LAINNYA

Minggu, 11 Maret 2012

Ngubek Baksil: SERU(!) (Bagian 2-Tamat)

Sisi lain PT EGI di mata sang ahli tumbuhan

Tak jadi kembali melewati rute yang sama karena ada pria tak berbusana, kami mendaki jalan setapak yang membelah lembah. Sampailah kami di jalan relatif mendatar yang dulunya beraspal. Namun dalam rangka persiapan konferensi internasional Tunza 27 September-1 Oktober 2011 lalu, aspal yang menutupi jalan sepanjang 900 meter tersebut dikelupas untuk kemudian ditanami anak-anakan pohon oleh para partisipan konferensi.

Dulunya area ini beraspal

Kami melewati dua pria yang tengah mencabuti tumbuhan liar di sekitar anakan. Mumpung. Akhirnya kami terlibat obrolan dengan mereka, khususnya saya dengan pria bernama Pak Tatang.

Setiap hari, Pak Tatang berangkat dari rumahnya di Lembang pukul setengah tujuh pagi dan kembali dari Baksil pukul empat petang. Ia libur hanya ketika ia sakit. Semula ia bekerja untuk Dinas Kehutanan di kawasan Tangkuban Perahu hingga PT EGI “meminjam”nya untuk merawat Baksil. Ia telah bekerja selama lima bulan ketika kontraknya diperpanjang hingga tiga puluh lima tahun kemudian karena dedikasinya—padahal menurut media kontrak PT EGI dengan pemerintah kota hanya tiga puluh tahun lo. Jadi sejak mula hingga kini, ia telah bekerja di Baksil selama kurang lebih setahun. Sudah ada dua kali pergantian pekerja sebelum ia ditugaskan ke sini.

Pak Tatang yang berbaju hijau, bukan oren

Pemerintah kota memang telah mempercayakan PT EGI untuk pengelolaan Baksil dan PT EGI mempercayakan orang seperti Pak Tatang untuk menjaga kawasan tersebut. Pengalaman Pak Tatang bekerja di hutan membuatnya hapal akan beragam jenis tumbuhan, tidak hanya morfologi, tapi juga kegunaan!

Buah bulat berwarna biru keunguan yang banyak saya dan kawan-kawan temukan di dalam hutan Baksil misalnya, itu adalah ganitri yang berkhasiat mengobati luka. Buah bulat kecil merah yang suka digunakan anak-anak untuk merekayasa dirinya seolah berdarah-darah ternyata mengandung racun. Dan rerumputan yang kita pijak ternyata bukan sekadar rumput. Setiap bentuk daun rumput mengindikasikan jenis yang berbeda.

Kenalkan, aku gani tree, pohonnya si gani!

Pengetahuan Pak Tatang mencakup 1150-an jenis tumbuhan dan itu sudah diuji, akunya. Ia telah diminta beberapa kali, oleh mahasiswa misalnya, untuk bantu mengidentifikasi berbagai jenis tumbuhan yang ada di Baksil yang jumlah mencapai ratusan! Menurut Pak Tatang, jenis tumbuhan yang ada di kota umumnya bisa pula ditemukan di kampung meski penyebutannya menggunakan nama berbeda. Metode belajarnya adalah mengajak orang tua ke kebun lalu ia minta diterangkan mengenai jenis-jenis tumbuhan yang ditemui. Ia akan mencatatnya. Berkat keahliannya tersebut, ia suka diminta menangani pemilihan jenis tumbuhan di mana-mana, sebut saja Medan, Riau, Tangkuban Perahu, Gunung Burangrang, sampai Baksil. Kini ia menjadi rebutan antara Dinas Kehutanan dan PT EGI.

Selain Pak Tatang dan seorang rekannya, PT EGI juga memanfaatkan jasa keamanan dari pihak yang disebut Pak Tatang sebagai GMBI. Menurutnya, apabila kita hendak mengadakan aktivitas tertentu di Baksil, sebaiknya kita lapor dulu pada GMBI. Saya sendiri belum mengecek di mana persisnya letak pos GMBI. Dari sini, mereka akan melaporkan pada atasan mereka tersebut. Namun jika kita hanya sekadar ingin jalan-jalan, rekreasi, dan semacamnya, silahkan saja. Pelaporan adalah supaya antar pengunjung dan penjaga Baksil bisa saling tahu sehingga hal-hal tak diinginkan bisa dihindari. PT EGI ingin anak-anakan pohon yang sudah ditanam di Baksil terpelihara dengan baik sehingga Baksil tidak makin rusak. Lalu bagaimana dengan “para penghuni” Baksil? “…suka kucing-kucingan…” tanggap Pak Tatang.

Ketika saya menyinggung isu rencana pembangunan rumah makan di Baksil oleh pemerintah kota dan PT EGI, Pak Tatang mengatakan bahwa hal tersebut entah jadi diwujudkan apa tidak. Menurutnya, yang hendak dibangun adalah rumah makan saja di tapak bekas rumah makan yang lama. Namun hingga kini pengkajian mengenai pohon mana yang mesti dilindungi dan mana yang boleh ditebang yang tumbuh di sana masih dilakukan.

Tidak dipungkiri bahwa ada pihak-pihak yang menentang rencana tersebut. Meski banyak yang menganggap “majikan”nya rewel, Pak Tatang mengaku tidak pernah diomeli sang majikan. Ia hanya menjalankan tugasnya yaitu merawat tanaman di Baksil dan ia menyukainya. Ia sendiri berharap supaya Bandung tidak semakin gundul dan kawasan hijau yang ada di Bandung bisa lestari.

Yang ia tidak suka adalah ketika ada orang-orang yang menggunakan Baksil secara tidak semestinya, seperti bermesum-mesuman, mabuk-mabukan, apalagi buang limbah sepelemparannya. Banyak pengunjung yang suka membuang sampah dari jembatan sehingga bagian bawah jembatan pun dicemari sampah. Adapun sampah tersebut, menurut Pak Tatang, adalah wewenang Dinas Kebersihan untuk membereskannya.

Salah satu titik persebaran sampah

Botol arak yang terdampar di lapangan adu domba

Volume suara Pak Tatang yang rendah bikin saya harus menjaga jarak supaya telinga saya bisa menangkap perkataannya. Sempat ada pikiran, jangan-jangan ia tidak ingin pembicaraan ini terdengar orang lain. Namun bagaimanapun, apa yang Bapak sampaikan ini menarik, Pak, jadi saya sampaikan lagi apa adanya di blog saya ya, Pak, hehehe.

Ketika saya membuka kedok saya sebagai mahasiswi di Fakultas Kehutanan, ia malah merendah dengan mengakui bahwa ia lulus SMP pun tidak. Namun itu malah bikin saya malu karena pengetahuan saya tentang tetumbuhan jelas amat minim jika dibandingkan dengan pengetahuannya.

Sayang sekali saya tidak membawa perekam untuk mendokumentasikan transfer wawasan yang berharga ini. Bagaimanapun ini momen tak direncanakan.

Saya pun undur diri dari hadapannya karena kawan-kawan sudah meninggalkan kami sejak puluhan menit lalu. Jika kami bersua lagi, ia bilang ia akan memberikan nomor ponselnya sehingga saya bisa menghubunginya ketika saya memerlukan. Dengan terbuka, ia bersedia untuk menemani sembari memperkenalkan ragam tumbuhan di Baksil pada saya apabila lain kali saya menginginkan demikian. Begitupun kamu yang membaca. Cari saja pria bernama Pak Tatang. Dengan rendah hati, ia akan membagikan pengetahuannya yang bermanfaat asalkan kita tak bermaksud tak senonoh di Baksil.

Penutup

Selepas dari Pak Tatang, saya menuju Mitra Art Space (selanjutnya MAS) untuk menyusul Rizkita dan Eva. Saat saya mampir, mereka tengah berbincang dengan seorang pria tambun berkumis. Mereka lupa tanya siapa namanya, mereka hanya tahu kalau pria tersebut adalah pengelola tempat tersebut.

Menurut Eva, sedari mula pria itu menceritakan pengalaman dan pandangannya. Salah satunya, banyak yang memesan lukisan kaligrafi kepadanya untuk menangkal makhluk kasat mata di rumah. Masih banyak muslim yang memercayai hal-hal mistis rupanya. Yang bikin takjub, lukisan kaligrafi yang berdiri di seberang kami dibuat oleh seorang nonmuslim.

Siapa saja yang mau belajar melukis secara cuma-cuma, silahkan datang ke MAS kapanpun. Namun yang mengajari bisa tidak pasti alias ganti-ganti. Umumnya, yang datang untuk belajar sekali atau beberapa kali, kemudian tidak datang lagi. Umumnya pula, orang lebih memilih belajar di Sanggar Olah Seni (SOS) kendati konon tidak gratis. SOS yang terletak di samping MAS menempati lahan lebih luas, menghimpun lebih banyak seniman, serta aktif dalam menanggapi isu rencana pembangunan Baksil sejak tahun 2002 hingga belakangan ini—sementara MAS nyaris tak teridentifikasi dalam pemberitaan perkara ini di media.

Sayang sekali, saya tidak sempat mengorek informasi mengenai MAS terhadap isu tersebut karena ayam di saku celana pria itu keburu berkokok. Sementara ia menjawab panggilan, kami pun undur diri.

Kami sempat menghampiri tapak bekas rumah makan namun tidak berlama-lama di sana. Lokasi tersebut menguar bau tak sedap. Ini adalah sisi hutan yang lain dari Baksil, sama tak terawatnya.

Tapak bekas Rumah Makan Babakan Siliwangi

Bagaimanapun, hari ini telah menjadi momen yang mengasyikkan bagi kami. Menjelajah “alam” (baca: alam buatan di tengah hingar bingar kota di akhir minggu) hingga berbagi dengan orang-orang baru adalah hal-hal yang patut kami syukuri. Namun tak akan lekang pula dari ingatan akan hal-hal yang patut disesali. Ruang terbuka hijau kami ternyata layak huni dan itu menjadikannya belum sungguh layak dikunjungi. Lalu kita apakan ini hati nurani?***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar