LAINNYA

Rabu, 30 Maret 2011

Apa yang kami dapat dari pengusaha kayu


Kewirausahaan adalah perkara pengembangan diri. Bagaimana jika diikuti embel-embel “hasil hutan”? O, itu pasti salah satu mata kuliah mahasiswa Kehutanan! Dan yang mereka pelajari dalam mata kuliah ini adalah bagaimana menemukan peluang (untuk mengembangkan diri) di bidang kehutanan. Jika hasil hutan dibagi menjadi kayu dan non kayu, maka pada Sabtu, 26 Maret 2011, mereka mendapat kesempatan untuk belajar dari praktisi di bidang pengusahaan kayu terlebih dulu.

Pertemuan dijadwalkan pukul 9 pagi. Namun pada pukul 9 lewat 10 menit, sang dosen melapor, “Pembicaranya baru berangkat dari Surabaya 10 menit lalu, jadi entar dateng lagi ke kelas jam 10 ya.” Oke, Pak. Sebagian besar mahasiswa ke luar kelas lagi. Saya menemani seorang teman curhat dengan dosen, disambi membaca beberapa lembar KOMPAS Jumat—entah punya siapa—yang tertinggal.

Pukul 10 tiba. Belum jua pembicara datang. Ditunda lagi sampai pukul 11. Karena ada kelas tambahan pula pada pukul 11 di ruangan yang ber-AC ini, maka kami berbondong-bondong ke ruang lainnya. Sementara itu, pak dosen menjemput para pembicara yang sedang bingung mencari pintu masuk UGM.

Mereka adalah Pak Setyo Budi dan Mr. Choi (Si Won?!). Pak Setyo Budi adalah alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1990 sedangkan Mr, Choi adalah temannya. Namun Mr. Choi yang asal Korea ini bukan teman biasa—ia sudah malang melintang di industri perkayuan. Mr. Choi tampak seperti pria paruh baya dengan bagian atas rambut sudah memutih. Ia memakai kemeja batik warna coklat. Pak Setyo Budi berkumis dan bertubuh relatif kecil serta berkemeja kuning gading.

Saya kira TOR yang dosen berikan pada mereka adalah untuk menceritakan pengalaman mereka selama menggeluti industri perkayuan. Yang harus kami cermati adalah semangat kewirausahaan di dalamnya. Seperti apakah itu? Silahkan simak catatan saya!

Pak Setyo Budi adalah seorang pemilik pabrik pengolahan kayu balsa dengan produksi 150 m3/minggu yang diusahakan meningkat jadi 10.000 m3/bulan. Karyawannya berjumlah 170 orang. Ekspornya sudah sampai China lo… Dan ia memulai usahanya ini dari nol tanpa sepeser pun modal dari orangtua.

Sebelum mendirikan pabriknya sendiri, Pak Setyo Budi bekerja untuk sebuah perusahaan swasta di Sidoarjo—masih industri perkayuan juga. Ia mulai bekerja sebagai staf di industri tersebut pada tahun 1995. Tugasnya adalah mengecek kualitas hasil produksi. Berkat pekerjaannya, ia sudah pernah mengunjungi industri kayu di berbagai penjuru Indonesia. Perusahaanya itu memang mengirim produk hingga ke luar Jawa. Berkat lawatannya itu pulalah, ia jadi punya banyak pengalaman akan perjalanan industri kayu. Inilah yang menjadi modal utamanya dalam menjalankan usaha sejenis. Memang penghasilannya selama ini sudah cukup untuk menghidupi keluarga, namun waktu kerjanya bisa dari pukul 6 pagi sampai 8 malam. Baru setelah ia menjabat sebagai manajer material, ia jadi punya banyak waktu luang dan jaringan yang semakin luas.

Setelah 15 tahun (tahun 2009), akhirnya ia ke luar dari pekerjaannya. Ia tidak mendapat pesangon apa-apa. Cinderamata yang diberikan hanya sebuah jam dinding. Penghasilan yang ia dapat dari perusahaan tersebut memang tak seberapa dibandingkan perolehan pengalaman yang luar biasa. Inilah yang jadi modal utamanya dalam mendirikan usaha sejenis.

Ia mengakui bahwa apa yang ia dapat di bangku kuliah amatlah sedikit. Ia baru tahu hal permesinan, buyer, supplier, sumber bahan baku, dan sebagainya setelah bekerja. Ia berharap sistem pendidikan jaman sekarang tidak seperti itu lagi (lebih banyak praktek). Sayang, Pak, harapanmu itu belum terwujud dengan memuaskan.

Menurutnya, menjadi pengusaha itu “enak nggak enak.” Pikiran harus jalan terus karena setiap hari ada masalah. Misalnya, bagaimana supaya produk yang dikerjakan bisa efisien? Yang dibutuhkan adalah efisiensi dalam kerja dan bahan baku. Kalau sudah dapat order, ya harus dipenuhi. Komitmen harus dijaga betul. Bahan baku harus dikelola agar ketersediaannya kontinyu.

Namun bisnis kayu tidak akan merugikan, malah menjanjikan sekali. Kena rugi paling kalau dibohongi orang. Dan ia sudah berkali-kali mengalami hal demikian. Namun terbukti bahwa itu tidak membuatnya mundur dalam menjalankan bisnisnya. “Hanya orang yang punya ilmu kehutanan yang bisa ngurus kayu,” ujarnya.

Omong-omong soal industri balsa, sepertinya baru satu ini yang ada di Indonesia. Balsa memiliki kestabilan dimensi yang bagus. “Jadi penyerap suara juga bagus,” imbuh Pak Setyo Budi. Perusahaannya juga menerima jasa olah kayu.

Pak dosen meminta sampel yang Pak Setyo Budi bawa untuk diperlihatkan pada para mahasiswa. Tidak hanya satu macam, tapi berbagai macam sampel kayu balsa (dalam berbagai ukuran) terpegang tangan kami. Kami takjub dengan kayu yang berwarna hampir putih ini. Begitu ringan seperti gabus! Ada satu sampel berbentuk persegi panjang tipis yang mengingatkan pada lapisan atas wafer. Begitu ditekan, empuk terasa. “Ini kayu apa bukan sih?” kami bertanya-tanya. Saking tipis dan empuknya kayu tersebut, teman saya jadi gemas ingin menguji kekuatannya. Ia menekuk-nekuk kayu tersebut (bisa!) dan patah deh. Suaranya keras sekali. Untung para bapak-bapak di depan tak memerhatikan. Untung juga Pak Setyo Budi ternyata mengikhlaskan sampel-sampel tersebut untuk para mahasiswa bawa pulang.

Selain merupakan teman lama, Mr. Choi sudah bekerja cukup lama pula untuk perusahaan Pak Setyo Budi. Sepertinya ia adalah seorang ahli produk kayu. Namun jurusannya saat kuliah adalah machine engineering. Setelah lulus sekolah tinggi dan seterusnya, ia bekerja di Indonesia. Ia pertama kali ke Indonesia tahun 1990. Selama itu hingga sekarang, ia sempat kembali juga ke Korea.

Di masa-masa awalnya di Indonesia, ia kerap emosi dengan keleletan orang Indonesia. Ketika waktu kerja harusnya dimulai dari jam 7, orang Indonesia malah baru pada datang. Mereka begitu suka buang-buang waktu. Tapi sekarang sudah biasa kan, Pak?

Dan semoga juga ia sudah biasa dengan para mahasiswa Indonesia yang terkantuk-kantuk atau meniru dengung lebah saat kuliah. Saya sendiri berusaha mengatasi dua godaan di atas dengan menggambar wajah-wajah. Dan saya puas dengan seraut wajah yang amat ganteng… aha…

Mr. Choi sudah fasih berbahasa Indonesia. Cara bicaranya semangat sekali bak motivator. Saking fasih dan semangatnya, kami sampai tak bisa menangkap dengan jelas apa yang ia sampaikan.

Bagaimanapun juga, dari sekian hal penting yang telah mereka berikan pada kami, yang tak boleh luput antara lain adalah kontrol kualitas dan bagaimana menghargai orang lain—yang terakhir ini adalah tantangan kunci jadi pengusaha, kembali ke hati!

Beberapa informasi lain:
-        Pada tahun 2001, pemerintah melarang usaha kayu ramin. Banyak perusahaan tutup akhirnya atau harus mengganti subtitusi. Ya memang kayu ramin tak luput dari permasalahan juga, antara lain mudah pecah, kembang susut tinggi, dan proses (apanya?) lama…
-        Jepang memiliki sistem pengolahan kayu yang bagus namun susah diterapkan di Indonesia. Jepang hanya mengolah kayu yang bagus. Jadi kesimpulannya?
-         Pak Setyo Budi berasal dari 10 bersaudara dan ada sebuah kalimatnya yang bisa jadi kutipan: “Target tak akan habis, yang habis itu umur.”

Balsa mungkin tak sekuat jati, meranti, apalagi eboni. Namun ternyata ia memiliki kegunaannya sendiri sebagaimana yang Pak Setyo Budi tunjukkan dalam usahanya. Seperti apa yang ia ucapkan, saya ulangi, hanya orang kehutanan yang bisa mengurus kayu. Jelas saja, memangnya siapa yang mempelajari kayu sampai ke setiap lubang porinya? (Anak jurusan Teknologi Hasil Hutan…)

Dengan demikian saya kira sesungguhnya jenis kayu lain bisa dimanfaatkan untuk tidak menjadi sekedar kayu bakar apabila ia tak sekuat jati dan kawan-kawan. Jika konsumen dapat mengurangi permintaan akan kayu-kayu komersil yang mendominasi lahan selama ini, lahan bisa ditanami oleh jenis seperti balsa yang saya kira memiliki daur lebih pendek. Produksinya jadi lebih cepat dong, lebih cepat mendatangkan penghasilan.

Bagaimanapun perlahan kita bergeser ke paradigma baru. Hasil hutan yang dikembangkan bukan hanya kayu. Non kayu pun dapat memberikan penghasilan yang oke—bahkan mungkin bisa meningkatkan aspek ekologis serta kesejahteraan masyarakat sekitar. Dengan demikian kita harus terus mencari alternatif-alternatif yang dapat mengubah orientasi masyarakat pada produk yang manfaat keramah-lingkungannya lebih besar.

Selasa, 29 Maret 2011

AXIOO

dengan ini,
saya wujudkan dua anak jiwa saya,
ke dalam kata-kata.

tak kalah dari TV 14 inch, ukuran layarnya yang relatif besar memperluas cakrawala penglihatan saya.
tidak bikin sakit mata.

saya senang padanya,
jika digunakan dalam rumah yang jauhnya sekitar tiga per empat jam jalan kaki dari stasiun kiaracondong.


13 oktober 2010

Senin, 28 Maret 2011

Belajar Mengarang dari Khazanah Sastra Dunia


Judul : Dari Kasanah Sastra Dunia
Penulis : Drs. Jakob Sumardjo
Penerbit : Penerbit Alumni, 1985, Bandung

Karya sastra yang baik tak kan lekang oleh waktu. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bersifat universal. Kapanpun di manapun kita membacanya, kita masih bisa merasakan relevansinya di masa kita hidup.

Ada sekian karya sastra dunia macam demikian, namun belum semuaditerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dan ada sekian (calon) pengarang Indonesia yang tak paham berbahasa asing. Oleh karena itu penerjemahan karya sastra asing menjadi penting. Dari situlah para sastrawan kita belajar, sebut saja Pramoedya Ananta Toer, Sapardi Joko Damono, Achdiat Kartamihardja, dan masih banyak lagi. Bahkan A. A. Navis pun mengatakan, “Sastra Indonesia saya baca untuk mempelajari kelemahannya. Tapi sastra asing saya baca untuk mempelajari kekuatannya.”

Bagaimanapun pada saat buku ini ditulis, entah juga kalau sekarang masih demikian, sastra Indonesia sedang dalam proses perkembangan. Sastrawan Indonesia harus banyak membaca karya-karya sastra yang besar untuk dipelajari demi kemajuan sastradi negaranya (hal. 4).

Salah satu masalah penerjemahan yang disoroti pada lima belas tahun silam adalah  kurangnya penerjemahan karya-karya sastra yang penting. Kebanyakan karya terjemahan yang sudah diterjemahkan pada waktu itu adalah bukan karya sastra penting melainkan sekadar bacaan anak sekolah  (ringan, hiburan) yang mementingkan keramaian cerita, aksi, petualangan, sensasi, sentimentalitas dan semacamnya. Penulis menganggapnya sebagai bukan karya penting meskipun yang menggemari banyak, sebut saja karya-karya Arthur Conan Doyle, Agatha Christie, bahkan Karl May.

Dikatakannya, “Bacaan-bacaan tentang petualangan, pengembaraan, kegagahan dan keberanian, cerita-cerita lucu dan detektif hanyalah menarik bagi pembaca awam umumnya dan kurang berarti bagi pengembangan kesustraan kita.” (hal 9-10)

Bahkan penulis pun tak memungkiri kalau, “sebagai publik saja kita masih menggemari buku-buku hiburan ringan yang sama sekali tidak berbicara tentang kemanusiaan secara serius.” (hal. 46)

Jadi, bagaimanakah karya yang dianggap penting itu? Sebagian isi buku ini berupa ulasan kritis terhadap beberapa karya sastra dunia yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada waktu itu. Negara yang mendapat perhatian khusus ialah Jepang, Prancis, dan Amerika. Sisanya adalah Belanda, Rusia, Inggris, dan Mesir. Dari ulasan-ulasan tersebut, saya menyarikan beberapa hal yang kiranya mencirikan karya sastra bermutu (versi penulis). Ini merupakan contoh pelajaran-pelajaran yang bisa kita ambil dari karya sastra dunia:

1.      Subtil

Menurut KBBI elektronik saya, subtil itu halus, lembut, perbedaan yang tidak kentara, cerdik, dan bijaksana. Begitu pulalah saya memahami suatu karya yang subtil. Keindahan suatu karya mungkin dinilai dari kesubtilannya. Dan kita bisa menemukan yang seperti itu dari khazanah sastra Jepang, sebut saja “Jembatan Impian” dan “Wajah Shunkin” dari Junichiro Tanizaki atau “Keindahan dan Kepiluan” dari Yasunari Kawabata.

Menurut penulis, karya-karya sastra Jepang tidak menonjolkan kehidupan lahiriah atau aksi manusia melainkan pergolakan dalam batin tokoh-tokohnya. Gaya bercerita mereka naratif dan bukannya dramatik seperti umumnya novel Barat. Yang dimaksud dengan naratif ialah teknik bercerita yang cenderung untuk banyak menerangkan dan memberi argumentasi ketimbang pemaparan kejadian sebab. Yang penting bukanlah ikatan tempat dan waktu melainkan penjelasan suatu sikap. Ini menyebabkan ada suasana yang hilang yaitu kurangnya ketegangan (hal. 51-52).

Meski demikian, dari karya para novelis Jepang tersebut kita bisa belajar bagaimana melukiskan perasaan-perasaan rumit manusia yang khas Jepang (bisa kita sesuaikan dengan konteks lokal khas kita sendiri) namun dapat menyentuh kenyataan-kenyataan universiil (hal. 55). Kekuatan rata-rata mereka adalah kegemaran mereka mengangkat nuansa-nuansa perasaan luar biasa yang sulit dirumuskan tetapi orang bisa merabanya lewat sini, dalam hal ini novel. Campuran berbagai perasaan (cinta, kenangan, penderitaan, kesepian, dan lain-lain) hanya terasa lewat adegan-adegan yang dibangun.

2.      Efektivitas kalimat

Kalimat-kalimat sederhana namun padat dan indah merupakan salah satu kekuatan kepengarangan. Tidak ada adegan yang tidak penting—bahkan perbuatan kecil saat melakukan sesuatu kegiatan pun memiliki arti kejiwaan sendiri. Setiap kalimat harus ada di sana karena berfungsi, karena mendukung arti keseluruhan. Dan pengarang tahu benar apa yang melatari kehidupan tokohnya. Dalam hal ini, karya Yasunari Kawabata dan John Steinbeck bisa dijadikan bahan belajar.

3.      Unsur intrinsik

Berbeda dengan novel populer yang hanya mementingkan menarik apa tidaknya jalan cerita, karya sastra penting memedulikan pelukisan watak, tema, keindahan bahasa baku (hal. 39), serta lebih menekankan pada problematika kehidupan secara serius (hal. 9).

Dalam ulasannya tentang “Daisy Manis” oleh Henry James, penulis menyinggung tentang perwatakan yang menjadi kekuatan karya. “Perwatakan bisa membangun sebuah cerita. Perwatakan yang jelas didukung oleh tindakan-tindakan si tokoh, didukung oleh omongan tokoh-tokoh lain yang pro ataupun anti padanya, didukung oleh kecermatan pengarang dalam melukiskannya sehingga tercipta suasana batin dalam novel, dan cermat pula melukiskan motivasi-motivasi psikologis tokohnya.” (hal. 98)

Dan tentu saja karya sastra yang baik adalah yang memberikan pencerahan bagi pembacanya. Pada “Dataran Tortila” oleh John Steinbeck, penulis mendapatkan kesimpulan bahwa, “Orang bisa membebaskan diri dari ikatan apa pun tetapi kebahagiaan menikmati kebebasan tanpa batas itu pun akan membosankan. Kebahagiaan akhirnya terletak pada mematuhi tanggung jawabnya. …. Penuhilah tanggung jawabmu dan kau akan merasa bebas.” (hal. 102)

4.      Teknik

“Watak-watak manusia tertentu dia tempatkan dalam kondisi tertentu, maka akan mengakibatkan kejadian-kejadian atau cerita yang cukup interesan. Temukanlah karakter spesifik, maka akan lahirlah sebuah novel, sebuah cerita.” (hal. 97).

“Ajaran, pandangan hidup dan filsafat tidak usah menyolok mata disodorkan pengarang pada kita. Filsafat adalah cerita itu sendiri. Kehidupan itu sendiri. Pengalaman itu sendiri. Soalnya hanyalah bagaimana pengalaman itu disajikan pada kita secara menarik.” (hal. 93)

“Sifat multi interpretable karya sastra adalah pada letak kekonkritannya.” (hal. 106)

5.      Pengarang

Ini termasuk hal yang paling kerap penulis ungkit.

Pada ulasan tentang Junichiro Tanizaki: “Tidak ada pesan apa-apa yang berat. Yang ada hanyalah sikap pengarang yang dewasa dan banyak mengetahui kehidupan ini. Memang ide itu benih bagi pengarang, sedang tanahnya adalah pribadi pengarang itu sendiri: kepercayaannya, inteligensinya, pengetahuannya dan pengalamannya. Benih yang baik, ide yang baik, bisa tumbuh subur dan berbuah di tangan pengarang yang bertanah subur dan penuh gizi itu.” (hal. 54)

Menurut pengetahuan yang saya dapat dari kuliah sih, suatu benih itu bisa tumbuh baik tidak hanya karena tanahnya tapi juga oleh berbagai faktor lain seperti lingkungan (abiotik dan biotik), intervensi manusia, dan lain-lain. Silahkan direnungkan lagi…

Pada ulasan tentang Yukio Mishima: “Dan yang terpenting dengan sendirinya adalah pribadi pengarangnya yang matang dan sederhana tanpa pretensi yang berlebihan.” (hal. 57)

Pada ulasan tentang Andre Gide: “Jelas sekali bahwa buat seorang pengarang kepribadian dan kematangan sebagai manusia adalah syarat utama buat mencapai hasil yang cukup bermutu. Menulis bukan hanya soal teknik belaka. Diperlukan sesuatu yang lain yakni kematangan pengalaman.” (hal. 73)

Pada ulasan tentang Pearl S. Buck: “Kekayaan pengalaman ternyata merupakan syarat utama kreativitas. Namun bahan yang bertumpuk saja tidak akan melahirkan karya besar kalau tidak diikuti perenungan dan ketajaman penilikan ditambah kekuatan imajinasi.” (hal. 91)

Pada ulasan tentang Ernest Hemingway: “Inilah unsur utama adalah cerita, pesona, sastra. Yang lain-lain itu akan muncul sendiri kalau memang yang bercerita itu seseorang yang cukup matang dalam masalah yang diceritakannya.” (hal. 94)

Pada ulasan tentang Alexander Solzhenitsin: “Dan kematangan pribadi merupakan bekal utama seorang penulis. Hasil seni adalah potret pribadi pengarangnya sendiri. Pribadi yang besar akan melahirkan tulisan-tulisan besar. Sebaliknya jiwa yang kerdil dan entah akan melahirkan pula tulisan-tulisan yang setara dengan pribadinya. Menulis bukanhanya sekedar kepandaian teknik, ia juga ekspresi pribadi pengarangnya.” (hal. 121)

6.      Dan bagaimana pandangan kita akan karya sastra itu sendiri…

“Lagak terlalu berpose dengan keanehan pengalaman, kelainan pandangan, kelainan pengungkapan hanya akan menghasilkan karya-karya yang membosankan. …. Kejujuran, kesederhanaan, kesungguhan, dan kewajaran dalam menyuguhkan cerita, adalah kaidah yang selalu dapat kita jumpai pada setiap karya sastra dunia yang besar dan dihormati. Orang hendaknya membuang pretensi bahwa karya yang sedang ditulisnya adalah karya penting, “baru”, monumental, hebat, “akan mengejutkan”, dan sebagainya yang hanya layak menghinggapi karya-karya seorang remaja pubertas.” (hal. 95)

“Sebuah karya menjadi besar karena artinya dan bukan karena kepeloporannya dalam pembaharuan. …. Kita masih memerlukan karya-karya konvensional yang besar, yang bermakna, yang kaya, dari pada karya-karya pembaharuan yang eksperimental yang belum tentu berhasil.” (hal. 104)

“Karya sastra hanyalah mengundang orang, merangsang orang buat mengeluarkan sendiri, menggali sendiri kekayaan batinnya. Karya sastra yang berhasil tidak memberikan ajaran secara langsung, tetapi mengandung ajaran secara terselubung. Karya sastra yang berhasil tidak memberi petunjuk, tetapi menggambarkan. Bukan mengajar tetapi merangsang buat berpikir. Karya sastra yang besar selalu bersifat demokrat. Ia tidak membatasi. Ia memberikan dan pembaca memperoleh kekayaan dari dirinya sendiri. Kebebasan dan hak individual pembaca tetap dijaga dan dihormati oleh pengarang.” (hal. 107)

Jadi, kembalikanlah tujuan penciptaan karya pada apa yang mencetuskan proses kreatifnya, pada apa yang mematangkan kepribadian pengarangnya: masyarakat.

Jumat, 25 Maret 2011

Rumah dengan Rahasia Berlapis


Judul : Century
Pengarang : Sarah Singleton
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, 2007

Tersebutlah sebuah rumah bernama Century. Rumah ini menyimpan berlapis-lapis kenangan atas bakat istimewa pemiliknya, Trajan. Adalah anak perempuannya, Mercy, dibantu adiknya, Charity, kemudian menemukan sesuatu yang ganjil. Pamannya, Claudius, menyambanginya, mendorongnya untuk menguak misteri yang menyelubungi rumah tersebut.

What a typical, then. Sebagaimana esensi yang diusung Urosawa Naoki, baik dalam 20th Century Boys maupun Monster, penjahat sebenarnya bisa jadi adalah pendukung protagonis—atau bahkan protagonis itu sendiri—di muka. Esensi ini umum terdapat di cerita-cerita detektif. Pendukung protagonis memunculkan kasus di hadapan protagonis untuk mengalihkan kesalahannya pada pihak lain. Namun dalam 20th Century Boys, karakter Endo Kenji dapat membuat saya merenungkan kembali esensi tersebut. Kita tak selamanya jadi pihak yang benar. Siapa tahu, tanpa kita sadari, kita telah menciptakan penjahat dalam diri seseorang. Apalagi dalam Monster, mulanya demi kemanusiaan ia menyelamatkan seseorang yang tak ia sangka kelak akan menjadi penjahat.

Ah, mentang-mentang baru usai menonton 20th Century Boys (The Last Chapter)… Mari kembali ke novel tipis yang tak menghentak dada ini. Jika 20th Century Boys dikemas dalam alur yang begitu fantastis, membaca Century bagai membaca kisah buatan sendiri waktu masih SD yang dikarang sengarang-ngarangnya. Mengapa kita harus membatasi kreativitas anak SD dengan mengritisinya sedemikian rupa? Biarkan ia bebas berkreasi!

Jumat, 11 Maret 2011

R: Galau


Bicaralah pelan-pelan, Sayang. Aku tak bisa mendengarmu. Suaramu muncul, mendekat, lalu perlahan memelan, hilang. Hilang. Keberadaanmu juga.

Pikiranku berputar, berputar, dan berputar. Deras hujan ini menggelisahkanku. Mereka menggusah kepekaan telingaku.

Bicaralah pelan-pelan, Sayang. Aku ingin mendengarkanmu. Agar kamu tidak marah lagi, seperti di lain waktu.

(while listening to Black Hole, brought by She and Him)

Senin, 07 Maret 2011

Sebuah tinjauan awal: Peran stakeholders* dalam perhutanan kota

Saya suka memburu jurnal-jurnal tentang perhutanan kota di Science Direct. Kebanyakan jurnal yang saya dapatkan mengambil studi kasus di negara-negara Eropa. Ada sebuah jurnal berjudul A decade of urban forestry in Europe, malahan. Tampaknya isu perhutanan kota di negara-negara Eropa sudah sangat berkembang, eh, maju.

Saya coba memasukkan kata kunci "urban forestry indonesia". Hm, tak satupun penelitian tentang perhutanan kota di Indonesia telah sampai ke ranah internasional sepertinya. Penelitian tentang perhutanan kota di kota-kota di Indonesia bukannya sepi. Saya banyak lihat skripsi tentang itu di perpustakaan fakultas, meski masih sedikit yang berkaitan dengan masyarakat. Jurnal-jurnal berbahasa Indonesia pun saya sudah punya beberapa, tapi masak masuk Science Direct juga?

Pada minggu pertama Maret ini, saya coba mempelajari jurnal berjudul Communication between science, policy, and citizens in public participation in urban forestry—Experiences from the Neighbourwoods project. Jurnal ini memaparkan tentang sebuah penelitian yang dilakukan di hutan/kawasan berpohon dalam kota (urban woodland) di enam negara Eropa pada tahun 2007. Penelitian yang dinamakan proyek NeighbourWoods (NBW) ini ditujukan untuk mengembangkan dan menguji alat-alat kebijakan (policy tools) yang digunakan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perencaanaan hutan/kawasan berpohon dalam kota. Proyek ini adalah mengenai bagaimana pembuat kebijakan bekerja sama dengan ilmuwan (sebagai fasilitator) dalam berkomunikasi dengan masyarakat.

Dari jurnal ini, saya jadi tahu kalau di negara-negara Eropa sana komunikasi antara pembuat kebijakan dengan masyarakat dalam pengelolaan perhutanan kota sudah demikian terfasilitasi. Ada banyak alat kebijakan yang dipakai, mulai dari newsletter, website, public events, survei dan wawancara, pelibatan anak-anak dan remaja, pemetaan, dan lain-lain. Memang setiap alat memiliki kekuatan dan kekurangannya masing-masing. Komunikasi antara pembuat kebijakan dengan fasilitatornya pun tak luput dari berbagai hambatan. Tapi setidaknya ada bermacam pengerahan upaya, yang tentu saja, ada hasilnya.

Saya coba mengingat-ingat keadaan serupa di kota yang saya tinggali, Bandung atau Jogja. Di Bandung kiranya ada LSM atau perkumpulan mahasiswa yang suka mengadakan acara-acara terkait. Ada semacam car free day juga di Dago setiap Minggu pagi. Di Jogja ada baliho bergambar petinggi kota sedang naik sepeda. Mungkin juga pernah ada program penanaman sekian pohon oleh pemerintah. Lalu? Ah, saya mungkin belum jadi orang yang begitu perhatian. Ini harus diteliti lagi—upaya para stakeholder dalam penghijauan kota, bukan mengapa saya begitu tidak perhatian.

Ada pikiran, negara-negara Eropa mungkin bisa begitu perhatian pada hijaunya kota karena mereka sudah maju. Kita? Sebagai negara yang terus berkembang (ibarat anak rakus yang tubuhnya makin gemuk dari waktu ke waktu sampai-sampai jalan pun susah--tidak kunjung bergerak maju!), masih banyak hal lebih penting yang perlu kita urus. Kemiskinan. Pengangguran. Korupsi. Cabe—eh, sudah lewat ya, sekarang harga apa yang sedang naik?

Namun pikiran ini lekas tergusah pikiran lain. Ah, kita kan punya banyak SDM. Kiranya populasi kita masih masuk lima besar dunia? Sudah banyak pula yang jadi sarjana. Untuk hal-hal semacam yang saya sebut tadi itu, tentu sudah banyak pula yang lebih berkapasitas untuk memikirkannya. Berapa banyak anak muda yang berlomba-lomba masuk FISIPOL, Fakultas Ekonomi, dan fakultas dengan disiplin ilmu lain yang spesifikasinya memang untuk memikirkan masalah-masalah itu, setiap tahunnya? Jauh lebih banyak ketimbang yang sudi masuk Fakultas Kehutanan kan?

Baiklah, penghijauan kota mungkin tidak mesti dikaitkan dengan Fakultas Kehutanan, meski perhutanan kota iya. Dan apapun disiplin ilmunya, pemberdayan masyarakat adalah tanggung jawab setiap makhluk berakal—sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Dan hari begini, dengan semakin maraknya isu lingkungan hidup, adanya radio tentang gaya hidup hijau di Jakarta, maupun banyaknya teman yang membeli tas yang memuat pesan senada (untuk dipakai kuliah, untuk belanja mungkin masih tetap minta plastik meski plastiknya bisa terurai dalam waktu mingguan, katanya), siapa sih yang masih tidak peduli akan hijaunya kota?

(Ssst, tapi mengapa mereka masih lebih memilih memakai kendaraan pribadi ketimbang kendaraan umum? Padahal melimpahnya kendaraan pribadi di jalanan kan bakal menginspirasi pemerintah untuk membuat proyek pelebaran jalan? Kalau jalan dilebarkan, siapa yang berkorban? Mengapa juga mereka masih membuang sampah sembarangan? Memangnya mengapa kalau mereka menaruh sampah mereka dalam tas dulu kalau belum menemukan tempat sampah terdekat? Dan mengapa mereka masih membiarkan charger hp menancap di stop kontak padahal batere hp mereka sudah penuh? Mengapa? Mengapa? Mengapa?)

Kembali ke jurnal dan partisipasi segala stakeholder dalam perhutanan kota (setelah dipikir lagi, istilah "penghijauan kota" bisa rancu karena ini bisa diartikan dengan mengecat semua dinding bangunan kota dengan warna hijau). Memang saya masih perlu meneliti lebih lanjut soal peran pemerintah dan ilmuwan dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perhutanan kota ini. Saya bayangkan suatu saat proyek NBW bisa pula diterapkan di kota-kota di Indonesia—kalau para pembuat kebijakan dan ilmuwan sudah begitu perhatiannya.


*) belum menemukan padanan yang pas untuk istilah ini, dan banyak istilah lain yang bertebaran dalam tulisan ini