LAINNYA

Rabu, 10 April 2013

Catatan Pembacaan 2012 – Susulan (1-3)

Ini catatan pembacaan yang aku simpan di Bandung tea…


Tinjauan Historis Konflik Yahudi Kristen Islam – Adian Husaini, M.A. (Gema Insani, Jakarta, 2004)

Tidak banyak yang aku tangkap dari buku ini. Penulis me­rang­kai fakta-fakta hingga membentuk alur pemikiran yang me­nen­tang alur pemikiran yang disusun dari fakta-fakta yang di­him­pun oleh para penulis lain yang dirujuk. Pembacaan yang meng­asyikkan sebetulnya, meresapkan semangat untuk membaca le­bih banyak buku tentang Islam.

Buku ini sebagaimana judulnya merunut akar kenapa Yahudi, Kristen, dan Islam selalu berkonflik. Semula Kristen dan Yahudi yang berkonflik karena Yahudi tidak mau mengakui Yesus, na­mun ketika Islam muncul mereka sama-sama tidak mau meng­akui Muhammad.

Buku ini juga menyadarkanku bahwa sejarah manusia selalu diisi dengan perang. Aku teringat cerita bergambar karangan James Thurber yang pernah aku tonton di Youtube, yang menunjukkan bah­wa perang tidak akan pernah berhenti selama ada manusia di muka bumi.

Metamorfosis – Franz Kafka terj. …b. Indonesia (Homerian Publishing, Yogyakarta, 2008 – cmiiw)

Suatu pagi Gregor Samsa bangun dan mendapati dirinya ber­u­bah jadi serangga besar, Dia tidak bisa bersuara dan bergerak se­la­yaknya manusia lagi.

Gregor Samsa adalah seorang pedagang keliling yang meng­hi­dupi ayahnya, ibunya, dan adik perempuannya—Grete. Mereka ju­ga memiliki soerang pembantu. Sepertinya keluarga ini sangat ber­gantung pada Gregor yang adalah anak sulung.

Kelurga tersebut heran karena Gregor tidak kunjung keluar dari ka­mar. Gregor sendiri susah payah bangkit dengan tubuhnya yang baru. Dia masih bisa berpikir, bagaimana dia bisa bekerja un­tuk menghidupi keluarganya dengan keadaan seperti itu? Dia ka­sihan pada orangtuanya yang memiliki hutang. Dia juga ingin membiayai adiknya sekolah biola.

Waktu berlalu. Bos Gregor sampai datang ke rumah untuk me­ngecek kenapa pegawainya yang satu ini kok tidak bekerja. Pa­da saat itulah Gregor berhasil membuka pintu kamarnya. Semua ter­peranjat.

Mereka tampak tidak bisa menerima keadaan Gregor yang ba­ru. Ayahnya seperti yang tidak mau tahu. Ibunya ingin melihat, ta­pi tidak dibiarkan karena dikhawatirkan bakal jantungan ba­rang­kali. Bosnya pun tidak peduli lagi. Pembantu mereka bah­kan minta pulang. Seakan cuman adik Gregor yang perhatian pa­da sang kakak: dia yang memberi makan; membersihkan ka­mar.

Dengan keadaan Gregor yang sedemikian rupa, mau tidak mau orang-orang di rumah itu harus belajar menghidupi diri mereka sen­diri. Ayahnya jadi pegawai. Ibunya menjahit. Adiknya se­ko­lah macam-macam sambil kerja.

Gregor sendiri tampak mulai bisa beradaptasi. Dia tidak ingin mem­buat orang-orang di rumah terkejut karena ke­mun­cul­an­nya, sehingga dia menyembunyikan diri di bawah sofa atau ba­lik seprai.

Suatu kali ibu Gregor ingin melihat anaknya, bahkan mem­ber­sih­kan kamar anaknya itu, tapi malah nyaris pingsan. Ayah Gre­gor malah melempari apel hingga anaknya itu terluka. Ternyata se­jauh itu keadaan Gregor belum juga bisa diterima. Seakan cu­man adiknya yang bisa memahami kondisi sang kakak.

Sampai suatu ketika tiga pria menyewa kamar di apartemen ke­lu­arga Samsa. Grete bermain biola di dekat tiga pria tersebut, na­mun mereka tidak cukup mengapresiasinya. Gregor pun men­de­kat untuk menyentuh adiknya itu, seolah ingin memberikan du­kungan. Tiga pria tersebut pun terkejut dan tidak bisa me­ne­ri­ma kehadiran Gregor. Konflik di keluarga itu pun terjadi, ma­lah menunjukkan kalau Grete sebetulnya tidak tahan dengan kon­disi Gregor. Menurut Grete, Gregor sudah tidak bisa di­ang­gap sebagai anggota keluarga mereka lagi.

Gregor akhirnya mati, mungkin karena lukanya. Keluarga itu me­mutuskan untuk pindah ke apartemen baru. Kehidupan me­re­ka justru tampak berseri sejak Gregor tidak lagi menghidupi me­reka, mungkin karena mereka bekerja…? Ironis.

Terjemahan yang lancar dibaca, walau ada beberapa bagian yang tidak bisa aku tangkap atau membikinku bingung. Misal di awal diberitahukan kalau Gregor memiliki lebih dari satu adik, tapi yang berperan hanya Grete.

Terlepas dari hal-hal yang bikin aku pertanyakan, aku merasa ini cerita yang menyedihkan—miris. Sebelum menjadi serangga, Gregor seakan yang paling harus berkorban demi keluarganya. Hanya dia yang menanggung beban untuk menafkahi, seolah anggota yang lain di keluarga itu tiada yang berdaya. Saat Gre­gor jadi serangga, dia malah makin nelangsa. Keluarga Gregor jadi produktif, sekaligus tidak bisa menerima kehadirannya. Jadi apa arti Gregor selama ini? Dasar keluarga tidak tahu diri.

Membaca novel tipis ini serasa menonton teater.

Rasta dan Bella – Zara Zettira ZR dan Hilman (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994)

Novel ini bisa dibilang teenlit zadul. Bahkan pada zaman itupun pengarang cerita remaja tidak menggunakan kata-kata yang ter­kesan zadul atau puitis seperti yang terdapat pada lirik lagu-lagu masa itu. Malah kesan segar yang aku dapat. Gaya bahasanya benar-benar lincah, kocak… pokoknya membangun suasana yang riang. Tidak mengherankan. Siapa yang tidak kenal Hil­man dengan serial Lupus? Sedang Zara Zettira, aku belum per­nah membaca karyanya sehingga aku tidak tahu apa dasarnya ia memiliki gaya yang kocak pula atau dalam novel ini saja dia mengimbangi Hilman. Aku bertahan membaca novel ini berkat gaya bahasanya yang sedikit-sedikit bikin tersenyum hingga ter­tawa.

Novel ini ditulis selang-seling, sebagaimana yang diterangkan pada sinopsis di sampul belakang. Zara Zettira membawakan Bella di bab ganjil, sedang Hilman menjadi Rasta di bab genap. Karakter-karakter yang ditampilkan penuh energi dan dinamis… begitulah seharusnya anak muda. Walaupun demikian aku ku­rang suka karena Rasta dan Bella adalah tipikal anak muda ibu­kota yang punya segalanya: ke sekolah dengan mengendarai mobil pribadi; saling menjatuhkan dengan memanfaatkan ja­ringan sana-sini; mampu les macam-macam; dan tentu saja ru­pawan. Serba ada, serba enak. Baru di akhir melalui narasi pe­ngarang mengungkapkan bahwa Rasta dan Bella sebetulnya ti­dak sebegitunya “wah” melainkan tetap menyimpan problema, seakan mereka akhirnya menyadari kalau telah menciptakan ka­rakter yang terlampau superior.

Alur yang dihadirkan juga sebenarnya udah biasa banget, me­nu­rutku, untuk ukuran zaman ini, entah pada zaman itu. Cewek dengan cowok saling enggak suka, tapi pada akhirnya mereka jatuh cinta pada satu sama lain. Konflik antara Rasta dan Bella sudah dibangun sejak awal sekali, lalu dibuat semakin panas melalui ulah satu sama lain… (sampai aku sempat jenuh dan langsung loncat ke bab belakang).

Biarpun aku tidak bersimpati dengan para karakter beserta gaya hidup mereka yang jorjoran, namun gaya bercerita yang se­demikian menarik membuatku memaafkannya… hehe. 

Step by Step Internet Marketing – Andy Shera (PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2010)

Tiga poros perputaran uang di internet (marketing triangle) ter­diri market (contoh: Facebook, KasKus, Google), vendor (Ama­zon), dan affiliate (citibank, paydotcom). Sukses adalah produk atau jasa yang disukai banyak orang ditambah faktor kali. Selalu lakukan tes produk: sebar iklan lalu bandingkan dengan se­be­ra­pa banyak yang membeli produk kita untuk menentukan se­be­rapa produk tersebut disukai dan seberapa efektif iklan tersebut. Faktor kali dapat berupa media yang bisa menyampaikan pro­mo ke sebanyak mungkin orang, contohnya internet, koran, dan sebagainya.

Saran utama yang diberikan buku ini kukira adalah bagaimana membuat website kita berada di urutan teratas apabila se­se­o­rang mencari sesuatu di Google. Maka kita perlu mengetahui kata kunci apa yang paling sering dicari. Dibutuhkan upaya mi­nimal satu jam per hari untuk menempelkan link produk kita di mana-mana, yang menurut penulis buku ini akan lebih meng­un­tungkan jika kita menggunakan media berbayar.

Walau buku ini memberikan pengetahuan mengenai uang di­gi­tal, cara bayar lewat internet, sampai cara untuk mengetahui website paling laris, namun yang paling penting yang perlu kita cari tahu sendiri adalah: produk apa yang bisa saya jual?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar