LAINNYA

Selasa, 19 November 2013

Kisah Seorang Pemimpi

Pertama kali aku baca karya James Thurber di Buku Sakti Menulis Fiksi ANNIDA, yaitu “dongeng modern”nya yang dialihbahasakan oleh Agus Budiman dengan judul “Unicorn di Taman”. Seketika aku terpukau dengan cerita yang panjangnya kira-kira hanya sehalaman itu, yang seakan “mengolok-olok” pola dongeng tradisional—dibuka dengan “Once upon…” lalu ditutup dengan ”…lived happily ever after”.

“Unicorn di Taman” menceritakan tentang seorang lelaki yang mengatakan pada istrinya kalau ia melihat unicorn di taman. Perempuan yang menganggap suaminya sudah gila itupun menelepon polisi dan dokter jiwa, agar lelaki itu dibawa ke rumah sakit jiwa. Polisi dan dokter jiwa pun datang. Tapi cerita si istri tentang si suami yang melihat unicorn di taman itu malah membuat mereka menganggap kalau perempuan itulah yang tidak waras. Selagi mereka meringkus si istri, si suami datang. Lelaki itu menyangkal kalau ia telah melihat unicorn di taman. Si istri pun dibawa pergi, dan lelaki itu hidup bahagia selamanya.

Selain karena gaya parodinya, cerita itu sendiri membuatku geli. Padahal apa yang lucu dari situasi seperti itu? Hubungan suami-istri yang tidak selaras. Istri yang ingin memasukkan si suami ke rumah sakit jiwa. Suami yang dengan enteng membiarkan si istri dibawa ke rumah sakit jiwa. Bukan situasi yang menyenangkan kalau kita sendiri yang mengalami.

source
The Secret Life of Walter Mitty” adalah karangan James Thurber yang baru-baru ini kubaca. Isinya ternyata tidak jauh beda dari cerita sebelumnya. Hanya lebih panjang. Sekitar empat halaman. (Katanya sih 2000-an kata tapi aku tidak menghitungnya sendiri.) Kesamaan di antara kedua cerita ini adalah adanya tokoh suami pengkhayal dengan istri yang ingin pegang kendali, serta perpaduan antara imajinasi memukau dengan getirnya realita.

Cerita dibuka dengan aksi seorang komandan Angkatan Laut saat mengendalikan kapalnya supaya bisa menerobos badai, dan berhasil, yang ternyata hanya khayalan seorang Walter Mitty, yang terputus karena hardikan istri. Lelaki itu mengemudi terlalu cepat! Kemudian kita tahu bahwa dalam realita ia hanyalah seorang lelaki dengan istri doyan mengatur, dari mulai kecepatan saat mengendarai mobil, barang yang harus dibeli, sampai apa yang harus ia kenakan. Ketidakberdayaannya kala bersinggungan dengan orang lain terus berlanjut. Di lampu merah, ia dihardik polisi. Saat memarkir mobil, ia ditegur petugas parkir. Saat mengingat-ingat apa yang harus ia beli, seorang perempuan menertawakannya karena bicara sendiri, hingga ia memilih untuk pindah saja ke lain toko. Namun dari interaksi sepenggal-penggal yang tidak menyenangkan itu, imajinasinya berkembang. Ia menjadi seorang dokter yang selain menulis buku tentang penyakit, juga sanggup memperbaiki mesin. Ia menjadi seorang terdakwa di pengadilan yang memamerkan kemampuannya dalam mengoperasikan senjata api. Ia menjadi seorang kapten yang dengan berani hendak terbang sendiri dalam menangani musuh di tengah peperangan.

source
Aku heran kenapa dalam Harper cerpen ini tidak dimasukkan dalam tema “ALIENATION”. Padahal jelas sekali keterasingan Walter Mitty dengan dunia di sekitarnya. Keinginannya untuk melarikan diri dari kenyataan dengan menerbangkan imajinasi ke mana-mana. Dalam cerpen ini, dunia di dalam kepala dengan dunia di luar kepala merasuk kesadaran Walter Mitty secara silih berganti—5:4. Dalam imajinasinya, Walter Mitty menjadi sosok yang dihormati dan serba bisa. Berkebalikan dengan bagaimana orang-orang memperlakukannya dalam realita.  

“The Secret Life of Walter Mitty” merupakan cerpen James Thurber paling terkenal sejak diterbitkan pertama kali dalam The New Yorker tahun 1939, dan menjadi yang paling sering dimuat dalam antologi. Bahkan karakter Walter Mitty menjadi arketipe[1]. Seolah menunjukkan bahwa sesungguhnya pribadi yang melarikan diri dari kenyataan melalui imajinasinya itu… jamak! Sangat manusiawi. Bahkan nama “Mitty” menjadi lema baru di kamus, dengan bentuk adjektiva “Mittyesque” atau “Mitty-like”.

Dari pengarang lain yang relatif semasa, kita bisa kaitkan Walter Mitty dengan Miss Brill dari Katherine Mansfield, serta drama Death of a Salesman dari Arthur Miller. “Miss Brill” juga menyampaikan keterasingan manusia dari lingkungannya, dalam cerpen ini ialah perempuan. Bedanya, Miss Brill masih bisa menaruh perhatian keluar dirinya, dan coba memahami dengan caranya sendiri, sedang Mitty nyaris sepenuhnya lari ke dalam benaknya. Sedang dengan Death of a Salesman, Walter Mitty dengan karakter dalam drama itu, yaitu Willy Loman, sama-sama pemimpi. Bedanya, mimpi Mitty imajinatif sedangkan mimpi Loman realistis. Loman bermimpi menjadi salesman sukses sehingga bisa membahagiakan keluarganya. Ia berusaha memenuhi mimpinya, dan ketika keadaan tidak lagi menguntungkan baginya, ia gantungkan mimpi itu pada anaknya. Pada akhirnya ia bunuh diri. Namun itu merupakan cara yang terpikir olehnya untuk memperjuangkan mimpi. Dengan kematiannya itu, keluarganya akan mendapatkan asuransi dan bisa meneruskan hidup dengan layak. Dalam penyampaiannya, ada yang mengatakan, Mitty itu comic sedang Loman itu tragic. Dengan mengesampingkan kreativitas Thurber sehingga cerpen yang konon ditulis ulang sampai lima belas kali ini dianggap kocak, serta pemahamanku yang pas-pasan saat membacanya dalam bahasa asli sehingga cenderung hanya menangkap inti, buatku kisah keduanya sama tragis.  

Pada zaman sekarang, ketika budaya populer sudah demikian berkembang dan membanjiri kita dengan produk-produk yang biasa kita andalkan untuk mengisi kekosongan dalam hidup, kita temukan Walter Mitty di mana-mana. Kita mungkin lebih akrab dengan istilah “Mary Sue”, yaitu karakter fiktif jagoan yang sebenarnya merupakan idealisasi pengarangnya belaka. Esensi keduanya sama menurutku. Satu tokoh yang mencerminkan karakter Walter Mitty dalam produk yang lebih kontemporer adalah Oscar Wao dari novel The Brief Wondrous Life of Oscar Wao—pemuda gembrot yang tidak bisa memikat cewek dan menjalankan pelariannya lewat fiksi ilmiah.

source
Popularitas Walter Mitty sampai ke layar lebar. Pertama kali difilmkan pada tahun 1947, hasilnya tidak memuaskan Thurber. Berdekade-dekade kemudian, rencana untuk memfilmkan Walter Mitty kembali muncul namun tidak terwujud. Barulah pada tahun 2013, Ben Stiller membawa kembali sosok Walter Mitty ke layar lebar, ia tidak hanya menjadi pemeran tapi juga sutradara. Namun jangan bayangkan Walter Mitty dalam film persis dengan yang ada di dalam cerpen. Pembaca cerpen dan penonton film seolah memiliki kebutuhan berbeda. Walter Mitty dalam film mestilah lebih atraktif, mestilah menyuguhkan aksi yang lebih dari sekadar khayalan. Memang aku belum menonton keduanya. Hanya dari ulasan aku tahu kalau adaptasi ke dalam bentuk film malah menghilangkankan ironi yang muncul dalam cerpen, yang justru menunjukkan kekuatan karakter Walter Mitty dan getirnya kehidupan yang ia miliki—di situlah intinya!

Aku mengagumi James Thurber karena imajinasi dan humor yang getir dalam karya-karyanya. Dari kemiripan antara dua karya Thurber, kita bisa menyangka tokoh suami pengkhayal mencerminkan sosok pengarang itu sendiri. Demikian pula menurut artikel-artikel terkait yang kubaca di internet. Serupa dengan Dorothy Parker yang mampu menyisipkan humor dalam kata-katanya, kehidupan pengarang-pengarang yang menggelitik (bikin geli karena dikitik-kitik) ini sesungguhnya diwarnai kepiluan. Ironis. Kukira seseorang dengan sudut pandang suram memang sebaiknya mampu menyamarkan keadaannya itu dengan humor.

“The Secret Life of Walter Mitty” sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Fernando dengan judul “Rahasia Walter Mitty”—dimuat dalam Suara Merdeka, 16 Mei 2010. Belum terjemahan yang enak menurutku, dan kalau kemampuanmu dalam memahami teks bahasa Inggris juga pas-pasan, aku sarankan untuk membaca dalam kedua bahasa itu masing-masing sekali, lalu membandingkan keduanya. Selamat terkekeh sambil meringis![]


NB.
James Thurber tidak hanya menulis cerita, tapi juga membuat ilustrasi. Sekalian kusuguhkan satu karyanya yang dilengkapi ilustrasi. Cerita ini cenderung getir ketimbang lucu.



[1] Mungkin seperti “Lolita”—novel karangan Vladimir Nabokov—diasosiasikan dengan pedofilia, atau “Mrs. Robinson”—film tahun 1960-an yang dibintangi Dustin Hoffman dan makin populer dengan lagu berjudul sama dari Simon & Garfunkel dan berdekade-dekade kemudian dirujuk pula oleh Outcast—dengan… MILF? Ups!

Jumat, 15 November 2013

Kuntilanak Salah Tayang

Langit begitu gelapnya hingga kuntilanak bangun buru-buru karena mengira waktunya bertugas sudah tiba. Ia tertawa-tawa sepanjang jalan. Orang-orang menyingkir dan terkesima karena mengira ada syuting film. Sekonyong-konyong awan tersibak, mendung tersingkap. Matahari memancarkan cerahnya. Kuntilanak terbakar seketika dan tewas untuk selama-selamanya. Tamat.

selanjutnya: Sundel Bolong di Siang Bolong


Bandung, jelang Jumatan
ketika amat mendung
dan terdengar tawa seperti kuntilanak di kejauhan

Senin, 11 November 2013

Di Balik Obsesi

Aku harus menulis tentang cerpen Virginia Woolf, “Solid Objects” (bisa dibaca di sini), sebab hanya dengan cara inilah aku bisa melaju ke cerpen Harper berikutnya.

Cerpen ini sudah menahanku berbulan-bulan. Cerpen ini yang membuatku kembali ke cerpen Harper dengan jumlah halaman paling sedikit dan belajar menerjemahkannya. Dan ketika urutannya kembali ke cerpen ini, aku menyerah dengan belajar terjemah. Begitupun dengan menulis pembacaan.

Pembukaannya sudah bikin aku ngeri.

The only thing that moved upon the vast semicircle of the beach was one small black spot. As it came nearer to the ribs and spine of the stranded pilchard boat, it became apparent from a certain tenuity in its blackness that this spot possessed four legs; and moment by moment it became more unmistakable that it was composed of the persons of two young men. …

Dan seterusnya hingga berbelas-belas baris—hanya untuk memberitahu pembaca kalau ada dua pria sedang jalan-jalan di pantai.

Jangan ditanya bagaimana adegan-adegan selanjutnya.

Cerpen ini menceritakan tentang seorang pria yang terobsesi dengan batu yang ia temukan di pantai, hingga ia mencari lebih banyak batu lagi dan mengabaikan karier politiknya. Orang-orangpun meninggalkannya, begitupun sahabatnya.

Sulit memahami pikiran orang yang terobsesi. Nah. Melalui gambaran yang kaya itulah, agaknya cerpen ini hendak memahamkan bagaimana daya tarik suatu objek dapat membuat seseorang terobsesi.

But how had the piece of china been broken into this remarkable shape? A careful examination put it beyond doubt that the star shape was accidental, which made it all the more strange, and it seemed to be pirouetting through space, winking light like a fistful star. The contrast between the china so vivid and alert, and the glass so mute and contemplative, fascinated him, and wondering and amazed he asked himself how the two came to exist in the same world, let alone to stand upon the same narrow strip of marble in the same room. The question remained unanswered.

Dan bagaimana obsesi itu menenggelamkannya hingga ia kehilangan banyak hal lain.

As his standard became higher and his taste more severe the disappointments were innumerable, but always some gleam of hope, some piece of china or glass curiously marked or broken, lured him on. Day after day passed. He was no longer young. His career—that is his political career—was a thing of the past. People gave up visiting him. He was too silent to be worth asking to dinner. He never talked to anyone about his serious ambitions; their lack of understanding was apparent in their behaviour.

Makna yang lebih dalam mungkin ada pada kata “solid”—yang menjadi bagian dari judul cerpen ini. Kata tersebut bisa berarti “kuat, kukuh”, sebagaimana obsesi mencengkeram hasrat seorang manusia (tsah!). Makna yang lebih dalam lagi… tanya kritikus yang memang berkompeten dalam mengkaji teks yaa.

Cerpen-cerpen Harper yang kubaca sebelumnya terbilang simpel. Dari jumlah halamannya, tentu, bahasanya, juga dari bagaimana adegan demi adegan disampaikan. Ulasan sebagian di antaranya pun pabalatak di internet, sehingga membantuku dalam memahami cerpen tersebut. Untuk “Solid Objects” rada sepi—atau aku yang kadung malas menelusuri. Ditambah kemampuanku dalam memahami bahasa Inggris yang pas-pasan, cerpen ini terbilang sulit buatku. Padahal Virginia Woolf dikenal justru karena tekniknya yang canggih itu, yang, menurutku sih, “ribet”—he. Satu tekniknya yang menonjol adalah arus kesadaran aka stream of consciousness, yang seolah ingin menunjukkan jalan pikiran manusia, yang suka melompat-lompat ke sana kemari, tidak mesti terarah (seperti saat menulis catatan harian hohoho…). Barangkali gayanya yang “rumit” itu sekaligus menunjukkan pikirannya yang “rumit”—ia juga dikenal mengidap gangguan jiwa hingga mendorongnya untuk bunuh diri, kisah hidupnya bisa ditengok lewat film The Hours di mana ia diperankan oleh Nicole Kidman dengan hidung palsu.

Bicara soal obsesi. Orang mungkin tidak mengerti bagaimana orang lainnya bisa begitu terobsesi. Tapi kadang orang yang terobsesi itu sendiri tidak mengerti kenapa ia bisa begitu terobsesi. Bagaimana satu hal bisa menendang jauh-jauh ketertarikan pada banyak hal lain. Dari negeri yang sama dengan Virginia Woolf, band Suede menggambarkan topik yang sama lewat lagunya, “Obsessions”.

Obsessions in my head don’t connect with my intellect, it’s called obsession can you handle it?


Kamu tidak sendiri. Tiap orang mungkin punya obsesinya masing-masing :)

Kamis, 07 November 2013

Aku lagi kepingin punya suami
supaya aku bisa tanya dia punya opini,
"Kamu sukanya bulu ketek aku dicukur apa enggak, honey?"


#haiku?

Sabtu, 02 November 2013

Mengerjakan Soal
I
Ketika aku masih SMP, ada sepupu menumpang di rumah. Ia hen­dak mengikuti tes CPNS di kota kami. Kadang buku kum­pul­an soal tes CPNS miliknya tergeletak begitu saja di meja ru­ang tengah. Aku iseng mengerjakannya. Aku tulis jawabanku di kertas lain. Ketika kucocokkan dengan kunci, ternyata ja­wab­anku hampir benar semua. Sejak itu aku bercita-cita men­ja­di PNS.
II
Memang prestasiku di sekolah lumayan. Berkebalikan dengan ce­wek di bangku sebelahku. Ia lemah sekali terutama dalam Ma­tematika. Mengherankan. Sampai suatu kali kuberi ia ma­suk­an. “Kenapa kamu enggak minta diajarin papa kamu aja?” Pa­panya kan guru Matematika kami. Tapi ia malah cemberut. La­lu kuingat pak guru itu baru setahun ini jadi papanya.
III
Padahal aku cukup menyukai pak guru itu. Pernah ia mem­be­ri­kan soal ulangan sekalian dengan jawabannya. Yang ha­rus ka­mi kerjakan di kertas adalah bagaimana caranya me­me­cah­kan soal itu sehingga jawabannya sesuai dengan yang su­dah di­berikannya. Hidup ini jadi terasa bertujuan. Dan ba­gai­ma­na­pun upaya yang kita kerahkan adalah demi mencapai tu­ju­an itu.

Aku Ini Batu

Deman per­nah bilang, “Aku tidak suka jadi manusia.” Ia ingin ja­di batu. Dingin. Keras dan kaku. Tidak berpikir tidak merasa. Ti­dak me­nga­cau­kan tidak dikacaukan. Biar diinjak biar di­se­pak. Biar ter­be­nam di dasar sungai, bersama pepasiran. Tapi su­atu hari ia ditemukan meng­ambang di te­pi sungai. Mungkin mak­sud­nya itu batu apung.