LAINNYA

Selasa, 27 Agustus 2013

Pembacaan Cerpen Koming 2012

Berapa kali aku mengeluh pada orang-orang di satu-dua grup “ap­re­si­asi sastra” yang kutimbrungi, “Cerpen koran susah dimengerti!” Ta­pi mereka membicarakannya seolah nasib sastra Indonesia di­ten­tu­kan oleh selembar halaman dari koran Minggu (selanjutnya: ko­ming). Dari tampang mereka, sepertinya mereka tidak mengalami ke­susahan. Dengan responsif mereka merekomendasikan nama-na­ma cerpenis yang karyanya mudah diikuti. Pada waktu itu aku me­mang jarang membacai cerpen koming. Bahkan sebetulnya aku tidak meng­gemari cerpen. Pembacaan cerpen tidak memberikan peng­a­lam­an seintens pembacaan novel. Cerpen bagaikan pertemuan sing­kat dengan orang(-orang) yang kita jumpai pada saat itu saja, yang ke­sannya segera berlalu seusai pembacaan.

Walau demikian, menurut Joe Bunting dari The Write Practice, ada beberapa alasan kenapa cerpen layak untuk di­pe­la­jari, apalagi oleh penulis pemula. Ernest Hemingway dan Stephen King merintis karier kepenulisan dengan menulis cerpen. Cerpen men­jadi sarana berlatih menulis yang efisien. Cerpen dapat lebih ce­pat diselesaikan ketimbang novel, baik dalam penulisan maupun pem­bacaan. Dengan demikian, kita dapat memperoleh feedback yang lebih cepat pula. Dari feedback, kita tahu bagaimana harus mem­perbaiki penulisan kita. (Lebih cepat dapat honor juga?)

Maka akupun mencanangkan proyek “Pembacaan Cerpen Koming”. Ka­rena proyek ini dimulai pada tahun 2013, maka untuk mengetahui ba­gaimana tren baru-baru ini, aku mengumpulkan cerpen-cerpen ko­ming tahun sebelumnya dari Lakon Hidup. Blog ini memang di­ke­nal sebagai “gudangnya” cerpen koming, menayangkan cerpen-cer­pen koming yang sebelumnya dimuat di beberapa koran besar se­per­ti KOMPAS, Republika, Koran Tempo, Jawa Pos, Suara Merdeka, dan belakangan Media Indonesia. Orang-orang dari satu-dua grup yang kumaksud itupun membacai cerpen-cerpen koming melalui blog tersebut. Di Facebook, blog ini terhubung dengan grup “Cerpen Ko­ran Minggu”. (Tapi belakangan blog ini sepertinya jarang update.)

Total cerpen koming 2012 yang kuunduh dari Lakon Hidup mencapai 238 buah. Kukira tidak ada yang terlewat. Kalau dihitung-hitung an­ta­ra jumlah hari Minggu dalam setahun dengan jumlah media yang men­jadi sumber sepanjang tahun 2012, jumlah ini seharusnya lebih. Ta­pi tidak apa-apa lah, inipun sudah banyak.

Supaya pembacaan yang dilakukan tidak menguap begitu saja, aku mem­bekali diri dengan buku tulis. Setiap habis satu cerpen yang ter­su­sun menurut abjad itu, aku menuliskan pembacaannya dalam de­la­pan baris. Baris pertama diisi dengan judul cerpen setrip nama cer­pen­is, baris kedua dengan nama media dan tanggal pemuatan, baris ke­tiga dengan jumlah kata, dan lima baris berikutnya berupa ko­men­tar.

Dari proyek ini, diharapkan terpilih cerpen-cerpen yang paling di­su­ka untuk disayang-sayang. Jelas sudah, penilaian akan amat sangat sub­jektif sekali. Memang, dari penelusuranku terhadap buku-buku me­ngenai kritik sastra, berhasil ditemukan kriteria-kriteria yang di­pa­kai untuk menilai keberhasilan/kegagalan suatu karya, yaitu ino­va­si/kebaruan, orisinalitas/keaslian, kompleksitas/kerumitan, ke­ma­tang­an, dan kedalaman (maaf, lupa kutip dari mana). Tapi meng­i­ngat cara tersebut bakal jelimet bagiku yang notabene tidak ber­ka­pa­sitas sebagai sarjana sastra ini, maka metode subjektif dengan kri­te­ria sebagai berikut yang kugunakan: 1. Aku suka; 2. Kalau aku tidak su­ka walaupun cerpen tersebut ditulis dengan apik, lihat poin 1. Heh heh heh. Mengingat bacaan yang menumpuk bukan hanya rom­bong­an cerpen ini saja, (dan sepertinya ini masalah yang dialami ku­tu­buku-keblinger di manapun jua), maka komentar diberikan hanya ber­dasarkan sekali pembacaan. Tidak ada pembacaan ulang untuk men­coba menangkap lagi isi cerpen. Dengan demikian, kriteria pa­ling utama adalah: mudah diikuti.

Maka setelah menghabiskan 86 halaman buku tulis, dipilih sepuluh cer­pen sebagai berikut, disertai dengan komentar sebagaimana ter­te­ra di kertas.

Banjir di Cibaresah – Aba Mardjani
KOMPAS, 28 Oktober 2012
1622 kata
Asa lucu. Asa simbolik. Tentang desa yang kena banjir, di­ce­ritakan dari sudut pandang penjaganya yang sekiranya jus­tru berada di tempat paling aman. Dan akibat banjir itu, ber­bagai macam hewan jadi menyerbu desa, dengan in­car­an dan efek berbeda. Di bagian yang asa lucu itu kayak ob­rol­annya Cepot dengan Dawala atau siapa. Dan tempat ber­kum­pulnya hewan-hewan itu justru di rumah kepala desa.

Biografi Kunnaila – Sungging Raga
Jawa Pos, 4 November 2012
1299 kata
Sukaa…! XD Lancar tenan bacanya. Enak. Jenaka. Bahkan sam­pai ‘keluar jalur’, seolah ada kesepakatan antara tokoh de­ngan pengarangnya. Kocak! Menceritakan tentang nasib Kun­naila, menjelang dipersunting masinis hingga peristiwa bu­ruk menimpa. Dan ada pernyataan yang pas banget de­ngan saya. Woah. Akhirnya nemuin favorit. Kya…

Gadis Penjual Bantal – Thohar Budiharto
Suara Merdeka, 9 Desember 2012
1659 kata
Aku suka cerpen ini karena keanehan-keanehan di da­lam­nya yang bikin aku berhah? heh?, walau di akhir hampir se­mua jelas karena si karakter memang gila. Yang ga jelas ada­lah kenapa dia ketika berhasil ngajak keluar gadis yang di­sukainya, kok mendadak urung, setelah ditanya apa pe­ker­ja­annya. Dasar orang gila.

Jack dan Bidadari – Linda Christanty
KOMPAS,10 Juni 2012
1816 kata
Penuturannya seperti yang acak-acakan, tapi aku suka ka­re­na simpel, seolah memberitahuku sebentuk cara pe­nyam­pai­an walau kehidupan yang ditampilkan mungkin rumit. Dan ketika aku tengah termenung mengikuti kehidupan si na­rator sebagaimana yang ia tuturkan, ada unsur pengejut ka­lo yang dimaksud dengan Bidadari itu mungkin bukan ce­wek sebagaimana lazimnya kita bayangkan seperti apa bi­da­dari.

Keluarga “Z” – Mardi Luhung
Jawa Pos, 27 Mei 2012
1620 kata
Kocaak…! :D Lucu! Suka! Makanya itu… dan ada nilai-nilai ke­keluargaan juga yang dikemas dengan… ya kocak itu. Ban­dingkan dengan cerpen-cerpen yang mengangkat ten­tang keluarga di *upssorisensor, kesannya tragis, terlalu se­ri­us, gitulah… Ah senang menemukan cerpen yang seperti ini. Barangkali cerpen semacam inilah yang ingin aku ha­sil­kan?

Lagu Tanglung Ungu – Beni Setia
Jawa Pos, 12 Februari 2012
2311 kata
Kukira ini cerpen memikatku, walau aku pingin mbuleti tiap ‘si’ dalam teksnya, untuk apa sih?, aku suka dengan tu­tur­an­nya yang seolah merepet, padat, nyinyir, seolah menyajikan ke­rumitan pikiran. Walau sempat aku mengira diksinya ter­lam­pau canggih untuk karakter si naratornya, tapi intrik-in­trik dalam ceritanya kupikir juga menarik.

Mengharap Kematian – Dadang Ari Murtono
Republika, 22 April 2012
1334 kata
Aku suka cerpen ini. Temanya menarik. Dan lucu. Tentang se­seorang yang menanti-nanti kematian tapi tidak dengan ke­muraman, melainkan persiapan agar nantinya indah. In­ti­nya, kematian itu bukan hal yang bisa diprediksi (inget lagu Que Sera Sera, the future not us to see atau apa, juga no­ve­let Aki [kalo ga salah] dari Idrus).”

Pahlawan Tersisa di Makam Tua – Danang Probotanoyo
Republika, 11 November 2012
1561 kata
Setuju. Ini cerpen yang bagus, menurutku. Sosok pahlawan yang dilupakan, pahlawan ’45 keknya emang udah cukup se­ring diangkat. Ini juga. Cuman secara khusus agaknya aku ter­sentuh aja dengan gambarannya yang realis. Aku yang ting­gal di ‘rumah bagus’ ini tersindir. Dan ada satu paragraf yang menurutku lucu. Aku juga pingin bisa mengangkat so­sok rakyat kecil.”

Koran Tempo, 18 November 2012
1560 kata
Entah kenapa aku suka cerita ini. Bagian awalnya kek ‘Some­one Like You’-nya Adele. Kisah perempuan patah hati yang lari ke kota kecil itu kayak di On a Journey-nya Mbak De­si. Trus aku pun punya pikiran kalo jangan-jangan dalam mim­pi itu kita ketemu orang-orang beneran yang belum kita ke­nal, lalu bisa saja sebetulnya kita kopi darat. Mungkin ju­ga karena aku suka main ke situs penulisnya? Contoh bahwa cer­pen mungkin berangkat dari satu momen, tapi ga mesti men­ceritakan tentang momen itu sendiri, bisa saja me­rang­kum kisah yang dalam situasi lain orang berpikir untuk men­ja­dikannya novel. Inget pengarang yang belajar untuk meng-compress cerita setelah baca cerpen Anton Chekhov.

Semarang Suatu Hari – Bre Redana
Suara Merdeka, 22 April 2012
1471 kata
Ini cerpen mungkin bisa dibilang slice of life, abis kek cu­man penggalan keseharian aja tapi enak diikuti, nyaman ba­ca­nya, sambil geli-geli dikit. Tentang nganterin Mama ke Se­ma­rang, jalan-jalan. Mama cerewet. Untung ada teman, Mul­yadi, yang bisa meladeni kecerewetan Mama. Yah… su­ka sih… Oya, latarnya lingkungan Tionghoa nih.”

Setelah dua ratusan cerpen kubaca, tepatnya ketika sampai pada cer­pen seorang pengarang yang pernah dipuja-puji karena sangat nyas­tra atau entah apa, namun karyanya itu malah mem­bi­ngung­kan­ku, tidak berkesan buatku, aku menyadari kalau aku tidak me­nger­ti bagaimana menentukan mana yang bagus dan mana yang ti­dak. Dan bahwa, lazimnya cerpen yang kusuka adalah yang me­nu­rut­ku lucu. Aku juga cenderung tertarik dengan gaya.

Sebetulnya ada beberapa cerpen lain yang juga mengena, tapi ku­ba­tasi sampai sepuluh supaya sesuai dengan jumlah malaikat dan jum­lah jari, terutama yang sekaligus bikin aku geli alih-alih sedih. Be­gi­tu­pun dengan film, favoritku adalah yang bisa membuatku terkekeh-ke­keh bahkan terkakak-kakak seperti trilogi Naked Gun (terutama yang 2 ½), Kwalitet II, Setan Kredit, dan semacamnya.

Sebetulnya juga, aku ragu ketika hendak memasukkan “Jack dan Bi­da­dari”. Aku sangat terpikat dengan penuturan dalam cerpen ini. Na­mun keistimewaannya memudar ketika kemudian aku me­ne­mu­kan sekitar lima cerpen lain yang akhirannya mirip. Maka ini menjadi pem­belajaran, simaklah baik-baik, bahwa ketika lain kali kita me­ne­mu­kan cerita yang mengeksplorasi hubungan di antara dua insan yang galau atau semacam itu, bisa jadi kejutannya ada di orientasi seksual mereka.

Demikianpun dengan “Banjir di Cibaresah”, sepertinya aku temukan ju­ga dalam cerpen lain, di mana di akhir sorotan ditujukan pada so­sok pemimpin, entah kepala desa atau ketua RT. Tapi bagaimanapun aku suka Cepot dan Dawala. (!?)

Sebetulnya lagi, masih banyak penemuan yang kudapatkan dari pem­bacaan ini, meliputi jumlah kata, ragam tema, cara pe­nyam­pai­an (teknik), terjemahan, pemuatan dobel, cerpen-cerpen yang di­mak­sudkan untuk menjadi novel, frekuensi kemunculan karya dari ti­ap-tiap cerpenis, sampai muatan-muatan dalam cerpen yang (se­ca­ra pribadi sih) bikin pembacaan jadi enggak enak. Tapi membahas se­mua satu per satu akan lama. Dan lagi, apalah aku yang awam da­lam jagat persastraan ini. Hanya bisa menilai keokean suatu cerpen da­ri kocak atau tidak. Barangkali Pembaca pun tertarik untuk men­co­ba. Jika ingin coba mempelajari sesuatu, mulailah dari apa yang mu­dah bagimu. Demikianlah bagiku.

Ngomong-ngomong, mana cerpen koming 2012 favoritmu?[]

2 komentar:

  1. Ini main ke blog-nya Sungging Raga. Kisah Sepasang Rangka kamu bakalan ngakak-ngakak lagi:

    http://surgakata.wordpress.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya cerpennya absurd juga ^^ terima kasih mbak desi. ditunggu loh di bandung.

      Hapus