LAINNYA

Rabu, 17 April 2013




Belakangan aku dekat dengan tema kesendirian. Aku menemukannya di lagu-lagu, dalam karya-karya fiksi. Aku ternyata tidak sendiri, tapi tetap aku merasa sendiri. Jika para penyendiri dikumpulkan, aku kira belum tentu problem kesendirian itu teratasi. Karena sendiri itu menyenangkan, walau kadang menyakitkan. Dan kita telah menerima kesendirian sebagai bagian dari diri kita. Dan kita akan selalu kembali kepada kesendirian. Dan kita tidak bisa lepas dari kesendirian. Kesendirian itu seperti Tuhan. Tuhan itu Maha Esa. Esa itu satu. Satu itu tidak ada lainnya: Sendiri. Entah, apa yang bakal kita temukan dalam kesendirian. 

Selasa, 16 April 2013

Ngomongin Videoklip "Swim and Sleep (Like a Shark)" (Unknown Mortal Orchestra, 2013)



Videoklip ini ada di barisan kanan ketika aku menonton Foster The People di Youtube. Aku asal klik. Barangkali menarik. Seperti aku menemukan This is The Day dari The The saat membuka Rah Band. Aku tidak menduga akan disuguhkan cerita yang aw… walaupun dibawakan oleh boneka marionette yang lazimnya untuk pertunjukan anak(?).

Cerita dibuka dengan adegan merancap[1] seorang pemuda sembari meneropong seorang perempuan yang lagi mandi di bawah pancuran. Heran juga sih. Jendela kamar mandi kok selebar itu, yang malah dibuka ketika ruangannya lagi dipakai—apa sengaja ingin diintip? Bagaimanapun perempuan itu tampak tidak senang.

Kepergok sasarannya, si pemuda sangat malu. Ia pun berkonsultasi kepada seorang pria yang kukira profesional—psikolog. Tapi pria tersebut tidak benar-benar mendengarkannya, malah asyik merancap juga sambil menyaksikan kuda dari jendela. Aku bisa merasakan kesedihan si pemuda. Orang lain yang diharap membantu ternyata bermasalah juga, dan malah menikmati masalah itu.

Pemuda itu pun pulang. Minum bir, kukira. Kaleng-kaleng bergelimpangan. Majalah porno di meja. Ia memindahkan saluran di TV yang menampilkan adegan ciuman sepasang kekasih, ke saluran yang menayangkan tinju, ke saluran yang menyajikan acara masak. Pria berkumis di TV mengingatkannya untuk mengaduk seluruh bahan, jangan cuman duduk membuang waktu. “Emangnya apa yang sudah kamu lakukan dengan hidupmu?!” si pemuda bicara pada TV. “Aku membuat blancmange,” pria berkumis menunjukkan hasil karyanya. Pemuda itu tertegun.

Ia pun coba untuk menghasilkan sesuatu. Ia pergi keluar, melukis kuda yang sedang merumput. Sampai ia menyadari kalau ia ternyata tidak sendiri. Tidak jauh, dua orang lelaki yang tampak berandal juga sedang melukis… grafiti, dengan cat semprot, di dinding. Kemudian mereka menertawakannya, bahkan kuda yang tadinya ia lukis pun menertawakannya. Pemuda itu seakan merasa bahwa apa yang ia lakukan tidak lagi ada artinya.

Bersepeda ia pulang. Hujan menyapunya, tapi bulir-bulir di pipinya tetap ada hingga ia kembali di kamarnya. Alat lukis berserakan. Gambar porno terabaikan. Lingkaran merah menandai hari ulang tahun di kalender. Hingga ia menyadari sebuah teropong tengah terarah kepadanya, bergerak-gerak. Ia pun tersenyum.

Berikut videoklip yang kumaksud. Kalau usiamu belum 20 tahun, aku sarankan untuk tidak mengeklik segitiga putih (maupun abu-abu) di bawah.



Kuda yang muncul berkali-kali dalam videoklip ini mengingatkanku akan lagu Belle and Sebastian, Judy and the Dream of Horses. Ada yang pernah memberitahuku kalau kuda ternyata mengandung makna seksual.

Dengan menafikan adegan yang “mengganggu”, videoklip ini kena buatku. Mula-mula aku terpikat dengan cerita dalam videoklip tersebut, alih-alih musiknya. Setelah berulang kali menyetel videoklip tersebut, barulah aku menikmati musiknya. Liriknya di telingaku serasa dilantunkan dengan begitu lembut, padahal singkat saja dan diulang-ulang. 

I wish that I could swim and sleep like a shark does. I'd fall to the bottom and I'd hide 'til the end of time, in that sweet cool darkness. Asleep and constantly floating away. I wish that I could break and bend like the world does. I'd fall to the bottom and I'd chase all my dreams away. And I'd let you crush me. My dreams would be constantly wilting away.
sumber

Kekosongan, yang oleh pemuda dalam videoklip isi dengan pornografi. Keinginan untuk meringkuk saja di zona nyaman. Tak ambil peduli pada mimpi-mimpi yang hancur berantakan. 

Mengetahui bahwa genre yang diusung Unknown Mortal Orchestra adalah psychedelic rock, aku mafhum. Tidak jauh dari apa yang lagi doyan dikonsumsi telingaku belakangan ini, khususnya Tame Impala. Warna musik mereka ternyata memang mirip ya sama The Beatles. Aku sempat mengira tidak akan bisa membedakan mana yang Unknown Mortal Orchestra mana yang Tame Impala, ketika aku ingin coba setel bersamaan dua album mereka yang sama-sama baru aku dengar—II (2013) dari Unknown Mortal Orchestra dan Lonerism (2012) dari Tame Impala. Kurasa Unknown Mortal Orchestra rada lembut. Aku senang musik semacam ini karena serasa membawaku mengawang-awang. Acap kali pyschedelic diasosiasikan dengan drugs. Buatku sih pikiran yang jelimet lagi acak-acakan saja sudah cukup bikin teler.  





[1] Semoga ini istilah yang tidak umum, karena istilah yang umum kali-kali menimbulkan kesan kurang nyaman :P

Senin, 15 April 2013

Kejujuran dan Keutamaan Kerja dalam Cerpen "Robohnya Surau Kami" (AA Navis) dan "Dilarang Mencintai Bunga-bunga" (Kuntowijoyo) – Interpretasi Bebas

Kejujuran adalah salah satu kriteria dalam menilai suatu fiksi (Pu­ji­harto, 2010), di samping inovasi/kebaruan, orisinalitas/keaslian, koherensi/kepaduan, kompleksitas/kerumitan, in­te­lek­tu­ali­tas/­ke­ma­tangan, serta eksploratif/kedalaman (sumber lain yang aku lu­pa ca­tat).

“Sebuah karya fiksi dikatakan jujur apabila peristiwa-peristiwa yang tampak mengkontradiksi prinsip-prinsip utamanya diizinkan masuk ke dalamnya, dikatakan koheren apabila peristiwa-pe­ris­ti­wa yang mengkontradiksi tersebut mampu berekonsiliasi dengan prinsip-prinsip utamanya tersebut. …. Sejauh mana pergerakan da­ri pe­ris­ti­wa-peristiwa yang mengkontradiksi prinsip-prinsip utama ke yang merekonsiliasi dan sebaliknya menunjukkan tingkat kom­pleksi­­tas­nya. Semakin kompleksi relasi bolak-balik keduanya itu di­hadirkan, akan semakin cendekia pula karya fiksi itu. Meskipun de­mikian, kompleksitas tersebut tentulah harus tetap memberi du­kungan pa­da keseluruhan cerita.” (hal. 80)

Robohnya Surau Kami (AA Navis) dan Dilarang Mencintai Bunga-bu­nga (Kuntowijoyo) merupakan dua cerpen dalam buku Pujiharto, Pengantar Teori Fiksi (Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Bu­daya UGM dengan Penerbit Elmatera, Yogyakarta, 2010), yang ku­kira me­rupakan contoh bagaimana kejujuran ditampilkan dalam suatu karya fiksi. Di samping itu aku menemukan ke­sa­maan lain dalam dua cerpen tersebut. Sebelumnya mari kita si­mak ringkasan ma­sing-masing cerpen.


Ringkasan Robohnya Surau Kami (AA Navis)

Cerpen ini mengisahkan seorang kakek penjaga surau (selanjutnya kusebut Kakek) yang dibikin murung oleh Ajo Sidi. Ajo Sidi bercerita pada Kakek soal Haji Saleh yang tidak diterima masuk surga oleh Tu­han. Padahal Haji Saleh adalah orang yang sangat rajin ber­i­ba­dah—menyembah-Nya, berdoa pada-Nya, membaca kitab-Nya, tak se­ka­li­pun berbuat jahat. Sebab Haji Saleh masuk neraka dijelaskan oleh malaikat sebagai berikut.

“…Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat ber­sem­bahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, me­lupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu ku­car-ka­cir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Pa­dahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.” (hal. 91)

Tidak lama setelah Kakek diceritakan Ajo Sidi tersebut, Kakek di­te­mukan mati dalam keadaan mengenaskan. Ia menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur.

Aku kira tidak ada yang tidak kenal dengan cerpen ini. Kritiknya be­gi­tu tajam terhadap umat yang beriman: segiat-giatnya kau ber­i­ba­dah, kalau hanya demi dirimu saja, kau akan tetap masuk ne­ra­ka.


Ringkasan Dilarang Mencintai Bunga-bunga (Kuntowijoyo)

Cerpen ini mengisahkan seorang anak laki-laki (selanjutnya ku­se­but si Anak) yang pindah ke suatu lingkungan baru bersama kedua orangtuanya. Ayahnya sangat maskulin, keras dan kasar, senang kerja, tapi kurang suka bersosialisasi. Sebaliknya, Ibu lembut dan senang bersosialisasi.

Si Anak penasaran dengan tetangga sebelah rumahnya, yang ko­non seorang kakek yang hidup sendiri dan jarang keluar rumah. Be­be­ra­pa kali ia coba mengintip pagar rapat yang menutupi rumah itu, tampak halaman yang penuh bunga.

Akhirnya si Anak dapat bersahabat dengan si Kakek. Layang-layang yang si Anak mainkan putus, kakek tersebut muncul dan meng­hi­bur­nya. Si Kakek suka memberi bunga, dan petuah mengenai ke­te­nang­an jiwa. Namun ayah si Anak tidak suka anaknya lelaki me­nyimpan bunga. Si Anak diperingatkan berkali-kali, tapi tetap main ke rumah si Kakek jua. Anak tersebut mulai terpengaruh pemikiran si Kakek, yang memengaruhi sikapnya kepada kedua orangtuanya. Ba­gi si Kakek hidup adalah permainan sedang bagi si Ayah hidup ada­lah kerja. Si Ayah pun membuat bengkel di rumah, supaya anaknya bisa lang­sung belajar kerja.

Yang menakjubkan adalah sikap si Anak terhadap pertentangan ni­lai-nilai yang ditunjukkan oleh ujaran dan sikap si Ayah, si Ibu, dan si Kakek. Satu sama lain bertentangan, namun aku menyimpulkan bah­wa semua adalah bagian dari kehidupan yang mesti kita te­ri­ma dan seimbangkan. Antara ketenangan yang dielu-elukan si Ka­kek, se­ma­ngat kerja yang ditunjukkan si Ayah, dan kelembutan yang diberikan si Ibu.

Begini akhir cerita ditutup.

“Malam hari aku pergi tidur dengan kenangan-kenangan di kepala. Kakek ketenangan jiwa-kebun, bunga, ayah kerja-bengkel, ibu me­ngaji-mesjid. Terasa aku harus memutuskan sesuatu. Sampai jauh malam aku baru tertidur. 
Bagaimana pun, aku adalah anak ayah dan ibuku.” (hal. 116)


Kontradiksi Karakter

Melalui kedua cerpen tersebut (selanjutnya masing-masing ku­se­but RSK dan DMB) aku coba memahami kejujuran dalam karya fik­si. Ber­dasarkan pengertian yang telah aku cantumkan di atas, aku meng­ar­tikan kejujuran sebagai kontradiksi. Dalam RSK dan DMB kita me­li­hat adanya kontradiksi antara karakter lelaki tua yang mencari ke­te­nangan jiwa baik lewat ibadah (RSK) maupun bunga (DMB), dengan karakter lelaki yang lebih muda yang sibuk dengan pekerjaannya ya­i­tu Ajo Sidi di RSK dan si Ayah di DMB. Ajo Sidi se­nang membual se­dang si Ayah tidak sempat bersosialisasi. Pada karakter Ajo Sidi pun kutemukan kontradiksi, karena sebagai pem­bual omongannya ma­lah begitu dipercaya oleh si Kakek.


Keutamaan Kerja

Selain kontradiksi karakter, kemiripan yang aku dapatkan dari ke­dua cerpen adalah pesan bahwa kita sebaiknya tidak khusyuk de­ngan diri sendiri saja melainkan melakukan sesuatu untuk ke­pen­tingan banyak orang, itulah yang dimaksudkan dengan “kerja”.

Walaupun si Ayah dalam DMB tidak suka bersosialisasi, tapi ia be­kerja untuk kemaslahatan banyak orang.

“Engkau mesti bekerja. Sungai perlu jembatan. Tanur untuk me­lu­nakkan besi perlu didirikan. Terowongan mesti digali. Dam di­ba­ngun. Gedung didirikan. Sungai dialirkan. Tanah tandus di­su­bur­kan…” (hal. 115)

Menurutku si Kakek dan halaman berbunganya bak menyimbolkan ketenangan jiwa yang terisolir, yang mana secara halus hendak di­tolak oleh pengarang antara lain melalui judul dari cerpen itu sen­diri: Dilarang Mencintai Bunga-bunga. Akhir cerpen pun me­nge­san­kan bahwa si Anak lebih memihak kedua orangtuanya yang seolah menyimbolkan keseimbangan antara semangat kerja (Ayah) de­ngan spiritualitas (Ibu) melalui asosiasi si Anak terhadap mereka di paragraf sebelum kalimat terakhir. Si Kakek dan bunga-bu­nga­nya memang sempat memengaruhi si Anak, sehingga si Anak se­o­lah-olah berpihak kepada si Kakek. Tapi kukira pada akhirnya kon­tradiksi yang dimunculkan si Kakek lah yang membuat si Anak da­pat memahami nilai-nilai yang ditanamkan oleh kedua orang­tu­a­nya.

Lalu kita bisa tengok kembali di ringkasan RSK, apa yang dikatakan Malaikat kepada Haji Saleh dan orang-orang “saleh” lainnya yang dimasukkan ke dalam neraka.

Sebetulnya kukira si Kakek bukan tidak bermanfaat sama sekali ba­gi orang lain, toh ia mau mengasahkan benda-benda tajam serta merawat surau. Tapi pandangan lain, bisa jadi pengarang mengan­jurkan agar kita menjadi orang yang lebih aktif dalam me­me­cah­kan masalah alih-alih menunggu saja permintaan orang lain untuk menolong mereka.

Keutamaan tersebut ditegaskan oleh pengarang RSK di akhir cer­pen.

“Dan sekarang,” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar se­gala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun ber­tanggung jawab,” dan sekarang ke mana dia?”  
“Kerja.” 
“Kerja?” tanyaku mengulangi hampa. 
“Ya, dia pergi kerja.” (hal. 92)

Ajo Sidi mungkin pembual, tapi ia memegang bualan yang ia ce­ri­takan.

Minggu, 14 April 2013

(tidak-begitu-)bening bayam dan orak-arik-atau-isi-pepes-padahal-sambal-goreng ayam-tahu

Sembari menciduk air untuk membersihkan sayur dan umbi, aku bertanya-tanya kenapa aku harus memasak. Untuk memenuhi tuntutan masyarakat? Supaya suamiku kelak tidak menyesal? Sepertinya karena sudah buntu dengan menulis.

Nyonya Teladan lagi tidak ada. Setelah lama tidak masak, kali ini aku merasa bagai kali pertama. Aku harus mulai dari yang sederhana.

Belakang aku terbayang-bayang bayam. Tidak kusangka akan kutemukan di kulkas. Googling dengan kata kunci “bening bayam”.

Papa merebus potongan daging ayam. Kutanya buat apa. Sebagian untuk sop, sebagian untuk digoreng. Ketimbang diolah tanpa kreativitas, aku putuskan sebagian untuk sambal goreng. Googling dengan kata kunci “sambal goreng” sekalian.

Untuk bening bayam, kurang jagung dan temu kunci.

Untuk sambal goreng, kurang kentang, daun salam, serai, lengkuas, cabai rawit, gula merah, asam jawa, cabai keriting, merica, terasi…

Tidak masalah. Bening bayam bisa tanpa jagung dan temu kunci. Sambal goreng, minimal cabai keriting. Bukan pertama kali aku bikin bening bayam dan sambal goreng. Pada pengalaman-pengalaman sebelumnya pun aku tidak selalu patuh pada resep alias jalan dengan bahan seadanya.

Bening bayam

Mestinya ini bayam dari Carrefour. Walau jarang mengolah sayur, aku tahu macam apa bayam yang buruk. Barangkali karena bayam ini sudah beberapa hari di kulkas—aku tidak ingat kapan terakhir Papa belanja.

Aku petiki jua helai demi helai dua ikat bayam itu, jumlah yang pas dengan resep. Kukuliti bawang merah. Kuambil wortel seperlunya, tanpa timbang-timbang, kupotong ujung-ujungnya, kubersihkan permukaannya. Bersama sebutir tomat, kucuci mereka tiga kali.

Bawang merah kuiris-iris. Resep bilang wortel dipotong miring, aku lupa, biarlah. Aku belah tomat beberapa bagian, untung tidak hancur.

Aku takar air 250 ml, kutuang ke panci. Terlalu sedikit…! Aku tengok resep, ternyata 2.500 ml, ganti panci. Aku biarkan panci berisi air itu pada kompor menyala hingga muncul gelembung-gelembung kecil. Aku tidak sabar untuk memasukan potongan-potongan bawang…

Kupandangi potongan-potongan kecil tak keruan itu, semula terpuruk di dasar lantas terangkat perlahan-lahan ke permukaan. Menari-nari digerakkan gelegak air. Rebus sampai harum, kata resep. Haruskah kucium? Barangkali temu kunci yang bikin harum, aku lebih ingin temu kangen… Air semakin mendidih. Berikutnya lingkaran-lingkaran oranye yang berterbangan di ceruk panci.

Masak sampai empuk, kata resep. Beberapa lama. Kuambil satu potongan dengan pisau. Kubelah di talenan. Kuicip panas-panas. Masih keras. Kuamati lagi potongan-potongan wortel yang berloncatan beberapa lama. Kuambil lagi sepotong. Kubelah. Kuicip. Rasa wortelnya masih kentara. Sekali lagi. Belum. Kutinggal deh. Berikutnya wortel sudah sangat empuk.

Sesuai resep aku cemplungkan satu sendok teh gula, aku suka manis, aku lebihkan, satu lagi, lalu, semoga resep ini tidak salah, 5 ½ sendok teh garam, sepertinya kebanyakan, jadi tidak pakai ½, aku tambahkan lagi gula, terakhir potongan tomat.

Warna-warni berdansa-dansi di kawah panci. Masak sampai mendidih, kata resep. Sudah mendidih dari tadi, batinku. Kumasukkan helai-helai bayam. Masak sampai matang, kata resep. Memang aku tahu bayam yang matang seperti apa? Wortel sudah sangat empuk tadi. Aku bolak-balik isi panci dengan pisau, sampai kira-kira dedaunan itu cukup lemas.

Aku cicipi sedikit kuah bening yang tidak begitu bening itu. Sepertinya keasinan. Mungkin aku memang sudah ingin kawin...

Sambal goreng

Di warung hanya tersedia cabai keriting, merica bubuk, dan terasi. Ada cabai merah besar, tapi melihat mereka aku tidak selera. Harus pilah-pilih lagi. Sudah siang saat itu, masak sempat ditunda karena ada urusan di luar rumah yang bikin buruk suasana hatiku. Aku singgah sebentar di Alfamart untuk beli es krim Sponge Bob, tidak dicantumkan dalam resep, aku hanya ingin ngemil.

Ayam sudah dibumbui, tinggal digoreng. Aku berencana untuk mengganti kentang dengan tahu.

Aku malas, jadi tidur dulu dalam buaian Unknown Mortal Orchestra dan Tame Impala, sampai seekor kucing masuk dari jendela. Mau tidak mau aku bangun untuk membukakan pintu kamarku, sehingga dia bisa keluar untuk menyusui anak-anaknya.

Setelah galau sebentar aku pun menuju dapur.

Ada enam sayap di panci, selebihnya cakar. Aku ambil tiga, karena aku suka keseimbangan, untuk digoreng dengan minyak yang sudah terpakai sebelumnya, karena aku suka hemat. Aku jauh dari wajan padahal, sembari mengurus bumbu halus, tapi letupan minyak panas tetap mencipratiku.

Setelahnya aku goreng tiga kotak besar tahu—menyesuaikan dengan jumlah sayap, juga mencuci bahan-bahan untuk bumbu halus. Resep bilang tambahkan garam dan merica bubuk saat bumbu halus sudah ditumis, tapi aku butuh pelicin untuk menggilas di cobek, jadi sekalian saja. Biar dikata bumbu halus, tapi kupikir tidak perlu halus amat, lagipula aku bukan orang Minang.

Mensuwir-suwir ayam cukup menyenangkan, sesekali aku menyuap potongan kering kulit ke mulut. Aku membuat kesalahan dengan tahu. Sekiranya tahu, apalagi sebesar itu, dipotong kecil-kecil sejak sebelum digoreng. Memotong tahu kecil-kecil setelah digoreng bikin potongan tidak rapi, apalagi dalamnya masih rada lunak. Setelah dicampur dengan bumbu halus nanti pasti hancur. Biarlah.

Sisa minyak untuk menggoreng ayam dan tahu di wajan kukembalikan ke rantang, lalu aku ambil lagi beberapa sendok teh untuk menumis. Sebentar saja minyak panas. Aku masukkan bumbu halus, kubuyarkan dengan spatula kayu sampai lumayan harum. Aku tumpahkan potongan-potongan daging-kulit-mungkin-sedikit-tulang ayam dan tahu ke wajan.

Hm… sudah tampak oke. Sambal goreng yang pernah kubikin biasanya berhenti sampai tahap mencampur bumbu halus dengan potongan lauk, tapi kali ini aku ingin mencoba hal baru, yang memang dititahkan oleh resep, yaitu menambahkan santan…

…yang ternyata menghancurkan segalanya.

Di resep tertera 300 ml. Aku hanya akan menuangkan 90 ml saja, sesuai yang tersedia di kulkas. Tidak kuduga 90 ml sedemikian kental. Suwiran ayam bertabur butiran-butiran isi tahu yang dilumuri dengan sobekan-sobekan merah nan seksi dari kulit cabai keriting mendadak bak isi lambung yang tidak tercerna.

Aku lari keluar dapur untuk mengambil segelas air dari dispenser, untuk kutuangkan ke adonan lembek itu. Masukkan air asam jawa. Masak sampai meresap. Bagaimana dengan air mineral? Aku biarkan sampai meresap bagaimanapun juga.

Tergugu aku di muka wajan yang meruapkan panas.

Air santan mineral itu benar-benar meresap. Aku perhatikan lingkaran oranye kemerah-putihan itu perlahan menyurut, hingga adonanku hampir persis seperti mula tapi sayangnya tetap rada lembek. Aku aduk terus sambil bertanya-tanya, kapan kering, kapan kering, bisa enggak kering? Ingin kulakukan terus sampai tercium gosong, tapi kucukupkan jua. Adikku sudah masuk dan menanyakan kapan masakanku jadi, ingin segera makan dan memang nyaris tidak ada lauk di meja makan.

Aku tuangkan “sambal goreng” rupa-rupa itu ke mangkok. “Jangan lihat bentuknya,” kataku pada adikku, tapi lihatlah dari rasanya yang sepertinya juga meragukan. Bagaimanapun aku belum makan nasi dengan lauk sedari bangun pagi itu. Nasi masih panas, “sambal goreng” masih panas. Ketika mamaku bertanya masakan apa itu, aku ingin menjawab, pepes ayam-tahu tapi isinya doang. Gundukan itu juga tampak seperti orak-arik, padahal aku tidak membubuhkan telor setetespun. Ah entahlah.

Keliatan kayak nasi goreng... :-?

Santan kental membuat orak-arik-atau-isi-pepes-padahal-sambal-goreng itu terasa terlalu gurih, tapi sepadan jika dilahap bersama gumpalan nasi yang manis-manis tawar. Enak juga, walau keasinan, tapi enak kok, cuman keasinan. Tapi aku cukup puas.

Aku lanjutkan dengan menyendok bening bayam bikinanku sendiri, yang sempat aku tidak berselera untuk memakannya. Adikku yang lain lagi bilang kalau rasa masakanku tersebut biasa, yang malah kusyukuri, ketimbang “keasinan”, atau “enggak enak”, atau “memuakkan”, ya kan? Setelah kucicipi sendiri ternyata rasanya tidak seasin yang kukira. Cukup. Walau tidak manis juga. Tapi cukup.

Wah... (pas mau ambil ternyata) tinggal dikit! Sepertinya lumayan laku...

Lumayan, untuk ukuran orang yang biasa makan seadanya.

Ingin kuteriakkan, (calon) ibu rumah tangga, BISA! Tapi sepertinya perjalanan masih jauh.

Jumat, 12 April 2013

Catatan Pembacaan 2012 – Susulan (3-3)


Welcome to the NHK – Tatsuhiko Takimoto terj. …b. Inggris (TokyoPop, 2007, dapet ngunduh di 4shared) sekalian Drop Out – Arry Risaf Arisandi (GagasMedia, Jakarta, 2008)

Welcome to the NHK (selanjutnya WNHK) adalah novel ber­ba­hasa Inggris kedua, yang bukan simplified edition, yang berhasil aku tamatkan dalam waktu relatif cepat. Bahasanya simpel, pembacaannya pun asyik.

Kupikir tepat untuk membandingkan WNHK dengan Drop Out (selanjutnya DO). Kedua novel ini mengangkat kasus yang nya­ris serupa. Tokoh utama sama-sama dewasa muda—lelaki—dari kalangan menengah yang lagi terpuruk akan nasib, dengan kon­teks menurut negara masing-masing. WNHK di Jepang, sedang DO di Indonesia.

Aku membandingkan kedua novel tersebut dari berbagai aspek semisal latar belakang tokoh utama, tokoh pendukung primer yang sama-sama perempuan, tokoh pendukung sekunder—yang merupakan tempat pelarian bagi tokoh utama—yang umumnya laki-laki, alur, keberbobotan, sampai kekurangan masing-masing cerita (or I thought so…). Kesan yang kudapat dari WNHK ada­lah rapi, fokus, serius, dan mendalam, sedang DO walaupun menghibur namun terasa acak-acakan. Walau ringan, WNHK dapat memberikan perenungan melalui percakapan dan pikiran para tokoh di dalamnya yang menyerempet hal-hal filosofis se­macam kehidupan, kematian, Tuhan, bahkan konspirasi, sedang seingatku aku tidak menemukan momen-momen semacam itu di DO. Perbandingan tersebut sepertinya bisa menjadi ulasan tersendiri yang sebaiknya aku kerjakan dengan serius lain kali.

Kupikir keduanya semacam komedi suram, yang bikin pembaca ketawa sekaligus meringis sama nasib ka­rakter-karakter di dalam ce­rita. Cerita sama-sama diakhiri tanpa perubahan nasib yang drastis, namun tokoh utama menjadi lebih tegar dalam men­ja­lani kehidupan. Menilik latar belakang pengarang masing-ma­sing, aku suka bagaimana mereka menceritakan nasib buruk yang pernah dialami—walau tidak persis—dalam kemasan yang jenaka walau tetap menyedihkan. Senada dengan apa yang per­nah kupelajari dari serial semacam 30 Rock dan Community, kelucuan digali justru dari keburukan—dalam hal ini adalah ma­nusia alias para karakter yang ditempatkan dalam situasi ter­ten­tu.

Percik-percik Pemikiran Iqbal – Ahmad Syafii Maarif dan Mohammad DIponegoro (Shalahuddin Press, Yogyakarta, 1983)

Buku yang mini banget, mungkin bisa dimasukkan ke dalam sa­ku. Tebalnya cuman 66 halaman. Isinya terdiri dari empat tu­lis­an, yaitu pengantar dari M. Habib Chirzin, dua dari Ahmad Syafii Maarif, dan selebihnya dari Mohammad Diponegoro—yang kukira adalah Pak Dipo yang mengarang Si Odah dan Ce­rita Lainnya.

Iqbal adalah pemikir yang merekonstruksi pemahaman akan Is­lam. Ia bukan saja filsuf, tapi juga penyair. Konon tulisan me­ngenai Iqbal lebih mudah dipahami ketimbang tulisan Iqbal sen­diri. Aku pun penasaran dengan bagaimana sesungguhnya pe­mikiran beliau, dan mengapa namanya begitu besar. Buku ini memberitahuku bahwa Iqbal mengusung individualitas. Tiap orang menanggung dosanya sendiri, tidak dosa orang lain. Tiap orang bisa menentukan nasib sekaligus takdirnya sendiri. Tuhan semacam partner manusia dalam memperjuangkan nasibnya, namun manusia perlu berinisiatif terlebih dulu. Aku pun teringat judul kumpulan cerpen Leo Tolstoy dalam bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Jalasutra itu, Tuhan Maha Tahu tapi Dia Menunggu. Tulisan-tulisan dalam buku ini juga membicarakan tentang ego, penjelasan yang barangkali akan lebih mudah di­cerna oleh orang yang meminati filsafat, bagaimana Iqbal mem­pertemukan pemikiran Barat dengan Timur, ijtihad itu penting, dan semacamnya.

Dari Peristiwa ke Imajinasi: Wajah Sastra dan Budaya Indonesia – Umar Junus (PT Gramedia, Jakarta, 1983)

Buku ini merupakan kumpulan esai kritik sastra, terdiri dari tiga bagian yaitu “Realitas dan Imajinasi”, “Karya Sastra dan Pem­ba­ca”, dan “Hakikat Suatu Karya”. Judul-judul yang terhimpun dalam masing-masing bagian sebetulnya menarik, seperti “Dari Peristiwa ke Imajinasi”, “Unsur Luar dalam Novel Indonesia”, “Karya Sastra dan Pembaca: Antara Dua Kerangka Pemikiran”, “Novel dan Pembaca: Persoalan Jarak”, dan sebagainya. Umumnya esai merupakan interpretasi penulis pada unsur ter­tentu dalam suatu karya—karya-karya yang entah kenapa aku tidak tertarik untuk baca. Aku tidak bisa menyelesaikan buku ini karena pembacaanku kurang nikmat, entah karena bahasanya, kontennya, atau konteksnya—yang terlampau zadul bagiku se­cara yang dibahas adalah novel-novel Balai Pustaka. Entah apa aku mulai antipati dengan novel-novel Indonesia zadul. Pa­da­hal aku suka dwilogi Putri – Putu Wijaya dan Olenka – Budi Darma, juga seru sekali membaca Atheis – Achdiat K. Mihardja, Harimau! Harimau! – Mochtar Lubis, bahkan Tenggelamnya Ka­pal Van der Wijk – Hamka. Meskipun aku juga tidak bisa me­nang­kap kesan dari Jalan Tak Ada Ujung – Mochtar Lubis, dan tidak berminat menyelesaikan Belenggu – Armijn Pane.

Kasus-kasus Perdana Poirot – Agatha Christie (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1991)

Ada 18 kasus dalam buku ini. Tokoh utama adalah Poirot, se­o­rang detektif yang sombong lagi pesolek dan metodis. Sebagian besar cerita dibawakan melalui sudut pandang orang pertama perspektif Kapten Hastings—semacam Watson bagi Holmes, bahkan ia juga tinggal satu flat dengan Poirot! Beberapa cerita dibawakan dengan sudut pandang orang ketiga saja tanpa Has­tings. Beberapa cerita berbingkai… berbingkai-bingkai malah… di mana satu orang menuturkan cerita orang lain yang me­nu­tur­kan cerita orang lain lagi… wow! Khas cerita detektif kukira. Fi­gur-figur yang diangkat dalam kumpulan kasus ini umumnya berasal dari kalangan atas, atau menengah ke atas. Asal-usul penting. Pergaulan internasional. Bahkan pelayan pun se­ba­ik­nya tampak terhormat. Menilik di Wikipedia, Agatha Christie memang berasal dari kalangan atas, dan ternyata dia bukan pe­rawan tua seperti Miss Marple.

Pembacaan cerita detektif agaknya membutuhkan konsentrasi tinggi, sementara pikiranku doyan kelayapan tak peduli apa yang tengah kukerjakan. Cerita detektif juga agaknya lebih me­li­batkan pikiran ketimbang perasaan, sehingga bagiku kurang berkesan.


Aku juga menamatkan Celoteh Soleh oleh Soleh Solihun (B-First), Pengkajian Kritik Sastra Indonesia dari Yudiono KS (Gra­sindo), dan Aku Ini Binatang Jalang yang merupakan kumpulan puisi Chairil Anwar di tahun 2012 kemarin, tapi selain informasi tersebut aku sama sekali tidak menuliskan pembacaan masing-masing. Aku juga sempat membaca The Girl with a Pearl Earring karya Tracy Chevalier sampai halaman 37 lalu memutuskan un­tuk berhenti. Ternyata aku memang belum kuat dengan novel berbahasa asing. Kukira karya-karya pendek yang dilengkapi daftar pertanyaan—yang terhimpun da­lam antologi semacam The HarperAnthology of Fiction atau One World of Literature lebih memadai bagiku untuk awal pembelajaran fiksi berbahasa Inggris.

Kamis, 11 April 2013

Catatan Pembacaan 2012 – Susulan (2-3)


Tulang Miskin: Bawaan Nasib, Keturunan, atau Ulah Kita? – Joseph Landri (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007)

Buku setebal 296 halaman yang ukurannya seperti chiclit ter­bit­an GPU ini mudah dibaca, sehingga aku bisa menamatkannya dalam sehari—beberapa jam doang sebetulnya kalau pem­ba­ca­an tidak dipotong-potong. Gaya bahasanya seperti bertutur, ba­nyak kata yang dimiringkan karena tidak baku.

Bagian utama buku ini adalah 34 cerita mengenai bagaimana orang-orang dengan kekayaannya. Kebanyakan adalah tentang yang gagal, dengan demikian penulis memberikan pelajaran da­ri ketidakberhasilan tersebut yang dirangkum dalam ruang ter­sendiri di tiap akhir cerita. Pelajaran itu ia sebut dengan ilmu KOEDOE, cara menulisnya saja yang zadul padahal pe­nger­ti­an­nya adalah bahasa Sunda dari “harus” (“kudu”). Saya hanya mencatat beberapa pelajaran yang paling terngiang dalam be­nak saya selama membaca, seolah memang hal itu yang paling ditekankan oleh penulis.

Yang pertama, istri jangan bergantung kepada suami. Pe­rem­pu­an pun harus mandiri secara finansial, kalau bisa sejak sebelum menikah, kalau belum bisa ya jangan dulu punya anak. Punya anak nanti saja kalau tabungan sudah cukup, karena butuh bi­a­ya yang tidak sedikit untuk membesarkan anak.

Yang kedua, anak harus dididik dengan ketat supaya disiplin, ra­jin, pintar bergaul, hemat, dan seterusnya… hingga ia bisa mempertanggungjawabkan sendiri hidupnya.

Hlo kok menyerempet parenting? Tengok lagi judul buku ini. Meskipun kukira penulis tidak mendalami psikologi secara men­dalam, namun faktor didikan keluarga menurutnya menentukan apakah seseorang bisa bekerja keras atau tidak supaya kaya. Syukur kalau bisa hidup enak terus, tidak ada rintangan dalam bisnis orangtua, tapi nasib siapa yang bisa menerka sih? Kita bisa sewaktu-waktu bangkrut, dan kita harus selalu punya persiapan untuk itu.

Yang ketiga, perhitungkan setiap risiko. Jangan terlalu percaya saat mengambil suatu keputusan, melainkan harus ada ca­dang­an semisal tabungan, deposito, apalah.

Ujung tombaknya memang kerja keras, tapi pola asuh orangtua juga berpengaruh signifikan. Soal kepuasan sama apa yang su­dah kita miliki itu ya terserah, yang penting kembali ke yang pertama yaitu belajar kerja itu penting.

Selain ilmu KOEDOE, di akhir tiap cerita juga disuguhkan pe­pa­tah China dan kutipan dari orang-orang terkenal. Buku yang ba­ik untuk memperluas wawasan.

Pengantar Teori Fiksi – Pujiharto (Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya UGM dengan Penerbit Elmatera, Yogyakarta, 2010)

Buku ini semacam Teori Fiksi-nya Robert Stanton yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dari segi konten sampai ukuran. Sayang daftar isi dalam buku ini cuman berisi ju­dul bab, tanpa subbab apalagi subsubbab, yang padahal jika le­bih rinci tentu bisa memberi bayangan yang “lebih terbayang” bagi pembaca. Bagaimanapun aku menemukan beberapa istilah baru dari buku ini, yang belum aku dapatkan di buku-buku lain mengenai fiksi.

Dikotomi antara fiksi serius dengan fiksi populer juga dibahas dalam buku ini. Fiksi populer sekadar menceritakan sesuatu, se­dang fiksi serius menceritakan sesuatu dengan menggunakan fakta-fakta dan sarana-sarana yang lebih rumit hingga untuk memahaminya diperlukan analisis yang serius. Fiksi populer menggambarkan tokoh yang stereotipe (pada umumnya), se­dangkan fiksi serius menghadirkan keunikan suatu tipe tokoh.  

Tujuan dari penciptaan fiksi menurut penulis adalah untuk ber­bagi pengalaman kemanusiaan. Bisa saja kita mewawancarai sang pengarang agar berbagi secara langsung, tapi dampak yang ditimbulkan akan berbeda dengan apabila kita memperolehnya melalui karya yang disusun secara estetis. Dengan demikianlah kualitas seorang pengarang diuji.

Fakta cerita adalah hasil tindakan pengarang dalam ber­i­ma­ji­na­si, berupa detail-detail yang diorganisasikan dengan baik. Fakta cerita menurut Stanton (1965) terdiri dari alur, tokoh, dan latar, yang merupakan elemen yang pertama-tama teramati oleh pembaca dalam memahami fiksi. Pembaca kemudian melihat relasi antar fakta, menemukan tema, dan mencermati sarana-sa­rana yang digunakan dalam menyusun fakta, hingga tercapai pola-pola yang bermakna.

Buku ini tidak hanya memberikan penggalan-penggalan cerpen sebagai contoh dari apa yang dijelaskan, tapi juga cerpen utuh seperti Kado Istimewa (Jujur Prananto), Perempuan dari Masa Lalu (Sirikit Syah), Robohnya Surau Kami (AA Navis), dan Di­la­rang Mencintai Bunga-bunga (Kuntowijoyo). Aku paling suka dengan dua cerpen terakhir. Aku coba membandingkan se­ka­li­gus menginterpretasikan keduanya dengan berpatok pada salah satu kriteria dalam menilai fiksi yaitu kejujuran(-koherensi), yang kalau aku rada pintar dan tidak malas mungkin bisa men­jadi esai tersendiri. Kri­teria lain dalam menilai fiksi menurut bu­ku ini adalah kesatuan, orisinalitas, kon­sistensi, dan kom­pleksi­tas. Dari contoh-contoh cerpen yang di­tampilkan, baik utuh maupun penggalan, aku menyadari bah­wa rang­kaian kalimat sederhana sudah mampu menimbulkan suasana tertentu. Jadi ke­napa sih kita harus begitu pu­sing me­mi­kirkan kalimat-kalimat “bagus” untuk dituliskan?

Reporter dan Sumber Berita: Persekongkolan dalam Mengemas dan Menyesatkan Berita – Herbert Strentz terj. …b. Indonesia (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993)

Buku ini cukup tipis dan kecil, harganya pun hanya Rp 6.500, saat diterbitkan. Aku kira kesulitanku dalam pembacaan buku ini—hingga aku pinjam dua kali tapi tidak pernah berhasil me­namatkan—adalah karena bahasa terjemahannya yang tidak simpel. Aku capek membacanya, barangkali karena kalimat-ka­li­matnya kurang pendek—serasa ada banyak gagasan yang hen­dak dimasukkan dalam satu kalimat. Bagaimanapun seharusnya buku ini memberikan ulasan yang bagus mengenai hubungan antara reporter dengan sumber beritanya, sayang aku ter­ken­da­la dengan bahasa. 

Fifty Shades of Grey – EL James (dapet ngunduh di 4shared)

Novel ini adalah novel berbahasa Inggris pertama yang berhasil aku ta­matkan, yang bukan simplified edition. Awal pembacaan aku merasa tepat membaca novel ini, karena mudah dari segi ben­tuk dan isi. Bahkan kukira novel ini masih lebih mudah ke­tim­bang cerpen-cerpen di Harper Anthology of Fiction. Bahasa da­lam novel ini seperti bahasa percakapan. Jumlah halaman yang mencapai 236 dalam format pdf aku lahap dalam sehari saja. Sesekali aku mesti berhenti membaca novel ini karena mataku capek, tapi mungkin juga karena isinya.

Bicara soal isi, menurutku novel ini penuh sensasi. Cewek biasa bertemu cowok wow yang menginginkannya mati-matian—sa­ngat klise. Ingatlah Hana Yori DangoMeteor Garden… Ya na­manya juga novel erotis, ups, tahulah bumbu apa yang wajib dibubuhkan. Dengan tokoh utama perempuan berusia 21 tahun yang baru lulus kuliah, suka baca buku, kebanyakan mikir, tidak percaya diri, naif, dan begitulah, aku merasakan tujuan di­bu­at­nya novel ini memang untuk menyenangkan pembacanya… pa­ra perempuan yang insecure.

Kesenanganku selama pembacaan novel ini lebih karena sem­ba­ri membiasakan diri membaca teks berbahasa Inggris. Ko­sa­ka­ta­ku sedikit demi sedikit bertambah melalui kata-kata yang sering muncul, seperti “murmur”, “mutter”, “shrug”, “enigmatic”, “taciturn”, “navel”, “thight”, aw aw aw… Aku malah merasa plain dengan sensasi-sensasi dalam novel ini. Biar tokoh utama perempuan diberi Mac, Blackberry, Audi, apalah, oleh ke­ka­sih­nya yang waw itu, aku kurang tergugah karena aku mungkin ti­dak be­gitu tertarik dengan materi. Mereka juga terlalu sering begituan, sampai aku berpikir, …enggak capek apa? Sesekali adegan begituan dilakukan melalui prosedur yang cukup rumit karena si pria penggemar BSDM (pengertiannya silahkan googling sendiri), dan aku malas buka kamus sehingga aku tidak begitu terbayang mengenai, ya, ujung-ujungnya intercourse kan, ah sudahlah. Aku memang tersentuh dengan si pria yang begitu perhatian pada tokoh utama, juga kemisteriusannya walau tidak terjawab di jilid ini (yaa novel ini ternyata berlanjut hingga dua jilid berikut!) namun pada satu titik aku jenuh. Pola hubungan di antara mereka begitu terus. Masalah sedikit, begituan. Kalau tidak dengan begituan, si pria memanjakan tokoh utama de­ngan kemewahan. Konflik di antara mereka sekadar pengantar menuju kesenangan berikut. Edan. Sensasi belaka. 

Rabu, 10 April 2013

Catatan Pembacaan 2012 – Susulan (1-3)

Ini catatan pembacaan yang aku simpan di Bandung tea…


Tinjauan Historis Konflik Yahudi Kristen Islam – Adian Husaini, M.A. (Gema Insani, Jakarta, 2004)

Tidak banyak yang aku tangkap dari buku ini. Penulis me­rang­kai fakta-fakta hingga membentuk alur pemikiran yang me­nen­tang alur pemikiran yang disusun dari fakta-fakta yang di­him­pun oleh para penulis lain yang dirujuk. Pembacaan yang meng­asyikkan sebetulnya, meresapkan semangat untuk membaca le­bih banyak buku tentang Islam.

Buku ini sebagaimana judulnya merunut akar kenapa Yahudi, Kristen, dan Islam selalu berkonflik. Semula Kristen dan Yahudi yang berkonflik karena Yahudi tidak mau mengakui Yesus, na­mun ketika Islam muncul mereka sama-sama tidak mau meng­akui Muhammad.

Buku ini juga menyadarkanku bahwa sejarah manusia selalu diisi dengan perang. Aku teringat cerita bergambar karangan James Thurber yang pernah aku tonton di Youtube, yang menunjukkan bah­wa perang tidak akan pernah berhenti selama ada manusia di muka bumi.

Metamorfosis – Franz Kafka terj. …b. Indonesia (Homerian Publishing, Yogyakarta, 2008 – cmiiw)

Suatu pagi Gregor Samsa bangun dan mendapati dirinya ber­u­bah jadi serangga besar, Dia tidak bisa bersuara dan bergerak se­la­yaknya manusia lagi.

Gregor Samsa adalah seorang pedagang keliling yang meng­hi­dupi ayahnya, ibunya, dan adik perempuannya—Grete. Mereka ju­ga memiliki soerang pembantu. Sepertinya keluarga ini sangat ber­gantung pada Gregor yang adalah anak sulung.

Kelurga tersebut heran karena Gregor tidak kunjung keluar dari ka­mar. Gregor sendiri susah payah bangkit dengan tubuhnya yang baru. Dia masih bisa berpikir, bagaimana dia bisa bekerja un­tuk menghidupi keluarganya dengan keadaan seperti itu? Dia ka­sihan pada orangtuanya yang memiliki hutang. Dia juga ingin membiayai adiknya sekolah biola.

Waktu berlalu. Bos Gregor sampai datang ke rumah untuk me­ngecek kenapa pegawainya yang satu ini kok tidak bekerja. Pa­da saat itulah Gregor berhasil membuka pintu kamarnya. Semua ter­peranjat.

Mereka tampak tidak bisa menerima keadaan Gregor yang ba­ru. Ayahnya seperti yang tidak mau tahu. Ibunya ingin melihat, ta­pi tidak dibiarkan karena dikhawatirkan bakal jantungan ba­rang­kali. Bosnya pun tidak peduli lagi. Pembantu mereka bah­kan minta pulang. Seakan cuman adik Gregor yang perhatian pa­da sang kakak: dia yang memberi makan; membersihkan ka­mar.

Dengan keadaan Gregor yang sedemikian rupa, mau tidak mau orang-orang di rumah itu harus belajar menghidupi diri mereka sen­diri. Ayahnya jadi pegawai. Ibunya menjahit. Adiknya se­ko­lah macam-macam sambil kerja.

Gregor sendiri tampak mulai bisa beradaptasi. Dia tidak ingin mem­buat orang-orang di rumah terkejut karena ke­mun­cul­an­nya, sehingga dia menyembunyikan diri di bawah sofa atau ba­lik seprai.

Suatu kali ibu Gregor ingin melihat anaknya, bahkan mem­ber­sih­kan kamar anaknya itu, tapi malah nyaris pingsan. Ayah Gre­gor malah melempari apel hingga anaknya itu terluka. Ternyata se­jauh itu keadaan Gregor belum juga bisa diterima. Seakan cu­man adiknya yang bisa memahami kondisi sang kakak.

Sampai suatu ketika tiga pria menyewa kamar di apartemen ke­lu­arga Samsa. Grete bermain biola di dekat tiga pria tersebut, na­mun mereka tidak cukup mengapresiasinya. Gregor pun men­de­kat untuk menyentuh adiknya itu, seolah ingin memberikan du­kungan. Tiga pria tersebut pun terkejut dan tidak bisa me­ne­ri­ma kehadiran Gregor. Konflik di keluarga itu pun terjadi, ma­lah menunjukkan kalau Grete sebetulnya tidak tahan dengan kon­disi Gregor. Menurut Grete, Gregor sudah tidak bisa di­ang­gap sebagai anggota keluarga mereka lagi.

Gregor akhirnya mati, mungkin karena lukanya. Keluarga itu me­mutuskan untuk pindah ke apartemen baru. Kehidupan me­re­ka justru tampak berseri sejak Gregor tidak lagi menghidupi me­reka, mungkin karena mereka bekerja…? Ironis.

Terjemahan yang lancar dibaca, walau ada beberapa bagian yang tidak bisa aku tangkap atau membikinku bingung. Misal di awal diberitahukan kalau Gregor memiliki lebih dari satu adik, tapi yang berperan hanya Grete.

Terlepas dari hal-hal yang bikin aku pertanyakan, aku merasa ini cerita yang menyedihkan—miris. Sebelum menjadi serangga, Gregor seakan yang paling harus berkorban demi keluarganya. Hanya dia yang menanggung beban untuk menafkahi, seolah anggota yang lain di keluarga itu tiada yang berdaya. Saat Gre­gor jadi serangga, dia malah makin nelangsa. Keluarga Gregor jadi produktif, sekaligus tidak bisa menerima kehadirannya. Jadi apa arti Gregor selama ini? Dasar keluarga tidak tahu diri.

Membaca novel tipis ini serasa menonton teater.

Rasta dan Bella – Zara Zettira ZR dan Hilman (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994)

Novel ini bisa dibilang teenlit zadul. Bahkan pada zaman itupun pengarang cerita remaja tidak menggunakan kata-kata yang ter­kesan zadul atau puitis seperti yang terdapat pada lirik lagu-lagu masa itu. Malah kesan segar yang aku dapat. Gaya bahasanya benar-benar lincah, kocak… pokoknya membangun suasana yang riang. Tidak mengherankan. Siapa yang tidak kenal Hil­man dengan serial Lupus? Sedang Zara Zettira, aku belum per­nah membaca karyanya sehingga aku tidak tahu apa dasarnya ia memiliki gaya yang kocak pula atau dalam novel ini saja dia mengimbangi Hilman. Aku bertahan membaca novel ini berkat gaya bahasanya yang sedikit-sedikit bikin tersenyum hingga ter­tawa.

Novel ini ditulis selang-seling, sebagaimana yang diterangkan pada sinopsis di sampul belakang. Zara Zettira membawakan Bella di bab ganjil, sedang Hilman menjadi Rasta di bab genap. Karakter-karakter yang ditampilkan penuh energi dan dinamis… begitulah seharusnya anak muda. Walaupun demikian aku ku­rang suka karena Rasta dan Bella adalah tipikal anak muda ibu­kota yang punya segalanya: ke sekolah dengan mengendarai mobil pribadi; saling menjatuhkan dengan memanfaatkan ja­ringan sana-sini; mampu les macam-macam; dan tentu saja ru­pawan. Serba ada, serba enak. Baru di akhir melalui narasi pe­ngarang mengungkapkan bahwa Rasta dan Bella sebetulnya ti­dak sebegitunya “wah” melainkan tetap menyimpan problema, seakan mereka akhirnya menyadari kalau telah menciptakan ka­rakter yang terlampau superior.

Alur yang dihadirkan juga sebenarnya udah biasa banget, me­nu­rutku, untuk ukuran zaman ini, entah pada zaman itu. Cewek dengan cowok saling enggak suka, tapi pada akhirnya mereka jatuh cinta pada satu sama lain. Konflik antara Rasta dan Bella sudah dibangun sejak awal sekali, lalu dibuat semakin panas melalui ulah satu sama lain… (sampai aku sempat jenuh dan langsung loncat ke bab belakang).

Biarpun aku tidak bersimpati dengan para karakter beserta gaya hidup mereka yang jorjoran, namun gaya bercerita yang se­demikian menarik membuatku memaafkannya… hehe. 

Step by Step Internet Marketing – Andy Shera (PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2010)

Tiga poros perputaran uang di internet (marketing triangle) ter­diri market (contoh: Facebook, KasKus, Google), vendor (Ama­zon), dan affiliate (citibank, paydotcom). Sukses adalah produk atau jasa yang disukai banyak orang ditambah faktor kali. Selalu lakukan tes produk: sebar iklan lalu bandingkan dengan se­be­ra­pa banyak yang membeli produk kita untuk menentukan se­be­rapa produk tersebut disukai dan seberapa efektif iklan tersebut. Faktor kali dapat berupa media yang bisa menyampaikan pro­mo ke sebanyak mungkin orang, contohnya internet, koran, dan sebagainya.

Saran utama yang diberikan buku ini kukira adalah bagaimana membuat website kita berada di urutan teratas apabila se­se­o­rang mencari sesuatu di Google. Maka kita perlu mengetahui kata kunci apa yang paling sering dicari. Dibutuhkan upaya mi­nimal satu jam per hari untuk menempelkan link produk kita di mana-mana, yang menurut penulis buku ini akan lebih meng­un­tungkan jika kita menggunakan media berbayar.

Walau buku ini memberikan pengetahuan mengenai uang di­gi­tal, cara bayar lewat internet, sampai cara untuk mengetahui website paling laris, namun yang paling penting yang perlu kita cari tahu sendiri adalah: produk apa yang bisa saya jual?

Selasa, 09 April 2013

At Least I Was Here

dari The 88, At Least It Was Here

Give me your hands. Show me the door. I cannot stand, to wait anymore. Somebody said, be what you'll be. We could be old and cold and dead on the sea.

But I love you more than words can say... I can’t count the reasons I should stay.

Give me some rope, tie me to dream. Give me the hope to run out of steam. Somebody said it can be here. We could be roped up, tied up, dead in a year.

I can't count the reasons I should stay. One by one they all just fade away...

I’m tied to the wait and sees. I’m tired of that part of me. That makes up a perfect lie, to keep us busy. But hours turn into days, so watch what you throw away. And be here to recognize, there’s another way.

Senin, 08 April 2013

Menemani Orang Jogja Jalan-jalan di Bandung

Wilujeng sumping di Bandung,” kusalami Ncan. Dia sampai di Stasiun Kiaracondong sekitar ¾ jam lalu. Hujan deras yang turun sejak semalam baru reda sekitar jam enam pagi itu. Dia bertolak dari Jogja sekitar pukul tujuh malam dengan menggunakan kereta ekonomi AC Kahuripan—harga tiket Rp 100.000. Tidurnya tidak nyaman semalaman karena sandaran kursi yang begitu lurus.

“Udah liat itu?” Kutunjuk jembatan layang dengan latar kelabu di kejauhan. Aku sangat ingin Ncan melihat panorama tersebut, dan barangkali kekumuhan di bawahnya. Dia mau.

Maka Ncan terpukau menyaksikan hujan merembes dari jalan layang, hingga pasar, manusia, dan kendaraan yang berjejalan di sebidang jalan sempit. Aku membeli empat serabi oncom seharga masing-masing seribu, bonus satu. Sejak kami masih di Jogja aku sudah membicarakan serabi oncom yang kupikir penganan khas Bandung. Dia cuman makan satu.

Tidak banyak lagi yang bisa dilihat, tapi cukup banyak yang bisa aku ceritakan tentang Kiaracondong. Hampir tiap pagi selama tiga tahun aku melewati kawasan tersebut untuk menuju ke SMP yang berlokasi cukup jauh dari rumahku. Aku merekam dengan inderaku jembatan layang yang dari tiada menjadi ada. Sampah menumpuk hingga dasar jembatan, lalat besar bermata hijau mengerubunginya, dan jarakku yang duduk di dalam angkot dengan gunungan hama tersebut tidak sampai semeter.

Ketimbang menunggu angkot sembari berdiri di bawah rintik, kami lanjut berjalan ke utara. Ncan menangkap seekor kodok, yang juga bisa ditemukan di solokan samping Graha Sabha Pramana UGM. Kami mampir ke pom bensin terdekat, sehingga Ncan bisa mencuci tangannya yang bekas pegang kodok dengan air berkarat. Kami menembus kerumunan karyawati pabrik tekstil di bawah payung-payung mereka.

“Pagi-pagi tekanannya udah tinggi,” komentar Ncan. Aku mesem membayangkan suasana pagi di Jogja yang agaknya ayem saja.

Seperti aku lahir dan besar di Bandung, Ncan juga lahir dan besar di Jogja. Dia ke Bandung baru sekitar dua kali: saat SMP mengunjungi Sabuga serta Museum Geologi dan sekitarnya; saat Kuliah Lapangan beberapa tahun lalu mengunjungi sentra oleh-oleh yang seperti Malioboro tapi dia tidak ingat namanya. Denganku pada Sabtu nan berhujan itu, tiga bulan setelah usiaku 22 tahun atau dua bulan sebelum usianya 24 tahun, perjalanannya di Bandung kali ini memberikan kesan yang menurutnya seru ketimbang di kota-kota lain.

Dengan angkot Riung-Dago aku membawanya ke sekitar Monumen Pancasila. Bandung masih rintik dan kelabu. Dia pegang payung biru ukuran sedang berlogo UGM milikku, tidak ingin bajunya basah. Sesekali aku memegangkan payung untuknya, untuk DSLR miliknya, ketika dia ingin memotret. Kami menyusuri pulau demi pulau taman yang menghubungkan monumen dengan lapangan Gasibu, yang menurutnya mirip boulevard (di UGM). Dia melihat rongsokan besi yang ternyata bangku karatan. Dia ragu ada ikan di kolam bulat yang berair hijau itu, tapi kok banyak orang yang memancing. Dia senang berjalan di atas bebatuan kecil untuk pijat-pijat kaki. Dia pikir orang bakal celaka kalau lari-lari di lapangan Gasibu—lihat permukaan sirkuitnya yang pecah-pecah. Kami berbagi nasi tim ayam Sizi di pinggir Gedung Sate. Kami jalan-jalan sebentar di Taman Lansia di mana dia kecewa karena tidak menemukan kodok di habitat sepas itu. Dia tidak menemukan taman seperti Taman Lansia di Jogja, dan kutunjukkan bahwa taman itu juga rumah bagi gelandangan. Dia mengenang kunjungannya dahulu di Museum Geologi. Aku membelikannya kue cubit yang menurutnya enak tapi dia tidak makan banyak. Dia ingin menyingkirkan sampah yang dia lewati di jalan tapi tidak tahu ke mana, jalan tersebut sepertinya sudah merupakan tempat sampah besar. Dia duduk di depan pagar Monumen Pancasila dan tertegun ketika seorang cewek berdandan menarik melintas.

Baru sekitar tiga jam sejak aku menggiringnya menapaki jalanan Bandung. Dia sudah melihat kontradiksi antara penampilan orang Bandung yang menurutnya wah, dengan lingkungan sekitarnya yang berserakkan sampah. “Seperti yang hanya memedulikan penampilan sendiri, tapi cuek sama sekitarnya ya?” simpulku. Dia bandingkan dengan orang Jogja dan lingkungan di sana yang menurutnya selaras saja.

Kami melewati UNPAD di mana trotoar bukannya berada di sisi jalan melainkan diapit oleh deretan warung dan solokan, barangkali menakjubkan juga bagi Ncan. Kami melalui RS Borromeus yang kukatakan sebagai Panti Rapihnya Bandung. Kami singgah di Masjid Salman, yang kukatakan dirancang oleh pemilik radio KLCBS—Ardianya Bandung, di mana ia menemukan colokan. Aku mengajaknya ke Ijzerman Park (cmiiw) di mana ia menemukan kodok kemerahan di kolam, papan identifikasi burung di kawasan tersebut, dan tentu saja becek, gelandangan, dan sampah. Di bagian atas taman kutunjukkan plat yang memberikan informasi mengenai gunung-gunung yang mengitari Bandung di selatan.

Dia terkesan dengan bangunan ITB yang unik, yang kukatakan sebagai peninggalan Belanda dan rancangannya menyesuaikan beberapa bangunan adat di Indonesia. Hari itu bertepatan dengan wisuda sehingga kami bisa menyaksikan kehebohan mahasiswa ITB menyambut wisudawan/watinya dengan arak-arakan, dia tampak iri. Dia memotret Indonesia Tenggelam dan beberapa objek lain di tengah kampus. Di Tokema dia melihat-lihat suvenir khas ITB sementara aku menunggunya di luar sambil makan Sariroti isi cokelat dan menjaga DSLR. Kami menuju Saraga dengan melewati terowongan Sunken. Dia mengeluarkan Rp 15.000 untuk setengah jam renang di kolam standar olimpiade di lantai dua dengan panorama tajuk pepohonan di Babakan Siliwangi, sementara aku menungguinya di seberang musala sambil berusaha menulis. Setelah salat kami minum susu murni di gerbang Saraga, lalu dia melahap lumpia basah sementara aku coba memotret kucing bercorak unik dengan DSLR. Perjalanan dilanjutkan dengan aku mendongeng Babakan Siliwangi, namun sayang dia tidak tertarik untuk menjelajahi kawasan tersebut keseluruhan. Dia lebih tertarik pada variasi mural di dinding seng yang mengitari hutan mini itu.

Kami lanjut menyusuri Sabuga—dia mencicipi donat Polandia isi keju, BATAN, Pasar Seni dan Kebun Binatang, di tempat pembuangan sampah dia memotret manuk japati dan burung gereja yang mencari makan, kutunjukkan bagaimana pemukiman padat nan kumuh, hotel-mal-apartemen, dan hutan berdampingan dari tepi jalan tersebut, kami mengaso sebentar di dekat Bappeda sembari minum kelapa muda campur susu.

Dia tertarik dengan jembatan Pasopati, sementara aku takjub akan lapangan di bawah jembatan tersebut. Bagian bawah jembatan Pasopati juga berisi area parkir, area street soccer yang disponsori berbagai pihak, dan ornamen-ornamen yang tidak terbengkalai. Kami turun terus hingga mencapai taman yang terawat cukup baik, dan membatasi kami dari aliran deras Sungai Cikapundung yang mengingatkanku akan iklan susu Milo.

Tujuan selanjutnya adalah Taman Cikapayang dengan instalasi D, A, G, dan O besar, di mana orang-orang suka bermain skateboard di depannya, “di tempat sekotor ini?” tanggapannya mulai sinis. Beberapa saat kemudian dia malah geli karena melihat mbak-mbak cantik memasuki angkot. "Mau dandan mau lusuh, sama-sama naik angkot," komentarnya. Kami lalu menyeberang ke instalasi lain, lalu titik henti kami selanjutnya adalah Dukomsel, Dago Plaza, dan Gramedia, sebelum mencapai masjid di samping Balaikota untuk salat ashar.

Sepanjang hari itu hujan sesekali rintik sesekali mendung saja, dan jelang petang itu rintik lagi. Masih sekitar empat jam sebelum Kahuripan yang akan membawa Ncan kembali ke Jogja datang, tapi malam Minggu yang berpotensi macet bikin aku khawatir kalau kami menjelajahi Braga dan sekitarnya dulu tidak bakal keburu. Lagipula Ncan sepertinya sudah sangat capek.

Aku tidak tahu angkot mana dari sekitar Balaikota yang sekali jalan ke Kiaracondong. Jadi aku mengajak Ncan naik angkot St. Hall-Gedebage di dekat Bank Indonesia, untuk disambung dengan angkot Kalapa-Caheum di sekitar Jalan Martanegara. Dengan angkot St. Hall-Gedebage kami tetap bisa melewati objek menarik seperti bangunan tua ala Pecinan hingga Alun-alun—yang berkali-kali Ncan singgung seharian itu. Masih Ncan tertegun-tegun ketika melihat cewek-cewek berkulit, istilahnya, “transparan”, yang kukira istilah yang lebih lazim adalah “bening”. Dia heran kenapa kulitku tidak transparan seperti cewek-cewek di Bandung yang dia lihat. Hei, bukankah iklan pencerah kulit di TV sudah mengajarkan kalau yang terang memang yang lebih terlihat? Banyak juga kok cewek berkulit cokelat di Bandung. Setelah kutunjukkan Alun-alun beserta masjid agung, Ncan terkantuk-kantuk.

Kami makan nasi, “pecel” lele, dan kol goreng di warung tenda di Jalan Turangga yang sudah dekat rumahku sebetulnya, tapi aku tidak mungkin mengajaknya bertandang. Hujan deras kembali. Magrib lewat. Angkot Kalapa-Caheum pun kami naiki, yang selanjutnya bikin Ncan was-was sepanjang jalan. Berkali-kali sopir angkot yang berkacamata itu (sopirnya, bukan angkotnya) menginjak rem sampai bikin laju kendaraan tersentak-sentak. Jalanan gelap bergelimang air dan remang-remang cahaya. Kutunjukkan gemerlap kawasan Trans Studio, kali ini Ncan tidak lantas tertidur.

Bagian depan Stasiun Kiaracondong begitu ramai malam itu. Ncan mengajakku duduk dulu di bangku yang tersisa. Kami mengobrol ditimpali deras hujan. Lagipula penumpang Kahuripan belum diperbolehkan memasuki peron.

Sesekali suara keras seorang pria muncul seakan memberikan pengumuman, tapi tidak jelas. “Kenapa enggak pake speaker aja sih?” keluhku. “Tahu tuh, kotamu,” sahut Ncan. Aku pun geli. Sejak pagi aku menyarankan Ncan untuk menuliskan kesannya atas kota ini di kertas, lalu aku akan memasukkannya di KOTAK ASPIRASI di Balaikota—ketimbang jadi wadah debu saja. Padahal baru sedikit dari sekian titik di Kota Bandung yang kami susuri seharian itu, yang sepertinya sudah cukup membikin Ncan mensyukuri Jogjanya.

Sekitar pukul setengah delapan malam akhirnya penumpang Kahuripan diperbolehkan memasuki peron. Aku mengantarnya sampai ke meja pengecapan tiket. Sebelum berlalu dia menyalamiku. “Sampai ketemu di Jogja.”