Selasa, 20 Mei 2014

Napak-tilas Basa Bandung Halimunan: Baca, Jalan, bari Diajar Nyunda!

Ide menarik kadang tercetus dari obrolan pada waktu senggang. Begitulah antara Kang Adew dan Nurul hingga muncul ide untuk menapaktilasi panineungan (:kenangan) H. Us Tiarsa R. dalam buku Basa Bandung Halimunan. Jadi membaca bukan sekadar membaca melainkan sembari mengalami langsung apa yang disuguhkan dalam bacaan. Datangi tempat-tempat yang dirujuk di dalam buku. Bandingkan apa yang tertulis di dalam buku dengan kenyataan yang kita lihat. Metode ini hampir serupa dengan yang dilakukan oleh Komunitas Aleut. Namun komunitas tersebut tidak secara spesifik menyebutnya sebagai “pembacaan”—atau istilah yang lazim kami pakai: “tadarusan”. Buku dipegang sebagai pendukung keterangan dari koordinator atau narasumber, dan jumlahnya bisa lebih dari satu. Adapun Kang Adew mengacu pada hanya satu buku yaitu Basa Bandung Halimunan. Buku ini merupakan kumpulan tulisan H. Us Tiarsa R. mengenai keadaan Bandung sebagaimana diamatinya pada tahun ’50-’60-an. Tulisan-tulisan tersebut pendek saja, sekitar dua-tiga halaman, dan sebelumnya dimuat di sebuah media berbahasa sunda. Adapun “basa Bandung halimunan” sendiri berarti “sewaktu Bandung berkabut”. Sekarang pun Bandung masih berkabut—oleh polusi.

Kang Adew ini pegiat di Asia-Africa Reading Club (AARC), Museum Konperensi Asia Afrika, yang punya program tadarusan buku tokoh-tokoh Asia-Afrika setiap Rabu, pukul 16.30 – 20.00 WIB. Saya pertama kali mengikuti acara ini sewaktu buku yang ditadaruskan adalah Di Bawah Bendera Revolusi karya bapak proklamator kita, Soekarno. Setelah buku tersebut tamat, tadarusan dilanjutkan dengan buku Nelson Mandela, dan kini, Mochammad Hatta. Saya bukan pengikut setia AARC kendati setiap pulang dari acaranya saya merasa mendapat semacam semangat untuk mulai berpikir besar, berpikir global. Biasanya tadarusan dilakukan di salah satu ruangan di Museum. Mereka melakukan napak tilas juga, sesekali. Nah, konsep itu pula yang hendak diterapkan pada Basa Bandung Halimunan, namun kali ini napak tilas sudah pasti dilakukan karena isi buku tersebut memang menyerupai panduan perjalanan (ke masa lalu) dengan deskripsi tempat dan sebagainya—alih-alih pemikiran sebagaimana dalam tadarusan rutin AARC—dan tentunya semangat yang diusung berbeda yakni semangat untuk lebih mengenal kota yang kami tinggali sekalian belajar bahasa sunda—karena dalam bahasa tersebut buku itu ditulis. Konsep “tadarusan” berarti teks dalam buku itu dibacakan keras-keras oleh seseorang atau bergantian, lalu yang mengerti bahasa sunda akan mengartikan kata-kata tertentu sehingga yang tidak begitu mengerti bahasa tersebut (seperti saya) dapat memahami apa yang diceritakan. Harapannya, pembacaan napak-tilas ini dapat memantik teman-teman yang mengikutinya untuk menuangkan warna-warni kehidupan kota, realitasnya, menjadi sebentuk karya—karya apapun—seperti yang dicontohkan oleh para penyair, sastrawan

Potret iseng sewaktu Ukeba (pojok kiri)
tampil di IFI dalam rangka Record Shop
Festival (atau semacam itu), Sabtu, 19/4/14

Ide ini tadinya hendak mulai dilaksanakan pada 19/4/14, di sekitar Jalan Wastukencana—sebagaimana yang dirujuk dalam tulisan pertama buku tersebut. Namun karena pada waktu itu Kang Adew ternyata ada jadwal manggung di Institut Français Indonesia aka IFI bersama Komunitas Ukulele Bandung alias Ukeba, maka alih-alih melakukan pembacaan sambil jalan-jalan, kami malah menjadi groupies-nya Kang Adew, eh, Ukeba. Namun sebelum penampilan grupnya, Kang Adew menyempatkan diri untuk memberikan pengantar dan, sesudahnya, melakukan pembacaan bersama tulisan yang tadinya hendak dinapaktilasi itu. Ganjil memang rasanya, mengulas bacaan berbahasa sunda di teritorial Prancis....

Dua minggu kemudian pembacaan napak-tilas benar-benar dilaksanakan sebagaimana diinginkan. Mereka mulai dari tulisan berjudul “Setatsion”—Stasiun. Kumpul pada pukul 13, blusukan, sampai kira-kira pukul 16. Mereka sempat mampir ke UNISBA untuk mencari jejak kuburan Belanda alias kerkop—sundana mah. Sayang pada waktu itu saya tidak bisa ikut.

Dua minggu berikutnya, Sabtu, 18/5/14, akhirnya kesempatan itu datang pada saya. Kami berkumpul di Stasiun Bandung sebelah utara pada pukul 13 Waktu Indonesia Karet. Tulisan yang hendak dinapaktilasi berjudul “Numpak Kapal”, bisa diartikan menjadi “Menaiki Pesawat” karena “Kapal” yang dimaksud adalah “kapal terbang”—sebab keberadaan “kapal laut” di daerah yang tidak punya pantai seperti Bandung itu tidak lazim. Kami pun mencari tempat-tempat yang dirujuk dalam tulisan tersebut, di antaranya Jalan H. Iskat dan susukan Ciguriang.

Kami menduga Jalan H. Iskat terletak di seberang stasiun, namun karena ada banyak jalan di sana dan kami tidak pasti yang mana, kami asal saja memasuki salah satunya, lalu menanyakan pada orang yang lewat di mana lokasi itu persisnya. Seorang ibu-ibu berbaik hati menuntun kami menemukan jalan tersebut, sekalian beliau sendiri menuju rumahnya yang terletak di jalan lain. Kang Adew mengaku kami mencari jalan tersebut untuk menemui saudaranya.

Jalan H. Iskat kini telah menjadi pemukiman. Ada satu hotel yang terselip di antara rumah-rumah. Kami duduk di depan pagar salah satu rumah yang tampak asri. Pembacaan pun dimulai. Sembari mengartikan teks tersebut, Kang Adew menambahkan situasi yang melatarinya.

Pada tahun 1946, masa agresi pertama Belanda, warga Bandung memilih untuk membakar kotanya, tidak seperti warga Surabaya yang melawan agar tidak dijajah kembali. Pemuda Bandung pun dikatai pemuda peuyeum oleh pemuda Surabaya. Peuyeum kan lembek. Bagaimanapun,  strategi itu dipilih karena warga Bandung kekurangan senjata. Nah, kawasan stasiun alias Kebonkawung itu termasuk yang dibakar. Pada tahun 1949, penulis Basa Bandung Halimunan menengok kawasan tersebut dan mendapati bahwa Jalan H. Iskat yang dulunya bernama Gang Litsonlan itu masih berupa kebun yang luas. Bangkai kapal (ingat, yang terbang) dan mobil patihsolengkrah—berserakan, tertutup oleh alimusa, lameta, eurih—semak belukar. Pada permukaan tubuh kendaraan tersebut terdapat lubang-lubang bekas peluru. Agaknya kapal merupakan sisa perang, namun mobil yang ditemukan umumnya mobil sedan seperti Fiat, Buick, dan sebagainya. Anak-anak setempat menjadikannya mainan. Mereka mengaku-ngaku kendaraan-kendaraan itu seolah milik mereka. Yang mobil diakui sebagai milik perorangan, sedangkan yang kapal dipakai ramai-ramai. Ada yang berpura-pura menjadi pilot. Ada yang berpura-pura menjatuhkan bom. Ada yang berpura-pura menembakkan senjata. Bermain serdadu-serdaduan. Masing-masing menirukan bunyi entahkah pesawat, bom, atau senjata, sampai tutup telinga segala seolah kebisingan itu sungguh-sungguh terjadi. Boleh jadi imajinasi mereka memang tinggi. Bisa pula karena mereka mengalami sendiri bagaimana huru-hara perang. Kadang mereka bertemu sinyo yang bisa berbahasa sunda dan mengajak bermain, namun mereka malah malu-malu. Lagipula orangtua mereka menakut-nakuti kalau Belanda itu jahat, suka membunuh, dan sebagainya. Serakan bangkai tersebut kini jelaslah sudah dibersihkan, entah dibawa ke mana…

Jalan H. Iskat sekarang, tampak dari sebelah utara.
Dulunya kebun penuh bangkai kendaraan.

Kalapa cina, salah satu tumbuhan yang
menaungi balong
Nah, masih dalam kawasan tersebut terdapat susukan Ciguriang. Kang Adew menanyakan tempat tersebut kepada warga setempat yang lewat, mengaku sedang mengadakan penelitian. Dalam buku disebutkan bahwa dahulu para warga sok ngajengjehe alias jongkok sorrow di sekitar situ, tahulah sedang apa… Atap bangunan yang diduga berada dalam kompleks GOR Pajajaran sudah terlihat. Kami memasuki jalan kecil beberapa jauh di belakangnya, dan menemukan tempat yang secara menakjubkan kok masih ada di tengah perkotaan macam Bandung ini: balong!—yang diteduhi oleh pepohonan rindang di sekelilingnya, dan di seberangnya terdapat tanah kosong. Menurut buku, tempat semacam itu dihuni banyak ular. Jadi, hati-hati kalau bermain di sana!

Omong-omong soal ngajengjehe, kata ini hanya satu dari berbagai varian “jongkok” dalam bahasa sunda. Istilah lain yang dikenalkan dalam obrolan adalah cineten dan cingogo, dan mungkin ada lagi. Sayang, masing-masing tidak diperagakan dengan jelas. Selama ini saya hanya tahu cingogo, dan posisi jongkok—bagaimanapun variasinya—biasanya diasosiasikan dengan buang air. Selain “jongkok”, terdapat pula variasi untuk “jatuh”, seperti tikusruk, tisoledad, dan sebagainya, yang dalam bahasa Indonesia pun variasinya sebenarnya cukup banyak: “terjungkal”, “terjengkang”, “tersungkur”, “terjerembap”, dan lain-lain. Sungguhpun begitu agaknya bahasa daerah masih jauh lebih kaya, seperti dalam bahasa sunda. Variasi lain dalam bahasa sunda yang saya ketahui adalah untuk kata “liur”, bisa disebut dahdir, jigong, acay, hokcay. Saya pernah punya teman mengumpulkan kata-kata “jorok” dalam bahasa sunda, sebagaimana yang saya sudah sebut tadi, ditambah dengan kata-kata lain seperti leho (ingus), cileuh (belek), dan saya lupa apa lagi, dan mendengar kata-kata tersebut diucapkan saja sudah membuatnya tertawa-tawa seperti kuntilanak karena terasa lucu di telinganya.

Balong yang diduga sisa susukan Ciguriang

Mencegat warga setempat untuk mendapatkan keterangan

Ayam-ayam mengaso di sofa rongsok

Memeragakan posisi ngajengheng

Anyway, pembacaan dilanjutkan di tribune GOR Pajajaran. Kebetulan tulisan berikutnya, yang berjudul “Mandor Atma”, secara khusus bercerita mengenai tempat tersebut. Entahkah para pengunjung lainnya yang membersamai kami pada hari yang mulai redup itu tahu kalau mereka tengah menduduki bekas kerkop alias pekuburan… Biarpun begitu, pada masa lalu kerkop telah menjadi ruang publik tempat warga menghabiskan waktu senggang. Anak-anak bermain, mengambili pecahan marmer untuk dijadikan kelereng atau apa. Ada yang piknik. Ada yang pacaran, mungkin seperti dalam lagu lawas yang dinyanyikan oleh Rien Djamain, “Menanti di Bawah Pohon Kemboja”. Ada juga yang membaca, mungkin patut dicoba oleh pencinta buku. Pada tahun ’60-an, pekuburan itu dijadikan GOR. Sebagian penghuni dibawa pulang kampung oleh keturunannya, sebagian lagi dipindahkan ke Makam Pandu. Adapun Mandor Atma adalah nama kuncen penghuni bedeng di pekuburan tersebut. Pekerjaannya mengusiri orang-orang jahil.

Salah satu sisi GOR Pajajaran. Dulunya pekuburan.
Gedung di seberang adalah gedung KONI Jabar.

Kini kami termasuk orang-orang yang menghabiskan waktu senggang di pekuburan, walau bentuknya sudah berupa GOR. Mereka yang memiliki banyak waktu senggang terkesan menganggur, dan sedihnya itu menjadi stigma. Padahal, Kang Adew bilang, ide-ide besar ada kalanya lahir dari sekumpulan orang yang gemar duduk santai di warung kopi alih-alih dalam situasi formal. Nangkring produktif, istilahnya mungkin begitu. Salah satu upayanya adalah dengan melakukan pembacaan napak-tilas ini, mudah-mudahan. Nah, siapa mau ikut dalam kesempatan selanjutnya? Cung!

3 komentar:

  1. Balasan
    1. bisa hubungi koordinatornya, nurul sisilia, di... eh, kok namanya sama ya dengan yang ngomen? :P hihihihi...

      terima kasih ya sudah berkunjung dan meninggalkan jejak :)

      Hapus
  2. Background na tong gambar monyet
    Geuleuh kesanna ngahina kanu maca
    Keurmah teu bisa basa sunda dilelewe ku gambar monyet.nu sopan kang meh raoseun macana

    BalasHapus

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain