LAINNYA

Jumat, 16 Mei 2014

Catatan Kamisan FLP Bandung, 15/5/14

Materi kali ini adalah penjelasan mengenai kritik sastra. Pematerinya sama dengan dua minggu lalu, yaitu Kang Opik. Beliau bisa dibilang dedengkotnya FLP Bandung, paling sering diminta berbicara dalam forum, dan karena beliau juga dosen maka aku serasa mendapat kuliah gratis. Selanjutnya aku akan menyebutnya Kang O saja.

Kang O bilang kritik sastra itu hal yang tidak ada manfaatnya secara ekonomi. Zaman sekarang produk-produk yang dihasilkan semakin bersifat instan, termasuk produk kebudayaan macam karya fiksi. Orang dapat langsung menikmati suatu karya tanpa harus melengkapinya dengan pembacaan kritik. Itulah dampak kapitalisme. Apa-apa dituntut untuk serba cepat, serba ringkas, serba instan… Sepertinya aku perlu menelusuri lebih lanjut mengenai kapitalisme ini. Sedari SMA aku membaca tulisan yang menuding-nuding kapitalisme dan menganggapnya momok, tanpa benar-benar memahaminya. Dan kapitalisme mestinya berhubungan dengan karya seseorang bernama Karl Marx, Das Kapital, karena sama-sama mengandung kata “kapital”. Tapi itu kejauhan. Bukannya tadi aku sedang mencatat apa yang kudapat dari Kamisan minggu ini?

Padahal, lanjut Kang O, produk kebudayaan seperti karya sastra yang berkualitas merupakan nutrisi bagi jiwa. Kerumitan dalam karya sastra apabila digali dapatlah memberikan hal-hal yang bernilai. Karya sastra menyodorkan contoh permasalahan yang mungkin saja kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Adapun peranan kritik sastra adalah: bagi penulis, dapat memberitahu cara menulis karya yang berkualitas, sedangkan; bagi pembaca, dapat membantu menggali nilai-nilai yang ada di dalam suatu karya.

Adalah Aristoteles yang mula-mula mencetuskan kritik terhadap karya seni. Ia juga yang merumuskan alur dalam karya sastra atau bisa disebut juga “struktur dramatik”, yang secara berurutan terdiri dari: perkenalan, konflik, klimaks, resolusi, konklusi… semacam itulah. Kalau boleh kubilang: Pengembangan emosi (dalam cerita) yang menyerupai pegunungan. Aristoteles juga mengkritik Plato yang mengemukakan bahwa karya seni itu hanyalah tiruan dari kenyataan yang adalah tiruan dari ide, oleh karena itu tukang lebih mulia daripada penyair. Bagaimanapun juga, Plato hidup dalam dunia ide tapi itu soal lain.

Kritik sastra secara umum bisa digolongkan menjadi empat: mimetik, karya sebagai tiruan kenyataan; ekspresif, karya dikaitkan dengan kehidupan pengarangnya; objektif, karya dilihat berdasarkan unsur instrinsiknya belaka, dan; pragmatik, bagaimana respons pembaca terhadap karya. Sebetulnya jenis-jenis kritik ini bisa dikembangkan lagi sehingga kita kenal adanya istilah “sosiologi sastra”, “psikologi sastra”, “kritik feminis”, dan sebagainya. Salah satu buku yang berisi penjelasan mengenai jenis-jenis kritik ini adalah karangan Rachmat Djoko Pradopo, seorang dosen UGM. Aku pernah mencatatnya di Word tapi terhapus baru-baru ini bersama seluruh tulisanku sejak SMA. (Tidak usah berbelasungkawa. Terima kasih.)

Ada satu pendapat yang mengatakan bahwa karya yang layak dikritik hanyalah karya adiluhung. Karya adiluhung terus dikritik, terus dibaca. Setiap pembacaan menghasilkan interpretasi baru. Sebutlah karya para pengarang Rusia seperti Dostoyevsky, Tolstoy, dan sebagainya. Dari negeri kita: Chairil Anwar, Siti Nurbaya, dan seterusnya. Karena kupikir karya adiluhung umumnya dibuat pada zaman baheula, (wajar apabila selalu dibaca karena sudah dipakemkan dalam pelajaran bahasa Indonesia,) maka kutanyakan nasib karya kontemporer. Kata Kang O, itu hanya satu pendapat. Yang jelas, ciri khas karya adiluhung adalah bersifat transindividual, maksudnya, ketika membacanya, kita merasa karya tersebut mewakili diri setiap manusia, atau mungkin bisa dibilang juga: universal.

Bagaimanapun juga, kita membutuhkan kengerian—tragedi—sebagaimana disampaikan dalam karya sastra, atau istilahnya, katarsis, untuk menyalurkan insting kebinatangan kita. Jangan-jangan pelaku kriminal adalah orang yang tidak mengapresiasi produk budaya yang berkualitas sehingga insting kebinatangannya tidak tersalurkan. Begitu menurut Kang O.

Kini nilai karya sastra tidaklah ditentukan oleh kritikus melainkan oleh pasar—pembaca awam. Jadinya bagi penerbit mempublikasikan karya sastra itu seperti CSR saja. Adapun keuntungan diperoleh dari penjualan buku jenis-jenis lainnya. Kualitas karya yang tidak banyak dibaca—diterbitkan sendiri malahan—boleh jadi lebih bagus ketimbang yang diterbitkan besar-besaran dan dibaca banyak orang. Dalam situasi yang menjadikan kualitas karya sastra kabur ini, apa yang sebaiknya kita—sebagai individu dan komunitas—lakukan? tanyaku. Terpikir dalam benakku kalau kita perlu mengenalkan karya-karya sastra yang berkualitas pada pembaca awam. Tapi, heh, aku sendiri pembaca awam. Seperti apa karya sastra yang berkualitas masih menjadi pertanyaan buatku. Maka kata Kang O, yang penting adalah komitmen. Terus belajar, lalu membaginya kepada orang lain entahkah melalui diskusi atau kampanye atau apapunlah. Pada dasarnya, kita sendirilah yang membutuhkan bacaan yang berkualitas untuk menjadikan diri kita manusia yang lebih baik.

Saat jeda forum aku membahas beberapa hal dengan kawan di sebelahku, termasuk soal manfaat dari “bacaan yang berkualitas” itu. Tidak praktis, memang, tidak langsung, aku teringat komentar senada dari salah seorang pengarang AS yang diwawancarai untuk buku Novel Voices. Dia bilang kalau saja para politikus membaca karyanya, dia mungkin akan langsung diangkat ke surga begitu meninggal. Teringat juga pada teenlit-teenlit dan buku-buku yang mengecam pendidikan milik Mama (yang padahal guru), yang kubaca semasa SMA, mungkin merekalah yang secara tidak langsung meracuni pikiranku hingga aku membawa diriku pada keadaan ini. Komitmen, kata Kang O. Aku lebih merasa diriku seperti Pangeran Kecil yang merawat setangkai mawar hingga merasakan keterikatan, sulit untuk melepaskan diri dari bunga tersebut, biarpun si mawar begitu angkuhnya.

Hal lain yang terungkit adalah: Jika mengonsumsi produk kebudayaan yang berkualitas itu penting, kenapa forum yang membicarakan tentangnya seperti forum kami ini seringkali sepi dan didatangi oleh orang yang itu-itu saja?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar