LAINNYA

Sabtu, 05 April 2014

Matinya Seekor Anak Kucing

Di rumah ada seekor kucing betina. Dia lahir dari seekor kucing betina liar yang kawin dengan salah seekor kucing jantan yang dipelihara di rumah kami sejak lahirnya. Agak rumit ya. Tapi terlalu panjang kalau saya ceritakan mulai dari awal sekali adanya dinasti kucing di rumah. Kembali ke kucing betina. Dia tidak diberi nama. Padahal kami memanggil saudara kandungnya—kucing hitam-putih jantan yang amatlah manja dan rumahan serta doyan kencing di mana-mana—Federer. Maka kami menyebut kucing betina itu dengan “Kucing yang Perempuan”, “Kucing yang Cewek”, “Kucing yang Betina”, dan baru-baru ini “Induk Kucing”. Kucing berambut loreng ini sudah tiga kali melahirkan dan tidak ada satupun anak-anaknya yang berhasil bertahan hidup hingga besar.

Dini hari ini kami lagi-lagi kehilangan anaknya. Yang terakhir. Pergi menyusul dua saudaranya yang telah tamat riwayatnya belum lama berselang. Setelah berhari-hari bertahan tanpa makan dan minum. Selama berhari-hari itu anak itu hanya mengeong-ngeong dan berjalan tertatih-tatih dengan tubuh kian lemah kian kurus mencari kehangatan. Ketika eongannya yang nyaring dan memelas itu terdengar, itu seolah menjadi alarm bagi kami untuk mencari-cari ibunya. Lalu begitu ibunya ditemukan, kami dekatkan mereka. Lega sesaat ketika si ibu sudah menjilati anaknya. Tapi sebentar kemudian kami cemas karena anak itu sama sekali tidak menetek. Entah mengapa. Matanya pernah sesekali terbuka. Salah satu atau keduanya. Tapi seringnya tertutup karena belek. Begitupun hidungnya basah karena ingus. Sempat muncul dugaan dia tidak mau menetek karena dia memakai mulutnya sebagai ganti indra pernapasannya yang tersumbat. Kalau dia menetek dengan mulutnya itu, bagaimana dia hendak bernapas? Muncul pula dugaan kalau susu si ibu tidak keluar. Kami hanya memberinya nasi campur ikan. Apa kurang bergizi? Tapi dari dulu begitu. Dari sejak zaman “Induk Kucing” satu itu belum lahir, setiap induk kucing sebelumnya yang tinggal di rumah selalu kami berikan menu itu saja.

Belum lama setelah melahirkan. Kini semua, kecuali yang besar, sudah tiada.

Kami mulai berpikir untuk menyuapi anak kucing yang malang itu dengan susu lain atau Whiskas yang dicairkan. Tapi baru hari ini kami mewujudkan pikiran itu. Ketika eongan anak kucing itu telah makin lemah. Bahkan untuk berjalan-jalan mencari kehangatan pun dia sudah tidak kuasa. Mama membeli pipet plastik sebagai ganti dot di apotek terdekat dan dengan alat itu diberikannya cairan Whiskas, namun sepertinya tidak berhasil. Menjelang tengah malam adik saya pulang dengan membawa susu khusus bayi kucing dan dot khusus hewan-hewan kecil yang dibelinya dari petshop di dekat kampusnya. Kami memutuskan untuk memberi susu saat itu juga walaupun anak kucing itu tengah tidur. Adik saya yang menyiapkan susu sedang saya mendapat bagian menyalurkannya ke mulut.

Anak kucing itu masih bernapas. Perutnya masih kembang-kempis. Kepalanya tidak terlihat karena tertutup jaket Mama yang dijadikan alas. Saya singkap penutup kepalanya. Saya senggol-senggol dia agar bangun. Namun dia tidak bereaksi. Lalu saya palingkan kepalanya agar terlihat mulutnya. Saya tempelkan dot itu pada mulutnya. Dia diam saja. Tampak gerakan pada lehernya. Saya kira ada harapan. Tidak lama kemudian saya sadari kalau air susu itu tidak sepenuhnya masuk ke dalam mulutnya.

Anak kucing itu tersedak lalu mengeluarkan suara melengking. Seperti marah karena dibangunkan—saya kira begitu. Dia bergerak hingga menampakkan tungkai kaki-kakinya dan tulang rusuk di sepanjang perutnya, begitu ceking, mengingatkan saya pada gambaran mengerikan tentang korban Gulag dalam buku Solzenitzyn (maaf kalau salah tulis). Posisinya berganti. Seperti berjalan menjauh. Tubuhnya meregang dengan lengkingan panjang, lalu berlabuh di sisi lain keranjang yang beralaskan koran. Adik saya membuatkan susu lagi karena yang sebelumnya memang hanya dibuat sedikit sebagai percobaan dan ternyata cepat habisnya, sementara itu saya meraba-raba tubuh anak kucing itu yang sudah mulai dingin.

Kali berikutnya saya mencoba untuk memberikan susu secara pengertian. Dengan syal adik saya sebagai alas, saya angkat kepala kucing itu hingga posisinya agak seperti duduk. Saya kuak mulutnya pelan-pelan dengan dot lalu menekan-nekan botol susu agar cairan di dalamnya masuk. Kepalanya masih bergerak-gerak sedikit seperti tersedak atau menelan. Sampai saya sadari kalau cairan putih itu entahkah masuk ke dalam mulut atau tidak, namun malah mengalir membasahi koran. Saya lepaskan kepala anak kucing itu pelan-pelan. Terkulai begitu saja di atas basahnya koran. Perutnya sudah tidak tampak kembang-kempis lagi. Apakah dia benar-benar sudah mati?

Di pinggir ranjang itu duduk pula Induk Kucing yang sedari tadi mengamati kami melakukan upaya-penyelamatan-coba-coba pada anaknya. Kami pun sadar bahwa ketika anak kucing itu sempat bergerak-gerak dan bersuara seperti marah, pada saat itulah nyawanya mungkin sedang dicabut. Atau mungkin dia mati karena keselak susu yang kami (saya) coba berikan? Kami terdiam beberapa lama di tempat, merenungi nasib anak kucing sakit-sakitan yang berhasil mempertahankan umurnya hingga sekitar sebulan itu.

“Coba lihat besok pagi. Siapa tahu hidup lagi,” putus saya. Lalu kami mematikan lampu ruangan di mana anak kucing itu ditempatkan. Adik saya ingin membuang kucing betina itu karena setiap anaknya yang mati berarti kesedihan baginya. Sebetulnya kami sedari dulu sudah ingin membuangnya bersama saudaranya yang jantan dan doyan kencing di mana-mana tapi terlalu malas untuk mewujudkannya. Perkataan adik sedikit menenangkan saya (atau mungkin untuk menenangkan dirinya sendiri), bahwa ada baiknya juga anak kucing itu mati lebih cepat, sehingga dia tidak harus menahankan derita lebih lama.

Saya melanjutkan menonton TV. Adik saya di kamar. Induk Kucing tampak berjalan-jalan. Memasuki ruang tamu entah untuk apa. Namun tidak lama. Dia keluar lagi lalu memasuki ruangan di mana anaknya mendekam. Dia mengeong-eong. Saya panggil adik saya siapa tahu dia mendengarkan juga. Eongannya yang cukup panjang itu mungkin berarti dia tengah berkabung atau bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada anaknya. Sempat pula saya berpikir jangan-jangan setelah mendapati anaknya tidak lagi bernyawa, kucing itu malah memakannya saking lapar karena sedari tadi dia mendekati saya—yang saya artikan sebagai “pasti minta makan deh”—tapi saya abaikan. Kucing betina itu akhirnya keluar dan mendekati saya, mengikuti saya ke mana-mana. Karena pikir saya anaknya baru saja meninggal saya pun membuatkan makanan untuknya.

Sampai sesudahnya saya belum berani memasuki ruangan itu lagi untuk mengecek keadaan anak kucing. Kalau benar dugaan kami bahwa ketika dia sempat bersuara seperti marah tadi ialah karena tengah sekarat, berarti untuk pertama kalinya saya menyaksikan proses kematian. Malaikat Izrail berada begitu dekat dengan kami, bahkan mungkin tepat di samping saya, menembus saya, saat tangannya menarik nyawa itu keluar dari seonggok tubuh ringkih. Jika benar begitu, mengapa harus terjadi saat itu juga, tepat ketika saya mencoba menyambung hidup anak kucing itu dengan memberinya susu? Kenapa tidak dari sebelumnya, atau lama setelahnya? Seolah malaikat menanti-nanti kesempatan itu untuk menunjukkan kepada saya, Begini lo reaksi makhluk sewaktu nyawanya dicabut… Apa kucing ini kelihatan menikmatinya?

Karena saya memikirkannya seperti itu, rasanya jadi berbeda dengan kalau saya mematikan nyamuk di lengan saya, menepuknya sampai darahnya muncrat. Itu pun suatu proses kematian walau berlangsungnya cepat sekali dan melalui perantaraan tangan saya sendiri. Malaikat pun ada di dekat saya melaksanakan tugasnya tanpa kasat mata mengambil nyawa serangga kecil itu.[] 

3 komentar:

  1. kak tinggal dimana? kucingnya sama persis kucing yg sering muncul di rumah..

    BalasHapus
  2. Aku nangis bacanya didalam perjalanan kerja kekantor , karna pagi sebelum sy brangkat , anak kucing sy sama seperti itu , saya sempat berfikir aduh anak kucingnya pasti tersedak tapi saya liat jam udah siang sy harus brangkat kekantor , anak kucing itu terus tersedak saya taruh dialas dan dibawahnya botol air hangat biar dia hangat diatas handuk , semoga anak kucingku selamat sampai saya pulang kantor

    BalasHapus