Jumat, 22 November 2019

Afirmasi Positif dengan Soundtrack Kesatria Baja Hitam

Saya enggak ingat pernah begitu menggemari Kesatria Baja Hitam. Yang saya ingat cuma sepertinya saya punya kasetnya. Tapi, enggak banyak memori tentang kaset itu selain, alih-alih lagu, yang saya dengar malah sepertinya dialog dari serialnya di TV. Entahlah. Yang jelas entah di mana kaset itu berada kini.

Kemudian di Youtube bermunculan video-video opening serial Jepang zaman baheula, dengan dubbing lirik yang dimodifikasi begitu rupa sehingga menggelikan, atau menggeuleuhkan, di antaranya "Ksatria Batang Hitam Intro" dari fluxcup. Tapi, ketika menyimak video tersebut pada awalnya pun, nostalgia saya enggak terbangkitkan.

Lalu, entah bagaimana, saya bertemu video opening Kesatria Baja Hitam yang asli. Maksudnya, bukan yang versi original Jepang, melainkan versi Indonesia yang dulu setiap petang menemani adik-adik yang manis di rumah--yang pernah tayang di RCTI. Lalu, entah bagaimana, barulah saya tergugah oleh lagu itu, terutama pada aransemennya. Saya enggak menguasai musik; kalau boleh menebak, suara instrumen yang paling saya senangi dalam aransemen ini berasal dari bas dan synthesizer ...? Kalau disetel dalam volume kencang, kedengarannya mantap sekali. Baru saya menyadari, betapa kerennya lagu ini.

Omong-omong soal synthesizer, kemungkinan karena saya penikmat lagu-lagu '80-an, maka instrumen ini kena di telinga saya.

Hingga muncullah "OST Ksatria Baja Hitam RX (Full Album)" di rekomendasi saya.


Dalam album ini, saya tidak hanya dapat mendengarkan opening yang sudah saya kenal, tapi juga keempat lagu lain yang mungkin baru kali ini saya dengar--atau sepertinya sudah pernah saya dengar, hanya saja saat itu saya masih terlalu kecil atau tidak tertarik sehingga tidak terekam dalam kenangan.

Sayang sekali, sampai ini ditulis, pengunggah belum menyertakan judul masing-masing lagu, sehingga saya akan menyebut tiap-tiapnya sebagai:

Lagu Pertama
Lagu Kedua
Lagu Ketiga
Lagu Keempat
Lagu Kelima
Lagu Keenam

Lagu Pertama dan Lagu Kedua sebenarnya sama saja. Hanya saja Lagu Kedua sepertinya lebih panjang dan disertai suara-suara dari adegan laga. Kekerenannya (entah bagaimana) enggak usahlah dipersoalkan lagi. Resapilah betapa heroik liriknya ...

Wake up! Wake up! Wake up! Wake up! Wake up!
Sinar terang diriku selimuti diri
Apabila (?) hai engkau seorang kesatria
Perangilah perasaan takutmu itu
Bumi akan dikuasai kekejaman
Bangunlah kesatria, bangun berdiri
Dengan bantuan sinar lindungi bumi
Bangunlah kesatria, bangun berdiri
Dengan rasa cinta, takut dikalahkan
Kesatria baja hitam, maju terus
Kesatria baja hitam, pantang mundur
Kesatria baja hitam, RX!

... yang secara tidak semena-mena dirusak oleh fluxcup. Geuleuh uink.

Beberapa komentar bilang lagu ini cocok sebagai pengiring berkendara motor, biar berasa Kesatria Baja Hitam lagi naik Belalang Tempur.

Lagu Ketiga langsung menangkap telinga saya, maksudnya ear-catchy. Entah bagaimana, lagu ini kedengarannya sangat soundtrack jejepangan jadul sekali, lengkap dengan suara seruling di tengah-tengah.

Dalam pertarungannya seorang diri
Pada waktu lelah dan jatuh tergesa
Dengan mata terpejam wajah menengadah
Dia selesaikan tugas-tugasnya
Sepi, hati ini
Semilir angin bertiup sepoi-sepoi
Sepi, hati ini
Tapi kau tidak seorang diri
Seseorang di sana mencintaimu
Seseorang di sana mempercayaimu
Seseorang di sana memperhatikanmu
Seseorang ... di sana

Seketika terbayang oleh saya seorang ketua OSIS SMA yang, karena notabene wibu, mendapat penolakan dan pertentangan yang bertubi-tubi dari para anak buahnya sendiri. Tapi, dengan kekuatan bulan, akibat pengaruh sekian banyak anime dan dorama yang telah dia tonton, yang selalu menyuarakan pentingnya cinta, persahabatan, kerja sama, dan masa muda yang indah, dia mendapat kekuatan untuk terus berjuang--against all odds. Sembari dalam sanubarinya memendam harapan agar ia dapat balikan dengan seseorang yang dikiranya masih mencintainya, mempercayainya, dan memperhatikannya, yaitu mantannya sewaktu SMP, seorang mangaka aspiran yang terancam jadi seniman kere. (Cerita apaan sih ini?!?!?!)

Nah, sampai di Lagu Keempat saya menyadari betapa sesungguhnya soundtrack Kesatria Baja Hitam ini sangat motivational. Simak saja lirik berikut ini.

Jelas, ku kan kembali untuk membela kebenaran
Gelora ... (?) membisu mencari kedamaian
Menggenggam semangat yang tak padam
Ikuti langkah hasratku
Telah kubulatkan tekad
Berjuang selamatkan dunia
Berpacu mengejar cita-cita
Agar damai di dunia
Aku siap berkorban 
Menentang iblis yang jahat 
Jelas, ku kan kembali untuk membela kebenaran
Demi masa depan bagi bumi yang tercinta
Tetap mengabdi (a ... a ... a ...)
Tetap mengabdi (a ... a ... a ...)
Kesatria baja hitam penegak keadilan
Berjuang menentang kejahatan yang ada di muka bumi
Berpacu mengejar impian
Berjuang sebagai kesatria
Kau wujudkan sebuah keinginan
Membela seluruh manusia
Dengan semangat tak padam 
Bertempur selamatkan dunia

Bolehlah kita modifikasi sedikit.

Jelas, ku kan kembali untuk membela kebenaran
Gelora ... (?) membisu mencari kedamaian
Menggenggam semangat yang tak padam
Ikuti langkah hasratku
Telah kubulatkan tekad
Berjuang selamatkan bangsa
Berpacu mengejar cita-cita
Agar damai di NKRI
Aku siap berkorban 
Menentang korupsi yang jahat 
Jelas, ku kan kembali untuk membela kebenaran
Demi masa depan bagi negeri yang tercinta
Tetap mengabdi (a ... a ... a ...)
Tetap mengabdi (a ... a ... a ...)
Pegawai negeri sipil penegak keadilan
Berjuang menentang kejahatan yang ada di nusa bangsa
Berpacu mengejar impian
Berjuang sebagai abdi negara
Kau wujudkan sebuah keinginan
Membela seluruh rakyat
Dengan semangat tak padam 
Bertempur selamatkan Indonesia

Kebetulan, seleksi CPNS telah kembali dibuka. Lagu ini pantaslah menjadi soundtrack pengiring para calon CPNS yang telah berkali-kali mengikuti seleksi, tapi belum lolos juga.

Jelas, ku kan kembali untuk mengikuti seleksi ....
Demi masa depan bagi orang tua yang tercinta ....

Berlari, berlari, dan menerjang
Kesatria baja hitam
Pecahkan semua teka-teki
Yang penuhi dunia hitam
Mari bertempur
Mari berlaga
Berjuang selamatkan bumi
Dari sang kegelapan
Kegelapan ....
Melindungi bumi dan memberi kedamaian
Juga tugasku sebagai seorang kesatria
Menentang kekejaman
Mencari keadilan
Meminjam tenaga, tenaga sang surya, yang sangat berarti
Kami berjuang, kami menentang, menentang iblis penguasa
Tak lelah berjuang ....

Lagu Kelima malah mengingatkan saya pada Detektif Conan. Mungkin karena ada kalimat "pecahkan semua teka-teki", sehingga kesannya seperti cerita detektif alih-alih kesatria.

Seandainya saya bocah TK atau SD yang sudah kebanyakan mendengarkan lagu ini, kemungkinan sesekali saya akan berteriak sendiri mengagetkan orang-orang di sekitar saya, "KEGELAPAAAN ...!" walaupun sesungguhnya tema ini baru akan relevan dua puluhan tahun setelahnya ....

Selain itu, saya baru tahu bahwa kesatria baja hitam ternyata punya kesadaran lingkungan, sebab ia menggunakan tenaga surya untuk kekuatannya. Tenaga surya lo, bukan tenaga batu bara--dia sustainable! Sayang sekali apabila pesan tersirat ini enggak sampai pada anak-anak kecil penggemarnya yang kini sudah pada jadi om-om. #keplak

Kupendam hasrat hatiku
Yang terkubur di dalam dada
Tak peduli luka dan dahaga
Selamat pagi bumi tercinta
Amarah, terpendam emosi
Resah, menikam bayangku
Tuhan, ulurkan tanganmu
Sungguh ku tetap mengabdi
Langit pun cerah kembali
Impianku sang kesatria
Dinginnya embusan angin
Menambah bekunya di hati
Tunaikan tugas semata
Dengan keberanianku

Nah, Lagu Keenam ini hawanya agak religius. Di samping nadanya rada-rada sendu, dibandingkan dengan lagu-lagu sebelumnya yang sangat bersemangat, juga ada kalimat, "Tuhan, ulurkan tanganmu ...." Karena entah tangan Tuhan itu seperti apa, mungkin lebih tepat kalau kalimatnya begini:

Tuhan, tolonglah hamba-Mu
Sungguh ku tetap mengabdi ....

Jadi abdi Tuhan, kurang religius bagaimana tuh?

Lagu ini juga sepertinya masih relevan soal menjadi abdi negara.

Selamat pagi negeri tercinta
Impianku sang PNS
Tunaikan tugas negara

Saya telah mendengar beberapa lagu dari album ini dalam versi aslinya, maksudnya yang berbahasa Jepang. Tapi, sebagai anak Indonesia yang tidak mengerti bahasa Jepang, saya berpendapat bahwa versi Indonesialah yang terbaik!

Sabtu, 16 November 2019

Mengasah Inovasi dan Kreativitas dengan Tanah Liat Bersama Kandura Studio dari Dispora Kota Bandung

Pada Selasa dan Rabu, 12-13 November 2019, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bandung kembali mengadakan acara untuk pemuda. Persyaratannya sama seperti pada acara sebelumnya, yaitu warga Kota Bandung yang berusia 16-30 tahun, dengan menyerahkan fotokopi KTP, dua lembar pasfoto 3 x 4 cm, serta mengisi formulir dan tanpa dipungut biaya. Informasinya bisa dilihat di Instagram Dispora, @dispora_bdg.

Kali ini acara diadakan di Nara Park, Ciumbuleuit, berupa pelatihan membuat dan mengecat prakarya dari tanah liat dengan tajuk "Craft for the Creatives", bekerja sama dengan Kandura Studio. Di samping alat dan bahan untuk workshop, peserta juga diberikan kaus, snack untuk pagi dan sore, makan siang nan unik, lezat, lagi mengenyangkan, serta segalon-kaca air putih--dengan atau tanpa es--yang sedia menemani sepanjang hari.


Pemandangan di Nara Park sangat Instagram-able.

Tapi sebelumnya, agak ke atas Nara Park, nikmatilah suasana taman 
sembari mengudap cilor keju dan memandangi anak-anak berseragam olahraga SD,
atau mengintip ke sela-sela pagar rumah gedung di seberangnya,
yang di halamannya ada rusa dan burung unta. (#serius)

Seperti pada acara sebelumnya, acara didahului dengan pembukaan dari pejabat Dispora dan lalu motivasi. Yang saya perhatikan, walaupun disampaikan oleh pembicara yang sama, motivasi kali ini agak terperinci. Kalau pada kesempatan sebelumnya, ada kesan bahwa motivasinya murni motivasi. Kali ini, paling tidak, di samping ada dasar-dasar pelajaran Ekonomi, juga disebutkan banyak aspek yang perlu dipertimbangkan dalam memulai berwirausaha. Tapi, sepertinya pembahasan tentang barang yang akan diproduksi, kuantitasnya, prospek keuntungannya, tren pasar, hingga situasi ekonomi dunia, membutuhkan porsi waktu tersendiri yang lebih panjang--malah mungkin selengkapnya bisa menjadi satu silabus perkuliahan tersendiri untuk 3-4 tahun. (Nani?!)

Apa dong, Pak? Apa?
Sebenarnya ini bisa jadi perdebatan menarik yang tak berujung pangkal. Tapi rumit. Sudahlah, kita langsung ke bagian yang asyik saja, yaitu bermain-main dengan tanah liat. Seperti kata iklan: Berani kotor itu baik.

Makan siang hari pertama.
Tapi sebelumnya ada presentasi perkenalan dari fasilitator acara, yaitu Kandura Studio. Usaha ini didirikan pada 2005 oleh beberapa alumnus Seni Keramik ITB. Pada awalnya studio berlokasi di Cigadung, Bandung, tapi sekarang sudah pindah ke Jakarta. Ketertarikan mereka bermula pada eksplorasi bentuk perangkat makan, yang bukan hanya soal fungsi melainkan juga ada narasi di balik setiap produk. Di samping itu, mereka berkontribusi dalam proyek-proyek revitalisasi keramik dinding bangunan kuno, mengerjakan pesanan khusus untuk kafe-kafe, dan telah mengikuti banyak pameran baik di dalam maupun luar negeri.

Beberapa produk Kandura Studio
Dalam sesi tanya jawab, mereka menjelaskan tentang manajemen kelompok dan pembagian tanggung jawab. Dalam usaha bersama seperti Kandura Studio, mesti ada pemegang saham terbesar yang notabene berperan sebagai pengambil keputusan.

Sesi praktik pun dimulai. Kandura Studio dibantu oleh beberapa mahasiswa FSRD ITB mempersiapkan alat dan bahan bagi peserta. Satu meja diisi oleh dua sampai tiga orang. Meja dilapisi dengan plastik hitam supaya tidak kotor; meski kalaupun kotor, tidak akan begitu sulit membersihkannya. Tiap peserta juga diberikan celemek, serta plastik berisi tanah liat berbobot satu kilogram, satu spons yang telah dipotong kecil, selembar lap, dan semangkuk plastik kecil berisi air bersih untuk satu meja. Tentunya tanah liat mesti berasal dari sumber yang bagus, dengar-dengar sih dari Sukabumi.

Bahan yang pertama-tama diberikan
Karena tidak ada peserta yang mengakui pengalaman sebelumnya dengan tanah liat, maka, untuk pemula, kami diajarkan cara membuat mangkuk dengan teknik pinching. Konon cara ini yang digunakan manusia purba dalam membuat perangkat makan mereka. Mula-mula, sebongkah tanah liat itu dibagi dua. Lalu sebagiannya dibagi dua lagi. Bagian yang seperempat itu kemudian digumpal-gumpalkan membentuk bola, sambil ditepuk-tepuk supaya tidak ada udara yang terperangkap. Setelah jadi bola, letakkan sebilah jempol pada permukaannya lalu tekan-tekan mengelilinginya dengan kekuatan merata.

Retakan-retakan akan muncul ketika kita membentuk tanah liat. Retakan itu tidak boleh ada karena akan menyebabkan tanah liat pecah saat dibakar. Untuk menutupinya, caranya dengan dibasahi sambil diusap-usap sampai mulus.

Sebenarnya, ini bukan pengalaman pertama saya dengan tanah liat. Tapi, pengalaman-pengalaman yang sebelumnya tidak begitu berarti. Pengalaman pertama adalah sewaktu di SD, kami diberikan tanah liat yang entah lalu saya apakan. Pengalaman berikutnya yaitu ketika SMA, dalam pelajaran Seni Rupa, kami sekelas diajak ke suatu studio di seberang Taman Pramuka. Sementara teman-teman saya pada membuat entah apa yang dihias dengan warna-warni cerah dan mungkin kembang-kembang, saya hanya ingat membuat kubur batu yang saya cat hitam. (Bahkan pada waktu remaja saya sudah menerawang sejauh itu.)

Dalam pengalaman kali ini, saya merasa menikmati memegang-megang tanah liat. Tangan saya entah kenapa bergerak cepat dan bersemangat membentuk cekungan yang kemudian saya anggap mangkuk kecil.

Setelah itu, kami dipersilakan untuk mengolah lagi bagian yang seperdua. Saya kira bagian ini mesti dibuat menjadi semacam mangkuk lagi, walau hasilnya, yang saya bikin, cenderung ceper menyerupai piring.

Adapun tanah yang seperempat lagi disisakan untuk membuat dekorasi. Apabila kita membuat hiasan-hiasan kecil untuk dilekatkan pada karya, caranya adalah dengan membasahi permukaan yang akan ditempeli. Jadi air dapat berfungsi sebagai lem. Ada juga teknik lainnya dengan menggunakan ujung kuku.

Kuku yang kepanjangan tentu mengganggu saat mengolah tanah liat. Untung penyelenggara sudah mengantisipasinya dengan menyediakan gunting kuku.

Aa-aa keren di samping saya.
Para peserta yang lain ternyata pada jauh lebih kreatif. Ada yang membuat tatakan berbentuk daun, HP Nokia tahun '90-an (atau kira-kira seperti itu), bahkan aa-aa di sebelah saya membuat kepala manusia yang mengundang kekaguman terutama dari bapak-bapak Dispora.

Lalu kami dipersilakan untuk mewarnai hasil karya. Di meja paling depan telah berjejer wadah-wadah berisi cat engobe aneka warna. Cat ini katanya juga berasal dari tanah liat dan diberi warna dengan menambahkan mineral-mineral tertentu yang ada hitung-hitungannya, buset. Tiap peserta boleh mengambil dua warna dengan gelas plastik. Saya minta warna hijau dan hitam, yang saya bagi dengan orang di sebelah saya supaya saya bisa dapat warna merah dan kuning yang dia ambil.

Peserta juga diminta untuk menuliskan inisial nama mereka pada hasil karya.

Acara hari itu berlangsung sampai hampir pukul lima sore. Hasil karya yang telah diberi warna dibiarkan saja di atas meja. Di samping masih basah, juga untuk diangin-anginkan.

Ketika mik didekatkan ke mulut saya, saya bilang
ini tempat makan untuk kucing dan ini tempat makan untuk orang.
Snack sore hari pertama.
Pada hari kedua, sembari menunggu laptop disiapkan, beberapa peserta maju untuk menceritakan tentang usaha yang telah mereka buat. Ada yang suka melukis totebag. Ada yang membuat camilan khas Korea untuk kalangan menengah atas. Ada juga yang punya jasa hipnoterapi.

Setelahnya, Kandura kembali melakukan presentasi, kali ini tentang inspirasi desain. Mereka menunjukkan sumber-sumber inspirasi untuk beberapa produk mereka, di antaranya foto-foto perjalanan ke suatu gurun di Cile. Ada warna, tekstur, dan berbagal hal lain yang kemudian terlebih dahulu dituangkan menjadi sketsa, sebelum diwujudkan ke dalam bentuk keramik.

Makan siang hari kedua.

Usai santap siang, menyepi ke sisi, 
membaca buku afirmasi atau sekadar menikmati suasana,
sambil berangan-angan punya halaman belakang seperti ini 
lengkap dengan rusa dan burung unta.

Selanjutnya, tiap-tiap peserta diberikan sebuah gelas polos yang disebut "biskuit" karena kemiripannya. Gelas ini merupakan produk tanah liat yang sudah dibakar dalam suhu 900 derajat Celcius, siap untuk dihias, sebelum diberi glasir dan dibakar lagi. Sebenarnya ada banyak lagi sains di balik permukaan dunia kekeramikan ini, tapi biarlah itu menjadi konsumsi mahasiswa Kriya Keramik saja.

Semua hasil karya peserta pada hari pertama
dikumpulkan di dua meja yang disatukan.
Untuk ganti suasana, meja-meja sempat dikeluarkan ke halaman belakang Nara Park yang luas dan asri. Tiap meja dikelilingi oleh beberapa peserta yang mengelompok dengan sendirinya. Tiap meja mendapat gelas-gelas plastik berisi cat englobe aneka warna, banyak kuas, beberapa lap, berbatang-batang tusuk gigi, serta semangkuk plastik kecil berisi air bersih berikut spons untuk masing-masing peserta. Spons yang telah dibasahi berfungsi untuk membersihkan permukaan gelas sebelum dihias, karena tidak boleh ada debu atau kotoran yang dapat mengganggu pewarnaan. Spons juga dapat digunakan untuk membubuhkan cat dengan berbagai teknik, sekaligus menghapusnya. Adapun tusuk gigi dipakai apabila ingin membuat torehan pada gelas sesuai dengan selera.

Tak lupa, seperti pada hari sebelumnya, peserta diminta menuliskan inisial namanya di bagian bawah gelas.

Baru mulai asyik-asyiknya mengecat di halaman, tahu-tahu turun tetes-tetes dari angkasa. Meja-meja, kursi-kursi, peralatan berikut pesertanya pun dikembalikan ke dalam ruangan. Tapi rupanya itu hanya tipu daya langit.

Untuk beberapa lama, langit kembali cerah. Sebagian besar yang sudah telanjur duduk pun menetap di dalam ruangan, sedangkan saya kembali ke halaman pada kelompok saya yang telat pindah sampai lalu hujan deras benar-benar turun.

Berbagi dalam satu meja.
Ternyata, banyak juga yang berbakat melukis keramik, yang sayang saya tidak termasuk di antaranya. Setelah sesi foto bersama dengan mengangkat hasil karya masing-masing, gelas-gelas itu dikumpulkan di meja depan. Sementara penutupan oleh pejabat Dispora, beberapa peserta dipanggil ke depan secara acak-tidak-acak untuk memberikan testimoni dan sebagainya. Sempat juga yang hasil karyanya unik diminta untuk menjelaskan tentang gambar mereka (untungnya bukan saya). Tentunya mereka berharap acara semacam ini akan diadakan lagi barang sebulan sekali.

Foto bersama.
Hasil akhir coretan saya. Bagian dalam menggambarkan keadaan jiwa yang psychedelic,
bagian luar berupa padang rumput yang bergoyang menenteramkan pada hari cerah. Eaaa!

Proses akhir prakarya tanah liat ini memerlukan peralatan tertentu, katakanlah glasir dan tungku pembakaran, sehingga makan waktu yang lebih lama dan tempat khusus. Para peserta baru dapat melihat hasil akhir karya mereka pada 28-29 November 2019 nanti di kantor Dispora. Mereka boleh membawa pulang karya mereka, dan sepertinya mesti ada barang satu-dua yang disisakan sebagai kenang-kenangan untuk Dispora. Mudah-mudahan "kepala" si aa selamat dari tangan para pengagum yang berencana menjualnya ke T*k*p*d**.

Terima kasih, Dispora! Semoga anak muda Kota Bandung semakin inovatif dan kreatif!

Pembaruan, 3 Desember 2019

Sejak sehari sebelumnya, hasil prakarya sudah dapat diambil di kantor Dispora Kota Bandung di Jalan Tamansari. Tapi saya baru mengambilnya pada tanggal ini. Beginilah hasil prakarya saya setelah dipanggang dan entah diapakan lagi:

Biar wajah berminyak, senyum tetap terulas!
Perabot makan: mangkuk kecil, gelas, dan piring,
yang tidak siap digunakan, huhuhu.
Sedihnya, ada pernak-pernik yang hilang. Bisa dilihat, di sekeliling piring saya menambahkan hiasan berupa bola-bola kecil (soalnya enggak ada ide lagi sih!). Sekarang, ada dua bola yang menghilang. Saya juga menambahkan hiasan pada mangkuk kecil, yang pura-puranya dua helai kumis masing-masing di kanan dan di kiri. Setelah diproses, yang tinggal hanya satu "kumis"; itu juga copot. Hiasan lain yang pura-puranya kuping kucing juga copot yang sebelah kiri, sehingga saya sambung lagi di rumah dengan menggunakan lem UHU. Tapi toh ini masih mending, sebab saya lihat hasil punya yang lain-lain ada yang retak parah malah mungkin ada juga yang hancur.

Tidak terpikir juga oleh saya untuk bawa koran bekas sebagai pembungkus keramik--pengaman agar tidak kenapa-kenapa selama di perjalanan. Jadi saya masukkan saja semua ke kantong kain, lalu ke dalam ransel, secara berhati-hati. Untunglah, sesampai di rumah, barang-barang itu masih utuh.

Terlepas dari semua itu, secara keseluruhan, hasil prakarya ini memang tampak lebih menarik. Permukaannya jadi mengilap, bisalah dibilang sebagai keramik. Biar begitu, ketika saya raba, ternyata teksturnya tidak seluruhnya halus--ada juga yang kasar; saya jadi ragu untuk menggunakannya sehari-hari, hahaha, biarlah menjadi pajangan saja dalam lemari kaca!

Senin, 11 November 2019

[#90anBanget] Upaya Mendandani Cinderela di Udara

DAVID Ogilvy, seorang ahli periklanan internasional, pernah mengandaikan stasiun radio bak Putri Cinderela: anak tiri yang disia-siakan. Tapi, setelah anak tiri didandani, ia menjadi gadis cantik yang berhasil memikat Pangeran. Pengandaian ini diucapkan Gunadi Sugiharso, praktisi periklanan dari PT Citra Lintas, dalam seminar sehari "Dampak Industri Televisi pada Perkembangan Radio Siaran Swasta" di Pekan Raya Jakarta, Sabtu pekan lalu.

Nasib 627 radio swasta di Indonesia saat ini, konon, sudah jadi Cinderela si anak tiri, yang terbengong-bengong menyaksikan gemerlapnya iklan di empat televisi swasta. Begitulah yang terungkap dalam seminar yang diselenggarakan Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) DKI Jakarta.

Menurut Gunadi Sugiharso, sejak munculnya Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) empat tahun lalu, rezeki radio swasta mulai terancam. Dalam dua tahun saja setelah itu porsi iklan untuk radio menurun tajam. "Tahun 1990 masih 16,4% dari total dana iklan, tapi tahun 1992 tinggal 9,7%," kata Gunadi. Atau dari Rp 105 miliar menjadi tinggal Rp 100 mliar. Dengan catatan total dana promosi pada 1990 sekitar Rp 850 miliar dan tahun 1992 sekitar Rp 1 triliun.

Secara nominal penurunan yang terjadi pada kurun 1990-1992 memang tak terlalu tajam karena dana iklan membengkak. Tapi, kalau dilihat persentasenya, tingkat anjloknya sangat besar, hampir mencapai 20%. Itu sebelum televisi mengudara secara nasional. "Setelah empat televisi swasta melakukan siaran nasional, penurunan pendapatan iklan radio lebih tajam, yakni 30-40%," kata Purnomo, Ketua Pelaksana PRSSNI Pusat.

Tahun ini, dana promosi yang disediakan oleh produsen diperkirakan mencapai Rp 1,3 triliun. Dalam catatan Adforce Inc., sebuah agen periklanan, dari jumlah itu 53,5% disedot televisi, 32,3% masuk ke media cetak, 4% ke iklan outdoor, dan 10,2% ke radio. Ini hitungan setelah empat televisi swasta baru saja mengudara secara nasional.

Namun, menurut Sumaryono, Penanggung Jawab Radio Pesona FM, penurunan iklan di radio masih lebih kencang lagi. Sebagai media audiovisual, televisi memang efektif untuk menyampaikan pesan ke masyarakat. Saat ini, katanya, televisi swasta belum habis-habisan bersaing di antara mereka sendiri. "Bukan tidak mungkin mereka akan segera bersaing ketat, misalnya dengan saling menurunkan tarif iklan. Kalau itu yang terjadi, bisa dibayangkan apa akibatnya bagi radio. Bisa gulung tikar," kata Sumaryono.

Kegelisahan pengelola radio swasta tampaknya memang punya dasar. Dari hari ke hari pemasang iklan di media elektronik ini cenderung turun. Apalagi sejak televisi swasta mengudara secara nasional pada 24 Agustus lalu. Sebagai perbandingan, bulan Juli lalu Radio Pesona FM masih menangguk sekitar Rp 70 juta dari iklan, bulan Agustus masih stabil, tapi bulan September turun menjadi Rp 63 juta.

Radio Trijaya FM juga bernasib sama. Menurut Mursid Rustam, Direktur Trijaya, perolehan iklan radio ini turun sekitar 20% sejak televisi swasta bersiaran nasional. Rustam memang tidak menyebutkan nilai nominal penurunannya. Tapi bisa dikira-kira. Jam siaran iklan di radio ini adalah 12% dari total 19 jam siaran. Tarif iklan Rp 85.000 per spot (30-60 detik). Kalau seluruh jam siaran iklan terisi, berarti didapatkan Rp 225 juta per bulan. Karena turun 20%, tinggal Rp 180 juta per bulan.

Radio Debra, menurut direkturnya, Shidik Wahab, pendapatannya dari iklan malah turun 30%. Ia juga tak menyebut angka nominal. Namun bisa dihitung-hitung. Jam siarannya 10% dari total 19 jam siaran. Tarifnya Rp 15.000 per spot. Kalau jam siaran iklan terisi penuh, berarti diperoleh kira-kira Rp 50 juta per bulan. Sekarang paling banter tinggal Rp 35 juta.

Memang ada yang tak terlalu malang. Misalnya Radio Prambors. Menurut Malik Sjafei Saleh, Direktur Utama Prambors, sampai saat ini jam siaran iklannya masih terisi 85% atau sama dengan sebelum televisi swasta siaran nasional. Dulu, sebelum ada televisi swasta, Prambors sering menolak iklan. "Sekarang semua pesanan kami tampung," kata Malik. Artinya, tidak ada lagi zaman keemasan, manakala Prambors kebanjiran iklan. 

Namun, dalam seminar pekan lalu itu masih tersirat keyakinan bahwa iklan di radio memiliki kekuatan tersendiri. Berdasarkan penelitian, masih banyak orang yang mendengarkan radio, baik di desa maupun di kota--umumnya di dalam kendaraan pribadi. Pengelola radio swasta diharapkan punya jurus-jurus baru dalam menggaet iklan, minimal bisa mempertahankan 10% dari dana promosi.

Bagaimana caranya? Sumaryono dari Pesona FM punya usul. "Setiap radio harus memiliki segmen pendengar dan karakteristik acara tertentu," katanya. Misalnya, Pesona FM yang khusus menyiarkan acara-acara bagi wanita dan ibu rumah tangga. Dengan demikian produsen barang-barang keperluan rumah tangga dan kaum wanita menganggap lebih tepat mempromosikan produksinya di Pesona FM daripada di radio atau media lain. Kecenderungan ini memang terlihat sekarang, sehingga ada radio khusus untuk pendengar wanita, radio khusus humor, radio khusus musik Indonesia, radio khusus dangdut, dan sebagainya. Begitulah Cinderela berdandan. Tapi, apakah sang Pangeran (produsen) terpikat memasang iklannya? Entah.

Priyono B. Sumbogo



Sumber: Tempo, Nomor 32 Tahun XXIII - 9 Oktober 1993

Minggu, 10 November 2019

Pelatihan Mengubah Styrofoam dan Handuk Menjadi Produk Usaha dari Dispora Kota Bandung

Pada Kamis dan Jumat, 7-8 November 2019, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bandung mengadakan acara berjudul "Peningkatan Kapasitas Hidup Pemuda Melalui Pelatihan Pengolahan Limbah Rumah Tangga" di Cafe Pawon Pitoe Jalan Bungur.

Informasi tentang acara ini bisa dilihat di profil Instagram Dispora (@dispora_bdg). Saya sendiri mengetahuinya dari pesan pribadi kiriman teman. Setelah mengobrol dengan kenalan di acara, saya baru mengetahui bahwa rupanya Dispora telah kerap mengadakan acara begini. Sayang sekali apabila kesempatan ini tidak dimanfaatkan oleh pemuda Kota Bandung berusia 16-30 tahun yang kebetulan waktunya sesuai, sebab rupanya pihak Dispora sendiri kesulitan mencari peserta. 

Acara diundur jadi tanggal 7-8 untuk memperpanjang hari pendaftaran.
Acara ini diperuntukkan bagi warga Kota Bandung yang tergolong pemuda menurut Undang-undang, yaitu berusia 16-30 tahun. Untuk mendaftar, peserta mengisi formulir serta menyerahkan fotokopi KTP dan dua lembar pasfoto ukuran 3 x 4 cm. Pendaftaran dilakukan dengan mendatangi kantor dinas sebelum hari H atau di lokasi sebelum acara dimulai. 

Secangkir kopi (dan sepiring jajanan
pasar) di pagi ini sambut hari yang
indah(?)
Acara ini tidak memungut biaya, malah peserta diberikan aneka fasilitas: kaus, seminar kit (map, buku catatan, dan pulpen), coffee break (kopi atau teh dan jajanan pasar) dua kali, makan siang nan lezat, dan tentunya motivasi serta pelatihan dengan semua alat dan bahan telah disediakan.

Seminar kit: map, kaus, buku
catatan, dan pulpen.
Secara pribadi, saya memang berminat pada pengolahan limbah rumah tangga. Ada beberapa percobaan kecil yang telah saya lakukan, misalnya memanfaatkan botol bekas untuk wadah tanaman, menjahit pembalut dari pakaian bekas, hingga membuat ecobrick. Tapi percobaan-percobaan tersebut sekadar untuk mengurangi sampah pribadi dari rumah. 

Adapun acara ini tidak hanya mengangkat permasalahan sampah di Kota Bandung yang sampai mengakibatkan tragedi di Leuwigajah pada 2005, tapi juga mendorong peserta yang notabene pemuda agar melihat limbah sebagai peluang untuk berwirausaha. Motivasi entrepreneurship diberikan tiap pagi selama dua hari acara ini, sebelum peserta diterjunkan dalam workshop mengolah limbah menjadi produk usaha secara berkelompok.

Aneka limbah bisa diolah menjadi berbagai produk usaha. Dalam pelatihan ini, contoh yang diberikan adalah menggunakan bahan dasar styrofoam untuk dijadikan air mancur penghias akuarium, serta handuk untuk pot tanaman. Keduanya sama-sama memerlukan semen, cat, dan kuas, di samping peralatan khusus, misalnya pompa dan pipa atau selang untuk air mancur, serta botol dan ember kecil sebagai penopang handuk yang hendak dikeringkan jadi pot. 

Selengkapnya, tiap peserta diberikan fotokopi petunjuk pembuatan masing-masing benda, mencakup alat dan bahan berikut langkah-langkah: "5 Cara Membuat Pot Bunga Sederhana dari Handuk Bekas. Kreatif!" dan "Cara Membuat Miniatur Air Terjun dari Bahan Styrofoam". 

Petunjuk ini juga sebetulnya banyak terdapat di Youtube. Berikut di antaranya.



Pada hari pertama, ada sekitar 40-an peserta yang datang. Bisa dibilang peserta didominasi oleh rombongan pelajar SMKN 13; ada juga beberapa penyandang disabilitas. Workshop baru dimulai setelah zuhur. Semua peserta dibagi menjadi lima kelompok. Saya mendapat kelompok pertama. Kelompok saya sepertinya memiliki anggota terbanyak; empat orang di antaranya merupakan pelajar SMK itu. Dalam waktu yang tersisa pada hari itu, kami ditugasi membuat air mancur dulu. Urun tangan kami mengonsep bentuk, memotongi styrofoam, mengelem potongan-potongan, hingga melapisinya dengan semen. Karena hari keburu sore, penyemenan dilanjutkan besok.

Tempat yang lengang, sebelum acara dimulai.
Walaupun judulnya "limbah", tapi styrofoam yang diberikan dalam kondisi baru 
Melubangi tempat untuk selang.
Menyimak petunjuk.
Menguji coba selang.
Melapisi styrofoam dengan tisu lalu semen agar kedap air.
Pada hari kedua, tiap kelompok dibagi dua. Sebagian melanjutkan penyemenan styrofoam, sebagian lagi memproses handuk untuk dijadikan pot. Panas sinar matahari sangat diandalkan agar semen lekas kering. Baru selepas jumatan, pengecatan dapat dilakukan. Fasilitator menyediakan batu warna-warni kecil sebagai hiasan air mancur, tapi peserta diharapkan membawa sendiri selebihnya sesuai dengan selera seperti cat dan sebagainya. Ada yang bawa cat akrilik, ada juga cat tembok; kami saling berbagi. Sekitar asar, acara menghias disudahi. Presentasi dan penjurian dilakukan. Saya bersyukur kelompok saya memiliki presentator yang jago gombal andal. Kelompok saya mendapatkan juara pertama, dan kami dihadiahi masing-masing sebesar Rp 25.000. Hore!

Motivasi dulu sebelum memulai kegiatan.
Menunjukkan cara menjemur handuk semen.
Kotak-kotak air mancur dijemur.
Pot-pot handuk dikeringkan.
Sesi keputrian selagi putra-putra pada jumatan.
Mengecat bersama-sama.
Menguji coba air mancur sebelum dipresentasikan.
Deretan hasil karya setelah dipresentasikan.
Juara pertama yang entahkah meniru bentuk candi atau cupcake 
Juara kedua yang modelnya juga cukup berbeda di antara yang lain-lain.
Penutupan acara oleh pejabat Dispora.
Dengan segala dorongan, pengetahuan, dan fasilitas yang telah diberikan, sepatutnya peserta menindaklanjuti sebagaimana yang diharapkan. Mudah-mudahan. 

Sebenarnya gagasan-gagasan ecopreneurship bukannya belum ada yang mampir ke kepala saya. 

Misalnya saja, usaha bank sampah. Idealnya, tiap RW memiliki bank sampah. Di Kota Bandung, paling tidak di lingkungan tempat tinggal saya dan teman-teman, ini belum terwujud. Karena itu, bank sampah masih perlu diperbanyak hingga setiap warga punya akses yang strategis. 

Gagasan lainnya adalah usaha ecobrick. Sumber daya plastik sepertinya tidak akan ada habisnya dan dapat diperoleh di mana saja secara cuma-cuma, asalkan kita mau melakukan pekerjaan-pekerjaan "remeh" seperti memulung, mencuci, mengeringkan, hingga memadatkan plastik dalam botol. Saya pernah membaca artikel di Kompas bahwa di suatu bank sampah ecobrick ukuran 600 ml dapat dihargai Rp 500, sedangkan yang 1,5 L Rp 1.000. Ecobrick yang terkumpul dapat dirakit menjadi perabot atau bangunan yang tentunya perlu dikemas secara menarik agar bernilai jual. Dengan begitu, ecobrick bisa menjadi bahan pengganti kayu, bata, dan sebagainya.

Tentunya, gagasan-gagasan ini tidak bisa diwujudkan sendirian. Demikian pula yang disinggung oleh bapak motivator hari pertama, bahwa karakter pemuda Bandung adalah cenderung bekerja sendiri (atau mungkin bisa dibilang "individualis", ya, Pak, saya di antaranya). Ada yang mau rembukan?

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain