Minggu, 30 Agustus 2026

Jalan Damai Alam Bersama Gajah

Tim Penyusun Litbang Kompas
Penerbit Buku Kompas, 2021
ISBN 978-623-346-278-5 (PDF)
Tebal 50 halaman
Tersedia di iJogja

Buku ini terdiri dari lima artikel yang sebelumnya diterbitkan di harian Kompas. Kelima artikel tersebut mengenai upaya "berdamai" dengan gajah di Sumatra, mulai dari Taman Nasional Way Kambas sampai Leuser.

Di TN Way Kambas, warga desa penyangga membentuk pam swakarsa untuk menghalau gajah dari merusak ladang mereka. Tiap hari ada saja satu-dua kejadian konflik dengan gajah. Bantuan dari pemerintah, selain memberikan uang lelah untuk pam swakarsa dan membangun tanggul (yang gajah cukup pintar untuk melintasinya), juga memfasilitasi kegiatan ekonomi baru agar beralih dari pertanian dekat perbatasan dengan TN ke usaha kreatif. ("Ketika Warga 'Berdamai' dengan Gajah", Kompas, 4 November 2011)

Di Jambi, petani sawit baru mengetahui bahwa lahan mereka ternyata ruang jelajah gajah. Hampir tiap hari ada konflik. Pemerintah kabupaten tidak responsif. Warga dibantu LSM mendirikan pagar kawat tegangan rendah untuk mencegah gajah masuk. Kalau tegangannya tinggi, satwa bisa tewas. Akar konflik sebetulnya pembukaan hutan menjadi area transmigrasi tanpa didahului penelitian tentang keberadaan satwa liar setempat. ("Jalan Damai Masyarakat-Gajah", Kompas, 16 Desember 2011)

Di TN Gunung Leuser, Conservation Rescue Unit didirikan oleh Lembaga Fauna dan Flora Internasional bersama BKSDA Aceh pada 2008, untuk menanggulangi konflik antara gajah dan warga peladang, patroli terhadap pembalakan liar dan pemburuan ilegal, serta ekowisata. Sempat ada tentangan dari warga karena komunikasi antara dua pihak kurang baik. Namun, karena konflik dengan gajah menjadi-jadi, CRU diaktifkan lagi dengan pendekatan baru, dari sosialisasi teoretis ke ekowisata yang memadukan antara wisata dan edukasi. Perekonomian warga pun terangkat karena mereka bisa menjajakan dagangan. Ekowisata menjadi upaya mendekatkan gajah dengan manusia, serta membantu ekonomi warga sekitar agar mendukung pelestarian alam. ("Gajah dan Mahot Bersama Amankan Hutan", Kompas, 25 Maret 2015; "Bermain dan Menjaga Alam Bersama Gajah", Kompas, 7 September 2016)

Terdapat pula Forum Konservasi Leuser yang merupakan kelompok patroli hutan. Tugasnya yaitu membongkar jerat serta membujuk pemburu liar/pembalak ilegal agar berhenti. ("'Ranger'", Garda Depan Penjaga Leuser", Kompas, 31 Mei 2017)

Sabtu, 15 Agustus 2026

Ibnu Khaldun: Kehidupan dan Karyanya

Penulis : Muhammad Abdullah Enan
Penerjemah : Machnun Husein
Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya
Edisi Elektronik, 2019
ISBN 978-623-221-404-0 (PDF)

Buku terbitan Pustaka Jaya yang saya temukan di iPusnas ini, tidak ada gambar sampulnya ketika di-googling, sehingga saya potret saja :v 

Buku digital ini banyak tiponya, terutama pada nama-nama orang dan tempat. Dengan mengesampingkan kekurangan tersebut, secara keseluruhan, buku ini memberikan cukup gambaran mengenai ketokohan Ibnu Khaldun dan isi karyanya. 

Beliau hidup pada masa kejatuhan peradaban Islam. Wilayah Islam di Eropa sudah pada diambil kerajaan Kristen. Kendati banyak cendekiawan dan sastrawan--menandakan intelektualitas yang menjamur--politiknya tidak stabil. Dalam pemerintahan Islam sekalipun ada perebutan kekuasaan di sana-sini.

Beliau disebutkan sebagai pribadi yang ambisius, oportunistis, bahkan narsisistik. Namun, dikatakan, bahwa ini sifat-sifat yang wajar pada orang genius berprestasi hebat, yang seakan-akan tahu benar akan kapasitas dirinya dan ingin agar orang-orang mengetahuinya juga. Mungkin juga karena berasal dari keluarga tua yang terkenal, terpelajar, terhormat, beliau merasa berhak atas jabatan penting dalam kenegaraan hingga menjelang akhir hayatnya. 

Selama karier politiknya di Tunisia, beliau mengalami jatuh bangun, bahkan pernah dimasukkan ke penjara. Akibat gangguan-gangguan di negerinya, dengan dalih akan menunaikan ibadah haji, beliau pindah ke Kairo. Di sana karyanya sudah tenar. Beliau diamanahi jabatan, tapi karena pada dasarnya orang dari luar, banyak yang mendengki kepadanya.

Bagaimanapun, Ibnu Khaldun membuktikan kapasitasnya baik dalam kenegaraan maupun kecendekiawanan, antara lain dengan menghasilkan sejumlah karya tulis, salah satunya adalah Muqaddimah, yang sampai sekarang masih menjadi bahan kajian. Jadi beliau tidak sekadar mengamati, memikirkan, dan menuliskan, melainkan mengalami sendiri berbagai intrik politik dalam perannya sebagai pejabat negara itu.  

Kehidupan rumah tangganya tidak banyak diceritakan. Bagaimanapun, menyangkut keluarga, beliau mengalami dua tragedi besar. Yang pertama, banyak orang terdekatnya--termasuk kedua orang tua dan guru-gurunya--tewas akibat wabah dari Eropa. Yang kedua, istri dan anak-anaknya hendak menyusulnya ke Mesir, tapi tenggelam dalam perjalanan dengan kapal laut.

Lebih dari cerita kehidupan dan kepribadian Ibnu Khaldun, buku ini membahas isi karyanya yang terkemuka itu, Muqaddimah, menyajikan ringkasan beserta kritik terhadapnya. Yang membedakan Ibnu Khaldun dari sejarawan-sejarawan muslim pendahulunya adalah beliau tidak sekadar mencatat cerita-cerita masa lalu, tetapi juga menggunakan metode penjelasan dan penalaran yang baru. Refleksi dan kajiannya mendorongnya untuk membentuk sejenis filsafat sosial. Namun, karya ini tidak terlepas dari bias. Pertama, Ibnu Khaldun cenderung tunduk kepada penguasa, ada nafsu pribadi, sehingga ada keberpihakan. Kedua, Ibnu Khaldun termasuk ras Barbar yang dibesarkan dalam lingkungan Barbar, dan orang Barbar memandang bangsa Arab sebagai penjajah, sehingga karyanya ini mengandung sentimen berlebihan yang tidak sesuai dengan fakta terhadap bangsa Arab.

Bab 10, "ILMU POLITIK DAN LEMBAGA-LEMBAGA KERAJAAN SEBELUM IBNU KHALDUN", mempertanyakan apakah Ibnu Khaldun perintis Sosiologi, dengan meneliti karya-karya para pemikir muslim sebelumnya mengenai politik, kerajaan, dan kemasyarakatan, dan akhirnya dapat dikatakan bahwa beliau memang perintis bukan hanya dalam tradisi Islam melainkan juga selainnya. 

Berabad-abad lamanya Ibnu Khaldun sempat dilupakan, tidak ada yang meneruskan, hingga kemudian ditemukan, diangkat dan ditinggikan sebagai filsuf sosial dan sejarah oleh para pemikir Eropa. Pemikirannya mendahului para pemikir Eropa, salah satunya Machiavelli. Bab 13, "IBNU KHALDUN DAN MACHIAVELLI" secara khusus membandingkan kedua pemikir yang masing-masing asalnya dari Afrika Utara dan Italia itu, karena ada kemiripan, mulai dari pemikiran hingga keadaan politik semasa hidup mereka.

"APENDIKS: TINJAUAN BIOGRAFIK KARYA SEJARAH IBNU KHALDUN, KITAB AL'IBAR" menerangkan bagaimana karya Ibnu Khaldun ditemukan dan diterjemahkan ke bahasa-bahasa lain seperti Perancis, Turki, dan Jerman.

Senin, 03 Agustus 2026

Potongan Kompas, 19 Juni 1995



sales engineer
mesin
robot
baby face
first class hotel in jakarta
sales/public relations manager

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain