LAINNYA

Sabtu, 06 April 2013

Catatan Pembacaan 2012 (5-6)


Sakit ½ Jiwa – Endang Rukmana (Gagasmedia, 2006)

Menurut temanku novel ini lucu, tapi rupa-rupanya aku tertipu. Setelah baca dua bab pertama lantas loncat ke satu bab terakhir, selebihnya aku baca skimming, aku memutuskan untuk enggak menamatkan novel ini. Pembacaan yang menyesakkan.

Memang di awal si pengarang sudah bilang kalau dia enggak memaksudkan novel ini sebagai komedi, yang menurutku merupakan apologi kalau-kalau upayanya melucu enggak berhasil. Untung dia sadar diri untuk enggak mencantumkan label yang “berat” itu di sampul.

Satu, eh, dua saja elemen yang menurutku buruk. Interaksi Bobi, tokoh utama, dengan Monda, pacarnya, enggak banget. Mengarah ke “situ” melulu, tanpa pertanggungjawaban, tanpa dituntaskan. Ini niat ML apa enggak sih, udah ditungguin, woy! Selain itu deskripsi lokasi yang disajikan menurutku enggak memperkaya visualisasi dalam benak, melainkan kayak sekadar potongan dari catatan perjalanan atau brosur wisata.

Padahal di balik sampul belakang ditayangkan pengalaman si pengarang dalam menulis yang sepertinya lumayan, tapi ternyata enggak menjanjikan.

Novel ini sukses mengobarkan sisi enggak berperasaan dari dalam diriku.

Mengenal Keris: Senjata “Magis” Masyarakat Jawa – Ragil Pamungkas (NARASI, Yogyakarta, 2007)

Harry Potter punya tongkat sihir, Joko Puter punya keris. Betul. Keris itu seperti tongkat sihir. Uji kecocokan diperlukan untuk menemukan pemilik yang tepat bagi sebuah keris. Tongkat sihir Harry Potter bisa mengeluarkan hewan dengan mantra Patronus (CMIIW!), keris pun bisa mengeluarkan makhluk halus. Dengan demikian keris adalah tongkat sihir made in local. Harry Potter sekolah di Hogwarts, sedang Joko Puter mengemban ilmu di sekolah kejawen supaya bisa mengendalikan kerisnya dan menghadapi musuh besarnya… manusia yang meminjam kekuatan iblis…

Buku ini membangkitkan berbagai ide di dalam kepalaku, yang kiranya bisa dikembangkan menjadi karya bergenre fiksi fantasi tradisional. Aku heran kenapa para pengarang fikfan lokal lebih tertarik mengembangkan ide dari mitologi Barat, anime, dan semacamnya, ketimbang “kearifan lokal” yang dimiliki neneknya sendiri (I mean these last words literally).

Nibiru dan Kesatria Atlantis – Tasaro GK (Tiga Serangkai, Solo, 2010)

Novel ini seharusnya menggetarkan, tapi aku membacanya tanpa hasrat sebesar saat aku membaca Garuda 5Utusan Iblis (G5UI). Padahal dari segi alur dan karakter, G5UI lebih simpel. Padahal sama-sama bermuatan islami.

Novel ini memiliki alur yang cukup pelik, yang dijalankan oleh banyak tokoh. Sudah begitu persepsi kita terhadap tokoh kadang dibolak-balik, atau tokoh tertentu ternyata menyimpan atau memberikan hal terduga. Sebetulnya hebat.

XX – AR Arisandi (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007)

Menurutku novel metropop satu ini tergolong aneh, lebih menyerupai cerita detektif, atau aku lebih suka mengatakannya sebagai dark metropop. Sebelum novel ini, aku telah membaca tiga novel lain dari pengarang yang sama yaitu Cewephobia, Drop Out, dan Metal vs Dugem, lalu memutuskan bahwa om-om satu ini adalah favoritku. Aku suka dengan gaya tuturnya: menurutku ia tahu bagaimana harus menulis—komedi, dan menulis untuk siapa. Walau XX enggak dilabeli “komedi” sebagaimana tiga novel lain, dan terkesan serius dengan bahasanya yang baku, namun ciri khas Om ARA masih kentara, thus menjadikan novel ini menyegarkan.

Kukira Om ARA cukup piawai membawakan sudut pandang perempuan yang menjadi tokoh utama dalam novel ini, secara di novel-novel sebelumnya ia menggunakan sudut pandang orang pertama laki-laki atau sudut pandang orang ketiga. Nama-nama yang ia pilih untuk beberapa karakter dengan peran penting agaknya juga memiliki maksud tertentu, seperti: Archie dengan perusahaannya yang bernama ArchieTech, padahal enggak ada hubungannya dengan arsitektur melainkan pemrograman komputer atau apa begitu; Hans Sebastian, pengarang buku tentang hubungan suami-istri atau apa begitu yang mengingatkanku sama pengarang buku anak-anak—Hans Christian Andersen, yang namanya disebut-sebut juga dalam novel ini; Liana, tumbuhan yang hidupnya “numpang”, yang menjadi nama bagi tokoh yang karakternya doyan “numpang” kekayaan lelaki lain); serta Donna yang ternyata similar dengan XX—emang apa sih XX?—nah itulah rahasia terbesar dalam novel ini.  

Sayang aku enggak begitu gereget dengan alurnya, mungkin karena aku sudah tahu sebelumnya dari review-review di Goodreads atau karena konvensi cerita detektif(-detektifan) di mana segalanya terbongkar di akhir secara blak-blakan enggak menggugahku. Tapi ternyata masih tersisa kejutan di akhir banget yang belum kuketahui, dan berhasil menyentuhku. Walau mengingatkan sama film Naomi Watt dengan Edward Norton, tentang seorang istri yang enggak bahagia dengan kehidupan pernikahannya, namun ketika ia akhirnya berhasil mencintai suaminya… itu sudah terlambat.

Drop Out dan XX sebagai favoritku dari deretan novel yang pernah dihasilkan Om ARA memiliki sejumlah kesamaan, yaitu akhir yang getir, namun tokoh utama menyuarakannya dengan tegar—bahkan mungkin optimis…?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar