Minggu, 28 Juli 2019

Terserang si Ehem (Lupus Kecil #8)

Gambar dari Goodreads.
Dari beberapa seri
Lupus Kecil yang saya miliki, belakangan saya mencoba membacanya ulang berdasarkan urutan terbitnya. Sunatan Massal adalah Lupus Kecil paling lawas yang saya miliki (terbit pertama kali Juni 1990), meskipun adanya cetakan yang kelima (Oktober 1997). Setelahnya, ada Terserang Si Ehem dengan cetakan pertama berjarak delapan tahun dari buku satunya itu.

Dalam buku Lupus Kecil kali ini, ada tujuh cerita. Enggak kayak Sunatan Massal yang beberapa cerita sebenarnya masih satu tema, dalam buku ini tiap cerita berdiri sendiri. Selain itu, dalam buku ini Lupus dan Lulu telah berusia masing-masing sepuluh tahun (kelas empat SD) dan sembilan tahun (kelas tiga SD). Adapun di Sunatan Massal , mereka berusia lebih kecil, yaitu masing-masing tujuh tahun dan enam tahun.

Rangkaian joke dan tebak-tebakan di sepanjang buku ini kembali mengingatkan saya pada acara FLP Bandung yang menghadirkan Pak Boim di Bandung Creative Hub, 21 Juli 2019 lalu. Pak Boim mengatakan bahwa seorang penulis harus terbiasa mencatat berbagai hal yang mungkin berguna untuk dijadikan bahan cerita. Apalagi untuk cerita komedi, sesungguhnya ada banyak kelucuan yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Kalau enggak rajin mencatatnya, bisa-bisa kita kehilangan bahan berharga untuk tulisan.

Adakalanya banyolan bersifat aktual pada zamannya. Misalnya saja, dalam halaman 20 buku ini, ada gambar berisi tebak-tebakan:

"Apa bedanya mobil Panther dengan Kijang?"

"Kalau Panther bahan bakarnya solar, Kijang bensin."

"SALAH! Yang bener: Kalo Panther hanya 44 ribu sampe ke Bali, sedang Kijang ada Aa', Tante, Teteh ...."

Anak yang masih terlalu kecil untuk mengingat ketika tebak-tebakan berdasarkan iklan televisi ini ditayangkan, atau malah belum lahir, tentu akan kehilangan konteks. Sekarang, dua puluh tahunan setelah buku ini pertama kali diterbitkan, bisa dibilang Panther dan Kijang sudah ketinggalan zaman. Harga BBM pun sudah naik berlipat-lipat, mana cukup 44 ribu sampai ke Bali.

Contoh lainnya ada di halaman 37. Dalam cerita berjudul "Aksi Waktu Pembagian Rapor" ini, anak-anak ingin memamerkan kekecean orang tua masing-masing pada waktu pembagian rapor hingga taraf hiperbola (pada waktu itu belum ada kata "lebay").
Bahkan denger-dengar Pepno mau menyewa Anang dan Krisdayanti untuk memerankan orang tuanya.
Sayang sekali, saat ini Anang dan Krisdayanti sudah tidak bersama. Padahal hubungan mereka telah diabadikan dalam seri kesukaan anak sejuta umat ini.

Sisi baiknya, buku ini seperti dokumentasi atau memorabilia akan apa-apa yang lagi hip pada waktu diterbitkannya. Lagi pula, contoh-contoh joke yang ketinggalan zaman itu sesungguhnya tidak banyak. 

Saya masih berpendapat bahwa secara keseluruhan ini merupakan buku yang baik untuk dibaca bersama-sama oleh orang tua dan anak sebagai pengantar tidur. Penulisan yang enggak baku seperti "ama", "kalo", dan "udah", bisa menjebak untuk ditiru jika diri ini enggak punya kepedulian yang kuat terhadap aturan berbahasa dalam menulis. 

Memang ada lagi hal-hal lain yang enggak patut ditiru dari buku ini, sebagaimana sudah diwanti-wanti oleh penulis di muka:
Tidak semua tingkah Lupus ini patut kamu contoh, karena Lupus kadang bisa amat bandel. Sifat-sifat yang baik bisa kalian tiru, tapi yang tidak baik dibuang saja. Buat bahan tertawaan.
Misalnya saja, di halaman 27 ketika Mami menyebut Lupus "durhaka".

Selain itu, di halaman 57 ada contoh anak TK yang sudah menaksir cewek.

Hal-hal itu boleh jadi wajar dalam kehidupan nyata. Karena itu, ini menjadi bahan yang menarik untuk didiskusikan oleh orang tua dan anak tiap kali selesai membaca satu cerita Lupus: mana yang boleh ditiru dan mana yang enggak.

Sesungguhnya tiap cerita mengandung pesan moral yang jelas sebagai berikut.

Cerita 1: Untuk kesehatan, jangan pelit.

Cerita 2: Jangan cuma penampilan yang kece, tetapi isi rapor juga dong!

Cerita 3: Melalui momen besar seperti Malam Tahun Baru bersama keluarga, sekaligus bersikap saling pengertian.

Cerita 4 dan 5: Kepedulian sosial terhadap orang yang tak berpunya, sekaligus kritik tersirat akan orang yang punya banyak rumah versus orang yang enggak punya rumah sama sekali.

Cerita 6: Kampanye daur ulang kain bekas dan jangan membuang makanan.

Cerita 7: Walaupun sibuk kerja, sebaiknya bapak-bapak enggak lupa untuk menjaga kekompakan keluarga.

Mungkin, enggak, ya, Lupus Kecil dibikin versi komiknya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain