LAINNYA

Minggu, 07 April 2013

Catatan Pembacaan 2012 (6-6)


Nagabumi I: Jurus tanpa Bentuk – Seno Gumira Ajidarma (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009)

Novel ini menceritakan tentang seorang pendekar tanpa nama… ya memang itulah namanya: Pendekar tanpa Nama, yang dituturkan oleh si pendekar itu sendiri. Usianya 100 tahun, yang 25 tahun sebelumnya ia habiskan dengan bertapa di dalam gua, hingga sadar bahwa ia menjadi incaran para pendekar, berkat selebaran yang menghadiahkan 10.000 keping emas bagi kematiannya. Pendekar tanpa Nama pun keluar dari keterpencilannya. Ia bertemu dengan dunia luar lagi, diserang oleh banyak orang lagi, tapi ia selalu berhasil mengatasi karena ia begitu sakti. Ia menyamar untuk mencari keterangan mengenai perburuan dirinya. Ia sempat dibawa pegawal rahasia kerajaan, dicambuki, diberi ramuan obat, lalu dilepaskan, tapi tetap diincar, bahkan orang yang mengobatinya pun terbunuh. Teruslah ia berkelana, bertemu korban dengan rajah Cakrawarti di dadanya, hingga menyamarkan diri menjadi pembuat lontar sembari menuliskan riwayat hidupnya. Alur baru pun dimulai…

Novel ini terdiri dari lima bagian, eka sampai panca. Tiap bagian terdiri dari 20 bab pendek. Setelah alur baru dimulai, yaitu awal Pendekar tanpa Nama menyadari keberadaan dirinya, alur menjadi bolak-balik bahkan bertumpuk. Kita ingin tahu kejadian apa yang menimpa Pendekar tanpa Nama setelah usianya 25 tahun, tapi kita juga penasaran apa yang masih bakal terjadi padanya di usia 100 tahun. Setelah 19 bab menceritakan masa lalu Pendekar tanpa Nama, satu bab terakhir dalam setiap bagian kembali pada Pendekar tanpa Nama yang berusia 100 tahun: si pembuat lontar yang lagi rihat sejenak dari menceritakan kisah hidupnya, dan merenungkan tentang pembacaan dan penulisan.

Sebagai cerita silat bersejarah yang pernah dimuat secara bersambung di Suara Merdeka, novel ini bukannya enggak sensasional dan redundant. Sensasional karena karena tokoh utamanya begitu sakti dan banyak aksi. Bagaimana tubuh pesilat melenting-lenting, pedangnya berdenting-denting, tapaknya berdesing-desing, apa deh, deskripsi yang ditampilkan bikin bayangan yang muncul dalam kepalaku begitu ciamik. Redundant karena kutemukan pengulangan demi pengulangan, misal rangkuman kejadian di bab sebelumnya pada bab baru yang seakan mengingatkan pembaca atau malah si pencerita itu sendiri akan… sampai di mana kita tadi?

Referensi yang digunakan untuk membangun latar dalam novel ini pun bukan main… baru kali ini aku menemukan “Daftar Pustaka” di dalam sebuah novel, dengan keterangan tambahan hingga puluhan halaman. Inilah contoh karya yang digarap dengan betul-betul serius!

Tokoh-tokoh yang berseliweran di dalam novel inipun unik-unik. Ada Pendekar Topeng Tertawa yang kalau tertawa malah menimbulkan kegetiran, Pendekar Tangan Pedang yang aku bingung kalau cebok gimana, Naga Dadu yang doyan berdandan seperti perempuan, Serigala Putih yang orang Tartar dan suka membunuh gurunya, Pendekar Lautan Tombak yang barangkali senjatanya adalah tombak sedang gerakannya seperti lautan, Pendekar Dawai Maut yang walau kakinya buntung tapi bisa menggantung orang pakai dawai kecapi, Raja Pembantai dari Selatan yang konon sangat kejam tapi dengan baik hati menransfer ilmunya pada Pendekar tanpa Nama begitu ajalnya tiba, Pendekar Melati yang harum melati, Sepasang Naga dari Celah Kledung yang merupakan pengganti orangtua bagi Pendekar tanpa Nama, dan masih banyak lagi, dan masing-masing memiliki gaya tempur yang berbeda.

Kukira sebelumnya aku enggak pernah menulis pembacaan sepanjang yang aku tuliskan untuk novel ini, banyak aspek yang kubahas. Enggak cuman tentang hal-hal yang telah kusebutkan di atas, tapi masih ada beberapa poin lagi. Novel yang sangat kaya, dengan penuturan yang gamblang sekaligus subtil. Tebalnya yang 750-an halaman dengan ukuran font lumayan kecil bikin sakit mata, dan enggak ingin baca buku lain untuk sementara waktu…


Sebetulnya ada beberapa buku lagi. Tapi catatan tentang mereka kusimpan di Bandung, sementara saat mengetik ini aku se­dang di Jogja. Jika diakumulasikan dengan yang sudah dipajang se­belumnya di blog, ternyata di tahun 2012 ini aku hanya mam­pu melahap sekitar tiga buku dalam sebulan.

Agaknya di tahun 2012 pulalah aku merenungkan pembacaan yang telah kulakukan, biar dramatis, seumur hidupku. Dari sekian buku yang telah aku baca, aku belum merasa jadi manusia yang berguna. Pembacaanku terasa enggak berarti. Ditambah kecenderungan pikiranku untuk loncat-loncat, timbul teng­ge­lam. Mata boleh memindai tiap kata hingga enggak satupun ter­lewat, tapi yang tertangkap oleh otakku untuk diproses paling berapa persen sih.

Wacana mengenai pembacaan sekaligus penulisan akhirnya tertuang dalam (draf) novel yang aku kerjakan untuk CampNaNo­WriMo Agustus 2012. Sebagaimana karakter pendamping da­lam cerita tersebut, aku adalah pembaca yang omnivora. Mem­baca semaunya, menulis pun semaunya, hingga aku enggak kunjung sampai pada apa yang sebenarnya ingin aku tulis.

Aku ingin memperbaiki pembacaanku. Membaca enggak sekadar membaca. Melainkan fokus membaca, secara benar-benar, apa yang sebenarnya ingin aku tulis. Dan mengamalkan ke­ba­ik­an dari apa yang di­ba­ca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar