LAINNYA

Jumat, 29 Januari 2010

hewan-hewan yang pernah kujumpai di kamar kosku


kucing

namanya kiti.
tapi kini ia sudah mati.
kata pemiliknya yang bernama mbak dwi,
konon kiti mati karna tergilas mobil.

kelabang


sekali ia mampir,
kiranya berasal dari kamar mandi,
janganlah pernah ia kembali lagi,
amin.

kaki seribu

ia sudah singgah beberapa kali.
tanpa sempat mengucap, "hai",
langsung sapu kuambil
dan kuusir pergi.

kecoak

ia yang paling sering
mengajakku bermain
kejar-kejaran, namun gerakannya terlalu gesit
hingga aku capek sendiri.

kutu beras

padahal beras tak kutimbun,
mengapa dalam kamarku ia kedapatan merayap dengan anggun?
mungkin karena kamarku dekat dapur.
bikin sebal saja, huh...

semut segala macam ukuran

mereka di mana-mana.
mengerubuti makanan,
bercengkerama dalam koloni kerja,
atau hanya berputar-putar kebingungan ke seantereo kamar.

cicak

berkejaran dengan asik
hingga masuk ke dalam plastik.
gemerisik.
kadang membuatku terusik.

rayap

mereka tak membuatku
menyadari bahwa mereka mendekam di setiap kayu.
hingga tahu-tahu
kudapati serbuk-serbuk.

lalat

lamat-lamat ia mendekat
hingga ku berminat untuk menjerat
nya dengan sedotan berlumur madu yang membuat
kaki-kakinya lekat.

laron

ia datang kala musim mencapai hujan.
sayap-sayap patahnya buatku ingat akan
dewa 19 dan kahlil gibran.
meski demikian kehadirannya tak begitu kuinginkan.

jenis-jenis yang belum teridentifikasi


tak pernah kutemukan di ensiklopedia.
teman-teman menggeleng kala ku tanya.
jadi ku biarkan saja mereka berlalu dengan sendirinya.
meski ada bengkak di dagu atau leherku kadang, mungkin karna mereka.

Rabu, 27 Januari 2010

Cerita Bermoral dan Islami Ala Pak Dipo


Judul : Odah & Cerita Lainnya
Pengarang : Mohammad Diponegoro
Penerbit:Yogyakarta:HIKAYAT Publishing, 2008
Ukuran dan tebal buku : 14 x 20 cm, x + 358 hlm

Seorang kakek dengan tiga kaki kayu berjalan tertatih-tatih menuruni anak tangga. Usahanya membuat “aku” tergugah ingin menolongnya. Kakek itu mestilah seorang veteran yang tersia-siakan. Pejuang kemerdekaan negara yang bahkan pemerintah pun tak acuh terhadapnya. Uluran pertolongan dari “aku” ditampiknya. Hingga tongkatnya tergelincir dan “aku” pun sigap menangkapnya, terbukalah hati kakek itu. Berceritalah kakek itu tentang masa mudanya, awal dari ketidakpercayaannya pada orang lain. Ia dikhianati oleh ketiga temannya sewaktu sedang dalam perjalanan mengusung peti. Mereka menjebaknya hingga sepasang kakinya tergilas kereta. Sejak itu ia tidak menaruh kepercayaan pada siapapun. “Aku” masih mengira kakek itu adalah seorang pejuang gerilya sampai ia menanyakan apa gerangan isi dari peti yang kala itu mereka usung. Dengan tenang kakek itu mengaku bahwa peti tersebut berisi barang berharga dan ketika itu mereka adalah kawanan perampok.

Cerita ini hanyalah satu dari sekian cerita lainnya yang mengandung kejutan di akhir cerita. Sebut saja judul-judul lainnya seperti “Sumpah Dua Lelaki Bersaudara”—ketika sumpah sepasang kakak dan adik menjadi kenyataan—maupun “Keroyokan”—akibat pahit yang harus diterima seorang anak karena tidak mengindahkan peringatan ayahnya.

Memang terdapat pula beberapa cerita yang kejutannya kurang bikin geregetan. Modusnya sama: si protagonis memiliki prasangka akan seseorang, namun di akhir cerita kenyataan berbicara lain. Dalam “Lubang Perlindungan”, Ruben—protagonis—dibunuh oleh seorang serdadu Belanda yang dikiranya kakaknya namun ternyata bukan. Dalam “Perasaan yang Sangat Ajaib Kosongnya”, seorang wanita bersiap menyambut kedatangan anak kandungnya yang sudah lama tak ditemuinya. Setelah bertemu dan kerinduan dilepaskan, ternyata pria yang sedari tadi dipeluk dan diciumnya bukanlah anak kandungnya itu. Anak kandungnya telah meninggal dan yang datang adalah temannya yang hendak memberi kabar namun tidak jua diberi kesempatan bicara. Sementara itu dalam “Potret Seorang Prajurit”, seorang Indonesia mengira telah membunuh seorang lelaki dari keluarga tempatnya tinggal sementara di Jepang. Hal ini membuatnya takut luar biasa dan ketika ia minta pindah tempat, diberitahulah ia bahwa lelaki yang ia bunuh dengan lelaki dalam keluarga tersebut yang telah meninggal bukanlah orang yang sama.

Meski demikian, setiap cerita memiliki kesan dan keunikannya masing-masing. Dari cerita yang mengharukan (“Odah”), menguak jati diri manusia (“Memakai Baju Orang Lain”), inspiratif (“Persetujuan dengan Tuhan”), berbau mistis “Kembali ke Kuburan”, “Istri Sang Medium”, dan “Bubu Hantu”), hingga tidak jelas hendak menceritakan apa (“Catatan Seorang Narapidana”, atau mungkin saya saja kurang bisa menangkap), tersaji di sini. Pak Dipo, demikian panggilan pengarang, menghidangkan 30 cerita (yang sebagiannya serupa anekdot) yang tidak hanya menawan hati, tapi juga memberikan ajaran moral dan nilai-nilai Islam. Meski pengarangnya telah meninggal pada 1982 dan kenyataan ini membuat saya memvisualisasikan cerita-ceritanya dengan latar jadul, kebaikan-kebaikan di dalamnya tidak lekang oleh waktu. Bertambahlah satu nama dalam daftar sastrawan Islam Indonesia panutan, selain A. A. Navis.

Dalam “Berilah, Nanti Kau Akan Menerima”, misalnya, pesan moral yang sudah termuat di judulnya kembali mengingatkan kita akan sebuah firman Allah SWT. (lupa sumbernya) bahwa perniagaan yang paling menguntungkan adalah perniagaan dengan-Nya. Barangsiapa menjual kebajikan dengan menolong orang lain secara tulus, maka Ia nanti pasti akan membayarnya dengan pahala yang berlipat-lipat. (hal. 98)

Begitupun dalam “Rumah Sebelah”. Seorang lelaki sedang mencari cermin antik. Kebetulan sekali, ia bertemu teman lamanya yang sedang membutuhkan uang dan memiliki cermin antik yang dapat dijual. Dengan niat menolong teman sekaligus mendapatkan apa yang sedang diincar, lelaki itu pun membeli cermin antik tersebut tanpa melihat dulu barangnya. Keesokkan harinya, temannya mengantarkan sendiri barang itu ke rumah besarnya tanpa sempat menemui pemiliknya. Alangkah kagetnya lelaki itu ketika mengetahui ternyata cermin antik tersebut tidak sesuai seperti yang diharapkannya. Lebih kaget lagi ia setelah mengetahui bahwa selama ini temannya itu hidup tepat di samping rumahnya dalam rundungan kemiskinan.

“Tapi selama itu aku tidak pernah tahu bahwa ia tetanggaku dan penghuni satu-satunya gubug reyot di dekat rumahku. Ke mana selama lima belas tahun ini kubayar uang zakat? Kepada panitia-panitia masjid yang mengedarkan lis, ke giro bank pengumpulan zakat, kepada badan-badan dakwah yang berpuluh-puluh jumlahnya. Tapi tidak sepeser pun pernah kubayarkan kepada Fahmi.” (hal. 281)

Mengingatkan saya pada sebuah riwayat Rasulullah SAW. Saya tidak ingat persis redaksinya seperti apa. Kalau dengan bahasa sendiri, saya mengingatnya begini: tidak patut seorang muslim tidur di malam hari selama masih ada tetangganya yang kelaparan. Intinya sih, tetanggalah orang pertama yang harus kita perhatikan karena ia lebih dekat dari sanak saudara kita. Misalnya, saudara kita tinggalnya di Jogja sementara kita di Bandung. Suatu kali anggota keluarga kita sakit keras dan harus dibawa ke rumah sakit segera namun kita tidak mempunyai kendaraan. Jika tetangga kita mengetahui dan memiliki kendaraan, tentu ia akan segera menolong kita untuk mengantarkan anggota keluarga kita yang sakit itu. Anggota keluarga kita mungkin sudah keburu ‘lewat’ kalau harus menunggu sanak saudara yang dari Jogja itu datang menolong dengan kendaraannya.

Namun hal ini bisa tidak berlaku jika kita tinggal di perumahan individualis. Percayalah, meski rumahmu kerampokan sore-sore pun, boro-boro mencegah, tetangga individualismu mungkin tidak akan pernah tahu kalau kamu pernah kerampokan jika tidak ada yang memberitahunya.

Kiranya tidak ada konten yang terlalu dewasa untuk dibaca anak sekolahan. Dalam “Alice”, saya kira hal-hal yang ‘menyerempet’ mungkin akan terjadi. “Aku” dalam cerita ini mendapat kesempatan pergi ke Amerika. Di sana ia bertemu dengan seorang gadis pemusik bernama Alice. Ketertarikan pun tumbuh di antara mereka berdua. Namanya orang Barat, jika sudah tertarik, pastilah berlanjut ke tempat tidur. Namun itu tidak terjadi pada cerita ini. Alice menggedor-gedor pintu “aku” di tengah malam buta namun “aku” bergeming. Pagi pun tiba dan tidak ada ‘hal gawat’ yang terjadi. “Aku” kembali pulang ke negerinya tanpa meninggalkan kenistaan.

Pantaslah buku ini direkomendasikan kepada anak sekolahan. Toh, saya pun dapat membaca buku ini karena adik saya yang masih duduk di bangku SMPN 2 Bandung meminjamnya dari perpustakaan sekolahnya. Selain kian merangsang minat literasi, buku ini dapat dijadikan contoh yang baik jika ingin belajar membuat cerita bermoral dan Islami.

Jumat, 22 Januari 2010

Tagut dan Umat Islam Kini


Judul : Penjelasan tentang Makna Thoghut (Syarhu Ma’na At-Thoghut Lisy-Syeikhnil Islam Muhammad bin Abdul Wahhab)
Pengarang : Asy Syeikh DR. Sholih bin Fauzan bin Abdulloh Al Fauzan (alih bahasa oleh Al-Ustadz Abu Hafsh Marwan)
Penerbit : Sukoharjo: Maktabah Al-Ghuroba’, 2007
Tebal halaman : 82 hlm

Allah SWT. berfirman dalam Q. S. An-Nahl: 36,

“Dan sesungguhnya Kami telah Mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah tagut itu,” maka di antara umat itu ada orang-orang yang Diberi Petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”

juga dalam Q. S. Al-Baqarah: 256,

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat dan tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

dan An-Nisa’: 60,

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada tagut, padahal mereka telah diperintah mengingkari tagut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya.”

Intinya sama. Jauhi dan ingkarilah tagut. Tapi apa sih tagut? Al-Quran terjemahan terbitan PT. Syaamil Cipta Media dan CV Penerbit Diponegoro sama-sama mencantumkan “setan dan apa saja yang disembah selain dari Allah SWT” sebagai penjelasan untuk arti tagut. Buku tipis ini, yang dapat tuntas dibaca hanya dalam beberapa jam saja—bahkan mungkin kurang dari sejam—memberikan penjelasan yang lebih rinci mengenai apa saja yang dimaksud dengan tagut.

Untuk dapat memahami apa makna tagut, kita harus mengetahui konteks di balik turunnya ayat-ayat tersebut dan bagaimana kronologinya. Beberapa jilid tebal Sirah Nabawiyah mungkin dibutuhkan atau tanyalah pada ahli sejarah untuk mendapatkan jawabannya. Namun rupanya penulis buku ini sudah begitu mulia meringkaskannya untuk kita. Ia juga mengutip dan menjelaskan pembagian tagut menurut Ibnu Qoyyim (tidak ada catatan kaki) yang membagi tagut (yang sesungguhnya amat banyak) menjadi lima jenis berdasarkan pentolan(?)nya:
1. Iblis. Merupakan jenis tagut yang pertama kali.
2. Siapa saja yang diibadahi selain Allah dan dia dalam keadaan ridha terhadap sesembahan tersebut. Malaikat, wali, orang soleh, dan sebagainya tidak termasuk karena mereka tentu tidak mengharapkan diri mereka menjadi sesembahan selain Allah. Yang dimaksud di sini adalah setan, baik yang berbentuk jin atau manusia.
3. Siapa saja yang menyeru kepada manusia untuk menyembah dirinya
4. Siapa saja yang mengaku mengetahui perkara yang ghaib. Yang dimaksud di sini adalah dukun atau paranormal. Sementara Allah memperlihatkan perkara gaib kepada para Rasul adalah untuk kemaslahatan dakwah mereka (hal. 17). Allah berfirman dalam Q. S. An-Naml: 65, “Katakanlah (Muhammad): “Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah.” Lalu bagaimana dengan orang yang mengaku diberi ‘kelebihan’, dapat melihat yang ‘tak terlihat’ misalnya, seperti beberapa teman saya, yang sebetulnya tidak menginginkannya?
5. Siapa saja yang berhukum kepada selain hukum yang diturunkan oleh Allah Ta’ala. Yang termasuk ke dalamnya adalah para Huakkam (ahli hukum?) yang membuat perundang-undangan dan menghilangkan hukum syariah kemudian menjadikan peraturan-peraturan buatan mereka sebagai pengganti hukum syariah (hal.19). Adapun orang yang berhukum kepada selain Allah Ta’ala karena ber-ijtihad dalam mencari al-haq tidak termasuk ke dalamnya, meskipun ia salah. Kesalahan tersebut tidak disengaja karena ia adalah ahli yang membahas permasalahan sesuai bidangnya dan senantiasa mencari yang haq namun tidak mendapatkannya. Ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW. (tidak disebutkan perawinya) yang dapat ditemukan di halaman 20. Jadi, mereka yang berhak ber-ijtihad hanyalah mereka yang ahli.

Kalimat-kalimat dengan redaksi yang agak berbeda tapi beresensi sama tersebar di halaman-halaman buku ini. Ini merupakan salah satu strategi dalam berkomunikasi yaitu dengan pengulangan (pervasion). Dengan strategi ini diharapkan komunikan dapat mengingat pesan yang disampaikan.

Fatwa-fatwa dari penulis, yang sepertinya seorang syeikh tinggi dari suatu negara di Asia Barat atau Afrika Utara, dilampirkan mulai halaman 71 dalam format FAQ. Sayangnya, profil penulis tidak disertakan dalam buku ini, biarpun sekilas. Saya juga tidak mendapatkan hal yang sama dalam beberapa buku tentang Islam yang pernah saya baca, seperti “Kajian Lengkap Sirah Nabawiyah”-nya Prof. Dr. Faruq Hamadah (diterbitkan oleh Gema Insani Press) dan “Roman Sejarah Muhammad Sang Pembebas”-nya Abdurrahman Asy-Syarkkowi—yang konon seorang sejarawan terkenal, entah dari mana (diterbitkan oleh Pustaka Pelajar). Sekiranya penting untuk mencantumkan profil penulis dalam buku-buku semacam ini. Dengan demikian kita bisa mendapatkan gambaran bahwa yang menulis memang ahli agama yang berkredibilitas dan apa yang ditulisnya otentik dan bisa dipercaya serta dijadikan acuan. Memangnya Islam tidak boleh ilmiah? Bukankah Islam dan ilmu pengetahuan saling terkait? Bagaimana kita bisa mempercayai perkataan seseorang yang identitasnya saja tidak jelas?

Mencantumkan catatan kaki, dan siapa perawi hadis—dalam konteks buku ini, juga penting sebagai bukti validitas informasi.

Buku ini bisa menjadi bahan yang baik untuk belajar EYD. Penggunaan tanda baca sampai struktur kalimat yang tidak tepat jumlahnya bisa menyamai ranjau yang ditanam di wilayah tentara Khmer. Tapi biarlah, toh saya pun bukan guru Bahasa Indonesia.


Beberapa persoalan yang menarik untuk disoroti dalam buku ini dan kaitannya dengan umat Islam kini

“Taruh saja, benar sebagaimana yang mereka ucapkan yaitu manusia itu memiliki kebebasan di dalam beribadah dan keyakinannya, serta tidak ada yang menentang pendapat tersebut, niscaya akan hilanglah segala perkara sebagaimana yang disebutkan di atas, yaitu tidak ada faedah dakwah kepada Allah Ta’ala, jihad di jalan Allah Ta’ala, bahkan tidak ada faedah diciptakannya Jannah (surga) dan neraka, kenapa orang-orang kafir akan dimasukkan ke dalam api neraka dengan kekal di dalamnya kalau pendapat tentang kebebasan beragama yang mereka yakini itu benar?” (hal. 10)

Memang dalam Q. S. Al-Baqarah: 256, yang telah dikutipkan sebelumnya, tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam. Lantas apakah pernyataan ini dapat dipakai untuk membenarkan kebebasan beragama dan berkeyakinan? Bacalah lanjutan ayat tersebut: “...telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” Apakah dapat dibenarkan semua agama dan keyakinan sementara yang sesat telah jelas? Jika semua benar, yang mana yang sesat? Perdebatan mengenai logika kalimat ini kiranya tak akan habis-habisnya namun saya kira tetap harus dapat diputuskan yang mana yang kebenaran sejati.

“Sehingga mesti harus terdapat beberapa perkara ini di dalam mengingkari thagut.
Perkara yang pertama: wajib bagi kalian untuk mengetahui pengertian thagut, karena kalau kalian tidak mengetahuinya, tidak mungkin kalian akan menjauhinya, bagaimana kalian akan menjauhi suatu perkara yang kalian tidak mengetahuinya.
Perkara yang kedua: ketika kalian mengetahuinya kalian akan mudah untuk menjauhinya.
Perkara yang ketiga: ketika kalian telah menjauhinya maka kalian harus memusuhinya, membenci para pengikutnya, dan memusuhinya karena Allah Ta’ala.”
(hal. 28)

Setelah membaca ini, saya bisa menduga-duga salah satu penyebab mengapa ada saja orang di belahan bumi barat sana yang meledakkan diri. Terima kasih untuk mereka, karena telah membuat kami yang di belahan bumi sini jadi ikut-ikutan dicap teroris.

Namun pernyataan-pernyataan ini rupanya dibuat berdasarkan Q. S. Al-Mumtahanah: 1 yang berbunyi, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia...” yang dalam buku ini hanya dikutip sampai ini, padahal kalimatnya belum sampai titik karena ada kelanjutannya,”...sehingga kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal mereka telah ingkar kepada kebenaran yang disampaikan kepadamu.” Kalimat ini sudah titik namun masih ada kalimat-kalimat lanjutannya yang dapat dibaca sendiri.

Saya bertanya-tanya, wujud permusuhan dan kebencian apa yang harus kita tunjukkan pada mereka yang bukan pengikut ajaran Rasulullah SAW? Bagaimana kita menerapkannya dalam konteks masyarakat majemuk seperti di Indonesia? Di mana banyak teman kita yang non muslim dan kalau kita tiba-tiba memusuhi dan membenci mereka, bisa-bisa kita dianggap mengancam stabilitas nasional.

Bukankah lebih baik menyikapi musuh dengan proaktif ketimbang reaktif? Masih ingatkah akan riwayat yang mengisahkan betapa Rasulullah SAW tetap mengasihi sesama meskipun orang tersebut adalah Yahudi?. Diriwayatkan (lupa perawinya), Rasulullah setiap hari memberi makan seorang nenek Yahudi renta yang buta. Rasulullah sampai mengunyahkan makanan dan menyuapi nenek itu, padahal apa yang dilakukan si nenek? Sambil disuapi ia mencerca merca Rasulullah. Ketika Rasulullah meninggal, Abu Bakar datang menggantikannya. Namun nenek itu malah menolak karena ia merasa orang yang menyuapinya adalah orang yang berbeda dan orang itu tidak lebih baik cara menyuapinya ketimbang orang yang dulu. Begitu tahu bahwa orang yang biasa menyuapinya telah tiada dan orang itu adalah Rasulullah SAW, nenek itu menangis menyesali perbuatannya selama ini dan kemudian menyatakan diri masuk Islam.

Jadi saya bertanya-tanya lagi, mungkinkah musuh yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah musuh berupa wujud manusia, melainkan berupa ideologi yang bertentangan dengan tauhid? Seorang kenalan pernah memberitahu saya bahwa “Allah” dalam Al-Quran pun tidak mesti dipahami sebagai Zat. Ia juga adalah ideologi (lupa nama surat dan ayat berapa, yang saya ingat redaksinya, “...dan berpeganglah kepada tali Allah...”, di mana di sini ‘tali’ diartikan sebagai ideologi—ideologi Allah. Jika Allah di sini dimaknai sebagai Zat, bagaimana mungkin kita dapat berpegang pada ‘tali’ dari Zat yang tak terjangkau indra?) dan Sunatullah (Q.S. Ar-Ra’d: 17, Ibrahim: 32, dan masih banyak lagi).

Lalu bagaimanakah baiknya wujud permusuhan dan kebencian itu sendiri jika kita memang diharuskan berbuat begitu? Jika umat Islam diajarkan untuk memusuhi dan membenci umat lainnya bukankah itu sama saja dengan melumuri diri dengan kaldu ayam lantas menarikan chicken dance di kandang macan (dan macannya sedang di tempat)?

“Selama seseorang mengatakan: bahwa hukum yang diturunkan oleh Allah Ta’ala tidak lagi selaras dengan zaman, bertentangan dengan perkara-perkara modern, bertolak belakang dengan politik kenegaraan, kita harus berjalan bersama mereka dalam perkara-perkara semacam ini, syariat itu hanyalah tepat dilakukan di dalam masjid-masjid, adapun hukum di antara sesama manusia dan hukum poltik kenegaraan maka harus sesuai dengan perkembangan negara, kita harus mengikuti negeri-negeri yang lain dan mengikuti perkembangan dunia, maka orang-orang yang mengatakan ucapan semacam ini walaupun dia shalat, puasa, dan haji dan mengucapkan: Laa ilaha illallah sebanyak nafas dia, dia tetap kufur, karena dia tidak kufur kepada thaghut. Dan Allah Ta’ala di dalam ayat-Nya tersebut mendahulukan kalimat kufur kepada thaghut daripada kalimat keimanan kepada Allah, karena keimanan kepada Allah itu tidaklah benar kecuali setelah kufur kepada thaghut.” (hal. 22 – 23)

Apakah mungkin bagi negara kita, dengan menilik permasalahan-permasalahan yang selalu merundungnya, untuk dapat 100% menerapkan syariat? Dan tidak mengikuti perkembangan dunia ?(??) Apakah sekiranya jika kita, sebagai rakyat negara ini, hendak mematuhi pernyataan di atas (kalimat yang awal, karena dengan kalimat yang terakhir saya sepakat), dapat begitu saja berlepas diri dari negara?

Bukannya tak mungkin sama sekali, saya kira. Namun melihat kondisi masyarakat kita sekarang, ini jelas akan membutuhkan waktu yang amat sangat lama sekali. Dan tentu saja akan lahir bermacam pergolakan, pertentangan, pengorbanan—whatever you name it—dari kaum yang kontra. Tidak heran, demi cita-cita membentuk sebuah negara syariah ini beberapa organisasi Islam di negara kita amat bersemangat dan masif dalam pergerakan mereka. Tapi syariah yang mana dulu? Syariah yang seperti apa? Karena rupanya kepentingan yang diusung pergerakan-pergerakan ini berbeda-beda hingga mereka tak bisa jadi satu. Padahal cita-citanya sama (!?).

...jika seorang muslim memiliki sifat sangat memperhatikan dan menjaga rukun-rukun, dzikir-dzikir, senantiasa menjauhkan dari perbuatan fakhisah (kejelekan) dan perkara-perkara yang dapat mengantarkan kepada kesyirikan, akan tetapi dia tertimpa sikap menganggap remeh perkara yang diharamkan serta mendengarkan musik dan nyanyian, maka bagaimana ya Syaikh?
Perkara-perkara tersebut termasuk dosa besar, yaitu melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah Ta’ala dan mendengarkan sesuatu yang diharamkan oleh-Nya. Keduanya termasuk dosa besar dan wajib baginya untuk taubat kepada Allah dalam perkara tersebut, akan tetapi perbuatan mereka tidaklah mengeluarkannya dari agama ini, dan dia digolongkan sebagai pelaku maksiat dan pelaku dosa besar. Jika ia bertaubat kepada Allah Ta’ala maka Allah akan mengampuninya.”
(hal. 79)

Saya kira, jika kelak musik diharamkan, maka buku semestinya diharamkan pula. Setiap media memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Apakah lebih banyak manfaat atau mudharat-nya, itu tergantung kepada manusia yang menggunakannya. Bukankah banyak juga buku yang isinya sampah mau pun bisa membelokkan haluan ideologi seseorang, dari kanan jadi kiri, misalnya, lalu mengapa buku tidak ikut saja diharamkan? Efek dari membaca buku ‘gawat’ terbukti bisa jauh lebih ‘dahsyat’ ketimbang musik yang ‘sekedar’ melenakan. Kiranya belum ada musik yang memiliki efek sehebat buku “Das Kapital” dalam menuai revolusi dan mengubah ideologi separuh belahan bumi. Bukankah ilmuwan muslim jua yang menemukan terapi musik? Sebut saja Abu Yusuf Yaqub ibnu Ishaq al-Kindi (801-873 M) dan al-Farabi (872-950 M).*

Sebagai tambahan informasi, buku ini dikeluarkan oleh manhaj Salaf, golongan orang-orang terdahulu, yang dikenal begitu konservatif dalam mengamalkan ajaran Rasulullah SAW.


Ilmu dan iman sebagai pemecahan masalah

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yang berhak ber-ijitihad hanyalah yang ahli. Dengan demikian, ilmu pengetahuan amat penting peranannya bagi seorang muslim. Dengan menguasai ilmu pengetahuan, paham metodenya, dan berkapabilitas, maka ia mempunyai hak untuk ber-ijitihad dan mencari jalan keluar dari permasalahan-permasalahan yang menimpa kaum muslimin.

Ijtihad
menjadi penting karena tidak semua permasalahan dapat langsung dibeberkan solusinya dalam Al-Quran dan Hadis—pedoman wajib umat Islam. Al-Quran kaya akan metafora dan tidak semua ayat-Nya dapat termuat di sana. Sebagaimana Allah SWT. berfirman dalam Q. S. Al-Kahfi: 109, “Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (dan tidak akan cukup pula pohon di bumi dijadikan kertas untuk ditorehkan ayat-ayat-Nya!), juga dalam Q. S. Ali ‘Imran: 3, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal” (baca juga Q.S. Al-Baqarah: 164 dan Ar-Rad: 3). Dengan demikian, keduanya membutuhkan penafsiran dan pemahaman yang objektif dan ilmiah serta berlandaskan tauhid. Dengan metode tersebut, siapa pun yang mengkaji (yang berkapabilitas tentu) akan dapat menemukan hikmah yang bisa menjadi pemecahan masalah tanpa harus membuat umat terpecah-belah.

Islam dan ilmu pengetahuan saling melengkapi dan keduanya bersifat universal. Siapa pun berhak mengaksesnya, termasuk kita.

Mengaku muslim sejati tidak afdol kiranya kalau tidak mempelajari sendiri apa itu Islam. Tidak hanya mengandalkan ingatan akan materi Pendidikan Agama Islam yang telah diberikan di bangku sekolahan maupun perkuliahan saja tentunya. Banyak buku tentang Islam yang telah diterbitkan bisa dibaca, meskipun banyak pula di antaranya yang bertentangan. Memang, banyak penafsiran terhadap Al-Quran dan Hadis yang kerap membuat kita ragu penafsiran manakah yang seharusnya diikuti. Namun janganlah itu menjadikan kita lantas antipati dan tidak mencari bagaimana Islam sesungguhnya, agar kita bisa menjadi muslim seutuhnya. Tanpa mencari, kita tidak akan pernah menjadi. Ilmu dan iman yang saling melengkapi dapat menjadi bekal dalam mencari.


*

sumber gambar

Rabu, 20 Januari 2010

Mari Ciptakan Dunia yang Aman dan Nyaman Bagi Mereka yang Punya Bokong Besar!*


Judul : Does My Bum Look Big In This? – Besar Itu Indah
Pengarang : Arabella Weir (alih bahasa oleh Monika Endita Indriani)
Penerbit : Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004
Tebal dan panjang halaman : 272 hlm; 18 cm

Menjadi ramping? Siapa wanita yang tidak ingin? Begitu pun Jacqualine M. Pane alias Jackie. Menjadi ramping adalah obsesinya. Berbagai macam usaha sudah ia lakukan agar dapat mengurangi berat badannya; kelas senam, diet ketat, terapi, hingga mendatangi dokter bedah untuk melakukan sedot lemak!--meski akhirnya tidak jadi. Pikiran mengenai kekurangan-kekurangan tubuhnya membuatnya menjadi tidak percaya diri dan selalu berpikiran negatif.

“Aku ingat sewaktu masih sekolah pernah mengunjungi galeri seni dan melihat lukisan aneh memperlihatkan kotak kardus yang menuruni tangga dan bagian-bagian sepeda yang melayang di udara. Guru kesenian memberitahu lukisan-lukisan itu dibuat saat si seniman, yang tak mampu membeli makanan saking miskinnya, mulai berhalusinasi gara-gara kelaparan. Semoga aku tak membuat lukisan-lukisan semacam itu di kantor. Kurasa Bossy Bowyer takkan menolerir jika aku tahu-tahu melukis jeruji sepeda di tengah presentasi grafik penjualan." (hal. 47)

Ia bahkan tidak mengacuhkan 'sinyal-sinyal' yang diberikan Andy, bawahannya di The Pellet Corporation—tempatnya bekerja sebagai Koordinator Senior Bagian Konferensi, juga Carlo Pozzi, klien Italianya. Setiap lelaki yang mendekatinya selalu dicurigainya sebagai homo.

"Menurut Sally, Andy pasti cowok baik-baik karena ia mau mengurusku dan tak berusaha mengambil keuntungan di saat aku tak sadarkan diri. Tapi katanya kita juga harus melihat dari kacamata laki-laki, seperti yang disimpulkan Dan, bahwa Andy pasti homo. Yah, jika benar, sejujurnya itu amat melegakan, tapi kelihatannya mustahil—kecuali gara-gara melihat tubuhku malam itu, ia jadi tak berselera lagi terhadap wanita." (hal. 61)

Saat berada dalam suatu kesempatan bersama mereka, ia malah menyangka keduanya adalah homo yang saling tertarik, apalagi karena Andy jadi bersikap sensitif padanya karena kedekatannya dengan Carlo Pozzi.

"Baik Andy maupun Carlo tidak saling bicara selama makan malam; mereka pasti saling menyukai. Aku jadi gugup, merasa seperti "si pengganggu" di antara dua orang yang sedang kasmaran..." (hal. 114)

Kenyataan bahwa ia masih lajang di usia pertengahan 30 turut menganggunya. Ia kerap mendasarkan keputusannya pada buku-buku panduan seperti 34 Steps to Make That Man Marry You—34 Langkah untuk Membuat Pria Itu Menikahi Anda. Ia bahkan telah merancang buku panduannya sendiri namun tidak selesai.

Chicklit ini berformat buku harian, jadi siap-siap saja menyelami kehidupan sehari-hari Jackie yang, dengan gaya penulisannya yang kocak dan konyol, bakal memancing senyum bahkan tawa. Dimulai pada tanggal 3 Januari (pas sekali dengan tanggal pertama saya membacanya!) dan diakhiri 31 Desember, kita dapat memantau proses yang dialami Jackie selama setahun hingga ia dapat menerima keadaannya. Tubuh besar bukanlah malapetaka selama masih ada lelaki yang mau mengajakmu bercinta. Eh, bukan. Besar itu indah. Tidak peduli bagaimana bentuk tubuhmu, yang penting sehat dan janganlah itu menjadi penghalangmu dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

Sungguh inspiratif bagi seorang manusia yang tidak menghasilkan perubahan apapun selama satu tahun kehidupan yang telah dijalaninya. Dan itu berlangsung dari tahun ke tahun...("''-_-)

Maaf, nyolong curhat.

Berlatar di London menjelang abad 21 (menilik dari Katalog Dalam Terbitan-nya), chicklit ini mengingatkan saya pada “Bridget Jones’s Diary”-nya Helen Fielding. Sayang saya belum baca. Semoga di dunia nyata memang ada lelaki-lelaki yang menilai perempuan tidak hanya dari bentuk tubuhnya. Tapi si Jackie itu memang apa menariknya sih? Tidak dijelaskan alasan di balik ketertarikan Andy dan Carlo padanya. Apakah hanya karena selera? Selera terhadap apanya?

Di satu sisi chicklit ini amat menggelikan, menyegarkan, dan memperkaya wawasan akan kebudayaan Barat, namun selalulah sedia filter sebelum keblablasan dan mencoreng moral.


* = dikutip dari halaman 271 dengan sedikit sekali perubahan

sumber gambar

Jumat, 15 Januari 2010

Kumpul-kumpul Para Pengamat Burung Jogja di Jogja Bird Walk Tahun Baru 2010 (Bagian 2 dari 2—Tamat)

(Di) Jogja (nyari) Bird (sambil) Walk (pada) Tahun Baru 2010 yang sesungguhnya 

Sarapan yang disediakan pagi itu adalah senampan besar (apa sih itu namanya wadah bulat besar yang terbuat dari anyaman bambu?) getuk singkong untuk semua orang. Masih saya lihat ada sisa setengah di nampan. Saya belum sempat mencicipinya karena semuanya, peserta dan panitia, sudah bercampur di halaman rumah Mbah Udi. Memang saya yang bangun paling siang pagi itu. Sehabis solat Subuh yang ‘dingin’, saya lebih memilih untuk tidur lagi ketimbang sarapan.

Acara pagi ini adalah pengamatan burung. Konsep acara ini hanya jalan-jalan biasa sambil mencari burung dan mengamatinya. Jam 11 kami diharapkan sudah berada di basecamp  lagi. Lagipula hari itu hari Jumat.

Peserta dan panitia dicampur satu dan dibagi menjadi 3 kelompok. Panitia memberitahu saya bahwa saya masuk kelompok 2. Nama anggota masing-masing kelompok dibacakan, lengkap dengan pemandunya. Termasuk saya dan pemandu yaitu Mas Imam, di kelompok 2 ada 9 orang. 4 di antaranya adalah anggota KP3 Burung. 2 di antaranya plus saya adalah perempuan. Sisanya adalah anggota Bionic.

Menjelang jam 7, ketiga kelompok berangkat meninggalkan basecamp alias rumah Mbah Udi sambil jalan beriringan. Setiap kelompok berbekal lebih dari satu binokuler dan kitab Mac Kinnon—dua alat yang wajib dibawa dalam pengamatan burung.

Cerahnya hari itu mengusik kesejukan pagi. Bulir-bulir keringat terasa bergulir. Tirai yang menyelubungi Merapi tersibak. Dengan gagah Merapi memamerkan setiap teksturnya. Gumpalan hijau menyemut dari bawah tapi tidak sampai naik ke atas. Yang terlihat di sana kiranya hanya pasir, kapur(?), dan bebatuan. Semuanya jelas terlihat dari bawah sini.

Sementara kelompok lain terus menanjak, kelompok saya mandeg di sebuah gerbang berhiaskan rangkaian huruf Jawa yang artinya “Regol Merapi”. Rupanya ada suara cicit burung yang ramai sekali. Terlihat pula sosoknya berseliweran.

“Kuning... Kuning...” Seseorang memberi isyarat.

Terlihat titik hitam di sebuah menara listrik. Ketika dilihat di binokuler, tampaklah titik itu menyerupai siluet hitam seekor burung. Ketika burung itu berbalik, terlihat ada warna merah cerah di sepanjang dadanya. Merah di atas kuning, lebih tepatnya.

“7.07 WIB. Cabe gunung.” Dayu mengisi beberapa kolom pada form pengamatan burung yang menjadi bagian bawaannya. Selain waktu dan nama lokal, judul masing-masing kolom pada tabel dalam form tersebut adalah nomor, nama ilmiah, lokasi, keterangan, dan jumlah. Sementara itu di luar tabel terdapat lokasi, tim, tanggal, dan cuaca. Dayu menambahkan lagi dalam catatannya, “Dicaeum sanguindentum. Regol Merapi. Bertengger.”

 “Ini burung pertama di tahun 2010,” tandas Mas Imam.

Kami memasuki jalan setapak di samping sebuah bangunan bercat putih—jalan yang sama dengan jalan yang dilalui saat pengamatan sebelumnya.

Sambil menuruni jalan, terdengar “tet tet tet” suara burung betet. Sebagian dari kami sudah berada di bawah sementara sebagian lagi masih di tengah-tengah, diam mengamati. Suasana yang sama dengan pengamatan sebelumnya. Seorang mas-mas bukannya mencari burung, malah mengamati bebungaan putih di pucuk tajuk sebuah pohon jauh di seberang. Katanya bunganya bagus tapi dia tidak tahu jenisnya.

Kami melanjutkan berjalan sebentar lalu berhenti lagi di dekat pohon yang ditandai dengan huruf A oleh penyelenggara Pelatihan Mountain and Jungle Course (MJC). Sebenarnya tanda ini sudah saya dan teman-teman temukan sejak pengamatan sebelumnya. Menurut keterangan yang tertera, tanda tersebut dimohon agar tidak diganggu atau dipindahkan hingga pelatihan yang dilaksanakan sampai tanggal 24 Desember itu berakhir. Tanggal yang sama dengan tanggal pengamatan sebelumnya! Sayang, waktu itu kami tidak bertemu dengan para partisipannya. Nah, sekarang sudah tanggal 1 Januari 2010. Kalau yang dimaksud adalah tanggal 24 Desember 2009, seharusnya saya bisa membawa tanda tersebut pulang untuk oleh-oleh ^^

Masih terdengar denging yang sama yang saya dengar semenjak saya masih di gerbang Regol Merapi. Ada lebah mengitari saya terus menerus hingga membuat saya bertanya-tanya, apakah tubuh saya menguarkan harum madu? Asam ketek sih iya.

Seorang mas-mas bersiul memanggil burung. Terdengar balasan kicauan yang indah. Namun kelompok saya malah melanjutkan perjalanan. Begitu pun saat kami berhenti di pinggir jurang. Sepertinya mereka melihat sesuatu. Terdengar “ciap ciap” dari atas.

Perdu lebat di sisi kanan kiri jalan tidak menghambat langkah kami. Begitu pun sebatang pohon tumbang yang melintang miring. Terlihat sosok seekor burung meloncat-loncat lalu terbang, seakan menggoda kami untuk dapat menemukannya. Ia meloncat-loncat di celah-celah tajuk yang cukup lebat namun masih membiarkan langit biru muda cerah menampakkan dirinya. Baru berjalan beberapa langkah, terdengar lagi suara burung yang berbeda. Lalu hilang ditimpali suara burung lain yang lebih nyaring dengan latar desisan para serangga hutan. Kami jalan lagi sebentar lantas berhenti, balik serong kiri, dan kompak mendongak, mengikuti arah gerak seekor burung yang lenyap lantas ditelan tajuk. Kami jalan lagi, berhenti. Telunjuk-telunjuk naik. Sepertinya telah ditemukan lagi burung di atas sana. Benar saja. Terlihat beberapa ekor burung meloncat-loncat di ujung tajuk tapi segera menghilang. Terdengar sekali-sekali suara burung yang berbeda. “Ngik ngok ngik ngok.” Seperti suara gesekan biola rusak yang kocak. Terasa kegerahan mengalahkan kesejukan.

“Itu burung apa, Mas?” tanya saya pada Yunan, anggota KP3 Burung angkatan 2006 yang juga panitia acara. Sedari tadi ia berjalan di depan saya sambil memotret-motret.

“Jangan mengartikan burung dari suaranya. Suara bisa menipu,” cetusnya.

Suara memang bisa menyatakan kehadiran burung. Namun tahap awal dalam mengidentifikasi burung adalah harus dicari dulu burungnya dengan mata, baru mengamatinya dengan binokuler untuk mendapatkan ciri-ciri yang lebih jelas. Setelah itu, lakukan pengecekan dengan Mac Kinnon untuk menentukan jenisnya. “Kecuali untuk burung-burung yang suaranya udah jelas,” Yunan menambahkan.

Angin sejuk lembut membelai, mengusir gerah. Para pengamat kebanyakan diam atau berbicara pelan hanya kalau diperlukan.

Di suatu titik, masih di pinggir jurang, di tengah sisi bukit, kami melihat lagi di kejauhan sepasang burung berkejaran di sela-sela tegakan. Sepertinya ada beberapa ekor burung lain selain sejoli itu. Kami berhenti. Mencoba menangkap bayang mereka dengan binokuler. “Ada yang mau lihat?” Seseorang menawarkan binokulernya.

Di form pengamatan kini, dalam selang waktu 23 menit sejak penemuan burung pertama, sudah tertera 4 jenis lainnya.

Mata para pengamat burung amatlah jeli. Mereka mampu melihat burung yang mungkin seorang awam tidak akan mampu melihatnya. Mereka terlihat antusias mana kala melihat seekor burung berwarna oranye mengepakkan sayapnya, maupun sekelebat bayang seekor burung bersayap hijau di kejauhan.

“Eh, ada tupai,” celetuk seseorang disusul desah kecewa yang serempak. Bukan karena tupai itu, melainkan karena burung yang hendak dipantau terbang menjauh lalu hilang.

Lama kami tidak beranjak dari situ. Tidak ada habis-habisnya burung-burung dengan beragam jenis dan warna itu berkeliaran, mengundang intaian sekian pasang mata, menahan kami untuk tidak segera pergi. Dengan kicauan khas masing-masing, mereka beterbangan, meloncat atau merayap dari satu tajuk ke tajuk lain.

“Obral murah,” kata Mas Imam sambil tertawa kecil.

Para pengamat burung itu berkerumun agak rapat. Ada yang menunjuk-nunjuk, memegang binokuler, maupun mengamati dengan mata bugil. Tidak kunjung puas mereka mengidentifikasi setiap burung yang tak pernah menclok lama-lama di suatu tempat. Sesekali ada anggota baru KP3 Burung yang bertanya pada Mas Imam apa nama burung yang baru mereka lihat itu. Sebagian yang lain duduk mengerumuni Mac Kinnon untuk menentukan jenis dari burung-burung yang terlihat tadi.

“Pusing lihatnya, burungnya pindah-pindah terus,” keluh Dayu.

Sementara para pengamat burung khusyuk dalam ketertarikan mereka, saya memerhatikan bunga-bunga putih yang tersebar di antara rerumputan. Kiranya ini bunga yang sama dengan bunga yang diamati mas-masnya tadi. Menurut Yunan, yang juga co ass praktikum Dendrologi, bunga ini adalah bunga puspa (Schima walichii). Kelopaknya berwarna putih dengan sekumpulan benang sari coklat muda di bagian tengah. Baunya mengingatkan saya pada acara mantenan, juga pemakaman.

Lama-lama saya tertarik juga untuk ikut merasakan apa yang dialami para pengamat burung itu. Saya mencoba ikut mengamati dengan lebih jelas burung yang terlihat menggunakan binokuler.

“Megangnya pakai dua tangan,” tegur Mas Imam saat melihat saya menempelkan binokuler ke mata hanya dengan sebelah tangan. Saya lupa tangan sebelahnya lagi saya gunakan untuk apa. Saya menurut. Ternyata, tidak mudah juga ya mengamati burung. Kita bisa saja melihat seekor burung bertengger di pohon dengan mata bugil. Namun saat lensa binokuler sudah menempel di mata, ternyata tidak ada yang kita temukan. Entah burungnya yang sudah terbang ke mana atau kita yang salah mengarahkan binokuler. Objek yang terlihat melalui lensa binokuler jadi berlipat-lipat jauh lebih besar dari aslinya dan itu malah kerap membingungkan kita. Benarkah ini tadi cabang yang saya lihat ada burung bertengger di atasnya? Kok bentuknya jadi beda ya? Begitu saya bertanya-tanya dalam hati.

Selain binokuler, rupanya ada juga yang membawa monokuler. Dari namanya saja sudah jelas, binokuler memiliki dua lensa sedangkan monokuler hanya satu. Binokuler kita pegang dengan dua tangan pada corong lensanya. Sementara itu, monokuler biasanya ditempatkan pada tripod. Kaki tripod menjejak tanah, tungkainya kita pegang dengan satu tangan, sementara tangan yang satu mengarahkan corong monokuler ke arah yang dikehendaki. Menurut Yunan, keunggulan monokuler adalah jangkauannya yang lebih jauh.

Adakah tripokuler? Mungkin hanya Dewa Er Lang dalam Legenda Kera Sakti yang membutuhkan.

Tiba-tiba Wahib, anggota KP3 Burung angkatan 2008, berlari ke belakang. Ia menunjuk langit terbuka. Seorang mas-mas bertopi, yang menyaksikan hal yang sama, menyebutkan ciri-ciri apa yang barusan terlihat. Di antaranya adalah suara lengkingan yang khas. Mas Imam, Mac Kinnon berjalan itu, bergumam, “elang ular bido.”

“Elang hitam dan elang jawa juga pernah terlihat di kawasan ini,” tambah Wahib kemudian.

Dengan demikian, sampai 8.20 WIB, sudah 10 jenis yang kami temukan, baik dalam keadaan bertengger maupun terbang. Masing-masing jenis jumlahnya berkisar antara 1–4 ekor, yaitu (sesuai urutan kemunculannya), cabe gunung, cekakak jawa (Halcyon cyanoventris), ciung batu kecil (Myiophoneus glaucinus), madu gunung, gelatik batu, sepah gunung (Pericrocotus miniatus), cicah daun sayap biru (Chloropsis cochinchinensis), srigunting keladi (Dicrurus aeneus), kepudang sungu gunung (Coracina larvata), dan elang ular bido (Spilornis cheela)

Jam-jam seperti ini, apalagi didukung oleh cuaca cerah, memang waktu yang paling baik untuk mengamati burung.

“Maksimal ampe jam 11,” bisik Yunan sambil memberi isyarat tangan.

Kami bertahan di titik yang sudah bagai surga burung itu sampai tidak terlihat begitu banyak burung lagi yang berseliweran. Sudah waktunya untuk mengeksplorasi tempat lainnya.

Sambil jalan, dua orang menyadari bahwa diri mereka telah menjadi korban gigitan pacet. Tiba-tiba ke luar darah dari salah satu titik di kaki mereka. Yang lain segera meneliti kaki mereka sendiri, kalau-kalau mereka pun menjadi korban. Ya, korban-korban lain pun bertumbangan, pacetnya.

Sesekali kami bertemu warga yang memanggul setumpuk besar rumput kolonjono di bahunya.

Di suatu tempat yang agak datar kami berhenti sebentar. Wahib berjalan ke tepi jurang, duduk dan berdiri di atas akar besar yang terbalik. Permukaan tanah menghitam yang mestinya merupakan bekas api unggun ditemukan. Perjalanan kami lanjutkan. Di tepi bekas aliran lava kami berhenti sebentar. Istirahat, bergaya, sambil icip-icip getuk.

Cukup jauh setelah itu kami berjalan. Tidak berhenti-berhenti karena memang tidak ada burung yang kami temukan. Berbagai medan kami arungi. Dari permukaan yang datar dengan rumput-rumput pendek hingga jalan setapak menanjak nan berbatu-batu dengan rumput-rumput tinggi yang rimbun. Sampailah kami di suatu bukit. Di atas sini kami dapat melihat hamparan hutan serta perbukitan yang lebih tinggi di sebelah kanan membentang. Sebagian pandangan kami ke depan terhalang oleh rerumpunan lebat rotan dan tetumbuhan lainnya. Beberapa orang tetap berdiri sementara yang lainnya duduk beristirahat setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan. Salah seorang mencari-cari dengan binokuler kalau-kalau ada burung yang melintas. Mas Imam bilang, elang jawa pernah terlihat dari sini.

Alih-alih elang jawa, yang terdengar malah pekikan elang ular bido. Kepala kami berputar-putar mencari. Dari bawah terbanglah seekor elang terbang meninggi dengan sayap coklat membentang yang menimbulkan ucap-ucap kekaguman. Ia menukik hilang.

Benar saja. Setelah lama berdiam diri, datanglah yang dinanti-nanti. Seekor elang jawa (Spizaetus bartelsi) dengan bentangan sayap yang lebih lebar dari saudaranya, elang ular bido, muncul.

 “Bedanya dengan elang ular bido, kalau elang jawa itu sayapnya coklat polos. Kalau elang ular bido ada putih-putihnya.” Seseorang memberikan keterangan. Hewan ini juga dikenal dengan sebutan “elang bertanduk” di kalangan anak-anak KSDH UGM angkatan 2007 dan angkatan 2006 sejak makrab KSDH 2007. Memang ciri khas hewan langka ini yaitu dua jambul yang menyerupai tanduk di atas kepalanya.

Dengan latar hijau pepohonan yang menancap di perbukitan, ia terbang naik berputar hingga sejajar dengan awan kelabu yang mendekat. Seekor elang alap cina, sempat ada yang mengira itu kekep atau srigunting, menyambutnya. Ujung sayapnya hitam, dadanya putih, dan ukuran tubuhnya lebih kecil dari elang jawa. Mereka saling berputar berhadap-hadapan. Kami mengawasi keduanya dengan antusias. Apakah mereka akan bertarung di angkasa sana demi memperebutkan wilayah teritorial?

Tak lama elang jawa turun ke bawah, seakan berucap, “monggo...” pada si migran elang alap cina.

Yah, namanya juga dari Jawa....

Pentas kedua jenis elang itu kembali digantikan oleh pekik ramai segerombolan elang ular bido. Dibandingkan kedua saudaranya, elang jenis yang ini memang lebih comel.

Setelah the eagle brothers  hilang dari pandangan, kami memutuskan untuk pulang. Jalan yang kami telusuri sama dengan jalan yang sebelumnya. Sepanjang jalan Dayu mendongengi saya epos Mahabharata ditimpali Yunan sekali-sekali. Kiranya bukan orang Bali sejati kalau belum hapal kisah-kisah dalam karya sastra termahsyur di dunia ini. Ulat dan ular telah kami temui, sekitar jam 11-an akhirnya kami sampai juga di rumah Mbah Udi. Capek sekali...



Ternyata, mengamati burung itu begini rasanya...

Yang laki-laki bersiap-siap Jumatan sementara yang perempuan melepas lelah dengan tidur-tiduran di dipan atau makan. Pilihan saya jatuh pada yang pertama. Ketika saya bangun, waktu Jumatan telah usai dan di ruangan sebelah acara diskusi sudah dimulai. Sudah kadung tidak ikutan, maka saya memilih untuk menguping saja sambil enak tidur-tiduran. Kadang-kadang ikut tersenyum sambil terkantuk-kantuk jika ada yang lucu. Udara dingin + cuaca mendung = ya enakan tidurlah....

Diskusi kali ini adalah sharing  pengalaman selama pengamatan burung tadi sekaligus laporan burung apa saja yang ditemui. Setiap kelompok mendapatkan giliran masing-masing.

Ada yang cerita, saat sedang melakukan pengamatan tiba-tiba ada yang teriak-teriak. Saya kira mereka bertemu dengan semacam orang gila atau makhluk yang teridentifikasi. Ternyata yang teriak-teriak dan mengganggu pengamatan tersebut adalah salah satu dari peserta—orang yang sama dengan orang yang meminjam sarung lapangan saya untuk Jumatan sehingga saya tidur siang kedinginan.

Banyak pula ternyata yang baru pertama kali ini melakukan pengamatan burung. Mereka mengeluhkan soal susahnya menemukan burung terutama justru saat mata sudah menempel di binokuler. Bukan saya saja yang mengalami rupanya. Ada juga yang bertanya, apakah sebaiknya binokuler yang digunakan dalam pengamatan harus selalu sama? Bisa jadi setiap binokuler memiliki resolusi yang berbeda-beda. Kadang kita sudah merasa cocok dengan binokuler yang satu, tapi kita harus membaginya dengan orang lain saat mereka juga ingin melihatnya. Ketika kita ingin mengamati lagi, dikasihnya malah binokuler yang lain. Yah, namanya juga binokuler pinjaman...

Diskusi diakhiri sekitar jam 2 siang. Kami semua bergotong royong membereskan ruangan yang telah kami pakai. Ada yang menyapu, ada yang melipat tikar, ada yang membereskan gelas-gelas, ada juga yang malah bermain-main. Entah apakah kebersamaan ini akan kita rasakan lagi... Saya menyadari bahwa jumlah peserta jadi jauh lebih banyak dari kemarin malam. Rupanya tadi pagi banyak berdatangan peserta baru yang tidak ikut menginap.

Beres-beres pun selesai. Waktunya pamit pada pemilik rumah. Kami menyalami Mbah Udi sekeluarga. Tak lupa kami mengabadikan momen ini dengan berfoto di depan rumah. Jepret jepret jepret. Satu per satu kami, dengan motor masing-masing, lalu meninggalkan tempat tersebut. Turun ke bawah. Menembus kemacetan di Jalan Kaliurang, menyaksikan sisa kecelakan, kembali direnggut panas... Oh, inilah Jogja, salah satu tujuan liburan tahun baru.
 
Dan pada tahun yang baru ini pun, kami mendapatkan teman-teman baru. Mereka adalah para pengamat burung. Dan mengamati burung bersama telah mendekatkan hati kami semua!

 
Bagian 1

Rabu, 13 Januari 2010

Kumpul-kumpul Para Pengamat Burung Jogja di Jogja Bird Walk Tahun Baru 2010 (Bagian 1 dari 2)

Sebelah tangan saya menggenggam dua batang terompet berumbai-rumbai perak. Saya membelinya seharga 5000 rupiah (sebenarnya harga satuannya 3000 rupiah) dari seorang bapak di depan pom bensin. Tangan saya yang satunya lagi merogoh martabak telor yang saya taruh di dalam ransel. Masih panas menyengat jari. Keduanya saya beli sewaktu masih di Jalan Kaliurang. Kini kami telah lepas dari hiruk pikuk niaga di sepanjangnya. Lambat laun laju motor pinjaman membuatnya berganti jadi senandung binatang malam.

Malam itu acara Jogja Bird Walk Tahun Baru 2010 yang diselenggarakan KP3 Burung Fakultas Kehutanan UGM akan dimulai. Acara yang diadakan tanggal 31 Desember 2009–1 Januari 2010 ini—sekaligus untuk merayakan pergantian tahun baru masehi—tidak hanya melibatkan para anggota KP3 Burung lainnya, tapi juga lembaga-lembaga dari kampus lainnya yang juga mendalami burung. Meskipun saya tidak berafiliasi dengan burung, ingin rasanya saya sekali-kali melewatkan pergantian tahun baru masehi di luar ruangan. Maka ketika ada teman saya yang panitia acara hendak berangkat habis maghrib, kebetulan saya juga baru bisa pergi sekitar jam segitu, dengan senang hati saya membonceng di belakang untuk menemaninya. Tidak mahal amat harga yang harus dibayar untuk ikut acara ini: 13.000 rupiah saja.

Haluan motor kami berbelok karena sebuah papan bertulisan putih “The Cangkringan” di atas latar merah hati. Adalah kami kemudian pada jalan sunyi yang membelah hutan, perumahan, maupun kebun campuran. Bulan bulat candil tersaput santan dalam kolak malam. Siluet hitam Merapi menyambut kami yang kiat dekat, seakan berkata, “Come to Papa, Baby!  Kadang hanya penerangan dari lampu depan motor kami yang membelah tanjakan. Kami bersyukur motor kami tak mendadak berhenti, seperti pada perjalanan sebelumnya, meski lajunya amat lambat dengan suara yang mengibakan. Kami terus menyemangatinya. Alhamdulillah, sampailah kami kembali ke pelataran rumah Mbah Udi.

Beberapa motor telah diparkir. Saya mengintip ke dalam rumah yang bersisian dengan warung. Di bawah cahaya remang-remang tampak beberapa sosok yang saya kenali tapi ada juga yang tidak. Sebagian orang yang saya kenali tersebut adalah mereka yang juga ikut acara pengamatan burung tanggal 24 Desember 2009 (baca posting sebelumnya). Tanpa menyempatkan diri masuk ke dalam, kami langsung naik ke masjid atas untuk menunaikan solat Isya. Dua orang adik angkatan kami, yang juga belum lama sampai dan motornya sempat mogok sewaktu menanjak, sudah naik duluan ke sana. Rumah Mbah Maridjan di kejauhan tampak gelap, seperti tak akan ada suatu keramaian yang hendak dinyalakan.

Sesampai di masjid, aroma kamar mandi yang bau menyergap kami yang hendak berwudhu di dalamnya. Seakan tak pernah ada perawatan atasnya. Ya ampun, saya tidak mau mengingatnya.

Sekembalinya dari menunaikan solat Isya, kami disambut panitia yang segera menyuruh kami makan malam. Wah, padahal saya diberitahu teman saya kalau malam ini kami hanya akan makan jagung bakar, tahu begini saya tadi tidak beli martabak. Tapi tiada mengapa. Sisa martabak, yang sebagian sudah saya makan selama di perjalanan, akhirnya kami habiskan bersama nasi, tempe goreng, dan sambal. Saya diberitahu untuk segera menuju ruang tengah. Rupanya acara diskusi akan segera dimulai. Namun hal itu tak mempercepat kecepatan makan saya. Sedang nikmat...


Melasnya orang Indonesia di Konferensi Ornitologi Australia

Ketika saya memasuki ruang tengah, acara perkenalan tengah dilangsungkan. Semua yang hadir membentuk lingkaran di atas tikar. Deretan laki-laki bersambung dengan deretan perempuan, memecah hawa dinginnya kawasan lereng Merapi dengan kehangatan. Sesekali canda menyelip sehingga membuncahlah tawa. Lima piring kacang rebus yang beredar menemani 24 orang yang berkumpul itu. Selain dari KP3 Burung UGM, mereka juga ada yang berasal dari Biological UNY Ornithology Club (Bionic) FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), KSSL FKH UGM, dan Biolaska Universitas Islam Negeri (UIN). Setelah semua orang mengutarakan nama, asal kota, dan lembaga (di mana saya sempat bingung karena saya tidak masuk ke mana pun... hehe...), diskusi pun dimulai. Dua orang pembicara, yang rupanya sedari tadi sudah membaur dengan kami, maju ke depan, dekat proyektor. Tomi dari FKH, yang sejak awal memang sudah duduk di depan, didaulat sebagai moderator.

Adalah Imam Taufiqurrahman dan Surya Purnama (dikenal juga dengan panggilan Uya) yang akan menceritakan pengalaman mereka sewaktu menghadiri The 5th Australian Ornithology Conference—sebuah ajang 2 tahunan tempat para ornitolog dunia dapat saling berbagi seputar informasi dan pengalaman mereka—di Armidale, New South Wales, Australia pada tanggal 29 November–4 Desember 2009. Acara ini diikuti sekitar 200 peserta dari Inggris, USA, Afrika Selatan, Jepang, dan lain-lain, serta terdiri dari 16 sesi, 100 presentasi, dan 20 poster.

“Ga kebayang ngantuknya kayak apa,” komentar Mas Imam, yang mendapat kesempatan pertama bicara. Penjelasannya seputar pengalamannya kemudian, yang rada abstrak, polos, dan kadang malah tidak jelas, kerap mengundang tawa kami.

Sebetulnya bukan hanya mereka berdua saja, yang sama-sama pernah berkecimpung di Bionic FMIPA UNY, wakil dari Indonesia yang berkesempatan pergi ke sana. Seorang lagi, Muhammad Iqbal, tidak dapat dihadirkan karena tempat tinggalnya jauh, yaitu di Palembang.

“Ini pengalaman pertama, jadi kalau ada yang tidak nyambung harap maklum,” ujar lelaki asal Tangerang kelahiran Jakarta 14 Desember 1981 yang kini berdomisili di Condong Catur ini, yang lagi-lagi disambut senyum dan tawa.

Desember 2008, sebuah pengumuman tersaji di salah satu halaman majalah “Birding Asia”, sebuah majalah seputar perburungan dari Inggris yang terbit setiap Desember dan Juni. “Bisa dibaca di Kutilang,” terang Mas Imam. Kutilang yang dimaksud adalah basecamp Yayasan Kutilang, sebuah LSM yang mengurus seputar perburungan di Jogja di mana ia bergabung di dalamnya. Pengumuman itu menginformasikan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat berpartisipasi di perhelatan The 5th Australian Ornithology Conference yang kelak akan diikutinya. Salah satu syarat adalah mengirimkan abstrak penelitian yang telah dilakukan. “Diversity of Waders in Pantai Trisik, Yogyakarta Province, Indonesia”, begitu judul abstrak yang ia kirim sebelum tanggal deadline, yaitu 31 Mei 2009.

September 2009, datanglah pengumuman lolos seleksi dari panitia yang membawa kebingungan baginya. Ternyata ia masih harus mempersiapkan sendiri segala yang diperlukannya untuk bisa sampai ke tempat acara berlangsung. Belum lagi soal penginapan, makan, akomodasi, hingga bagaimana caranya untuk pulang kembali. Untungnya, banyak pihak yang mau membantunya hingga sampai di sana, termasuk dari kampus meski tidak secara langsung. Perhimpunan Ornitologi Indonesia (IdOU) dan Yayasan Kutilang pun banyak memberinya dukungan moral.

Belajar dari pengalamannya, Mas Imam berbaik hati berbagi apa saja yang harus dipersiapkan jika suatu saat kami berkesempatan sama. Ada dua hal dasar yang mesti dipersiapkan, yaitu persiapan kegiatan dan persiapan perjalanan.

Yang harus dipersiapkan seputar kegiatan adalah hasil riset yang telah dilakukan, baik secara pribadi maupun lembaga, desain poster, dan slide presentasi. Semuanya tentu saja dalam bahasa Inggris. Karena yang dikirim hanyalah abstrak, tidak perlu ada paper lengkap yang harus dipersiapkan.

Mengenai perjalanan, persiapkan dokumen (visa dan paspor yang bisa memakan waktu cukup lama untuk mengurusnya) dan kumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang lokasi yang akan dikunjungi, termasuk soal transportasi dan cuaca. Yang tak kalah penting lagi adalah cari tahu apakah panitia menyediakan akomodasi ataukah kita harus mempersiapkannya sendiri. Dengan demikian, kita bisa mempersiapkan urusan finansial sejak awal.

Untuk masalah finansial, Mas Imam memberikan beberapa tips. Pertama, lakukan negosiasi terus menerus dengan panitia. Kedua, cari sponsor pendukung (lembaga terkait, kampus, swasta, dan lain-lain). Ketiga, cari penginapan gratis, misalnya home stay, asrama mahasiswa, atau tempat ibadah.

Berdasarkan pengalamannya, ia membutuhkan 20 juta untuk sampai ke Australia hingga kembali ke Indonesia. Setelah 2 bulan intens bernegosiasi dengan panitia, akhirnya panitia men-support biaya transportasi sebesar 10 juta. Ia juga mencari perkumpulan mahasiswa Indonesia di sana. “Harus selalu positive thinking,” pesannya. Awalnya ia sempat berpikir untuk mencari masjid yang bisa ditinggali sementara di sana, karena ia seorang muslim. Kalau di Indonesia, mungkin tidak sulit untuk mencari masjid dan numpang menginap karena di mana-mana ada. Tapi kalau di Australia? Usahanya berbuah hasil. Berkat kegigihannya browsing di internet, ada yang mencarikannya home stay. Akhirnya ia mendapatkan ‘tumpangan’ di rumah keluarga Indonesia yang berdomisili di sana. Selama 6 hari tinggal, dengan penuh kesadaran tak lupa ia mengurangi beban pemilik rumah. “Ya bantu nyuci-nyuci piringlah...”

Belum selesai masalah. Registrasi kegiatan ini ternyata mencapai hampir 4 juta rupiah. Setelah bernegosiasi lagi dengan panitia, akhirnya ia diloloskan dari keharusan membayar registrasi. Sementara itu Mas Uya, karena masih berstatus mahasiswa, mendapatkan bantuan dari kampusnya. “Setengahnya lagi buat saya...,” tambah Mas Imam.

Mas Uya, pada gilirannya, lebih banyak menceritakan teknis apa yang mereka lakukan di sana. Ia menampilkan foto-foto kegiatan mereka sambil bercerita, mulai dari perjalanan ke Armidale dari Sydney yang memakan waktu 1 jam dengan pesawat, makan malam yang sampai 4 etape, orang-orang yang mereka temui dan telah berjasa dalam menyokong hidup mereka di sana, hingga foto Mas Imam yang sedang mangap ketiduran di bis ^^.

Mas Uya berkesempatan ikut terbang ke Australia karena abstraknya yang berjudul “Population & Habitat Character of White-headed Stilt (Himantopus leucocephalus Gould, 1837) in Java”. “Banyak orang-orang yang berpengalaman dalam dunia perburungan, baik yang sudah pernah ke Indonesia maupun belum, yang memberi kami buku-buku mereka. Mungkin karena belas kasihan,” kata wong  Bantul kelahiran tahun 1985 ini, yang mau tak mau menuai senyum atau dengus tawa. Mas Imam mengamini perkataannya tersebut. Dari ekspresi wajahnya tergambar betapa memelasnya mereka kala itu, entah memang begitu kenyataannya atau lebih parah... Xd.

Selain di ruangan, juga ada kegiatan pengamatan burung di luar. Mereka kerap diajak oleh seorang ornitolog yang antusias dengan kemampuan mereka dalam pengamatan burung. Foto-foto burung yang mereka temui di sana pun tak luput ditampilkan. Sebut saja, australian king parrot, merpati berjalu, trolek bertopeng, australian wood duck, gelatik batu kelabu (yang juga bisa ditemui di Indonesia), hingga kurawong (burung gerejanya Australia). “Di sana burung-burungnya cuek aja begitu kami deketin, nggak kayak di Indonesia,” komentar Mas Imam. Oh, pantas saja...



Menghabiskan menit-menit pergantian tahun bersama 

Biar pun diskusinya memantik tawa, namun kantuk tetap tak terkalahkan jua! Seolah hendak ke kamar mandi, saya ke luar dari lingkaran. Padahal diskusi yang sesungguhnya sepertinya baru hendak dimulai. Apa boleh buat, saya merasa tak nyaman terlihat kalah oleh kantuk yang menyerang. Terdapat deretan lemari yang menjadi penyekat antara ruangan tersebut dengan sebuah dipan bambu beralaskan tikar. Hampir semua ransel peserta bertumpuk di sisi terluar, kiranya helm juga ada. Dipan tersebut cukup besar ukurannya. Selain dapat menampung barang-barang tadi, semua peserta dan panitia perempuan yang bermalam dapat membaringkan dirinya masing-masing tanpa harus ada yang meringkuk karena tidak kebagian tempat. Saya menyelinap ke balik tumpukan ransel dan tidur meringkuk supaya sosok saya yang sedang curi-curi tidur itu tidak terlalu kentara. Saya tidur tidak lama. Seorang teman laki-laki memergoki saya dan saya terkejut dibuatnya. Akibatnya saya jadi tidak begitu mengantuk lagi.

Saya mengikutinya ke luar ruangan di mana bara api mulai dinyalakan. Ke situlah saya mencari kehangatan. Dalam sarung lapangan (sarung yang akhir-akhir ini saya bawa dalam kegiatan lapangan sebagai teman tidur) dan posisi meringkuk di depan bara yang menyala, saya sembunyikan keterlelapan saya. Diskusi belum usai. Duh, mereka kok kuat melek ya? Hanya beberapa orang yang bertugas menyalakan bara untuk acara bakar jagung saja yang menemani saya di sini.

Diskusi akhirnya usai. Orang-orang mulai berdatangan memperluas area pembakaran jagung. Tak lupa dua buah terompet tahun baru yang saya beli tadi saya keluarkan dan saya taruh di dipan bambu dekat kami. Beberapa orang coba-coba meniupnya. Mungkin hanya beberapa orang di antara kami saja yang sudah saling mengenal satu sama lain. Beberapa masih asing dengan wajah yang lain, terutama dengan mereka yang tidak satu lembaga, apalagi saya yang outsider. Namun itu tidak menghalangi kami untuk dapat bercengkerama. Tidak ada gap-gap-an antar sesama lembaga, apalagi antara panitia dengan peserta. Semuanya berbaur sambil makan jagung bersama dan bercanda. Namun sayangnya, Mas Uya malah izin pulang. Entah acara apa yang tengah menantinya di bawah.

Kembang api mulai disiapkan dan dinyalakan. Saya mulai meniup-niup terompet agar suasana makin riuh. Seorang adik angkatan menemani saya dengan terompet yang satunya lagi.

Satu sama lain saling bertanya saat itu sudah jam berapa.

“Masih 13 menit lagi!”

“Itung mundur yuk!”

“Yee, kelamaan!”

Berderailah tawa.

Moshi-moshi moon, alias bulan ber-halo, semakin memperindah malam itu. Kami mendongak ke atas dan terpukau. Suatu pemandangan yang langka kami dapati. Seberkas lingkaran besar mengelilingi sang bulan perak tahi kucing kering dalam radius sekian. Inikah yang disebut ring moon?

Menit-menit pergantian tahun semakin dekat. Beberapa dari kami mengangkat jam tangan atau hape untuk menyamakan persepsi: berapa menit lagi nih menuju tahun baru? Ada yang jamnya menunjukkan tinggal 3 menit, tapi ada juga yang masih 6 menit, atau 5 menit. Setelah entah berapa menit berlalu, kami serempak menghitung mundur sama-sama. “Tiga... Dua.. Satu...”

“Teeeet...” suara terompet tahun baru yang sember itu meledak. Kembang api-kembang api, yang jelas daya mekarnya lebih besar dari yang kami punya, meluncur ke angkasa dari sebelah timur rumah Mbah Maridjan— dari suatu tempat yang mungkin jauh lebih ramai dari di sini, yang lebih banyak diisi oleh mereka yang jauh-jauh datang dari bawah hanya untuk melewatkan pergantian tahun baru di lereng Merapi.

Sepiring cake mungil disodorkan pada salah satu dari kami yang berulang tahun pada hari itu. Dayu, anggota baru KP3 Burung angkatan 2009 asal Bali, mulai hari itu berusia 18 tahun. Selamat ganti umur. Sebagai hadiahnya, namamu masuk ke tulisan saya di blog loh... Hihi.

Beberapa dari kami naik ke atas, tidak jauh dari pelataran rumah Mbah Maridjan—di depan masjid, agar bisa melihat bunga-bunga api tersebut dengan lebih jelas. Bersusul-susulan, oh, indahnya. Bukan hanya kami rupanya yang ada di sana. Ada mereka yang berpencar di depan kami, baik sendiri maupun berkelompok, ikut menyaksikan percikan kembang api yang besar-besar. Entah mereka warga sekitar atau pendatang.

Cukup lama kami di sana. Di bawah, sebagian kami masih asik mengobrol dan menghabiskan jagung. Merasa keseruan perlahan menyurut, hasrat ingin melanjutkan tidur muncul kembali. Saya dan teman saya pun naik ke atas dipan dan hendak melaksanakan niat kami. Teman saya langsung tidur karena malam sebelumnya dia tidak tidur untuk mengerjakan laporan sementara saya masih menyempatkan diri untuk menulis catatan harian. Seorang adik angkatan muncul hendak mengambil senter. Rupanya ia hendak menyusul kawan-kawannya yang sudah naik ke atas. Jalan-jalan. Melihat kota yang bercahaya dari tempat yang lebih tinggi. Saya mengikutinya.

Maka, di tepi sebuah tebing, rombongan kami yang terdiri dari para anggota KP3 Burung angkatan 2009, 2008, hingga 2006, memandangi kejauhan. Ada yang hening. Ada yang bercakap-cakap mengenai kegiatan apa yang kira-kira tengah berlangsung di bawah sana. Sedang ada pawai sepeda di sekitar alun-alun katanya.
 
Setelah bosan, kami turun kembali. Kalau tidak meneruskan menulis catatan harian, sepertinya saya langsung tidur begitu rebah di dipan.

Bagian 2