Kamis, 13 November 2014

Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi: Kumpulan Cerpen Kuntowijoyo di Kompas (1994-2004)

Ada beberapa nama sastrawan Indonesia terkait “Sastra Profetik” yang direncanakan akan dibicarakan dalam momen-momen Kamisan FLP Bandung November ini. Pada Kamisan pertama (6/11), sastrawan yang diangkat adalah Kuntowijoyo. Beliau lahir di Soroboyoan, Sanden, Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943, dan wafat pada 2005. Sebelum wafat, beliau mengalami sakit berkepanjangan. Sungguhpun begitu, beliau masih sempat menghasilkan karya sebagaimana yang termuat dalam buku Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi: Kumpulan Cerpen Kompas (Penerbit Kompas, September 2013, Jakarta). Ada 15 cerpen dalam buku ini yang sebelumnya telah dipublikasikan di harian Kompas pada pertengahan tahun 1990-an sampai awal 2000-an. Sewaktu Kamisan, KangAbus—selaku pemateri—menyampaikan ikhtisar beberapa cerpen dalam buku ini yang bagi saya terasa menarik.

Sebut saja “Jl Kembang Setaman, Jl Kembang Boreh, Jl Kembang Desa, Jl Kembang Api”. Cerpen ini menceritakan tentang rumah bertingkat di suatu perumnas yang setelah ditinggal-pindah pemiliknya lantas dihuni oleh para jin. Warga sekitar yang merasa terganggu memanggil orang pintar. Mereka lalu diberi saran: “Nama jalan jangan Kembang Setaman. Bunga Setaman itu makanan jin. Jadi, mereka berkumpul di sini karena mengira di sini banyak makanan. Nama jalan itu terserah, asal jangan menyarankan makanan jin” (Hal. 120). Warga pun berdiskusi dan terpilihlah “Kembang Boreh”. Namun rupanya Kembang Boreh disukai oleh jin-jin perempuan. Mereka mengganggu penjaja wedang ronde yang lewat malam-malam sampai kabur meninggalkan gerobaknya. Orang pintar yang lainnya dipanggil. Sarannya: Pakai kembang boleh tapi jangan berarti bunga (Hal. 122). Warga kembali berdiskusi dan terpilihlah: Kembang Desa. Eh, malah jin-jin lelaki yang berdatangan. Ada yang suka menempel di tembok kamar mandi (disebutnya jin voiyeur). Ada yang suka menghadang gadis-gadis. Ada yang suka menganggu nenek-nenek. Dicarilah lagi orang pintar yang lebih “pintar”, yang menyarankan untuk mengganti nama jalan menjadi “Jalan Kembang Api”. Warga bersuka cita karena menyangka jin-jin itu akan kepanasan. Tapi jin kan terbuat dari api! Bukannya pada pergi. Mereka malah bertambah banyak! Sampai di situ, dari cerita ini dapat ditarik kesimpulan bagaimana suatu masyarakat berusaha menyelesaikan masalah tanpa mengatasi musababnya.

Buku ini kemudian dipinjamkan pada saya. Pada mulanya saya kurang menikmati. Mungkin tersugesti oleh perkataan seorang kenalan kalau narasi Kuntowijoyo terasa kurang nyaman baginya. Kang Abus pun bilang ada cerpen yang sulit dimengertinya walaupun sudah dibaca berkali-kali. Padahal Bakdi Soemanto mengatakan dalam “Pengantar” kalau cerpen dalam kumpulan ini sangat enak dibaca oleh pembaca berlatar Jawa. (Saya orang Jawa sih, tapi adatnya Urban—Urang Bandung, ha.) Maka mula-mula saya pikir si kenalan kurang nyaman karena latarnya Sunda. Tapi menurutnya narasi YB Mangunwijaya juga njawani dan dia menikmatinya. Terlepas dari bagaimanapun narasinya, mulai cerpen ketiga, “Pistol Perdamaian”, saya menikmati pembacaan buku ini bahkan pada akhirnya menyimpulkan: “Betapa nikmatnya membaca fiksi tanpa mesti sok-sokan menganalisisnya apalagi berani-beraninya bermimpi untuk menulis juga!”

Yang memikat saya terutama ialah kelucuan. Kebanyakan cerpen dalam buku ini membuat saya tergeli-geli sendiri. Dalam “Pistol Perdamaian, misalnya. Tokoh “saya” dalam cerita ini mendapat warisan keris, tombak, dan pistol. Rupa-rupanya keris, tombak, dan pistol ini saling “berkelahi”—atau tepatnya, keris-tombak versus pistol. Sebelumnya saya pernah mendengar soal benda keramat yang kalau tidak diberi “makan” pada waktunya akan bergerak-gerak sendiri, membikin keributan. Dari situ saya paham. Maka “saya” memutuskan untuk membuang pistol. Alasannya, pistol masih dibuat di pabrik-pabrik dan banyak yang lebih canggih. Tapi rupanya pistol itu “tidak mau” dibuang. Bagaimanapun cara menyingkirkannya, benda itu selalu kembali. Saya pun teringat akan salah satu film Benyamin Sueb. Suatu kali ia memancing di kali dan mendapat sepatu bot rongsok. Dibuangnya sepatu tersebut. Tapi barang itu selalu kembali, dan membawa sial bagi dirinya.

Contoh lain saya ambil dari cerpen berjudul “Sampan Asmara”. Ada seorang lelaki tua bernama George yang sangat berperhatian pada keponakannya, Bill. Disuruhnya Bill datang ke rumah bersama calon istri. Ia bahkan mengecat ulang sampan dengan warna merah, lengkap dengan gambar jantung, supaya Bill dan kekasihnya dapat bermesraan di danau. Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Bill datang bersama seorang wanita. Namun Bill kemudian mengaku pada istri George kalau wanita yang dibawanya itu bukan kawannya, pacar, apalagi calon, pokoknya orang yang sama sekali lain dari yang disangkakan. Tanggapan istri George, “Maksudmu dia seorang profesional, wanita yang profesinya adalah sebagai wanita” (Hal. 32). Ia tidak kuat menyebutnya sebagai “pelacur”. Beberapa lama setelah membaca cerpen ini saya masih tersenyum-senyum sendiri menyadari arti sebutan “wanita profesional”.

Beberapa cerpen dalam buku ini berlatar di Amerika Serikat (AS)—tempat penulis pernah menjalani studi S2 dan S3. Ada buku beliau lainnya yang juga menceritakan tentang perikehidupan manusia di AS. Judulnya Impian Amerika. Perbedaannya, saya kira, dalam buku ini yang diceritakan adalah orang-orang asing—baik yang dari sononya tinggal di AS maupun sesama pendatang namun dari negara lain—sementara dalam Impian Amerika fokusnya pada orang-orang Indonesia yang merantau ke sana. Sementara banyak orang bermimpi tinggal di luar negeri dan berpikir kehidupannya akan lebih baik, penulis menunjukkan kalau realitasnya tidak mesti begitu. Dalam kumpulan ini ada sosok seperti Ramon Fernandez dalam “Ramon Fernandez”, yang dipecat dari pekerjaannya lalu meminta-minta pada tokoh “saya”, berjanji akan segera membayar, tapi kemudian menghilang; Kim Hwang-young dalam “Gigi”, perantau dari Korea Selatan yang merasakan sulitnya mendapat pekerjaan di negeri asing, belum lagi kena tipu; juga Abe Smitt dalam “Abe Smitt”, keturunan Yahudi-Belanda yang pernah tinggal di Jawa, berbakti pada ibu, namun akhirnya disisihkan oleh kekasihnya yang feminis sekaligus lesbian. Tapi yang paling berkesan menurut saya adalah sosok sepasang perempuan yang notabene mertua-menantu dalam “Perang Vietnam di Storrs”. Pada suatu malam bersalju mereka menumpang minum di International House (IH) yang tengah dijaga oleh tokoh “saya”, lalu menceritakan tentang anak/kekasih mereka yang sedang bertugas di Vietnam. Setelah kejadian itu, “saya” menceritakan tentang mereka pada petugas IH dan terkejut setelah diberi tahu kalau… hihihi… pokoknya seram sekaligus sedih.

Selebihnya cerpen-cerpen berlatar lokal yang khas dengan keklenikannya. Favorit saya adalah “Rumah yang Terbakar” dan “Jangan Dikubur sebagai Pahlawan”. Dalam “Rumah yang Terbakar”, ada seorang ustaz yang ingin membakar sebuah rumah di tengah hutan yang biasa dijadikan ajang maksiat—mabuk-mabukan, penyewaan perempuan, dan semacamnya. Ia mewujudkan niatnya ketika rumah tersebut sedang ditutup untuk sementara. Esok hari, ketika warga mengerumuni tempat kejadian perkara yang sudah gosong, barulah ia mengetahui bahwa rumah yang disangkanya kosong itu ternyata semalam dipakai oleh sepasang muda-mudi untuk berpacaran dan mereka pun ikut terbakar. Adapun “Jangan Dikubur sebagai Pahlawan” mengisahkan Sangadi, seorang, katakanlah, preman kampung pada zaman kolonial yang pekerjaannya mengganggu ketertiban umum seperti memerkosa, membunuh, mencuri, dan sebagainya. Ia bahkan pernah menjadi kaki-tangan Belanda. Namun karena pekerjaannya tidak baik, ia akan digantikan. Ia marah-marah dan berbalik menantang Belanda. Para serdadu pun menyiksanya dengan berbagai cara namun ia tidak mati-mati juga berkat entah ilmu apa. Ia baru mati setelah disiram air. Namun karena kisah perlawanannya sebelum mati itulah ia dikuburkan di Makam Pahlawan.

Sebagian cerpen dalam buku ini disampaikan dengan sudut pandang orang pertama—“saya”. Sungguhpun begitu, “saya” dalam cerpen-cerpen tersebut saya rasakan bukan sebagai karakter utama, melainkan lebih sebagai pembingkai, pengamat, atau pemeran sampingan saja, seperti Watson dalam seri Sherlock Holmes. Demikian timbul kesan seakan-akan cerita tersebut berdasarkan pengalaman pribadi penulisnya; hasil pengalaman bergaul dan mengamati lingkungan masyarakat yang tengah ditinggalinya entahkah di Jawa ataupun AS. Kadangkala pada cerita berlatar asing bahkan lokal sekalipun (katakanlah pembaca berlatar perkotaan kurang begitu mengakrabi cerita berlatar pedesaan), saya merasakan kesan mengawang-awang, sedangkan dalam cerpen-cerpen Kuntowijoyo rasanya natural saja.

Begitupun dengan pandangan keislaman yang sesekali terselip secara jelas. Misalnya dalam “Rumah yang Terbakar” ada perkataan: “Membakar rumah alias surau bekas peninggalan Jokaryo ialah pekerjaan utama seorang ustaz! Itu berarti nahi ‘anil munkar, mencegah kejahatan” (Hal. 61). Juga dalam “Jangan Dikubur sebagai Pahlawan”: “Yang tidak disetujui ibuku ialah ayah juga membeli beberapa botol jenewer lokal. Ibu bilang, ’Haram, haram’” (Hal. 67). Ada pula seperti ini, diambil dari “Lurah”: “Kebetulan waktu lurah sembahyang Jumat, khatib bilang kalau benci itu penyakit hati yang harus dihilangkan. Maka, seperti dalam drama murahan, sadarlah lurah” (Hal. 14). Pandangan keislaman agaknya menyatu dalam diri pengarang/tokoh dan keluar begitu saja sehingga sebagai pembaca kita menganggap mereka ya begitulah adanya. Lebih terasa sebagai kepolosan, dan terkesan natural, alih-alih bermaksud mendakwahi.

Salut saya pada beliau yang perhatiannya pada agama dan masyarakat sekitarnya begitu besar walaupun sudah tinggal cukup lama di negeri yang liberal dan individualis. 

Sedikit hal yang disayangkan dari buku ini adalah penyuntingannya, yang salah satunya saya tampilkan di bawah.

Akan tetapim (Hal. 4 - "Laki-laki yang Kawin dengan Peri")

Sepintas saya merasa cerpen-cerpen dalam kumpulan ini mudah diikuti, menghibur, sekaligus memberikan pemaknaan mengenai sifat manusia yang sering kali sulit untuk diluruskan. Akan lebih seru lagi apabila cerpen-cerpen itu dibaca sambil didiskusikan, seperti dalam Kamisan. Boleh jadi saya tidak akan tertarik membaca buku ini kalau bukan karena “promosi” Kang Abus sewaktu Kamisan kala itu, padahal banyak teladan yang bisa diambil dari dalamnya—baik dari pengarangnya maupun dari cerpen-cerpennya. Padahal saya sudah pernah membaca karya Kuntowijoyo sebelumnya, yaitu cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-bunga” dan kumcer Impian Amerika, namun buku inilah yang melejitkan kekaguman saya pada beliau.[]



dipajang juga di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain