Sabtu, 24 Oktober 2026

Politik Lingkungan: Pengelolaan Hutan Masa Orde Baru dan Reformasi

Gambar dari situs
Kementerian Pekerjaan Umum
Penulis : Herman Hidayat
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia bekerja sama dengan Ngrumat Bondo Utomo, 2011 (cetakan kedua; cetakan pertama, 2008)
ISBN : 978-979-461-688-8
Edisi 2

Buku ini dari disertasi penulis di Universitas Tokyo, diselesaikan akhir 2004, dengan judul Dynamism of Forest Policy in Indonesia: Focusing on the Movement and Logic of Stakeholders under the Soeharto Regime and Reformation Era.

Isinya sedikit nyambung dengan buku Sukarno, Ratna Sari Dewi, dan Pampasan Perang, karena sama-sama mengangkat kontribusi Jepang dalam membangun industri di Indonesia, malah mungkin hampir-hampir seperti lanjutannya tapi lebih spesifik dalam bidang lingkungan. Kalau SRSDPP mendata segala usaha Jepang di Indonesia pada Orde Lama, buku ini terutama mengenai industri kayu pada Orde Baru, yang mana memang Jepang berkontribusi besar dalam kerusakan hutan di Indonesia.

Disclaimer: Membaca buku ini memantik pemenungan-pemenungan pribadi yang mungkin terlalu menyederhanakan, atau hanya menguatkan asumsi yang sudah terbentuk sebelumnya. 

Dari sekitar lulus kuliah, sejak membaca buku The Moneyless Man yang ketika itu kerap dipajang di obralan, saya jadi penasaran dengan kisah-kisah orang yang bereksperimen hidup tanpa uang, atau gerakan-gerakan yang menghendaki sistem ekonomi tanpa uang. Saya sendiri berusaha mengambil sikap moderat, yaitu tidak antiuang tapi juga sebisa mungkin mengurangi kebergantungan pada uang. Membaca buku ini, saya merasa menemukan satu alasan sebabnya segelintir orang sampai bersikap antiuang. Ada korelasi dekat antara krisis lingkungan di negara-negara berkembang dan bantuan dari lembaga-lembaga keuangan internasional (halaman 19). Atau, contoh lain yang lebih familiar bagi penganut Islam adalah gerakan antiriba, anti bekerja di lembaga keuangan.

Dengan utang dari lembaga-lembaga keuangan, negara-negara pada membangun peradaban menurut standar yang diciptakan Barat. Satu-dua generasi masih dapat membangun kehidupan dengan standar tersebut. Tapi generasi muda sekarang telah merasakan sulitnya mencapai standar kehidupan generasi sebelumnya, mungkin karena standar tersebut memang tidak sustainable. Makin besar utang pembangunan ke lembaga keuangan, makin banyak pohon ditebang untuk ekspor ke negara pengutang (contohnya Jepang) atau untuk membayar utang tersebut. 

Deforestasi juga dapat terjadi karena transmigrasi (yang dapat menimbulkan konflik dengan masyarakat setempat) serta ekspansi komoditi perkebunan seperti kopi. Kalau terkait lembaga keuangan ada ajaran antiriba, ekspansi sepertinya dapat dikaitkan dengan dalil untuk berhijrah, mengelana di bumi Allah yang luas untuk mencari rezeki, ditambah anjuran untuk menikah dan beranak-pinak. Bisa dipahami bahwa ajaran ini hendak memastikan kehidupan manusia terus berjalan dan menyebarkan nilai-nilai Islam. Tapi ada satu konsekuensi yang jarang terdengar dibahas, yaitu pertambahan populasi artinya memerlukan pertambahan hunian dan lahan pencaharian, yang mungkin mendorong pada perambahan kawasan yang mestinya dilindungi. Bagaimana ulama memecahkan persoalan ini, adakah yang peduli? Hidup manusia berikut kesejahteraannya itu nomor satu, yang lainnya nanti dulu. Adakalanya teguran bahwa manusia telah merambah ke tempat yang salah itu tampak langsung diberikan, seperti di halaman 260, ketika terjadi banjir yang menewaskan 17 orang, menghancurkan pondok dan area tanaman, pada 7 Februari 2003, dan kebanyakan korban adalah orang yang menanam kopi dan mendirikan pondok di kawasan itu. Ada juga yang sukses-sukses saja dari hasil perdagangan kopi sehingga dapat berhaji. Jadi manusia diberikan perintah untuk menikah, beranak-pinak, dan mencari rezeki dalam keluasan bumi Allah secara trial & error yang konsekuensinya ditanggung sendiri-sendiri dalam bentuk yang berbeda-beda, secara langsung atau ditangguhkan sampai entah kapan. 

Mungkin agar bumi ini cukup bagi semua orang, memang manusia semestinya hidup sederhana saja--yang dikaruniai bakat kaya wajib berbagi kepada yang dibatasi rezekinya--dan menerima bahwa perang dan penyakit merupakan bentuk pengendalian populasi manusia. Bagaimanapun kita berusaha menjaga perdamaian dan memajukan kesehatan, perang dan penyakit tetap terjadi dalam berbagai cara. Meski tidak ada perang, manusia tetap bunuh-membunuh, kadang karena perkara yang tampak sepele. Suami membunuh istri karena ditolak berhubungan badan. Istri membunuh suami karena diselingkuhi. Anak membunuh orang tua karena terlalu dikekang. Orang tua membunuh anak karena takut miskin. Teman membunuh teman karena ditagih bayar utang. Orang membunuh dirinya sendiri karena merasa putus asa. Beberapa penyakit telah dapat diatasi sehingga usia harapan hidup meningkat, tapi penyakit-penyakit baru terus bermunculan dan menyebar. Di antaranya adalah penyakit-penyakit yang membuat orang karena satu dan lain hal tidak bereproduksi--ujungnya penurunan populasi juga.

Membaca tentang bagaimana hutan dirusak keperawanannya, dilacurkan dalam bentuk hutan tanaman industri, untuk menghasilkan pulp, yang salah satu produk akhirnya adalah buku dan majalah yang di rumah menumpuk-numpuk banyak belum terbaca, jadi menimbulkan rasa bersalah. Makin banyak produk hasil HTI yang dipunya, secara tidak langsung berarti makin besar kontribusi dalam alih guna hutan dari hetero ke homo, dan ekosistem pada tegakan yang hetero lebih sehat daripada yang homo (halaman 119). Beralih dari media cetak ke media digital juga tidak lebih baik, karena perangkat dan listriknya diperoleh dari tambang--hasil pembongkaran hutan, pembantaian massal terhadap flora dan fauna, dan penindasan hak asasi manusia yang telah turun-temurun hidup secara langsung dari sana tapi tak dianggap oleh pemerintah karena cara hidup tanpa uang begitu artinya tidak bayar pajak. Memang ada usaha-usaha untuk memulihkan lahan yang sudah diobrak-abrik itu, tapi laju pengrusakan masih lebih cepat daripada pemulihan dan barangkali ada spesies-spesies yang sudah telanjur punah. Dan, barangkali kemudian kita tetap tidak punya pilihan untuk tidak membeli apa pun produk hasil deforestasi yang bakal mereka tawarkan--bahkan paksakan, sebagaimana sekarang tiap-tiap kita mau tidak mau harus memiliki smartphone yang se-up-to-date mungkin untuk bisa menggunakan layanan umum, belajar dan bergaul, mencari uang supaya bisa makan karena lahan untuk bercocok tanam sendiri makin terbatas, dan lain sebagainya. Ya kali mau selamanya hidup di zaman batu, dan kebakaran hutan dan lahan di mana-mana adalah harga yang harus kita bayar untuk itu.

Kamis, 22 Oktober 2026

Kategorisasi Bacaan

Mulai 2019, saya mencoba membaca buku secara teratur: ada target waktu harian, pasang timer, sambil membuat catatan random tulis tangan yang ujungnya dirumuskan, dirapikan, dan diarsipkan di platform pribadi. Saya juga berusaha menyeimbangkan kategori buku: antara buku cetak dan buku digital, non-fiksi dan fiksi, hingga belakangan ini terpikir menurut tema, agar menjadi pribadi yang holistis dan well-rounded (@n7@y).


Untuk menyederhanakan, kategorisasi tema ini mengacu pada pelajaran sekolah di samping juga keperluan praktis, kurang lebih sebagai berikut.


AGAMA/habluminallah 


subjek utama: ketuhanan, agama, sistem kepercayaan, spiritualitas, entitas gaib


subjek terkait:

akidah akhlak 

fikih

quran hadis 

sejarah kebudayaan islam

dan semacamnya


Karena saya muslim, maka yang diutamakan adalah mendalami agama sendiri, walau tidak menutup kemungkinan untuk membaca tentang yang lain-lain juga sebatas keperluan.


IPA/habluminalalam


subjek utama: alam, flora dan fauna, benda abiotik dan biotik makhluk selain manusia, lingkungan hidup, sains dan teknologi


subjek terkait:

biologi

fisika

kimia

ekologi

kehutanan

panduan bercocok tanam, mendaur ulang, gaya hidup hijau

dan semacamnya


IPS/habluminannas


subjek utama: kemanusiaan


subjek terkait:

auto/biografi, memoar

self-care/development/help

psikologi 

ekonomi

sosiologi

dan semacamnya


RUANG & WAKTU


subjek utama: mengenai wilayah atau masa tertentu yang masih menyangkut aktivitas manusia


subjek terkait:

majalah

sejarah 

geografi

panduan beres-beres dan bersih-bersih rumah

dan semacamnya


Kategori ini dibuat karena saya bingung majalah lawas masuknya ke mana. Majalah kan isinya gado-gado. Bagaimanapun, membaca majalah lawas itu seperti menaiki mesin waktu, atau merupakan jendela untuk melihat masa lalu, mulai dari gaya hidup hingga isu-isu yang lagi ramai masa itu. Supaya isinya tidak hanya majalah yang notabene media cetak--ada keseimbangan dengan yang digital--sekalian saja dimasukkan subjek-subjek lainnya itu.


BAHASA & SASTRA


subjek utama: seputar aktivitas literasi dan keterampilan berkomunikasi (membaca, menulis, menyimak, berbicara)


subjek terkait:

apresiasi dan kritik sastra/seni

media dan komunikasi

tata bahasa

perbukuan

panduan menulis

dan semacamnya 


FIKSI & PUISI


subjek utama:

subjek terkait:

komik

kumpulan cerpen

novel

kumpulan puisi

dan semacamnya


Dengan kategorisasi begini, tampak non-fiksi jauh lebih dominan daripada fiksi dan puisi. Memang makin ke sini, makin lebih meminati non-fiksi, seakan-akan fiksi dan puisi lebih memikat semasa juvenil. Tapi, sebenarnya, untuk menerjemahkan, saya masih lebih menyukai fiksi, dan sambil mengerjakan aktivitas-aktivitas yang mindless, kadang-kadang saya mendengarkan karya fiksi yang dibacakan di YouTube (beberapa channel andalan: PERMATA TV untuk cerita silat, Mang Cecep Gorbachev untuk fiksi Sunda, dan hetvertellen untuk fiksi Jepang dan lain-lainnya). Saya juga masih berusaha untuk menulis fiksi, dan kadang-kadang menyimak tontonan yang notabene cerita fiksi. Jadi persentuhan dengan fiksi tetap lumayan banyak, hanya saja dengan cara atau melalui media lain.


Memang kadang-kadang rada susah menentukan satu buku masuk ke kategori mana. Misalnya buku tentang sejarah taman, itu masuknya ke IPA/habluminalalam (karena menyangkut pertanaman) atau RUANG & WAKTU? Contoh lain, buku kumpulan puisi yang disertai pembahasan, masuknya ke BAHASA & SASTRA (apresiasi dan kritik) atau FIKSI & PUISI? Atau buku tentang kisah hidup nabi, masuknya ke AGAMA atau IPS/habluminannas (biografi)? Dalam kasus-kasus begini, mungkin pakai feeling, atau isinya secara keseluruhan lebih berat ke mana, atau lihat slot mana yang lebih banyak kosong wkwk.


Di sisi lain, waktu membaca buku mesti dibatasi sehingga tidak bisa sering-sering menamatkan. Jadi, untuk menyelesaikan satu putaran seluruh kategori ini, entah bakal makan waktu berapa lama 🙃


walaupun punya seribu buku,

tapi tak dibaca, apa gunanya 

walaupun baca seribu buku,

tapi tak beramal, apa gunanya

Minggu, 11 Oktober 2026

Kisah-kisah Tak Penting

Gambar dari Bacabuku.com.
Penulis : Matdon
Penerbit : Langgam Pustaka, Tasikmalaya
Cetakan pertama, Juni 2021
xii + 78 halaman, 13 x 20 cm
ISBN : 978-623-7461-78-4
Tersedia di iPusnas

Buku ini dibacakan pada acara tadarus Asian African Reading Club, 7 Oktober 2026, yang notabene side event pameran Milestone Kota Bandung. Karena isinya kumpulan cerita yang pendek-pendek (sekira 2-3 halaman), masing-masing peserta kebagian baca 1 cerita bergiliran. Ternyata ceritanya kebanyakan lucu-lucu, jadi bahan untuk ketawa bareng. Tapi ada juga beberapa cerita yang sedih.

Cerita-cerita dalam buku ini tampak seperti pengalaman pribadi penulis kisaran tahun 1990-an sampai 2010-an zaman sudah ada BBM. Banyak yang menyangkut pekerjaan penulis sebagai wartawan, juga kiprahnya sebagai pendiri dan penyair Majelis Sastrawan Bandung. Dalam cerita-ceritanya itu, penulis tidak selalu menjadi pelaku, kadang-kadang sebagai pengamat saja. Jadi buku ini seperti suatu memoar. Bagi warga Kota Bandung, banyak nama tempat yang disebutkan dalam cerita-ceritanya sudah familier. 

Cerita-cerita lucunya kurang lebih bisa digolongkan sebagai berikut.

- Pengalaman-pengalaman sebagai wartawan, baik yang dialami penulis sendiri maupun orang lain, baik ketika baru memulai maupun sudah lebih berpengalaman. Contohnya di cerita "Mayat Itu Bukan Manusia", "Untung Mati", "Laskar Panggung Bandung", "Perihal Email", "Tukang Ojeg Teroris", "Ditilang Polisi", "Yuda dan Kunci Kamar".

- Kelakuan rekan sesama wartawan, terutama Abah Opik yang sudah menjadi semacam recurring character dalam rangkaian cerita ini saking seringnya muncul. Abah Opik seorang pemabuk, dan ada-ada saja kelakuannya baik ketika mabuk maupun tidak; kisahnya terdapat di "Beli Kangkung Sebecak", "Bah Opik dan Botol Bir Kemasan", "Ditraktir", "Naik Haji", "Makan Mie". Wartawan lainnya yang suka mabuk juga diceritakan dalam "Bencong Ahg!" dan "Ajo Mabuk".

- Kesalahpahaman-kesalahpahaman, seperti dalam "Trafficking Menyehatkan?" (seorang ibu rumah tangga calon legislatif Kota Bandung salah mengira trafficking sebagai trekking kali, ya), "Wartawan dan Jurnalis" (petugas berseragam tidak tahu bahwa "jurnalis" sama saja artinya dengan "wartawan"), "Baca Puisi dan Hujan" (kesetrum mik dikira bagian dari pertunjukan), "Dari Wartawan Republika sampai Matdon Band" (dari acara ke acara, penulis disangka sebagai wartawan dari sana-sini padahal hanya pernah menulis di situ, bahkan dikira nama group band).

- Tipu-menipu, mengerjai atau mengelabui, seperti dalam "Berita Bahaya", "Wawancara", "Perkara Nama", "Jodoh di Angkot", "Buku Telepon", "Pertemuan Sastrawan dan Ijazah", "Calon Walikota", "Pengganti Dekan", "Melaporkan Teroris".

Sebagian dari cerita lucu ini tidak benar-benar menggelikan, tapi memiriskan, karena diam-diam memberikan pengertian bahwa dunia ini memang penuh tipu daya dan betapa banyak fitnah berseliweran. Entahkah karena sifat pekerjaan itu sendiri yang harus cepat-cepat menaikkan berita sehingga tidak sempat memeriksa fakta, atau karena kejahilan orang-orangnya sendiri yang suka mengelabui sesama. Kejahilan itu mungkin dimaksudkan untuk becanda saja, tapi dampaknya bisa jadi serius. 

Contohnya dalam "Berita Bahaya", seorang wartawan mengerjai sesamanya yang telat datang dengan berbagi hasil liputan terhadap mantan wakil presiden Try Soetrisno; katanya Pak Try menyampaikan bahwa sudah saatnya rezim Orde Baru diganti dan seterusnya ... yang kalau pernyataan itu sampai benar-benar dimuat, akan berisiko tinggi menimbulkan perpecahan di masyarakat. 

Dalam "Wawancara" dan "Pengganti Dekan", narasumber yang tampil di suatu program acara ternyata bukan orang yang sebenarnya melainkan orang lain yang pura-pura saja. 

Dalam "Melaporkan Teroris", penulis harus melaporkan kejadian penangkapan teroris di Bandung, padahal beliau sedang ada liputan lain di Bali, sehingga meminta data dari teman-temannya via BBM tetapi mengaku tengah berada di lokasi penangkapan. 

Walaupun program acara atau pekerjaan akhirnya terselesaikan, kalau tahu cara kerja di baliknya seperti itu, apa bukan suatu bentuk pengelabuan terhadap orang awam atau masyarakat? Maka di kata pengantar oleh Bode Riswandi terdapat peringatan begini: "... jika ia politisi, buku ini pasti jadi babon cara efektif kelabu mengelabui" (halaman ix). Ini baru kisah-kisah pada masa media cetak dan radio masih berjaya, belum lagi setelah internet berkuasa dan arus informasi membanjiri kita senantiasa, suka atau tidak. Informasi sesat selalu ada, media tidak pasti dapat dipercaya.

Cerita-cerita sedih terdapat pada judul "Sedang Hamil Jadi PSK" (wanita yang terpaksa bekerja sebagai PSK walaupun sedang hamil 5 bulan, digermoi suaminya), "Cinta di Usia Senja" (kakek yang patah hati setelah bertemu lagi dengan pujaan hati), "Melamar Jadi Wartawan" (lulusan SD yang tidak lancar menulis mau jadi wartawati), "Lamaran Kerja" (Majelis Sastra Bandung dikira perusahaan besar yang merekrut karyawan sehingga banyak yang melamar pekerjaan), "Anak Kecil dan Boneka" (jadi maling boneka demi menyenangkan anak), "Ibu yang Malang" (ibu kesepian yang ingin mengangkat penulis sebagai anak tapi selalu ditolak secara halus). 

Selasa, 06 Oktober 2026

CARA MENCARI ARTI DARIPADA KATA-KATA BELANDA

Masing-masing perkataan Bahasa Belanda yang digunakan dalam buku ini hanya satu kali saja diberikan terjemahan Bahasa Indonesia-nya, yaitu pada permulaan kali digunakannya kata-kata itu. Oleh karena itu tentu sukar bagi pelajar untuk mengingat selanjutnya.

Jika ditemui kata-kata yang pernah diberikan tetapi lupa artinya maka dengan pertolongan daftar-daftar yang ada pada akhirnya dalam buku ini dapat segera diketemukan kembali artinya.

Untuk itu disajikan dua buah daftar yang tersusun menurut abjad.

Yang pertama adalah Daftar Umum di mana dapat diketemukan kata-kata dan istilah-istilah yang telah diberikan dalam buku ini disertai dengan terjemahan Bahasa Indonesia-nya dan nomor pelajaran di mana untuk pertama kali kata-kata dan istilah itu dipergunakan. Untuk 'kata benda' diberikan pula kata depan dan bentuk jamaknya.

Tetapi perlu pula pembaca ketahui, bahwa heeft harus dicari pada hebben, is pada zijn, kwam pada komen, tellen op pada optellen, staat op pada opstaan dsb.

Untuk hal-hal ini hendaknya dipergunakan daftar kedua (Daftar Bentuk). Dalam daftar ini dicantumkan bentuk-bentuk kata kerja kuat, kata kerja yang tak teratur dan kata-kata kerja majemuk dengan ditunjukkan kata asalnya.

Dalam Daftar Bentuk tersebut tidak tercantum: bentuk waktu lampau yang teratur dari kata-kata kerja lemah seperti: kende dari kennen, legde dari leggen dsb. dan demikian pula kata kerja bagian yang telah selesai seperti: 'gegeven' dari 'geven', 'gelopen' dari 'lopen', 'ondergegaan' dari 'ondergaan' dsb.

Senin, 05 Oktober 2026

DARI HAL CARA MENGUCAPKAN KATA-KATA BELANDA

I. Huruf hidup dapat dibagi dalam:

a) huruf hidup yang nyaring;

b) huruf hidup yang pekak, dan

c) huruf hidup tak berbunyi.



a) Huruf hidup yang nyaring: aa-ee-ie-oo-uu-oe-eu

Dalam 'maar' huruf aa berbunyi seperti dalam kata 'Sjarif', 'lapar' (jadi bukan seperti dalam: 'gelap').

Dalam 'meer' ee itu berbunyi seperti dalam 'perlénté', 'kedelé'.

Dalam 'mier' ie itu berbunyi seperti 'kitab', 'gila', 'lagi'.

Dalam 'moor' oo itu berbunyi seperti dalam 'bodoh', 'kolam', 'orang'.

Dalam 'muur' uu itu berbunyi seperti di antara i dalam 'biru' dan u dalam 'buru' (atau dalam kata Perancis: 'futur' dan Jerman 'Frühling').

Dalam 'moer' oe itu berbunyi seperti u dalam 'pulang', 'lupa', 'sudah'. 

Dalam 'deur' eu itu tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Berbunyi seperti dalam kata Jerman 'König".

Perhatian:

Huruf-huruf aa, ee, oo, uu dalam suku-suku kata yang terbuka ditulis dengan satu huruf saja (yakni: suku-kata terbuka yang berakhir dengan huruf hidup, misalnya: ha-ren, he-ren, hu-ren). Tetapi bunyinya tetap nyaring.



b) Huruf hidup yang pekak: a-e-i-o-u

a dalam 'pad' berbunyi seperti dalam 'ahli', 'hak'
e dalam 'pet' berbunyi seperti dalam 'korèk', 'pèl'.
i dalam 'pit' berbunyi seperti dalam 'pil', 'adik'.
o dalam 'pot' berbunyi seperti dalam 'botol', 'kotor'.
u dalam 'put' berbunyi hampir seperti e dalam 'senang', 'benang'.

Perhatian: 

Istilah 'berbunyi seperti' berarti: 'berbunyi kira-kira seperti' dan istilah 'berbunyi hampir seperti' berarti 'berbunyi kira-kira hampir seperti'.

Huruf-huruf hidup yang nyaring dalam kata-kata Belanda berbunyi agak lebih panjang daripada dalam kata-kata Indonesia.

Huruf-huruf hidup yang pekak dalam kata-kata Belanda berbunyi agak lebih pendek daripada dalam kata-kata Indonesia.

Maka dari itu perhatikanlah betul-betul tentang perbedaan dalam ucapan antara huruf hidup yang nyaring dalam baris pertama dan huruf hidup yang pekak dalam baris kedua.

1) paden; he-ten; nie-ten; bo-ten; hu-ren;
2) pad-den; pet-ten; pit-ten; pot-ten; dun-ne.



c) Huruf hidup yang tak berbunyi: e

'De', 'je', 'beloven', 'geloven'.

Dalam sejumlah besar kata-kata Belanda huruf e mempunyai bunyi kira-kira seperti dalam 'kenal', 'gelap'.

Alhasil huruf e dapat berbunyi tiga macam:

'les' berbunyi pekak seperti dalam 'korek'

'Leren' (le-ren) nyaring seperti dalam kedelé', 'tempé', 'ber-télé-télé'.

'De' berbunyi seperti dalam 'senang', 'menang', 'beras', 'melati'.



II. Huruf-huruf mati (konsonan)

Dalam bahasa Belanda dan bahasa Indonesia ucapan kata-kata hanya sedikit saja perbedaannya, yaitu mengenai huruf-huruf: b, d, f (dalam kata-kata Arab asli), misalnya: 'filsafat', 'Arifin'.

j. k (seperti dalam 'kurang', 'kutang', 'kotor'), l, m, n, p (misalnya: dalam 'patjul', 'padang'), r, s, t, w, ng (dalam bahasa Belanda ng tidak pernah ditulis pada permulaan kata, melainkan di tengahnya, atau pada akhirnya: 'zingen', 'lang').

Tentang huruf-huruf mati yang lain dapat dijelaskan sebagai berikut: 

c berbunyi seperti k di depan konsonan, misalnya: 'clown', 'club', 'clerus', dan di depan a, o, u, misalnya: 'cacao', 'coöperatie', 'cursus'.

Di depan huruf i dan e berbunyi seperti s, misalnya: 'cilinder', 'cent'.

ch berbunyi hampir seperti dalam kata-kata Arab asli: 'chabar', 'chalajak', misalnya: 'lach'.

Tetapi pada awal kata-kata, di depan huruf hidup, maka ch berbunyi seperti sj, misalnya: 'chauffeur', 'China', 'chef'.

g berbunyi seperti ch yang bersuara lembut, misalnya: 'da-gen', dibanding dengan g dalam 'la-chen'. 

Pada akhir kata-kata, maka g berbunyi seperti ch dalam 'chabar': 'lig', 'lag'.

h pada awal kata-kata Belanda dan di depan huruf hidup berbunyi seperti orang kehabisan napas: 'hals', 'hier', 'hart'.

qu hanya terdapat pada permulaan kata-kata asing dan berbunyi seperti kw, misalnya 'qualiteit', 'quantiteit'.

v berbunyi seperti f yang bersuara lembut: 'val', 'ven', 'vel'.

z berbunyi seperti s yang bersuara lembut: 'zo', 'zon', 'zoon'.

Perhatian: 

'Hebt, 'tobt' diucapkan seperti: 'hept', 'topt'.

'Had', 'pad' diucapkan seperti: 'hat', 'pat'.

'Houdt', 'baadt' diucapkan seperti: 'hout', 'baat'.



III. Huruf majemuk:

ei dan ij berbunyi hampir seperti antara e  dalam 'karet' dan ai dalam 'kain',

ou dan au berbunyi kira-kira ao dalam 'kaos', 'Laos'.

ieu berbunyi kira-kira seperti iu  dalam 'siul'.

aai berbunyi kira-kira seperti ai dalam 'kain'

eeu berbunyi kira-kira seperti ew  dalam 'mewah', 'lewat'.

ooi berbunyi kira-kira seperti oi dalam 'amboi', 'mojang'.

oei berbunyi kira-kira seperti ui (uj) dalam 'buih', 'bujung'.

ui berbunyi kira-kira seperti eu (tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Kira-kira hampir seperti eu dalam bahasa Jerman: 'neu', 'heute').

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain