LAINNYA

Rabu, 13 Januari 2010

Kumpul-kumpul Para Pengamat Burung Jogja di Jogja Bird Walk Tahun Baru 2010 (Bagian 1 dari 2)

Sebelah tangan saya menggenggam dua batang terompet berumbai-rumbai perak. Saya membelinya seharga 5000 rupiah (sebenarnya harga satuannya 3000 rupiah) dari seorang bapak di depan pom bensin. Tangan saya yang satunya lagi merogoh martabak telor yang saya taruh di dalam ransel. Masih panas menyengat jari. Keduanya saya beli sewaktu masih di Jalan Kaliurang. Kini kami telah lepas dari hiruk pikuk niaga di sepanjangnya. Lambat laun laju motor pinjaman membuatnya berganti jadi senandung binatang malam.

Malam itu acara Jogja Bird Walk Tahun Baru 2010 yang diselenggarakan KP3 Burung Fakultas Kehutanan UGM akan dimulai. Acara yang diadakan tanggal 31 Desember 2009–1 Januari 2010 ini—sekaligus untuk merayakan pergantian tahun baru masehi—tidak hanya melibatkan para anggota KP3 Burung lainnya, tapi juga lembaga-lembaga dari kampus lainnya yang juga mendalami burung. Meskipun saya tidak berafiliasi dengan burung, ingin rasanya saya sekali-kali melewatkan pergantian tahun baru masehi di luar ruangan. Maka ketika ada teman saya yang panitia acara hendak berangkat habis maghrib, kebetulan saya juga baru bisa pergi sekitar jam segitu, dengan senang hati saya membonceng di belakang untuk menemaninya. Tidak mahal amat harga yang harus dibayar untuk ikut acara ini: 13.000 rupiah saja.

Haluan motor kami berbelok karena sebuah papan bertulisan putih “The Cangkringan” di atas latar merah hati. Adalah kami kemudian pada jalan sunyi yang membelah hutan, perumahan, maupun kebun campuran. Bulan bulat candil tersaput santan dalam kolak malam. Siluet hitam Merapi menyambut kami yang kiat dekat, seakan berkata, “Come to Papa, Baby!  Kadang hanya penerangan dari lampu depan motor kami yang membelah tanjakan. Kami bersyukur motor kami tak mendadak berhenti, seperti pada perjalanan sebelumnya, meski lajunya amat lambat dengan suara yang mengibakan. Kami terus menyemangatinya. Alhamdulillah, sampailah kami kembali ke pelataran rumah Mbah Udi.

Beberapa motor telah diparkir. Saya mengintip ke dalam rumah yang bersisian dengan warung. Di bawah cahaya remang-remang tampak beberapa sosok yang saya kenali tapi ada juga yang tidak. Sebagian orang yang saya kenali tersebut adalah mereka yang juga ikut acara pengamatan burung tanggal 24 Desember 2009 (baca posting sebelumnya). Tanpa menyempatkan diri masuk ke dalam, kami langsung naik ke masjid atas untuk menunaikan solat Isya. Dua orang adik angkatan kami, yang juga belum lama sampai dan motornya sempat mogok sewaktu menanjak, sudah naik duluan ke sana. Rumah Mbah Maridjan di kejauhan tampak gelap, seperti tak akan ada suatu keramaian yang hendak dinyalakan.

Sesampai di masjid, aroma kamar mandi yang bau menyergap kami yang hendak berwudhu di dalamnya. Seakan tak pernah ada perawatan atasnya. Ya ampun, saya tidak mau mengingatnya.

Sekembalinya dari menunaikan solat Isya, kami disambut panitia yang segera menyuruh kami makan malam. Wah, padahal saya diberitahu teman saya kalau malam ini kami hanya akan makan jagung bakar, tahu begini saya tadi tidak beli martabak. Tapi tiada mengapa. Sisa martabak, yang sebagian sudah saya makan selama di perjalanan, akhirnya kami habiskan bersama nasi, tempe goreng, dan sambal. Saya diberitahu untuk segera menuju ruang tengah. Rupanya acara diskusi akan segera dimulai. Namun hal itu tak mempercepat kecepatan makan saya. Sedang nikmat...


Melasnya orang Indonesia di Konferensi Ornitologi Australia

Ketika saya memasuki ruang tengah, acara perkenalan tengah dilangsungkan. Semua yang hadir membentuk lingkaran di atas tikar. Deretan laki-laki bersambung dengan deretan perempuan, memecah hawa dinginnya kawasan lereng Merapi dengan kehangatan. Sesekali canda menyelip sehingga membuncahlah tawa. Lima piring kacang rebus yang beredar menemani 24 orang yang berkumpul itu. Selain dari KP3 Burung UGM, mereka juga ada yang berasal dari Biological UNY Ornithology Club (Bionic) FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), KSSL FKH UGM, dan Biolaska Universitas Islam Negeri (UIN). Setelah semua orang mengutarakan nama, asal kota, dan lembaga (di mana saya sempat bingung karena saya tidak masuk ke mana pun... hehe...), diskusi pun dimulai. Dua orang pembicara, yang rupanya sedari tadi sudah membaur dengan kami, maju ke depan, dekat proyektor. Tomi dari FKH, yang sejak awal memang sudah duduk di depan, didaulat sebagai moderator.

Adalah Imam Taufiqurrahman dan Surya Purnama (dikenal juga dengan panggilan Uya) yang akan menceritakan pengalaman mereka sewaktu menghadiri The 5th Australian Ornithology Conference—sebuah ajang 2 tahunan tempat para ornitolog dunia dapat saling berbagi seputar informasi dan pengalaman mereka—di Armidale, New South Wales, Australia pada tanggal 29 November–4 Desember 2009. Acara ini diikuti sekitar 200 peserta dari Inggris, USA, Afrika Selatan, Jepang, dan lain-lain, serta terdiri dari 16 sesi, 100 presentasi, dan 20 poster.

“Ga kebayang ngantuknya kayak apa,” komentar Mas Imam, yang mendapat kesempatan pertama bicara. Penjelasannya seputar pengalamannya kemudian, yang rada abstrak, polos, dan kadang malah tidak jelas, kerap mengundang tawa kami.

Sebetulnya bukan hanya mereka berdua saja, yang sama-sama pernah berkecimpung di Bionic FMIPA UNY, wakil dari Indonesia yang berkesempatan pergi ke sana. Seorang lagi, Muhammad Iqbal, tidak dapat dihadirkan karena tempat tinggalnya jauh, yaitu di Palembang.

“Ini pengalaman pertama, jadi kalau ada yang tidak nyambung harap maklum,” ujar lelaki asal Tangerang kelahiran Jakarta 14 Desember 1981 yang kini berdomisili di Condong Catur ini, yang lagi-lagi disambut senyum dan tawa.

Desember 2008, sebuah pengumuman tersaji di salah satu halaman majalah “Birding Asia”, sebuah majalah seputar perburungan dari Inggris yang terbit setiap Desember dan Juni. “Bisa dibaca di Kutilang,” terang Mas Imam. Kutilang yang dimaksud adalah basecamp Yayasan Kutilang, sebuah LSM yang mengurus seputar perburungan di Jogja di mana ia bergabung di dalamnya. Pengumuman itu menginformasikan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat berpartisipasi di perhelatan The 5th Australian Ornithology Conference yang kelak akan diikutinya. Salah satu syarat adalah mengirimkan abstrak penelitian yang telah dilakukan. “Diversity of Waders in Pantai Trisik, Yogyakarta Province, Indonesia”, begitu judul abstrak yang ia kirim sebelum tanggal deadline, yaitu 31 Mei 2009.

September 2009, datanglah pengumuman lolos seleksi dari panitia yang membawa kebingungan baginya. Ternyata ia masih harus mempersiapkan sendiri segala yang diperlukannya untuk bisa sampai ke tempat acara berlangsung. Belum lagi soal penginapan, makan, akomodasi, hingga bagaimana caranya untuk pulang kembali. Untungnya, banyak pihak yang mau membantunya hingga sampai di sana, termasuk dari kampus meski tidak secara langsung. Perhimpunan Ornitologi Indonesia (IdOU) dan Yayasan Kutilang pun banyak memberinya dukungan moral.

Belajar dari pengalamannya, Mas Imam berbaik hati berbagi apa saja yang harus dipersiapkan jika suatu saat kami berkesempatan sama. Ada dua hal dasar yang mesti dipersiapkan, yaitu persiapan kegiatan dan persiapan perjalanan.

Yang harus dipersiapkan seputar kegiatan adalah hasil riset yang telah dilakukan, baik secara pribadi maupun lembaga, desain poster, dan slide presentasi. Semuanya tentu saja dalam bahasa Inggris. Karena yang dikirim hanyalah abstrak, tidak perlu ada paper lengkap yang harus dipersiapkan.

Mengenai perjalanan, persiapkan dokumen (visa dan paspor yang bisa memakan waktu cukup lama untuk mengurusnya) dan kumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang lokasi yang akan dikunjungi, termasuk soal transportasi dan cuaca. Yang tak kalah penting lagi adalah cari tahu apakah panitia menyediakan akomodasi ataukah kita harus mempersiapkannya sendiri. Dengan demikian, kita bisa mempersiapkan urusan finansial sejak awal.

Untuk masalah finansial, Mas Imam memberikan beberapa tips. Pertama, lakukan negosiasi terus menerus dengan panitia. Kedua, cari sponsor pendukung (lembaga terkait, kampus, swasta, dan lain-lain). Ketiga, cari penginapan gratis, misalnya home stay, asrama mahasiswa, atau tempat ibadah.

Berdasarkan pengalamannya, ia membutuhkan 20 juta untuk sampai ke Australia hingga kembali ke Indonesia. Setelah 2 bulan intens bernegosiasi dengan panitia, akhirnya panitia men-support biaya transportasi sebesar 10 juta. Ia juga mencari perkumpulan mahasiswa Indonesia di sana. “Harus selalu positive thinking,” pesannya. Awalnya ia sempat berpikir untuk mencari masjid yang bisa ditinggali sementara di sana, karena ia seorang muslim. Kalau di Indonesia, mungkin tidak sulit untuk mencari masjid dan numpang menginap karena di mana-mana ada. Tapi kalau di Australia? Usahanya berbuah hasil. Berkat kegigihannya browsing di internet, ada yang mencarikannya home stay. Akhirnya ia mendapatkan ‘tumpangan’ di rumah keluarga Indonesia yang berdomisili di sana. Selama 6 hari tinggal, dengan penuh kesadaran tak lupa ia mengurangi beban pemilik rumah. “Ya bantu nyuci-nyuci piringlah...”

Belum selesai masalah. Registrasi kegiatan ini ternyata mencapai hampir 4 juta rupiah. Setelah bernegosiasi lagi dengan panitia, akhirnya ia diloloskan dari keharusan membayar registrasi. Sementara itu Mas Uya, karena masih berstatus mahasiswa, mendapatkan bantuan dari kampusnya. “Setengahnya lagi buat saya...,” tambah Mas Imam.

Mas Uya, pada gilirannya, lebih banyak menceritakan teknis apa yang mereka lakukan di sana. Ia menampilkan foto-foto kegiatan mereka sambil bercerita, mulai dari perjalanan ke Armidale dari Sydney yang memakan waktu 1 jam dengan pesawat, makan malam yang sampai 4 etape, orang-orang yang mereka temui dan telah berjasa dalam menyokong hidup mereka di sana, hingga foto Mas Imam yang sedang mangap ketiduran di bis ^^.

Mas Uya berkesempatan ikut terbang ke Australia karena abstraknya yang berjudul “Population & Habitat Character of White-headed Stilt (Himantopus leucocephalus Gould, 1837) in Java”. “Banyak orang-orang yang berpengalaman dalam dunia perburungan, baik yang sudah pernah ke Indonesia maupun belum, yang memberi kami buku-buku mereka. Mungkin karena belas kasihan,” kata wong  Bantul kelahiran tahun 1985 ini, yang mau tak mau menuai senyum atau dengus tawa. Mas Imam mengamini perkataannya tersebut. Dari ekspresi wajahnya tergambar betapa memelasnya mereka kala itu, entah memang begitu kenyataannya atau lebih parah... Xd.

Selain di ruangan, juga ada kegiatan pengamatan burung di luar. Mereka kerap diajak oleh seorang ornitolog yang antusias dengan kemampuan mereka dalam pengamatan burung. Foto-foto burung yang mereka temui di sana pun tak luput ditampilkan. Sebut saja, australian king parrot, merpati berjalu, trolek bertopeng, australian wood duck, gelatik batu kelabu (yang juga bisa ditemui di Indonesia), hingga kurawong (burung gerejanya Australia). “Di sana burung-burungnya cuek aja begitu kami deketin, nggak kayak di Indonesia,” komentar Mas Imam. Oh, pantas saja...



Menghabiskan menit-menit pergantian tahun bersama 

Biar pun diskusinya memantik tawa, namun kantuk tetap tak terkalahkan jua! Seolah hendak ke kamar mandi, saya ke luar dari lingkaran. Padahal diskusi yang sesungguhnya sepertinya baru hendak dimulai. Apa boleh buat, saya merasa tak nyaman terlihat kalah oleh kantuk yang menyerang. Terdapat deretan lemari yang menjadi penyekat antara ruangan tersebut dengan sebuah dipan bambu beralaskan tikar. Hampir semua ransel peserta bertumpuk di sisi terluar, kiranya helm juga ada. Dipan tersebut cukup besar ukurannya. Selain dapat menampung barang-barang tadi, semua peserta dan panitia perempuan yang bermalam dapat membaringkan dirinya masing-masing tanpa harus ada yang meringkuk karena tidak kebagian tempat. Saya menyelinap ke balik tumpukan ransel dan tidur meringkuk supaya sosok saya yang sedang curi-curi tidur itu tidak terlalu kentara. Saya tidur tidak lama. Seorang teman laki-laki memergoki saya dan saya terkejut dibuatnya. Akibatnya saya jadi tidak begitu mengantuk lagi.

Saya mengikutinya ke luar ruangan di mana bara api mulai dinyalakan. Ke situlah saya mencari kehangatan. Dalam sarung lapangan (sarung yang akhir-akhir ini saya bawa dalam kegiatan lapangan sebagai teman tidur) dan posisi meringkuk di depan bara yang menyala, saya sembunyikan keterlelapan saya. Diskusi belum usai. Duh, mereka kok kuat melek ya? Hanya beberapa orang yang bertugas menyalakan bara untuk acara bakar jagung saja yang menemani saya di sini.

Diskusi akhirnya usai. Orang-orang mulai berdatangan memperluas area pembakaran jagung. Tak lupa dua buah terompet tahun baru yang saya beli tadi saya keluarkan dan saya taruh di dipan bambu dekat kami. Beberapa orang coba-coba meniupnya. Mungkin hanya beberapa orang di antara kami saja yang sudah saling mengenal satu sama lain. Beberapa masih asing dengan wajah yang lain, terutama dengan mereka yang tidak satu lembaga, apalagi saya yang outsider. Namun itu tidak menghalangi kami untuk dapat bercengkerama. Tidak ada gap-gap-an antar sesama lembaga, apalagi antara panitia dengan peserta. Semuanya berbaur sambil makan jagung bersama dan bercanda. Namun sayangnya, Mas Uya malah izin pulang. Entah acara apa yang tengah menantinya di bawah.

Kembang api mulai disiapkan dan dinyalakan. Saya mulai meniup-niup terompet agar suasana makin riuh. Seorang adik angkatan menemani saya dengan terompet yang satunya lagi.

Satu sama lain saling bertanya saat itu sudah jam berapa.

“Masih 13 menit lagi!”

“Itung mundur yuk!”

“Yee, kelamaan!”

Berderailah tawa.

Moshi-moshi moon, alias bulan ber-halo, semakin memperindah malam itu. Kami mendongak ke atas dan terpukau. Suatu pemandangan yang langka kami dapati. Seberkas lingkaran besar mengelilingi sang bulan perak tahi kucing kering dalam radius sekian. Inikah yang disebut ring moon?

Menit-menit pergantian tahun semakin dekat. Beberapa dari kami mengangkat jam tangan atau hape untuk menyamakan persepsi: berapa menit lagi nih menuju tahun baru? Ada yang jamnya menunjukkan tinggal 3 menit, tapi ada juga yang masih 6 menit, atau 5 menit. Setelah entah berapa menit berlalu, kami serempak menghitung mundur sama-sama. “Tiga... Dua.. Satu...”

“Teeeet...” suara terompet tahun baru yang sember itu meledak. Kembang api-kembang api, yang jelas daya mekarnya lebih besar dari yang kami punya, meluncur ke angkasa dari sebelah timur rumah Mbah Maridjan— dari suatu tempat yang mungkin jauh lebih ramai dari di sini, yang lebih banyak diisi oleh mereka yang jauh-jauh datang dari bawah hanya untuk melewatkan pergantian tahun baru di lereng Merapi.

Sepiring cake mungil disodorkan pada salah satu dari kami yang berulang tahun pada hari itu. Dayu, anggota baru KP3 Burung angkatan 2009 asal Bali, mulai hari itu berusia 18 tahun. Selamat ganti umur. Sebagai hadiahnya, namamu masuk ke tulisan saya di blog loh... Hihi.

Beberapa dari kami naik ke atas, tidak jauh dari pelataran rumah Mbah Maridjan—di depan masjid, agar bisa melihat bunga-bunga api tersebut dengan lebih jelas. Bersusul-susulan, oh, indahnya. Bukan hanya kami rupanya yang ada di sana. Ada mereka yang berpencar di depan kami, baik sendiri maupun berkelompok, ikut menyaksikan percikan kembang api yang besar-besar. Entah mereka warga sekitar atau pendatang.

Cukup lama kami di sana. Di bawah, sebagian kami masih asik mengobrol dan menghabiskan jagung. Merasa keseruan perlahan menyurut, hasrat ingin melanjutkan tidur muncul kembali. Saya dan teman saya pun naik ke atas dipan dan hendak melaksanakan niat kami. Teman saya langsung tidur karena malam sebelumnya dia tidak tidur untuk mengerjakan laporan sementara saya masih menyempatkan diri untuk menulis catatan harian. Seorang adik angkatan muncul hendak mengambil senter. Rupanya ia hendak menyusul kawan-kawannya yang sudah naik ke atas. Jalan-jalan. Melihat kota yang bercahaya dari tempat yang lebih tinggi. Saya mengikutinya.

Maka, di tepi sebuah tebing, rombongan kami yang terdiri dari para anggota KP3 Burung angkatan 2009, 2008, hingga 2006, memandangi kejauhan. Ada yang hening. Ada yang bercakap-cakap mengenai kegiatan apa yang kira-kira tengah berlangsung di bawah sana. Sedang ada pawai sepeda di sekitar alun-alun katanya.
 
Setelah bosan, kami turun kembali. Kalau tidak meneruskan menulis catatan harian, sepertinya saya langsung tidur begitu rebah di dipan.

Bagian 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar