Senin, 30 September 2019

Girls on the Edge: The Four Factors Driving the New Crisis for Girls: Sexual Identity, the Cyberbubble, Obsessions, Environmental Toxins

Gambar dari Goodreads
Saya tahu tentang buku ini dari membaca
Boys Adrift: The Five Factors Driving the Growing Epidemic of Unmotivated Boys and Underachieving Young Men, karena penulisnya sama. Yang satu tentang anak laki-laki, dan yang ini tentang anak perempuan. Keduanya saling melengkapi, malah bisa jadi redundant. Sedikit tentang buku ini sudah ada di Boys Adrift, makanya saya tertarik untuk membacanya. Di buku ini dipaparkan secara panjang lebar hal-hal yang dalam Boys Adrift hanya sepintas lalu. Demikian juga, yang selengkapnya ada di Boys Adrift hanya diangkat sepintas lalu dalam buku ini.

Format kedua buku ini pun mirip. Kalau di Boys Adrift penulis menyebut ada lima faktor yang menyebabkan para pemuda hilang arah, di buku ini hanya ada empat. Sementara anak laki-laki dipengaruhi oleh sistem pendidikan, gim, dan kurangnya kehadiran pria dewasa yang dapat dijadikan contoh, anak perempuan cenderung pada tren masa kini yang menggembar-gemborkan seksualitas perempuan, media sosial, serta obsesi mereka sendiri. Untuk faktor yang disebut belakangan, penulis bilang, anak perempuan cenderung terobsesi pada satu hal, misalkan menjadi gadis paling cantik atau paling pandai di sekolah, prestasi atletik, dan semacamnya, yang jika terjadi kegagalan karena satu dan lain hal maka mereka akan jatuh dan hancur berkeping-keping.

Di samping berbagai faktor yang membedakan kedua jenis kelamin tersebut, ada satu faktor lain yang kurang lebih sama yaitu pengaruh zat-zat kimiawi. Zat-zat sintetis dalam produk kiwari seperti plastik atau susu kemasan rupanya dapat mengutak-atik sifat alami kedua jenis kelamin. Kurang lebih begitu.

Sementara anak laki-laki perlu detoks, anak perempuan mesti menyeimbangkan tiga aspek: mind, body, dan spirit. Tapi secara umum solusi yang ditawarkan dalam kedua buku relatif sama, antara lain:

- mengontrol waktu anak menggunakan media elektronik, misalnya untuk anak laki-laki gim sedangkan anak perempuan media sosial
- menghindari plastik, produk-produk tidak ramah lingkungan, dan semacam itu
- mempertimbangkan sekolah dengan sistem pendidikan yang memisahkan antara anak laki-laki dan anak perempuan
- mengupayakan anak memiliki lingkungan sesama jenis dengan usia beragam, terutama yang lebih tua

Selain itu, yang tidak kalah penting agar semasa kecil (usia TK dan sekitarnya) anak banyak-banyak berinteraksi dengan alam, daripada  dikondisikan untuk duduk rapi dalam kelas belajar calistung.

Konteks buku ini masih sangat Amerika-Serikat, walaupun dibandingkan juga dengan kasus-kasus dari negara Eropa serta Australia. Misalnya saja soal seks bebas serta penggunaan alkohol dan narkoba. Bukannya tidak ada anak Indonesia yang terjerat masalah-masalah itu, tapi mengingat adanya perbedaan budaya dan sebagainya, agaknya yang terjadi di sini tidak semasif di sana. Sedikitnya, kita bisa dibuat mafhum--khususnya dalam bab mengenai spiritualitas--bahwa komunitas agama punya pengaruh dalam menghindarkan dari perilaku semacam itu.

Bisa dibilang, betapapun moderatnya penulis buku ini, ia cenderung ke arah konservatif. Ia begitu menekankan perbedaan gender, sehingga diperlukan perbedaan perlakuan juga terutama dalam pendidikan. Bisa jadi ia terjebak dalam stereotipe gender. Biar begitu, karena saya tidak punya banyak referensi dan nilai-nilai yang disampaikannya adakalanya masuk akal, saya cenderung mengiyakan.

Terlepas dari kesamaan-kesamaan yang menimbulkan kesan redundant itu--masih sama seperti buku yang satunya--buku ini tetap enak dibaca dan relatif mudah bagi pembaca yang bukan penutur asli bahasa Inggris seperti saya.

Sebagai perempuan, mestinya saya bisa lebih relate dengan buku ini ketimbang buku satunya. Dalam beberapa hal mungkin iya, misalkan soal The Great Disappoinment yang biasa melanda pada usia dua puluhan. Paling tidak, buku ini mengilhamkan saya untuk memenungkan lagi soal sense of self dan spiritualitas. Menurut penulis, anak perempuan cenderung termotivasi untuk menyenangkan orang-orang di sekitarnya, sehingga tidak memiliki sense of self yang kuat. Adapun soal spiritualitas, agaknya itu PR seumur hidup.

Minggu, 29 September 2019

Matinya Seekor Anak Kucing (3)

Lagi? (Kamu mungkin mau baca cerita sebelumnya di sini dan di sini.)

Tentu saja saya berharap enggak akan ada lagi.

Tapi, begitulah yang terjadi.

Jadi, ada seekor kucing. Warnanya putih dengan corak hitam. Ukurannya agak besar; kalau dalam tahap perkembangan manusia mungkin dia kucing ABG. Tidak ada fitur yang menarik, sehingga kemungkinan dia kucing kampung biasa.

Kucing ini muncul begitu saja. Kalau menurut ibu saya, sempat ada satu kucing lagi yang serupa dia tapi lalu menghilang sehingga tinggal dia saja. Kami mengira mereka (atau dia) milik tetangga, tapi suka menongkrong di halaman kami dan lama-lama jadi hampir menetap bahkan hingga masuk ke rumah.

Dia jinak, seperti berharap dianggap sebagai piaraan. Tapi kami sudah punya 2-3 kucing lain yang "wajib" diberi makan, sehingga kami anggap dia sebagai kucing liar (atau milik tetangga?) lainnya yang menumpang makan di garasi kami.

Hingga suatu hari dia tampak lesu, enggak bernafsu makan. Dia mungkin sakit. Tapi kami biarkan saja. Kami anggap dia akan sembuh sendiri, seperti yang pernah terjadi pada kucing-kucing lain.

Kami biarkan dia hingga berhari-hari. Ibu saya berkali-kali memberi dia makan dengan daging ikan, tapi enggak diambil. Saya juga pernah memberi dia segumpal Whiskas basah, yang didiamkan saja.

Hingga suatu hari dia tampak mengenaskan. Sudah mah semakin kurus, kini kotor pula. Rupanya dia pilek. Badannya bebercak-bercak kuning oleh ingus.

Kalau saya pilek, ingus yang berwarna dan kental menandakan bahwa pilek akan segera berakhir (yah, enggak tahu kalau kata dokter). Tapi, tidak bagi kucing.

Karena badannya sudah ringsek begitu, ibu saya pun berinisiatif membawa dia ke dokter hewan. Mau enggak mau, saya menemani. Ketika kami hendak memasukkannya ke keranjang, dia sempat menghilang. Tapi lalu saya menemukan ekornya menjulur dari mesin di kolong mobil, yang memang sehabis digunakan oleh ibu saya dan baru dimasukkan ke garasi. Agaknya dia mencari kehangatan.

Dia begitu kotor, hingga ibu saya mengambilnya dengan perantaraan kertas. Keranjang berisi dia diletakkan di bagasi, sekadar ruang di balik jok belakang. Baunya di bagasi tercium sampai ke hidung kami yang duduk di jok depan.

Sore itu, klinik hewan yang biasa kami kunjungi lengang. Tidak ada pasien lain. Tukang parkir bilang agar mengetuk pintu dahulu. Setelah mengisi daftar dan mengetuk pintu, oleh yang berada di baliknya kami diminta menunggu sebentar. Sepertinya para dokter sedang mengadakan rapat.

Kami pun dibolehkan masuk, ke ruangan paling ujung.

Kucing dikeluarkan dari keranjang. Dokter takjub dengan keadaannya. Saya pun salut si dokter tidak menggunakan pelindung apa-apa seperti masker dan sarung tangan, sebab si kucing begitu bau dan kotor.

Kami menerangkan bahwa dia hanya kucing yang entah siapa pemiliknya, yang biasa menumpang makan di garasi kami dan belakangan tampak sakit hingga menjadi parah, dan seterusnya, dan sebagainya .... Apologi.

Dokter itu mengambil sisir logam, lalu membersihkan gumpalan-gumpalan ingus yang menempel di tubuh kucing. Saya mengamatinya sambil menjaga jarak dan merasa malu sekaligus kagum akan ketelatenan dan kasih sayang si dokter. Mungkin ini suuzon atau refleksi saya atas diri kami sendiri: saya menduga si dokter diam-diam mencibir betapa tidak welas asihnya kami hingga si kucing dibiarkan dalam keadaan begitu. Selain membersihkan, dia juga memberikan infus dan beberapa suntikan, serta mencekokkan daging ke mulut si kucing sambil bertanya, "Nanti bisa enggak kasih makannya?"

Si kucing lalu dimasukkan ke kontainer untuk diuapi. Dokter itu berlalu, digantikan dokter lain yang memberikan obat dan menerima pembayaran. Total Rp 120.000.

Dokter sempat berpesan agar besok si kucing dibawa lagi untuk diinfus.

Tampaknya ibu saya juga menyadari akan sikap si dokter. Dia bilang, sebenarnya kucing itu bisa kami bersihkan sendiri. Tapi--mungkin juga apologi--saya mengingatkan bahwa kami enggak bermaksud memelihara kucing itu melainkan sekadar memberi dia makan. Ibu saya membenarkan, bahwa kebetulan saja kucing itu sakit di garasi kami sehingga terlihat oleh kami dan daripada mengganggu pemandangan mending coba dibawa ke dokter hewan siapa tahu masih bisa diselamatkan (lalu setelah pulih dibuang).

Tapi, sebenarnya saya juga malu. Tiap kali kami ke klinik itu--yang saya sampai hafal muka dan pembawaan setiap dokternya--sementara orang lain pada membawa hewan ras yang bagus-bagus dan begitu menyayangi piaraan mereka, kami membawa kucing liar yang parah keadaannya sampai-sampai kami sendiri ogah menyentuhnya.

Setibanya di rumah, mau enggak mau saya membersihkan kamar mandi belakang di lantai dua yang biasa menjadi ruang karantina bagi kucing sakit. Kamar mandi ini belum dibersihkan sejak terakhir kali ibu saya memungut dua ekor anak kucing--yang satu lalu mati, dan yang lain akhirnya dibuang. Kertas-kertas koran melekati lantai, sepertinya akibat dulu basah oleh kencing. Butir-butir pasir toilet berserakkan. Belum lagi gumpalan-gumpalan tahi yang sudah mengering. Dengan sarung tangan dan lipatan kain menutupi sebagian muka, saya memasukkan koran-koran najis itu ke dalam plastik, menyapu lantai, lalu mengepelnya dengan Wipol sembari menggosok-gosok untuk menyingkirkan sisa-sisa koran dan kotoran. Setelah lantai agak kering, ibu saya menutupinya lagi dengan lembaran-lembaran koran lalu memasukkan kardus agak besar untuk tempat tidur kucing serta kotak pasir untuk toiletnya--yang akhirnya tidak sempat terisi.

Malam itu kami mencoba memberi makan si kucing dengan alat yang diberikan dokter, berupa suntikan tanpa jarum. Caranya: daging basah (kami biasa membeli Whiskas) dimasukkan ke dalam suntikan lalu ditembakkan ke mulut si kucing. Subuh esoknya, daging diganti dengan telur mentah.

Karena hari itu ibu saya bekerja, saya ditugaskan untuk memberi makan si kucing sendirian tiap beberapa jam sekali. Sampai ibu saya pulang selepas asar, saya memberi makan si kucing dua kali: sekitar pukul setengah sembilan dan sekitar pukul satu. Kali ini saya tidak sok-sokan pakai sarung tangan, tapi tetap menutupi separuh muka dengan kain.

Belajar dari si dokter, saya mencoba untuk menjadi perawat yang welas asih. Sebelum memberi makan, saya bersihkan dulu moncong si kucing dengan tisu yang dibasahi. Saya juga bersabar ketika si kucing melepeh daging yang telah saya tembakkan ke mulutnya, yang saya pungut lagi, masukkan lagi ke dalam suntikan, dan tembakkan lagi. Begitu berkali-kali, sampai kurang lebih satu sendok daging habis. Sesudahnya, saya bersihkan lagi moncong si kucing. Saya juga membuang lembaran koran yang sudah diceceri tahi encer.

Ibu saya pulang. Sore itu, kami hendak memberi makan si kucing lagi bersama-sama, sekalian memberikan obat. Ibu saya memegangi si kucing, sedangkan saya yang menembakkan makanan. Tapi, si kucing sesekali memberontak. Mulutnya sedikit-sedikit terbuka, seperti yang mencari udara atau hendak mengeluarkan suara tapi tak bisa. Ibu saya menginstruksikan agar saya memasukkannya pelan-pelan, ditambah air.

Tapi, berangsur-angsur kami jadi tidak tega. Keadaan dia sudah begitu menyedihkan. Begitu kurus, begitu kotor, begitu lemah, seperti yang sebentar lagi akan mati. Saya yakin ketika sebelumnya saya memberi dia makan, sudah ada daging yang masuk ke perutnya. Tapi, kok sepertinya tidak berpengaruh?

Ibu saya meminta maaf pada si kucing karena telat membawanya ke dokter. Yah, lagi-lagi telat, karena kami selalu berpikir--berharap--si kucing akan sembuh sendiri. Sebagian kucing memang bisa sembuh sendiri, tapi untuk sebagian lagi sudah terlambat.

Kami ingat pesan dokter agar dia dibawa lagi untuk diinfus. Saat itu sudah sekitar pukul setengah enam sore, sementara pendaftaran ditutup pukul enam. Kami pun mengebut berganti pakaian dan menyiapkan si kucing untuk dibawa lagi ke klinik hewan.

Memang klinik tersebut tidak begitu jauh di rumah. Kami tiba sebelum pukul enam. Kali ini, ada dua pasien lain yang telah lebih dahulu menunggu. Dua-duanya kucing. Yang satu belek dan pilek, sedangkan yang satu lagi sepertinya tidak bergairah setelah melahirkan satu anak yang lalu mati. Sembari menunggu, kami bertukar sedikit informasi tentang hewan bawaan masing-masing.

Setelah kami, ada dua pasien lagi yang datang. Keduanya anjing. Anjing yang pertama sangat besar, tidak mau diam, dan menarik perhatian: golden retriever. Saya mencuri dengar obrolan si pemilik dengan beberapa penunggu lain mengenai perawatan si anjing. Anjing juga memikat untuk dipelihara, tapi kami muslim dengan pengetahuan bahwa hewan itu bernajis berat. Seandainya anjing enggak senajis kucing dan ibu saya tergerak untuk memeliharanya juga, enggak terbayang kerepotan yang bakal menyerta. Apalagi kalau anjingnya segede manusia, seperti golden retriever itu. Kalau dia mati, mau dikubur di mana? Mencari tempat mengubur hewan yang relatif kecil seperti kucing saja kami kebingungan.

Lewat azan magrib, tibalah giliran kami. Kali ini kami mendapat meja pemeriksaan di depan dan dokter yang lain lagi. Melihat keadaan si kucing, si dokter terperenyak (oke, lebay). Dia bilang napas kucing ini sudah satu-satu, tapi, "enggak apa-apalah, ikhtiar," sambil memberikan suntikan. Dia juga mengukur suhu tubuh si kucing dan mengatakan bahwa hasilnya sudah di bawah normal.

Napas satu-satu + Suhu tubuh di bawah normal = Sakratulmaut

Sementara si kucing diinfus, kami duduk diam dan saya mencari-cari apa lagi yang bisa dibicarakan selain bahwa kemungkinan besar hewan itu akan mati. Salah satu pembicaraan adalah tentang cara memberi makan si kucing. Benar kata ibu saya, bahwa makanan harus diberikan pelan-pelan. Kalau dipaksakan, kata si dokter, kondisi kucing yang sudah pengap itu malah akan drop. Timbul rasa bersalah saya. Jangan-jangan, ketika memberi makan si kucing itu sendirian, saya terlalu kasar dan malah mengakibatkan turunnya kondisi dia sepanjang hari itu.

Di samping itu, sebelumnya ada sedikit persoalan. Ibu saya akan keluar kota beberapa hari pada akhir pekan, sehingga saya mesti memberi makan dan obat pada kucing itu sendirian. Awalnya saya berkeberatan sehingga ibu saya hendak memanggil pulang adik saya yang kuliah di luar kota untuk membantu saya. Tapi, setelah mencoba memberi makan kucing itu sendirian dan ternyata bisa, saya berpikiran bahwa bantuan adik saya mungkin tidak diperlukan. Meski begitu, jangan-jangan si kucing sempat mendengar persoalan itu, jadi enggak bersemangat untuk bertahan hidup, dan hendak cepat mati saja biar enggak merepotkan saya.

Itu, dan hal-hal lain yang masih menyangkut perkucingan dan sebagainya bikin mood saya jatuh sepulang dari klinik hewan. Setelah mandi dan mengejar kesempatan salat magrib di waktu yang sudah mepet isya, saya tiduran saja di kamar yang remang-remang--seolah-olah tidak mau beraktivitas lagi selain terlelap.

Beberapa kali ibu saya datang, mengabarkan keadaan si kucing. Dia bilang kucing itu sudah dingin, kaku. "Kayaknya udah mati deh. Mau dikubur sekarang atau besok?"

"Ya, besoklah. Masak ngubur malam-malam?" tukas saya sebal. Saya baru mandi, dan malam itu waktunya beristirahat.

Pagi esoknya, saya tidak bersemangat bangun sementara begitu terang ibu saya langsung mencari tempat di halaman. Mau enggak mau, saya turun juga untuk membantu ibu saya menggali tanah yang keras dengan peralatan seadanya. Lubang yang bisa kami buat pun enggak dalam dan lebar, padahal kucing itu mati dalam keadaan memanjang--ukurannya sudah agak besar ketimbang kucing-kucing lain yang pernah kami kubur sebelumnya di halaman. Malah, ujung ekornya sempat enggak tertutup oleh tanah, saking kurang dalam dan lebarnya lubang itu. Saya membolehkan ibu saya menambahkan tanah dari pot-pot bekas hasil percobaan saya berkebun yang lagi-lagi terbengkalai. Saya meratakannya dengan bagian bawah sekop lalu pergi, tidak hendak melihatnya lagi.

Simpulan

Sikap orang terhadap kucing kurang lebih ada tiga:
  • Benar-benar sayang. Tidak sekadar memberi makan, tapi juga merawat dan membersihkannya. Bahkan rela mengeluarkan uang untuk mengebirinya agar tidak ada lagi generasi baru anak-anak kucing yang telantar.
  • Sekadar suka memberi makan, tapi enggan mengurusnya lebih lanjut. Tidak rela mengeluarkan uang untuk mengebiri. Masih punya ketegaan membuang kucing ke tempat jauh, atau, istilah yang lebih "enak": melepasliarkan--seperti yang LSM-LSM lakukan pada hewan-hewan seperti orangutan, macan, dan sebagainya ke hutan, sehingga mereka bisa mencari makan sendiri dan berinteraksi dengan sesamanya secara alamiah.
  • Enggak suka sama sekali. Langsung mengusir begitu didekati. Bahkan ada yang sampai melempari dengan batu atau menyiram dengan air panas.
Sebagai golongan menengah atau nanggung, sikap kami terhadap kucing mungkin antara guilty pleasure dan buah simalakama. Enggak diberi makan, kasihan. Diberi makan, hitung-hitung sedekah tapi malah mengakibatkan kebergantungan.

Sabtu, 28 September 2019

Habibie & Ainun

Gambar dari Goodreads
Baru-baru ini, setelah Pak Habibie menyusul Bu Ainun ke "alam dan dimensi baru", ibu saya membawa pulang buku ini dari perpustakaan sekolah tempatnya bekerja. Saya takjub karena mengira ibu saya sebetulnya sudah punya buku ini. Saya merasa sudah pernah membacanya--seperti baru kemarin. Tapi ibu saya menyangkal, sehingga saya pikir sepertinya dulu saya membaca buku ini dari meminjam punya teman kampus. Mestilah waktu itu sekitar tahun 2010 atau mungkin juga 2011, ketika Bu Ainun belum lama meninggal dan buku ini baru terbit. Saya enggak ingat kesan pembacaan saya waktu itu, dan malas mengubrak-abrik kardus untuk mencari catatannya. Saya pun memutuskan untuk membaca ulang buku ini.


Lagi pula, ketika mendengar berita bahwa Pak Habibie telah dipanggil pulang untuk selama-lamanya, entah kenapa saya merasa sedih. Saya merasa tidak pernah secara pribadi mengidolakan beliau. Saya tidak berminat pada industri kepesawatterbangan karena menghasilkan banyak jejak karbon. Namun beliau seperti legenda, mungkin juga akibat sebuah lagu anak-anak yang dinyanyikan Joshua pada era '90-an lampau diam-diam terpatri di alam bawah sadar saya: "Cita-citaku ... uwu uwu ... pengin jadi profesor ... bikin pesawat terbang ... seperti Pak Habibie." Sehari setelah berita tersebut, saya lihat, baik di halaman depan rumah saya maupun tetangga, terpasang bendera setengah tiang: seorang pahlawan telah pergi.

Baru bab-bab awal, saya sudah mendapat kesan bahwa membaca buku ini seperti bermimpi. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap kedua mendiang, kehidupan yang ditampilkannya sungguh glamor dan romantis. Terus terang, rasanya seperti membaca novel Wattpad. Tapi nilai plus dari buku ini adalah: ini riil. Yang menulis bukan remaja ababil, melainkan seorang pakar dan pemimpin besar yang kualitasnya benar-benar diakui dunia internasional.

Perasaan saya berkecamuk, lebih karena berperang dengan daya kritis saya sendiri ketimbang akibat larut dalam cerita Pak Habibie. Saya pikir tidak sepantasnya saya menggunakan daya kritis saya terhadap buku ini. Yah, sebetulnya, ketika menghadapi novel-novel dream-like di platform-platform kepenulisan digital pun saya sudah sadar bahwa tidak ada gunanya mengusik mimpi indah orang lain. Tapi, khusus untuk buku ini, alasannya lebih karena beliau adalah tokoh nyata yang sepantasnya dihormati--seolah-olah beliau sungguh-sungguh hadir di hadapan saya menceritakan isi buku ini secara langsung kepada saya sementara saya membacanya. Apa pun yang dikatakan orang tua, saya yang masih tergolong muda sudah sepatutnya mendengarkan saja dan cukuplah mengambil nilai-nilai positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan saya sendiri, tanpa membanding-bandingkan kenyataan bahwa latar belakang beliau (berikut Bu Ainun) lain daripada kebanyakan orang.

Selain itu, sudah sepatutnya terhadap orang yang meninggal kita hanya membicarakan kebaikannya saja.

Karena saya perempuan, nilai-nilai positif tersebut cenderung diambil dari sosok Bu Ainun sebagaimana digambarkan oleh Pak Habibie. Kecantikan, kecerdasan, dan keluarga asal Bu Ainun (yang tentunya berperanan dalam mengarahkan nasib beliau sejak lahir hingga menikah dengan Pak Habibie) kiranya merupakan privilese--pemberian Tuhan khusus bagi orang tertentu--yang tak bisa diganggu gugat. Terlepas dari itu, paling tidak ada beberapa hal yang masih dapat diupayakan oleh perempuan kebanyakan.

1. Menjadi istri yang berbakti, mendukung karier suami dan mengutamakan kepentingannya, selalu memberikan senyum, menguatkan, melayani, dan bersabar apa pun yang terjadi.
2. Sangat religius, banyak membaca Alquran dan berdoa.
3. Selfless, berjiwa sosial tinggi--yang sepertinya faktor bawaan juga sih; ada sebab-sebabnya beliau berminat menjadi dokter anak.

Kebetulan, sebelum buku ini, saya membaca buku The Good Father: Kiat Lengkap Menjadi Ayah Teladan. Isinya, secara garis besar, memaparkan pentingnya peran ayah dalam keluarga, baik secara fisik maupun emosional. Sehubungan dengan buku tersebut, dalam bukunya, Pak Habibie mengungkapkan kurangnya waktu beliau untuk keluarga. Meski begitu, sebagai seorang teknorat kelas dunia, agaknya beliau benar-benar ahli dalam menggunakan sumber daya--termasuk waktu--seefektif dan seefisien mungkin. Betapapun sedikitnya waktu beliau untuk keluarga, bisa jadi kualitasnya sungguh maksimal. Wallahualam.

Akibatnya, saya jadi berpikir ulang mengenai alokasi waktu orang tua untuk anak. Hal-hal yang dilakukan Pak Habibie dan Bu Ainun semasa hidup mereka sepertinya dibaktikan untuk kepentingan negara, atau mungkin istilahnya for the greater good, bahkan hampir-hampir dengan mengorbankan kesehatan sendiri. Hal ini mengingatkan saya pada jihad, meski beliau sama sekali tidak menggunakan istilah tersebut dalam buku ini. Ketika tiba panggilan jihad, semua-muanya harus rela dikorbankan, termasuk harta dan keluarga. Tapi kan beliau tidak berkekurangan harta. Rasulullah SAW sendiri besar tanpa kehadiran orang tua kandung, meskipun beliau sepertinya memiliki sosok-sosok lain sebagai pengganti dan keadaan pendidikan anak pada masa itu kiranya berbeda dengan masa belakangan. Kalau gegabah, bisa-bisa kita berpikiran bahwa alokasi waktu untuk anak mungkin tidak penting amat apabila orang tuanya bekerja untuk "kepentingan yang lebih besar". Atau malah, jangan-jangan, sentimentalitas hubungan orang tua dengan anak itu hanya propaganda Yahudi agar orang pada mengabaikan "kepentingan yang lebih besar". Adakalanya suatu hal tidak bisa ditentukan secara mutlak, atau akibatnya berbeda-beda bagi tiap-tiap orang.

Bab-bab yang menarik bagi saya dalam buku ini di antaranya yang menunjukkan bahwa Pak Habibie ternyata bisa lugu juga--khususnya ketika beliau masih muda. Contohnya yaitu ketika teman-teman Bu Ainun berkelakar bahwa Pak Habibie memikat Bu Ainun dengan "cara Jerman", dan Pak Habibie baru paham maksudnya ketika anak pertama mereka lahir. Contoh lain yaitu ketika beliau meminta kenaikan gaji dari DM 1.300 menjadi DM 1.500, padahal untuk posisinya beliau sepantasnya mendapat DM 2.500.

Yang enggak kalah menggelikan adalah ketika beliau bertemu dengan Presiden Soeharto pada 1974--45 tahun yang lalu. Keduanya saling menyampaikan aspirasi mengenai pembangunan Indonesia--utamanya SDM--yang sedihnya, hingga kini sepertinya masih menjadi wacana; begitu pula soal citra buruk kaum muslim sebagai mayoritas di negara ini--malah kini ada istilah "sumbu pendek" untuk menyebut sekumpulan orang berkedok religius yang suka mengacau. Yang sungguh lucu, di penghujung pertemuan mereka, ada kalimat begini:
Setelah menyampaikan butir-butir tersebut, Pak Harto bersikap rileks dan santai, seakan-akan melepaskan beban kepada generasi yang akan datang. (halaman 87)
Entah apakah di sini Pak Habibie sedang mengeluarkan sisi lugunya, atau diam-diam menyindir. Soalnya, saya jadi ingat pada bencana karhutla yang akhir-akhir ini melanda sejumlah daerah dan mengakibatkan banyak korban. CMIIW, lahan gambut yang sebaiknya tidak diutak-atik pada masa Orde Baru malah dibuka dengan nama Proyek Lahan Gambut Satu Juta Hektar. Agaknya itu salah satu penyebab kebakaran saat musim kering, karena rentannya kandungan gambut. (Maaf, saya kurang tahu ilmunya.)

Buku ini ditutup dengan bagus, menurut saya, dengan penjelasan mengenai relativitas waktu, bagaimana kehidupan di dunia ini ternyata sungguh singkat saja dibandingkan dengan "waktu" Tuhan. Di sini baru saya bisa relate.

Jumat, 27 September 2019

Mulai Belajar Menggambar dan Mewarnai dengan Buku untuk Anak TK/PAUD--Berapa Pun Usiamu

Semasa kuliah, saya berpikiran untuk meneruskan berlatih menggambar. Bukan berarti sebelumnya saya pernah rutin berlatih menggambar sih. Cuma sewaktu SMP sepertinya saya cukup sering menggambar, sampai berangan-angan muluk jadi mangka yang bekerja di Jepang.

Tapi rupanya saya enggak punya cukup passion dalam kegiatan ini sehingga bisa konsisten mencoba atau mencari sebanyak-banyaknya referensi. Saya menggambar sesekali atau sesukanya saja.

Ketika kuliah timbul pikiran untuk memulai lagi, saya mencari panduan, mulai dari internet (waktu itu Youtube belum sepopuler sekarang) hingga Buku Besar Menggambar terbitan Erlangga, meniru model di majalah, juga membeli buku gambar A3 beserta berbagai alat mewarnai.

Tapi, panduan yang saya peroleh agaknya kurang menarik atau terlalu kompleks. Saya pikir saya bisa mulai menggambar dan mewarnai asal saja. Saya pun mencoba. Karena hasilnya jelek, saya tidak tertarik untuk meneruskan.

Di samping itu, sepertinya saya enggak memiliki tujuan yang cukup kuat untuk menjaga kegiatan itu agar terus berlangsung. Sepertinya tujuan saya menggambar hanya untuk bersenang-senang. Tapi, kita tahu, betapapun banyaknya kesenangan di dunia ini, sesungguhnya semua itu fana. (#apasih)

Baru-baru ini, lama setelah saya bukan lagi mahasiswi, timbul kembali pikiran untuk kembali menggambar--belajar menggambar. Kali ini, saya punya tujuan--please, jangan ketawa: bikin kover buku sendiri. Memang, enggak semuluk jadi mangaka yang bekerja di Jepang. Soalnya, platform kepenulisan digital sekarang ini menuntut penulis untuk sekaligus menjadi desainer grafis.

Maksudnya, kalau kita mau memajang tulisan di platform semacam itu, sebaiknya kita menampilkan kover yang menarik pengunjung untuk mengeklik. Don't judge book by its cover itu bullshit. Beberapa teman telah mengajukan beberapa masukan soal kover. Tapi saya merasa tidak bisa mengandalkan aplikasi ataupun membayar orang untuk itu. Ekspektasi saya membubung: kalau saya mesti merancang kover sendiri, maka kover itu mestilah meaningful--paling enggak, dapat memberikan gambaran mengenai isi cerita, bukan soal estetika semata. Aplikasi paling-paling memberikan gambar yang begitu-begitu saja, sementara saya segan meminta bantuan orang lain agar dapat memenuhi selera saya (rewel sih).

Resolusi: sebaiknya saya belajar mendesain kover sendiri.

Oke, mungkin itu gagasan yang konyol.

Tapi, di samping tujuan praktis sebagaimana di atas, ada motivasi lain, sehubungan dengan cerita yang lagi berkembang di dalam kepala saya, yang sudah saya utarakan di sini. Saya pikir, untuk mendalami seseorang yang suka menggambar, sebaiknya saya juga menggambar, apalagi dulu memang saya pernah suka menggambar. Jadi, ini sekadar melanjutkan hobi yang tersendat-sendat.

Ditambah lagi, waktu saya leluasa. Karena menggambar merupakan kegiatan hidup yang enggak penting amat (paling enggak, bagi saya yang baru memulai dan sama sekali bukan profesional), maka saya menempatkan waktunya di akhir hari--satu jam sebelum tidur.

Jadi, mulai dari mana?

Di Youtube ada banyak video yang menerangkan tentang dasar-dasar menggambar dan mewarnai. Saya bisa memutar satu video sehari, lalu mempraktikkan yang ditunjukkan. Tapi, rekomendasi video di Youtube cenderung random, iya enggak sih?

Sejak kapan beberapa teman telah merekomendasikan aplikasi Ipusnas kepada saya, namun baru belakangan ada sesuatu dari dalam diri saya sendiri (#apasih) yang mendorong saya untuk memanfaatkannya. Iseng saya masukkan kata kunci 'menggambar' di kolom pencarian dan menemukan daftar buku terkait. Memindai judul-judulnya, saya pun mengeklik buku teratas yang kiranya paling mudah untuk dipraktikkan.

Gambar diambil dari sini.
Buku ini ditulis oleh Inda Nashira, diberi ilustrasi oleh Pandu Dharma, dan diterbitkan Penerbit Zikrul Hakim Lini Gurita cetakan 1, Maret 2014. Karena labelnya "Usia 3+ Tahun", bukan "Usia 3-7 Tahun" atau semacam itu, maka enggak apa-apa dong yang 2*sensor* tahun memanfaatkan buku ini juga?

Saya pun mengunduhnya. Setelah melihat-lihat isinya, perkiraan saya tepat. Buku ini menunjukkan langkah yang sesimpel-simpelnya untuk menggambar aneka hewan, dimulai dari bentuk geometris dasar seperti lingkaran, segitiga, atau persegi panjang, kemudian tambahkan garis-garis lainnya hingga dalam beberapa tahap saja sudah menyerupai wujud yang dimaksudkan.

Karena pada awalnya saya belum siap menggunakan pewarna (tadinya saya ingin belajar menggunakan cat air saja), saya pun mengikuti setiap langkah hanya dengan pensil dan notebook (yang belum saya isi lagi sejak SMA) sebagai berikut.




Tidak disangka, saya merasakan nikmat dalam menarik setiap garis. Kalau tanpa panduan, saya mungkin akan cepat menyerah karena hasilnya akan terlalu abstrak. Dengan panduan, walaupun hasilnya enggak mirip amat dengan yang dicontohkan, sedikit kemiripan rupanya cukup untuk menerbitkan kebanggaan tersendiri.

Saya pun mulai memerhatikan tulisan pada "Kata Pengantar" dan "Petunjuk Orang Tua".

Rupanya kegiatan menggambar ini memiliki beberapa manfaat:
  • melatih kelenturan otot jari tangan dan koordinasi motorik halus, serta
  • membantu mengembangkan imajinasi dan otak.
Hei, tapi kan itu untuk anak-anak TK dan PAUD.

Tapi, tapi, tapi, apakah saya sebagai orang "dewasa" yang berusia sekitar tujuh kali lipat dari anak-anak TK dan PAUD tidak boleh terus melatih kelenturan otot jari tangan dan koordinasi motorik halus serta mengembangkan imajinasi dan otak? Apakah saya tidak berhak terus mengembangkan aspek-aspek kemampuan saya?

Apalagi ini didukung oleh Undang-undang, Pasal 31 (sebelum amandemen) Ayat (1): Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Setelah amandemen, kata "pengajaran" diganti dengan "pendidikan", dengan alasan bahwa pengertian yang pertama lebih sempit daripada yang kedua, tapi toh khusus untuk hal ini saya lebih suka kata yang pertama--"pengajaran" menggambar!

Di "Petunjuk Orang Tua", rupanya alat yang disarankan untuk menggambar adalah krayon.

Sebetulnya saya enggak suka krayon, karena rujit. Selain itu, saya enggak begitu terbiasa menggunakannya sehingga sepertinya hasilnya enggak bakal tampak indah. Tapi apa boleh buat. Lagi pula di rumah tersedia banyak krayon bekas yang campur aduk dari berbagai merek: Crayola, Faber Castell, Pentel .... Ada yang berukuran besar, ada pula yang kecil. Saya memilih krayon yang berukuran kecil saja.

Karena menggambar dengan menggunakan krayon sepertinya memerlukan kertas tebal, maka saya pun menggunakan buku sketsa A5 Kiky isi 50 lembar yang--alhamdulillah--juga sudah tersedia beberapa secara cuma-cuma di rumah. Buku tersebut bekas adik saya sehingga sebagian besar halamannya sudah terisi oleh coretan pensil keababil-ababilan, namun masih terdapat beberapa yang kosong dan layak untuk dimanfaatkan daripada mubazir--iya enggak, iya enggak?

Seperti sebelumnya, saya memulai sesuai dengan urutan halaman, yang dimulai dari ayam jago.

Karena masih enggak yakin dengan krayon, untuk membuat garis luar pada awalnya saya menggunakan spidol hitam untuk papan tulis.

Ternyata kertas buku sketsa enggak cukup tebal karena warna masih bisa tembus ke baliknya.



Ketika menggambar ayam jago ini, saya mendengar penggalan lagu yang berhubungan. Untuk meramaikan pemandangan, saya tuliskan saja liriknya. Walau sedang belajar mengembangkan media yang berbeda (visual), rupanya saya masih belum bisa jauh-jauh dari kata (verbal).


Mendengar penggalan lagu yang berhubungan rupanya terus terjadi sementara saya menggambar binatang yang lain. Terus saya tuliskan liriknya yang saya ingat.



Karena spidol hitam-untuk-papan-tulis yang tersedia di meja saya sudah menipis, maka saya berpikiran untuk menggunakan spidol biasa warna-warni--bekas--yang juga tersedia banyak di rumah.

Maka beginilah pemandangan saya setiap malam belakangan ini. Untuk menghindari kesulitan tidur, sudah lama, setelah magrib, saya hanya menyalakan lampu meja yang remang-remang. Memang akibatnya kadang-kadang tidak begitu mudah membedakan warna--terutama warna-warna gelap atau yang terlalu cerah seperti kuning--juga tidak awas terhadap garis. Tapi keuntungannya: enggak terang amat kalau hasilnya jelek.

Spidol di kanan. Krayon di kiri. Tablet yang memuat buku digital sebagai panduan.
Buku sketsa di tengah-tengah.
Pada awalnya saya sekadar memberikan warna, mau bagaimanapun caranya. Tapi kemudian saya berpikir bahwa jangan-jangan ada petunjuk tentang cara menggunakan krayon yang baik dan benar, alih-alih asal mewarnai. Practice makes perfect, they say. But improper way of practice would lead you nowhere (seperti yang telah terjadi dengan menulis). 

Maka saya pun memulai slot yang satu jam dengan menonton satu video Youtube tentang cara menggunakan krayon, atau belakangan sekadar memandangi tangan orang melukis pemandangan dengan oil pastel (yang selama ini saya anggap sama saja dengan krayon). Saya baru mengetahui bahwa ternyata krayon perlu ditekan kuat-kuat, jangan sampai menyisakan yang "putih-putih", dan arah goresan sebaiknya konsisten. Di samping itu, ada trik-trik untuk mencampur warna-warni krayon agar terlihat halus, misalkan dengan menggunakan cotton bud yang telah dibasahi baby oil atau lipatan tisu, juga cara membersihkan hasil dari residu krayon dengan alat tertentu.

Sementara ini, yang saya praktikkan baru menyingkirkan residu dengan tisu dan menekan krayon kuat-kuat ternyata perlu tenaga ekstra!



Soal mewarnai, saya hampir-hampir enggak pernah tertarik untuk membeli buku mewarnai ala-ala mandala yang katanya terapeutik itu. Buat saya, sepertinya buku semacam itu malah bakal berefek sebaliknya: menjengkelkan. Soalnya, saya tahu saya enggak pandai mewarnai. Sebelum ini, bertahun-tahun lalu, ketika orang tua masih berlangganan Pikiran Rakyat yang mengandung Peer Kecil setiap Minggu, saya pernah mencoba mewarnai gambar yang tersedia untuk diwarnai dan dikirimkan ke redaksi (tentu saja saya enggak mengirimkannya, gile lu, Ndro!). Saat itu saya menggunakan pensil warna dan hasilnya sungguh tidak memuaskan, meskipun sampai sekarang masih saya pajang di dinding kamar. Saya enggak suka mewarnai karena bingung memilih/memadumadankan warna. Maka dalam kegiatan ini, saking enggak kreatifnya saya, setiap warna yang saya bubuhkan pada gambar mengikuti saja yang dicontohkan dalam buku.

Di sisi lain, saya suka bahwa saya mesti menggambar dulu untuk bisa mewarnai. Betapapun enggak kreatifnya saya sesudah itu, paling tidak saya masih dapat terlibat dalam suatu "aspek penciptaan". Saya mungkin tidak kreatif dalam memadumadankan warna, tapi sepertinya saya suka dapat menciptakan bentuk--atau malah pada dasarnya adalah konsep, seperti sewaktu saya mengusulkan format buku tahunan untuk kelas saya saat SMA tapi mengenai isinya bagaimana saya serahkan kepada yang lain-lain.

Hence, with this book, drawing and coloring have never been so fun! Namanya pemula yang tidak tahu arah, cara paling aman adalah dengan menirukan saja, tapi buku ini menginstruksikan agar tetap ada kesempatan untuk mencipta sendiri.

Iya, iya, harusnya "cicak".
Omong-omong, saya enggak selalu menemukan lagu pengiring untuk setiap binatang yang saya gambar.



Adakalanya saya berpikir, "Anak TK aja masih bisa lebih bagus daripada ini." Tapi, hei, saya enggak lagi mengikuti lomba menggambar dan mewarnai bareng anak-anak TK. Lagi pula, buku ini menyarankan agar orang tua memberikan pujian pada anak jika dapat menyelesaikan latihannya dengan baik. Dengan baik, kan, bukan dengan bagus. (#ngeles) (Walau entah juga pengertian baik itu yang bagaimana.)

Tapi anak yang satu ini skeptis bila dipuji.


Lagu pengiring yang saya dengar enggak selalu memuat binatang yang bersangkutan dalam lirik. Contohnya untuk beruang. Saya hanya ingat di videoklip The Dears, "22 The Death of All The Romance" sepertinya ada (boneka) beruang. Karena enggak ada lirik yang berhubungan, maka saya cantumkan saja kata atau frasa yang melintas bak meteor.





Lagi-lagi, lagu yang disambung-sambungin aja.


Sampai pada suatu waktu, saya berpikir, daripada mendengarkan musik yang katanya haram (#eh) kenapa enggak mendengarkan kajian saja? Atau apalah, pokoknya yang ada orang bicara memberikan pengetahuan. Sepertinya itu akan menjadikan aktivitas menggambar lebih berfaedah. Maka saya pun menyetel video-video dari channel Kuliah Psikologi. Rupanya ada perbedaan suasana yang signifikan. Terus terang, saya merasa lebih asyik dan imajinasi saya lebih "main" (padahal cuma meniru persis seperti yang ada di buku) saat mendengarkan lagu ketimbang kuliah. Mendengarkan kuliah tidak memunculkan apa-apa di kepala saya yang dapat saya tambahkan di kertas.






Di satu sisi, kegiatan ini mengasyikkan, seperti membiarkan inner child saya keluar dan berekspresi, tanpa khawatir atau takut akan salah atau diejek. Di sisi lain, keasyikan tersebut agaknya ternyata guilty pleasure; di saat orang-orang "dewasa" sebaya saya, pada waktu yang sama, tengah mengganti popok anak bayinya, atau menghitung cash flow usaha daringnya, saya malah melakukan aktivitas yang "tidak produktif" (entahkah secara finansial ataupun seksual, dua hal yang sepertinya, selayaknya, mengisi kehidupan seorang dewasa "normal"). Nah, I am mere a girl inside and girls just wanna have fun!


Tapi, tapi, tapi, seandainya pada usia ini saya sudah punya anak usia TK atau PAUD, tentunya saya tidak akan melakukan aktivitas ini sendirian; tentu mengasyikkan sekaligus edukatif jika kami bisa menggambar sekalian menyanyi bersama-sama (dan kalau ternyata gambar dia lebih bagus saya enggak bakal mengambek sambil menjejak-jejakkan kaki). Maybe I am just nurturing a child that should have been there.






Sayangnya, untuk lagu tentang katak (sebenarnya "kodok) yang muncul di kepala saya, saya tidak bisa menemukannya di Youtube. Kalau enggak salah, lagu itu dinyanyikan seorang penyanyi anak-anak tahun '90-an bernama Sofi (entah benar cara menuliskannya atau enggak).

Katak adalah binatang terakhir dalam buku ini. Di halaman berikutnya ada latihan dengan petunjuk agar memberikan tanda centang pada binatang berkaki dua dan tanda silang pada binatang berkaki empat. 

Jadi, berapa banyakkah binatang yang ada dalam buku ini? Mana yang berkaki dua dan mana yang berkaki empat?

Saya senang bisa mengerjakan semua latihan--kecuali yang terakhir, tentu saja--dalam buku ini. Kalau ada rezeki, sepertinya lebih baik memiliki buku cetaknya daripada meminjam versi digital di aplikasi Ipusnas. Pertimbangan:
  1. Ukuran buku ini sampai 80 MB, jauh lebih besar daripada buku-buku lainnya di Ipusnas. Makan waktu agak lama untuk mengunduh dan membukanya.
  2. Waktu peminjaman terbatas. Setelah tiga hari, buku ini akan menghilang dan perlu diunduh ulang yang butuh kesabaran lagi.
  3. Kalau saya punya anak, sepertinya sebisa mungkin saya ingin menjauhkan dia dari paparan media digital (yang adiktif itu!) pada tahun-tahun awalnya.
Karena untuk kepentingan sendiri, saya cukup puas dengan yang disediakan Ipusnas. Terima kasih Ipusnas. Saya siap memanfaatkanmu untuk seterusnya, hihihi. Untuk sementara, dalam belajar menggambar dan mewarnai dengan memanfaatkan sarana ini, sepertinya saya akan meminjam buku-buku yang simpel semacam ini dulu (: untuk anak TK dan PAUD) baru beranjak ke buku-buku yang mulai kompleks.

Rabu, 18 September 2019

The Good Father: Kiat Lengkap Menjadi Ayah Teladan

Gambar dari Goodreads
Saya butuh belasan jam (atau sekitar dua minggu kalau pembacaan dilakukan satu jam setiap malam) untuk menghabiskan buku setebal 532 halaman ini. Secara keseluruhan buku ini bagus, memberikan pemaparan secara panjang-lebar, disertai petunjuk-petunjuk praktis. Bahasa terjemahannya mudah dan luwes meskipun ada beberapa frasa yang agaknya terlalu literal? (Contoh: "terbakar" di halaman 47 sepertinya padanan dari "
burn-out"--bagaimana kalau "kewalahan"? Contoh lain: "perguruan tinggi seni yang bebas" (halaman 67) jangan-jangan dari "liberal art college"--bagaimana kalau "kampus ilmu budaya"? Frasa "menundukkan kepala ke tanah" di halaman 68 juga terasa aneh.)

Saya berharap bisa mendapatkan hal-hal tertentu dari buku ini. Namun sayangnya ternyata saya kurang bisa mengaitkan diri. Mungkinkah karena saya bukan lelaki? Atau mungkinkah karena orang cenderung lebih suka membiarkan saja hal yang terlalu intim? Saran-saran dalam buku ini, misalkan agar berbicara dari hati ke hati dengan ayah sendiri, memerlukan kesungguhan hati pembaca untuk benar-benar mempraktikkannya. Kalaupun pembaca sudah bertekad, belum tentu ayah sendiri berkenan membicarakannya. Bisa dibilang, ini isu yang terlalu sensitif. Yah, memang enggak sesensitif isu SARA dan sebagainya. Dampaknya lebih pada pribadi saja, tapi bapernya itu lo, enggak nahan. Apalagi laki-laki cenderung lebih suka menutupi perasaannya. (Iya, kan? Iya, kan?)

Padahal sosok ayah ternyata berperan besar dalam perkembangan jiwa seorang anak, dan dapat menentukan akan menjadi orang tua seperti apakah dia nanti. Apalagi di era kesetaraan gender ini, ketika pria dituntut agar lebih terlibat dalam urusan domestik, caranya berkomunikasi dengan anak pun mendapat sorotan penting. Ketidakhadiran ayah--entahkah secara fisik atau psikis--atau hadir namun memberikan contoh buruk, dapat menjadikan anak pribadi yang bermasalah. Ini menjadi PR bagi sebagian orang yang masih terjebak dalam pola tradisional, di mana urusan rumah tangga--utamanya mendidik anak--cenderung diserahkan kepada perempuan/ibu saja. Kalau dikaitkan dengan konteks keagamaan, memang lelaki sebagai imam seyogianya bertanggung jawab dalam pendidikan semua anggota keluarga.

Bagi pembaca perempuan seperti saya, buku ini dapat memberikan pengetahuan mengenai sudut pandang laki-laki. (Meskipun sebagian di antaranya sudah saya ketahui dari buku lain, Boys Adrift: The Five Factors Driving the Growing Epidemic of Unmotivated Boys and Underachieving Young Men ). Buku ini juga seperti hendak menanamkan empati kepada pria--karena bukan hanya wanita yang butuh dimengerti, bukan hanya wanita yang dapat dizalimi. Hanya saja cara lelaki dalam mengekspresikan rasa hatinya berbeda dari perempuan.

Secara pribadi, melalui buku ini, saya coba menerka serba-serbi tentang ayah saya sendiri. Karena terlalu segan untuk mengoreknya secara langsung, saya hanya dapat mengandalkan ingatan berikut fakta yang hanya sepintas lalu saya dengar dari sana-sini namun ternyata, sepertinya, berperan penting dalam menentukan arah hidup saya--membentuk saya menjadi sebagaimana kini.

Selasa, 17 September 2019

Deteksi Dini Psikologi Balita hingga Lansia

Gambar dari Goodreads
Seperti yang tertera pada judulnya, ini merupakan buku tentang psikologi perkembangan. Bisa dibilang buku ini merupakan ringkasan dari buku-buku teks tebal (lihat daftar pustaka sepanjang 1,5 halaman yang hampir semuanya buku berbahasa Indonesia), atau malah catatan kuliah (lihat pengantar). Memang buku ini digarap ketika penulisnya masih mahasiswi jurusan psikologi. Hal ini menimbulkan ilham bahwa sesungguhnya jika kita rajin mencatat kuliah, dalam satu semester kita sudah dapat menghasilkan satu buku--tentunya tidak dengan hanya mengandalkan ceramah dosen, tapi juga ditunjang buku-buku teks dari mana-mana.


Agar dapat diterima oleh pembaca awam, tentunya ringkasan kuliah itu perlu dikemas dalam bahasa yang enak, seperti mengajak bercakap-cakap--walaupun sebenarnya satu arah. Libatkan pembaca dengan memberikan fitur yang bernilai praktis, misalnya tabel checklist. Apalagi kalau topiknya relatable bagi semua orang, seperti psikologi perkembangan ini, buku tersebut kemungkinan besar dapat diterima penerbit mayor.

Fase perkembangan manusia kurang lebih digolongkan menjadi: bayi, anak-anak, remaja, dewasa muda, dewasa madya, dan dewasa akhir. Dalam tiap-tiap fase mungkin terdapat gangguan tertentu, misalkan gangguan belajar pada fase anak-anak atau gangguan kejiwaan pada fase dewasa. Buku ini dibuka dengan menerangkan tentang gangguan-gangguan tersebut terlebih dahulu, sebelum menjabarkan tentang perkembangan yang normal. Dalam tiap-tiap fase disediakan tabel checklist untuk mengecek sendiri poin-poin perkembangan yang normal itu, baik kepada anak, diri sendiri, atau malah orang tua yang sudah lanjut usia.

Buku ini cenderung ditujukan pada kalangan dewasa muda (18-40 tahun), yang berarti pembaca baru beranjak dewasa, atau baru akan menikah, atau baru punya anak, atau anaknya baru beranjak remaja. Bagi yang baru beranjak dewasa, buku ini dapat menjawab pertanyaan poin-poin perkembangan apa saja yang mesti dicapai agar menjadi orang dewasa yang normal. Adapun bagi yang baru menjadi ayah-bunda, buku ini menjadi panduan untuk memantau perkembangan anak. Apabila terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan tabel, harap berkonsultasi kepada ahli.

Buku ini juga memberikan peringatan agar mempersiapkan masa tua sedini mungkin, di antaranya dengan menjaga pola hidup sehat (: sarapan, puasa dua kali seminggu, olahraga, dan sebagainya).

Buat saya pribadi, ini buku yang sangat bermanfaat karena memberikan keterangan yang relatable dan dapat dijadikan acuan.

Selain itu, buku ini ringan, dapat ditamatkan dalam 1,5 jam saja, dan tersedia secara cuma-cuma di aplikasi iPusnas. Saya pikir buku ini cocok bagi audiens Indonesia yang kiranya enggak suka yang berat-berat serta banyak teori.

Kekurangan buku ini paling-paling dalam penyuntingan: typo, tidak adanya sumber gambar (--sebagian kemungkinan dokumentasi pribadi, tapi sebagian yang lain sepertinya berasal dari sumber tertentu--), serta bahasa di tabel adakalanya kurang mulus.

Senin, 16 September 2019

Sakit, Lah, Dekh, Donk, Weew! (Lupus Kecil #5)

Gambar dari Goodreads.
Saya membaca buku ini dengan meminjam dari aplikasi iPusnas. Kalau dalam pembacaan buku-buku
Lupus Kecil sebelumnya (yang berupa buku cetak dan sudah saya tulis pembacaannya di Goodreads) saya cenderung serius dan mengkritisi, dengan buku kali ini saya cenderung santai dan menikmati saja. Mungkin karena pembacaan kali ini dalam format digital--di tablet--sehingga lebih leluasa memegangnya, istilahnya mah bisa sambil akrobat di kasur. Selain itu, biasanya saya membaca buku cetak saat malam dengan lampu remang-remang, sehingga hanya bisa dilakukan sambil duduk di balik meja yang otomatis membuat pembacaan jadi berkesan serius. Lain suasananya dengan kalau dilakukan sambil tiduran di kasur saat siang akhir pekan, tanpa lebih dulu menyiapkan alat tulis untuk mencatat pembacaan.

Seyogianya iPusnas menyediakan buku digital legal yang terjamin kualitasnya. Seenggaknya, sewaktu saya menghadiri salah satu talk show di Bandung Readers Festival (8 September 2019) kemarin, seorang pembicara dari sebuah penerbit besar mengatakan bahwa demikianlah kelebihan buku digital legal. Tapi, di buku cetakan ketujuh (September 2002) yang disediakan iPusnas ini masih ada kekurangan, yaitu di halaman 45-47, Cerita 3 "Adu Celengan", ketika Lupus diantar Pepno datang ke kantor redaksi majalah Kawanku dan bertemu seorang wanita berambut mirip Kitaro, setelah halaman ilustrasi, sepertinya ada teks yang terpotong sehingga tahu-tahu loncat ke adegan Lupus telah menjadi foto model.

Anyway, terlepas dari permasalahan yang satu itu, secara keseluruhan buku berisi 10 cerita ini oke, berhasil bikin ketawa, dan bisa ditamatkan dalam 1,5 jam saja.

Sama seperti buku-buku Lupus Kecil lainnya yang sudah saya baca, di buku kali ini kita bisa mendapatkan informasi mengenai tren era '90-an, lelucon-lelucon absurd bahkan slapstick, kenakalan anak-anak, beragam fenomena sosial yang agaknya tak peduli zaman, berikut pesan-pesan moral--hal-hal yang baru kena ketika sudah dewasa(?). Malah, sebenarnya saya sudah pernah membaca buku ini sewaktu SD--kepunyaan sepupu--tapi sama sekali enggak ingat isinya.

Di buku ini juga sudah ada Winur--gebetan Lupus. Disebutkan juga bahwa Lupus sudah berjerawat. Tapi enggak ada keterangan di sini Lupus sudah kelas berapa SD. Saya sendiri baru berjerawat ketika kelas 6 SD.

Di buku yang cetakan pertamanya Agustus 1993 ini, TVRI masih menjadi sumber tontonan andalan, dengan "program-program acara"-nya seperti Dari Desa ke Desa dan MacGyver. Tamiya juga sudah ada pada masa itu. Entah apakah untuk cetakan ketujuh yang terbit pada September 2002 diadakan perubahan yang menyesuaikan dengan zaman. Toh di Cerita 5, "Pada Suatu Natal dan Tahun Baru", disebutkan dengan jelas latar waktu yaitu akhir tahun '92.

Fenomena-fenomena sosial yang diangkatnya yaitu:

- Dampak perceraian orang tua terhadap anak (Cerita 4, "Akting, Nih!")
- Ibu tunggal (Cerita 5, "Pada Suatu Natal dan Tahun Baru")
- Guru menyuruh murid beli buku cetak, yang bisa memberatkan orang tua sekaligus menggalaukan anak (Cerita 6, "Buku Lama")
- Pembersihan PKL liar (Cerita 10, "Duit Lebaran")

Seperti yang sudah saya ungkapkan di muka, dalam pembacaan kali ini saya sudah enggak begitu memusingkan kerealistisan cerita ini. Saya justru lebih menyoroti teladan yang bisa diambil.

Terlepas dari berbagai kenakalannya yang lumrah dan kerap bikin risau orang dewasa (contohnya dalam buku ini: memasukkan barang-barang yang bukan uang ke celengan, tawuran sama anak-anak pasar, main petasan sampai bikin orang pingsan), saya mengagumi kecerdikan, kebijaksanaan, dan kemandirian Lupus untuk ukuran anak-anak. Misalnya, sebagai anak SD, dia mampu bepergian sendiri dengan mikrolet ke pasar loak untuk membeli dan menawar buku bekas. Dia juga sudah punya kesadaran untuk mencari uang, baik dengan cara yang boleh ditiru maupun tidak. Kemandirian dan kepekaan finansial itu saya kira tidak ada pada semua anak. Untuk melengkapi keperluan sekolahnya, sebagian anak mungkin hanya dapat meminta dan diurus oleh orang tuanya. Sebagian anak juga sepenuhnya menjadikan orang tuanya sebagai sumber finansial.

Mami juga dapat menjadi contoh seorang ibu yang asyik lagi kreatif dalam mendidik anak-anaknya.

Ilustrasi dikerjakan oleh Piet Ompong, yang setelah saya googling rupanya merupakan ilustrator untuk buku-buku awal Hilman. Ilustrasinya lucu dan lebih rapi dibandingkan dengan yang ada di buku-buku belakangan, cuma agak "seram" menurut saya. Contohnya ilustrasi untuk Cerita 2, "Menjaga Arisan", sepintas terlihat funky namun ketika dicermati ada dua ibu-ibu yang sedang merokok. Yang satu agak seperti waria dengan bulu kaki dan tanda bintang di bawah dagu yang menyerupai jenggot tanggung, sedangkan yang satu lagi punya tato(?) binaragawan di betis. Sangar, bo! Di latar ilustrasi Cerita 3, "Adu Celengan", juga, terdapat gambar tengkorak yang gigi-giginya mengapit sepuntung rokok(?) dengan tulisan di samping atasnya: "SMOKE'S NEVER DIE". Ironis, mengingat katanya Lupus SMA diciptakan suka mengunyah permen karet sebagai kampanye antirokok. Anyway, saya pikir anak-anak enggak bakal memperhatikan sampai sebegitunya--seperti saya dulu.

Selasa, 10 September 2019

Orang-orang Proyek

Gambar dari Goodreads.
Ingin rasanya saya merekomendasikan buku ini kepada orang-orang, terutama yang
kebanyakan mikir suka baca. Bagi yang sudah bekerja, saya ingin membandingkan antara keadaan di buku ini dan keadaan di tempat kerjanya. Bagi yang belum bekerja, buku ini bisa memberikan gambaran tentang dunia kerja sehingga dapat mulai mempersiapkan mental.

Saya sendiri tertarik membaca buku ini setelah mendengar dari teman yang lebih dulu membacanya. Ia bilang pengalaman dalam buku ini persis seperti yang dialami teman-temannya sendiri yang bekerja di pemerintahan. Padahal sudah dua puluhan tahun sejak Orde Baru tumbang, dan hampir tiga puluh tahun berselang sejak latar waktu dalam buku ini (tahun 1991), tapi budaya demikian rupanya telah menjadi tradisi yang berurat-berakar.

Saya sendiri bisa relate dengan buku ini, di antaranya karena beberapa tahun lalu (2015) pernah mencicipi pekerjaan di dunia konsultan yang bekerja sama dengan suatu kementerian pusat. Permainan proyek seperti itu memang ada, setidaknya begitulah yang diungkapkan oleh orang yang memberi saya pekerjaan. Namun, tanpa sempat mengenal "permainan proyek" itu lebih jauh, saya sudah keburu tidak betah dengan pekerjaan itu, haha.

Karakter Basar (si tokoh utama) sedikit mengingatkan saya kepada teman saya. Memang pekerjaan keduanya berbeda: Basar insinyur sipil yang notabene pemborong sedangkan teman saya pegawai BUMN. Tapi teman saya itu pernah mengungkapkan kemuakannya pada perusahaan (atau birokrasi?--semacam itulah--) dan, seperti Basar, "ingin jadi dosen saja", seolah-olah posisi dosen adalah yang paling "aman".

Basar juga mengingatkan saya kepada ayah saya. Ayah saya juga berusia tiga puluh tahun pada 1991 dan lulusan teknik sipil sebuah PTN (malah saya curiga jangan-jangan Basar satu almamater dengan ayah saya.) Ayah saya pernah bercerita bahwa sebelum diterima di BUMN, beliau sempat bekerja di beberapa kontraktor yang salah satunya cukup besar. Bisa saja sih saya membandingkan pengalaman Basar dengan pengalaman ayah saya sendiri, kalau saja saya dan beliau cukup dekat untuk membicarakan hal semacam itu (#familygoal).

Di samping itu, dalam usia tiga puluh tahun (anggap saja pas) pada 1991, dikatakan bahwa dari pekerjaannya sebagai insinyur sipil yang pemborong, Basar telah dapat memiliki jip tua dan rumah pribadi. Demikian kita tahu bahwa Basar termasuk generasi baby boomer. Tidak disebutkan nominal gaji Basar, tapi anggaplah secara finansial dia berada di level menengah. Kalau boleh kita bandingkan keadaan Basar dengan keadaan sekarang, bagi seorang milenial pada umumnya yang berusia sekitar tiga puluh tahun dengan penghasilan tingkat menengah, apakah mungkin mencapai taraf yang sama (: punya mobil dan rumah pribadi) dengan Basar pada masa itu? Bisa sih, kalau ambil pinjaman (seperti yang dilakukan beberapa teman saya).

Paling tidak, maksud saya buku ini dapat dijadikan referensi akan adanya perbedaan antara masa itu dan masa sekarang. Tradisi perproyekan boleh diturunkan dari generasi ke generasi, tapi untuk kecukupan finansial nanti dulu. Boleh jadi generasi yang dulu makan hati saat jadi eksekutor proyek, kini justru yang jadi pemberi proyek pada generasi yang lebih muda #eh.

Hal lainnya yang saya perhatikan dari buku ini yaitu deskripsi alam serta sudut pandang pria (male point of view/POV).

Bagi yang pernah membaca karya Eyang Ahmad Tohari sebelumnya, contohnya Ronggeng Dukuh Paruk (karena itu satu-satunya yang saya sudah baca, di samping sudah difilmkan), tentu mengenali kekhasan beliau dalam mendeskripsikan alam pedesaan yang sebegitunya. Membaca deskripsi alam bisa jadi kenikmatan sendiri, setidaknya begitulah yang dulu saya rasakan, sebelum tahu bahwa setiap bagian dalam narasi sebaiknya ada fungsinya. Kalau saja ada yang bisa menjelaskan kepada saya apakah deskripsi alam pada karya Ahmad Tohari sekadar pembangun suasana belaka, ataukah jangan-jangan menyiratkan hal tertentu.

Mengenai male POV, sebagai pembaca perempuan, buku ini memberikan cukup insight yang autentik (karena penulisnya laki-laki). Salah satunya adegan ketika Wati hendak menraktir Basar. Basar galau kalau-kalau duit yang Wati hendak pakai untuk menraktir itu berasal dari ayahnya, yang ia tahu merupakan anggota DPRD (: berpotensi makan duit rakyat). Pikir saya, Cowok bisa mikir sampai semenjelimet itu juga. Iyalah (*dikeplak sama cowok).

Contoh yang paling baik ada di Bagian 5, yang menceritakan tentang Yos--pacar Wati. Yos tipikal pemuda galau level maksimal. Sifat penggalaunya sudah tampak sejak keterangan bahwa dia telah dua kali ganti jurusan kuliah--tiga kali ikut UMPTN--sampai menemukan yang cocok. Sementara Wati--pacarnya yang seangkatan--sudah lulus, bekerja, dan ngebet menikah, Yos masih mahasiswa yang bergantung pada orang tua. Kegalauan Yos meningkat saat ia mempertimbangkan untuk memutus hubungan dengan pacarnya. Entahkah sifat penggalaunya ini ada hubungan dengan latar belakang ekonomi keluarganya yang berkecukupan (kosnya dikatakan lumayan, motornya Yamaha RX-King--yang sepertinya kendaraan cowok paling trendi masa itu).

Tapi, segalau-galaunya Yos, sebagai lelaki, ada harga diri yang mesti dia junjung tinggi. Saya pernah baca, tindakan lelaki untuk mempertahankan harga dirinya tidak bisa dilogikakan. Maka Yos pun datang ke tempat kerja Wati untuk berkonfrontasi, dalam hal ini dengan memecahkan gelas sekalian mengatai-ngatai. Meski begitu, Yos rupanya juga seorang gentleman dengan meminta maaf kepada yang empunya tempat (: Basar) atas perbuatannya. Dengan demikian, menurut saya, dengan baik Yos memberikan contoh karakter lelaki yang bisa konyol tapi juga dapat diidealkan ...

... mungkin juga agak berengsek.

Secara keseluruhan, ini buku mudah. Resolusinya relatif membahagiakan (AWAS BOCORAN!!!: semua dapat pasangan, Basar dapat ganti pekerjaan, permainan proyek tidak bisa diapa-apakan, tapi paling tidak Kang Martasatang bisa kembali mencari nafkah dari rakitnya). Kelima bagian dapat ditamatkan dalam empat jam saja.

Baik satire maupun pesan moralnya, hampir semua disampaikan secara gamblang. Bahkan saking blak-blakan satirenya terhadap budaya Orde Baru, enggak heran buku ini pertama kali diterbitkan pada 2002--maksudnya, setelah reformasi. Di samping itu, saking sarat pesan moral, rasanya seperti mendengarkan tuturan seorang eyang kakung idealis berikut segala kearifannya. Mungkin enggak semuanya mengenakkan. Tapi terhadap orang yang jauh lebih tua, mau enggak mau kita mesti mendengarkan karena siapa tahu baru kelak dapat kita pahami maksud dari petuahnya.

Kalaupun ada yang tersirat, saya rasa itu berupa sosok perempuan yang diidealkan penulis, yang terbagi-bagi di antara beberapa tokoh perempuan: mandiri dan pandai berhemat (Biyung), menarik secara penampilan dan pembawaan--manja-manja kenes begitu deh--malah kalau perlu cenderung agresif (Wati), pintar masak (istri Basar), dan punya warung (istri Pak Tarya).

Pembacaan ini terselenggarakan atas sponsor iPusnas. Sudah difasilitasi pemerintah membaca buku digital legal secara cuma-cuma, yuk kita manfaatkan! (Walaupun kadang-kadang masih ada bug sih.)

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain