LAINNYA

Minggu, 14 April 2013

(tidak-begitu-)bening bayam dan orak-arik-atau-isi-pepes-padahal-sambal-goreng ayam-tahu

Sembari menciduk air untuk membersihkan sayur dan umbi, aku bertanya-tanya kenapa aku harus memasak. Untuk memenuhi tuntutan masyarakat? Supaya suamiku kelak tidak menyesal? Sepertinya karena sudah buntu dengan menulis.

Nyonya Teladan lagi tidak ada. Setelah lama tidak masak, kali ini aku merasa bagai kali pertama. Aku harus mulai dari yang sederhana.

Belakang aku terbayang-bayang bayam. Tidak kusangka akan kutemukan di kulkas. Googling dengan kata kunci “bening bayam”.

Papa merebus potongan daging ayam. Kutanya buat apa. Sebagian untuk sop, sebagian untuk digoreng. Ketimbang diolah tanpa kreativitas, aku putuskan sebagian untuk sambal goreng. Googling dengan kata kunci “sambal goreng” sekalian.

Untuk bening bayam, kurang jagung dan temu kunci.

Untuk sambal goreng, kurang kentang, daun salam, serai, lengkuas, cabai rawit, gula merah, asam jawa, cabai keriting, merica, terasi…

Tidak masalah. Bening bayam bisa tanpa jagung dan temu kunci. Sambal goreng, minimal cabai keriting. Bukan pertama kali aku bikin bening bayam dan sambal goreng. Pada pengalaman-pengalaman sebelumnya pun aku tidak selalu patuh pada resep alias jalan dengan bahan seadanya.

Bening bayam

Mestinya ini bayam dari Carrefour. Walau jarang mengolah sayur, aku tahu macam apa bayam yang buruk. Barangkali karena bayam ini sudah beberapa hari di kulkas—aku tidak ingat kapan terakhir Papa belanja.

Aku petiki jua helai demi helai dua ikat bayam itu, jumlah yang pas dengan resep. Kukuliti bawang merah. Kuambil wortel seperlunya, tanpa timbang-timbang, kupotong ujung-ujungnya, kubersihkan permukaannya. Bersama sebutir tomat, kucuci mereka tiga kali.

Bawang merah kuiris-iris. Resep bilang wortel dipotong miring, aku lupa, biarlah. Aku belah tomat beberapa bagian, untung tidak hancur.

Aku takar air 250 ml, kutuang ke panci. Terlalu sedikit…! Aku tengok resep, ternyata 2.500 ml, ganti panci. Aku biarkan panci berisi air itu pada kompor menyala hingga muncul gelembung-gelembung kecil. Aku tidak sabar untuk memasukan potongan-potongan bawang…

Kupandangi potongan-potongan kecil tak keruan itu, semula terpuruk di dasar lantas terangkat perlahan-lahan ke permukaan. Menari-nari digerakkan gelegak air. Rebus sampai harum, kata resep. Haruskah kucium? Barangkali temu kunci yang bikin harum, aku lebih ingin temu kangen… Air semakin mendidih. Berikutnya lingkaran-lingkaran oranye yang berterbangan di ceruk panci.

Masak sampai empuk, kata resep. Beberapa lama. Kuambil satu potongan dengan pisau. Kubelah di talenan. Kuicip panas-panas. Masih keras. Kuamati lagi potongan-potongan wortel yang berloncatan beberapa lama. Kuambil lagi sepotong. Kubelah. Kuicip. Rasa wortelnya masih kentara. Sekali lagi. Belum. Kutinggal deh. Berikutnya wortel sudah sangat empuk.

Sesuai resep aku cemplungkan satu sendok teh gula, aku suka manis, aku lebihkan, satu lagi, lalu, semoga resep ini tidak salah, 5 ½ sendok teh garam, sepertinya kebanyakan, jadi tidak pakai ½, aku tambahkan lagi gula, terakhir potongan tomat.

Warna-warni berdansa-dansi di kawah panci. Masak sampai mendidih, kata resep. Sudah mendidih dari tadi, batinku. Kumasukkan helai-helai bayam. Masak sampai matang, kata resep. Memang aku tahu bayam yang matang seperti apa? Wortel sudah sangat empuk tadi. Aku bolak-balik isi panci dengan pisau, sampai kira-kira dedaunan itu cukup lemas.

Aku cicipi sedikit kuah bening yang tidak begitu bening itu. Sepertinya keasinan. Mungkin aku memang sudah ingin kawin...

Sambal goreng

Di warung hanya tersedia cabai keriting, merica bubuk, dan terasi. Ada cabai merah besar, tapi melihat mereka aku tidak selera. Harus pilah-pilih lagi. Sudah siang saat itu, masak sempat ditunda karena ada urusan di luar rumah yang bikin buruk suasana hatiku. Aku singgah sebentar di Alfamart untuk beli es krim Sponge Bob, tidak dicantumkan dalam resep, aku hanya ingin ngemil.

Ayam sudah dibumbui, tinggal digoreng. Aku berencana untuk mengganti kentang dengan tahu.

Aku malas, jadi tidur dulu dalam buaian Unknown Mortal Orchestra dan Tame Impala, sampai seekor kucing masuk dari jendela. Mau tidak mau aku bangun untuk membukakan pintu kamarku, sehingga dia bisa keluar untuk menyusui anak-anaknya.

Setelah galau sebentar aku pun menuju dapur.

Ada enam sayap di panci, selebihnya cakar. Aku ambil tiga, karena aku suka keseimbangan, untuk digoreng dengan minyak yang sudah terpakai sebelumnya, karena aku suka hemat. Aku jauh dari wajan padahal, sembari mengurus bumbu halus, tapi letupan minyak panas tetap mencipratiku.

Setelahnya aku goreng tiga kotak besar tahu—menyesuaikan dengan jumlah sayap, juga mencuci bahan-bahan untuk bumbu halus. Resep bilang tambahkan garam dan merica bubuk saat bumbu halus sudah ditumis, tapi aku butuh pelicin untuk menggilas di cobek, jadi sekalian saja. Biar dikata bumbu halus, tapi kupikir tidak perlu halus amat, lagipula aku bukan orang Minang.

Mensuwir-suwir ayam cukup menyenangkan, sesekali aku menyuap potongan kering kulit ke mulut. Aku membuat kesalahan dengan tahu. Sekiranya tahu, apalagi sebesar itu, dipotong kecil-kecil sejak sebelum digoreng. Memotong tahu kecil-kecil setelah digoreng bikin potongan tidak rapi, apalagi dalamnya masih rada lunak. Setelah dicampur dengan bumbu halus nanti pasti hancur. Biarlah.

Sisa minyak untuk menggoreng ayam dan tahu di wajan kukembalikan ke rantang, lalu aku ambil lagi beberapa sendok teh untuk menumis. Sebentar saja minyak panas. Aku masukkan bumbu halus, kubuyarkan dengan spatula kayu sampai lumayan harum. Aku tumpahkan potongan-potongan daging-kulit-mungkin-sedikit-tulang ayam dan tahu ke wajan.

Hm… sudah tampak oke. Sambal goreng yang pernah kubikin biasanya berhenti sampai tahap mencampur bumbu halus dengan potongan lauk, tapi kali ini aku ingin mencoba hal baru, yang memang dititahkan oleh resep, yaitu menambahkan santan…

…yang ternyata menghancurkan segalanya.

Di resep tertera 300 ml. Aku hanya akan menuangkan 90 ml saja, sesuai yang tersedia di kulkas. Tidak kuduga 90 ml sedemikian kental. Suwiran ayam bertabur butiran-butiran isi tahu yang dilumuri dengan sobekan-sobekan merah nan seksi dari kulit cabai keriting mendadak bak isi lambung yang tidak tercerna.

Aku lari keluar dapur untuk mengambil segelas air dari dispenser, untuk kutuangkan ke adonan lembek itu. Masukkan air asam jawa. Masak sampai meresap. Bagaimana dengan air mineral? Aku biarkan sampai meresap bagaimanapun juga.

Tergugu aku di muka wajan yang meruapkan panas.

Air santan mineral itu benar-benar meresap. Aku perhatikan lingkaran oranye kemerah-putihan itu perlahan menyurut, hingga adonanku hampir persis seperti mula tapi sayangnya tetap rada lembek. Aku aduk terus sambil bertanya-tanya, kapan kering, kapan kering, bisa enggak kering? Ingin kulakukan terus sampai tercium gosong, tapi kucukupkan jua. Adikku sudah masuk dan menanyakan kapan masakanku jadi, ingin segera makan dan memang nyaris tidak ada lauk di meja makan.

Aku tuangkan “sambal goreng” rupa-rupa itu ke mangkok. “Jangan lihat bentuknya,” kataku pada adikku, tapi lihatlah dari rasanya yang sepertinya juga meragukan. Bagaimanapun aku belum makan nasi dengan lauk sedari bangun pagi itu. Nasi masih panas, “sambal goreng” masih panas. Ketika mamaku bertanya masakan apa itu, aku ingin menjawab, pepes ayam-tahu tapi isinya doang. Gundukan itu juga tampak seperti orak-arik, padahal aku tidak membubuhkan telor setetespun. Ah entahlah.

Keliatan kayak nasi goreng... :-?

Santan kental membuat orak-arik-atau-isi-pepes-padahal-sambal-goreng itu terasa terlalu gurih, tapi sepadan jika dilahap bersama gumpalan nasi yang manis-manis tawar. Enak juga, walau keasinan, tapi enak kok, cuman keasinan. Tapi aku cukup puas.

Aku lanjutkan dengan menyendok bening bayam bikinanku sendiri, yang sempat aku tidak berselera untuk memakannya. Adikku yang lain lagi bilang kalau rasa masakanku tersebut biasa, yang malah kusyukuri, ketimbang “keasinan”, atau “enggak enak”, atau “memuakkan”, ya kan? Setelah kucicipi sendiri ternyata rasanya tidak seasin yang kukira. Cukup. Walau tidak manis juga. Tapi cukup.

Wah... (pas mau ambil ternyata) tinggal dikit! Sepertinya lumayan laku...

Lumayan, untuk ukuran orang yang biasa makan seadanya.

Ingin kuteriakkan, (calon) ibu rumah tangga, BISA! Tapi sepertinya perjalanan masih jauh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar