Sabtu, 13 Desember 2014

Kawan Datang

Kemarin Kawan datang
Kawanku dari kota
Dibawakannya klappertaart, bolen, dan kripik-krupuk segala rupa
Bercerita Kawan tentang ternaknya
Kucing persia semua

Padaku, Kawan berjanji
Mengajak libur di kota
Hatiku girang tidak terperi
Terbayang sudah aku di sana
Main di mal-mal, turun ke Twenty-one
Menggiring kucing ke kandang



dari bakal cerpen yang entah kapan digarap

Sabtu, 06 Desember 2014

Untuk mereka:

Nona Havisham, Nona Brill, Liz Lemon, protagonis dalam film Rentaneko dan cerpen-cerpen Lorrie Moore, Mayang dalam "Belajar Setia" (cerpen Benny Arnas di Media Indonesia, 20 Januari 2013), dan masih banyak lagi.

"Lover Man" - Billie Holiday



"Someone To Watch Over Me" - Ella Fitzgerald



"Misty" - Ella Fitzgerald



"Georgy Girl" - The Seekers



"Saving All My Love For You" - Whitney Houston



"Be OK" - Ingrid Michaelson

Selasa, 25 November 2014

ombang-ambing-ambang

pikiran-pikiran
seperti serpihan-serpihan
tahi yang mengambang
di septic tank

perasaan-perasaan
seperti atom-atom yang berloncatan
memicu ledakan

dua puluh tahun dari sekarang
kau akan duduk di balik instrumenmu
tak bercukur, tak ingat sedari kapan tidur
dilatari senja sekelam kini

sibuk mengatur jari-jari pada kedua belah tanganmu
mana yang membuat nada
mana yang membuat asap
katamu, biar sudah jadi musisi
dibayar mahal
tetap latih jemarimu
seakan pesan pula untukku
bahwa hidupmu dan hidupku akan sejalan beririsan
pemilik hati tak bertuan

Elza Soares menyambar-nyambar telinga
dalam "Mas Que Nada"
segar sangar menggelegar
dalam kepalamu dulu kau simpan piano bernama Bumblebee
kini sebuah stereo

sekonyong-konyong dicengkeram dadaku dari sebelah dalam
mataku dicengkam
diperas, dibikin genangan
batinku, Tuhan, kalau aku mesti punya alasan untuk hidup sampai dua puluh tahun lagi,
biarkan aku tumbuh bersamanya
sembari sosokmu samar-samar memudar
membawa rasa yang tak lagi bicara
senyaring dulu
sembari usapanku pada muka

selanjutnya "Keong Racun"
terngiang aransemennya dalam orkestra brass
Winamp tahu itu penghiburanmu
penghiburanku juga
tapi aku malu, kuganti saja

Senin, 24 November 2014

Hari Terakhir Science Film Festival 2014 di YPBB Urban Centre: Ditutup bersama Keluarga

Sabtu (22/11) menjadi hari keluarga sekaligus hari terakhir pemutaran film-film Science Film Festival (SFF) 2014 di YPBB Urban Centre. Ruang tengah Urban Centre dihidupkan oleh kehadiran para ibu, para ayah, anak-anak, kakak-kakak, juga kakek dan nenek. Beberapa orangtua semula berencana untuk menghadiri SFF di ITB. Namun ternyata jadwal pada hari Sabtu di ITB dibatalkan terkait dengan persiapan untuk Pasar Seni esok harinya. Walaupun audiensi tidak seramai hari sebelumnya, namun semua tetap bersukaria. Setiap anak mendapat kesempatan untuk mencoba eksperimen, bahkan para orangtua.

Pada sesi pertama, film yang diputar adalah My Dear Little Planet: The Ladybug and the Aphid, Chasing the Cardinal Direction, dan The Show with the Mouse: Synthetic Wood-Plastic.

Berkerumun menonton anak-anak mencoba eksperimen
Setelah pemutaran film, dilakukan beberapa eksperimen bagi anak-anak, yaitu Sedotan Bersiul dan Cincin Tolak-tolakan.

Karena ada beberapa peserta yang datang terlambat, maka diputarkan beberapa film lagi, yaitu Annedroids – New Pal dan I Got It! Windmill.

Setelahnya, diadakah diskusi singkat khususnya mengenai pelaksanaan SFF 2014. Beberapa peserta dewasa, baik orangtua maupun perwakilan dari beberapa sekolah, menyayangkan publikasi yang kurang meluas. Mereka baru mengetahui adanya acara pada hari-hari belakangan. Salah satu orangtua bahkan sampai mencari informasi langsung ke Goethe Institut. Pihak dari sekolah pun tidak sempat mengajak anak-anak didik mereka ke venue untuk menonton, padahal film-film yang diputarkan menurut mereka bagus untuk para pelajar. Selain itu, mereka juga mengusulkan agar pihak SFF melakukan kunjungan langsung ke sekolah-sekolah.

Pada sesi kedua, film yang diputar adalah Global Ideas: What is Your Personal CO2 Balance?, Password Green: A Recipe for Recycling Paper, My Dear Little Planet: The Magic Root, dan Nine-and-a-Half: A Life without Plastic.

Eksperimen-eksperimen yang dilakukan setelahnya berkaitan dengan balon, yaitu Balon Pemadam Api, Besar Versus Kecil, dan satu lagi yang belum pernah dilakukan pada hari-hari sebelumnya: Memasukkan Balon ke dalam Botol. Pada eksperimen yang baru ini, peserta diminta memasukkan balon berukuran kecil melalui mulut botol. Peserta pun mencobanya dengan berbagai cara, namun tidak ada yang berhasil. Relawan dari Goethe Institut selaku fasilitator pun menunjukkan caranya, yang sama sekali tidak diduga-duga.

Setelah eksperimen, beberapa peserta yang notabene orangtua berbagi pandangan mengenai film-film yang telah diputarkan. Salah satu peserta mengungkapkan bahwa sasaran SSF seharusnya bukan saja anak-anak, tapi juga orangtua. Sebabnya, orangtua merupakan motor dalam keluarga. Orangtua yang memberi fasilitas bagi anak untuk mengamalkan pesan-pesan yang disampaikan melalui film. Kalau hanya anak-anak yang menonton tanpa orangtua pun diberi penerangan, maka hasilnya bisa jadi percuma.

Relawan dari Goethe Institut menerangkan tantangan
eksperimen Kertas Pembebas Elixir pada para bapak
Acara diakhiri dengan tantangan dari relawan Goethe Institut pada para bapak-bapak untuk membuka tutup botol dengan menggunakan kertas. Tiap-tiap bapak diberi waktu satu menit untuk mencoba. Sayangnya, tidak ada yang berhasil.

Walaupun pergelaran SSF 2014 di YPBB Urban Centre dan ITB telah berakhir, namun di Bandung acara ini masih akan berlanjut di Institut Français Indonesia dari 24-28 November 2014. Film-film yang telah diputar pada SSF tahun ini kemungkinan tidak akan ditayangkan lagi pada SSF tahun mendatang. Jadi, silakan datang selagi ada kesempatan. Ikuti juga eksperimennya, siapa tahu mendapat hadiah menarik.[]

Sampai jumpa di SSF tahun depan!

Kontak Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB)
Alamat Jl.Sidomulyo No. 21 Bandung 40123 |Phone | 022-2506369-082218731619 |Email |ypbb@ypbb.or.id Facebook YPBB Bandung |Twitter @ypbbbdg |Yahoo Messenger ypbb_humas |

Minggu, 23 November 2014

Rapel Peserta Science Film Festival 2014 di YPBB Urban Centre

YPBB Urban Centre kebanjiran anak-anak pada hari kelima pemutaran film-film Science Film Festival 2014 (21/11), mulai dari anak TK, anak SMP, sampai anak SMA. Keramaian khususnya terjadi pada sesi pertama, sehingga acara dibagi menjadi tiga sif. Tampaknya Jumat merupakan hari yang kondusif bagi sekolah untuk melakukan kunjungan dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Rombongan pertama dari TK Siti Khadijah datang sekitar setengah jam lebih awal dari jadwal sesi I yang pukul 10 WIB. Mereka hanya sempat menonton dua film, yaitu My Dear Little Planet: The Magic Root dan Annedroids – New Pal, karena rombongan berikutnya dari TK Al-Biruni sudah datang sementara kapasitas ruangan terbatas. Di samping itu ada pula pengunjung yang datang sekeluarga. Rombongan dari TK Siti Khadijah yang berjumlah sekitar 20-an anak beserta tiga guru pendamping pun melanjutkan kegiatan mereka di luar dengan oleh-oleh sekotak susu dari HiLo.

Ramainya anak-anak yang ingin mencoba eksperimen
Tidak lama setelah film untuk rombongan dari TK Al-Biruni diputarkan, datang lagi rombongan dari SMP Labschool UPI. Maka sekitar 70-an orang pun berjejalan dalam ruangan seluas kurang lebih 3,5 m x 10 m, menonton Password Green: A Recipe for Recycling Paper, My Dear Little Planet: The Ladybug and the Aphid, dan Cartoon Away. Pemutaran film dilanjutkan dengan eksperimen untuk anak-anak TK, yaitu Cincin Tolak-tolakan. Sebanyak 50-an orang anak beserta beberapa orang dewasa yang mendampingi berkerumun di tengah ruangan, menonton tiga orang perwakilan dari mereka melakukan eksperimen.

Bersama anak-anak SMP Labschool UPI yang seru-seru
Sementara itu rombongan dari SMP Labschool UPI menunggu hingga selesainya acara untuk rombongan dari TK. Setelah ruangan lengang, film kembali diputarkan diselingi dengan eksperimen yang terkait. Film pertama, yaitu, Global Ideas: What is Your Personal CO2 Balance? terkait dengan eksperimen Balon Pemadam Api. Peserta ditantang untuk menggembungkan balon di dalam botol dengan udara dari mulut. Lalu dengan CO2 di dalam botol mereka harus memadamkan api lilin. Setelah jeda Jumatan, film yang diputar yaitu Nine-and-a-Half: A Life without Plastic. Film yang menceritakan tentang percobaan untuk hidup tanpa plastik ini disambung dengan eksperimen Kertas Pembebas Elixir. Peserta diminta untuk membuka tutup botol menggunakan kertas. Kali ini meski jumlah peserta telah menyusut namun ruangan tetap meriah karena beberapa siswa yang senang melucu.

Sesi II diisi dengan kedatangan belasan siswi dari SMA Muhammadiyah I. Mereka menonton film Supercomputers, I Got It! Windmill, dan The Show with the Mouse: Synthetic Wood-Plastic. Eksperimen yang dilakukan yaitu Besar Versus Kecil dan Sedotan Bersiul. Besar Versus Kecil yang menggunakan dua balon berukuran besar dan kecil serta keran berhubungan dengan film Windmill dalam hal tekanan udara yang dikaitkan dengan elastisitas balon. Peserta diminta menebak ke mana aliran udara dari kedua balon akan berpindah ketika keran dibuka. Adapun Synthetic Wood-Plastic yang memperlihatkan proses pembuatan suling dari limbah pabrik kayu bersambungan dengan eksperimen Sedotan Bersiul dalam hal pembuatan suling dari bahan yang mudah diperoleh, yaitu sedotan, gunting, dan segelas air.[]   



Kontak Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB)
Alamat Jl.Sidomulyo No. 21 Bandung 40123 |Phone | 022-2506369-082218731619 |Email |ypbb@ypbb.or.id Facebook YPBB Bandung |Twitter @ypbbbdg |Yahoo Messenger ypbb_humas |

Jumat, 21 November 2014

Ketika Sangat Sepi

Nyaris tidak ada penonton pada hari keempat (20/11) Science Film Festival (SFF) 2014 di YPBB Urban Centre. Pemutaran film hanya dilakukan pada satu sesi, setelah ada dua pengunjung dari Earth Hour yang datang pada sekitar pukul setengah sebelas.

Film-film yang diputarkan, yaitu Global Ideas: What is Your Personal CO2 Balance?, The Show with the Mouse: Synthetic Wood-Plastic, My Dear Little Planet: The Ladybug and the Aphid, dan Supercomputers.

What is Your Personal CO2 Balance? menerangkan tentang banyaknya emisi karbon yang dihasilkan dari industri makanan dan penduduk negara-negara maju. Karena itulah pengeluaran karbon perlu dibatasi untuk mengurangi pemanasan global.

Synthetic Wood-Plastic menunjukkan proses pembuatan plastik dari kayu, atau tepatnya serbuk dan serpihan hasil limbah pabrik kayu. Film ini juga memperlihatkan proses pembuatan suling baik dari kayu maupun plastik-kayu tersebut.

The Ladybug and the Aphid merupakan film animasi Prancis, menceritakan kunjungan Gaston dan Colline ke sebuah kebun yang diganggu oleh banyak kutu daun. Colline mencoba mengusir kutu-kutu daun dengan insektisida namun hama tersebut menjadi kebal, adapun kepik sebagai pemangsa alaminya malah mati.

Supercomputers menjelaskan tentang teknologi canggih pada masa depan untuk memecahkan masalah-masalah berat, yaitu komputer super. Teknologi ini menggunakan banyak komputer yang super cepat dan dikendalikan sebagai sebuah mesin tunggal.

Setelah pemutaran film, berlangsung diskusi seputar film dan lingkungan hidup.

Dari The Ladybug and The Aphid, Kang Arief dari YPBB menarik kesimpulan bahwa kita harus memperhatikan keseimbangan alam. Sebenarnya cara kerja alam merupakan teknologi yang tidak tertandingi. Namun manusia lebih suka mengambil jalan pintas untuk memecahkan masalah lingkungan yang malah menimbulkan masalah baru.

Selain itu, menurut Teh Reni dari YPBB, sebenarnya masih banyak potensi alam dan kearifan lokal yang belum digali. Itu bisa disebarkan pada masyarakat modern di perkotaan sebagai gaya hidup alternatif yang ramah lingkungan.

Menurut Ibu Sulastri dari Goethe Institut, hal itu agak sulit di perkotaan karena tersedia banyak teknologi yang menyaingi. Pada akhirnya kembali pada diri masing-masing untuk konsisten menjalankan prinsip, misalnya menggunakan transportasi umum alih-alih kendaraan pribadi yang bermotor, membawa tas kain saat berbelanja sebagai pengganti plastik, memilah sampah dari rumah, dan seterusnya. Beliau mencontohkan Ballarat, desa wisata di Australia yang melestarikan gaya hidup zaman dulu sehingga lebih ramah lingkungan. Berbeda dengan Kampung Naga di Indonesia yang berdasarkan adat, Ballarat sengaja dibuat untuk dijadikan objek wisata.

Acara dihidupkan dengan bincang-bincang dan eksperimen
Forum juga membicarakan kesadaran masyarakat yang masih kurang, misalnya dalam menggunakan air kemasan dan plastik. Di luar negeri air kemasan dan plastik dijual dengan harga yang relatif mahal, sehingga orang akan berpikir dua kali untuk menggunakannya dan lebih baik membawa sendiri dari rumah. Adapun di Indonesia air kemasan dan plastik dapat diperoleh dengan murah, orang pun menjadi boros dalam menggunakannya. Jadi sebetulnya, menanamkan gaya hidup ramah lingkungan pada masyarakat tidak lepas dari pendekatan ekonomi.

Sungguhpun begitu, peserta dari Earth Hour mengungkapkan bahwa ada sebuah SMA di Bandung yang sudah mengimbau siswanya agar membawa botol minum sendiri dan menyediakan galon untuk isi ulang. Earth Hour juga pernah mengadakan program edukasi untuk mengubah kaos bekas menjadi tas belanja pengganti plastik. Selain itu, beberapa tempat perbelanjaan telah menggunakan kantong plastik dari tapioka sehingga mudah hancur.

Teh Anil dari YPBB menerangkan bahwa bahan campuran dalam plastik itu sebetulnya bukan tapioka melainkan oksium dan kadarnya hanya nol koma sekian persen. Tujuannya memang agar plastik cepat hancur, namun bentuk terurainya yang berupa kepingan-kepingan tetap tidak dapat kembali menjadi tanah. Malah plastik menjadi cepat sobek. Pemakaiannya pun semakin boros. Plastik yang tidak ditambahi zat apa-apa justru lebih kuat dan awet digunakan.

Memang masyarakat kita terbiasa menginginkan yang serba praktis tanpa memikirkan dampaknya terhadap lingkungan. Meski demikian, dengan sikap yang konsisten, kita dapat menunjukkan pada orang lain bahwa menerapkan gaya hidup ramah lingkungan bisa dilakukan.

Sebelum ditutup, ada eksperimen Besar Versus Kecil dari relawan Goethe Institute. Dua balon yang masing-masing berukuran besar dan kecil dihubungkan dengan keran tertutup. Apabila keran dibuka, hadirin diminta menebak di antara tiga pilihan: balon besar menjadi kecil sementara balon kecil menjadi besar; kedua balon menjadi sama besar; atau balon besar menjadi tambah besar sedangkan balon kecil menjadi tambah kecil. Kuncinya bukan saja pada tekanan udara, tapi juga berhubungan dengan elastisitas balon.

Pemutaran film-film SFF 2014 di YPBB Urban Centre, Jalan Sidomulyo 21, Bandung, masih akan diselenggarakan hingga 22 November 2014 pada pukul 10-12.00 (sesi 1) dan 13-15.00 (sesi 2) WIB. Film-film tersebut ditayangkan khusus hanya selama berlangsungnya SFF 2014, dan tidak akan diputar lagi pada kesempatan lain. Acara ini gratis dan tersedia hadiah menarik bagi yang berpartisipasi dalam eksperimen. Silakan datang dan ajak teman sebanyak-banyaknya.[] 



Kontak Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB)
Alamat Jl.Sidomulyo No. 21 Bandung 40123 |Phone | 022-2506369-082218731619 |Email |ypbb@ypbb.or.id Facebook YPBB Bandung |Twitter @ypbbbdg |Yahoo Messenger ypbb_humas |

Rabu, 19 November 2014

Macam-macam Pemanfaatan Kertas di Science Film Festival 2014, YPBB Bandung


Buka tutup botol pakai kertas? Emang bisa?

Ternyata kertas bekas bisa dimanfaatkan untuk membuka tutup botol lo. Teman-teman yang hadir dalam acara Science Film Festival (SFF) 2014 di YPBB Urban Centre hari Rabu (19/11) berhasil membuktikannya saat sesi eksperimen. Caranya gampang-gampang sulit. Lipat kertas hingga menjadi kaku dan keras, lalu gunakan prinsip tuas untuk mengungkit tutup botol hingga terlepas. Memang membutuhkan tenaga yang kuat dan kehati-hatian supaya tidak tergores tepian tutup botol yang bergerigi tajam. 

Manfaat lain dari kertas berkas ditunjukkan melalui salah satu film yang diputar dalam acara ini, yaitu Password Green: A Recipe for Recycling Paper. Film produksi Chile ini menceritakan tentang aktivitas Sergio dan teman-temannya saat mendaur ulang kertas untuk dijadikan kartu ucapan selamat datang bagi para murid baru. Caranya juga mudah saja kok. Kertas bekas dipotong-potong, lalu dihancurkan dalam blender bersama banyak air. Setelahnya, celupkan saringan berbingkai pada bubur kertas tersebut lalu alasi dengan kain. Gunakan spons untuk menyerap kelebihan air. Bubur kertas akan merata pada permukaan kain alas. Kain itu lalu dijemur hingga bubur kertas yang menempel padanya mengering dan siap digunakan sebagai kertas. Tinggal dihias deh. Kertas daur ulang ini juga bisa dijadikan poster, ijazah, dan sebagainya.

Selain pemanfaatan kertas bekas, dalam acara ini kita juga dapat belajar banyak hal lagi melalui film-film dan eksperimen lainnya yang disuguhkan oleh kakak-kakak relawan dari Goethe Institute.

Dalam Hassani and His Whale Sharks, misalnya, kita dapat belajar mengenai konservasi hewan. Film produksi Jerman ini menceritakan tentang Hassani, bocah dari Pulau Mafia, Tanzania, yang memiliki kepedulian sangat tinggi terhadap ikan hiu paus. Ikan hiu paus rentan terluka oleh jala yang dilemparkan nelayan setempat. Hassani sampai mengunjungi Kementerian Perikanan dan mengusulkan pada pihak yang berwenang supaya jala dilemparkan pada waktu tertentu saja, sehingga pada waktu selebihnya ikan hiu paus dapat berkeliaran dengan bebas. Ia juga berbicara pada nelayan dan teman-teman sebayanya mengenai pentingnya menjaga kelangsungan hidup ikan hiu paus di lautan. Film ini juga menampilkan kehidupan sehari-hari Hassani yang relatif sulit sejak ayahnya meninggal. Sungguhpun demikian, ia tetap ceria dan berperhatian pada lingkungan sekitarnya.

Dalam My Dear Little Planet: The Magic Root, kita belajar bahwa tumbuhan tertentu dapat dimanfaatkan sebagai obat. Film animasi dari Prancis ini menceritakan tentang Zina, seekor laba-laba, yang sedang sakit. Teman manusianya, Gaston dan Colline, berusaha menolongnya dengan meminta bantuan seekor burung hantu. Secara ajaib mereka mengerut dan menunggangi burung hantu tersebut, lalu berkelana mencari sebuah tumbuhan langka yang tumbuh di air. Dibutuhkan sedikit saja bagian dari tumbuhan itu untuk mengobati Zina. “Hei, hati-hati, jangan diambil semuanya. Sejumput akar cukup, sayangku. Dengan begitu tumbuhan itu bisa hidup terus,” demikian kata si burung hantu. Maka secara tidak langsung kita dipahamkan juga untuk mengambil secukupnya saja dari alam supaya kelestariannya terjaga.

Potong sedotannya biar makin nyaring bunyinya!
Adapun pada eksperimen lainnya, kita diajari cara membuat terompet sendiri dari sedotan. Tinggal ambil gunting, lalu potong sedotan membentuk V pipih di salah satu ujungnya dan tiup bagian tersebut sampai terdengar suara yang diinginkan. Kita dapat mengatur tinggi-rendahnya nada berdasarkan panjang-pendeknya potongan sedotan. Semakin pendek sedotan, semakin tinggi bunyinya. Menurut kakak relawan, saat acara pembukaan SFF 2014 pada 13 November lalu ada pertunjukan musik dengan menggunakan potongan sedotan ini lo. Sayangnya, kakak relawan tidak ingat berapa senti masing-masingnya untuk dapat menghasilkan nada tertentu—do, re, mi, fa, dan seterusnya. Kalau ingin mengeraskan bunyi terompet, kita tinggal menambahkan corong dari kertas. (Nah, satu lagi nih bentuk pemanfaatan dari kertas bekas!) Dengan begini, kita bisa memeriahkan tahun baru dengan hasil prakarya sendiri. Asyik, kan. Apalagi tahun baru kurang dari dua bulan lagi. Tinggal siapkan saja sedotan, gunting, kertas bekas, dan hiasan lainnya.

Mumpung pergelaran SFF 2014 masih akan berlangsung sampai akhir November, jangan sia-siakan kesempatan untuk belajar sains secara cuma-cuma ini. Apalagi tersedia hadiah menarik bagi peserta yang berpartisipasi dalam eksperimen. Silakan datang ke tempat penayangan yang terdekat di kotamu. (Ssst, di YPBB Urban Centre dan ITB masih tersedia banyak tempat! Cuma sampai 22 November lo.)[]



Kontak Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB)
Alamat Jl.Sidomulyo No. 21 Bandung 40123 |Phone | 022-2506369-082218731619 |Email |ypbb@ypbb.or.id Facebook YPBB Bandung |Twitter @ypbbbdg |Yahoo Messenger ypbb_humas |

Selasa, 18 November 2014

Sedikit Tetap Asyik

Jumlah peserta merosot pada hari kedua pemutaran film-film SFF 2014 di YPBB Urban Centre (18/11). Kondisi ini rupanya juga terjadi di ITB pada sore sebelumnya. Di ITB pemutaran film dijadwalkan hanya pada waktu sore, dan pada hari pertama,(17/11), nyaris tidak ada yang menonton selain panitia setempat. Padahal di daerah-daerah lain di Indonesia, jumlah peserta dapat mencapai ribuan. Demikian cerita dari kakak-kakak relawan Goethe Institut. Hal ini kiranya dikarenakan publikasi yang mendadak dan kurang efektif. “Sayang, padahal filmnya bagus-bagus,” kata Ibu Phebe yang menemani ketiga anaknya pada pergelaran kali ini.

Sebelum acara dimulai, yel-yel dulu!
Sungguhpun begitu, minimnya jumlah peserta tidak menyurutkan niat kakak-kakak relawan dari Goethe Institut dan YPBB untuk tetap melangsungkan acara—kendati terlambat kurang-lebih setengah jam dari yang dijadwalkan untuk setiap sesi. Keuntungannya, hampir pada setiap eksperimen setiap anak mendapat kesempatan untuk mencoba. Perhatiannya pun lebih intensif. Antusiasme peserta saat mencoba berbagai eksperimen membuat suasana tetap asyik.

Ada film apa saja?

Film yang diputar pada sesi pertama adalah The Show with the Mouse: Children Imagine the Future dan Annedroids – New Pals.

Children Imagine the Future memvisualisasikan imajinasi anak-anak akan masa depan. Menurut suara anak-anak dalam film ini, pada masa depan orang mungkin bisa membuat elevator yang bisa digunakan untuk ke luar angkasa, bisa diciutkan dan dimasukkan dalam saku. Orang-orang sangat gemuk karena tidak lagi bergerak. Mereka menggunakan komputer dan punya lebih banyak jari yang lincah—satu-satunya yang lincah dari diri mereka. Komputer pada masa itu tidak seperti komputer biasa melainkan berbentuk laptop yang bisa dilipat seperti kertas dan dimasukkan dalam saku. Pintu tidak lagi ada, digantikan oleh semacam pipa yang menghubungkan antar bangunan. Dengan menekan titik pada layar, secara otomatis orang dapat berpindah melalui pipa itu. Ada orang yang akan mengumpulkan apapun yang masih dimiliki manusia bumi dan memindahkannya ke planet lain dengan roket raksasa. Bumi menjadi seperdelapan lebih kecil. Tidak ada apa-apa lagi di sana. Hanya ada satu suku yang hidup di sana di satu titik dan mencoba membangun lagi segalanya, bumi yang baru. Mereka tidak ingin apapun yang berlebihan, hanya menanam yang diperlukan.

Annedroids – New Pals berdurasi relatif panjang dibandingkan film-film lainnya yang diputar pada SFF 2014 ini, yaitu hampir tiga puluh menit. Annedroids sebenarnya serial dari Kanada dan yang diputar pada acara ini adalah episode pertamanya, yaitu “New Pals”. Ceritanya tentang Nick yang pindah ke suatu lingkungan baru bersama ibunya. Ia kemudian berteman dengan Shania, gadis kocak yang doyan merancang gerakan senam. Saat tengah menunjukkan improvisasi terbarunya—Macan Api—Shania secara tidak sengaja melontarkan pita senamnya ke balik sebuah lahan yang tertutup rapat oleh pagar seng. Nick pun hendak membantu Shania mengambilkan pita tersebut, namun malah bertemu robot—android!—yang sangat besar dan mengerikan. Rupanya android itu diciptakan oleh seorang gadis jenius bernama Anne. Ternyata robot dan android itu berbeda lo. Android dapat bertingkah selayaknya makhluk bernyawa—katakanlah hewan dan manusia. Nah, Anne ingin menciptakan android baru yang bentuknya menyerupai manusia, namun tidak tahu cara menghidupkannya. Nick dan Shania pun berinisiatif membantu Anne. Bagaimana caranya? Mending tonton sendiri deh! Banyak pengetahuan lain mengenai sains yang kita bisa dapatkan melalui film yang seru sekaligus lucu ini.

Pada sesi kedua, film yang diputar adalah Energy Saving, Chasing the Cardinal Direction, Nine-and-a-Half: A Life without Plastic, dan My Dear Little Planet: The Ladybug and the Aphid.

Energy Saving merupakan film produksi Jerman berdurasi dua menit, dari director yang sama dengan Children Imagine the Future. Sajiannya pun mirip, yaitu menyuarakan imajinasi anak-anak akan suatu topik disertai animasi stop-motion yang menarik. Topik yang diangkat dalam film kali ini adalah penghematan energi.

Chasing the Cardinal Direction berbagi tips menentukan arah mata angin selagi di perjalanan, baik dengan secara konvensional maupun moderen. Uniknya film ini merupakan produksi dalam negeri sehingga dapat terasa kedekatannya dengan kita. Selain itu, pembawaannya pun agak mirip dengan Dora the Explorer. Tokoh dalam film seakan-akan dapat mendengar penjelasan yang sedang dibicarakan oleh narator dan meresponsnya dengan lugu.

A Life without Plastic menceritakan eksperimen yang dilakukan Johannes, pemuda asal Jerman, untuk hidup tanpa plastik. Banyak sekali barang yang kita gunakan sehari-hari yang terbuat dari atau mengandung plastik. Padahal plastik bisa membawa dampak yang buruk bagi kehidupan manusia. Meskipun begitu, apakah semudah itu meninggalkan plastik sama sekali?

The Ladybug and the Aphid merupakan film animasi dari Prancis. Ceritanya tentang Gaston dan Colline yang mencoba menyingkirkan kutu-kutu daun dari kebun dengan insektisida. Namun rupanya insektisida turut membuat kepik-kepik mati. Padahal kepik adalah pemangsa alami kutu daun. Dari film ini kita dapat belajar mengenai keseimbangan alam.

Ada eksperimen baru lo

Kakak relawan menjelaskan rahasia sains di balik
eksperimen Besar Versus Kecil
Eksperimen baru yang dikenalkan oleh kakak-kakak relawan pada kesempatan kali ini yaitu Besar Versus Kecil. Mula-mula kakak relawan meniup dua buah balon. Satu balon dibikin besar, satu lagi kecil. Kedua balon itu kemudian disambung dengan keran yang berada dalam keadaan tertutup. Kakak relawan lalu meminta peserta menebak. Jika keran yang menghubungkan kedua balon tersebut dibuka, kemungkinan manakah yang bakal terjadi? Akankah balon yang besar semakin besar sementara yang kecil semakin kecil? Akankah balon yang besar menjadi kecil sementara yang kecil menjadi besar? Akankah besar keduanya justru menjadi sama? Kira-kira yang mana, ya?

Yang (+) dari YPBB

Pak David menjelaskan cara menggunakan
timbangan elektrik di toko organis
Singgah di YPBB tidak lengkap tanpa melihat-lihat contoh gaya hidup organis. Maka sehabis menonton film dan melakukan eksperimen, peserta dibawa berjalan-jalan ke samping dan luar Urban Centre. Kali ini para peserta juga dijelaskan mengenai toko organis dan bor biopori. Di toko organis kita dapat membeli camilan kiloan lalu menyimpannya wadah sendiri. Cara ini lebih ramah lingkungan ketimbang membeli camilan dalam kemasan. Di toko ini juga kita belajar jujur karena camilan boleh diambil dan ditimbang sendiri, lalu kita mencatatnya di lembar yang tersedia dan meninggalkan uang sejumlah yang diperlukan. Peserta juga dapat mencoba menggali lubang dengan bor biopori di halaman Urban Centre yang cukup leluasa. Lubang biopori selain sebagai penyerap kelebihan air juga dapat dimanfaatkan untuk membuat kompos. 

Pemutaran film-film SFF 2014 di YPBB Urban Centre masih akan berlangsung empat hari lagi hingga 22 November 2014 pada pukul 10-12.00 dan 13-15.00 WIB. Setelah SFF 2014 berlalu, film-film tersebut tidak boleh dipertontonkan lagi. Menonton parade film sains yang tidak ditayangkan secara bebas, mencoba berbagai eksperimen, sekalian belajar gaya hidup organis—kenapa tidak?[]



Kontak Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB)
Alamat Jl.Sidomulyo No. 21 Bandung 40123 |Phone | 022-2506369-082218731619 |Email |ypbb@ypbb.or.id Facebook YPBB Bandung |Twitter @ypbbbdg |Yahoo Messenger ypbb_humas |

Senin, 17 November 2014

Science Film Festival 2014 (+): Perdana di YPBB Bandung

Untuk kesepuluh kalinya Science Film Festival (SFF) diselenggarakan di dunia, kelima kalinya di Indonesia, dan pertama kalinya di Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) Urban Centre, Bandung.

Science Film Festival merupakan salah satu program Goethe Institut selaku pusat kebudayaan Jerman untuk mengenalkan budaya ilmiah ke seluruh dunia. Sasarannya terutama pelajar muda, sehingga mereka tertarik pada sains dan teknologi dan mengarahkan pilihan karier pada bidang tersebut. Di Indonesia festival ini akan dilangsungkan pada 13-28 November 2014 di 37 kota. Di Bandung pemutaran film-film festival diadakan pada 17-22 November 2014 di YPBB Urban Centre dan Institut Teknologi Bandung (ITB) serta pada 24-28 November 2014 di Institut Français Indonesia (IFI).

Film-film dalam festival ini diproduksi oleh berbagai negara, sebut saja Jerman, Prancis, Brazil. Chili, bahkan Filipina dan Indonesia, dan dibuat khusus dengan tema tertentu. Untuk tahun 2014, temanya adalah Teknologi Masa Depan. Durasi tiap-tiap film pendek saja, bahkan ada yang cuma dua menit. Film-film yang terkumpul lalu diseleksi oleh juri regional untuk keperluan pemutaran di negara masing-masing. Komposisi juri bukan saja profesional dalam perfilman, tapi ada juga yang pelajar SD dan SMA. Film-film itu lalu dialihsuarakan sehingga dapat dimengerti oleh masyarakat setempat. Di Indonesia terpilih total 15 film yang akan diputar secara bergantian dan berulang di masing-masing tempat penayangan. Sayangnya, film-film ini tidak diperjualbelikan kepada umum. Film-film yang telah diputar pada festival sebelumnya tidak boleh dipertunjukkan lagi, begitupun film-film pada festival tahun ini tidak akan dapat dipertontonkan lagi pada kesempatan lain. Karena itu, jangan sampai ketinggalan deh!

Selain itu, di SFF kita tidak cuma menonton. Setelah pemutaran film, ada kakak-kakak relawan dari Goethe Institut yang akan mengajak peserta untuk bereksperimen sederhana. Bagi yang telah berpartisipasi, ada hadiah menarik yang akan diberikan.

Hari pertama Science Film Festival 2014 di YPBB Urban Centre

Di YPBB Urban Centre yang berlokasi di Jalan Sidomulyo 21, Bandung, pemutaran film dilakukan dalam dua sesi yaitu pukul 10-12.00 dan 13-15.00 WIB.

Pada hari pertama pemutaran (17/11), acara dibuka dengan sambutan dari Kang Entis dan Bapak David dari YPBB serta Ibu Sulastri dari Goethe Institut.

Peserta kebanyakan anak-anak setingkat sekolah dasar dan balita. Sebagian didampingi orangtuanya. Ada yang bersekolah di rumah (homeschooling) sehingga bisa datang pada sesi pertama, banyak juga yang dari sekolah umum sehingga baru datang setelah siang dan akibatnya suasana Urban Centre pun menjadi meriah.

Kakak-kakak relawan diajari yel-yel dalam bahasa sunda:
"Abdi resep, anjeun resep, sadayana resep!"
Sebelum pemutaran film, terlebih dulu peserta diajari yel-yel dengan gerakan tangan yang mudah sekali diikuti: “Science Film Festival Indonesia 2014, saya suka, kamu suka, semua suka!” Selain itu, ada suguhan gratis dari HiLo bagi peserta.

Sesi pertama

Pada sesi pertama, ada empat film yang diputar, yaitu The Show with the Mouse: Synthetic Wood-Plastic, I Got it! Windmills, Chasing the Cardinal Direction, dan Cartoon Away.

The Show with the Mouse: Synthetic Wood-Plastic menunjukkan bagaimana pabrik di Jerman membuat plastik dari limbah kayu. Plastik itu kemudian dijadikan suling. Bunyinya ternyata berbeda dari suling yang dibuat dari kayu betulan.

I Got it! Windmills merupakan film produksi Filipina yang menjelaskan mengenai kincir angin. Aktor pemainnya bertingkah sangat kocak, sampai-sampai yang menonton pun mesem-mesem.

Kita boleh bangga dalam festival bertaraf internasional ini ada film produksi dalam negeri yang turut diputar, yaitu Chasing the Cardinal Direction alias Mengejar Mata Angin. Film ini memberi kita berbagai tips untuk mengetahui arah mata angin saat berada di perjalanan. Kadang tips yang diberikan terasa lucu, semisal bertanya pada orang di jalan, memerhatikan arah kuburan, mencari masjid dan menemukan kiblatnya, sampai menyetel GPS di smartphone karena toh kini kita hidup pada era teknologi. Tapi ada juga cara-cara yang natural, semisal memerhatikan matahari yang terbitnya di di timur dan terbenamnya di barat, atau letak lumut pada pohon yang pertumbuhannya mengarah ke terbitnya matahari.

Film selanjutnya dari Brazil dan berjudul Cartoon Away tidak kalah lucu, menceritakan tentang karakter animasi yang bandel dan tidak mau diam di kertas. Penonton pun terus mesem-mesem.

Eksperimen yang dilakukan kemudian masih berhubungan dengan film-film yang sebelumnya ditonton. Terlebih dulu kakak-kakak relawan menunjukkan cara kerja eksperimen, lalu mempersilakan adik-adik peserta mencobanya. Barangsiapa yang berhasil menyelesaikan tantangan lebih cepat daripada yang lainnya, ialah pemenangnya.

Padamkan saja apinya, biar dapat hadiah
menarik dari kakak relawan, hihihi
Eksperimen pertama dinamakan Balon Pemadam Api. Peserta diminta memilih botol yang telah ditutupi balon kempes. Ada botol yang besar, ada yang kecil dan telah dilubangi. Peserta lalu diminta menggembungkan balon pada botol itu bagaimanapun caranya. Lalu bagaimanapun caranya juga, peserta harus memadamkan api pada lilin di depannya dengan udara dari balon hasil tiupan itu. Nah, manakah di antara kedua botol itu yang dapat digunakan untuk memadamkan api?

Tiup sedotannya sampai bunyi!
Adapun pada eksperimen kedua, yaitu Sedotan Bersiul, peserta disediakan sedotan, gunting, dan segelas air. Bagian tengah sedotan digunting sebagian, tapi jangan sampai terpotong. Tekuk bagian yang hampir terpotong itu, masukkan ke dalam air, lalu tiup sampai terdengar bunyi siulan. Kok bisa, ya?

Jawabannya dapat diterangkan dengan sains!

Sesi kedua

Pada sesi kali ini, film yang diputar, yaitu Global Ideas: What is Your Personal CO2 Balance?, The Show with the Mouse: Children Imagine the Future, Nine-and-a-Half: A Life without Plastic, serta Quark!

Kedua film yang pertama, kendati berdurasi singkat saja—masing-masing tidak lebih dari lima menit—tampaknya membuat sebagian besar peserta yang notabene anak-anak terpukau, sebab disajikan dengan teknik animasi dan visual yang beragam. Film pertama memberitahu tentang berapa sedikitnya emisi karbon yang dapat  dihasilkan seorang manusia agar bumi terjaga dari kerusakan. Adapun film kedua berisi imaji-imaji mengenai kemungkinan kecanggihan teknologi pada masa depan.

Film ketiga menunjukkan bagaimana Johannes, seorang pemuda dari Jerman, berusaha hidup tanpa plastik. Dimulai dengan menyingkirkan benda apapun yang terbuat dari plastik dari dalam kamarnya, termasuk sikat gigi, koleksi CD dan DVD, pakaian yang mengandung poliester, alat-alat kebersihan, sampai laptop dan ponsel. Kamarnya pun menjadi nyaris kosong-melompong. Setelah itu, ia pergi berbelanja makanan dan minuman apapun yang kemasannya tidak terbuat dari plastik. Tidak banyak. Makan malamnya hanya roti kering dilapisi mentega, ditambah pisang. Susu tidak jadi diminumnya karena rupanya pelapisnya saja yang terbuat dari kertas, kemasan di baliknya tetap plastik. Ia juga mencari beberapa perabotan di berbagai toko, mulai dari alat-alat kebersihan sampai sikat gigi. Kesimpulannya, hidup tanpa plastik tidak mudah dan lebih mahal. Padahal selama ini pembuatan plastik—seperti dikatakan Bapak David sewaktu akhir sesi pertama—telah menghabiskan banyak sekali energi yang tidak dapat diperbarui, yaitu minyak bumi. Coba bayangkan bagaimana jadinya bila kita terus-menerus melestarikan penggunaan plastik, dan tidak ada lagi minyak bumi yang tersisa untuk keturunan kita? Selain itu, plastik tidak selalu berdampak positif bagi kehidupan manusia karena sulit terurai dan lain-lain. Johannes juga mengajak kita untuk memikirkan barang alternatif apalagi yang kira-kira bisa digunakan untuk menggantikan fungsi plastik.

Film terakhir sangat imajinatif. Bayangkan ada seorang anak yang dapat membesar hingga melampaui jagat raya. Teman-temannya menyuruhnya agar terus membesar dan membesar hingga mereka dapat meneliti partikel di kakinya. Kejadian ini jelaslah menghebohkan umat manusia, maka mereka bergembira saat anak itu menyusut kembali. Lucu.

Peserta yang jumlahnya berlipat dibandingkan pada sesi pertama tampaknya ketagihan menonton film. Namun mereka juga antusias dengan eksperimen. Kakak relawan sampai menyuruh mereka mengacung cepat-cepat, lalu memilih tiga saja di antaranya.

Eksperimen yang diberikan mula-mula Balon Meraung dan Cincin Tolak-tolakan.

Putar-putar balonnya, tapi tidak perlu sampai dijilat,
apalagi dicelupin!
Pada Balon Meraung, peserta diminta memilih antara mur dan kelereng, lalu memasukkannya ke dalam balon yang kemudian ditiup dan diikat. Ketika balon yang terisi oleh mur diputar-putar, terdengar suara seperti raungan sepeda motor. Adapun pada balon yang terisi oleh kelereng, tidak terdengar apa-apa. Menurut kakak relawan, bentuk mur menyebabkan adanya gesekan dengan permukaan balon yang lantas menjadi getaran. Dari getaran tersebut timbullah bunyi. Kalau kita memegang leher sembari bersuara, akan terasa pula adanya getaran dari pita suara. Adapun bentuk kelereng yang bulat licin tidak menghasilkan gesekan sebesar mur.  

Ini dia, juara pertama Cincin Tolak Angin
Pada Cincin Tolak-tolakan, dalam sekali percobaan peserta diminta menyusun tiga buah magnet cincin melalui sedotan yang ditancapkan pada plastisin. Magnet cincin ini tidak boleh saling menempel, atau percobaan harus diulang. Salah satu peserta berhasil menyelesaikan tantangan lebih cepat daripada yang lainnya. Rupanya ia sudah mengenal konsep magnet dan menguji magnet-magnet cincin itu terlebih dulu sebelum dimasukkannya pada sedotan.

Tidak puas dengan dua eksperimen, para peserta meminta lagi. Akhirnya kakak relawan memberikan satu eksperimen lagi, yaitu Terompet Sedotan. Cara kerjanya gampang saja. Gunting sedotan. Pada ujungnya buat bentuk V yang pipih, lalu tiup. Kalau benar caranya, potongan sedotan itu akan mengeluarkan bunyi seperti terompet. Makin panjang ukuran potongannya, makin rendah nada yang dihasilkan. Suara terompet dapat dibuat lebih keras dengan memasukkan kertas yang telah dibentuk menjadi corong ke sisi potongan sedotan yang bukan berbentuk V.

Menonton film, bereksperimen, sekalian belajar sadar lingkungan di YPBB

Sampahnya dibuang ke wadah yang mana, ya?
YPBB merupakan organisasi yang memiliki misi memahamkan gaya hidup organis pada masyarakat, misalnya pemilahan sampah, minimalnya membuang sampah pada tempatnya. Di YPBB ada banyak tempat sampah yang ditandai berdasarkan jenis sampah yang hendak dibuang, misalnya sampah organik, sampah kertas, sampah plastik, sampah logam, dan sebagainya. Bahkan menurut salah satu stafnya, keberadaan tempat sampah ini sebetulnya “terpaksa” karena akan lebih baik lagi kalau kita tidak menghasilkan sampah sama sekali alias menerapkan gaya hidup zero waste. Benda apapun yang dikatakan “sampah” sebaiknya dapat dimanfaatkan kembali melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Karena itulah, di YPBB juga tersedia keranjang takakura untuk mengolah sampah organik secara mandiri. Selain itu, YPBB berusaha memanfaatkan sumber-sumber dari alam untuk memenuhi keperluan sehari-hari, misalnya tenaga surya untuk menyalakan senter, pot tanah liat untuk menyaring air mentah sehingga layak diminum, dan sebagainya.

Maka seusai acara, anak-anak pun diarahkan untuk belajar membuang kotak susu dari sponsor pada tempat yang tepat, sedangkan orangtua dapat melihat-lihat beberapa alternatif gaya hidup yang barangkali dapat diterapkan di rumah sendiri. Demikian untuk masa depan yang lebih baik, tidak hanya dengan mengenal sains dan teknologi, tapi juga dengan mengamalkan gaya hidup ramah lingkungan sedari dini.[]



Kontak Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB)
Alamat Jl.Sidomulyo No. 21 Bandung 40123 |Phone | 022-2506369-082218731619 |Email |ypbb@ypbb.or.id Facebook YPBB Bandung |Twitter @ypbbbdg |Yahoo Messenger ypbb_humas |

Kamis, 13 November 2014

Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi: Kumpulan Cerpen Kuntowijoyo di Kompas (1994-2004)

Ada beberapa nama sastrawan Indonesia terkait “Sastra Profetik” yang direncanakan akan dibicarakan dalam momen-momen Kamisan FLP Bandung November ini. Pada Kamisan pertama (6/11), sastrawan yang diangkat adalah Kuntowijoyo. Beliau lahir di Soroboyoan, Sanden, Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943, dan wafat pada 2005. Sebelum wafat, beliau mengalami sakit berkepanjangan. Sungguhpun begitu, beliau masih sempat menghasilkan karya sebagaimana yang termuat dalam buku Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi: Kumpulan Cerpen Kompas (Penerbit Kompas, September 2013, Jakarta). Ada 15 cerpen dalam buku ini yang sebelumnya telah dipublikasikan di harian Kompas pada pertengahan tahun 1990-an sampai awal 2000-an. Sewaktu Kamisan, KangAbus—selaku pemateri—menyampaikan ikhtisar beberapa cerpen dalam buku ini yang bagi saya terasa menarik.

Sebut saja “Jl Kembang Setaman, Jl Kembang Boreh, Jl Kembang Desa, Jl Kembang Api”. Cerpen ini menceritakan tentang rumah bertingkat di suatu perumnas yang setelah ditinggal-pindah pemiliknya lantas dihuni oleh para jin. Warga sekitar yang merasa terganggu memanggil orang pintar. Mereka lalu diberi saran: “Nama jalan jangan Kembang Setaman. Bunga Setaman itu makanan jin. Jadi, mereka berkumpul di sini karena mengira di sini banyak makanan. Nama jalan itu terserah, asal jangan menyarankan makanan jin” (Hal. 120). Warga pun berdiskusi dan terpilihlah “Kembang Boreh”. Namun rupanya Kembang Boreh disukai oleh jin-jin perempuan. Mereka mengganggu penjaja wedang ronde yang lewat malam-malam sampai kabur meninggalkan gerobaknya. Orang pintar yang lainnya dipanggil. Sarannya: Pakai kembang boleh tapi jangan berarti bunga (Hal. 122). Warga kembali berdiskusi dan terpilihlah: Kembang Desa. Eh, malah jin-jin lelaki yang berdatangan. Ada yang suka menempel di tembok kamar mandi (disebutnya jin voiyeur). Ada yang suka menghadang gadis-gadis. Ada yang suka menganggu nenek-nenek. Dicarilah lagi orang pintar yang lebih “pintar”, yang menyarankan untuk mengganti nama jalan menjadi “Jalan Kembang Api”. Warga bersuka cita karena menyangka jin-jin itu akan kepanasan. Tapi jin kan terbuat dari api! Bukannya pada pergi. Mereka malah bertambah banyak! Sampai di situ, dari cerita ini dapat ditarik kesimpulan bagaimana suatu masyarakat berusaha menyelesaikan masalah tanpa mengatasi musababnya.

Buku ini kemudian dipinjamkan pada saya. Pada mulanya saya kurang menikmati. Mungkin tersugesti oleh perkataan seorang kenalan kalau narasi Kuntowijoyo terasa kurang nyaman baginya. Kang Abus pun bilang ada cerpen yang sulit dimengertinya walaupun sudah dibaca berkali-kali. Padahal Bakdi Soemanto mengatakan dalam “Pengantar” kalau cerpen dalam kumpulan ini sangat enak dibaca oleh pembaca berlatar Jawa. (Saya orang Jawa sih, tapi adatnya Urban—Urang Bandung, ha.) Maka mula-mula saya pikir si kenalan kurang nyaman karena latarnya Sunda. Tapi menurutnya narasi YB Mangunwijaya juga njawani dan dia menikmatinya. Terlepas dari bagaimanapun narasinya, mulai cerpen ketiga, “Pistol Perdamaian”, saya menikmati pembacaan buku ini bahkan pada akhirnya menyimpulkan: “Betapa nikmatnya membaca fiksi tanpa mesti sok-sokan menganalisisnya apalagi berani-beraninya bermimpi untuk menulis juga!”

Yang memikat saya terutama ialah kelucuan. Kebanyakan cerpen dalam buku ini membuat saya tergeli-geli sendiri. Dalam “Pistol Perdamaian, misalnya. Tokoh “saya” dalam cerita ini mendapat warisan keris, tombak, dan pistol. Rupa-rupanya keris, tombak, dan pistol ini saling “berkelahi”—atau tepatnya, keris-tombak versus pistol. Sebelumnya saya pernah mendengar soal benda keramat yang kalau tidak diberi “makan” pada waktunya akan bergerak-gerak sendiri, membikin keributan. Dari situ saya paham. Maka “saya” memutuskan untuk membuang pistol. Alasannya, pistol masih dibuat di pabrik-pabrik dan banyak yang lebih canggih. Tapi rupanya pistol itu “tidak mau” dibuang. Bagaimanapun cara menyingkirkannya, benda itu selalu kembali. Saya pun teringat akan salah satu film Benyamin Sueb. Suatu kali ia memancing di kali dan mendapat sepatu bot rongsok. Dibuangnya sepatu tersebut. Tapi barang itu selalu kembali, dan membawa sial bagi dirinya.

Contoh lain saya ambil dari cerpen berjudul “Sampan Asmara”. Ada seorang lelaki tua bernama George yang sangat berperhatian pada keponakannya, Bill. Disuruhnya Bill datang ke rumah bersama calon istri. Ia bahkan mengecat ulang sampan dengan warna merah, lengkap dengan gambar jantung, supaya Bill dan kekasihnya dapat bermesraan di danau. Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Bill datang bersama seorang wanita. Namun Bill kemudian mengaku pada istri George kalau wanita yang dibawanya itu bukan kawannya, pacar, apalagi calon, pokoknya orang yang sama sekali lain dari yang disangkakan. Tanggapan istri George, “Maksudmu dia seorang profesional, wanita yang profesinya adalah sebagai wanita” (Hal. 32). Ia tidak kuat menyebutnya sebagai “pelacur”. Beberapa lama setelah membaca cerpen ini saya masih tersenyum-senyum sendiri menyadari arti sebutan “wanita profesional”.

Beberapa cerpen dalam buku ini berlatar di Amerika Serikat (AS)—tempat penulis pernah menjalani studi S2 dan S3. Ada buku beliau lainnya yang juga menceritakan tentang perikehidupan manusia di AS. Judulnya Impian Amerika. Perbedaannya, saya kira, dalam buku ini yang diceritakan adalah orang-orang asing—baik yang dari sononya tinggal di AS maupun sesama pendatang namun dari negara lain—sementara dalam Impian Amerika fokusnya pada orang-orang Indonesia yang merantau ke sana. Sementara banyak orang bermimpi tinggal di luar negeri dan berpikir kehidupannya akan lebih baik, penulis menunjukkan kalau realitasnya tidak mesti begitu. Dalam kumpulan ini ada sosok seperti Ramon Fernandez dalam “Ramon Fernandez”, yang dipecat dari pekerjaannya lalu meminta-minta pada tokoh “saya”, berjanji akan segera membayar, tapi kemudian menghilang; Kim Hwang-young dalam “Gigi”, perantau dari Korea Selatan yang merasakan sulitnya mendapat pekerjaan di negeri asing, belum lagi kena tipu; juga Abe Smitt dalam “Abe Smitt”, keturunan Yahudi-Belanda yang pernah tinggal di Jawa, berbakti pada ibu, namun akhirnya disisihkan oleh kekasihnya yang feminis sekaligus lesbian. Tapi yang paling berkesan menurut saya adalah sosok sepasang perempuan yang notabene mertua-menantu dalam “Perang Vietnam di Storrs”. Pada suatu malam bersalju mereka menumpang minum di International House (IH) yang tengah dijaga oleh tokoh “saya”, lalu menceritakan tentang anak/kekasih mereka yang sedang bertugas di Vietnam. Setelah kejadian itu, “saya” menceritakan tentang mereka pada petugas IH dan terkejut setelah diberi tahu kalau… hihihi… pokoknya seram sekaligus sedih.

Selebihnya cerpen-cerpen berlatar lokal yang khas dengan keklenikannya. Favorit saya adalah “Rumah yang Terbakar” dan “Jangan Dikubur sebagai Pahlawan”. Dalam “Rumah yang Terbakar”, ada seorang ustaz yang ingin membakar sebuah rumah di tengah hutan yang biasa dijadikan ajang maksiat—mabuk-mabukan, penyewaan perempuan, dan semacamnya. Ia mewujudkan niatnya ketika rumah tersebut sedang ditutup untuk sementara. Esok hari, ketika warga mengerumuni tempat kejadian perkara yang sudah gosong, barulah ia mengetahui bahwa rumah yang disangkanya kosong itu ternyata semalam dipakai oleh sepasang muda-mudi untuk berpacaran dan mereka pun ikut terbakar. Adapun “Jangan Dikubur sebagai Pahlawan” mengisahkan Sangadi, seorang, katakanlah, preman kampung pada zaman kolonial yang pekerjaannya mengganggu ketertiban umum seperti memerkosa, membunuh, mencuri, dan sebagainya. Ia bahkan pernah menjadi kaki-tangan Belanda. Namun karena pekerjaannya tidak baik, ia akan digantikan. Ia marah-marah dan berbalik menantang Belanda. Para serdadu pun menyiksanya dengan berbagai cara namun ia tidak mati-mati juga berkat entah ilmu apa. Ia baru mati setelah disiram air. Namun karena kisah perlawanannya sebelum mati itulah ia dikuburkan di Makam Pahlawan.

Sebagian cerpen dalam buku ini disampaikan dengan sudut pandang orang pertama—“saya”. Sungguhpun begitu, “saya” dalam cerpen-cerpen tersebut saya rasakan bukan sebagai karakter utama, melainkan lebih sebagai pembingkai, pengamat, atau pemeran sampingan saja, seperti Watson dalam seri Sherlock Holmes. Demikian timbul kesan seakan-akan cerita tersebut berdasarkan pengalaman pribadi penulisnya; hasil pengalaman bergaul dan mengamati lingkungan masyarakat yang tengah ditinggalinya entahkah di Jawa ataupun AS. Kadangkala pada cerita berlatar asing bahkan lokal sekalipun (katakanlah pembaca berlatar perkotaan kurang begitu mengakrabi cerita berlatar pedesaan), saya merasakan kesan mengawang-awang, sedangkan dalam cerpen-cerpen Kuntowijoyo rasanya natural saja.

Begitupun dengan pandangan keislaman yang sesekali terselip secara jelas. Misalnya dalam “Rumah yang Terbakar” ada perkataan: “Membakar rumah alias surau bekas peninggalan Jokaryo ialah pekerjaan utama seorang ustaz! Itu berarti nahi ‘anil munkar, mencegah kejahatan” (Hal. 61). Juga dalam “Jangan Dikubur sebagai Pahlawan”: “Yang tidak disetujui ibuku ialah ayah juga membeli beberapa botol jenewer lokal. Ibu bilang, ’Haram, haram’” (Hal. 67). Ada pula seperti ini, diambil dari “Lurah”: “Kebetulan waktu lurah sembahyang Jumat, khatib bilang kalau benci itu penyakit hati yang harus dihilangkan. Maka, seperti dalam drama murahan, sadarlah lurah” (Hal. 14). Pandangan keislaman agaknya menyatu dalam diri pengarang/tokoh dan keluar begitu saja sehingga sebagai pembaca kita menganggap mereka ya begitulah adanya. Lebih terasa sebagai kepolosan, dan terkesan natural, alih-alih bermaksud mendakwahi.

Salut saya pada beliau yang perhatiannya pada agama dan masyarakat sekitarnya begitu besar walaupun sudah tinggal cukup lama di negeri yang liberal dan individualis. 

Sedikit hal yang disayangkan dari buku ini adalah penyuntingannya, yang salah satunya saya tampilkan di bawah.

Akan tetapim (Hal. 4 - "Laki-laki yang Kawin dengan Peri")

Sepintas saya merasa cerpen-cerpen dalam kumpulan ini mudah diikuti, menghibur, sekaligus memberikan pemaknaan mengenai sifat manusia yang sering kali sulit untuk diluruskan. Akan lebih seru lagi apabila cerpen-cerpen itu dibaca sambil didiskusikan, seperti dalam Kamisan. Boleh jadi saya tidak akan tertarik membaca buku ini kalau bukan karena “promosi” Kang Abus sewaktu Kamisan kala itu, padahal banyak teladan yang bisa diambil dari dalamnya—baik dari pengarangnya maupun dari cerpen-cerpennya. Padahal saya sudah pernah membaca karya Kuntowijoyo sebelumnya, yaitu cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-bunga” dan kumcer Impian Amerika, namun buku inilah yang melejitkan kekaguman saya pada beliau.[]



dipajang juga di sini

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain