Minggu, 31 Maret 2019

Menyusuri Remang-remang Jakarta

Gambar dari Goodreads.
Sampul buku ini memperlihatkan seorang wanita berpakaian seksi dengan belahan dada rendah tengah berpangku kaki dan merokok, digambar oleh Danarto. Kata pengantar oleh Ashadi Siregar dan Dr. Sarlito Wirawan sebagai narasumber ahli. Buku ini menggondol Hadiah Adinegoro 1979 dan pernah difilmkan. Singkatnya: buku ini
Jakarta Undercover (JU) versi legend. Bagi yang kecewa atau geuleuh dengan judul yang disebut belakangan, buku ini mungkin bisa sedikit melipur, walaupun dua puluh tahun--malah empat puluh tahun bila mengacu pada tahun diketiknya review ini--ketinggalan zaman.

Yang lebih menarik lagi dibandingkan dengan JU, buku ini sama-sama ditulis oleh wartawan, lebih tepatnya wartawati--seorang perempuan yang notabene istri dan ibu. Perspektif antara kedua buku itu pun bisa dibilang bagai utara dan selatan. Jika pengamat laki-laki dalam JU menggunakan observasi partisipatif eksploratif dan terkesan menikmati rendezvous-nya malah membuat pembenaran akan kebutuhan laki-laki, pengamat perempuan dalam buku ini, bagaimanapun upayanya untuk memahami perilaku manusia dengan menyebut referensi berupa buku-buku serta keterangan ahli dan aparat, tetap saja kesulitan untuk menerima fenomena yang memang lazimnya dianggap amoral ini. Mungkin itu sebabnya buku ini enggak setebal JU: penulisnya keburu geuleuh sehingga pengamatan seperlunya saja dan selebihnya pemikiran. Ya, memang butuh mikir-keras untuk bisa memaklumi hal-hal begini.

Ya, bagi orang yang senang berpikir keras, buku ini sepertinya bakal mencukupi ketimbang JU. Kalau di JU, paling-paling fenomena prostitusi itu dinegasikan dengan "kehampaan dan kesemuan". Tetapi, enggak usah jadi pelacur pun hidup ini kadang sudah terasa hampa dan semu. Jadi, kesan tersurat itu seolah-olah sekadar bumbu biar enggak berkesan terlalu menikmati kesenangan duniawi. Sudut pandang di JU pun terbatas pada pengamat dan pelaku, sedangkan dalam buku ini ada tambahan psikolog dan polisi.

Menarik juga bahwa dalam artikel penyimpul oleh Dr. Fridolin Ukur dikatakan bahwa yang berbahaya dari prostitusi bukanlah Wanita Tuna Susila, melainkan pria-pria pelanggannya. Bila WTS mendapat pemeriksaan kesehatan secara berkala, pria-pria pelanggannya belum tentu dan mereka berisiko besar menularkan penyakit kelaminnya kepada istri. Lagi pula, menurut hukum ekonomi, pasar tercipta karena ada permintaan. Dalam industri prostitusi, permintaan datang dari siapa?

Buku ini terbit sebelum isu AIDS terangkat. Seandainya buku ini ditulis setelah itu, sepertinya uraiannya akan bertambah sedikit panjang.

Sabtu, 30 Maret 2019

Mind-blowingly Kiai Fuad Affandi


Ketika mendapat informasi di atas, seketika saya membelalak. Kiai Fuad Affandi! Kebetulan pisan, saya lagi membaca biografi tentang beliau di perpustakaan daerah Jawa Barat Jalan Kawaluyaan. Judul buku tersebut Entrepreneur Organik: Rahasia Sukses K. H. Fuad Affandi Bersama Pesantren dan Tarekat "Sayuriyah"-nya karya Faiz Manshur terbitan Nuansa, Bandung, cetakan kesatu, September 2009. Sampai ketika menulis ini, pembacaan saya baru sampai pada halaman 284 dari 392 halaman. Saya langsung bersemangat untuk mendaftar acara itu.

Hari itu tiba. Di ruang GSG atas Salman ITB yang hijau (literally) untuk pertama kali saya bertemu sosok yang sebelumnya baru saya kenal lewat buku. Saya takjub karena beliau lain daripada yang tampak di foto-foto dalam buku. Tampaknya usia telah menyusutkan tubuhnya.

Biar begitu, persis seperti yang digambarkan di buku, pembawaan beliau memang berbobot tetapi kocak. Di sela-sela nasihatnya yang melimpah ruah, sesekali beliau menyisipkan lelucon bermakna. Yang paling bikin saya terbahak yaitu cerita tentang Kabayan dan Iteung berhadapan dengan petugas PLN. Memang leluconnya agak jorok, tetapi mangkus memahamkan tentang perbedaan paradigma antara yang-ingin-memberdayakan dan yang-hendak-diberdayakan.

Dari pembacaan buku Entrepreneur Organik, saya sudah mendapat cerita pendahuluan--malah mungkin penjelasan yang lebih luas daripada sekadar kuliah satu-setengah-jam ini--mengenai sepak terjang Kiai Fuad Affandi dalam membangun kampung halamannya. Betapa susah mengubah warga desanya agar menerima modernitas dan mengembangkan perekonomian.

Buku ini sangat mindblowing buat saya, anak yang seumur-umur produk kota besar bahkan ketika studi kehutanan pun minat saya ujungnya lari ke kota juga--perhutanan kota, yang cenderung meromantisasi kehidupan di pedesaan. Nilai-nilai ideal yang tengah saya himpun dari pembacaan buku-buku serta tontonan bergagasan alternatif pun diobrak-abrik lagi. Belum lagi, Kiai Fuad Affandi ini, baik di buku maupun live action, sarat nasihat yang saya membutuhkan usaha keras untuk mencerna dan mengaitkannya dengan kepentingan pribadi.

Beliau sempat mengkritik judul kuliah yang semestinya "pembangunan" alih-alih "perubahan". Alasannya, "perubahan" itu bisa ke arah kebaikan bisa juga pada keburukan, sedangkan "pembangunan" itu mesti ke arah positif. Hmmm, ini saja bikin saya berpikir keras, sebab sebelumnya saya mendengar dari lagu "Balada Pengangguran" Kantata Takwa:

Pembangunan, o! Pengangguran, ya! Penerangan, o! Kegelapan, ya!
Belum lagi, pada hari itu juga, sebelum berangkat ke Salman, saya baru membaca artikel Mongabay mengenai kontroversi "pembangunan" kebun kelapa sawit di Papua dan Sulawesi. Betapa "kemajuan" itu malah membikin orang Papua jadi "malas" untuk berburu-mengumpulkan hasil hutan, seperti tradisi mereka dahulu.
The villages I worked with were very critical of other villages who they deemed to have already reached that level of malas— laziness. Just waiting for your funds to arrive, just waiting for the company money. It’s another source of fragmentation, this internal criticism. People who are no longer struggling, who will eat from the company rather than hunt for themselves. And some people are. Some young Marind prefer to eat rice and noodles, they’re not really interested in hunting anymore. They’d rather be in the city, and they’d rather “progress,” or modernize as they put it — maju. I suspect these changes will be inflected along generational lines. That’s as much as I can envision at this point. Either total dependency or migration towards the cities. (klik Sumber)
Selain itu, ada perkataan beliau yang sangat mengunggulkan dan memuliakan pertanian, namun kenyataannya di India banyak petani bunuh diri atau, tidak usah jauh-jauh ke Anak Benua, di Sulawesi saja petani menangis karena sawahnya yang hampir panen diubah perusahaan negara jadi gundukan lumpur, ya, atas nama "pembangunan" tadi.

Saya bisa mengerti iktikad baik Kiai Fuad Affandi dan berharap dapat memahami nasihat-nasihatnya, juga bersyukur karena dibesarkan dalam lingkungan modern yang beliau kejar bersama desanya, seluruhnya terasa positif, namun entah kenapa saya menerimanya sambil mengerutkan kening. Maksudnya, masuk ke kepala, iya, tetapi sebelum menelan, kita harus mengunyahnya dulu sampai halus, kan? Semakin halus, semakin baik bagi pencernaan. Siapa tahu pula ternyata ada batu kecil, potongan cengek, atau serat yang tidak mungkin ditelan begitu saja.

Ketika sesi tanya jawab, bersuara beberapa pemuda yang bercita-cita sama seperti Kiai Fuad Affandi. Mengagumkan. Rupanya mereka juga mengalami kendala serupa dengan yang pernah dialami beliau. Makanya beliau sampai menceritakan lelucon tentang dildo lilin Kabayan-Iteung versus petugas PLN tadi. Seperti prostitusi, perbedaan paradigma terus terjadi dari waktu ke waktu, di mana-mana.
There’s a huge intergenerational problem in many of the villages I was working in. That level of societal relationship is breaking down. It works in both directions. Some of the elders who are adamant that the forest should be preserved versus the younger generation who are looking to progress, to change to modernity, material wealth, access to the cities. Access to the modern world. There’s that intergenerational tension. Then you also have it in the other direction, where there are young, educated Marind — schoolteachers, nurses, for instance — who are deeply critical of the elders who are also surrendering their land without understanding the terms of the contracts, the legal implications. Who are still operating in this reciprocity framework. [Young people would say,] “That works just fine among Marind, but you’re not dealing with Marind here. You need to change, our culture needs to change and adapt because we’re dealing with a very different kind of audience, who does not reciprocate in the same way, who does not understand reciprocity in the same way.” So some of these young people are pushing for kind of a transformation in Marind culture as a way of surviving these new kinds of forces and actors that are impinging upon everyday life. (klik Sumber)
Adakalanya menjadi kabur siapa yang lebih pintar: pemuda berpendidikan tinggi dengan idealisme namun kurang berpengalaman, atau warga desa kurang berpendidikan namun terampil. Semua sama-sama mencari uang. Tetapi, siapa memanfaatkan siapa, rupanya tidak ditentukan oleh tingginya "pendidikan". Lulusan kuliahan yang naif bisa diperlakukan bak mesin ATM oleh warga desa yang dasarnya pandai main akal. Kiai Fuad Affandi sendiri ijazah SD tidak punya, tetapi kini memiliki sekolah berjenjang-jenjang dengan jumlah santri bukan main banyaknya.

Seperti dalam "Balada Pengangguran" Kantata Takwa tadi:
Misteri! Ijazah tidak ada gunanya!
Meski begitu, berulang Kiai Fuad Affandi dalam kuliah kemarin mengatakan, "Pendidikan bukan pintu gerbang mencari uang, tapi manusia berpendidikan pasti dicari uang." Maka, "pendidikan" apakah yang dimaksud di sini jika beliau yang bisa dibilang tidak ber"pendidikan" malah menjadi sosok sukses yang disorot dalam televisi, majalah, buku ...?

Pada akhirnya, setiap yang bertanya diajak beliau untuk main ke pesantrennya dan melihat sendiri, tetapi nanti saja setelah tanggal 17 April #eh. Saya sendiri bersyukur karena telah membaca buku tentang beliau terlebih dahulu.

Terang banyak PR yang saya peroleh dari persinggungan dengan beliau: untuk belajar cara menjual, untuk menjadi berani, untuk mengerti perbedaan antara "usaha" dan "ikhtiar", untuk memikirkan maksud dari "punya cita-cita dan tujuan, usaha dan ikhtiar itu wajib, tapi uang bisa datang dari mana-mana" dan mengaitkannya dengan pola hidup saya sendiri, dan seterusnya.

Barangkali ada yang tertarik mendengarkan rekaman audio kuliah dengan beliau:



Rupanya kuliah ini merupakan yang pertama dari yang direncanakan akan delapan sesi. Saya menjadi penasaran akan episode-episode selanjutnya, siapa lagi tokoh yang akan ditampilkan.

Kamis, 28 Maret 2019

Pesan Lingkungan dalam Lagu "Pergi ke Bulan"

Siapakah mau ikut ayo berangkat pergi denganku 
Di hari libur sekarang pergi jauh (menuju bulan) 
Jangan lupa banyak-banyak membawa bekal 
Agar tidak kelaparan di jalanan 
Ayo kawan kita berangkat 
Naik delman atau onta 
Kita ramai-ramai pergi ke bulan

Siapa yang tidak tahu lagu ini? 

Setidaknya ada tiga versi yang dibawakan oleh penampil dari generasi yang berlainan.

Untuk pendengar dari generasi Baby Boomer:


Untuk pendengar dari Generasi X yang hilang serta Y yang milenial:


Untuk pendengar dari Generasi Z a-k-a kids jaman now:


Saya sendiri sebagai pendengar milenial mengenal lagu ini dari versi yang dibawakan oleh Klarinet. Lagunya riang bergembira dan saya senang menyanyikannya bersama seorang teman kuliah asal Jakarta Timur dengan mengabaikan tatapan bengong teman-teman yang lain. Tampaknya, cuma dia satu-satunya orang selain saya yang mengetahui lagu ini di lingkungan kampus kami. Malah, kemungkinan lagu ini sampai di telinga saya setelah saya merampok koleksi MP3 dia.

Sepintas lagu ini seperti main-main. Ya, perhatikan saja liriknya. Pergi ke bulan naik delman atau unta? Ke taman kota saja belum tentu tertempuh. Untanya mesti dipinjam dulu dari kebun binatang. Itu pun kalau boleh. Adapun delman bukan kendaraan yang selazim angkot apalagi ojol. Betapa absurdnya lagu ini.

Akan tetapi, jika kita mau mencermati yang ada di balik setiap yang tersuratan takdir, sesungguhnya lagu ini menyiratkan ajakan untuk berperilaku ramah lingkungan. 

Kenapa delman dan unta merupakan sarana transportasi yang disarankan dalam lagu ini? Kenapa bukan konvoi dengan motor ala anak-anak muda, atau sewa Gr*b Car ramai-ramai? 

Mungkinkah karena, sebagai sarana transportasi primitif, delman--yang biasanya ditarik kuda--dan unta tidak memerlukan bahan bakar fosil sehingga tidak akan menghasilkan polusi apalagi mengacaukan ekonomi akibat ketidakstabilan harga minyak? 

Apalagi bulan merupakan tujuan yang sangat jauh dari tempat tinggal kita di bumi. Jika kita pergi ke bulan menggunakan kendaraan yang memerlukan bahan bakar fosil, tentu dampak lingkungan yang diakibatkannya besar sekali. Karena itulah, untuk menempuh perjalanan yang sangat jauh itu, kita disarankan untuk menggunakan kendaraan yang ramah lingkungan saja, yaitu kuda atau unta. Katanya sih jejak karbon kuda memang lebih sedikit daripada mobil. Adapun unta, paling tidak itu transportasi haji yang disebutkan secara jelas dalam Alquran Surat Al-Hajj ayat 27 di samping jalan kaki.

Jangan lupa banyak-banyak membawa bekal 
Agar tidak kelaparan di jalanan

Selama perjalanan yang sangat jauh menuju bulan itu tentu kita membutuhkan makanan dan minuman. Bagaimanapun kita harus bawa bekal. Kalau mau praktis, bisa saja kita hanya berbekal uang dan membeli makanan-minuman di sepanjang perjalanan. Apalagi sekarang dengan teknologi uang elektronik, dompet tidak harus tebal dengan uang kertas dan receh. Semua bisa diurus lewat gawai. Asal jangan lupa bawa charger saja.

Tetapi, kalau kita memerhatikan kampanye lingkungan hidup di media-media, mereka suka menganjurkan agar membawa tumbler dan wadah makanan sendiri ke luar rumah. Kenapa? Karena di baliknya ada emak-emak penjaja Tupperware. Lagi-lagi, ini merupakan ajakan tersirat dari lagu "Pergi ke Bulan" untuk mencari tahu kenapa membawa perabot sendiri itu merupakan cara yang sustainable kala bepergian.

Lagu ini mungkin bukan untuk diamalkan secara harafiah, maksudnya literally pergi ke bulan naik delman atau unta dengan membawa bekal sebanyak-banyaknya. Kalau mengacu pada artikel Wikihow berjudul "Cara Pergi ke Bulan", delman dan unta sama sekali belum dimasukkan ke sana. Enggak tahu kalau nanti sore. Sedikitnya yang bisa kita ambil dari lagu ini, di samping sebagai hiburan penceria suasana untuk dinyanyikan bersama kawan, yaitu sebagai pengingat agar merenungkan pilihan kita dalam transportasi serta membawa Tupperware tumbler dan wadah makanan sendiri ke luar rumah supaya tidak menambah sampah.

Selasa, 26 Maret 2019

Tentara PETA pada Jaman Pendudukan Jepang di Indonesia

Gambar dari Nabil Foundation.
Buku ini tebalnya "hanya" 194 halaman, tetapi saya membutuhkan waktu relatif lama untuk menyelesaikannya meskipun sudah menyediakan waktu setiap hari selama 1/3 - 1 jam. Memang hurufnya relatif kecil, tetapi sepertinya hambatan membaca disebabkan karena isinya cukup berat. Ada banyak nama, pangkat, dan istilah-istilah asing lainnya yang kemudian lewat begitu saja. Padahal penulis membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk menyelesaikan penelitiannya ini, belum lagi harus terbang ke sana kemari untuk mewawancarai sekian banyak narasumbernya.


Pembacaan sempat menarik ketika sampai pada bagian di mana tentara PETA melihat langsung penderitaan romusa. Akibatnya timbul pemberontakan terhadap orang-orang Jepang yang telah memberikan pendidikan militer kepada mereka.

Menakjubkan juga mengetahui bahwa pada saat itu sudah ada orang-orang Jepang muslim yang dipekerjakan untuk menarik simpati rakyat Indonesia yang rata-rata beragama Islam. Maka itu, desain bendera PETA sendiri bercorak keislaman dengan lambang bulan-bintang. Meski begitu, kekejaman terhadap romusa sepertinya sama sekali bukan bagian dari spirit Islam.

Selain itu, sekarang ini, kalau membaca atau menonton tentang fenomena yang terjadi di Jepang seperti karoshi sepertinya yang terjadi pada romusa itu tidak mengherankan. Semangat "kerja sampai mati" dengan pengorbanan sebesar-besarnya atau setidaknya memaksa orang lain yang berbuat demikian tetap ada hingga zaman sekarang, bahkan terhadap rakyat mereka sendiri.

Di kesimpulan pun dikatakan bahwa pendidikan militer oleh Jepang lebih bersifat inspiratif daripada instruktif, maksudnya mereka lebih memberikan "semangat" ketimbang hal-hal teknis seperti keterampilan dan pengetahuan. Mungkin karena mereka tidak lama juga di sini. Dari pembacaan jejepangan saya yang baru sedikit, memang Jepang terasa memiliki spirit yang khas, suatu sikap berjuang sampai titik darah penghabisan semacam itulah, dan kadang sentimental. Dalam konteks Perang Kemerdekaan atau melawan kezaliman, sikap tersebut tampak romantik dan sepertinya memang diperlukan.

Biarpun mendapati adanya perasaan seperti itu, namun sebagai suatu narasi, pembacaan saya terhadap buku sejarah satu ini tidak sedramatis ketika dengan buku sejarah yang lain seperti Berhaji di Masa Kolonial meskipun ada saja sih ide cerpen yang muncul dari sini. Tentu saja diperlukan pembacaan lebih dari sekali jika hendak benar-benar memanfaatkan buku ini untuk membuat tulisan baru.

Senin, 25 Maret 2019

The Lowdown: Business Etiquette - Japan

Gambar dari Goodreads.
Buku berformat tanya-jawab ini disampaikan dengan bahasa yang ringan dan humoris. Buku ini juga tipis, hanya mengungkap yang inti. Bisa dibilang, buku ini merupakan bacaan yang mudah sekalipun kita tidak hendak berbisnis dengan orang Jepang.

Lagian, memang buku ini tidak perlu tebal-tebal. Sebab, dalam yang setipis ini saja ada begitu banyak yang perlu diingat jika ingin mengamalkan semuanya secara tepat dalam berhubungan dengan orang Jepang.

Etiket sangat penting bagi orang Jepang, bukan hanya dalam berbisnis melainkan juga dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja buku ini hanya menjelaskan tentang etiket yang berkaitan dengan menjalin hubungan bisnis. Akan tetapi, buku ini melengkapinya dengan latar ajaran Shinto , Konfusianisme, dan Buddha yang rupanya memengaruhi pentingnya etiket.

Kebetulan, saya membaca buku ini berbarengan dengan Tentara Peta pada Jaman Pendudukan Jepang di Indonesia oleh Nugroho Notosusanto. Dalam buku tersebut terdapat jadwal harian tentara rakyat bentukan Jepang itu yang ternyata mencakup pelajaran Etiket!

Minggu, 24 Maret 2019

Patriotism

Gambar dari Goodreads.
Buku ini bukan novel melainkan cerpen panjang. Sedari awal kita sudah diberitahukan ringkasan kisahnya dari awal sampai akhir, jadi seperti enggak bakal ada unsur kejutan di sini. Meski begitu, bukan berarti bagian selanjutnya enggak layak baca. Malah ketika ringkasan itu direntangkan secara panjang lebar kita seolah-olah diajak untuk meresapi keindahan suatu proses. Keindahan, begitu sih kata orang-orang terhadap prosa Yukio Mishima.


Memang ini buku Yukio Mishima pertama yang saya baca disebabkan ukurannya yang paling kecil. Sudah begitu, saya membaca dulu keterangan mengenai cerita ini di Wikipedia dan menonton sepotong-sepotong versi filmnya di YouTube. Benar-benar enggak ada unsur kejutan jadinya.

Dibilang indah dalam pembacaan saya sendiri pun sesungguhnya bahasa Inggris saya enggak memadai. (Bahasa selalu menjadi alasan :p) Namun tetap ada hal-hal yang bikin saya takjub selama pembacaan, di antaranya pandangan unik mengenai bunuh diri serta penampilan Reiko sebagai istri idaman para lelaki ( ... sepertinya).

The last moments of this heroic and dedicated couple were such as to make the gods themselves weep.

What he was about to perform was an act in his public capacity as a soldier, something he had never previously shown his wife. It called for a resolution equal to the courage to enter battle; it was a death of no less degree and quality than death in the front line. It was his conduct on the battlefield that he was now to display.

Reiko sebagai istri Letnan Shinji di sini digambarkan sungguh ideal secara patriarkis: berusia lebih muda, sigap melayani suami sepulang kerja, minta izin suami terlebih dahulu termasuk ketika hendak menyusul bunuh diri, berias untuk suami, gesit melayani usaha suami termasuk ketika dalam proses bunuh diri, dan seterusnya dan sebagainya .... Coba konteksnya diganti jadi bukan persiapan dan proses bunuh diri, melainkan, misalnya, Perang Badar. Jadi ceritanya Letnan Shinji sedang gamang antara terus berjihad bersama kaum muslim atau melawan keluarga dan teman-temannya yang masih kafir. Kemudian, Reiko, dengan segala baktinya sebagaimana dijabarkan dalam cerpan ini, mendukung suaminya untuk mati dalam jihad fi sabilillah. Kurang islami apa, Reiko? Boleh jadi, Reiko adalah tipikal istri yang ikhlas-ikhlas saja dipoligami.

Bagian ketika Letnan Shinji mengurai isi perut juga menakjubkan. Ya, bacanya sambil ngeri-ngeri bagaimana lah, sekaligus membangkitkan penasaran: Apakah deskripsi ini murni imajinasi ataukah si pengarang meriset lebih dahulu, misalkan dengan membaca buku tentang proses seppuku atau jangan-jangan ia pernah menyaksikan langsung orang yang melakukannya?

Yang lebih mengherankan, sekalipun si pengarang sendiri telah mendeskripsikan proses kematian dengan cara itu yang begitu beratnya, namun pada akhirnya, beberapa tahun setelah cerita ini diterbitkan dan kemudian difilmkan, ia sungguh-sungguh mempraktikkan yang ditulisnya itu dengan cara yang amat disayangkan. Maksudnya, memang pengarang itu sebaiknya mempraktikkan sendiri nilai-nilai yang diidealkannya, tetapi, ya enggak begini juga sih.

Adapun narasinya mengingatkan saya pada cerpen Fumiko Enchi di Words Without Borders, "The Metamorphosis", yang mana pengarang bisa bergonta-ganti sudut pandang seenaknya dari paragraf ke paragraf. Dalam cerpan Yukio Mishima ini contohnya bisa dilihat di agak akhir, ketika Letnan Shinji berdiam diri sejenak sebelum memulai seppuku. Soalnya, sebelum ini beberapa kali saya diberi tahu bahwa dalam narasi kita mesti kukuh dengan satu sudut pandang saja. Kalau mau ganti sudut pandang, maka lakukanlah di bagian yang baru. Tetapi, dalam dua contoh narasi ini, aturan itu tidak ditaati. Pengarang luwes saja keluar masuk tokoh-tokohnya dalam satu bagian: paragraf pertama sudut pandang tokoh A, paragraf kedua tokoh B, paragraf ketiga tokoh C, paragraf pertama kembali ke tokoh B, dan seterusnya, enggak mesti dalam urutan yang sama.

Tampaknya enggak ada juga aturan "tip of the iceberg", "minimalism", atau apalah. Narasinya lepas saja, kayak enggak ada yang ditahan-tahan, dengan menggunakan baik showing maupun telling. Tetapi, meski semuanya dipaparkan secara gamblang, terperinci, sedemikian rupa apalah, tetap ada hal-hal yang bisa dipelajari lebih lanjut mengenai latar budaya, politik, sejarah, dan sebagainya. Dalam cerpan Yukio Mishima ini contohnya, ya, tentang pandangan unik mengenai bunuh diri serta gambaran istri ideal itu tadi--yang intinya memahamkan akan suatu pandangan dunia orang Jepang, sekalipun bisa saja cuma milik Yukio Mishima seorang, tetapi, toh, dari membaca dan menonton sumber-sumber lain, tampaknya sih cukup umum pada masa tertentu.

Dengan gaya penceritaan seperti itu, secara keseluruhan, kalau sekadar mengikuti ceritanya saja sih, ini bukan bacaan yang sulit. Yang sulit itu kalau mau mempelajari wacana-wacana di baliknya, tentu saja, tetapi itu mah porsinya calon sarjana sastra Jepang :p

Sabtu, 23 Maret 2019

Petualangan Menaklukkan Petir Mama Super Protektif

Muncul notifikasi di Instagram. Teman saya mengajak datang ke pemutaran suatu film anak-anak tentang petir. Karena sudah agak lama tidak bersua si teman, saya pun mengiyakan. Tempatnya di Bale Motekar Universitas Padjajaran.

Karena teman saya berencana menginap malamnya, maka saya pergi tidak membawa sepeda supaya pulangnya bisa bareng naik kendaraan umum. Pemutaran pukul empat sore. Tadinya saya hendak berangkat dari sebelum waktu asar. Kalau salat asar dulu di rumah, khawatirnya telat sampai di lokasi. Tetapi, rupanya, ada saja yang bikin saya lelet. Jadinya saya berangkat dari rumah setelah waktu asar.

Ketika saya sudah menaiki angkot 01 menuju seberang Universitas Langlangbuana, teman saya memberi tahu bahwa ternyata ia salah kasih arahan. Bale Motekar bukan di Jalan Ir. H. Juanda, melainkan di dekat Jonas, Jalan Riau.

Santai.

Saya melanjutkan naik angkot Kalapa-Dago. Saya berencana turun di seberang Riau Junction kemudian dari sana melanjutkan dengan angkot Margahayu-Ledeng atau mana pun yang melewati dekat Jonas.

"Tiket sudah di tangan yes."
Saat itu hujan rintik-rintik seperti dalam lagu "Widuri". Setelah turun dari Kalapa-Dago, saya menyeberang. Sembari menunggu ada angkot yang lewat, saya menyusuri Jalan Riau menuju Jonas. Tetapi, biarpun sebelumnya di dekat Riau Junction saya melihat ada beberapa angkot Margahayu-Ledeng, kok tidak ada yang melintas? Jonas semakin dekat. Saya merasa tanggung jadinya kalau naik angkot. Teman saya mengirimkan gambar bahwa ia telah memperoleh tiketnya. Saya minta maaf karena saat itu sudah pukul empat lewat sehingga dalam bayangan saya kami akan terlambat yang mana sangat enggak enak. Saya terus berjalan cepat-cepat sampai tujuan di tengah syahdunya sore kelam.

Nah, ini dia tempatnya!
Saya pun tiba di Bale Motekar, masuk lewat samping. Saya diarahkan oleh satpam untuk memasuki gedung dari sisi satunya dan naik ke lantai tiga. Kemudian saya menemukan dua teman saya sedang duduk. Kami pun memasuki ruangan bioskop yang hampir persis dengan yang ada di XXI hanya saja yang ini berukuran mini dan ...

... tidak ada seorang pun ...?

Kedua teman saya sama kagetnya sebab sedari tadi mereka asyik mengobrol dan sepertinya tidak memerhatikan adakah calon penonton film selain mereka. Masak yang bakal menonton cuma kami bertiga?!

Aa-aa petugas bioskop menghampiri. Ia memaklumkan bahwa tidak akan ada yang datang lagi. Dengan segera ia bersiap-siap memutarkan film. Kami pun dapat dengan bebas memilih tempat duduk yang semuanya kosong. Saya memilih kursi tepat di tengah-tengah. Kedua teman saya ada di kanan-kiri saya. Aa-aa itu memadamkan lampu dan menutup pintu.

Trailer demi trailer film Indonesia antimainstream bermunculan. Kok filmnya ngeri semua? Yang lebih ngeri lagi ketika film yang hendak berjalan malah berjudul Tengkorak.

Kami buru-buru keluar dari ruangan yang gelap lagi cuma diisi bertiga itu.

Setelah mengonfirmasikan ke penunggu di ruangan sebelah, kami masuk lagi ke ruangan bioskop dan berharap kali ini tidak salah putar. Ya ampun. Ekspektasi saya kan film anak-anak yang ceria, bukan film tentang gempa Jogja 2006 yang menyeramkan.

Alhamdulillah, kali ini film yang benar.

sumber gambar

Film dibuka dengan kegiatan tokoh utama, bocah seusia SD bernama Sterling, membuat konten-konten Youtube. Tampaknya channel miliknya ramai dikunjungi oleh anak-anak sepantarannya. Meski begitu, di tengah komentar anak-anak, selalu terselip komentar ibunya, Beth, yang rupanya seorang bloger dengan tema cara-cara mendidik anak.

Rupanya sampai waktu itu Sterling tinggal di Hongkong. Ia akan pindah ke Indonesia. Sebelum tinggal di Jakarta, ia akan menghabiskan liburan lebih dahulu di rumah kakeknya di Boyolali.

Awalnya Sterling merasa sedih dengan kepergiannya dari Hongkong. Ia sudah terbiasa menjadi anak rumahan, atau lebih tepatnya, apartemenan. Ia cemas tidak akan bisa leluasa membuat video-video Youtube seperti biasanya.

Kecemasan Sterling tidak berlangsung lama begitu ia bertemu dengan kawan baru, Gianto atau Jaien (yang memang baik postur maupun sifatnya agak mirip dengan teman Nobita itu sih). Jaien suka mengajak Sterling ke luar rumah, mulai dari musala, lapangan, sampai perbukitan. Yang cemas justru ibunya Sterling. Rupanya Mbak Beth ini sangat protektif. Anaknya tidak boleh kotor, tidak boleh celaka, dan sebagai-bagainya, yang menumbuhkan kecurigaan teman saya bahwa ada Rinso di balik semua ini.

Mengetahui kesukaan Sterling merekam segala sesuatu, Jaien memanfaatkan dia untuk mewujudkan cita-citanya menjadi aktor. Jaien rupanya sangat terpesona akan dunia perfilman, walaupun wawasannya terperangkap di era '70-'80-an dan hanya menjiplak perkataan seorang mas-mas sineas-gagal yang dikenalnya. Sterling mau-mau saja menerima ajakan Jaien. Jaien juga berhasil menjebak memanipulasi mendorong teman-temannya yang lain untuk ikut serta. Tadinya mereka juga ingin melibatkan duo mas-mas tukang bikin video kawinan, tetapi keduanya tidak sudi. Anak-anak pun bikin film sendiri.

Namanya juga anak-anak. Ada saja kelucuan saat pengambilan gambar. Oh, ya, mereka hendak memfilmkan buku komik Legenda Ki Ageng Selo, Sang Penangkap Petir atau semacam itulah. Bukan film biasa jadinya, mestinya.

Namanya juga anak-anak. Adakalanya mereka bertindak tanpa perhitungan. Ketika sedang mengambil gambar di suatu gubuk kosong, Jaien mendorong pemain lain ke dinding sehingga menjatuhkan lampu teplok. Lampu itu jatuh dan membakar seisi gubuk. Mau tidak mau pembuatan film dihentikan. Walaupun Sterling dan Jaien sudah meminta maaf kepada pemilik gubuk, namun akibatnya kejadian itu diketahui oleh orang tua mereka. Mbak Beth melarang Sterling untuk membuat film lagi. Kameranya diambil.

Sementara waktu, Mbak Beth pergi ke Jakarta untuk mengurus rumah, sekolah, pekerjaan, dan entah apa lagi. Sterling ditinggal berdua bersama kakeknya. Bersama Jaien dan Netha--teman perempuan mereka yang turut terlibat dalam film--anak-anak merengek kepada duo mas-mas tukang bikin video kawinan, untuk membantu mereka melanjutkan proyek itu.

Berkat kegigihan anak-anak, kedua mas-mas itu pun luluh. Mereka mengajak anak-anak pergi berkemah dengan mobil bak. Di hutan mereka diajarkan untuk mengembangkan imajinasi. Kemudian saat malam mereka membuat film dari siluet guntingan-guntingan kertas. Rupanya, biarpun kemampuan mereka dalam membuat film fenomenal diragukan, kedua mas-mas ini berbakat menjadi mahasiswa KKN. Mungkin di samping jasa pembuatan video kawinan, mereka bisa membuka usaha workshop pengajaran video kreatif untuk anak-anak.

Sementara berkemah, Sterling mengabaikan panggilan telepon dari ibunya. Baru ketika pulang ke rumah kakeknya, Sterling mengungkapkan mengenai kegiatannya semalam kepada ibunya. Ibunya marah-marah. Kakek memberi nasihat. Tetapi lalu tiba-tiba turun hujan dan muncul petir. Sterling membuka-buka buku komik yang menjadi inspirasi filmnya. Ia sampai pada halaman seorang lelaki berkumis dan berbelangkon mengatakan, "SELESAIKAN APA YANG KAMU MULAI."

CETAR!

Sampai di sini, kalau cerita dilanjutkan, sepertinya akan menjadi SPOILER.

Sterling bersama Gianto a.k.a. Jaien (berkostum ala Bruce Lee), 
yang dengan semena-mena mengubah namanya jadi Tarling. 
Lu kira gitar-suling?! (sumber gambar)

Saya puas sekali menonton film ini, walaupun ternyata tidak gratis, melainkan diam-diam dibayari oleh teman saya sebesar sepuluh ribu. (Padahal saya sudah dengan pedenya bertanya kepada si aa-aa, apakah pemutaran film di tempat ini selalu gratis. Aduh!) Apalagi di ruangan bioskop hanya ada kami bertiga, sehingga bisa bebas berteriak-teriak dan terbahak-bahak larut dalam keriaan anak-anak yang berakting laga dengan properti seadanya.

Memang sih ada yang mengganjal mengenai sikap Mbak Beth alias Mama Sterling yang teramat protektif. Kami semacam penasaran mengenai backstory karakter ini (#halah)--apakah gerangan yang menyebabkan dia sampai sebegitunya?

Apakah Sterling ini sakit-sakitan sehingga tidak boleh kena kuman dari luar rumah barang sedikit saja? Tetapi, sama sekali tidak ada adegan Sterling pilek atau demam di sini.

Apakah Mbak Beth enggak mengalami romantika asyiknya berkeliaran di luar rumah bersama teman-teman sebaya pada waktu kecilnya? Malah, sebaliknya, dalam satu adegan diperlihatkan foto-fotonya sewaktu kecil sedang bersama sepeda dan tampaknya ia aktif di luar rumah. Tetapi, kenapa kemudian ia menjadi ibu yang terlalu dominan?

Selain itu, sebagai pakar pendidikan anak--setidaknya di blog--yang notabene warga dunia kosmopolitan, mestinya Mbak Beth melek dengan perkembangan isu terkini, dong? Maksudnya, apakah ia tidak pernah membaca tentang isu-isu seperti hikikomori, lelaki herbivora, MGTOW, dan sebagainya, yang sedikit-banyak menyinggung laki-laki pasif yang maunya di rumah saja? Sekiranya Mbak Beth mengindahkan isu-isu semacam itu, boleh jadi ia malah akan mendorong anaknya supaya seaktif-aktifnya berteman di luar rumah.

Kenapa sih kau ini, Mbak Beth? Kau ini feminis atau apa kok maunya mengeram anak laki-laki di rumah saja? #eh

Apakah jangan-jangan sementara di Hongkong mereka tinggal di lingkungan triad sehingga wajar saja bila keluar dari rumah itu berbahaya? Ini pun tidak diungkapkan.

Mau yang mana pun, kalau menempatkan diri dalam sudut pandang anak-anak, mereka tidak akan sampai sebegitunya jauh menimbang perwatakan karakter Mama Sterling. Yang penting pada akhirnya semua orang berbahagia menonton film tentang avatar petir versi Jawa yang berhasil diselesaikan itu. Anak-anak para pemain film pun saling berpelukan.

sumber

Informasi pemutaran film di bioskop alternatif Bale Motekar tiap Senin-Minggu bisa dilihat di Instagram @indicinemabandung. Yang diputar biasanya film Indonesia. Harga tiket Senin-Jumat Rp 10.000, Sabtu-Minggu Rp 15.000.



Foto-foto selain poster/potongan film dan gif Teletubbies diambil oleh Nurul Maria Sisilia.

Jumat, 22 Maret 2019

Naik Haji Jalan Kaki 5700 KM dari Bosnia

Gambar dari jaklitera.
Begitu melihat judulnya, seketika mengira bahwa buku ini akan seperti
The Moneyless Manifesto Mark Boyle atau Rich Without Money Tomi Astikainen, yaitu berisi tip dan trik menunaikan haji tanpa uang yang sarat akan detail dan petunjuk teknis mengenai cara-cara bertahan hidup sepanjang perjalanan. Ekspektasi saya ketinggian.

Buku ini rupanya lebih pada eksplorasi penghayatan kemahakuasaan Allah yang sarat keajaiban, seolah-olah pembaca masih perlu diyakinkan bahwa Allah itu akan mengabulkan segalanya, maka sembahlah Allah! Enggak memungkiri, sebagian orang memang perlu digugah keyakinannya dengan cara begitu. 

Tetapi, memang ada satu endorsement yang menyesatkan karena mengatakan bahwa Senad melakukan perjalanan "tanpa uang dan perbekalan sama sekali".

Nyatanya Senad bukannya "tanpa uang dan perbekalan sama sekali", melainkan membawa bendera, map, air, cokelat, dan ... uang. Malah dikatakan bahwa ia membagi-bagikan sebagian cokelat kepada anjing-anjing yang menemaninya di jalan, juga uangnya kepada fakir miskin (padahal sebelumnya diceritakan bahwa ia kelaparan sampai pingsan, dan bagaimana ia bisa pulang setelahnya?!?!?!).

Selain itu, kalau Senad enggak bawa uang sama sekali, bagaimana ia mengganti sepatu serta menyewa losmen (lihat halaman 111)?

"Tanpa uang" di sini maksudnya uang untuk kendaraan kali, ya.

Mungkin tidak perlu sampai menjadi kumpulan tip dan trik, namun kurangnya detail dan teknis perjalanan serta banyaknya bagian yang sepertinya karangan dalam buku ini membuatnya jadi terasa enggak realistis. Misalnya, saya penasaran akan detail seperti pertimbangan Senad dalam menyusun perbekalan serta apakah sebelum memulai perjalanan ia menghubungi media massa lebih dahulu? Pemberitaan ini penting karena kadang Senad mendapatkan rezekinya selama perjalanan dari orang-orang yang telah mengetahui tentang dia melalui media massa (contoh di halaman 78, 84, 88, dan 90).

Saya juga penasaran dengan siapa yang mengambil foto-foto Senad selama di perjalanan.

Alih-alih detail yang informatif dan meyakinkan, penulis malah bermain-main dengan detail yang entah bagaimana bukan fiktif karena buku ini labelnya nonfiksi. Contoh paling jelas langsung disuguhkan kepada pembaca di awal buku, ketika Senad hendak berpisah dengan keluarganya, dan masih akan ditemui di akhir.

Coba bandingkan buku ini The Man Who Quit Money Mark Sundeen yang menceritakan tentang Daniel Suelo, warga Amerika Serikat yang bertahun-tahun hidup tanpa uang. Daniel Suelo juga seorang spiritualis dan mengakui ada kekuatan-kekuatan gaib yang menyampaikan rezeki kepadanya, namun cara penceritaannya lebih dapat dipercaya alih-alih seperti kisah nabi-nabi yang lengkap dengan mukjizat dan azab--doanya segera dikabulkan sedang orang yang berbuat buruk kepadanya segera mendapat petaka. Bukannya saya memungkiri kisah nabi-nabi, tetapi ini tentang manusia pada zaman modern.

Terlepas dari kadar kemungkinan fiktif dalam buku ini, saya percaya bahwa beliau naik haji jalan kaki dari Bosnia sampai Arab Saudi itu fakta yang sungguh-sungguh terjadi, merupakan perjalanan berat namun worth it baik dari segi spiritual maupun environmental. Apalagi selama beliau terlunta-lunta di Arab Saudi yang sungguh tepat dijadikan sebagai klimaks dari seluruh perjalanan.

Mau buku ini dibilang menginspirasi pun saya merasa tanggung. Okelah, kita enggak harus meneladani Senad secara mentah-mentah (: naik haji jalan kaki). Kita teladani saja kekuatan iman beliau dalam menghadapi setiap tantangan, dalam jalan hidup kita masing-masing, enggak harus secara harfiah berupa jalan setapak menuju Mekah, sembari terus menabung supaya kelak bisa naik haji pakai Garuda dengan segala akomodasi telah diurus biro dan pemerintah.

Sepertinya ada baiknya jika di kata pengantar penulis mengungkapkan proses penulisan buku ini seperti penulis di buku lain yang saya baca berbarengan--Entrepreneur Organik Faiz Manshur--mengungkapkan bahwa beliau menghabiskan waktu tiga bulan di Alamendah untuk riset. Adapun dalam buku ini yang saya temukan hanya penulis dibantu penerjemah Serbia serta Kedubes Bosnia, tetapi apakah beliau sampai bertemu dengan Senad sendiri? Lagi pun buku ini sepertinya bukan terjemahan. Ada baiknya juga penulis menyebut referensi selain Kompas dan Wikipedia ....

Memang di akhir buku ada ucapan terima kasih Senad kepada beberapa orang yang telah membantunya selama perjalanan. Baru di sini terungkap. Kenapa tidak dipaparkan secara mendetail saja di sepanjang buku sih mengenai peran mereka-mereka ini?!?!?

Saya bisa maklum sih sekiranya detail-detail yang saya harapkan itu sulit untuk ditentukan, kemungkinan adanya keterbatasan, dan kenapa enggak Senad menulis sendiri autobiografinya menyangkut perjalanan ini (atau mungkinkah itu malah akan mengurangi keikhlasan/kerendahan hatinya)?

Sebetulnya saya enggak puas dengan buku ini, entah kalau pembaca lain. Paling tidak, buku ini menginspirasi atau memberi ide untuk meneliti lebih jauh dalam hal-hal seperti:

1. Petunjuk melakukan perjalanan haji dengan berjalan kaki dan tanpa atau dengan sedikit uang.

2. Dampak lingkungan atau perbandingan carbon footprint dalam perjalanan haji ditinjau dari berbagai kendaraan yang digunakan jemaah: jalan kaki, unta, mobil, kapal laut, pesawat, dan sebagainya, dalam hubungannya dengan perintah Allah untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi serta Alquran Surat Al-Hajj ayat 27 mengenai orang-orang yang berhaji dengan jalan kaki dan naik unta.

Buku ini juga layak dimiliki bagi yang bercita-cita menjadi editor, karena ada banyak bagian yang dapat dijadikan sebagai bahan latihan. Selain memuat banyak typo, contoh lain ada di halaman 75. Paragraf berikut dapat ditulis ulang supaya tidak redundant:

Hari itu Senad baru saja menginjakkan kaki di kota Memci, kota indah yang kini gersang dan tandus karena sudah bertahun-tahun lamanya hujan tak turun di bumi. Senad memasuki kota kecil itu dengan penuh tanda tanya, sepanjang mata memandang dia hanya menyaksikan kegersangan dan kekeringan. Masyarakat merasakan kesulitan setiap bersentuhan dengan kebutuhan air. Sehingga menyebabkan mereka berusaha bertahan hidup dengan kondisi apa adanya.

Ketika Senad memasuki kota ini, saat itu penduduk Memci sedang dirisaukan dengan keringnya tanah dan susahnya air akibat kemarau panjang yang melanda. Bukit pun terlihat gersang dan tumbuh-tumbuhan mulai layu karena kekurangan air. Seorang imam sebuah masjid di Memci berinisiatif untuk mengumpulkan masyarakat daerah tersebut ke sebuah bukit yang gersang untuk berdoa kepada Allah agar mereka dikaruniai hujan yang selama ini tidak mereka dapatkan.

Ada berapa kata "gersang" dalam dua paragraf saja?

Contoh lain di halaman 157-158:

Kota ini telah mengantarkan Senad bertemu dengan seorang laki-laki yang mempunyai lima orang anak. Isterinya menceritakan cerita yang sangat menakjubkan yakni ketika ia pernah mengidap penyakit kanker ganas dan menurut vonis dokter dia akan meninggal.

Ia kemudian meninggalkan segala pikiran negatif mengenai penyakitnya dan mengembalikan semuanya kepada Allah. Dia meminta ampun kepada Allah dan memohon agar penyakitnya disembuhkan. Selama berbulan-bulan dia melakukan itu sampai akhirnya Allah menyembuhkan penyakitnya dan kanker itu benar-benar bersih dari tubuh anaknya.

Jadi siapa yang kena kanker?

Bagi yang tidak bercita-cita menjadi editor, buku ini lumayan sebagai bacaan ringan.

Rabu, 13 Maret 2019

Almost Transparent Blue

Gambar dari Goodreads.
Tanpa tekad dan
timer, mudah untuk kehilangan minat dalam membaca buku ini. Novel ini seperti katarsis bagi anak muda yang penasaran dengan kehidupan bebas: alkohol, narkoba, dan seks liar. Tetapi, kalau Jakarta Undercover bikin kehidupan demikian sampai jadi membosankan, berkat novel ini, alih-alih kabita malah jadi geuleuh. Seandainya setiap iyuh yang mencuat dari batin saya selama pembacaan novel ini mendapat seribu rupiah, maka lumayan tuh buat patungan beli nasi goreng hijau di Imperial Kitchen & Dim Sum. Itu baru ketika pemahaman bahasa Inggris saya pas-pasan. Coba kalau pemahaman bahasa Inggris saya advance sehingga setiap kata dalam novel ini saya mengerti benar-benar, beli nasi gorengnya tidak usah pakai patungan.

Memang novel ini isinya bukan cuma free sex, drugs, and alcohol, tetapi juga memberi ruang bagi tokoh-tokohnya untuk berbagi aspirasi, halusinasi, impresi, memori, dan sebagainya. Novel ini tidak serta-merta menyimpulkan bahwa kehidupan sedemikian itu hampa dan semu--seperti buku yang saya sebut sebelumnya, maklum, karena yang satu lagi itu baru selesai saya baca dan tulis ulasannya di sini juga. Malah, saya kira, novel ini mestilah lebih dalam daripada itu makanya sampai mengganjar penulisnya dengan Penghargaan Akutagawa yang katanya bergengsi di Jepang itu.

Judul buku ini sendiri, Almost Transparent Blue, mestilah menjelaskan sesuatu. Misalkan, biru di sini itu maksudnya biru pada apa? Langit? Pembuluh darah? Adapun nyaris transparan itu apakah maksudnya menyiratkan bahwa buku ini bakal menjabarkan adegan-adegan film biru secara eksplisit?

Jadi, alih-alih menuntaskan rasa penasaran, buku ini malah membangkitkan rasa-rasa penasaran yang baru. Di samping penasaran akan pertimbangan juri dalam memilihnya sebagai pemenang, saya juga penasaran berapa persen masing-masing kadar fakta dan fiktif dalam cerita ini. Soalnya, nama naratornya sama dengan nama pengarangnya. Selain itu, cerita ditutup dengan surat yang mengesankan bahwa semuanya sungguh-sungguh terjadi(???). Bukan penasaran yang ngebet juga sih.

Jumat, 08 Maret 2019

Jakarta Undercover

Gambar dari Goodreads.
Dulu saya mengira ini tipe bacaan yang akan membuat panas-dingin. Rasanya takut-takut hendak membacanya. Namun, hingga saya memiliki cukup kekuatan untuk membaca buku ini dari awal sampai akhir, tampaknya saya telah terpapar oleh materi yang lebih parah (?), sehingga buku ini kok terasa membosankan. Tiap bab alurnya begitu-begitu saja walaupun tentu saja ada beberapa hal yang berbeda. Saya sempat membaca sekilas review-review di Goodreads, rupanya ada yang berpendapat begitu juga.

Memang buku ini bacaan khusus dewasa, tetapi bukan pornografi karena tidak mengeksploitasi detail tertentu. Bisa dibilang, penulis masih cukup sopan. Mungkin buku ini dapat memancing pembaca untuk mengembangkan imajinasi sendiri, tetapi boleh jadi itu tergantung pada kadar kebutuhan periodik individual, sudah terpenuhi atau belum.

Buku ini memberikan wawasan dan pengetahuan bahwa hal-hal begituan memang ada juga di Indonesia, khususnya di Jakarta, yang entah kenapa hampir selalu melibatkan warga keturunan (seolah-olah meneguhkan stereotipe tertentu). Kadang rasanya seperti fiksi fantasi. Tetapi, sepertinya memang nyata malah terus terjadi dari masa ke masa. Bab "Bisnis Kolam Susu GM Super", misalnya, mengingatkan pada kasus prostitusi artis yang mencuat baru-baru ini.

Yang paling mengejutkan dari buku ini justru latar belakang penulisnya yang pernah mengenyam ilmu keagamaan, mulai dari pesantren sampai IAIN. Kenyataan tersebut mengesankan seolah-olah pendidikan agama itu enggak lantas menjamin seseorang bebas dari menenggak alkohol atau menikmati aurat perempuan yang bukan mahram. Maksudnya, buku ini kan ditulis berdasarkan observasi partisipatif, kalau semua detail kejadian termasuk yang tidak dieksplisitkan 100% terpercaya.

Yang enggak kalah menarik adalah Kata Pengantar dari Dede Oetomo yang semacam mengglorifikasi seks bagaimanapun bentuknya, semacam menjadi konter bagi sikap sebagian masyarakat yang cenderung menabukan atau menutup-nutupi padahal munafik, yang kalau saya sih lebih suka mengatakannya sebagai "mengendalikan". (Meskipun kalau menikah tujuannya hanya untuk melegalkan seks, menurut saya itu enggak sebanding dengan kewajiban dan tanggung jawab yang mengikutinya.)

Memang si penulis sendiri pada akhir beberapa babnya seolah-olah hendak menggiring opini bahwa segala perilaku seks yang kebablasan berhura-hura dan hedonista itu kesemuan dan kehampaan belaka. Tetapi, toh tetap ada penikmatnya, orang-orang yang merayakannya. Terus saja ada yang begitu.

Buku ini lumayan sebagai pengantar seandainya mau riset tentang dunia begituan. Tetapi, saya kira buku ini hanya seperti yang jalan-jalan kecipak-kecipuk main di permukaan air dangkal, enggak sampai menyelam. Buku ini tidak sampai memikirkan dampak jangka panjang dari perilaku demikian, yang enggak usah sampai ke akhirat lah, di tataran dunia saja dulu, kepada masyarakat luas. Mungkin karena namanya sekadar liputan jurnalistik. Maksudnya, kalau mau mengupas sampai mendalam dengan menelisik akar nafsu-nafsi yang mengakibatkan fenomena seperti dieksplorasi dalam buku ini berikut dampak dan cara-cara menanggulanginya, itu namanya kajian ilmiah yang perlu diulas dalam bentuk buku tersendiri dengan daftar pustaka berhalaman-halaman.

Saya baca buku ini yang edisi Indonesia cetakan kesembilan terbitan April 2003, dibeli dengan harga 45.000 rupiah. Biarpun sudah cetakan kesembilan, typo tersebar di mana-mana. Bukunya setebal 486 halaman dan jilidnya kurang baik, enggak bisa dibuka lebar-lebar.

Rabu, 06 Maret 2019

Melihat-lihat Pameran Putu Wijaya

Pameran ini diadakan pada 1-3 Maret 2019 di Gedung YPK Jalan Naripan, Bandung. Barang yang dipamerkan kebanyakan berupa lukisan Putu Wijaya. Banyak pula poster pementasan serta artikel yang memuat tentang beliau. Selain itu, ada bagian yang agaknya menampilkan barang-barang pribadi beliau seperti koper, mesin tik, hingga buku-buku yang telah diterbitkan.

Karena yang jaga bilang boleh foto-foto, maka saya ambil saja semuanya 

Begitu hendak memasuki ruang pameran, kita dihadapkan pada kutipan dari beliau.

Hidup ini bukan hadiah, tetapi utang yang harus kita tebus dengan keringat.
Di sebelah kiri ada meja registrasi tempat kita membubuhkan nama, alamat, nomor telepon, surel, dan tanda tangan. Setelah mengisi data diri lalu terus berjalan ke kiri, mulailah kita disuguhi pameran lukisan beliau.

Yin yang untuk harmoni dan toleransi
Merah putih selalu diayomi
Merdeka buah darah dan air mata
Seribu warna satu rasa
Kesatuan tak lenyapkan keaslian
Tetap indah walau air berlimpah
Begitu masuk ke bagian belakang dari sebelah kiri pintu masuk, di sebelah kanan dipajang poster-poster pementasan beliau baik di dalam maupun luar negeri. Terdapat juga artikel-artikel koran yang berupa wawancara serta kunjungan arsitektural ke rumah beliau yang bergaya Jepang-Bali.


Tepat di tengah-tengah ruangan terdapat pameran yang agaknya barang-barang pribadi beliau berikut buku-buku yang pernah diterbitkannya. Sayang, kita tidak boleh memasuki area berkarpet merah ini. Padahal asyik sekiranya kita mendapat kesempatan membaca-walaupun-sepintas-lalu buku-buku beliau. Kalaupun bukan di sini, saya ingat, buku-buku lawas beliau dapat dibaca secara cuma-cuma di Perpustakaan Ajip Rosidi, tidak jauh dari muka Jalan Garut, di belakang Bandung Creative Hub Jalan Laswi.


Berhadapan dengan zona merah terdapat satu kutipan lagi dari beliau.

Kehidupan adalah perjalanan panjang melintasi stasiun-stasiun asing yang tak putus-putus.
Di sayap satunya sisi belakang ruangan merupakan sambungan dari pameran poster dan artikel.


Sementara itu, pameran lukisan terus berlanjut di seberang benda-benda lainnya itu.

Kurang kering berlimpah banjir
Tumbuh sendiri tak menunggu dikasihani
Dwi warna di rimba bhineka
Beragam dalam cahaya bulan
Disapa gerhana matahari total
Danau tiga warna, bagai trisila dasar negara
Bagai puncak gunung makin tinggi kian sunyi
Gotong-royong bukan sekadar saling menolong
Silaturahmi jembatan hati
Wah, kita sudah sampai kembali ke depan, bertemu lagi dengan meja registrasi. Memang ruangan ini disekat menjadi dua dengan ruang-ruang untuk lewat di kedua tepinya, sehingga pengunjung menyusuri seluruh pameran dengan memutarinya.

Awalnya saya kebingungan ketika dihadapkan dengan lukisan beliau. Bagaimanakah cara mengapresiasinya? Sepintas yang saya lihat seperti sekadar lukisan cat air yang dibubuhkan dengan jari-jemari. Sepertinya judul yang diberikan dapat membantu kita untuk memaknai lukisan. Mungkin kita juga memerlukan imajinasi untuk meresapinya.

Seperti ketika melihat lukisan "Merah putih selalu diayomi", bentol warna-warni yang mengepung merah-putih itu menyerupai kerumunan kepala orang. Warna-warni boleh jadi mewakili keberagaman mereka. Jadi, coba bayangkan kerumunan orang yang beraneka ragam berusaha mendekati kesatuan yang dilandasi oleh semangat merah darahku putih tulangku itu. Melihat dari judulnya yang mengandung kata "ayom", yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti "lindungi", maka seolah-olah kerumunan orang itu tengah melindungi merah dan putih yang mendominasi.

Namun, di lukisan selanjutnya yang berjudul "Merdeka buah darah dan air mata", kerumunan kepala orang berwarna-warni itu malah seperti yang mengoyak-ngoyak kesatuan merah-putih sehingga terpotong ke mana-mana, tidak lagi utuh. Yang tadinya tampak rapi di lukisan selanjutnya, kini menjadi semrawut. Padahal judulnya mengandung kata "merdeka". Masakkah, setelah mengerahkan darah dan air mata, yang berbuah kemerdekaan, jadinya yang tampak malah kesemrawutan?

Baru di lukisan menuju ujung, "Beragam dalam cahaya bulan", saya baru menyadari permainan warna. Saya terpukau oleh cahaya bulan merah dilatari hitam yang memengaruhi warna-warni di bawahnya. Walaupun bentol-bentol tersebut berwarna-warni, namun tidak asal warna-warni, melainkan warna-warni yang kemerahan akibat pantulan cahaya bulan merah di atasnya.

Saya pun melihat lagi lukisan-lukisan di sekitarnya, terutama "Tumbuh sendiri tak menunggu dikasihani" serta "Disapa gerhana matahari total". Rasanya saya mulai terpikat pada gambaran sesuatu yang berpendar menerangi kekelaman di sekitarnya.

Satu lagi yang menarik yaitu "Kurang kering berlimpah banjir". Walaupun judulnya mengesankan keadaan yang basah kuyup, namun lukisannya sendiri sepintas lalu menyerupai asap kemerahan yang mengepul padat ke angkasa, sedang warna hijau di sekitarnya seolah-olah melambangkan hutan yang terbakar. Kalau boleh dihubung-hubungkan, lukisan ini seolah-olah menunjukkan bahwa kebakaran hutan dapat berujung pada kelimpahan banjir akibat tidak adanya lagi tegakan yang menahan air. Judul yang melengkapi lukisan seolah-olah menyampaikan suatu siklus fenomena alam yang seharusnya menjadi peringatan bagi manusia supaya tidak terdampak oleh bencana.

Asalkan kita mau diam sejenak dan memerhatikan sembari berpikir--mengaitkan berbagai hal dengan bantuan imajinasi, ternyata banyak yang dapat timbul di benak kita sebagai bahan perenungan.

Di antara lukisan-lukisan di atas, manakah yang paling berkesan atau memantik pikiranmu?

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain