LAINNYA

Jumat, 27 Desember 2013

"Pesta yang Dicuri" - Liliana Heker [1982]

Begitu sampai, ia langsung ke dapur untuk melihat adakah monyet di sana. Ada: betapa leganya! Ia tidak akan senang kalau ibunya yang benar. Monyet di pesta ulang tahun! Ibunya menyeringai. Yang benar saja, percaya yang aneh-aneh saja macam begitu! Ibunya marah, tapi bukan karena monyet, pikir gadis itu; melainkan karena pestanya.

“Ibu tidak suka kamu pergi,” kata ibunya. “Itu pestanya orang kaya.”

“Orang kaya juga masuk Surga,” imbuh si gadis, yang belajar agama di sekolahnya.

“Surga apaan,” sahut si ibu. “Masalahnya itu kamu, nona muda, kamu itu kalau kentut lebih tinggi dari pantatmu.”

Gadis itu tidak senang dengan cara ibunya bicara. Usianya hampir sembilan tahun, dan ia salah satu anak terbaik di kelasnya.

“Aku kan pergi karena aku diundang,” ujarnya. “Dan aku diundang karena Luciana itu temanku. Begitu.”

“Oh iya, temanmu,” gerutu ibunya. Diam sejenak. “Dengar, Rosaura,” akhirnya ia berkata. “Dia itu bukan temanmu. Kamu sadar kamu ini siapanya mereka? Anak pembantu, itulah kamu.”

Rosaura mengejapkan mata berkali-kali:  ia ingin menangis. Lantas ia memekik: “Ibu diam saja deh! Ibu sendiri tidak punya teman!”

Tiap sore ia ke rumah Luciana. Mereka berdua akan mengerjakan PR mereka sementara ibu Rosaura membersihkan rumah. Sambil mengudap teh di dapur, mereka bertukar rahasia. Rosaura menyukai apapun yang ada di rumah besar itu. Ia juga menyukai orang-orang yang tinggal di sana.

“Pokoknya aku mau pergi, soalnya itu bakal jadi pesta paling menyenangkan di seluruh dunia, Luciana bilang begitu. Bakal ada pesulap, monyet, macam-macam deh.”

Si ibu berpaling supaya bisa menatap anaknya dengan saksama. Dengan angkuh ia tempelkan tangannya ke bibir.

“Monyet di pesta ulang tahun?” ujarnya. “Yang benar saja, percaya yang aneh-aneh saja macam begitu.”

Rosaura amat tersinggung. Ia pikir betapa tidak adil ibunya menuduh orang lain pembohong hanya karena mereka kaya. Rosaura juga ingin kaya, tentu. Kalau suatu hari ia bisa tinggal di istana yang indah, apakah ibunya akan berhenti menyayanginya? Ia merasa amat sedih. Ia menginginkan pesta itu lebih dari apapun di dunia ini.

“Aku bisa mati kalau aku tidak pergi,” lirihnya, bibirnya hampir tidak bergerak.

Ia tidak yakin ibunya dengar. Namun pagi-pagi di hari pesta tersebut, ia lihat ibunya menganji gaun Natalnya. Sorenya, setelah mengeramasi rambutnya, ibunya membilas baju itu dengan cuka apel supaya halus dan berkilauan. Sebelum pergi, Rosaura mengagumi dirinya di cermin dengan gaun putih dan rambut mengilap. Menurutnya ia terlihat amat cantik.

Bahkan Señora Ines pun memerhatikannya. Begitu wanita itu melihatnya, ia berkata:

“Cantik sekali kamu hari ini, Rosaura.”

Rosaura melambaikan sedikit roknya yang berkanji dengan tangan, dan berjalan menuju pesta dengan langkah mantap. Ia ucapkan halo pada Luciana dan menanyakan soal monyet. Dengan tatapan penuh rahasia, Luciana berbisik ke telinga Rosaura: “Dia di dapur. Tapi jangan kasih tahu siapa-siapa, soalnya itu kejutan.”

Rosaura ingin memastikan. Dengan hati-hati, ia masuki dapur. Di sana ia melihatnya: khusyuk termenung dalam kandangnya. Hewan itu tampak begitu lucu sehingga si gadis terpaku di sana beberapa lama, mengamatinya, dan kemudian, sering sekali, ia menyelinap keluar dari pesta diam-diam untuk mengagumi si hewan. Rosaura adalah satu-satunya anak yang diperbolehkan memasuki dapur. Señora Ines yang bilang: “Kamu sih boleh, yang lainnya jangan, mereka terlalu ramai, bisa-bisa ada yang pecah.” Rosaura tidak pernah memecahkan apapun. Bahkan ia yang memegang wadah berisi jus jeruk, membawanya dari dapur ke ruang makan. Ia memegangnya hati-hati dan tidak menumpahkan setetespun. Kata Señora Ines: “Kamu yakin bisa membawa wadah sebesar itu?” Tentu saja bisa. Ia bukan orang yang sering menjatuhkan barang dari pegangannya, seperti anak-anak lainnya. Seperti gadis pirang dengan pita di rambutnya itu. Begitu melihat Rosaura, gadis berpita itu berkata:

“Kalau kamu, kamu siapa?”

“Aku temannya Luciana,” kata Rosaura.

“Bukan,” kata si gadis berpita, “kamu bukan temannya Luciana. Aku sepupunya. Aku kenal semua temannya. Tapi aku tidak kenal kamu.”

“Terus kenapa,” sahut Rosaura. “Aku ke sini tiap sore dengan ibuku. Kami mengerjakan PR sama-sama.”

“Kamu dan ibumu mengerjakan PR sama-sama?” gadis berpita itu tertawa.

“Aku dan Luciana yang mengerjakan PR sama-sama,” tegas Rosaura dengan amat serius.

Si gadis berpita angkat bahu.

“Itu bukan teman namanya,” ujarnya. “Kalian ke sekolah bareng?”

“Tidak.”

“Jadi kamu kenal dia dari mana?” gadis itu mulai tidak sabar.

Rosaura ingat kata-kata ibunya sepenuhnya. Ia menghela napas dalam-dalam.

“Aku anaknya karyawan sini,” ucapnya.

Ibunya telah menyatakannya dengan amat jelas: “Kalau ada yang tanya, bilang saja kamu anaknya karyawan sini, itu saja.’ Ia juga berpesan untuk menambahkan: “Dan aku bangga.” Tapi Rosaura pikir sampai kapanpun dalam hidupnya tidak akan pernah berani ia melontarkan hal semacam itu.

“Karyawan apa?” tanya gadis berpita itu. “Karyawan toko?”

“Bukan,” tukas Rosaura dengan marah. “Ibuku tidak jualan di toko manapun, begitu.”

“Jadi kok bisa ibumu itu karyawan?”cecar si gadis berpita.

Seketika itu Señora Ines muncul sembari mendesis shh shh, dan meminta Rosaura kalau tidak keberatan untuk membantu menyiapkan roti sosis, lagipula ia hapal isi rumah itu ketimbang yang lainnya.

“Lihat kan?” ucap Rosaura pada si gadis berpita. Ketika tidak ada yang melihat, ia tendang tulang kering gadis itu.

Selain daripada si gadis berpita, yang lainnya sangat menyenangkan. Yang paling ia senangi adalah Luciana, dengan mahkota emasnya; lalu para anak lelaki. Rosaura memenangkan balap karung. Tidak seorangpun berhasil menangkapnya ketika mereka bermain kejar-kejaran. Ketika mereka dibagi menjadi dua tim untuk permainan tebak kata, semua anak lelaki menginginkannya berada di tim mereka. Rosaura merasa tidak pernah sebahagia itu dalam hidupnya.

Namun yang paling menyenangkan yaitu setelah Luciana meniup lilinnya. Mula-mula pembagian kue. Señora Ines memintanya untuk membantu mengedarkan kue. Rosaura amat menikmati tugasnya. Semua orang memanggil-manggilnya, menyerukan “Aku, aku!” Rosaura ingat cerita tentang seorang ratu yang memiliki kuasa untuk menentukan hidup dan mati rakyatnya. Ia selalu senang akan hal itu, memiliki kekuasaan atas hidup dan mati. Untuk Luciana dan para anak lelaki, ia berikan potongan yang besar, dan pada si gadis berpita ia berikan seiris tipis sampai-sampai nyaris tembus pandang.

Setelah pembagian kue, muncullah si pesulap, tinggi dan kurus, mengenakan topi merah runcing. Pesulap sungguhan: ia bisa mengurai banyak sapu tangan dengan meniupnya, dan menyambung mata rantai yang tidak ada lubangnya. Ia bisa menebak kartu apa saja yang diambil dari tumpukan, dan si monyet adalah asistennya. Ia menyebut monyetnya “partner”. “Lihat ke sini, partner,” begitulah katanya, “balikkan kartunya.” Dan, “Jangan kabur, partner, sekarang waktunya kerja.”

Permainan yang terakhir amatlah menakjubkan. Salah seorang anak harus menggendong monyet dan si pesulap bilang ia akan membuatnya menghilang.

“Siapa yang hilang, anaknya?” semua berseru.

“Bukan, monyetnya!” si pesulap balik berseru.

Pikir Rosaura ini benar-benar pesta paling lucu sejagat raya.

Si pesulap meminta seorang bocah gemuk untuk membantu, tapi bocah itu ketakutan dan menjatuhkan monyetnya ke lantai. Si tukang sulap mengangkat monyet itu hati-hati, membisikkan sesuatu ke telinganya, dan hewan itu mengangguk-angguk seakan mengerti.

“Kamu kok sangat pengecut sih, teman,” kata si pesulap pada si bocah gemuk.

“Apa itu pengecut?” tanya bocah itu.

Si pesulap berlagak seolah ada mata-mata.

“Banci,” kata si pesulap. “Duduklah.”

Lalu ia menatap satu per satu wajah di depannya. Rosaura merasakan jantungnya berdebar kencang.

“Kamu, yang bermata Spanyol,” kata si pesulap. Semua orang menyaksikannya menunjuk gadis itu.

Ia tidak takut. Sewaktu menggendong si monyet, maupun ketika si pesulap melenyapkannya; bahkan tidak ketika, akhirnya, si tukang sulap menjebloskan topi merahnya ke kepala Rosaura dan mengucapkan kata-kata ajaib… dan si monyet muncul lagi, mengoceh dengan gembira, dalam gendongannya. Anak-anak bertepuk tangan dengan heboh. Sebelum Rosaura kembali ke tempat duduknya, si pesulap berkata:

“Terima kasih banyak, tuan putri.”

Ia begitu senang dengan pujian itu. Ketika ibunya datang menjemputnya, itulah yang pertama-tama ia sampaikan.

“Aku membantu pesulap itu dan dia bilang padaku, ‘Terima kasih banyak, tuan putri.’”

Rasanya aneh karena berikutnya Rosaura sadar kalau ia tadinya marah pada ibunya. Dari awal Rosaura sudah membayangkan berkata pada ibunya: “Monyetnya bukan bohongan kan?” Tapi ia malah terlalu senang sehingga yang ia sampaikan pada ibunya adalah pesulap yang menakjubkan itu.

Ibunya menepuk kepalanya dan berkata: “Jadi sekarang kita ini tuan putri!”

Ia tampak berseri-seri.

Mereka berdua pun berdiri di pintu masuk karena beberapa saat lalu sembari tersenyum Señora Ines berkata: “Tolong tunggu sebentar ya.”

Ibunya mendadak tampak cemas.

“Ada apa ya?” tanyanya pada Rosaura.

“Ada apa kenapa?” ujar Rosaura. “Tidak ada apa-apa kok; beliau cuma ingin kasih hadiah buat yang mau pulang, lihat kan.”

Ia menunjuk si bocah gemuk dan seorang gadis berkucir yang juga menunggu di sana, di samping ibu mereka. Ia jelaskan soal hadiah itu. Ia tahu, karena ia telah mengamati siapa-siapa yang sudah pulang lebih dulu. Ketika salah seorang anak perempuan hendak pulang, Señora Ines akan memberinya sebuah gelang. Kalau anak lelaki, Señora Ines memberinya yoyo. Rosaura lebih memilih yoyo karena benda itu tampak berkilauan, tapi ia tidak memberitahu ibunya. Ibunya mungkin berkata: “Jadi kenapa kamu tidak minta saja, tolol?” Seperti itulah ibunya. Rosaura akan merasa amat malu. Yang ia katakan malah:

“Aku yang sikapnya paling sopan di pesta.”

Ia tidak berkata apa-apa lagi karena Señora Ines muncul di ruangan dengan dua tas, yang satu jambon dan lainnya biru.

Mula-mula ia menghampiri si bocah gemuk, memberinya sebuah yoyo dari tas yang biru, dan bocah itu berlalu bersama ibunya. Lalu ia mendekati si anak perempuan dan memberinya gelang dari tas yang jambon, dan gadis berkucir itupun pergi.

Akhirnya ia menuju Rosaura dan ibunya. Wajahnya tersenyum lebar, Rosaura menyukainya. Señora Ines menunduk ke arahnya, lalu memandang ibunya, dan kata-katanya membuat Rosaura bangga:

“Putrimu mengagumkan, Herminia.”

Sesaat, Rosaura kira ia akan diberi dua hadiah sekaligus: gelang dan yoyo. Señora Ines membungkuk seakan hendak mencari-cari sesuatu. Rosaura pun condong ke depan, merentangkan lengannya. Namun gerakannya terhenti.

Mata Señora Ines tidak terarah pada tas jambon, tidak juga tas biru. Ia malah mengaduk-aduk dompetnya. Di tangannya ada dua lembar cek.

“Kalian  benar-benar layak menerima ini,” ucapnya seraya menyodorkan cek tersebut. “Terima kasih atas semua bantuanmu, sayangku.”

Rosaura merasakan lengannya menegang, menempel erat ke tubuhnya, lalu ia sadar tangan ibunya melekat di bahunya. Naluriah, ia benamkan dirinya pada tubuh ibunya. Seluruhnya. Kecuali matanya. Tatapannya yang dingin dan tajam terpancang di wajah Señora Ines.

Señora Ines bergeming, bertahan dengan tangan terulur. Seolah tak berani menariknya lagi. Seolah gerak sedikit saja akan mengusik keanggunannya yang tak terperikan.[]


Liliana Heker penulis kelahiran Argentina, 1943. Cerpen ini aslinya berbahasa Spanyol, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari versi bahasa Inggris Alberto Manguel.


Teks dalam bahasa Inggris bisa ditengok di sini


Minggu, 22 Desember 2013

"The Fourth Alarm" - John Cheever [1970]

Aku sedang berjemur sambil menyesap gin. Jam sepuluh pagi. Minggu. Bu Uxbridge entah di mana dengan anak-anak. Dia pengurus rumah tangga. Yang memasak dan menjaga Peter dan Louise. 

Sekarang musim gugur. Daun-daun berubah warna. Pagi ini tidak berangin, tapi ratusan daun rontok. Kalau ingin menyaksikan semuanya—sehelai daun, atau sebilah rumput—kau harus, kukira, memahami kekuatan cinta. Bu Uxbridge berusia enampuluh tiga. Istriku sedang pergi. Bu Smithsonian (yang tinggal di sisi lain kota), suasana hatinya kurang baik belakangan ini. Jadi aku merasa pagi ini tidak seperti biasa. Seakan waktu memiliki ambang atau serangkaian ambang yang tidak bisa aku lintasi. Bisa saja aku melewatkan sepak bola, tapi Peter terlalu kecil. Satu-satunya teman sepak bolaku pergi ke gereja.

Istriku Bertha diharapkan datang pada hari Senin. Iapun keluar kota hari itu dan kembali Selasa. Ia wanita muda yang menarik dengan rupa yang elok. Matanya, menurutku, agak berdekatan. Kadang ia suka mengeluh. Sewaktu anak-anak masih kecil, ia gunakan cara menjengkelkan untuk mendisiplinkan mereka. “Kalau kamu tidak habiskan sarapan ini sampai hitungan ketiga,” ujarnya, “Mummy bakal kurung kamu di kamar. Satu. Dua. Tiga…” Aku mendengarnya lagi waktu makan malam. “Kalau kamu tidak habiskan makanan ini sampai hitungan ketiga, Mummy bakal kurung kamu di kamar dan tidak bakal kasih kamu makan. Satu. Dua. Tiga…” Aku mendengarnya lagi. “Kalau kamu tidak bereskan mainanmu sebelum hitungan ketiga, Mummy bakal buang semuanya. Satu. Dua. Tiga…” Berlangsung terus sampai kamar mandi dan waktu tidur, satu-dua-tiga menjadi ninabobo mereka. Kadang aku pikir ia mestinya sudah belajar menghitung sejak kanak-kanak. Ketika ajalnya tiba, ia akan menghitung mundur kedatangan Malaikat Maut. Kalau kau mengizinkan, aku mau tambah segelas gin.

Ketika anak-anak sudah cukup besar untuk bersekolah, Bertha mengajar Ilmu Sosial di kelas enam. Pekerjaan ini membuatnya sibuk dan bahagia. Ia bilang ia selalu ingin jadi guru. Ia terkenal disiplin. Ia mengenakan pakaian gelap. Tata rambutnya sederhana. Pupil matanya menuntut rasa bersalah dan kepatuhan. Untuk menyemarakkan hidup, ia bergabung dengan grup teater amatir. Ia memerankan pelayan di Angel Street dan sobat lama di Desmonds Acres. Teman-temannya di teater menyenangkan. Aku suka mengantarnya ke sana. Penting untuk diketahui kalau Bertha tidak minum. Ia akan menerima Dubonnet dengan sopan, tapi tidak menikmatinya.

Lewat teman-teman teaternya, ia tahu sedang ada audisi untuk pertunjukan telanjang berjudul Ozamanides II. Ia memberitahuku hal tersebut dan segalanya seputar itu. Kontrak mengajarnya termasuk sepuluh hari izin sakit. Dengan mengajukan izin sakit selama sehari, ia pergi ke New York. Audisi Ozamanides dihelat di kantor produser di pusat kota. Ia dapati seratusan pria dan wanita mengantri untuk diwawancara. Ia menarik cek dari dompetnya, melambai-lambaikan kertas itu seolah surat. Sembari menyela antrian ia katakan, “Permisi, tolong permisi, saya sudah ada janji…” Tidak satupun yang protes. Dengan cepat ia sampai ke muka antrian di mana seorang sekretaris mencatat namanya, nomor jaminan sosial, dan sebagainya. Ia diberitahu untuk menuju kubikel dan melepas pakaian, lalu ditunjukkan arah ke kantor. Ada empat pria di sana. Wawancara itu berlangsung dengan sangat hati-hati—menimbang situasinya. Ia diberitahu kalau ia akan telanjang selama pertunjukan. Ia akan diminta untuk menyimulasikan atau menampilkan kopulasi dua kali selama pertunjukan, dan berpartisipasi dalam pembuatan pilar cinta yang melibatkan penonton.

Kuingat malam ketika ia membeberkan semuanya. Saat itu kami di ruang tengah. Anak-anak sudah di kamar. Ia sangat gembira. Tanpa bertanya-tanya soal pertunjukan itu. “Di sana aku telanjang,” ucapnya, “tapi aku sama sekali tidak merasa malu. Satu-satunya yang aku resahkan hanya kakiku mungkin bakal kotor. Tempat itu kelihatan tua dengan bingkai-bingkai program teater di dinding, foto Ethel Barrymore berukuran besar. Di sana aku duduk telanjang di depan orang-orang itu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa telah menemukan diriku. Aku temukan diriku dalam ketelanjangan. Aku merasa seperti manusia yang baru, manusia yang lebih baik. Telanjang dan tidak malu di depan orang-orang asing itu adalah pengalaman paling menggairahkan yang pernah kualami.”

Aku tidak tahu harus bagaimana saat itu. Aku masih tidak tahu, pada Minggu pagi ini, apa yang seharusnya aku lakukan. Kukira aku seharusnya memukul dia. Aku bilang ia tidak boleh melakukan itu. Ia bilang aku tidak berhak menghentikannya. Aku sebut anak-anak. Ia bilang pengalaman ini akan menjadikannya ibu yang lebih baik. “Sewaktu aku mencopot pakaianku,” ujarnya, “Aku merasa seolah telah membersihkan diriku dari kehinaan dan kekerdilan.” Aku bilang ia tidak akan mendapatkan pekerjaan itu karena bekas luka radang usus buntunya. Beberapa menit kemudian telepon berdering. Dari produser yang menawarinya peran itu. “Oh, senangnya hatiku,” ucapnya, “Betapa menakjubkan dan berharga dan uniknya hidup ini, ketika kita bisa berhenti memainkan peran yang orangtua dan kawan-kawan gariskan untuk kita. Aku merasa seperti penjelajah.”

Kelayakan meneruskan ini atau membiarkannya saja membuatku bingung. Ia memutus kontrak mengajarnya, bergabung dengan Equity[1], dan mulai latihan. Segera setelah Ozamanides dibuka, ia menggaji Bu Uxbridge dan menyewa apartemen hotel dekat teater. Aku minta cerai. Ia bilang tidak ada alasan untuk cerai. Perzinaan dan kekerasan dalam rumah tangga jelas bisa diterima sebagai alasan, tapi apa yang mesti orang lakukan ketika istrinya ingin tampil telanjang di panggung?  Sewaktu muda, aku kenal beberapa perempuan di pertunjukan semacam itu. Sebagian dari mereka menikah dan punya anak. Merka melakukan pertunjukan itu hanya pada Sabtu tengah malam. Seingatku suami mereka komedian kelas tiga, sedang anak-anak mereka selalu terlihat kelaparan.

Sehari atau lebih kemudian aku mendatangi pengacara. Ia bilang satu-satunya harapanku ada pada putusan persetujuan. Tidak ada preseden untuk simulasi perbuatan jasmaniah di depan publik sebagai landasan perceraian di Negara Bagian New York. Tidak ada pengacara yang mau menangani kasus perceraian tanpa preseden. Banyak temanku bersikap bijak soal kehidupan baru Bertha ini. Kukira sebagian dari mereka ingin menontonnya. Aku menundanya sampai sebulan atau lebih. Tiketnya mahal dan sulit didapat.

Malam bersalju ketika aku ke teater, atau apa yang dulunya teater. Lengkungan proseniumnya telah dibongkar. Setnya sekumpulan ban bekas. Fitur yang familier hanya bangku penonton dan jalur di antaranya. Para penonton teater selalu membuatku bingung. Kukira ini karena kita mendapati adanya hal-hal yang tidak kita pahami didesakkan ke dalam apa yang sebetulnya sederhana saja, namun dipoles berlebihan. Banyak macamnya di sana malam itu. Musik rok bergaung begitu aku masuk. Jenis rok lawas yang memekakkan, sebagaimana yang biasa dimainkan di tempat-tempat semacam Arthur. Pukul 8.30 cahaya lampu meredup. Para pemain—ada empat belas—menuruni gang di antara bangku penonton. Tentunya mereka semua telanjang kecuali Ozamanides, yang mengenakan mahkota.

Aku tidak bisa menjabarkan pertunjukannya. Ozamanides punya dua putra. Sepertinya ia membunuh mereka, tapi aku tidak yakin. Seksnya biasa saja. Pria dan wanita memeluk satu sama lain. Ozamanides memeluk beberapa pria. Satu ketika, orang di sebelah kananku menaruh tangannya di lututku. Aku tidak ingin menegurnya demi kesopanan, tapi tidak ingin membiarkannya juga. Aku singkirkan tangannya dan merasakan nostalgia mendalam akan teater film pada masa mudaku. Ada satu di kota kecil tempat aku dibesarkan—Alhambra. Film favoritku berjudul The Fourth Alarm. Pertama kali aku menontonnya hari Selasa sepulang sekolah, dan terus di sana sampai pertunjukan malam. Orangtuaku cemas karena aku tidak pulang. Akupun dimarahi. Rabunya aku bolos demi menonton pertunjukan itu dua kali, lalu pulang tepat waktu makan malam. Aku ke sekolah hari Kamis, tapi begitu sekolah bubar aku ke teater dan terus duduk sampai pertunjukan malam. Orangtuaku sepertinya memanggil polisi, sebab ada petugas patroli mendatangi teater dan memulangkanku. Aku dilarang ke teater hari Jumat. Namun aku menghabiskan sepanjang Sabtu di sana. Pada hari itu juga penayangan film itu diakhiri. Film itu bercerita tentang penggantian kereta kuda dengan mobil untuk pemadam kebakaran. Alat pemadam kebakarannya juga diganti. Tiga dari tim-tim yang ada telah diganti. Kuda-kuda yang nelangsa itu dijual pada orang jahat. Satu tim tersisa, tapi tinggal menghitung hari. Para personil tim dan kuda-kuda mereka bersedih. Tiba-tiba ada kebakaran hebat. Muncul satu tim pemadam kebakaran, yang kedua, dan yang ketiga, meluncur buru-buru menuju lautan api. Kembali ke markas kereta kuda, keadaannya amat suram. Hingga alarm keempat berdering—panggilan untuk mereka—dan mereka pun mulai beraksi. Memasangkan perlengkapan pada kuda-kuda, lantas berderap melintasi kota. Mereka padamkan api, menyelamatkan kota, dan mendapat amnesti dari walikota. Sekarang, di panggung Ozamanides tengah menulis sesuatu yang cabul di bokong istriku.

Adakah sensasi dari ketelanjangan memupus nostalgianya? Nostalgia—biarpun matanya terpejam—merupakan salah satu daya tariknya yang utama. Dengan luwes ia mampu menghantarkan memori akan pengalaman tertentu ke masa lainnya. Apakah ia, yang sedang ditunggangi orang asing telanjang di depan publik itu, ingat setiap tempat di mana kami bercinta? Rumah-rumah sewaan dekat laut, di mana, di sela-sela tempias hujan musim panas, terdengar janji cinta primitif, kedamaian, dan keindahan? Haruskah aku berdiri di teater ini dan menyerunya untuk kembali, kembali, kembali demi cinta, humor, dan kemesraan? Betapa senangnya bisa menyetir pulang dalam salju seusai pertunjukan, pikirku. Salju melayang lintasi lampu utama. Rasanya seperti melaju seratus mil dalam sejam. Betapa senangnya bisa menyetir pulang dalam salju seusai pertunjukan. Para pemain lalu berbaris dan mengajak kami—memerintahkan tepatnya—untuk menanggalkan pakaian dan bergabung dengan mereka.

Sepertinya ini memang keharusan. Bagaimana lagi aku bisa coba memahami Bertha? Aku biasa melucuti pakaianku dengan amat cepat. Begitupun sekarang. Tapi ada masalah. Bagaimana dengan dompet, arloji, dan kunci mobil? Mana aman meninggalkan semuanya dalam pakaian. Jadi, telanjang, akupun menuruni lorong di antara bangku penonton dengan barang-barang berhargaku di tangan kanan. Begitu aku mendekat, seorang pria telanjang menghentikanku. Ia berseru—bernyanyi, “Turunkan hartamu. Harta tidaklah suci.”

“Tapi ini dompet, jam, dan kunci mobil saya,” kataku.

“Turunkan hartamu,” lagunya.

“Tapi saya mesti menyetir dari stasiun,” kataku, “dan uang saya enampuluh sampai tujuhpuluh dolar, tunai.”

“Turunkan hartamu.”

“Saya tidak bisa, betulan tidak bisa. Saya perlu makan, minum, pulang.”

“Turunkan hartamu.”

Satu per satu mereka semua, termasuk Bertha, turut menjampi-jampi. Seluruh pemain mulai bernyanyi: “Turunkan hartamu, turunkan hartamu.”

Perasaan tidak diinginkan selalu menyakitkan buatku. Kukira para klinisi bisa menjelaskannya. Perasaan itu menggema, melekatkan dirinya bak mata rantai terakhir dalam serangkaian pengalaman serupa. Mereka bersuara keras dan mengejek, dan di sanalah aku, menentang ketelanjangan, di suatu tempat di tengah kota dan tidak diinginkan, teringat telah melewatkan sepak bola, kalah tanding, mendapat cibiran dari orang-orang asing, tawa dari balik pintu-pintu tertutup… Kugenggam barang-barangku di tangan kanan, identitasku yang senyatanya. Tidak satupun tergantikan. Membuang mereka sama saja dengan mengancam sejati diriku, bayangan diriku yang terpajang di lantai, namaku.

Aku kembali ke bangkuku dan berpakaian. Terasa sulit dalam ruang yang sempit ini. Para pemain masih menyeru. Menapaki jalan melandai di antara bangku penonton, ingatanku terempas pada satu hal. Aku mendaki sepelan ini juga setelah King Lear dan The Cherry Orchard[2]. Akupun keluar.

Masih bersalju. Tampak seperti badai. Sebuah taksi terjebak di depan teater. Aku ingat kalau aku punya ban salju. Membuatku merasa aman dan memiliki pencapaian yang tidak akan membuat jijik Ozamanides beserta mahkamah telanjangnya; sepertinya tadi aku bukannya mempertahankan diri, melainkan terhantam sisi keras kepala diriku yang ajaib. Angin melontar salju ke wajahku dan begitulah, sambil berdendang dan menggerincingkan kunci mobil, aku menuju kereta.[]


Teks asli bisa dibaca di sini



[1] Equity:  persatuan teatrikal
[2] King Lear dan The Cherry Orchard tragedi karya Shakespeare dan tragikomedi karya Chekhov

Selasa, 17 Desember 2013

Cerpen Koming Favorit (2010-2012)

Tiga tahun. Tujuh ratus cerpen. Dari ±150 penulis per tahunnya, hanya rata-rata 13% yang karyanya termuat di lima koran nasional (Jawa Pos, Koran Tempo, Kompas, Republika, dan Suara Merdeka) hingga tiga biji ke atas. Kebanyakan satu biji saja.

Ah. Hitung-hitungan kasar.

Latar belakang saya melakukan pembacaan cerpen koming bisa dibaca di sini. Dari pembacaan tersebut, saya menentukan sejumlah cerpen berdasarkan kriteria tertentu, yang bisa ditengok juga di sini. Sangat subjektif pokoknya. Empat buku tulis habis sudah untuk merekam persinggungan saya dengan cerpen-cerpen itu. Melelahkan. Sakit mata. Tapi saya senang akhirnya terwujud juga ini.

Daftar cerpen koming favorit saya.

2010
"Babi" - Romi Zarman (Koran Tempo, 17 Oktober 2010)
"Henning Dorg" - Yusak Lie (Jawa Pos, 17 Oktober 2010)
"Imam Tarawih" - Ami Sofia (Republika, 15 Agustus 2010)
"Kubah Miring" - Musyafak Timur Banua (Republika, 29 Agustus 2010)
"Merdeka" - Putu Wijaya (Jawa Pos, 29 Agustus 2010)
"Miss Konseli" - Ida Ahdiah (Jawa Pos, 2 Mei 2010)
"Perihal Orang Miskin yang Bahagia" - Agus Noor (Jawa Pos, 31 Januari 2010)
"Pohon Jejawi" - Budi Darma (Kompas, 26 Desember 2010)
"Solilokui Bunga Kemboja" - Cicilia Oday (Kompas, 20 Juni 2010)
"Subuh Mak'ke" - Ida Ahdiah (Republika, 24 Januari 2010)

2011
"Aroma Terasi" - Hanna Fransisca (Koran Tempo, 1 Mei 2011)
"Dua Pertanyaan" - Eimond Esya (Jawa Pos, 4 Desember 2011)
"Hikayat Demang Tuuk" - Arman AZ (Suara Merdeka, 3 April 2011)
"Ikan Kaleng" - Eko Triono (Kompas, 15 Mei 2011)
"Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air" - M Harya Ramdhoni (Suara Merdeka, 7 Agustus 2011)
"Nenek" - Lie Charlie (Kompas, 24 April 2011)
"Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi" - Yusi Avianto Pareanom (Koran Tempo, 18 Desember 2011)
"Sihir" - Sergio Bizzio (Koran Tempo, 14 Agustus 2011)
"Tarawengkal" - Niduparas Erlang (Koran Tempo, 20 Februari 2011)
"Tuan Alu dan Nyonya Lesung" - Zelfeni Wimra (Koran Tempo, 15 Mei 2011)  

2012
"Banjir di Cibaresah" – Aba Mardjani (Kompas, 28 Oktober 2012)
"Biografi Kunnaila" – Sungging Raga (Jawa Pos, 4 November 2012)
"Gadis Penjual Bantal" – Thohar Budiharto (Suara Merdeka, 9 Desember 2012)
"Jack dan Bidadari" – Linda Christanty (Kompas,10 Juni 2012)
"Keluarga “Z”" – Mardi Luhung (Jawa Pos, 27 Mei 2012)
"Lagu Tanglung Ungu" – Beni Setia (Jawa Pos, 12 Februari 2012)
"Mengharap Kematian" – Dadang Ari Murtono (Republika, 22 April 2012)
"Pahlawan Tersisa di Makam Tua" – Danang Probotanoyo (Republika, 11 November 2012)
"Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi" – Eka Kurniawan (Koran Tempo, 18 November 2012)
"Semarang Suatu Hari" – Bre Redana (Suara Merdeka, 22 April 2012)

Semoga Anda sekalian juga menikmati cerpen koming dengan cara masing-masing. Selamat membaca :)

Jumat, 06 Desember 2013

Pembacaan Cerpen Koming 2010

(Sebelumnya silakan mampir ke Pembacaan Cerpen Koming 2012)

Alhamdulillah.

Pembacaan Cerpen Koming 2010 telah diselesaikan. Supaya pembacaan tidak begitu saja menguap, marilah mencatat beberapa hal.

Pertama-tama yang kusadari adalah tidak ditemukannya cerpen yang diakhiri dengan orientasi seksual tidak terduga. (Eh, sebetulnya “Jejak Ditam” dari Abdullah Khusairi—Jawa Pos, 6 Juni 2010—nyaris begitu.) Sementara pada tahun 2012 ada beberapa. Apa? Sampai enam biji?

Dan amatilah akhir dari beberapa cerpen ini.

Kemudian aku tak ingat apa-apa lagi. Semuanya begitu gelap. (*)
“Harimau Luka” - Fitriyanti (Republika, 5 September 2010)

Mata Marza sepenuhnya gelap. (*)
“Mata Marza” - Mona Sylviana (Koran Tempo, 10 Januari 2010)

Tak lama, ruangan seketika menjadi gelap. Pekat. Amat pekat. (*)
“Sura dan Perempuan” - Handoko F Zainsam (Republika, 17 Januari 2010)

Untungnya cuman tiga. Mungkin lama-lama aku bisa menyusun antologi cerpen dengan judul Semuanya Berakhir Gelapliterally. Juga antologi dengan protagonis pelacur.

Sebagai penulis yang masih belajar, pembaca yang minim konsentrasi, dan pribadi yang jenuh dengan melankolia, aku masih cenderung pada cerpen-cerpen yang dalam sekali baca mudah dimengerti (olehku), menyentuh(ku), dan asyik lagi kalau menggelitik(ku). Hingga pertengahan pembacaan, saking sedikit temuan yang kuanggap benar-benar lucu, aku mulai melihat cerpen-cerpen ini secara lebih serius. Aku mulai menyadari aspek lain yang tidak kalah penting dari "lucu", yakni "konflik" dan "pesan".

Dengan demikian, setelah 220 cerpen dari 148 penulis, 79 halaman catatan pembacaan, dan 1 file Notepad berisi hitung-hitungan (4,1% dari total cerpen adalah terjemahan, Benny Arnas paling sering muncul, dan lain-lain), cerpen-cerpen favoritku adalah sebagai berikut.

Eh. Spoiler loh.

 "Babi" - Romi Zarman (Koran Tempo, 17 Oktober 2010)
Singkat. Aneh. Jadi ceritanya ada orang interogasi tersangka kok capek. Akhirnya malah ia yang diinterogasi si tersangka, pake diceritakan tentang tradisi berburu babi segala. Dan ternyata yang ia maki babi memang kayak babi. Kocak!

"Henning Dorg" - Yusak Lie (Jawa Pos, 17 Oktober 2010)
Aku suka dengan kata ganti “saya”. Penulisan cerita ini lancar sekali, jelas, nyaris tanpa dialog dengan paragraf-paragraf cukup panjang. Mengingatkan sama “Jack dan Bidadari”-nya Linda Christanty. Dan entah akhirannya saya mesti ketawa atau getir. Dia yang tadinya mau balas dendam sama ayahnya malah kena getahnya.

"Imam Tarawih" - Ami Sofia (Republika, 15 Agustus 2010)
Konfliknya menarik juga, mulanya tentang penunjukkan imam tarawih, yang pada tahun itu diserahkan pada yang muda. Yang muda ini di-backing sama yang bikin segan. Sudah terpilih masih juga timbul kontra. Dan yang bikin lucu itu akhirannya. Salat dipercepat tapi seolah-olah ekstrim.

"Kubah Miring" - Musyafak Timur Banua (Republika, 29 Agustus 2010)
Nasib Fulan sedih sekali dan aku bertanya-tanya kenapa gerangan cerpen koran doyan mengangkat nasib orang kecil yang sedih-sedih? Aku ingin orang walau nasibnya buruk tapi tetap bahagia, tapi bukan gila. Dan ini konfliknya, semoga aku enggak kelewat polos, bagus sekali. Ketika kepentingan dunia dikalahkan oleh kepentingan agama, tapi kepentingan yang kayak mana?

"Merdeka" - Putu Wijaya (Jawa Pos, 29 Agustus 2010)
Lucu! Awalnya memang terkesan serius sih, seperti menggambarkan alam batin seseorang, tapi setelah situasi berangsur menjadi realis, dalam situasi keluarga seperti cerpen-cerpen Eyang Putu lainnya, mulai muncul kalimat-kalimat layak kutip dan semakin ke akhir semakin aku tergeli-geli.

"Miss Konseli" - Ida Ahdiah (Jawa Pos, 2 Mei 2010)
Keren juga sih. Narasinya rapi, terasa lembut, enggak ribet, tenang bacanya. Awalnya aku kurang bisa simpati karena yang diceritakan kehidupan kalangan atas. Tapi ending-nya yang enggak terduga bikin aku mesem-mesem. Aku juga penasaran gimana perasaan anak yang orangtuanya korupsi. Inilah masalah kalangan atas itu. Ha!

"Perihal Orang Miskin yang Bahagia" - Agus Noor (Jawa Pos, 31 Januari 2010)
Suka! Dari judulnya saja sudah memancing. Pas dibaca, seperti inilah konsep cerita yang belakangan kupikirkan. Maksudnya, nasib buruk jangan melulu dibawa pilu, coba dibuat ringan. Dan cerpen ini sangat sesuai dengan maksud tersebut. Cuman ada komen negatif yang bikin heran, menganggap ini cerpen asal-asalan. Sinis banget.

Maaf kusela. Penting disadari kalau komentar-komentar yang menyertai cerpen juga menarik untuk dibaca. Malah kadang komentar-komentar itu justru lebih seru dari cerpen itu sendiri. Kadang aku rada kecewa ketika mendapati cerpen tanpa komentar. Sering kali begitu. Padahal bukannya apresiasi itu penting? Bukannya kesusastraan dihidupkan tidak hanya oleh maraknya penulis tapi juga ramainya apresiasi pembaca yang bukan sekadar “mantabs”, “keren”, “ga mudeng aku”? (Wahwahwah… berat nih…) Komentar membuat kita mengerti bagaimana cerpen dinilai dan ditanggapi secara berbeda oleh macam-macam pembaca. Kitapun mafhum kalau menjadi penulis berarti siap dipuji, siap dicela, dan siap pula diabaikan.

Oke. Cukup melanturnya. Lanjut.

Pohon Jejawi" - Budi Darma (Kompas, 26 Desember 2010)
Judulnya aja pohon jejawi. Tapi itu pohon munculnya cuman separo. Selebihnya kekonyolan walikota Surabaya yang orang Belanda Henky von Kopperlyk yang puncaknya bikin aku tergeli-geli di akhir cerita. Ini cerpen berlatar sejarah yang berhasil enggak bikin aku bingung! 

"Solilokui Bunga Kemboja" - Cicilia Oday (Kompas, 20 Juni 2010)
Cerita yang manis. Aku bisa memahami inferioritas bunga kemboja yang hanyalah… bunga kemboja, bunganya orang mati. Patah hati. Dan dibunuh oleh pujaan hatinya sendiri. Aku kira ini bisa menjadi semacam metafor…

"Subuh Mak'ke" - Ida Ahdiah (Republika, 24 Januari 2010)
Konyol. Ini mungkin nyindir para laki-laki yang enggak doyan meramaikan musala. Rada-rada mirip sama cerpen “Suara Azan” itu sih, cuman karakter si Mak’ke ini lebih gimana ya, berdimensi gitu (halah kek ngerti aja artinya). Ketidaktahuan orang dalam beragama. Yang penting ambil prinsipnya.

Sebetulnya banyak cerpen lainnya yang juga bagus. Memberi wawasan dan pelajaran kehidupan. Beberapa cerpen terlalu bagus hingga kupikir, "Ah, bukan untukku." Banyak juga yang tidak langsung bisa ditangkap. Barangkali ketika aku sudah menjadi penulis yang terlatih, pembaca yang jeli, dan pribadi yang humoris, aku bakal merambah cerpen-cerpen yang bagus dalam kriteria lain itu maupun yang menyusahkan.

Beberapa penulis yang namanya ingin kusapu pakai Stabilo: AS Laksana (Aku sudah terpikat sejak "Bidadari yang Mengembara". Dan menyadari Murjangkung sebagai kumpulan cerpen humor.); Ida Ahdiah (Pertama kali aku menemukannya pada tahun 2010 ini. Ada tiga cerpen. Hampir semua bertutur lembut dengan akhir yang... wew.); Putu Wijaya (Latar cerpennya itu-itu saja. Keluarga Pak Amat dan lingkungan di sekitarnya. Lebih seperti sketsa. Tapi merefleksikan (halah) karakter manusia yang multidimensi dan sulit memastikan mana yang benar mana yang salah. Menggelitik!); Yusi Avianto Pareanom (Sepertinya satu perguruan dengan AS Laksana).

Demikianlah. Pembacaan Cerpen Koming 2011 pun menanti…


NB. Semua cerpen di atas bisa ditelusuri di sini

Selasa, 19 November 2013

Kisah Seorang Pemimpi

Pertama kali aku baca karya James Thurber di Buku Sakti Menulis Fiksi ANNIDA, yaitu “dongeng modern”nya yang dialihbahasakan oleh Agus Budiman dengan judul “Unicorn di Taman”. Seketika aku terpukau dengan cerita yang panjangnya kira-kira hanya sehalaman itu, yang seakan “mengolok-olok” pola dongeng tradisional—dibuka dengan “Once upon…” lalu ditutup dengan ”…lived happily ever after”.

“Unicorn di Taman” menceritakan tentang seorang lelaki yang mengatakan pada istrinya kalau ia melihat unicorn di taman. Perempuan yang menganggap suaminya sudah gila itupun menelepon polisi dan dokter jiwa, agar lelaki itu dibawa ke rumah sakit jiwa. Polisi dan dokter jiwa pun datang. Tapi cerita si istri tentang si suami yang melihat unicorn di taman itu malah membuat mereka menganggap kalau perempuan itulah yang tidak waras. Selagi mereka meringkus si istri, si suami datang. Lelaki itu menyangkal kalau ia telah melihat unicorn di taman. Si istri pun dibawa pergi, dan lelaki itu hidup bahagia selamanya.

Selain karena gaya parodinya, cerita itu sendiri membuatku geli. Padahal apa yang lucu dari situasi seperti itu? Hubungan suami-istri yang tidak selaras. Istri yang ingin memasukkan si suami ke rumah sakit jiwa. Suami yang dengan enteng membiarkan si istri dibawa ke rumah sakit jiwa. Bukan situasi yang menyenangkan kalau kita sendiri yang mengalami.

source
The Secret Life of Walter Mitty” adalah karangan James Thurber yang baru-baru ini kubaca. Isinya ternyata tidak jauh beda dari cerita sebelumnya. Hanya lebih panjang. Sekitar empat halaman. (Katanya sih 2000-an kata tapi aku tidak menghitungnya sendiri.) Kesamaan di antara kedua cerita ini adalah adanya tokoh suami pengkhayal dengan istri yang ingin pegang kendali, serta perpaduan antara imajinasi memukau dengan getirnya realita.

Cerita dibuka dengan aksi seorang komandan Angkatan Laut saat mengendalikan kapalnya supaya bisa menerobos badai, dan berhasil, yang ternyata hanya khayalan seorang Walter Mitty, yang terputus karena hardikan istri. Lelaki itu mengemudi terlalu cepat! Kemudian kita tahu bahwa dalam realita ia hanyalah seorang lelaki dengan istri doyan mengatur, dari mulai kecepatan saat mengendarai mobil, barang yang harus dibeli, sampai apa yang harus ia kenakan. Ketidakberdayaannya kala bersinggungan dengan orang lain terus berlanjut. Di lampu merah, ia dihardik polisi. Saat memarkir mobil, ia ditegur petugas parkir. Saat mengingat-ingat apa yang harus ia beli, seorang perempuan menertawakannya karena bicara sendiri, hingga ia memilih untuk pindah saja ke lain toko. Namun dari interaksi sepenggal-penggal yang tidak menyenangkan itu, imajinasinya berkembang. Ia menjadi seorang dokter yang selain menulis buku tentang penyakit, juga sanggup memperbaiki mesin. Ia menjadi seorang terdakwa di pengadilan yang memamerkan kemampuannya dalam mengoperasikan senjata api. Ia menjadi seorang kapten yang dengan berani hendak terbang sendiri dalam menangani musuh di tengah peperangan.

source
Aku heran kenapa dalam Harper cerpen ini tidak dimasukkan dalam tema “ALIENATION”. Padahal jelas sekali keterasingan Walter Mitty dengan dunia di sekitarnya. Keinginannya untuk melarikan diri dari kenyataan dengan menerbangkan imajinasi ke mana-mana. Dalam cerpen ini, dunia di dalam kepala dengan dunia di luar kepala merasuk kesadaran Walter Mitty secara silih berganti—5:4. Dalam imajinasinya, Walter Mitty menjadi sosok yang dihormati dan serba bisa. Berkebalikan dengan bagaimana orang-orang memperlakukannya dalam realita.  

“The Secret Life of Walter Mitty” merupakan cerpen James Thurber paling terkenal sejak diterbitkan pertama kali dalam The New Yorker tahun 1939, dan menjadi yang paling sering dimuat dalam antologi. Bahkan karakter Walter Mitty menjadi arketipe[1]. Seolah menunjukkan bahwa sesungguhnya pribadi yang melarikan diri dari kenyataan melalui imajinasinya itu… jamak! Sangat manusiawi. Bahkan nama “Mitty” menjadi lema baru di kamus, dengan bentuk adjektiva “Mittyesque” atau “Mitty-like”.

Dari pengarang lain yang relatif semasa, kita bisa kaitkan Walter Mitty dengan Miss Brill dari Katherine Mansfield, serta drama Death of a Salesman dari Arthur Miller. “Miss Brill” juga menyampaikan keterasingan manusia dari lingkungannya, dalam cerpen ini ialah perempuan. Bedanya, Miss Brill masih bisa menaruh perhatian keluar dirinya, dan coba memahami dengan caranya sendiri, sedang Mitty nyaris sepenuhnya lari ke dalam benaknya. Sedang dengan Death of a Salesman, Walter Mitty dengan karakter dalam drama itu, yaitu Willy Loman, sama-sama pemimpi. Bedanya, mimpi Mitty imajinatif sedangkan mimpi Loman realistis. Loman bermimpi menjadi salesman sukses sehingga bisa membahagiakan keluarganya. Ia berusaha memenuhi mimpinya, dan ketika keadaan tidak lagi menguntungkan baginya, ia gantungkan mimpi itu pada anaknya. Pada akhirnya ia bunuh diri. Namun itu merupakan cara yang terpikir olehnya untuk memperjuangkan mimpi. Dengan kematiannya itu, keluarganya akan mendapatkan asuransi dan bisa meneruskan hidup dengan layak. Dalam penyampaiannya, ada yang mengatakan, Mitty itu comic sedang Loman itu tragic. Dengan mengesampingkan kreativitas Thurber sehingga cerpen yang konon ditulis ulang sampai lima belas kali ini dianggap kocak, serta pemahamanku yang pas-pasan saat membacanya dalam bahasa asli sehingga cenderung hanya menangkap inti, buatku kisah keduanya sama tragis.  

Pada zaman sekarang, ketika budaya populer sudah demikian berkembang dan membanjiri kita dengan produk-produk yang biasa kita andalkan untuk mengisi kekosongan dalam hidup, kita temukan Walter Mitty di mana-mana. Kita mungkin lebih akrab dengan istilah “Mary Sue”, yaitu karakter fiktif jagoan yang sebenarnya merupakan idealisasi pengarangnya belaka. Esensi keduanya sama menurutku. Satu tokoh yang mencerminkan karakter Walter Mitty dalam produk yang lebih kontemporer adalah Oscar Wao dari novel The Brief Wondrous Life of Oscar Wao—pemuda gembrot yang tidak bisa memikat cewek dan menjalankan pelariannya lewat fiksi ilmiah.

source
Popularitas Walter Mitty sampai ke layar lebar. Pertama kali difilmkan pada tahun 1947, hasilnya tidak memuaskan Thurber. Berdekade-dekade kemudian, rencana untuk memfilmkan Walter Mitty kembali muncul namun tidak terwujud. Barulah pada tahun 2013, Ben Stiller membawa kembali sosok Walter Mitty ke layar lebar, ia tidak hanya menjadi pemeran tapi juga sutradara. Namun jangan bayangkan Walter Mitty dalam film persis dengan yang ada di dalam cerpen. Pembaca cerpen dan penonton film seolah memiliki kebutuhan berbeda. Walter Mitty dalam film mestilah lebih atraktif, mestilah menyuguhkan aksi yang lebih dari sekadar khayalan. Memang aku belum menonton keduanya. Hanya dari ulasan aku tahu kalau adaptasi ke dalam bentuk film malah menghilangkankan ironi yang muncul dalam cerpen, yang justru menunjukkan kekuatan karakter Walter Mitty dan getirnya kehidupan yang ia miliki—di situlah intinya!

Aku mengagumi James Thurber karena imajinasi dan humor yang getir dalam karya-karyanya. Dari kemiripan antara dua karya Thurber, kita bisa menyangka tokoh suami pengkhayal mencerminkan sosok pengarang itu sendiri. Demikian pula menurut artikel-artikel terkait yang kubaca di internet. Serupa dengan Dorothy Parker yang mampu menyisipkan humor dalam kata-katanya, kehidupan pengarang-pengarang yang menggelitik (bikin geli karena dikitik-kitik) ini sesungguhnya diwarnai kepiluan. Ironis. Kukira seseorang dengan sudut pandang suram memang sebaiknya mampu menyamarkan keadaannya itu dengan humor.

“The Secret Life of Walter Mitty” sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Fernando dengan judul “Rahasia Walter Mitty”—dimuat dalam Suara Merdeka, 16 Mei 2010. Belum terjemahan yang enak menurutku, dan kalau kemampuanmu dalam memahami teks bahasa Inggris juga pas-pasan, aku sarankan untuk membaca dalam kedua bahasa itu masing-masing sekali, lalu membandingkan keduanya. Selamat terkekeh sambil meringis![]


NB.
James Thurber tidak hanya menulis cerita, tapi juga membuat ilustrasi. Sekalian kusuguhkan satu karyanya yang dilengkapi ilustrasi. Cerita ini cenderung getir ketimbang lucu.



[1] Mungkin seperti “Lolita”—novel karangan Vladimir Nabokov—diasosiasikan dengan pedofilia, atau “Mrs. Robinson”—film tahun 1960-an yang dibintangi Dustin Hoffman dan makin populer dengan lagu berjudul sama dari Simon & Garfunkel dan berdekade-dekade kemudian dirujuk pula oleh Outcast—dengan… MILF? Ups!