Minggu, 10 November 2019

Pelatihan Mengubah Styrofoam dan Handuk Menjadi Produk Usaha dari Dispora Kota Bandung

Pada Kamis dan Jumat, 7-8 November 2019, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bandung mengadakan acara berjudul "Peningkatan Kapasitas Hidup Pemuda Melalui Pelatihan Pengolahan Limbah Rumah Tangga" di Cafe Pawon Pitoe Jalan Bungur.

Informasi tentang acara ini bisa dilihat di profil Instagram Dispora (@dispora_bdg). Saya sendiri mengetahuinya dari pesan pribadi kiriman teman. Setelah mengobrol dengan kenalan di acara, saya baru mengetahui bahwa rupanya Dispora telah kerap mengadakan acara begini. Sayang sekali apabila kesempatan ini tidak dimanfaatkan oleh pemuda Kota Bandung berusia 16-30 tahun yang kebetulan waktunya sesuai, sebab rupanya pihak Dispora sendiri kesulitan mencari peserta. 

Acara diundur jadi tanggal 7-8 untuk memperpanjang hari pendaftaran.
Acara ini diperuntukkan bagi warga Kota Bandung yang tergolong pemuda menurut Undang-undang, yaitu berusia 16-30 tahun. Untuk mendaftar, peserta mengisi formulir serta menyerahkan fotokopi KTP dan dua lembar pasfoto ukuran 3 x 4 cm. Pendaftaran dilakukan dengan mendatangi kantor dinas sebelum hari H atau di lokasi sebelum acara dimulai. 

Secangkir kopi (dan sepiring jajanan
pasar) di pagi ini sambut hari yang
indah(?)
Acara ini tidak memungut biaya, malah peserta diberikan aneka fasilitas: kaus, seminar kit (map, buku catatan, dan pulpen), coffee break (kopi atau teh dan jajanan pasar) dua kali, makan siang nan lezat, dan tentunya motivasi serta pelatihan dengan semua alat dan bahan telah disediakan.

Seminar kit: map, kaus, buku
catatan, dan pulpen.
Secara pribadi, saya memang berminat pada pengolahan limbah rumah tangga. Ada beberapa percobaan kecil yang telah saya lakukan, misalnya memanfaatkan botol bekas untuk wadah tanaman, menjahit pembalut dari pakaian bekas, hingga membuat ecobrick. Tapi percobaan-percobaan tersebut sekadar untuk mengurangi sampah pribadi dari rumah. 

Adapun acara ini tidak hanya mengangkat permasalahan sampah di Kota Bandung yang sampai mengakibatkan tragedi di Leuwigajah pada 2005, tapi juga mendorong peserta yang notabene pemuda agar melihat limbah sebagai peluang untuk berwirausaha. Motivasi entrepreneurship diberikan tiap pagi selama dua hari acara ini, sebelum peserta diterjunkan dalam workshop mengolah limbah menjadi produk usaha secara berkelompok.

Aneka limbah bisa diolah menjadi berbagai produk usaha. Dalam pelatihan ini, contoh yang diberikan adalah menggunakan bahan dasar styrofoam untuk dijadikan air mancur penghias akuarium, serta handuk untuk pot tanaman. Keduanya sama-sama memerlukan semen, cat, dan kuas, di samping peralatan khusus, misalnya pompa dan pipa atau selang untuk air mancur, serta botol dan ember kecil sebagai penopang handuk yang hendak dikeringkan jadi pot. 

Selengkapnya, tiap peserta diberikan fotokopi petunjuk pembuatan masing-masing benda, mencakup alat dan bahan berikut langkah-langkah: "5 Cara Membuat Pot Bunga Sederhana dari Handuk Bekas. Kreatif!" dan "Cara Membuat Miniatur Air Terjun dari Bahan Styrofoam". 

Petunjuk ini juga sebetulnya banyak terdapat di Youtube. Berikut di antaranya.



Pada hari pertama, ada sekitar 40-an peserta yang datang. Bisa dibilang peserta didominasi oleh rombongan pelajar SMKN 13; ada juga beberapa penyandang disabilitas. Workshop baru dimulai setelah zuhur. Semua peserta dibagi menjadi lima kelompok. Saya mendapat kelompok pertama. Kelompok saya sepertinya memiliki anggota terbanyak; empat orang di antaranya merupakan pelajar SMK itu. Dalam waktu yang tersisa pada hari itu, kami ditugasi membuat air mancur dulu. Urun tangan kami mengonsep bentuk, memotongi styrofoam, mengelem potongan-potongan, hingga melapisinya dengan semen. Karena hari keburu sore, penyemenan dilanjutkan besok.

Tempat yang lengang, sebelum acara dimulai.
Walaupun judulnya "limbah", tapi styrofoam yang diberikan dalam kondisi baru 
Melubangi tempat untuk selang.
Menyimak petunjuk.
Menguji coba selang.
Melapisi styrofoam dengan tisu lalu semen agar kedap air.
Pada hari kedua, tiap kelompok dibagi dua. Sebagian melanjutkan penyemenan styrofoam, sebagian lagi memproses handuk untuk dijadikan pot. Panas sinar matahari sangat diandalkan agar semen lekas kering. Baru selepas jumatan, pengecatan dapat dilakukan. Fasilitator menyediakan batu warna-warni kecil sebagai hiasan air mancur, tapi peserta diharapkan membawa sendiri selebihnya sesuai dengan selera seperti cat dan sebagainya. Ada yang bawa cat akrilik, ada juga cat tembok; kami saling berbagi. Sekitar asar, acara menghias disudahi. Presentasi dan penjurian dilakukan. Saya bersyukur kelompok saya memiliki presentator yang jago gombal andal. Kelompok saya mendapatkan juara pertama, dan kami dihadiahi masing-masing sebesar Rp 25.000. Hore!

Motivasi dulu sebelum memulai kegiatan.
Menunjukkan cara menjemur handuk semen.
Kotak-kotak air mancur dijemur.
Pot-pot handuk dikeringkan.
Sesi keputrian selagi putra-putra pada jumatan.
Mengecat bersama-sama.
Menguji coba air mancur sebelum dipresentasikan.
Deretan hasil karya setelah dipresentasikan.
Juara pertama yang entahkah meniru bentuk candi atau cupcake 
Juara kedua yang modelnya juga cukup berbeda di antara yang lain-lain.
Penutupan acara oleh pejabat Dispora.
Dengan segala dorongan, pengetahuan, dan fasilitas yang telah diberikan, sepatutnya peserta menindaklanjuti sebagaimana yang diharapkan. Mudah-mudahan. 

Sebenarnya gagasan-gagasan ecopreneurship bukannya belum ada yang mampir ke kepala saya. 

Misalnya saja, usaha bank sampah. Idealnya, tiap RW memiliki bank sampah. Di Kota Bandung, paling tidak di lingkungan tempat tinggal saya dan teman-teman, ini belum terwujud. Karena itu, bank sampah masih perlu diperbanyak hingga setiap warga punya akses yang strategis. 

Gagasan lainnya adalah usaha ecobrick. Sumber daya plastik sepertinya tidak akan ada habisnya dan dapat diperoleh di mana saja secara cuma-cuma, asalkan kita mau melakukan pekerjaan-pekerjaan "remeh" seperti memulung, mencuci, mengeringkan, hingga memadatkan plastik dalam botol. Saya pernah membaca artikel di Kompas bahwa di suatu bank sampah ecobrick ukuran 600 ml dapat dihargai Rp 500, sedangkan yang 1,5 L Rp 1.000. Ecobrick yang terkumpul dapat dirakit menjadi perabot atau bangunan yang tentunya perlu dikemas secara menarik agar bernilai jual. Dengan begitu, ecobrick bisa menjadi bahan pengganti kayu, bata, dan sebagainya.

Tentunya, gagasan-gagasan ini tidak bisa diwujudkan sendirian. Demikian pula yang disinggung oleh bapak motivator hari pertama, bahwa karakter pemuda Bandung adalah cenderung bekerja sendiri (atau mungkin bisa dibilang "individualis", ya, Pak, saya di antaranya). Ada yang mau rembukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain