuripan datang, saya lantas menjauh. Bukannya bantu membawakan barang atau apa. Hehe. Namun adalah saya dalam keyakinan bahwa orang jahat sejati tidak akan menyadari dirinya jahat. Karena saya sadar, saya berharap tidak akan mengulangi hal yang sama, insya Allah.

Tidak ingin mengulangi pengalaman sebelumnya pula (menunggu kereta di bagian tengah, di sebelah kanan jalur), saya cari aman saja. Saya menunggu di tempat yang gerbong paling belakang kereta diperkirakan akan berhenti di situ, di sebelah kiri jalur. He, tahunya keretanya jalan terus. Jadilah saya dan beberapa orang senasib mengejar-ngejar pintu. Pintu yang mana saja, yang terdekat dan tidak sedang berjalan karena bisa memberi akibat kecelakaan. Dari jendela, terlihat cukup banyak bangku yang tak terduduki. Sungguh memberi harapan.

Akhirnya, saya masuk lewat pintu paling belakang. Memang, namanya sudah jadi tabiat, kami berebut masuk melalui celah nan relatif sempit itu. Saling dorong, memaksakan diri, alhamdulillah ada yang mau mengalah. Saya merasa konyol kemudian dengan adegan tersebut, karena, Kahuripan agak lowong pada malam itu ternyata.

Saya melewati bertubi-tubi bangku yang hanya dimuati seorang-dua orang--sambil tiduran pula. Saya punya lebih banyak pilihan hendak menempati bangku yang mana. Woa. Woa. Woa. Inilah surga dunia... menurut ukuran calon penumpang kereta ekonomi. Penyesalan saya karena sudah meninggalkan kawan mengobrol tertepis oleh ketakjuban ini. Oh, pastilah kawan mengobrol saya tadi, dengan ragam bawaannya, dapat langsung pula menemukan tempat duduk. Saya jadi lebih tenang. Bahkan hingga kereta berjalan pun, tampaknya masih ada lahan untuk duduk di atas bangku.

Awalnya saya pilih tempat duduk di samping seorang lelaki berwajah cukup menyeramkan, lalu pindah ke samping mbak-mbak berjilbab, lalu pindah lagi ke bangku sebelah karena ada lahan kosong dekat jendela. Saya suka tempat duduk dekat jendela! Kendati lantainya agak licin terasa oleh alas kaki saya--oh, semoga kotor yang saya pijaki ini bukan karena muntahan yang mengering!

Dalam luapan gembira, saya membagi kesenangan akan keadaan Kahuripan yang relatif lowong ini pada kawan-kawan kampus terakhir yang saya temui. Juga pada semua yang mengenal saya di Facebook. Hurah!

Dan adalah malam itu, setelah menatap indahnya kelam malam lewat jendela, membuka-buka buku ajar Pengolahan Hasil Hutan karangan Kasmudjo, membawa kata "Rewulu" dan "Sentolo", saya menghabiskan sebagian besar waktu saya dalam Kahuripan malam itu dengan memejamkan mata dan memperbaiki posisi duduk. Ransel saya jadikan pengganti bantal, untuk jadi penopang atau dipeluk.

Demikian pun mas-mas di depan saya. Setelah membiarkan tutup botol Aqua 1,5 L-nya jatuh entah ke mana, dia pulas tidur dengan mulut mangap. Setiap kali mata saya terbuka di tengah perbaikan posisi duduk, senantiasa pemandangan itu yang saya dapatkan.

Masih gelap di luar ketika seorang bapak-bapak berambut cepak, berjenggot, berkacamata, bercelana ngatung--tipe-tipe yang seperti itulah--menggantikan seorang anak kecil yang dalam setengah perjalanan awal jadi kawan sebangku saya. Dengan teganya, bapak tersebut membangunkan saya (yang jelas-jelas sedang tidur dengan jaket menutup muka) hanya untuk mengajak mengobrol! Saya merespon dia seadanya, karena bagaimanapun kesadaran saya masih di awang-awang. Hal ini tak terjadi sekali. Sampai saya menyadari kepergian bapak tersebut. Saya menerka-nerka, apakah mungkin dia manusia jelmaan malaikat yang sengaja ingin membangunkan saya untuk solat malam. Solat malam di dalam kereta ekonomi?! Tapi dari kata-katanya yang sempat saya tangkap dalam usaha mengajak saya mengobrol, sepertinya dia hanya seorang bapak-bapak iseng.

Sekali membuka mata, tampak di luar mulai terang. Sebelum itu, saat masih gelap, silih berganti orang duduk di samping kami--saya dan mas-mas kebo--yang hampir di sepanjang jalan terlelap. Salah seorang yang paling sering mampir adalah seorang ibu-ibu berambut pendek yang berdagang makanan. Duduk di samping mas-mas, dengan baskom berisi telor, tempe, dan sebagainya di bangku seberangnya. Dari pemandangan sekilas itu (karena mata saya lekas terkatup lagi), bisa saya pahami beban berat yang harus ibu itu pikul. Begitu pun para pedangan asongan lain di hari sepi penumpang seperti ini. Saya juga dengar kata "Tasik", "Garut", "Leles", "Nggak berhenti di Cibatu", dan semacamnya disebut-sebut. Sempat juga bangku-bangku di sekitar saya terlihat penuh terisi orang.

Kali terakhir membuka mata, di sebelah kiri saya adalah deretan pemukiman padat nan kumuh yang berjalan. Hm, pemandangan di mana lagi ini kalau bukan di... ini sudah sampai Kota Bandung?! Padahal masih kesan sendu pagi selepas subuh yang tertangkap di sana.

Mas-mas di depan saya juga sudah bangun rupanya, dan dia minum air dari botol Aqua 1,5 L-nya yang tanpa tutup semalaman. Saya bertanya padanya untuk memastikan apakah saat itu memang kami sudah di Bandung. Dia mengiyakan, dengan heran mengira saya belum terbiasa dengan perjalanan ini. Dan ternyata kami sudah dekat dengan Kiaracondong!

Olala, takjub kedua saya. Kalau naik Lodaya, saya tidak akan heran ketika sampai di Stasiun Bandung menjelang pukul enam pagi. Tapi ini Kahuripan gitu loh... yang biasanya baru tiba sekitar pukul delapan pagi di Kiaracondong... Sekian kali naik Kahuripan, belum pernah dia sampai secepat ini. Mas-mas tersebut akhirnya mengerti ketakjuban saya. Dia menambahkan bahwa di luar sedang hujan. Hm, pantas juga.

Lewat pintu paling belakang lagi, saya menapakkan alas kaki pada basahnya Bandung. Kota yang membesarkan saya, yang selalu melingkupi saya dengan hawa sejuk, menyambut saya dalam naungan sendu sisa hujan, betapa manisnya!

Saya memutuskan untuk ke luar dari kawasan stasiun dengan menyusuri rel saja, ketimbang lewat pintu peron dan melalui sejuta kubangan yang dikepung rujit. Meskipun... ujung-ujungnya tetap saya harus berjalan beriringan dengan pasar, sesama pejalan kaki, pengendara motor, dan angkot dalam satu lajur jalan. Siapapun mereka yang baru pertama kali berkunjung ke Bandung karena penasaran akan keindahannya, disarankan untuk turun di Stasiun Bandung saja. Pemandangan dan suasana yang akan didapat sepertinya masih mendingan ketimbang kalau turun di Kiaracondong. Inilah wajah Kiaracondong di pagi hari:



Masih Kahuripan di sebelah kanan saya, dan "CPROT", seseorang dari dalamnya membuang suatu cairan yang menciprati kedua belah kaki saya. Saya meraba-raba kepala dan pundak, kalau-kalau kena, alhamdulillah tidak. Saya mencolek salah satu jari kaki saya yang jadi berhiaskan bercak-bercak merona. Hm, tercium seperti kopi.

Penutup yang indah bukan?


fyi: jarak dari Stasiun Kiaracondong ke rumah saya ternyata sekitar tiga per empat jam lebih jalan kaki.