LAINNYA

Sabtu, 10 Maret 2012

Ngubek Baksil: SERU(!) (Bagian 1)


Terwujud juga keinginan saya untuk menjelajah bagian dalam Baksil (baca: Babakan Siliwangi) pada Sabtu (10/04/12). Saya jadi lebih memahami arti keberadaan sebuah hutan yang sebagiannya dikepung bangunan ITB ini. 

Hutan ini sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai lokasi outbond bagi anak-anak SD. Sekadar tracking saja sudah seru, apalagi sambil mengenali jenis-jenis tumbuhan yang ada. Topografinya beragam, landai hingga curam, sebagaimana pengertian dari penamaannya. Dalam bahasa Sunda, “babakan” berarti lembah. Tegakannya tidak begitu rapat sehingga menyediakan beberapa ruang terbuka namun tetap ternaungi tajuk. Ditambah banyak jalur setapak nan mengundang untuk ditelusuri, aneka jenis dan warna tetumbuhan, mata air, arena adu domba yang bisa dijadikan arena mengaso, dan lain-lain… tempat ini menurut saya benar-benar asyik!

Arena devide et impera. Di sini para raja kita diadu Belanda.

Ada banyak akses untuk merambah Baksil. Dari Jalan Taman Sari, kita bisa melalui gerbang yang langsung menuju Sabuga, pagar yang bolong, jembatan dekat tempat penyimpanan sepeda, gerbang yang langsung menuju Saroga, maupun dari dalam Saroga itu sendiri! Akses yang terakhir tepatnya melalui belakang kantin Saroga, dekat terowongan menuju kompleks kampus ITB. Ada lembah di belakang kantin tersebut—itu Baksil! Kita naiki saja jalan setapak atau lembah kecil berumput yang relatif landai itu dan sampailah kita pada zona yang patut dijelajahi :D. Saya bertanya-tanya apakah ada mahasiswa ITB yang suka melakukannya. Kalau saya mahasiswa ITB, ini adalah tempat yang akan cukup sering saya kunjungi di sela perkuliahan yang padat untuk melepas penat.

Anak ITB, main ke atas sini yuk...

Sungguh Baksil merupakan oase di tengah bising kota, meski kita tidak bisa sama sekali menafikan kehadiran berbagai aktivitas manusia di sekitarnya. Meski tidak renggang amat, jarak antar pohon memungkinkan kita untuk melihat lalu lalang kendaraan di jalan di atas lembah. Sudah begitu, arena adu domba rupanya titik yang amat memadai untuk mengintip aktivitas di kolam renang di bawahnya, apalagi kalau pakai binokuler. Padahal dari kolam renang saya hanya bisa lihat “rimbun”nya hutan saja, tanpa menyadari bahwa ke”rimbun”an itu masih memungkinkan siapapun di dalamnya untuk menyaksikan saya berbaju renang. Bukan panorama indah sih. Tapi secara saya pernah tahu ada bule pakai bikini di kolam renang itu… ya… lumayan juga…

Ternyata selama ini aku bisa diintip dari sini... 

Kami juga menemukan banyak anakan pohon dengan label berlogo P*rt*m*n*, plus Dinas Pemakaman dan Pertamanan, yang bisa ditemukan pula di TPU Pandu dekat Pasteur. Menurut Pak Tatang, perawat tanaman di Baksil, penanaman anak-anakan pohon ini dilakukan beberapa bulan lalu oleh anak-anak. Pemeliharaan tanaman di Baksil kemudian diserahkan pada PT EGI.

Salah satu contoh label yang ternyata ada di mana-mana...

Pada salah satu ruang terbuka, ada beberapa tumpuk gelondong kayu yang mengingatkan saya pada perencekan yang biasa dilakukan masyarakat desa-hutan ataupun penimbunan kayu ala Perhutani. Saya belum mencari tahu tumpukan gelondongan kayu ini untuk dimanfaatkan suatu pihak menjadi sesuatu atau sekadar perapihan dari aktivitas pemeliharaan hutan ini.

Mending ini dimanfaatkan jadi apa ya? (#polapikiranakkehutanan)

Meski penjelajahan saya, Rizkita, dan Eva dari sekitar menjelang jam sembilan hingga menjelang jam sebelas itu cukup meriakan dan bikin keringatan, namun ada beberapa hal yang sangat kami sayangkan dari Baksil nan wow ini.

Saat kami menyusuri jembatan, ada dua titik tempat sampah yang tidak enak dilihat karena titik di sini berarti titik ceceran sampah. Jembatan pun tampak kusam. Mengingat cerita tentang pondasi jembatan yang mulai rawan karena dibikin hanya dalam waktu singkat sebagaimana Sangkuriang bikin danau untuk Dayang Sumbi, mendengar suara “gretek, gretek” saat melangkah di jembatan jadi sensasi tersendiri.

Ngeunah teu ningalina? (baca: enak enggak liatnya?)

Ceceran sampah tidak hanya ditemukan di jembatan, tapi juga di beberapa titik di kawasan di bawahnya. Bahkan ada satu tempat di mana kata “tercecer” jadi semakin tidak tepat untuk digunakan. Ukuran benda-benda yang dianggap sampah itu lebih besar, lebih banyak, dan sepertinya memang sengaja ditaruh di sana. Entahlah.

Mata air merupakan titik yang paling saya incar dalam penjelajahan ini. Syahdan, bertemulah kami dengan dua titik mata air yang terletak berseberangan antar satu sama lain. Keunikan di lokasi tersebut adalah adanya pancang-pancang dengan pesan lingkungan yang konon pembuatannya diselenggarakan oleh Sanggar Olah Seni (SOS). Mereka bertebaran di sekeliling mata air.

Salah satu titik mata air. Arti tulisan di papan: "jangan buang sampah di sini dong."

Namun tidak hanya itu yang kami temukan, melainkan pula seorang wanita berusia lanjut yang hanya mengenakan bra dan rok dalam. Ia sedang mencuci pakaian. Sumber air yang ia gunakan memancar melalui pipa kecil yang kemudian ditampung dalam bak persegi panjang. Air dalam bak tersebut jernih sedang air yang telah digunakan melimpas ke sebuah kolam dan tampak kekuningan. Kami sempat bertukar cakap dengan wanita itu. Ia mengaku berasal dari Kebumen, bekerja di sebuah badan negara atau apa, sedang suaminya sudah meninggal… saya tidak menangkapnya dengan jelas. Berhubung Rizkita dan Eva sudah ingin meninggalkan tempat tersebut, sedang saya sendiri risi berbincang dalam situasi seperti ini, kami pun pamit. Sebetulnya saya ingin memotret sumber air tersebut secara keseluruhan, tapi tidak etis kalau saya membiarkan wanita itu dalam keadaan demikian masuk dalam jepretan saya.

Jadi kami kembali ke lokasi tersebut setelah berkeliaran hingga ujung hutan, dan, pemandangan yang kami temui di sana lebih bikin kaget lagi. Kami buru-buru balik kanan begitu penglihatan kami menangkap sosok pria muda sedang jongkok di tepi kolam dalam keadaan bugil. Buset dah.

Akhirnya bisa kepotret juga setelah tiga kali melewati tempat ini. Berasa sumber airnya lagi didemo yak.

Penjelajahan kami kiranya menimbulkan ketidaknyamanan antara kami sebagai pengunjung dengan orang-orang yang kami tengarai sebagai penghuni kawasan tersebut, maupun dengan orang-orang yang hendak melakukan perbuatan yang kami tidak ingin ketahui.

Saat kami memasuki arena adu domba, ada sepasang pria-wanita duduk di pojok salah satu bangunan untuk penonton. Tak lama di situ, mereka pergi.

Ada jemuran dan gerobak menutup ruang di bawah bangunan tersebut. Mulanya kami lihat seorang pria tua, lalu seorang pria muda, lalu seorang wanita muda, lalu seorang berjilbab merah yang kami tengarai sebagai wanita pencuci pakaian di sumber air tadi. Ketika kami berada di sekitar sana, maupun sekadar lewat, yang tua melongok-longok ke arah kami sedang yang muda cuek saja.

Perhatikan: ada secuil jemuran dalam foto ini

Ini mengingatkan saya pada beberapa berita mengenai Baksil mulai tahun 2008. Aparat pemerintah kota memang pernah melakukan pembersihan semak dan sampah sekaligus penertiban gubuk liar di kawasan ini. Jadi saya kira dulu ada lebih banyak orang seperti mereka menempati lebih banyak gubuk di Baksil. Di taman kota-taman kota lain di Kota Bandung, pemandangan semacam ini juga umum ditemui. Enak ya mereka, tinggal bersinggungan dengan alam. J

Sewaktu Baksil baru diresmikan sebagai Hutan Kota Dunia oleh UNEP PBB, di dekat tempat penyimpanan sepeda (fungsi lain: tempat pantat mendarat) ada tulisan “.bdg” biru besar (#apanamanyayainstalasikah?). Tapi sudah berbulan-bulan ini entah ke mana rimbanya ia, mungkin bersama orang yang telah beri alamat palsu pada Ayu Ting Ting. 


...selanjutnya adalah pertemuan saya dengan seorang perawat tanaman Baksil, mangga juga ditengok pengalaman saya dengan Baksil sebelumnya di sini dan di sini :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar