LAINNYA

Minggu, 10 Oktober 2010

Segelintir Pernak-Pernik Hidup Saya Agustus - Oktober 2010

9 Agustus 2010





Foto ini diambil di lorong menuju Museum Pos Indonesia, Gedung Sate, Bandung.

Wajah makhluk di balik lubang adalah milik seorang adik saya. Ito namanya.

Sekalian saya hendak mengirim paket untuk Isti di Jogja jadi harus ke kantor pos, sekalian Ito dijemput dari Ganesha Operation, sekalian Papa ada perlu di Gedung Sate. Sementara urusan saya sudah selesai, sembari menunggu Papa, saya mengajak Ito jalan-jalan ke Musem Pos.

Waktu kelas 4 SD, saya sering mampir ke tempat ini, berharap mendapat oleh-oleh. Sebab, teman-teman saya yang baru dari sana kerap kembali dengan membawa notebook-lah, apalah. Kendati demikian, hingga kali ke sekian saya ke sana, belum pernah saya mendapat sang incaran.

Saya pada masa itu adalah dekat dengan benda-benda pos. Saya memiliki beberapa sahabat pena, mengoleksi perangko, dan mendapat cukup banyak benda berlogo PT. Pos Indonesia dari Papa yang masih bekerja.


10 Agustus 2010



Ini adalah hasil rajutan pertama saya, dibimbing oleh seorang guru yang sabar, yang tercinta Nurfitri Yulianty.

Memang tidak rapi benar, namun secara ini kali pertama, saya bangga sekali waktu itu. Sempat ingin saya ulas dalam “proyek nyonya teladan”, tapi tak jadi karena saya tidak kunjung mengalami kemajuan berarti.

Karena memakai benang Nur, saya tinggal karya pertama saya ini di kamarnya. Entahlah, mungkin sudah diurai lagi.

Di rumah, saya mencoba lagi dengan benang yang ada—memakai ujung satu dari kumparan yang ujung lainnya telah adik saya rajut juga. Hasilnya adalah sebuah trapesium, waha. Saya tak pakai menghitung lubang saat merajutnya, jadi saja bentuknya tak keruan.

Selama beberapa hari saya larut dalam keasikan merajut hingga saya harus kembali ke Jogja. Meski sang rajutan dibawa serta, saya khilaf untuk meneruskan keterampilan ini. Beberapa hari tak disentuh, saya sudah lupa caranya mengait benang. Akhirnya sang rajutan kembali saya bawa pulang. Lupa sudah saya di mana menaruhnya.


12 Agustus 2010



Sebenarnya ini adalah sebuah foto porno. Pada suatu malam, saya dan para anggota keluarga saya yang manusia dibuat takjub oleh gaya tidur Welwel—nama kucing dalam foto ini. Dan lihatlah itu, apa yang mencuat di antara dua kaki belakangnya yang terangkat!


9 September 2010



Ini hanya satu sebab yang menggelitik kami sepanjang pagi. Bayangkan, sebuah toilet yang bisa naik turun sebagaimana kita pengunjung mau. Dengan orang mengejan di atas kloset di dalamnya. He he. Eh, itu mah toilet lift deng.

H-1 Lebaran 1431 H, sejak hari masih gelap, Juhe sudah menculik saya untuk menemaninya beli kerudung. Saya dibawanya kelayapan, mulai dari kawasan IPTN hingga putar-putar pusat kota. Entah sudah berapa kali kami melintasi aspal yang sama di salah satu ruas jalan di kawasan alun-alun. Dengan saya di belakangnya, menyanyikan lagu-lagu Chaseiro, sempat meliput macam-macam pakai ponselnya—semua demi menunggu waktunya Pasar Baru buka!

Kami tak sendiri rupanya. Sempat kami melewati beberapa ibu-ibu di puncak eskalator yang belum dijalankan, menanyai kami kapankah kios-kios akan buka. Ya mana tahu atuh Ibu, kami juga sedang menunggu!

Dari mulai barisan pintu abu-abu yang kami sisiri, hingga rentetan baju-baju. Cukup lama kami di sana. Dari sejuk menerpa hingga gerah mendera. Namun tetap, disorientasi arah kerap menyapa. Juhe yang pusing dalam arti non harfiah karena dititipi macam-macam oleh saudaranya.

Saya menemani saja, sembari menyadari letupan-letupan kelucuan yang saya dapatkan dari berbagai hal yang saya lihat. Juhe juga menyadarinya. Kami ketawa-ketawa GJ bersama. Saya sampai terpikir untuk membuat sebuah posting-an blog khusus untuk itu. Memang akhirnya saya tak sempat, karena saat itu saya tengah menggarap novel yang waktu penyelesaiannya saya tenggat.

Ini adalah catatan yang saya buat di ponsel sebagai pengingat. Semoga ada secercah kelucuan yang bisa kamu dapat:

“Claustophobia + Agoraphobia = MONK. AC jadi aseng. Toilet parkir. Toilet eskalator. Pasar tradisional kok di Pasar Baru. Belum beli apa-apa, udah ditawarin belanja lagi. Eskalator tiba-tiba jalan. Gamis hip hop. Keluarkan aku dari jepitan orang-orang. Follower? Punya Twitter aja nggak. Tidak bisa berpaling dari toko pakaian dalam. Bertemu aa-aa tambatan hati di Pasar Baru.”


11 September 2010



Ini adalah tampak belakang mobil om saya. Entah ada afilisiasi macam apa antara om saya dengan goyobod. Mungkin dia seorang penggemar goyobod.

Goyobod adalah suatu minuman yang bisa kamu peroleh di dekat rumah saya di Bandung atau di Taman Ganesha ITB. Dapat menghapus dahaga apabila diminum saat panas, tapi sepertinya enak dirasa juga saat hujan. Baru sekali saya mencobanya, sehingga goyobod menjadi sebuah minuman yang meninggalkan kesan mendalam dalam benak saya.


2 Oktober 2010



Foto ini saya ambil di menit-menit terakhir saya di Gelanggang UGM. Dua orang dengan protector merah dan biru itu hendak sparring. Sang wasit (?) berkaos hitam di tengah mereka. Perisai Diri UGM tak boleh ketinggalan dong dalam setiap event pertandingan, maka pada malam itu saya jadi penonton mereka yang latih tanding juga seni tunggal.

Saat itu sudah hampir pukul setengah delapan malam. Kesadaran untuk mengisi perut sudah menepuk-nepuk punggung saya karena pada hari itu saya puasa tanpa menu sahur yang memadai, latihan Perisai Diri sorenya, dan baru berbuka dengan dua teguk Pocari Sweat dan sekotak teh. Saat latihan, saya menghiba-hiba terus saja dalam hati agar semakin gelap di luar—waktunya latihan diakhiri, he…

Saya mulai mengikuti latihan Perisai Diri sekitar akhir bulan Mei lalu—atau awal bulan Juni ya? Tak ingat persis. Di sini saya mempelajari banyak gerakan yang menuntut kelincahan dan keseimbangan tubuh.

Menyenangkan sebenarnya, setiap latihan Perisai Diri ini. Tak jarang diiringi senyum atau tawa, pada diri sendiri atau sesama dasar satu atau pelatih, karena terus menerus melakukan kesalahan. Namun demikian para pelatih selalu dapat memaklumi, dengan kalimat “nggak apa-apa salah, ikutin aja, lama-lama juga bisa…” yang cukup membesarkan hati. Mungkin itu jadi salah satu sebab mengapa saya selalu pulang dengan hati puas seusai latihan.


9 Oktober 2010



Tadinya mau brunch di Warung Santai, namun hujan menjebak saya di kamar kos dengan mi goreng vegetarian dan nomor PIN yang keblokir (betapa tenangnya hidup tanpa penantian akan siulan dari ponsel!).

Tanpa sadar, saya mengaduk mi dengan bumbu hingga terbentuk suatu hati. Dari hati untuk perut. Maklum, masak dua bungkus, saya sempat berhenti sejenak sebelum mengosongkan piring—tanpa menyisakan mi sehelai pun! Kendati sudah dibonusi lobak kering (yang saya kira bentuknya akan seperti miniatur lobak, ternyata hanya kriuk-kriuk biasa yang rasanya tak saya cermati), saya tambahkan dua buah kerupuk kasur sebagai lauk.

3 komentar:

  1. muhaha dyah kamu mirip banget sama bulik aku di Pati!
    wah aku terharu kamu selalu memakai bando itu. kalo longgar dikencengin lagi aja.

    BalasHapus
  2. :D
    gak nyangka..
    lucu juga y..tiap cerita km dyah..haha, ditmbah foto.foto.wohohoh..np ga minta ajarin mama ngerajut ajj??

    BalasHapus
  3. @fida: udah! dan longgar lagi, tapi tak mengapa, dikencangkan lagi.

    @rizkita: mama saya ga bisa ngerajut... TT.TT

    BalasHapus