LAINNYA

Senin, 12 Maret 2012

Meraba Titik Terang Misteri Gunung Padang (Bagian 1)


Hamparan perkebunan teh mengantarkan dua bis kecil berisi para pegiat Aleut yang hendak menyambangi situs Gunung Padang, Minggu (11/03/12), di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur. Udara tak terlalu dingin, malah matahari dengan panasnya menghampiri. Saat itu sudah lewat tengah hari.

Akhirnya sampai jugaa...!

Dari tempat parkir, kami masih harus mendaki jalan menanjak yang cukup lebar—cukup untuk setidaknya satu mobil—dan tidak rata. Penjual makanan-minuman bisa ditemukan di sekitar tempat parkir. Setelah itu adalah deretan rumah penduduk di kanan-kiri jalan hingga tempat peristirahatan yang disediakan pengelola situs. Di sana terdapat musola, empat keran melingkar untuk berwudu, sepasang toilet yang masing-masing untuk PERIA dan wanita, ruang informasi, serta ruang ticketing dan pendaftaran. Di seberangnya terdapat warung, musola dan WC umum, serta gerobak-tenda bakso urat paribut dan mi ayam. Papan-papan yang menunjukkan bahwa kami sudah di lokasi meneteskan kelegaan.

Waa... ternyata masih harus mendaki...

Namun untuk melihat panorama menakjubkan yang dinanti-nanti, kami masih harus mendaki jalan menanjak lagi. Kali ini bukan jalan biasa, melainkan tangga yang tersusun dari bebatuan. Namun jangan tergesa-gesa. Di area muka tangga, sapukan pandangan sejenak ke arah kiri bawah dan temukan Cikahuripan yang dikenal juga dengan sebutan “Sumur Cinta”—sumber air nan jernih dengan cacing menggeliat di dasarnya.

Air kehidupan alias Love Well

Kendati ketenaran Gunung Padang baru semarak belakangan ini, kedatangan para pengunjung yang mengkultuskannya sudah berlangsung sejak lama. Prosedur awal dalam melakukan pemujaan seketika sampai di lokasi mencuci kaki di sumber air berbentuk kotak ini. Adapun penyebutan Sumur Cinta adalah berdasarkan cerita mengenai seorang pengunjung yang notabene jomblo yang membasuh wajahnya dengan air tersebut, lalu sekian minggu kemudian ia menikah. Bagaimanapun air dari sumber ini dianggap bertuah, ada saja pengunjung yang suka mengambilnya dengan menggunakan botol plastik.

Mendaki tangga berbatu yang relatif curam adalah sebuah perjuangan. Tidak terkira berapa panjangnya, yang jelas kita bakal ngos-ngosan begitu tiba di puncak, atau berhenti sesekali dengan lagak “di sini pemandangannya bagus ya, duduk dulu ah, nikmatin…” Yang menakjubkan adalah ketika kami bertemu dengan pengunjung berupa ibu-ibu atau ibu yang membawa anak kecil. Siapa sangka, rasa penasaran akan situs yang sedang tenar ini akan membuahkan kepayahan meniti jalan… tanpa tahu kalau di sisi lain bukit ini ada tangga yang relatif landai…

Istirahat dulu deh...

Konon tangga berbatu ini sudah digunakan para tukang bangunan ala megalitik untuk membawa batuan alias bahan bangunan ke puncak. Legok yang ditemukan pada permukaan batuan bukan tanpa arti. Bentuknya rapi, pas untuk menyimpan telur, dan seperti buatan. Ada banyak teori mengenainya, di antaranya bahwa legok merupakan ikatan antar batu, atau penguat, antara batu yang berlegok dengan batu yang dibawa ke puncak. Namun legok semacam ini rupanya terdapat juga pada batu-batu yang nantinya yang akan kami jumpai di atas. Bahkan ada yang bentuknya seperti tapak maung.

Ini tempat buat naruh telur

Kepayahan berbuah hasil. Lihatlah batu-batu hitam bergelimpangan di atas, dengan puluhan orang—kebanyakan anak muda—mendudukinya, sebentar lagi kitalah yang akan berpijak di sana! Begitu sampai, pilihlah satu satu batu untuk jadi sandaranmu sembari melepas lelah. Edarkan pandangan yang nanar ke sekeliling, jadi saya mendaki susah payah begini cuman untuk lihat batu-batu berserakan? Ya. Kita tidak perlu jauh-jauh ke Pulau Paskah, apalagi Stonehenge di daratan Britania, untuk menyaksikan langsung batu-batu berdiri yang menuai misteri. Ternyata negeri kita sendiri pun memiliki.

Sejarah mencatat situs ini ditemukan pertama kali oleh orang Belanda bernama N. J. Krom pada tahun 1914. Situs ini ditengarai sebagai kompleks tempat pemujaan yang dibuat pada ribuan tahun sebelum penanggalan masehi serta mengindikasikan peradaban yang lebih tua dari peradaban bangsa Mesir maupun Machu Picchu di Amerika Latin, bahkan Atlantis, yaitu Peradaban Sunda.

SItus ini sudah dikelola pemerintah sejak Serang belum termasuk Provinsi Banten melainkan Provinsi Jawa Barat, tepatnya oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Serang. Papan-papan yang menunjukkan hal tersebut masih bisa kami temukan di lokasi yang dianggap sebagai suaka peninggalan sejarah dan purbakala wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Lampung ini. Sedang peraturan yang berlaku terhadapnya adalah Undang-undang no. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

Posisi batu-batu sebetulnya membentuk pola tertentu yang membangkitkan bermacam interpretasi. Sesuatu yang pernah menghantam area ini, mungkin gempa, membuat mereka tampak berserakan. Jika dicermati, ada beberapa pasang batu yang relatif tegak dibanding batu-batu lain yang seakan bertumbangan. Pasangan demi pasangan batu menyerupai gapura tersebut membentuk jalur dari satu undakan ke undakan lain. Angan-angan saya dan beberapa kawan, jika kami melaluinya tahu-tahu kami akan sampai ke dimensi lain… Jika tidak begitu, dengan kami menggeser posisi salah satu batu, gemuruh akan muncul seraya membukakan gerbang menuju harta karun…

...mungkin juga gerbang menuju dunia lain...

Toh dulu area ini memang terkubur, mungkin akibat bencana, hingga pada tahun 1979 ada petani yang bermaksud menjadikannya lahan pertanian. Setelah cangkul diayun berkali-kali, tampaklah batu, dan ternyata ada lebih banyak batu, dan tersingkaplah bahwa ini bukan sekumpulan batu biasa. Ini adalah sekumpulan batu yang menarik para pencari kekuatan magis, pengetahuan ilmiah, berita, maupun penawar rasa penasaran… untuk menjamahnya.

Kabar dari pemerintah daerah Cianjur mengenai penemuan ini sampai pada kementerian. Tahun 1980, pengambilan sampel dimulai oleh badan arkeologi nasional bekerja sama dengan BP3 Serang. Tahun 1982, penggalian pertama dilakukan. Meletusnya Gunung Galunggung di Tasikmalaya pada tahun tersebut menunda upaya pemugaran sampai tahun 1985. Pada tahun itulah, para peneliti dari berbagai bidang seperti arkeologi, geologi, antropologi, sampai astronomi berlomba-lomba mengkaji dan tampaklah situs ini sebagaimana kini. Namun penelitian lanjutan baru marak dilakukan sejak pertengahan Januari tahun 2012 lalu.

Kini terdapat tiga orang kuncen dan sepuluh orang juru pelihara yang bekerja di sini. Salah seorang juru pelihara, Pak Nanang, menemani perjalanan pegiat Aleut kali ini. Dari rumahnya, ia biasa berjalan kaki ke situs selama kurang lebih seperempat jam—sama seperti jarak antar rumah saya dengan Bandung Super Mall (BSM) hehehe. Para penjaga lainnya pun berasal dari desa sekitar situ juga. Secara praktis, jam kerjanya tidak terbatas. Malam sekalipun, masih ada pengunjung yang ia temani. Dan ia sudah menjalani ini selama delapan belas tahun. Kunjungan ke Gunung Padang tidak akan lebih bermakna tanpa berbagai keterangan yang ia berikan. 


...selanjutnya Filosofi Gunung Padang...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar